Alasan di balik Naturalisasi

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan mengenai naturalisasi pemain dan upaya peningkatan prestasi sepak bola. Narasumber kita adalah Hamdan Hamedan yaitu Utusan Khusus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk Program Naturalisasi Pemain. 

Hamdan Hamedan mengatakan naturalisasi yang terjadi saat ini di PSSI kepemimpinan Mochammad Iriawan adalah naturalisasi yang mensyaratkan pemain tersebut berdarah Indonesia. Jadi, ada keterikatannya dengan Indonesia maksimal dua level. Level pertama itu dari jalur Ayah atau Ibu, ataupun dari jalur kedua yaitu jalur kakek atau nenek. Jadi, pemain yang dinaturalisasi nasabnya jelas tersambung ke Indonesia.

Hamdan Hamedan mengibaratkan naturalisasi seperti halnya multivitamin. Kita bisa makan empat sehat, lima sempurna. Empat sehat itu kita makan karbohidrat, lauk-pauk, dan sebagainya. Tapi kita perlu tambahan juga, atau mungkin kita analogikan seperti halnya booster, yaitu seorang yang sudah dua kali vaksin tapi masih ada satu tambahan. Ini yang dilihat oleh pelatih kepala kita bahwa perlu ada pemain yang mungkin kriteria ataupun kualifikasinya belum dimiliki di Tanah Air.

Menurut Hamdan Hamedan, naturalisasi yang terjadi ini bukan untuk membuat Timnas kita menjadi Timnas asing. Naturalisasi yang terjadi saat ini kalau kita lihat karena memang mereka mempunyai darah Indonesia. Dapat dikatakan ini adalah upaya untuk mempertahankan ke-Indonesiaan orang Indonesia, bukan untuk mengindonesiakan orang asing yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Indonesia. Karena itu kita mengecek betul apakah pemain yang hendak dinaturalisasi itu betul-betul mempunyai darah Indonesia. Itu diteliti betul juga oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dan instansi pemerintah lainnya.

Berikut wawancara Perspektif Baru yang dilakukan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Hamdan Hamedan.

Berbicara mengenai sepak bola, kondisi sepak bola Indonesia saat ini bisa digambarkan seperti bangun dari mati suri. Di bawah kepengurusan PSSI periode 2019 sampai 2023, PSSI sedang berbenah meningkatkan prestasi sepak bola kita. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan melakukan naturalisasi pemain. Mengapa PSSI melakukan naturalisasi pemain, padahal publik menilai banyak bibit-bibit muda di Indonesia?

Pertanyaan yang bagus sekali dan pertanyaan ini yang saya tanyakan juga ke pelatih kepala dan tim kepelatihannya. Jadi, memang sejalan yang disampaikan juga oleh Menteri Pemuda dan Olah raga Indonesia (Menpora) Zainudin Amali bahwa program naturalisasi adalah program jangka pendek karena memang ada kebutuhan pemain di Timnas dalam waktu dekat.

Itu karena program naturalisasi ini bermula dari permintaan Pelatih Kepala Shin Tae-yong guna memperkuat Timnas dalam menghadapi ajang-ajang seperti Piala AFF, kemudian kita lolos di Piala Asia untuk pertama kalinya setelah sekian tahun. Kita juga akan menghadapi ajang yang betul-betul kompetitif, bahkan paling kompetitif sedunia yaitu Piala Dunia U-20.

Jadi pelatih kepala merasa perlu ada tambahan amunisi untuk memperkuat Timnas U-20, misalnya di ajang Piala Dunia U-20, maupun Timnas Senior yang telah lolos dari kualifikasi Piala Asia menuju Piala Asia tahun depannya. Mudah-mudahan kita bisa tampil penuh percaya diri. Perlu diketahui bahwa saat ini peringkat kita sudah meningkat dari 170-an sekarang ke 151, ini adalah suatu capaian.

