Robby Ertanto Soediskam
Inti Masalah Perfilman Indonesia
Edisi 800 | 27 Jul 2011 | Cetak Artikel Ini
Salam Perspektif Baru,
Tamu kita kali ini adalah sutradara muda Robby Ertanto Soediskam. Karya-karyanya sudah mensejajarkan dia dengan sutradara senior. Dia masih mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan juga aktif di organisasi dengan menjabat Ketua Badan Pimpinan Ikatan Mahasiswa Jakarta (IMADA).
Menurut Robby Ertanto Soediskam, semua elemen harus bekerja sama untuk memajukan perfilman Indonesia. Kalau kita bicara pasar, satu sisi kita tidak bisa menyalahkan penonton yang memilih film horor karena memang banyak peminatnya. Memang penonton akan stop menonton film horor bila jumlah produksi film horor dikurangi. Namun di satu sisi, produser lama belum siap untuk melakukan itu. Dia masih berfikir keuntungan. Di dunia pun, horor itu bukan film musiman. Jadi selalu ada film horor kapanpun di setiap tahun. Sebaiknya kita mencoba membuat film horor yang bagus. Saya juga pertama kali muncul lewat film horor. Selain itu muncul Production House (PH) baru yang idealis seperti Alenia Production, Miles Production, dan lain-lain telah memberikan pilihan tontonan kepada pasar, yaitu film-film yang idealis tapi tetap komersil.
Robby Ertanto berpesan kepada sineas baru agar tetap semangat, optimis dan yakin untuk terjun ke dunia film. Modal untuk membuat film bukan kendala. Modal adalah faktor ke sekian. Buktinya, dia berangkat dari indie dan sampai sekarang dia tidak pernah membiayai film sendiri. Jadi filmnya selalu dibiayai orang lain. Jadi, buatlah skrip yang bagus. Anda juga harus berani mempresentasikan film tersebut kepada artis, atau siapapun yang cocok untuk menjadi salah satu bagian dari film kalian.
Berikut wawancara Didiet Adiputro dengan Robby Ertanto Soediskam.
Saat kita membicarakan kondisi film Indonesia, banyak kritikus film, pengamat dan orang biasa mengatakan kondisi perfilman Indonesia sudah terpuruk, dan kualitasnya menurun jauh dari tahun-tahun sebelumnya karena banyak film berbau horor atau agak "esek-esek". Apakah Anda setuju atau tidak dengan pendapat tersebut?
Kalau dibilang film Indonesia menurun mutu dan kualitasnya, saya sangat tidak setuju. Saya sebagai pelaku perfilman Indonesia, walaupun masih sangat muda pengalaman di bidang itu, melihat banyak film yang bagus dan berkualitas. Misalnya, di awal Juli ini ada film Serdadu Kumbang, dan Catatan Harian si Boy. Kadang-kadang perspektif masyarakat melihat Indonesia hanya horor, esek-esek, padahal banyak yang berkualitas. Sayangnya, yang diekspose hanya horor dan esek-eseknya saja.
Apakah pasar lebih menerima film-film yang low content seperti horor dan esek-esek atau film seperti Laskar Pelangi dan film Anda "7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita" yang memenangkan beberapa kategori di Piala Citra?
Kalau kita bicara pasar, satu sisi kita tidak bisa menyalahkan penonton yang memilih film horor karena memang banyak peminatnya. Kalau dirunut ke belakang, ada beberapa produser lama yang memproduksi film-film itu kembali. Mereka hanya berfikir keuntungan maka memproduksi film horor itu terus. Kemuncula Production House (PH) baru yang idealis seperti Alenia Production, Miles Production, dan lain-lain lebih memberikan pilihan tontonan kepada pasar, yaitu film-film yang idealis tapi tetap komersil.
Sistem di Indonesia, produksi film dari tahun ke tahun selalu dilakukan oleh produser yang sama. Mereka memproduksi film horor beberapa kali karena pertimbangan itu sangat menguntungkan. Dari segi anggaran, biaya produksinya sangat kecil tapi sangat menguntungkan. Contohnya, film Dewi Persik dan Julia Perez yang lalu yaitu Goyang Karawang bisa mencapai sekitar 500.000 penonton. Kalau film berkualitas rata-rata mencapai 100.000 – 150.000 penonton dan diproduksi dengan budget sangat besar.
Di mana salahnya?
