Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Donny Budi Utoyo

SOPA-PIPA Menekan Kebebasan Berekspresi

Edisi 830 | 17 Feb 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru. Setiap minggu kita membawakan topik yang menarik, penting, lucu atau apa saja. Hari ini topik yang menarik dan sangat penting mengenai Stop Online Piracy Act and Protect IP Act atau yang lazim kita kenal dengan SOPA-PIPA. Tamu kita adalah seorang peneliti muda yang aktif dalam komunitas information, communication, and technology (ICT), Donny Budi Utoyo yang sehari-hari menjabat Direktur Eksekutif ICT Watch Information and Communication Technology.

Menurut Donny, adanya SOPA-PIPA tidak akan menjadi masalah jika orang mengetahui bahwa dia harus memproteksi hak kekayaan intelektualnya, tapi dia punya semangat untuk berbagi. Yang jadi masalah adalah tidak semua atau kebanyakannya adalah orang yang memiliki hak atas kekayaan intelektual mengunci informasi tersebut, atau oleh suatu institusi dikunci. Jadi, yang kaya makin kaya, yang miskin akan makin susah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau informasi, atau apapun bentuknya. Selain itu, yang dikhawatirkan di SOPA-PIPA adalah belum tentu yang melanggar merupakan pemilik server atau hosting-nya. Misalnya, ada yang memiliki layanan seperti KasKus atau forum semacamnya, atau Perspektif Baru mempunyai forum. Ada orang iseng menaruh postingan lagu, misalnya dia menaruh lirik lagu atau link film. Link itu juga bisa dianggap bermasalah karena memfasilitasi adanya kemungkinan orang untuk men-download ke tempat yang melanggar hak cipta.

Donny berpendapat lebih baik tidak pernah ada RUU ini. Kita percaya sama local wisdom. Di internet juga ada internet wisdom dimana ada istilah creative common, open source dan segala macamnya. Ilmu pengetahuan makin dibagi akan membuat yang punya pengetahuan juga akan makin maju, yang dibagi bisa maju juga.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Ansy Lema dan Donny Budi Utoyo.

Stop Online Piracy Act and Protect IP Act (SOPA-PIPA) merupakan suatu Rancangan Undang-Undang (RUU) yang sedang digodok oleh Senat Amerika Serikat (AS) sekaligus juga tengah dirampungkan draft legislasinya oleh DPR negara adidaya tersebut. Jika RUU ini disahkan akan bisa menimbulkan implikasi yang cukup dalam dan juga langsung kepada komunitas online. Apa sebenarnya SOPA-PIPA tersebut dan bagaimana implikasinya bagi para komunitas online?

Kita sedang dalam masa dimana informasi memiliki nilai kapital, atau kita sedang berjuang untuk yang namanya intellectual capital. Jadi, nilai dari seseorang bahkan suatu negara tidak lagi cuma sekadar dari hasil agrarianya atau industrinya, tapi seberapa banyak dia menghasilkan produk-produk dari karyanya.

Artinya informasi adalah komoditas yang bisa diperjualbelikan, betulkah?

Betul. Jadi, singkat katanya adalah orang akhirnya melihat bahwa informasi atau hasil karya cipta dari otak kita dalam bentuk apapun, seperti tulisan, lagu, dan segala macam adalah mempunyai nilai uang.

Sebelum ini, kita dalam rezim perdagangan dunia, yaitu World Trade Organization (WTO), ada yang kita kenal dengan Trade-Related Aspects of Intellectual Properti Rights (TRIPS) atau hak properti intelektual atas aspek terkait perdagangan, kemudian ada Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI). Nah, apa persamaan dan perbedaan antara TRIPS, HKI, dan SOPA/PIPA?

Kalau TRIPS dan HKI berbicara soal pengaturan perdagangan antar negara, hak cipta, dan segala macamnya. Indonesia sudah meratifikasi TRIPS kemudian kita memiliki Undang-Undang (UU) tentang Hak Cipta. Sedangkan SOPA-PIPA lebih bicara pada konten yang di-upload atau yang berada di internet.

Apakah kita bisa simpulkan bahwa SOPA-PIPA adalah satu rancangan Undang-Undang yang ingin memproteksi kekayaan intelektual di dunia maya?

