Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Mubariq Ahmad

Menuju Ekonomi Rendah Karbon

Edisi 804 | 18 Aug 2011 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Banyak masalah kemasyarakatan yang kita bicarakan dari minggu ke minggu, dan adanya reformasi dalam kebebasan berbicara membuat makin marak isu yang dibahas. Bahkan sedemikian maraknya sehingga cukup sulit memilih mana yang sangat penting dan penting. Itu karena biasanya opini masyarakat akan terbawa oleh opini media. Saat ini televisi terutama berita mempunyai agenda tertentu yang jarang mencakup soal-soal penting. Memang kebiasaan orang adalah perhatiannya selalu mengenai hal sehari-hari yang menjengkelkan atau menggembirakan. Namun persoalan yang sebenarnya besar dan akan menentukan hidup mati suatu peradaban dalam waktu 50 tahun malah terlewat. Yang akan kita bicarakan adalah masalah yang lebih besar daripada krisis apapun yaitu krisis iklim.

Di sini kita berbicara dengan orang yang ahli dalam satu aspek, bukan ahli lingkungan tapi ahli bagaimana mengatur masyarakat supaya mengurangi efek dari emisi karbon yang terlalu besar. Untuk itu saya sangat senang kita bisa mendatangkan Mubariq Ahmad yang merupakan PhD dalam natural resources in environmental economics dari Michigan State University. Saat ini dia menjadi konsultan di berbagai lembaga, dan pernah menjadi Direktur di World Widelife Fund (WWF), serta ikut proyek-proyek yang sangat menentukan pada 1990-an hingga 2000.

Mubariq Ahmad mengatakan bagi Indonesia perjalanan menuju ERK sudah merupakan komitmen nasional (komitmen negara). Presiden SBY menyampaikan komitmen itu pada September 2009 di dalam sidang G20. Isi dari komitmen itu ada tiga yaitu Indonesia akan mengurangi emisi secara sukarela, sebesar 26% - 41% di bawah perkiraan emisi tahun 2020. Kedua, dengan itu Indonesia akan mulai mentransisikan perekonomiannya menuju ERK. Ketiga, tahun 2030 sektor kehutanan kita ditargetkan menjadi penyerap netto karbon. Sekarang kita masih emiter netto (pengemisi netto). Dengan memastikan karbon kita berkurang ke depan, barang-barang Indonesia akan mendapatkan keuntungan dari penurunan carbon content di masa mendatang karena akan lebih disukai. Kalau kita melihat isu tren perubahan iklim ada kemungkinan carbon content akan menjadi barier to entry juga, dan itu kita perlu antisipasi.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dan Mubariq Ahmad.

Berbahaya kalau kita tidak pintar dalam soal perubahan iklim kecuali kalau kita membiarkan nasib kita ditentukan orang lain. Banyak negara di dunia yang sudah berubah selama puluhan tahun ini. Greenland (Tanah Hijau) yang sebenarnya putih diliputi es sekarang sudah memiliki tanah pertanian karena esnya mencair. Barangkali hal itu bagus untuk Tanah Hijau, tapi kemanakah es yang mencair itu mengalir? Itu tentunya ke laut dan meningkatkan level air laut atau menimbulkan arus-arus baru yang menimbulkan penderitaan di negara pesisir.

Nasibnya orang Indonesia adalah orang lain yang enak, sedangkan kita yang terkena banjir atau bisa tergenang kronis. Sekitar 70% dari penduduk Indonesia tinggal di pesisir, yaitu di Pesisir Jakarta, Cirebon, Pantai Utara, Pantai Selatan dan lainnya. Jika level air laut masuk sedalam 5 km saja, maka sudah terbayang berapa puluh juta orang akan kehilangan nafkah bahkan nyawa. Itulah warning-nya.

Menurut ilmiawan, perubahan iklim terjadi karena ada emisi karbon yang keluar terlalu banyak yang disebut Gas Rumah Kaca (GRK) sehingga itu mengakibatkan perubahan-perubahan yang akhirnya menimbulkan penderitaan. Jadi kita harus mengatur supaya kehidupan kita sedikit mengeluarkan karbon tapi tetap produktif. Yang disebut kehidupan produktif itu sebetulnya aspek ekonomi. Tentu ekonomi diatur oleh politik. Lalu, bagaimana agar kita bisa mempunyai ekonomi yang rendah karbon (low carbon economy)?

Seperti yang Anda sampaikan, titik tolaknya adalah pemahaman mengenai perubahan iklim itu dipacu oleh emisi GRK. Sedangkan GRK dipacu oleh meningkatnya kegiatan ekonomi di dunia, terutama sejak zaman awal revolusi industri. Jadi itu terlihat sekali. Barangkali untuk yang menonton film Al Gore yaitu, "The Inconvenient Truth" tentu ingat grafik yang disampaikan bahwa belum pernah terjadi peningkatan intensitas temperatur di bumi yang sejalan dengan peningkatan GRK yang bersamaan dengan peningkatan intensitas kegiatan ekonomi.

Darimana kita mulai memikirkan mengubah perkembangan emisi karbon yang tinggi?