Kalau menurut saya, semua elemen harus bekerja sama. Memang penonton akan stop menonton film horor bila jumlah produksi film horor dikurangi. Namun di satu sisi, si produser lama belum siap untuk melakukan itu. Dia masih berfikir keuntungan. Di dunia pun, horor itu bukan film musiman. Jadi selalu ada film horor kapanpun di setiap tahun. Sebaiknya kita mencoba membuat film horor yang bagus. Saya juga pertama kali muncul lewat film horor.
Pada 2008 saya bertemu dengan Brian Yuzna, salah satu produser Hollywood yang datang ke Indonesia. Dia memberikan skrip horor. Dia membaca media massa yang ada mistik-mistiknya. Saya baca skripnya, dia membuat formula baru dimana di film itu tidak pernah muncul setan. Namun suasana horor dibangun oleh ketakutan dan keadaan si manusianya itu sendiri, serta mempermainkan efek soundsystem.
Apa perbeda film horor yang Anda buat dengan film horor lain?
Film saya berjudul Takut: Faces of Fear tayang di Indonesia dan international juga. Brian sangat senang dengan film science fiction, horor, fantasy. Di film saya, dari awal sampai akhir tidak pernah muncul sosok setan seperti pocong, kuntilanak, dan lain-lain.
Bagaimana cara Anda membuat film horor tapi tidak menghadirkan sosok setan, bukankah itu agak di luar imajinasi masyarakat?
Horor yang kita bawakan adalah suasana ketakutan yang dibangun oleh si tokoh atau pemain yaitu Shanti dan Fauzi Baadilah. Shanti pergi ke dukun untuk mendapatkan kembali cinta pacarnya.
Apakah hasilnya jauh lebih berkualitas?
Ya.
Jadi bisa saja kita membuat film horor tapi berkualitas. Bagaimana cara Anda sebagai sutradara muda menghadapi di satu sisi harus idealis, sedangkan di sisi lain produser menginginkan film yang laku di pasaran? Tolong ceritakan film terakhir Anda yang memenangkan peghargaan di festival luar negeri dan juga Indonesia Movie Award (IMA) 2011 serta Festival Film Indonesia (FFI) 2010?
Awal muncul dengan Brian, saya mencoba berdiri sendiri dalam artian film saya selalu dari masalah-masalah sosial. Saya ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia. Saat melihat televisi (TV), berita, dan semua hal yang terjadi di Indonesia, saya risau dan gelisah. Saya harus menyuarakan ini. Kalau saya suarakan lewat berdemo pasti kalah karena saya hanya sendiri. Jadi, saya pikir film adalah media yang efektif untuk menyuarakan yang saya lihat dan dengar.
Misalnya, film saya "7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita" mengangkat isu feminisme. Waktu itu dunia sedang heboh dengan isu tersebut. Saya mengangkat isu global tersebut karena berfikir film saya tidak hanya untuk diputar di Indonesia saja. Saya harus mencoba pasar internasional. Terbukti film saya tayang perdana di Australia pada 20 Agustus tahun lalu selama satu bulan. Mulai dari situ saya pikir kerisauan saya tercapai untuk tervisualkan. Mereka yang menonton film itu ke luar studio dengan ekspresi terharu. Menurut saya, karya saya lumayan dihargai dan dihormati oleh orang luar.
Bagaimana rasanya?
Benar-benar ajaib. Waktu itu saya masih mahasiswa. Saya tidak berfikir banyak. Saya hanya berfikir berkarya dengan diberikan deadline hanya dua bulan oleh Brian asal Australia. Akhirnya film itu jadi. Mereka sangat memberikan apresiasi, masuk berita BBC dan tayang di TV Australia juga. Itu di luar dugaan saya. Waktu itu saya hanya berfikir bagaimana membuat film secara jujur, dan itu mendatangkan investor-investor baru juga. Saya takjub pada saat itu.
Apakah Anda juga terbantu dengan mendapatkan produser yang bisa membebaskan Anda untuk mengeksplorasi pikiran dan ide-ide itu?
Waktu itu saya berdiskusi dengan produser dan menyatakan saya akan men-direct dan menulis skrip dengan catatan tidak membatasi kreatifitas saya.
Anda masih sekolah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tapi sudah menghasilkan karya yang mendapat apresiasi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bagaimana rasanya sebagai seorang junior tapi sudah punya karya besar dan diapresiasi serta bisa mensejajar diri dengan senior?
