Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Marina Kusumawardhani

Memperkenalkan Bisnis Sosial

Edisi 929 | 15 Jan 2014 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Marina Kusumawardhani, seorang pegiat gerakan Social Entrepreneurship Academy bernama Generation Social. Kita akan berbicara mengenai gerakan tersebut dan manfaatnya.

Marina Kusumawardhani menjelaskan bahwa inti dari Social Entrepreneurship Academy adalah ingin melatih anak-anak muda terutama generasi milenium untuk menjadi social entrepreneur, dan aktifitas ini dilakukan secara global. Social entrepreneurship sebenarnya sama saja dengan social business dengan sedikit perbedaan mengenai soal investasi, dividen dan sebagainya, namun sebenarnya sama.

Definisi yang paling sederhana untuk social business adalah bisnis yang memberikan manfaat sosial. Manfaatnya cenderung ada pada produk yang dihasilkan. Tujuan akhirnya ialah menyelesaikan suatu masalah sosial. Dalam social business, entrepreneur harus membuat bagaimana usahanya layak, minimal tidak minus. Walaupun tidak menguntungkan seperti perusahaan-perusahaan komersial, tapi setidaknya modalnya kembali dan ada manfaat sosial maupun lingkungan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Marina Kusumawardhani.

Apa tema utama kegiatan Anda?

Beberapa tahun terakhir saya melaksanakan kegiatan Social Entrepreneurship Academy. Kegiatan ini seperti Grameen Bank yang dilakukan Profesor Muhammad Yunus (Peraih Nobel Perdamaian tahun 2006-red). Grameen Bank memiliki titik berat pada social business yang sebenarnya sama saja dengan social entrepreneurship dengan sedikit perbedaan mengenai soal investasi, dividen dan sebagainya, namun sebenarnya sama. Inti dari Social Entrepreneurship Academy adalah ingin melatih anak-anak muda terutama generasi milenium untuk menjadi social entrepreneur, dan aktifitas ini dilakukan secara global.

Apakah social entrepreneurship secara longgar bisa didefinisikan sebagai entrepreneurship dengan return on investment tidak berupa keuntungan finansial namun sosial?

Sosial dan lingkungan juga. Organisasi kita bernama Generation Social yaitu Social Entrepreneurship Academy dan kegiatan ini dilegalisasi di Amerika Serikat. Sekarang kita sedang ada proyek terutama di Afrika Timur bekerja sama dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Lalu, kita ada kegiatan di Mesir. Kita juga memiliki rencana melakukan sesuatu di Palestina dan Indonesia. Rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan bekerja sama dengan PBB, dan PBB yang sebenarnya banyak melakukan persiapan secara birokrasi.

Apakah memang di PBB ada program social entrepreneurship?

Belum. Kebetulan saya pada awal 2013 mengikuti rapat evalusi PBB yang digelar di Wina, Austria. Keluhannya kira-kira sama saja sebetulnya yaitu kebanyakan susah untuk melibatkan partisipasi dari komunitas untuk proyek-proyek development (pembangunan). Jauh sekali jika dibandingkan dengan Grameen Bank di Bangladesh karena di sana komunitas sangat erat hubungannya dengan proyek. Sewaktu di PBB, saya sempat mengusulkan juga mengapa tidak diintegrasikan saja antara program PBB dan Grameen. Jadi ini sebenarnya proyek percontohan juga.

Mengapa di Bangladesh prosesnya cepat berjalan, apakah karena output proyeknya lebih diperlukan?

Menurut saya, tidak. Justru "magic" dari social entrepreneurship ada di sini. Biasanya kalau PBB melakukan semacam proyek di bidang pembangunan, mereka dapat sumbangan dari negara-negara anggota PBB. Sumbangan itu kemudian disumbangkan begitu saja ke komunitas sehingga seperti "uang gampang", misalnya digunakan untuk solar panel. Entah program tersebut berjalan dengan baik atau tidak, mereka tetap merasa tidak rugi mengeluarkan uang tersebut sehingga partisipasi komunitas menjadi berkurang. Di Bangladesh, yang dilakukan adalah social business. Jadi solar panel dijual ke masyarakat desa dengan harga yang miring. Itu rahasianya. Mereka melakukan penyuluhan dua hingga tiga tahun untuk meyakinkan masyarakat desa mengapa mereka membutuhkan listrik.