Kembali lagi bahwa naturalisasi yang terjadi saat ini di PSSI kepemimpinan Mochammad Iriawan adalah naturalisasi yang mensyaratkan pemain tersebut berdarah Indonesia. Jadi, ada keterikatannya dengan Indonesia maksimal dua level. Level pertama itu dari jalur Ayah atau Ibu, ataupun dari jalur kedua yaitu jalur kakek atau nenek. Jadi, pemain yang dinaturalisasi nasabnya jelas tersambung ke Indonesia.

 

Pemain naturalisasi ini untuk menambah amunisi Timnas. Apakah Timnas kita kekurangan amunisi?

Jadi, mungkin seperti halnya multivitamin. Kita bisa makan empat sehat, lima sempurna. Empat sehat itu kita makan karbohidrat, lauk-pauk, dan sebagainya. Tapi kita perlu tambahan juga, atau mungkin kita analogikan seperti halnya booster, yaitu seorang yang sudah dua kali vaksin tapi masih ada satu tambahan. Ini yang dilihat oleh pelatih kepala kita bahwa perlu ada pemain yang mungkin kriteria ataupun kualifikasinya belum dimiliki di Tanah Air.

Jadi, ini adalah keputusan pelatih kepala secara teknis mencari pemain yang mungkin belum beliau temukan di Tanah Air. Ini sifatnya tambahan. Misalnya, kita melihat satu komposisi tim itu bisa 23 pemain, maka tambahan pemain naturalisasi itu hanya sekitar tiga dari 23. Jadi, sekitar 13% dari total keseluruhan tim, maka bisa disebut sebagai tambahan. Jadi, bukan untuk menggantikan ataupun menggerus talenta-talenta muda yang banyak di Tanah Air, tapi sifatnya tambahan amunisi.

 

Apakah kriteria untuk pemain naturalisasi hanya yang mempunyai darah keturunan Indonesia baik dari jalur Ayah maupun Ibu? Apakah ada kriteria skill yang harus dipenuhi oleh mereka?

Betul, pertama adalah kriteria eligibility yaitu nasabnya memang harus tersambung ke Indonesia, sehingga dia bisa melakukan change of association di FIFA. Jadi, dia harus keturunan Indonesia dari pihak Ayah, Ibu, atau Kakek maupun Nenek, kalau buyut tidak bisa.

Kedua, memang kemampuan atau skill nya harus mumpuni. Ini yang bisa melihat dan merekomendasikan untuk kepentingan tim nasional kita adalah berdasarkan permintaan resmi dari pelatih kepala tim nasional kita yang bernama coach Shin Tae-yong. Tujuannya, untuk memperkuat Timnas, bukan rekomendasi yang berasal dari klub.

Jadi, ada tiga hal yaitu pertama harus ada rekomendasi resmi dari pelatih Timnas. Kedua, secara skill memang sangat mudah untuk dibuktikan bahwa pemain tersebut memang mempunyai kemampuan jauh di atas rata-rata. Kemudian yang ketiga adalah dia harus mempunyai keturunan Indonesia. 

Naturalisasi yang terjadi ini bukan untuk membuat Timnas kita menjadi Timnas asing. Naturalisasi yang terjadi saat ini kalau kita lihat karena memang mereka mempunyai darah Indonesia. Dapat dikatakan ini adalah upaya untuk mempertahankan ke-Indonesiaan orang Indonesia, bukan untuk mengindonesiakan orang asing yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Indonesia. Karena itu kita mengecek betul apakah pemain yang hendak dinaturalisasi itu betul-betul mempunyai darah Indonesia. Itu diteliti betul juga oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dan instansi pemerintah lainnya.

Naturalisasi itu tidak akan bisa terjadi tanpa dukungan pemerintah karena naturalisasi itu melibatkan setidaknya empat Kementerian, yaitu Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk urusan KK dan KTP. Lalu melibatkan juga Badan Intelijen Negara (BIN), DPR-RI, hingga melibatkan Presiden Republik Indonesia. Jadi, tanpa dukungan pemerintah mustahil naturalisasi itu terjadi.

