Yuri Pratama
Industri Bahari terbuka untuk Entrepreneur
Edisi 807 | 12 Sep 2011 | Cetak Artikel Ini
Salam Perspektif Baru,
Tamu kita Yuri Pratama merupakan salah satu pengusaha bulu babi. Anda yang suka bermain di pantai, atau anak pesisir pasti menganggap bulu babi adalah sampah dan sesuatu yang menakutkan. Tapi di tangan Yuri Pratama, bulu babi menjadi salah satu yang istimewa.
Yuri Pratama mengatakan jiwa enterpreneur harus diasah dari awal, sedini mungkin. Dari pengalaman pribadinya menunjukkan mahasiswa sebenarnya memiliki banyak sekali ide, sayangnya mereka terimbas, terjebak dengan kondisi zaman. Padahal ini saatnya generasi enterpreneur. Jadi seorang sarjana yang baru lulus termasuk mahasiswa harus mengubah mindset-nya yaitu jangan melulu menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri.
Menurut Yuri Pratama, sekarang kita membutuhkan banyak enterpreneur di bidang bahari karena kita memiliki kekayaan bahari yang luar biasa tetapi banyak yang belum tereksplor dengan baik. Potensinya adalah Indonesia memiliki 81.000 km garis pantai, terpanjang kedua di dunia. Selain itu luas lautan kita 70% dari wilayah Indonesia. Jadi kita lebih tepatnya bukan negara kepulauan tetapi negara perairan yang ada pulau-pulaunya. Saking kayanya akhirnya kita mengabaikan potensi-potensi yang dimiliki salah satunya adalah bulu babi.
Berikut wawancara Didiet Budi Adiputro dan Yuri Pratama
Ciputra, pengusaha ternama Indonesia, pernah mengatakan bahwa "Kalau suatu bangsa ingin menjadi besar, maka jangan sampai semua penduduknya terutama anak mudanya menjadi pegawai negeri. Bangsa yang besar adalah bila anak mudanya berlomba-lomba menjadi pengusaha atau enterpreneur." Tamu kita Yuri Pratama bisa merepresentasikan apa yang dikatakan Ciputra tadi. Saya mengenal Anda sebagai aktifis mahasiswa dan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Jadi Anda sama sekali bukan dari jurusan ekonomi atau bisnis, tapi mengapa akhirnya Anda bisa terjun di dunia enterpreneur, apalagi kebetulan yang dikelola adalah bulu babi?
Awalnya dari kutipan Ciputra tadi bahwa saat ini waktunya untuk berubah, bukan saatnya menjadi pegawai negeri lagi. Ini saatnya generasi enterpreneur. Dari situ, yang saya pahami adalah seorang sarjana ketika lulus harus bekerja, mindset-nya jangan melulu menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri.
Apalagi jika melihat sewaktu ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS) diikuti peserta sampai penuh satu stadion, betulkah?
Betul. Sedangkan yang namanya enterpreneurship hampir jarang sekali dimasuki oleh teman-teman kita yang masih mahasiswa ataupun baru lulus.
Mengapa Anda yang lulusan dari jurusan Ilmu Politik kemudian tiba-tiba bisa terjun di dunia bisnis?
Sebenarnya ini berkaitan dengan hobi. Memang jika mengatakan bisnis berawal dari hobi adalah yang paling bagus karena kita santai melakukannya. Kebetulan hobi saya adalah jalan-jalan, dan banyak berkecimpung di area eco tourism, khususnya bahari. Waktu itu kita bertemu dengan suatu fenomena yaitu mahluk laut bernama bulu babi, yang di beberapa daerah dianggap sampah laut dan menakutkan, tapi ternyata mempunyai potensi. Ada sisi positifnya juga.
Kita melihatnya nyata di lapangan langsung, di Kepulauan Karimun Jawa. Kita melihat bahwa di sana ada anak-anak kecil yang secara spontan mengonsumsinya secara langsung, tidak diolah lagi. Itu fenomena yang menarik bagi kami karena mereka mengonsumsi sesuatu yang bagi sebagian banyak orang adalah suatu hama. Dari situ kita melihat bahwa ini sebuah potensi yang seharusnya bisa dimanfaatkan apalagi mengingat kita adalah negara kepulauan. Kita memiliki potensi besar sekali sebagai negara maritim salah satunya adalah bulu babi. Dari sana kita mulai melakukan riset awal mengenai bulu babi. Mungkin kalau menyebut "bulu babi", namanya agak menyeramkan, kita punya istilah lain yaitu "landak laut" yang lebih sopan. Bahasa Inggrisnya Sea Urchin. Dari sana kita berkorespondensi dengan berbagai macam narasumber dan akhirnya kita mendapatkan bahwa ini sebuah potensi bisnis bahari yang prospektif. Kita coba memulai dengan melakukan usaha rintisan. Saat itu kita berpikir harus segera melakukan aksi. Kita start di awal 2010. Kita coba set up di Kepulauan Seribu, khususnya di Pulau Tidung.