Betul. Jadi, memang SOPA-PIPA untuk memproteksi ataupun menindak jika ada pelanggaran hak atas kekayaan intelektual yang ada di internet atau online seperti itu. Selama ini kita sadar bahwa masyarakat dunia, termasuk Indonesia, akan bisa sama-sama maju dan berkembang dengan adanya informasi yang terbuka. Jadi adanya SOPA-PIPA tidak akan menjadi masalah jika orang mengetahui bahwa dia harus memproteksi hak kekayaan intelektualnya, tapi dia punya semangat untuk berbagi. Yang jadi masalah adalah tidak semua atau kebanyakannya adalah orang yang memiliki hak atas kekayaan intelektual mengunci informasi tersebut, atau oleh suatu institusi dikunci. Jadi, yang kaya makin kaya, yang miskin akan makin susah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan atau informasi, atau apapun bentuknya.

Apakah target dari RUU itu untuk melindungi hak kekayaan intelektual sekaligus mencegah terjadinya piracy ataupun pembajakan, ataukah justru untuk profit oriented?

Saya lebih melihat ini sebenarnya untuk melindungi tetapi dengan motif profit.

Secara eksplisit Anda menjelaskan bahwa ini untuk mengakumulasi profit. Lantas, siapa yang paling banyak diuntungkan dari akumulasi profit ini dan siapa yang paling banyak dirugikan?

Kita lihat saja yang menjadi sponsor atau yang mendukung adanya SOPA-PIPA adalah industri-industri label besar, misalnya dari label film atau label musik dan segala macam. Mereka adalah yang paling merasa bahwa internet dengan digital-nya memungkinkan mereka kehilangan bisnisnya. Jadi mereka yang paling getol (bersemangat - red) mensponsori supaya ini menjadi UU. Label-label besar di dunia termasuk cabangnya ada di Indonesia, untuk film maupun musik dan segala macamnya, sangat terpukul karena dia tidak bisa jualan lagi dalam bentuk kaset misalnya, karena orang dengan mudah meng-copy.

Bagaimana dengan mahasiswa tingkat strata satu (S1) dan anak-anak sekolah menengah atas (SMA) yang ingin mendpatkan referensi, misalnya dari google atau WikiLeaks atau juga Wikipedia?

Sederhananya, kita coba mencari satu lagu atau film untuk dipelajari, misalnya. Kalau SOPA-PIPA diberlakukan, maka film-film referensi yang ada di luar negeri atau hasil karya luar negeri tidak bisa lagi sembarangan ditonton. Dia tidak bisa sembarangan lagi diakses atau di-download. Walaupun ada copyright maka itu akan dikunci. Sekarang yang berhak menayangkan tayangan copyright itu adalah pihak tertentu "A". Kalau pihak tertentu "A" kemudian memiliki jiwa berbagi, maka dia akan membolehkan orang untuk menonton. Tapi kalau tidak, maka pengunduh harus membayar.

Apakah itu artinya ini berlaku kalau ada mekanisme untuk melakukan pemblokiran?

Pemblokiran itu yang paling halus. Kalau pemblokiran biasanya masih bisa ada upaya untuk orang telasap-telisip lewat jalur lain, server lain, kemudian masuk. Namun yang sadis berikutnya adalah penghilangan dari search engine. Kita sekarang tahu, kita mencari apapun memakai search engine, misalnya Google. Yang paling nista kalau tidak ada di Google, walaupun itu ada secara search engine, maka itu sama saja bohong.

Ketika kita bicara soal kekhawatiran kita terhadap RUU ini maka perlu juga secara adil ataupun fair kita menjelaskan mengenai apakah ada pasal-pasal krusial yang memang sangat mengganggu kita?

Dalam konteks Indonesia, iya. Jadi, sebenarnya orang berpikir, "Ah SOPA-PIPA ini gak usah dipikirin lah. Itu kan Amerika punya. Gak usah terlalu banyak dipikirin." Itu adalah orang yang tidak mengerti bahwa di dunia bisnis semuanya sudah network juga. Silakan dihitung berapa banyak pengusaha-pengusaha kita yang online kemudian terhubung website-nya dengan bisnis di luar negeri. Misalnya ada satu website atau layanan service seperti KasKus, atau beberapa layanan blog di Indonesia yang kemudian bisnisnya adalah salah satunya mendapatkan penghasilan dari iklan dari luar negeri seperti AdSense atau lainnya. Kemudian entah bagaimana caranya tiba-tiba ada konten yang dianggap melanggar hak cipta di AS tapi posting-nya di situs kita.