 

Apakah ada batasan usia? Ini karena ada pemain yang dinaturalisasi, yaitu Jordi Amat berusia 30 tahun. Publik mempertanyakan ini karena usia untuk masa prestasinya mungkin tinggal empat atau lima tahun lagi, sangat pendek.

Betul. Jadi, pada saat saya mulai memproses Jordi Amat saat itu usianya 29 tahun. Memang kita melihat Jordi Amat saat ini ada di performa tertinggi, saya pikir masih mempunyai lima sampai enam tahun. Dan saya pikir itu waktu yang cukup untuk mendongkrak prestasi Timnas. Saat ini dia membela Timnas kita di Piala AFF.

Dari beberapa pertandingan kita sudah melihat bagaimana memang dia menambah sesuatu yang mungkin sebelumnya belum dimiliki oleh Timnas kita, yaitu dia sebagai ball playing defender yang bisa mendistribusikan bola dengan baik dari pertahanan ke lini tengah, maupun langsung melakukan umpan true pass ke lini depan. Jadi, memang ini pemain yang unik yang sebelumnya kurang, atau tidak banyak stoknya di Indonesia.

 

Dari mana Anda tahu pemain itu mempunyai keturunan darah Indonesia? Apakah Anda mencarinya blusukan, atau mereka yang daftar ke PSSI untuk menjadi pemain naturalisasi?

Jadi, tim kepelatihan coach Shin Tae-yong melakukan riset pemain-pemain Indonesia di luar negeri, kemudian saya pun juga melakukan riset. Kebetulan sebelumnya saya menjabat sebagai Direktur Eksekutif Indonesian Diaspora Network United (IDN-United), dimana saya cukup beririsan dengan pemain-pemain Indonesia di luar negeri ataupun warga Indonesia di luar negeri, maupun diaspora Indonesia di luar negeri. 

Saya pun menciptakan database pemain keturunan Indonesia. Itu ada sekitar 180 yang saya sudah temukan hingga hari ini. Saya pikir data ini akan terus bertambah seiring riset-riset yang akan kami lakukan selanjutnya. Untuk membuktikan keIndonesiaannya, tentu dia harus menunjukkan bahwa orang tuanya, yaitu Ayah, atau Ibunya, atau Kakek Neneknya itu lahir di Indonesia. Itu bisa dilihat dari paspornya, bersertifikat akta kelahirannya. Tentu ini penting karena tanpa dokumen ini maka seseorang tidak akan bisa dinaturalisasi.

 

Kalau melihat posisi ranking Indonesia saat ini memang membaik yaitu berada di peringkat 151. Apakah ketika ditawarkan menjadi pemain naturalisasi, mereka banyak yang berminat. Sedangkan di negara asalnya, katakanlah Spanyol atau Belanda memiliki  ranking FIFA lebih tinggi daripada Indonesia?

Kadang ada pemain yang memang sejak awal ingin membela Timnas Indonesia. Ketika ada keinginan dari pelatih, kami sampaikan keinginan tersebut kepada pemain. Pemainnya langsung menyambut tawaran dari federasi. 

Ada juga mungkin yang memang harus dijelaskan dulu bahwa Indonesia mempunyai pontensi yang besar, kemudian dia mempertimbangkan baik buruk dan plus minus-nya. Kemudian kita juga menunjukkan keseriusan kita, kemudian dia berubah pikiran untuk membela Timnas kita.

Perlu saya sampaikan juga kadang-kadang ada pemain yang berminat, tapi pelatihnya tidak ingin. Ada juga pemainnya tidak berminat, tapi pelatihnya ingin. Yang ideal adalah ketika pelatihnya berminat, pemainnya pun juga berminat. Yang terpenting bahwa pemain tersebut eligible untuk berpindah federasi. 