Apakah solar panel tersebut contoh atau memang ada konsentrasi di bidang energi baru?

Tidak ada konsentrasi. Proyek lain seperti tekstil, pertanian, biogas dan kompor juga dijual. Tapi solar panel benar-benar terjual dengan cepat sekali. Sampai sekarang sudah terjual satu juta unit dan itu rekor di seluruh dunia.

Apakah itu karena harga produksinya di bawah harga pasar?

Iya. Mereka juga dibantu dengan pembiayaan mikro dari Grameen Bank. Itu juga salah satu rahasianya.

Apakah pembiayaan mikro tersebut harus dari bank semacam Grameen Bank atau tidak?

Kalau di Bangladesh dengan Grameen Bank karena memang jaringannya sudah sangat luas. Misal ada masyarakat desa ingin beli solar panel, uang mukanya bisa meminjam ke Grameen Bank, lalu dengan solar panel ini mereka membuat bisnis baru. Akhirnya mereka bisa memperoleh pendapatan baru termasuk juga untuk mencicil pinjaman selama beberapa tahun.

Kalau kita memproduksi dengan harga jual di bawah harga pasar maka itu jadi beban sosial atau bisa disebut subsidi. Apakah beban sosial proyek itu dipikul organisasi semacam PBB?

Subsidinya kebanyakan dari pemerintah dan yayasan-yayasan internasional karena solar panel akan mereduksi karbondioksida (CO2). Kalau di negara berkembang seperti kita bisa mereduksi jumlah CO2, maka akan ada investasi dari negara maju yang namanya Clean Development Mechanism (CDM). Itu berupa sertifikat dan ada banyak sekali jumlah uangnya.

Mengurangi emisi karbon merupakan syarat proyek atau tidak?

Kalau emisi karbon berhubungannya dengan Grameen Energy saja yang menjual biogas dan solar panel. Itu merupakan pemasukan tambahan untuk organisasi. Memang di tingkat internasional isu climate change sedang digalakkan. Kalau proyek Grameen lainnya seperti membuat baju dan sebagainya tidak akan seperti ini.

Apakah Grameen bersifat komersial atau hidup dengan subsidi?

Grameen merupakan social business. Ia adalah gabungan antara lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan bisnis. Bisnis berarti kalau bangkrut maka tidak ada subsidi dan sebagainya. Ia juga LSM karena tujuan akhirnya untuk menyelesaikan isu-isu sosial. Contohnya, walaupun Grameen Bank sebenarnya merupakan bank, namun tujuan akhirnya mengentaskan orang-orang ke atas garis kemiskinan. Bedanya dengan bisnis, keuntungan dari aktivitasnya tidak masuk ke dalam kantong pribadi para investor namun kembali kepada para peminjam.

Kalau di Indonesia, apa kira-kira yang bisa menggantikan peran Grameen Bank?

Di Indonesia, sebetulnya tanpa Grameen pun idenya sudah mendunia sekarang. Bank-bank komersial juga sekarang sudah mempunyai departemen pembiayaan mikro. Koperasi pun sudah mulai ke bidang tersebut. Sebetulnya bank seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga sudah hampir sama.

Apakah memang usaha dalam proyek ini dukung oleh subsidi sehingga tidak lepas ke pasar bebas?

Tergantung. Misalnya Grameen Shakti, ada subsidi dari yayasan dan ada juga yang dari CDM certificate. Namun kalau Grameen Bank, tidak ada subsidi di situ. Jadi dilepas ke free market.

Jadi definisi yang paling sederhana social business adalah bisnis yang memberikan manfaat sosial.

Betul. Manfaatnya cenderung ada pada produk yang dihasilkan. Tujuan akhirnya ialah menyelesaikan suatu masalah sosial.

Produk yang diperlukan di masyarakat tidak selalu bisa dibuat dengan menciptakan keuntungan bagi investornya. Dalam social business, si entrepreneur harus menbuat bagaimana usahanya layak?