Tapi, bukankah yuridiksinya ada di kita?

Betul, yurisdiksinya ada di kita. Tapi pihak di AS bisa melihat server yang ada di Indonesia memuat konten HKI milik orang AS. Dia akan bisa meminta siapapun yang melakukan bisnis dengan mitranya di Indonesia tadi harus diputus. Dia bisa juga meminta Google untuk menghilangkan alamat dari website itu yang ada di Indonesia. Sebenarnya Indonesia tidak terganggu tetapi di AS tidak bisa dicari situs tersebut.

Artinya, terbuka berbagai banyak cara dan kemungkinan untuk memberikan punishment kepada mereka yang melanggar UU, betulkah?

Iya. Yang dikhawatirkan di SOPA-PIPA adalah belum tentu yang melanggar merupakan pemilik server atau hosting-nya. Misalnya, ada yang memiliki layanan seperti KasKus atau forum semacamnya, atau Perspektif Baru mempunyai forum. Ada orang iseng menaruh postingan lagu, misalnya dia menaruh lirik lagu atau link film. Link itu juga bisa dianggap bermasalah karena memfasilitasi adanya kemungkinan orang untuk men-download ke tempat yang melanggar hak cipta.

Bagaimana ketika kita berbicara soal hak cipta dikaitkan dengan upaya untuk mencegah plagiasi karena kalau dalam dunia akademis plagiasi itu adalah perbuatan kriminal yang tidak bisa ditolerir?

Saya sepakat. Yang paling menyakitkan memang adalah kalau penelitian kita dijiplak oleh pihak lain. Plagiarisme adalah suatu kejahatan akademis, tidak bisa dimaafkan. Namun, dengan mekanisme mengunci itu akan membuat orang tidak bisa akses, tidak bisa fotokopi, tidak bisa men-download segala macam. Itu bukan solusi atas plagiarisme.

Plagiarisme akan tetap jalan dengan cara apapun. Bukan itu caranya. Namun dengan mengunci itu justru membatasi orang untuk bisa mendapatkan pengetahuan yang dia butuhkan. Akhirnya, kampus hanya menjadi menara gading yang pintar makin pintar, yang bodoh hanya menjadi obyek penelitian dan tetap bodoh. Menurut saya, justru dengan dibuka, yaitu tidak hanya abstraknya saja tapi full text lengkap penelitiannya, akan membuat di-kroll atau dicari oleh search engine, kemudian akan masuk datanya. Kalau nanti ada plagiarisme maka orang bisa melihatnya dan mengatakan, "Loh ini kan sudah pernah ada penelitian sebelumnya." Justru yang kontrol jangan kampusnya, dan masyarakat memiliki mekanisme untuk melakukan kontrol.

Dari penggambaran Anda tadi terlihat jelas bahwa UU ini tidak cukup rigid atau tegas mengatur tentang niat-niat jahat yang bisa dilakukan oleh pihak ketiga. Misalnya, KasKus bisa saja ada orang-orang nakal yang memasukkan video atau foto ke link-link tertentu. Bagaimana mengenai hal tersebut?

Jadi, misalnya pengelola KasKus atau Perspektif Baru mempunyai forum sendiri dan banyak melakukan kritik, misalnya kritik terhadap satu pihak tertentu yang memiliki punya power. Kemudian dia ingin men-shut down situs KasKus atau Perspektif Baru maka gampang dilakukan kalau SOPA-PIPA diberlakukan. Di fitur komentarnya atau di fitur forumnya dia tinggal posting foto dari copyrights-nya orang di AS karena banyak fotografer atau layanan foto di AS. Jadi dia ambil fotonya kemudian dia taruh di situs kita.

Apakah ini sebenarnya bentuk dari persaingan tidak sehat?

