Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Candra Malik

Tidak Ada Paksaan dalam Beragama

Edisi 881 | 11 Feb 2013 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita, Candra Malik. Sosok nyentrik yang mengaku dirinya seorang sufi. Kita akan membicarakan mengenai munculnya garis bias antara religi dan kultur, sehingga kerap terjadi pergolakan di masyarakat dengan mengatasnamakan agama.

Candra Malik mengatakan tidak ada paksaan dalam beragama. Karena itu dia mempertanyakan mengapa masih ada Kementerian Agama. Seharusnya tidak perlu ada Menteri Agama karena agama bersifat sangat individual. Peran ulama pun bukan sebagai umaro. Ulama bukan seseorang yang memerintahkan sesuatu untuk ditaati, ulama hanya bisa memberikan fatwa yang bisa diterima atau ditolak. Artinya, ketika agama dilembagakan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu apalagi dengan cara memaksakan kehendak, sesungguhnya kita sedang melanggar dan mengingkari kesejatian dari agama itu sendiri.

Menurut Chandra Malik, dalam beragama pun kalau kita ingin kita menawarkan kebaikan maka tidak boleh dengan kekerasan. Kalau kita menawarkan sesuatu dengan kekerasan, niscaya tidak akan mendapat simpati apapun dari yang kita tawarkan. Nasihat yang baik harus disampaikan dengan perilaku yang baik, tidak dengan kekerasan. Ketika kita menggunakan kekerasan sebagai bahasa agama, maka agama itu akan gagal sebagai pembawa pesan perdamaian.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dengan narasumber Candra Malik.

Saat ini masyarakat masih menganggap Sufi adalah hal yang sangat abstrak dan sulit untuk dimengerti. Apa sebenarnya Sufi dan apakah Sufi itu memang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari?

Sufi sesungguhnya bisa ditemukan dalam banyak keadaan, dimanapun dan kapanpun. Hanya saja, selama ini masyarakat mengenal istilah sufisme atau tasawuf dari buku-buku, bukan dari kehidupan sehari-hari. Ketika ada sosok yang memperkenalkan dirinya sebagai Sufi, maka penolakan yang muncul akan sangat besar karena hal tersebut masih terasa sangat asing.

Selama ini Sufi diartikan sebagai sosok yang keramat, dikuduskan, dan harus jauh dari perbuatan-perbuatan dosa. Mereka diampuni Allah kemudian disucikan dan tidak boleh berdekat-dekatan dengan duniawi, padahal tidak seperti itu. Sesungguhnya, Sufi itu bisa siapa saja. Sufi mungkin seorang pengemis yang datang ke rumah kita untuk menguji keimanan agar bersedekah. Sufi juga mungkin seseorang yang memaki-maki kita untuk melihat seberapa besar keimanan kita untuk bertahan dan bersabar. Sufi bisa juga seorang pencuri yang masuk ke rumah untuk menguji rasa kehilangan dan keikhlasan kita. Itu untuk menguji bahwa segala sesuatu bisa diambil oleh Allah dengan sangat mudah dalam keadaan sukarela ataupun terpaksa.

Jadi, sufi itu bisa siapapun. Sufi adalah seseorang yang dikirim oleh Allah sebagai pengejawantahan (perwujudan) dari perbuatan kita sehari-hari. Pengejawantahan dari cerminan yang kita lakukan sehari-hari. Apapun yang kita lakukan sesungguhnya bermuara pada dua hal. Kalau kebaikan, maka itu dharma. Kalau keburukan, maka itu karma. Nah, seorang sufi itulah yang akan tampil sebagai cermin dari kehidupan kita sehari-hari.

Mungkin tidak sedikit yang mencibir Anda karena diibaratkan menyepelekan sufi atau mungkin juga keluar dari koridor yang semestinya harus dijaga secara ortodok dan dogmatis. Bagaimana menurut Anda?

Saya sadar bahwa saya sedang melakukan dekonstruksi terhadap definisi Sufi. Selama ini Sufi harus tinggal di pelosok, jauh dari masyarakat. Kemudian, harus bersorban, berjubah, memelihara jenggot, dan selalu memegang tasbih. Kalau seperti itu rumusnya, maka tidak pernah ada nabi dan rasul. Nabi dan rasul dikirim dan diturunkan kepada negara atau bangsa yang telah rusak. Mereka harus berada di tengah-tengah masyarakat yang rusak itu. Rumusnya adalah cahaya itu bersinar di tempat yang gelap. Kalau agama hanya disampaikan melalui rumah-rumah ibadah, melalui ceramah-ceramah, maka masalah tidak akan selesai. Kita harus tampil dan hadir di tengah-tengah masyarakat.

Mengapa masyarakat Indonesia masih sangat percaya pada simbol-simbol tertentu, misalnya, orang menganggap partai-partai nasional yang sekular adalah haram?

Hal ini berangkat dari logika berfikir yang sudah salah sejak awal. Contohnya Pancasila, mengapa masih terjadi kekerasan atas nama agama, pemaksaan kehendak, dan penghormatan yang sangat rendah terhadap ibadah. Itu karena Sila Pertama dari Pancasila yang bermasalah. Disebutkan, "Ketuhanan Yang Maha Esa". Seharusnya "Tuhan Yang Maha Esa". Ketuhanan adalah hal-hal mengenai Tuhan. Hal-hal mengenai Tuhan itu tidak bisa esa karena memiliki tafsir yang sangat banyak, bebas, dan leluasa. Sedangkan Tuhan itu maha esa. Dari situ sudah ada kesalahan logika berfikir, kesalahan bahasa. Jangan salahkan kalau ada salah satu kelompok agama yang menginginkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ketuhanan menurut tafsirnya, menurut kebenaran versinya.