Berapa lama dari Anda mulai menyadari ada ilham untuk mengolah landak laut sampai akhirnya memulai aksi ini, dan mengapa mulainya di Kepulauan Seribu?
Kita menemukan landak laut pada 2008, kemudian pada 2009 kita melakukan riset awal, survei lokasi, dan sebagainya. Pada 2010 field operation kita sudah jalan. Langkahnya memang harus action, tapi action yang terencana. Mengapa di Kepulauan Seribu? kita melihat di sana dari sisi business support cukup mendukung karena distribusi, dan sebagainya sudah cukup terbangun.
Bagaimana Anda melihat potensi bulu babi di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, dan bagaimana cara Anda mengajak nelayan agar menyadari bulu babi bisa menguntungkan secara bisnis dan finansial bagi mereka selain melaut?
Pulau Tidung karena dari sisi business support-nya cukup mendukung. Tapi yang cukup menantang adalah dari sisi edukasi ke masyarakat. Bagaimana kita melakukan pendekatan kepada nelayan karena mereka mempunyai pola pikir yang cukup berbeda dengan tipologi masyarakat lainnya. Mereka cenderung pragmatis katakanlah mereka sudah sangat terbiasa dengan pola hidup nelayan.
Di Kepulauan Seribu bulu babi sudah ada yang mengonsumsinya juga tapi tidak banyak, dan tugas kita meningkatkan nilai bulu babi itu sendiri. Kita melakukan pendekatan melalui kelompok daerah perlindungan laut. Kita melihat nelayan-nelayan sebagai agent of change di kepulauan tersebut. Kita melihat strategi yang mudah adalah melalui mereka karena pola pikir mereka lebih terbuka.
Melalui jalur mereka kita melanjutkan perubahan paradigma nelayan, walaupun tidak selamanya sukses juga. Ada naik-turunnya. Di beberapa desa kita melihat kelompok nelayan di sana kurang memberikan tanggapan positif konsep kita.
Bagaimana perkembangan bisnisnya dari nol kemudian mengajak para nelayan sampai akhirnya bisa menjadi bisnis yang menguntungkan untuk Anda sebagai inisiator dan juga nelayan yang menjadi pembudi daya?
Awal konsepnya nelayan-preneur. Itu sebenarnya yang kita tonjolkan. Nelayan bisa menjadi pengusaha merupakan nilai yang kita tekankan. Awalnya di Pulau Tidung itu sendiri penuh tantangan. Kita hanya ada lima orang yang ikut dengan catatan banyak yang ke luar - masuk, karena kita juga berhadapan dengan juragan-juragan di pulau itu. Yang terpenting sebenarnya setelah kita pelajari dari nelayan itu sendiri adalah harus ada hasil. Orientasi mereka adalah hasil. Pendekatan seperti itulah yang kita tonjolkan. Harus ada insentif yang dapat mereka rasakan. Kalau bisa konsepnya benar-benar menjadi pendapatan yang tidak hanya sekadar pendapatan sampingan, tapi bisa menjadi pendapatan tetap sebagai alternatif bagi mereka selain menangkap ikan.
Seberapa besar bisnis tersebut di Pulau Tidung sekarang, apakah juga sudah menyebar ke daerah lain?
Sekarang kita sudah beroperasi di tiga pulau, yaitu Pulau Tidung, Pulau Panggang, dan Pulau Pari. Ketiga pulau itu di bawah supervisor saya. Kelompoknya sudah berkembang menjadi lima kelompok di tiga pulau tersebut. Kita juga melibatkan beberapa mitra strategis, salah satunya kelompok wanita tani sebagai pengolahnya. Mereka yang bertugas untuk pengolahannya, mulai dari panen hingga menjadi produk olahan.
Kita bicara insentif. Berapa omzetnya, apa manfaatnya, dan apa saja yang bisa diolah dari bulu babi tersebut?
Sebenarnya manfaat bulu babi yang bisa dimakan adalah telurnya. Khasiatnya adalah bagus untuk vitalitas karena kaya akan protein, zat besi, lalu ada vitamin A, B1, dan sebagainya. Dari sisi kandungan gizi cukup bagus. Tidak kalah dengan ikan laut. Bahkan asam amino di bulu babi bersaing dengan ikan salmon. Tugas kita untuk menaikkan valuenya itu. Tugas kami untuk mengubah pandangan orang bahwa bulu babi merupakan sampah, beracun, dan sebagainya.