Jadi, mungkin ada pemain yang sangat diinginkan oleh pelatih dan pemainnya ingin membela Indonesia, ternyata saat kita melakukan due diligence dia tidak eligible untuk membela Timnas kita. Ini ada dinamikanya. Tentunya dari federasi ketika kita mendapatkan rekomendasi dari pelatih untuk meng-approach pemain, kita menampilkan diri kita sebagai utusan resmi. Kita menjelaskan apa dan bagaimana progres yang terjadi di Timnas kita dan target kita ke depan.

Ini yang mungkin menjadi salah satu alasan bahwa kita ini ambisius dan mereka bisa melihat bahwa federasi sepak bola Indonesia, terutama Timnasnya sudah melakukan perbaikan yang baik, dan mereka pun tertarik untuk ikut jadi bagian dari kesuksesan Timnas Indonesia.

 

Naturalisasi pemain ini ada yang pro dan ada yang kontra. Pihak yang kontra bahwa program naturalisasi pemain ini walaupun dia mempunyai keturunan atau darah Indonesia itu katanya bisa merusak program pembinaan pesepakbola muda Indonesia atau program regenarasi sepakbola kita. Bagaimana Anda menilai hal ini?

Kalau kita perhatikan jumlah pemain yang dinaturalisasi saat ini jumlahnya sedikit dibandingkan jumlah total pemain Timnas. Saat ini hanya ada dua pemain naturalisasi dari jalur istimewa yaitu jalur Pasal 20 Nomor 10 Tahun 2006, yaitu Jordi Amat dan Sandy Walsh. 

Dari 23 pemain, dua pemain itu hanya membentuk 8,7% dari keseluruhan Tim. Jika nanti kita berhasil menaturalisasi Shayne Pattynama, maka komposisinya pun hanya naik sekitar 13%. Jadi, terlalu jauh bila dikatakan naturalisasi yang terjadi ini menjadi hambatan terhadap regenerasi ataupun pembinaan pemain lokal kita.

Justru, naturalisasi yang terjadi saat ini betul-betul selektif memastikan bahwa pemain yang dinaturalisasi itu mempunyai kualitas yang bagus, sehingga bisa terjadi transfer knowledge. Misalnya, Sandy Walsh dan Shayne Pattynama yang saat ini berkarir di Eropa bisa menyemangati pemain-pemain kita untuk bermain di liga-liga yang jauh lebih kompetitif.

Kita lihat dari kesuksesan Maroko, pada 2021 Maroko melakukan change of association 11 kali dan Indonesia nol. Kita bisa melihat juga kesuksesan Timnas Maroko di ajang Piala Dunia yang baru saja kita saksikan bersama. Walaupun mungkin kita tentunya tidak mungkin 11 pemain yang dinaturalisasi seperti Maroko, tapi kita bisa melihat bahwa apa yang dilakukan oleh Maroko ternyata membuahkan hasil. 

Misalnya, Hakim Ziyech lahir di Belanda, dia bermain di U-18 Belanda, U-21 Belanda, kemudian dia memilih Maroko untuk Timnas Senior. Saat itu dia dikatakan bodoh oleh Marco van Basten. Kemudian kita lihat Achraf Hakimi, dia lahir dan besar di Spanyol, kemudian Maroko begitu agresif menarik dia untuk U-18 dan U-20, dia membela Maroko sejak U-18 dan U-20. Tentunya kita juga tahu mengenai Sofyan Amrabat, dia lahir dan besar di Belanda, sempat juga membela Timnas Belanda U-15 pada saat dia bermain di Utrecht, kalau saya tidak salah.

Jadi, kita bisa melihat bahwa naturalisasi yang terjadi saat ini di PSSI, pertama adalah menggunakan pemain keturunan yang memang nasabnya jelas. Jadi, kita bukan “meng-Indonesiakan” orang asing karena pemainnya itu memang sudah berdarah Indonesia. Kemudian punya kualitas yang mumpuni, dan paling penting direkomendasi oleh pelatih kepala.

 

Sebenarnya, berapa banyak lagi yang akan dinaturalisasi? Kalau melihat cerita kesuksesan Maroko dengan 11 pemain naturalisasi bisa meningkatkan prestasi, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama dengan Maroko yaitu melakukan banyak naturalisasi apalagi kalau mereka punya nasab berdarah Indonesia?