Jadi karena titik awalnya adalah pemahaman bahwa perubahan iklim terjadi karena peningkatan intensitas kegiatan ekonomi, tentu saja jawaban dari masalah perubahan iklim itu harus ditemukan di dalam cara kita mengelola kegiatan ekonomi. Karena itulah muncul istilah Ekonomi Rendah Karbon (GRK). Idenya adalah agar mulai sekarang dan pada masa-masa berikutnya kita bisa berproduksi dengan cara menurunkan emisi karbon, sehingga makin lama kandungan karbon di dalam nilai produksi kita makin lama makin kecil. Karena itu di dalam konsumsi kita pun kandungan karbonnya makin lama makin kecil.

Tentunya itu mencerminkan dua sisi dari kegiatan ekonomi, yaitu produksi dan konsumsi. Dari segi konsumsi masyarakat, konsumen dianjurkan dan trennya memang begitu sekarang makin lama akan menuntut barang yang kandungan karbonnya rendah. Karena itu para produsen akan meresponnya.

Apakah hal itu sudah mulai, dan apakah ada pilihan barangnya di pasar saat ini kalau orang ingin memilih produk yang kandungan karbonnya rendah?

Belum terlalu banyak tetapi ada. Di pasar Eropa salah satu tren green product adalah carbon content mulai dijadikan label di dalam barang-barang, sehingga masyarakat makin lama makin punya pilihan. Tentunya pada tahap-tahap awal pengembangan green market untuk low carbon tersebut akan muncul mekanisme-mekanisme sertifikasi yang sifatnya didasarkan kepada independent third party certification system.

Orang yang paling mudah untuk diimbau adalah konsumen, tapi yang paling lambat menimbulkan perubahan barangkali adalah produsen dan juga public opinion media. Indonesia jelas salah satu negara dengan polutan yang besar, dan juga jelas ketinggalan dari negara Eropa dalam kesadaran terhadap ERK. Apakah peningkatan kesadaran terhadap ERK sudah mulai di Indonesia?

Ketinggalan iya, tapi sudah mulai. Menarik, kita melihat ada beberapa industri kita yang sangat bersemangat dan memang sudah secara sadar mengambil langkah-langkah investasi untuk berproduksi secara rendah karbon. Misalnya, kita lihat ada perusahaan semen yang secara sadar melakukan investasi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energinya.

Kok bisa, bukankah pabrik semen sangat besar emisi karbonnya?

Justru karena sangat besar dan menggunakan banyak energi maka dia memiliki kesempatan untuk menguranginya.

Emisi karbon boleh dikatakan karena industri. Kalau dari dulu orang tidak masuk ke dalam revolusi industri barangkali kita nyaman-nyaman saja. Apakah pandangan mengenai hal itu salah atau itu memang dosanya industri?

Dosanya industri merupakan dosanya konsumen juga. Konsumen yang ingin hidup nyaman, misalnya, ingin memakai AC padahal itu menghasilkan GRK. Industri merespon keinginan konsumen dengan berusaha menciptakan pasar baru untuk produk-produk kreasi mereka, tapi semua esensinya untuk memanjakan konsumen. Makin tidak sadar konsumen, makin berat situasi kita ke depan.

Kalau kita balik ke industri dan mereka diharapkan untuk mengurangi ERK, apakah ada insentif finansialnya paling tidak pengganti opportunity cost?

Menarik sekali sebetulnya, kini pemerintah mencoba mendatangkan dana-dana murah yang berada dalam kategori climate finance. Dana-dana tersebut adalah yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga internasional dan bilateral untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia agar mulai pelan-pelan mengarahkan pembangunannya pada ERK.

Jadi ada climate finance. Jika ada orang yang bisa mengubah usahanya menjadi lebih emisi karbonnya berkurang maka punya akses ke finance. Bagaimana mata rantainya dari lembaga donor sampai kepada suatu perusahaan?

Jadi, ada negara-negara donor yang menyediakan modal itu. Kalau untuk pemerintah, bentuknya untuk perubahan kebijakan dan sifatnya cenderung hibah. Sedangkan untuk swasta, bentuknya adalah pinjaman sangat lunak. Sebagian ada yang lewat pemerintah juga, salah satunya International Finance Corporation (IFC) kemudian bank-bank bilateral. Mereka membuka banyak kesempatan kepada sektor swasta untuk melakukan investasi di bidang low carbon.

Apakah itu sudah berjalan di Indonesia?

Sudah ditawarkan dan baru sedikit berjalan. Ada beberapa yang sudah berjalan. Seingat saya, dalam bidang energi ada Agence Francaise de Development (AFD) dari Perancis melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan industri dan ini mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian kita. Paling tidak itu perlu disosialisasikan kepada kalangan industri. Jangan-jangan semuanya masih belum tahu karena saya baru tahu ada climate finance.

Apa yang paling perlu kita bawa dari percakapan ini?

