Setia Pada Kreativitas
Joko Anwar
Edisi 828 | 03 Feb 2012 | Cetak Artikel Ini
Salam Perspektif Baru,
Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru di seluruh Indonesia, dari Barat sampai ke Timur. Kita bergembira dapat bertemu seperti yang sudah terjadi selama 15 tahun setiap minggu. Minggu ini kita akan membicarakan topik film-film karya Joko Anwar yang sudah melanglang ke beberapa negara. Sebagai ikon perfilman dalam negeri, Joko Anwar memberikan warna baru dalam perfilman Indonesia. Sejarah dan pengalaman hidupnya yang sederhana menjadikan spirit tersendiri dalam mencapai cita-cita sebagai filmmaker.
Joko Anwar adalah karakter yang unpredictable dan kontroversial. Lulus sebagai sarjana teknik aeronautik dari ITB, Joko bekerja sebagai kritikus film untuk harian The Jakarta Post. Memulai karirnya di dunia film sebagai penulis skenario film Arisan!, dia memulai karir penyutradaraannya di film Janji Joni yang menyemangati indie music scene di Indonesia. Dipuji di dalam negeri oleh para kritikus dan penonton, Janji Joni melanglang buana di festival-festival film internasional di lima benua, termasuk New York, Pusan, Tokyo, Toronto, Sydney, dan Barcelona. Saat penonton mengharapkan Joko kembali membuat film komedi setelah Arisan! dan Janji Joni, Joko berbelok arah dengan tajam dengan film noir KALA, sebuah allegori politis tentang Indonesia.
Kami sering mendapat tamu yang hebat-hebat, tapi yang paling asyik barangkali Mas Joko. Karena, tadi sebelum kita mulai dia sudah cerita, memberikan bocoran film yang akan datang. Tentu tidak akan saya ceritakan di sini. Jadi sudah lulus tes. Kreatifitasnya ternyata memang ada dalam dirinya, bukan hasil PR. Joko Anwar tentu kita tahu sebagai sineas, pembuat film, sutradara, dan juga kritikus film yang utama di Indonesia sejak film Arisan! sebagai penulis skenario. Dan Janji Joni, percaya atau tidak, saya termasuk yang pertama nonton Janji Joni dan saya suka itu. Saya suka, bukan karena saya nge-fans ke Nicholas Saputra, tapi ceritanya sangat aktual mengenai orang yang kerjanya antar-antar film dari satu roll film, dari satu bioskop seperti yang saya alami di Bandung. Karena Joko Anwar ini juga adalah lulusan ITB, tapi kalau saya cerita sendiri, ini bisa habis 20 menit. Saya berhenti disini.
Kapan Anda itu sebagai mahasiswa Tehnik Aeronautika merasa bahwa karya Anda itu ada di film?
Kalau keinginan menjadi filmmaker sudah dari kecil. Duh bingung mau pakai saya apa gue sih?
Gue, saya, aku, boleh.
Gue kali ya.
Ya, gue aja. Tapi kalo saya gak biasa bilang gue jadi saya bilang saya.
Saya deh. Saya dulu, kebetulan lahir dan dibesarkan di sebuah tempat yang tidak begitu kondusif buat seorang anak untuk tumbuh dan berkembang.
Di sebuah tempat di Medan nama daerahnya di Medan Amplas. Di belakang terminal. Lingkungan tidak mendukung, dengan deskripsi, mungkin anak umur 14 tahun itu sudah tidak bersekolah, kalo gak menghamili, dihamili, terus keluar masuk penjara. Kriminalitas tinggi sekali.
Terus, saya kaburnya ke film. Jadi ada sebuah bioskop namanya Remaja Teater pada waktu itu. Karena untuk saya sih mahal dulu nonton film ya, 150 rupiah satu film. Jadi kebetulan jaman dulu bioskop tidak ada AC-nya. Jadi hanya kisi-kisi lobang angin dan saya ngintip dari situ. Dari umur 5, 6 tahun.
Kayak sinema paradiso. Pusat kehidupan Anda jadi itu.
Dan karakter dari Pak Ucok di film Janji Joni itu sebenarnya adalah karakter nyata karena saya ketahuan dulu sering ngintip dan akhirnya saya diajak sama si Pak Ucok ini untuk nonton dari ruang proyektor. Dari nonton film dulu itu, yang sebenarnya bukan film-film penting sih, tapi film-film horror, film-film B Movie, action-action, gak penting.
Asing, Indonesia?
Asing, Indonesia. Tapi dari situ saya bisa melihat ‘oh ada dunia lain selain dunia yang saya hidupin sekarang’. Terus, somehow walaupun film-nya B Movie tidak bermutu tapi kebanyakan pelajaran tentang hidup, saya dapat dari film-film yang saya tonton itu.