Secara potensi pasar, pasar domestik memang belum banyak, masih kecil. Kalau kita bicara pasar global maka nilainya adalah US$ 200 juta.
Mana negara-negara yang menjadi pemasok utama dan pengimpor utama bulu babi?
Pasar terbesar adalah Jepang dengan nilai 80.000 ton per tahun. Untuk negara pengekspor, kita memiliki data 10 besar negara penghasil bulu babi yaitu rata-rata didominasi oleh negara-negara utama seperti Amerika Serikat dan Rusia. Namun Indonesia tidak ada padahal potensinya luar biasa.
Kalau yang saya tahu, salah satu pengekspor ikan terbesar adalah Singapura. Ini suatu hal yang lucu. Mereka bisa menangkap potensi ini dan melihat bagaimana peluang pasarnya. Anehnya, kita memiliki kekayaan bahari yang luar biasa tetapi banyak yang belum tereksplor dengan baik. Potensinya adalah Indonesia memiliki 81.000 km garis pantai, terpanjang kedua di dunia. Tapi garam masih impor. Luas lautan kita 70% dari wilayah kita. Jadi kita lebih tepatnya bukan negara kepulauan tetapi negara perairan yang ada pulau-pulaunya. Saking kayanya akhirnya kita mengabaikan potensi-potensi yang dimiliki salah satunya adalah bulu babi.
Kembali ke pengolahannya, apa yang bisa diolah dari bulu babi ini?
Saat ini kita ada berapa varian untuk pengolahannya. Salah satu kelemahan industri bahari kita adalah tidak ada value added. Jadi mereka hanya menjual komoditi sebagaimana adanya. Hal itu yang coba kita hindari. Saat ini kita membuat produk olahan mulai dari yang sederhana sampai cukup rumit. Yang sederhana adalah kita membuat kerupuk dari bulu babi. Bulu babi di belah, telurnya diolah untuk kita buat kerupuk. Itu karena kita melihat pasar lokal untuk kerupuk cukup baik.
Bagaimana sambutan pasar terhadap produk tersebut?
Kita masih perlu banyak waktu untuk pasar lokal. Produk ini masih baru dan belum dikenal. Kita perlu waktu untuk edukasi ke masyarakat. Misalnya, salah satu varian kita yaitu produk supplement untuk vitalitas perlu ada edukasi juga karena memiliki pasar yang berbeda lagi. Kita melihat pasar farmasi cukup potensial juga untuk dikembangkan. Jadi kita membidik produk-produk olahan yang bernilai tambah yang bisa diterima di pasar lokal.
Apakah sudah sempat melakukan ekspor?
Kita masih penjajakan.
Saya dan masyarakat umum melihat pengolahan budidaya bulu babi atau landak laut merupakan suatu hal yang sangat baru. Bagaimana dukungan yang Anda terima?
Alhamdulillah sampai sejauh ini kita cukup mendapat dukungan walaupun pada masa-masa rintisan dulu kita juga berjuang sendiri. Dari sana kita coba masuk ke beberapa mitra kita. Misalnya dari dunia akademis, kita telah mendapatkan dukungan dari Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro Semarang. Dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kita mendapatkan kemitraan terutama dalam hal pembenihan. Pembenihan penting karena untuk kesinambungannya sehingga mau tidak mau kita harus punya fasilitas pembenihan. Kemudian dengan pihak pemerintah saat ini kita mendapat perhatian dari Kementerian UKM Koperasi, dan juga dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan di Kepulauan Seribu. Dari sana kita mendapat masukan yang cukup berharga. Mudah-mudahan dari banyak kemitraan tersebut kita bisa memberikan edukasi ke masyarakat bahwa Indonesia memiliki potensi yang terlupakan.
Apakah penting atau tidak mempunyai jiwa enterpreneur seperti Anda, apa pesan anda sebagai enterpreneur?
Penting sekali. Itu memang harus diasah dari awal, dari sedini mungkin. Dari pengalaman saya pribadi bahwa mahasiswa sebenarnya memiliki banyak sekali ide, sayangnya mereka terimbas, terjebak dengan kondisi zaman. Saya ada sedikit pesan untuk kita dengan mengutip ungkapan "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." Kalau tangan di atas ibaratnya memberi. Enterpreneur itu manfaatnya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi ke semua pihak. Kalau mau menjadi enterpreneur yang penting adalah action, action dan action. Dari sana nanti terlihat harus bagaimananya karena bisa tereksplor dengan sendirinya.