Mungkin kita lihat dari perspektif pemerintah. Bagi Indonesia, perjalanan menuju ERK sudah merupakan komitmen nasional (komitmen negara). Presiden SBY menyampaikan komitmen itu pada September 2009 di dalam sidang G20. Isi dari komitmen itu ada tiga yaitu Indonesia akan mengurangi emisi secara sukarela, sebesar 26% - 41% di bawah perkiraan emisi tahun 2020. Kedua, dengan itu Indonesia akan mulai mentransisikan perekonomiannya menuju ERK. Ketiga, tahun 2030 sektor kehutanan kita ditargetkan menjadi penyerap netto karbon. Sekarang kita masih emiter netto (pengemisi netto).

Pemerintah telah mencoba membuat kebijakan operasional mengenai bagaimana cara menurunkan emisi 26%. Pemerintah sudah menentukan beberapa sektor terkait, yaitu kehutanan, pengelolaan lahan gambut, pembangkit listrik, pengelolaan sampah, pertanian, transportasi, peningkatan efisiensi energi di sektor industri. Jadi ini terkait sekali dengan yang tadi dilakukan oleh sektor swasta kita. Kita masih menunggu tanda tangan presiden untuk kebijakan ini.

Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) sudah menuntaskan draft final yang disebut dengan Rancangan Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN GRK). Bila itu sudah ditanda tangani, maka akan lebih konkret langkah-langkah pemerintah mendorong dan mulai mentransisikan perekonomian Indonesia menuju ERK. Ini dari segi kebijakan pemerintahnya. Kemudian di sektor kehutanan, sebagai sektor yang terpenting di Indonesia dalam konteks penurunan emisi.

Mengapa itu terpenting?

Karena 2/3 dari emisi kita berasal dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Jadi yang disebut industri itu hanya 1/3 kontribusinya?

Sebenarnya jauh lebih kecil dari 1/3 karena ada sektor-sektor lain yang menyumbang. Dua sektor ini strategis, yaitu kehutanan dan industri. Sektor kehutanan strategis karena sekarang dia pengemisi terbesar, sehingga kesempatan untuk mengurangi emisi itu juga sangat besar. Kalau Indonesia serius dalam mengurangi deforestasi dan degradasi hutannya maka tidak terlalu susah bagi Indonesia untuk mencapai target 26% itu.

Itu yang disebut Reducing Emission from Deforestration and forest Degradation (REDD), Indonesia sudah berkomitmen sebagaimana pidato SBY pada 2009 di sidang G20 dan juga didukung oleh negara luar. Bukankah itu seharusnya berjalan baik dan lancar?

Itu yang sedang disiapkan pemerintah dan didukung oleh banyak pihak. Banyak donor yang mendukung komitmen Indonesia untuk mengelola hutannya dengan baik dalam konteks penurunan emisi tadi. Persiapan hal itu sedang dalam proses finalisasi, termasuk diantaranya beberapa waktu lalu mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No.10 tahun 2011 mengenai penundaan izin-izin baru pembukaan hutan primer dan lahan gambut. Jadi sudah ada yang mulai dikerjakan, sementara keputusan secara lengkap untuk mulai implementasi program REDD masih menunggu pemerintah.

Sektor kedua yang juga penting adalah industri. Ini penting dan strategis karena kita sedang dalam tahap industrialisasi yang pesat. Masalah kita dalam konteks ini adalah industrialisasi. Pertumbuhan industri membuat konsumsi energi makin banyak. Problem kita adalah kandungan energinya makin tinggi maka per unit outputnya makin tinggi. Lebih parah lagi, emisinya lebih tinggi juga. Dalam bahasa ekonominya elastisitasnya lebih dari satu. Tambahan emisi lebih tinggi daripada tambahan nilai output. Ini berbahaya untuk ke depannya karena itu akan mengurangi competitiveness produk Indonesia di pasar internasional.

Itu yang dikeluhkan sementara oleh orang yang skeptis bahwa kita sudah mengejar competitiveness. Sekarang partisipasi kita dalam proyek-proyek seperti REDD akan lebih mengancam competitiveness. Apakah pendapat tersebut bisa dibantah?

Saya kira justru sebaliknya. Dengan memastikan emisi/karbon kita berkurang ke depan, barang-barang Indonesia akan mendapatkan keuntungan dari penurunan carbon content di masa mendatang karena akan lebih disukai. Kalau kita melihat isu tren perubahan iklim ada kemungkinan carbon content akan menjadi barier to entry juga, dan itu kita perlu antisipasi. Saya belum melihat ini secara konkret dilakukan, tetapi dengan meningkatnya sentimen dengan isu perubahan iklim maka ada saja kemungkinan requirement carbon content menjadi persyaratan impor.

Saya rasa masyarakat banyak kontribusinya di sini. Kalau masyarakat sudah bisa menghargai low carbon product maka itu sama dengan dulu makanan yang sebelum dikenal bahayanya daripada fat and cholesterol yang sekarang sudah mulai tidak laku karena orang mulai melihat fat content bagus sekali, betulkah?

Konsumen kelas menengah saat membeli AC dan kulkas memiliki pilihan yang sudah jelas yaitu ada barang yang masih menggunakan GRK yang berbahaya, dan ada barang-barang yang sama sekali tidak menggunakan gas yang dalam kategori GRK.