Persaingan sehat atau tidak sehat menjadi tidak penting di sini. Artinya, banyak cara untuk menjatuhkan suatu content atau informasi. Begitu saya screen capture maka saya laporkan ke pihak AS, dia akan dengan mudah bilang, "oh iya ya, layanan Anda mengandung konten yang melanggar hak cipta". Jadi, itu harus dihilangkan atau kalau tetap ngotot maka itu bisa dihilangkan dari Google, bisa diputus hubungan bisnisnya dengan mitra lain yang di AS.

Kalo kita berbicara soal dunia akademis. Saya percaya betul bahwa peradaban dunia ini bisa digerakkan oleh berbagai macam temuan-temuan intelektual dan sebenarnya ada keterkaitan antara satu penelitian dengan penelitian-penelitian yang lain. Dunia sudah beralih dari mitos ke logos, semua dituntun oleh rasional. Seandainya temuan-temuan intelektual itu diposisikan menjadi sangat rahasia di universitas, istilah Anda adalah menara gading, mungkinkah dunia ke depan akan lebih maju dari sekarang?

Saya tidak khawatir. Paling gampang adalah sekarang Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) sudah meminta untuk sebanyak-banyaknya skripsi, dan tesis masuk ke jurnal ilmiah. Alasannya adalah kita kalah jumlah jurnal ilmiah dengan negara lain. Perspektif di belakangnya adalah okay kita perlu bersaing secara pengetahuan (knowledge). Ini berarti pengetahuan adalah sebagai alat persaingan. Perspektifnya seperti itu. Kalau sebagai persaingan maka perlu kita proteksi jangan sampai alat persaingan kita dicuri oleh pihak lain. Nah itulah yang kemudian membuat "ok nih berarti perlu kita lindungi." Kalau perlindungannya kebablasan maka yang terjadi adalah seperti tadi. Kita melakukan penelitian dan segala macamnya, tapi topik yang diteliti tetap menjadi obyek. Penelitian kemiskinan ternyata ada solusinya dari hasil penelitian dan dimuat di dalam tesis atau disertasi. Namun karena itu dikunci maka yang meneliti menjadi doktor dan dapat uang banyak serta bisa meneliti kemana-mana, sedangkan yang diteliti tidak dapat hasilnya.

Bagaimana kalau kita tidak punya motif ekonomis apa-apa?

Itu akhirnya nanti pembuktiannya di pengadilan. Tetapi dengan gampang pengadil akan berkata, "Gue ga peduli loe punya motif apa-apa pokoknya loe melanggar hak cipta." Celakalah orang yang punya motifnya berbagi dan segala macam karena hal itu akan langsung masuk ke SOPA-PIPA, dan dia akan dikecilkan perannya dalam ranah informasi.

Dari perspektif Anda, keberadaan RUU SOPA-PIPA sebenarnya masih banyak kelemahannya. Lantas, bagaimana mengatur dunia maya ini, dan apakah memang perlu diatur atau tidak. Kalau perlu diatur maka bagaimana dan seperti apa pengaturannya?

Menurut saya, lebih baik tidak pernah ada RUU ini. Kalau banyak kelemahannya masih bisa diperbaiki. Kita percaya sama local wisdom. Di internet juga ada internet wisdom dimana ada istilah creative common, open source dan segala macamnya. Ilmu pengetahuan makin dibagi akan membuat yang punya pengetahuan juga akan makin maju, yang dibagi bisa maju juga.

Jadi, harapan kita yang paling pertama adalah jangan kita latah apa yang ada di AS kemudian kita akan mengadopsinya. Mentang-mentang kita meratifikasi TRIPS kemudian kita ada UU HKI. Okay, itu fine dan mungkin itu bagus, walaupun implementasinya belum tentu bagus. Kedua yang perlu kita waspadai adalah SOPA-PIPA ini sangat mungkin untuk meredam atau menekan kebebasan berekspresi. Jadi, orang yang berekpresi, orang yang berinformasi, whistle blower yang menyampaikan seperti WikiLeaks, dan segala macamnya akan sangat mudah dihilangkan kontennya di intenet sehingga orang tidak mengerti apa yang telah terjadi dan itu sangat bisa terjadi di Indonesia.