Apa saja yang bisa diambil ya?
Film-film Shaolin. Banyak yang bisa dipelajari in a corny way (klise - red) tapi cukup bermanfaat buat anak sebesar saya waktu itu. Jadi pada waktu itu karena banyak nonton film dan saya suka banget nonton film akhirnya saya kepingin jadi seorang bintang film. Saya gak tahu dulu ada. Waktu kecil itu dulu gak tahu kalau film itu ada yang bikin kan?
Iya betul, taunya bintang film.
Terus, ketika saya sekolah dulu pernah ditanya sama guru mau jadi apa, satu-satu gitu ditanyain. Insinyur, Bu, dokter, segala macam. Pas saya ditanya, saya bilang, ‘Mau jadi bintang film, Bu’. Terus semuanya ketawa. Kebetulan Abang saya juga yang akan menjemput saya ngelihat dari depan pintu kelas. Terus dia ketawa gitu. ‘Mana bisa kau jadi bintang film? Kau kan gak ganteng’.
Ini orang Medan.
Ini orang Medan, orang Batak. Terus saya nangis, pulang, ngadu ke Ibu. Ibu bukannya menenangkan,Ibu bilang, ‘Iya sih emang gak ganteng, tapi kan gak jelek’. Pupuslah harapanku jadi seorang bintang film. Terus, ketika saya tahu film itu ada pembuatnya, dari mulai SMP kira-kira, sejak saat itu saya kepingin jadi seorang pembuat film.
Berarti waktu itu sebelum SMP sudah nonton ya?
Sudah. Dari kelas 5 SD sebelum sekolah, sudah mulai nonton.
Memang ini Perspektif Baru dan ini akan menjadi perspektif betul-betul baru bagi saya berbicara dengan seorang sineas yang natural dari jarak dekat. Katanya dari SMP sudah mikir untuk terjun di dunia film sebelum memikirkan studi. Di mana hubungannya dengan Teknik Aeronautika ITB?
Masih panjang ceritanya. SMP saya mulai bikin teater di sekolah mengadaptasi cerita Shakespeare, tapi Shakespeare yang saya dapat Shakespeare dari buku-buku Bahasa Inggris yang pendek-pendek itu.
Oh iya, yang condence.
Saya dulu bikin The Merchant of Venice.
Oh ya? Sorry, bikin film?
Bikin teater. Orang juga gak tahu The Merchant of Venice, jadi saya ganti jadi Bahasa Indonesia: Saudagar dari Venice. Terus lulus dari SMA saya berpikir untuk masuk IKJ karena IKJ satu-satunya sekolah untuk film. Tapi setelah saya cari informasi saya dapat info bahwa terlalu mahal untuk keluarga saya dan akhirnya saya masuk ITB, karena ITB murah pada waktu itu cuma 256 ribu per semester.
Asal lulus testing?
Ya.
Jadi anda kompetitif dalam testing? Pinter jadinya.
Sudah pintar dari sananya.
Memilih Aeronautika karena gak laku atau karena apa?
Pilih aeronautika karena dulu waktu saya lagi mikir masuk apa di ITB, lagi makan burger murahan di pinggir jalan, tiba-tiba lewat pesawat tempur. Terus saya tanya, ’Eh ada Teknik Penerbangan gak ya di ITB?’ ’Ada Jok. Nanti keren banget, kuliahnya pakai wearpack, rambut cepak, pakai anting, wah keren banget!'. Begitu saya masuk, oh my God, susah dan ternyata gak ada yang pakai wearpack.
Tapi tamat, selesai?
Tamat. Empat setengah tahun.
Pernah ada pikiran untuk bekerja di bidang itu? Atau itu sekedar untuk supaya bisa lulus saja?
Supaya lulus saja. Karena dulu sebenarnya mau masuk LFM.
Oh iya, di ITB itu ada LFM, Liga Film Mahasiswa dan tadinya saya pikir mas Joko itu jebolan LFM dan ternyata bukan.
Sebenarnya saya mau masuk LFM. Makanya saya ambil jurusannya asal saja tapi ketika sampai di ITB situasinya tidak seperti yang saya bayangkan. Ya sudah deh saya lulus cepat saja sambil nge-band, nulis juga sudah buat majalah. Dulu waktu kuliah saya juga nulis artikel di Jakarta Post.
Oh bisa Bahasa Inggris dong?
Lumayan sih, dulu. Sekarang sudah lupa.
Jadi selama di ITB tidak membuat film?
Bikin film pendek. Dokumenter satu, judulnya Solidarity Forever. Tergantung ada yang minjemin handycam saja, soalnya tidak punya handycam sendiri.
Berapa menit film pendeknya?