Saya belajar banyak dari produser yang mengangkat film saya pertama kali. Kalau di luar negeri saya melihat mereka sangat terbuka. Kalau di Indonesia, ada kesenjangan antara junior dan senior. Regenerasi di Indonesia sulit. Ketika saya "menjual diri" kepada PH, mereka meminta portofolio saya seperti apa film yang sudah dibuat dan lain-lain. Mereka lebih percaya kepada orang yang sudah berpengalaman dibandingkan saya yang baru. Pemikiran Brian, seorang sutradara bukan lahir dari sekolah film. Sutradara itu bakat. Jika lahir dari sekolah film maka akan lebih baik. Semua orang bisa menjadi sutradara kalau dia punya bakat, yaitu harus bisa menangkap apa yang ingin dia sampaikan secara visual, serta ide dan esensi dari setiap frame dia.
Setelah dibuka oleh Brian, saya benar-benar berangkat dari film indie yaitu "7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita" yang mendapat penghargaan. Akhirnya, dari situ industri membuka mata terhadap kehadiran saya. Sekarang malah banyak teman-teman artis yang mau membaca skrip saya dan minta diajak bermain.
Apakah Anda yakin akan memilih jalur sutradara, padahal Anda pernah kuliah di arsitektur?
Saya pernah kuliah di arsitektur. Di satu titik akhirnya saya menemukan ternyata dunia saya adalah di film. Saya pernah juga tiga tahun di perbankan, saya merasa jenuh. Saya tidak tahu apa yang terbaik buat hidup saya. Lalu saya mencoba kuliah di IKJ, lulus, dan menang festival. Saya berfikir, oh ternyata film ini memang dunia dan hobi saya. Jadi saya bisa hidup dari dunia film dengan maintain penghasilan yang belum tentu setiap bulannya, kadang ada-kadang tidak. Setelah terjun ke dunia film, saya mempelajari sistem bisnis mereka. Malah justru kini saya berfikir persepsi bahwa dunia seni atau dunia film belum pasti merupakan persepsi yang salah. Justru sekarang saya malah terpacu untuk menjadi seorang enterpreneur di dunia film. Jadi kita harus mempelajari sistem bisnisnya dan mengetahui nilai jual yang cocok untuk diri kita.
Darimana datangnya inspirasi Anda?
Kalau melihat darimana inspirasi saya datang, lucu ceritanya. Saya tidak bisa membuat sebuah cerita berdasarkan imajinasi. Dari awal saya amati semua film saya, baik film pendek maupun lainnya, berangkat dari isu sosial dan kegelisahan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia. Based on a true story, bukan total fiksi. Itu mencakup tidak hanya masalah sosial, terkadang saya sisipkan masalah politik. Film ini seperti teriakan suara hati saya. Saya ingin bicara ke semua orang bahwa ini lho Indonesia, ini lho masalah yang kita hadapi.
Di film "7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita" based on a true story. Di situ saya mencoba memaparkan masalah yang dihadapi perempuan seperti pelecehan seksual, hamil di luar nikah, narkoba, dan lain-lain. Itu semua dari cerita teman-teman saya. Saya juga berangkat ke gang Dolly di Surabaya melihat bagaimana perempuan di situ dijajarkan untuk "dijual" dan pemerintah mendapatkan uang dari hasil itu. Perempuan hanya mendapat uang sedikit.
Di film kedua yang berjudul "Dilema", saya mengangkat isu pluralisme karena di Indonesia banyak sekali terjadi kerisauan terkait demonstrasi di mana-mana dengan mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan. Menurut saya, dalam hal ini bukan salah agamanya, tapi itu adalah individunya. Saya lewat film itu ingin bicara ke dunia internasional. Saya mencoba untuk mensuarakan ini.
Apakah Anda pernah terfikir untuk membuat film tentang sosok seseorang?
Sudah ada. Setelah film Dilema, saya akan membuat film tentang seorang tokoh yaitu Ellyas Pical. Pada awal tahun saya ingin sekali membuat film seorang legenda. Ada tawaran membuat film tentang mantan presiden negeri ini dan tawaran satu lagi tentang Ellyas Pical. Saya lebih memilih membuat Ellyas Pical karena dia legenda sekali, menurut saya. Judul film saya "The Exocet". Rencananya kita masuk produksi pada Agustus tahun ini dan akan tayang pada 2012. Ellyas Pical seorang legenda yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Saya mendapatkan judulnya film itu dari wartawan Eropa yang memberikan julukan itu kepada Elly.