Iya. Setidaknya tidak minus. Walaupun tidak menguntungkan seperti perusahaan-perusahaan komersial, tapi setidaknya modalnya kembali dan ada manfaat sosial maupun lingkungan. Itu lebih baik daripada investor memberi uang begitu saja ke yayasan atau lembaga non-profit dan dananya tidak kembali. Dalam social business setidaknya modalnya kembali dan bisa diputar lagi.

Jadi yang Anda kerjakan adalah akademi untuk mendidik social entrepreneur. Apa yang diajarkan?

Ya, betul. Kurikulumnya secara garis besar kita bagi dua. Pertama adalah leadership, dan porsinya besar sekali bisa mencapai 60%. Kita percaya kalau masalah entrepreneurship atau menjadi wirausahawan sebetulnya benar-benar masalah leadership, bukan yang lain. Ini masalah mental, ketahanan mental, dan psikologi.

Bukankah leadership itu bakat? Lalu, apa yang diajarkan?

Kita bekerja sama dengan Stephen Covey membuat "7 habits". Sebetulnya itu merupakan inti leadership-nya. Kalau entrepreneurship-nya sebetulnya ada karakter-karakter lain seperti ketahanan menghadapi kegagalan. Yang namanya wirausahawan harus diberitahu dari awal kalau mencoba sesuatu, 9 dari 10 ide bisnis itu pasti gagal. Karena sekarang mindset-nya anak anak muda yang baru saja lulus kuliah dan memiliki teman-teman sudah kerja di perusahaan multinasional, lalu membuat usaha gagal rasanya seperti hidupnya gagal. Di entrepreneurship harus ditekankan mindset ini bahwa harus bangkit kembali.

Seperti coaching membangkitkan semangat.

Betul.

Kalau ini suatu akademi, apakah nantinya menciptakan orang-orang dengan kemampuan tertentu?

Betul, tapi 60% leadership dan 40% sisanya kita mengajarkan bisnis, entrepreneurship, financial business plan.

Itu sama saja dengan yang dipelajari di Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Betul, tapi kita dengan penekanan replikasi Grameen di Bangladesh. Karena itu merupakan success story. Jadi kita bisa belajar banyak mengapa mereka bisa sukses. Apakah awalnya ada riset sosiologi dulu atau tidak, dan itu ada langkah-langkahnya. Jadi kita tidak hanya memberi tahu anak muda bahwa kalian pasti gagal di percobaan pertama, tapi meminimalisir kemungkinan gagal itu.

Jadi yang Anda mau lakukan ialah menyebarkan prinsip-prinsip Stephen Covey dan pengalaman-pengalaman Grameen Bank.

Betul.

Asumsinya orang yang nanti lulus dari akademi ini mempunyai pekerjaan sehingga cukup banyak menciptakan lapangan pekerjaan.

Diharapkan menciptakan lapangan pekerjaan. Sebetulnya salah satu advisory board kita adalah Deputi Direktur International Labour Organization (ILO).

Kapan kira-kira akademi itu akan didirikan di Indonesia?

Sebetulnya sudah pada 2013, namun masih baru sekali karena baru dilegalisasi pada Juni. Itu masih baru legalisasi organisasinya dulu, dan kita benar-benar masih banyak persiapan.

Apakah hanya Anda saja personil yang datang dari Eropa?

Tidak. Kita kerja sama dalam tim internasional, seperti LSM internasional. Direkturnya orang Amerika Serikat, sedangkan saya orang Indonesia.

Jadi tim itu tidak khusus berada di Indonesia.

Tidak. Memang tim memiliki goal yang dikerjakan secara global. Soalnya berkaitan dengan advisory board dari ILO. Dia juga mengatakan sebenarnya ini isu yang kritis. Diperkirakan sekitar 1,3 miliar anak muda di tahun-tahun ke depan akan masuk ke angkatan kerja atau usia produktif. Sedangkan pekerjaan baru yang akan tercipta diperkirakan hanya 300 juta. Jadi sebenarnya pengangguran anak muda benar-benar sedang kritis sekali sekarang ini.