Mungkin setiap negara punya kebijakan, dan kebijaksanaannya masing-masing. Tentu Indonesia punya kebijaksanaan yang lain, mungkin membatasi hanya beberapa saja. Seperti dalam konteks tim senior, kita tahu ada tiga yang dinaturalisasi, untuk U-20 rencananya juga hanya tiga. Lagi-lagi pemain naturalisasi ini bersifat tambahan yaitu empat sehat lima sempurna. Kita punya banyak pemain binaan Indonesia yang luar biasa talentanya bagus sekali. Kemudian tiga pemain ini bersifat tambahan untuk memperkuat Timnas U-20 kita.

 

Jika sudah ada tambahan amunisi ini, apakah publik boleh optimis Timnas U-20 kita bisa berbicara banyak ketika bertanding sebagai Tuan Rumah Piala Dunia U-20 pada tahun ini?

Saya pikir kita boleh optimis menghadapi Piala Dunia U-20, kita tahu bahwa tim yang ada saat ini menjalani berbagai macam training camp, kemudian akan ada training camp lagi di bulan depan hingga menjelang Piala Dunia U-20.

Kita tahu bahwa kemarin juga dilakukan planning matches melawan tim-tim Eropa termasuk juga kita sempat bertanding melawan calon juara dunia U-20. Kita bisa melihat memang ada gap yang cukup besar karena kita kalah 6-0.

Mungkin itulah alasan ketika saya tanya, mengapa kita perlu naturalisasi U-20? Coach Shin Tae-yong menyampaikan bahwa gap antara level ASEAN, tim yang biasa kita hadapi yaitu Vietnam, Thailand, lalu nanti kita di Piala Dunia akan menghadapi Italia, Perancis, ini gap nya cukup besar. Sehingga kita butuh bantuan amunisi. Tentunya kita sebagai tuan rumah mempunyai tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik untuk segenap rakyat kita, untuk memberikan tampilan permainan yang terbaik. 

Ada satu hal lagi yang perlu saya jelaskan yaitu naturalisasi pemain keturunan ini adalah sejalan dengan statuta FIFA. Tidak ada yang dilanggar, itu memang suatu hal yang boleh. Perbedaannya adalah mau beberapa pemain? Ini kita tentukan masing-masing berdasarkan kebijaksanaan negara-negara tertentu. Misalnya, Maroko mungkin lebih agresif, mungkin Indonesia lebih konservatif, dan sebagainya. Tetapi masih dalam koridor kebolehan di dalam statuta FIFA.

 

Apa harapan Anda kepada publik dalam mendukung peningkatan upaya prestasi sepak bola Indonesia terutama untuk Piala Dunia Usia 20?

Kita melihat Piala Dunia U-20 bahwa kita akan masuk untuk pertama kalinya. Kita masuk melalui jalur karena kita adalah tuan rumah. Tentu kita perlu banyak dukungan publik untuk menyemangati pemain-pemain kita yang berbakat dan bertalenta. Misalnya, kita mempunyai pemain seperti Marselino, Arkhan Fikri, Hokky Caraka, dan sebagainya.

Kita perlu memberikan semangat kepada mereka untuk memberikan yang terbaik. Kita tahu bahwa persiapan yang dilakukan oleh Timnas kita ini sangat serius, sudah beberapa kali visit ke luar negeri. Jadi, dari level federasi dan pemerintah ini bersinergi bahu-membahu untuk mempersiapkan yang terbaik.

Harapan saya adalah sukseskan Piala Dunia U-20 dengan hadir ke stadion menyemangati para pemain kita, para jawara Timnas kita. Semoga dengan semangat yang diberikan oleh para pendukung Timnas, mereka bisa tampil all out memberikan prestasi, dan juga kebahagiaan kepada segenap pecinta Timnas.

Previous
Previous

Next
Next