Apakah itu karena pukulannya yang secepat kilat?
Ya, dan hanya dia dan Muhammad Ali yang setelah turun dapat kembali memiliki sabuk yang sama.
Anda tadi mengungkapkan film Indonesia ke depannya akan berkualitas karena film idealis akan sering muncul. Ada berita yang mengatakan masyarakat juga butuh film Hollywood yang bisa menghibur. Bagaimana pandangan Anda terhadap polemik film impor tersebut?
Menurut saya, sebagai film maker saya masih membutuhkan referensi, dan kehadiran film Hollywood masih sangat dibutuhkan di sini. Kalau bisa ada persaingan antara film Hollywood dan film Indonesia maka itu akan lebih baik. Yang harus dipertanyakan adalah sisi pemerintahnya, yaitu perpajakan industri film nasional dijadikan nol persen, sedangkan film Hollywood sekian persen.
Apakah itu artinya film Indonesia harus diproteksi dengan diberikan pajak yang rendah?
Itu karena selama ini kita tidak bisa menikmati hasil dari pemotongan pajak yang diberlakukan oleh pemerintah. Sekolah film di Indonesia sedikit sekali, sedangkan sumber daya yang menginginkan film itu banyak. Di Indonesia belum ada laboratorium khusus untuk film, kita harus ke Bangkok atau Hongkong untuk itu. Padahal pajak untuk film cukup tinggi. Saya bertanya dilarikan kemana pajak itu oleh pemerintah?
Apa infrastruktur yang harus disediakan oleh pemerintah untuk mendukung film Indonesia?
Pertama, harus ada sekolah film, harus ada pusat kebudayaan yang menunjang film itu sendiri. IKJ saja tidak cukup karena banyak sekali orang-orang kita yang ingin belajar film tapi mereka tidak tahu harus ke mana. Saat ini sekolah film hanya satu dan harganya sangat mahal, akhirnya mereka berlomba-lomba untuk indie, dan lain-lain. Kalau pemerintah menyediakan lebih banyak sekolah film, mungkin film maker kita akan bagus seperti di Hollywood, AS. Industri film di AS telah menjadi pemasok modal utama untuk negara.
Kedua, laboratorium untuk film. Jadi kita tidak perlu ke Bangkok atau Hongkong untuk itu. Yang lainnya, bioskop-bioskop diberikan fasilitas lebih baik dan lebih banyak. Film Indonesia akan maju bila itu terpenuhi.
Anda juga aktif berorganisasi di kampus. Seberapa penting Anda ikut organisasi ?
Sekarang saya menjadi bagian dari keluarga besar Ikatan Mahasiswa Jakarta (IMADA). Menurut saya, organisasi sangat dibutuhkan karena di organisasi kita belajar sebuah kepemimpinan, sistem dan struktur, cara memimpin. Ketika terjun di film, saya harus memimpin 100 orang crew yang umurnya lebih jauh di atas saya. Itulah manfaat dari organisasi. Saya belajar beradaptasi dengan orang lain dan membuka link kita juga. Di Imada yang sudah berdiri sejak 1955, banyak memiliki senior yang sangat berpengalaman dan tersebar di berbagai bidang.
Apa keuntungannya bergabung di IMADA?
Banyak. Ketika launching film, saya sudah bisa memperkirakan jumlah penonton film saya dari organisasi itu. Banyak senior saya yang membantu karier saya dan memberikan wejangan-wejangan. Senior saya juga banyak terlibat di film saya.
Apa pesan Anda untuk sineas muda?
Pertama, saya ingin menanamkan ke teman-teman agar tetap semangat, optimis dan yakin. Banyak e-mail yang masuk ke saya memberitahukan mereka memiliki skrip atau naskah film tapi tidak punya modal. Saya mengatakan modal adalah faktor ke sekian. Saya berangkat dari indie, sampai sekarang saya tidak pernah membiayai film saya sendiri. Jadi film saya selalu dibiayai orang lain. Jadi, buatlah skrip yang bagus. Anda juga harus berani mempresentasikan film tersebut kepada artis, atau siapapun yang menurut kalian cocok untuk menjadi salah satu bagian dari film kalian.