20 menit.
Diedit nantinya?
Sudah selesai diedit. Terus bikin film pendek satu, lima menit, dan diputar ketika ada acara M Night terus beberapa dosen katanya muntah dan saya dipanggil. Tapi saya kabur.
Fast forward. Bisa masuk ke dalam dunia film serius, menulis skenario untuk Arisan itu bagaimana?
Lulus dari ITB melamar ke semua PH termasuk Multivision Plus tapi tidak diterima karena latar belakangnya kurang ada latar belakang untuk di film. Akhirnya saya berpikir kalau saya jadi wartawan saya bisa ketemu orang-orang film, dan bisa, istilahnya ‘bullshit my way to the industry’. Dan akhirnya kejadian, ketemu beberapa orang film, Nia Dinata, yang senior Afi Shamara dan Sekar Ayu Asmara.
Saya mau bullshit my way into film tapi kok gak bisa-bisa ya? Barangkali melalui mas Joko ya?
Presentasi, presentasi dan presentasi ya.
Oke, terus akhirnya Nia Dinata-lah yang memberikan tugas di Arisan?
Ya.
Kalau menulis film itu satu tim atau sendirian?
Sendiri.
Jadi you can say seluruh script Arisan itu Anda yang tulis?
Oh tidak, Arisan itu ditulis berdua dengan Nia Dinata.
Singkat ceritanya apa? Tetap jadi bintang film atau jadi sutradara?
Sutradara dan penulis, karena saya sama sekali belum bisa menyutradarai script yang saya tulis sendiri karena lebih gampang.
Terus, Janji Joni itu film pertama atau sebelumnya ada film yang gagal?
Janji Joni itu scriptnya dibikin tahun 1996 ketika masih di ITB, dulu mata kuliah yang paling saya benci itu awal-awalnya sih mungkin lebih cepat dari itu, Pancasila dulu masih ada soalnya.
Oh Pancasila itu saya paling tinggi nilainya.
Oh ya, saya pernah tinggi juga tapi gak tahu. Mulai saya tulis itu, Janji Joni. Terus saya rampung tahun 96-97. Jadi script yang pertama saya tulis sebenarnya Janji Joni.
Kalau saya membaca profile Anda, capek juga karena banyak sekali achievement- nya, dalam negeri dan luar negeri festival ini itu. Bagi Anda apa achievement yang paling bisa ditonjolkan?
Belum ada, seriously belum ada.
Pernah ada majalah Amerika mengatakan “Holywood should learn from you” itu jelas achievement kan? Gak mau ngaku? Oke nanti saya persilahkan pendengar untuk liat aja sendiri. Saya buka blog anda sampai begitu terkesannya, saya sengaja bawa ini di dalam Ipad. Di situ ada istilah Anda ini orang yang gegar budaya. Ada satu sajak di blognya itu. Saya jarang baca blog dan saya jarang kagum sama orang. Tapi blognya Joko Anwar ini sangat oke. Jadi saya bacakan, “Saya adalah bagian dari generasi gegar budaya. Setiap hari saya menonton film Amerika, ingin jadi seperti pembuat film dari Korea, percaya bahwa dialek Skotlandia adalah dialek terseksi di dunia, dan selalu menutup hari dengan masturbasi sambil nonton film porno dari Jepang. Sementara itu, film yang akan saya buat adalah film tentang wayang Jawa”. Itu dramatisasi atau memang itu Anda?
Beneran.
Benar sangat terpengaruh oleh macam-macam budaya? Tapi dasarnya apa? Budaya film Anda itu dasarnya memang Indonesia atau tidak?
Terus terang kalau disuruh mikir influence yang paling besar di film-film saya, saya juga bingung.
Bukan Hollywood? Bukan Korea?
Bukan. Film-film B Movie mungkin.
Mengapa B movie? Karena dulu kebagiannya itu?
Karena saya merasa bahwa saya tidak belajar film secara formal, lebih gampang belajar film-film jelek daripada film-film bagus. Kalau kita menonton film-film yang gagal dari segi cerita, bisa kita cari tahu gagalnya di mana dan ketika membuat film tinggal menghindari kegagalan-kegagalan orang lain. Misalnya kita lebih kagum pada sesuatu yang lebih bagus, cukup sulit untuk dicari tahu bagusnya di mana.
Sangat susah untuk mendapatkan wawancara yang sistematis karena saya sendiri terlalu terbawa ke sana-sini oleh emosi saya mengagumi pekerjaan Anda. Rahasianya, saya juga dari dulu pengen jadi orang film tapi memang terlalu malas untuk mencoba. Maunya diajak. Sedangkan Anda melakukannya dan mendapat pengakuan sangat serius di luar negeri. Tapi keliatannya sekarang anda tuh sedang menuju kepada jenis film yang sarkasis, lebih gelap, artinya bukan untuk family consumption. Apa betul?