Mengapa masyarakat masih menganggap bahwa negara dengan mayoritas muslim harus menganut peraturan serupa dengan peraturan di Arab?

Saya termasuk orang yang meyakini bahwa Islam itu bukan dari Arab. Mengapa? Karena Islam itu agama samawi. Agama samawi adalah agama yang berasal dari langit. Islam itu dari langit, dari Allah, bukan dari Arab. Jadi, tidak benar kalau kita berkiblat pada Arab sebagai negara asalnya Islam. Islam diturunkan ke Arab karena Arab rusak pada waktu itu, kaumnya jahiliyah yaitu berada dalam masa kegelapan. Salah kaprah kalau kita berkiblat pada negara atau bangsa yang tadinya jahiliyah. Kalau kita berkiblat pada Muhammad sebagai pembawa pesan agama Islam, maka itu benar.

Apakah itu termasuk memaksakan pada perempuan harus memakai pakaian tertentu?

Betul, kita harus bisa membedakan antara religi dan kultur. Hal itu adalah satu dan lain hal yang berbeda. Religi Islam itu belum tentu identik dengan kultur Islam. Kultur Islam pun belum tentu sama dengan religi Islam.

Kalau kita ingat, Gus Dur pernah mengungkapkan ada yang dinamakan dengan pribumisasi Islam. Apa yang dimaksud pribumisasi Islam?

Itu betul. Seharusnya yang kita lakukan bukan meng-Islamkan Indonesia, tapi meng-Indonesiakan Islam. Bukan meng-Islamkan pribumi tapi mempribumikan Islam. Artinya, harus ada perkawinan antara Islam dengan lokalitas, dengan keadaan atau kearifan setempat.

Apakah yang dilakukan negara ini sudah sesuai dengan pribumisasi agama?

Tidak ada paksaan dalam beragama. Saya juga heran kenapa masih ada Kementerian Agama. Seharusnya tidak perlu ada Menteri Agama karena agama bersifat sangat individual. Peran ulama pun bukan sebagai umaro. Ulama bukan seseorang yang memerintahkan sesuatu untuk ditaati, ulama hanya bisa memberikan fatwa yang bisa diterima atau ditolak. Artinya, ketika agama dilembagakan untuk kepentingan-kepentingan politik tertentu apalagi dengan cara memaksakan kehendak, sesungguhnya kita sedang melanggar dan mengingkari kesejatian dari agama itu sendiri.

Bagaimana pandangan Anda mengenai peraturan daerah tentang larangan duduk mengangkang bagi perempuan ketika naik motor?

Sepertinya perempuan naik onta pun harus mengangkang, tidak bisa menyamping. Kalau sedang sujud, kita juga harus dalam keadaan kaki mengangkang, bahkan nungging. Apakah itu kemudian diartikan sebagai cara menarik nafsu birahi lawan jenis? Saya pikir tidak.

Bagaimana dengan banyaknya organisasi kemasyarakatan yang melakukan kekerasan atas nama agama?

Sesungguhnya mereka membaca satu ayat pendek ini setiap hari, tapi ternyata hanya berhenti di ucapan saja, manis di lidah saja. Ayat ini berbunyi "Bismillahirohmanirrohim, Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang". Makna dari ayat ini sangat luar biasa. Kalau kita mau makna sederhananya, maka saat menyebut nama Allah itu jika dan hanya dengan kasih sayang. Nama Allah tidak boleh disebut jika tidak membawa kasih sayang, seperti membawa pentungan, membawa kekerasan, membawa pemaksaan agama. Kalau Anda menemukan kelompok-kelompok tertentu yang meneriakkan nama Allah tapi dengan unsur pemaksaan kehendak, merusak, membakar, maka berarti mereka hanya sedang menyebut nafsunya sendiri, bukan sedang menyebut nama Allah. Itu karena untuk menyebut nama Allah harus membawa cinta kasih.

Meskipun mereka beranggapan mereka menegakkan hukum Allah, betulkah?

Ya, karena hukum Allah itu tidak lebih agung dari cinta Allah. Artinya, hukum Allah yang azabnya sangat pedih masih bisa dilampaui oleh cintanya Allah. Kalau kita memiliki dosa yang sangat besar, dan kita memohon ampunan dari setiap dosa yang kita perbuat, niscaya setiap dosa yang kita perbuat mendapat pengampunan dari Allah. Ampunan Allah tidak akan pernah habis.

Bagaimana dengan alasan untuk mencegah kemaksiatan?

Amar ma'ruf nahi munkar atau mencegah keburukan, menawarkan kebaikan tidak dengan kekerasan. Kalau kita menawarkan sesuatu dengan kekerasan, niscaya mereka menjauh, tidak akan mendapat simpati apapun dari yang kita tawarkan. Nasihat yang baik harus disampaikan dengan perilaku yang baik, tidak dengan kekerasan. Ketika kita menggunakan kekerasan sebagai bahasa agama, maka agama itu akan gagal sebagai pembawa pesan perdamaian.

Sebagai penutup, Gus Dur adalah sosok yang menyebarkan agama dengan cinta di tengah-tengah masyarakat yang pluralis. Apakah kita tidak merindukan sosoknya?

Kita sangat merindukan sosok Gus Dur. Sepertinya pengganti Gus Dur pun masih jauh dari harapan, tapi bukan berarti kita harus berhenti berharap. Selalu akan lahir pemimpin-pemimpin baru. Pilihannya kemudian kembali kepada rakyat, apakah rakyat akan memilih dia atau tidak. Itu yang diperjuangkan oleh Gus Dur atas nama demokrasi, bahwa setiap warga negara itu memiliki kesempatan, hak, dan kedudukan yang sama di depan hukum.