Sebelum saya memulai membuat film, saya membuat plan film-film apa saja yang harus saya buat, dari mulai film pertama sampai film terakhir. Misalnya Janji Joni itu film pertama saya. Di film Janji Joni itu ada dialog film Kala which is film kedua saya. Dalam film Kala itu ada nomor penting yang menjadi kunci di film Pintu Terlarang, film saya ketiga. Di film Pintu Terlarang itu ada nama jalan namanya Modus dan jalan Anomali which is film ke 4 saya, Modus Anomali. Saya percaya bahwa kalo misalnya kita sebagai seorang filmmaker tidak punya plan, tidak punya goal bakal gampang sekali apalagi di Indonesia untuk ditarik keluar jalur yang tadinya mau kita jalanin.
Karena itu juga Anda hanya membuat film dari skrip sendiri jadi ada konsistensi ya?
Karena banyak teman-teman yang awalnya memiliki niat mulia untuk jadi seorang filmmaker yang bisa dikatakan bagus membuat film-film yang quote unquote idealis gitu, tapi di tengah jalan mungkin ketika mereka mau mengajukan film, mereka susah cari dana. Ada tawaran untuk bikin film yang dibayar dengan mahal mereka bilang iya. Akhirnya ga bisa balik lagi ke tujuan mereka yang awal.
Tapi apa benar harus idealis? Ssebetulnya, apa salah kalo kita anggap film itu untuk entertainment saja?
Makanya saya katakan quote unquote idealis karena dua-duanya jebakan. Mainstream sama idealis, kalau kita berkarya saya percaya itu dua-duanya jebakan. Kalau kita mengkotakkan diri kita sendiri di mainstream, kita suatu saat punya aspirasi yang lebih besar untuk menjadi seorang filmmaker yang lebih dari sekedar mainstream filmmaker, kita menutup diri untuk itu. Kalau kita juga mengkotakkan diri kita sebagai filmmaker yang idealis, kita juga jadi kayak berusaha untuk selalu berbeda, selalu berusaha untuk provokatif yang sebenarnya gak harus provokatif. Kalo saya bikin film tidak pernah mengkotakkan diri saya sebagai filmmaker yang mainstream atau idealis. Tidak pernah juga bikin film untuk memberikan pesan ke penonton. Saya hanya membuat film karena saya percaya saya punya sebuah cerita yang menarik untuk diceritakan ke orang lain.
Jadi story telling lebih daripada messaging ya? Karena Anda tidak mengaitkan diri dengan satu latar belakang tertentu, tapi toh mungkin ada referensi budaya ada home base-nya budaya Anda itu. Dari mana Anda menarik inspirasi kehidupan sehari-hari? Imajiner atau dari jalan-jalan di seputar sini atau ke luar negeri atau bagaimana?
Saya percaya bahwa ide cerita itu ada di mana saja. Kalau dulu saya sering membayangkan waktu kecil ide cerita sebenarnya ada, misalnya orang kalau divisualisasikan kita jalan tiba-tiba ada orang ngobrol itu kata-kata yang keluar dari mulutnya itu terus di udara melayang-layang. Kalau buka koran atau majalah melayang-layang alfabetnya. Anything can happen. Anything yang terjadi pasti itu ide di udara dan tergantung kita.
Menampungnya?
Bisa sensible enough, sensitive enough apa tidak, untuk mengambil itu. Kalau tadi ada disebutkan akar budaya.
Iya homebase budaya.
Kebetulan saya orang yang paling anti dengan istilah nasionalisme, tidak tahu kenapa. Karena masalah terbesar di dunia saya percaya bahwa nasionalisme itu adalah bagian dari close-mindedness.
Imagine there’s no country?
Ya, makanya John Lennon adalah Nabi.
Apakah ini pasti Anda tidak memantau sukses komersialnya?
Hanya untuk kewajiban sebagai filmmaker karena itu universal.
Apa ini membawa Anda lebih jauh daripada karir yang mapan dari bidang financial success?
Film sebenarnya pada dasarnya adalah sebuah bentuk seni yang membutuhkan dana yang sangat besar untuk diproduksi dan kita sebagai filmmaker harus punya kesadaran bahwa kita bikin film harus komunikatif buat audience sehingga audience bisa gampang mengakses ceritanya dan bisa mengembalikan investment-nya investor gitu, jadi saya sebagai filmmaker juga gak terlalu suka-suka saya sendiri aja tapi masih mikir apakah cerita yang saya ceritakan gampang dimengerti apa gak sama audience.
Anda masih menonton film untuk rekreasi sendiri?
Selalu.




