Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ivan Lanin

Membudayakan Bahasa Indonesia

Edisi 780 | 03 Mar 2011 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kali ini kita akan secara khusus berbincang mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Kita ketahui berbahasa itu seperti berkendaraan di jalan raya. Ada aturan lalu lintas yang harus kita patuhi di jalan raya, demikian pula dalam berbahasa. Ada tata bahasa yang harus kita patuhi. Tetapi dalam kenyataannya banyak sekali rambu atau aturan tata bahasa termasuk untuk pengunaan kata serapan dari bahasa asing yang dilanggar. Kita akan berbincang bersama Ivan Lani, pemerhati bahasa yang gemar menciptakan istilah-istilah baru berbahasa Indonesia untuk menggantikan istilah-istilah asing.

Ivan Lanin mengajak kita untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar karena ini adalah bahasa kita. Agar kita mampu menceritakan dan mengekspresikan yang dirasakan dalam bahasa Indonesia maka itu harus dilatih. Misalnya, jika ingin mengatakan saya cinta kepadamu boleh saja menyebut I love you, tapi mengatakan saya sayang kamu lebih enak. Itu karena ketidakbiasaan saja

Menurut Ivan Lanin, kita juga sering kali tidak sadar bahwa kosakata kita sebenarnya sangat kaya. Jadi, kita ingin memperkayanya atau tidak, itu permasalahannya. Dengan kini sudah ada tesaurus (kamus padanan kata) Indonesia maka itu sebenarnya menjadi modal untuk memperkaya kosakata kita dan bisa menulis dengan lebih bervariasi.

Berikut wawancara Ansy Lema dengan Ivan Lanin.

Anda lebih senang disebut seorang wikipediawan. Apa persisnya wikipediawan itu?

Definisi mudahnya adalah orang yang berkontribusi untuk tulisan-tulisan di Wikipedia. Dalam bahasa Inggris disebut wikipedian, sedangkan untuk bahasa Indonesia kami menggunakan istilah wikipediawan. Sebenarnya kami adalah komunitas yang suka menulis, terutama menulis dalam ragam bahasa formal karena Wikipedia itu sebenarnya adalah ensiklopedia. Bedanya adalah ensiklopedia itu tersedia dalam daring (artinya online, dalam jaringan) dan bebas untuk disunting oleh siapapun.

Apa sesungguhnya yang menjadi motivasi Anda untuk terlibat dalam pekerjaan ini?

Sebenarnya itu bukan pekerjaan. Saya menyebutnya sebagai hobi. Sama seperti orang yang hobi bermain basket, bepergian, atau berkebun. Saat ini hobi saya adalah menulis di Wikipedia, dan kebetulan juga hobi ini diperhatikan orang secara luas terkait telah menjadi suatu rujukan yang orang anggap pasti benar. Saya harus meluruskan bahwa Wikipedia ditulis oleh orang biasa sehingga penggunaannya harus berhati-hati.

Sebagai wikipediawan, bagaimana Anda mencermati orang Indonesia dalam menggunakan bahasa Indonesia terutama dalam menyerap istilah-istilah ataupun kata dan konsep asing?

Wikipediawan harus dapat mendeskripsikan suatu hal. Jadi kalau dilihat, setiap artikel di Wikipedia itu rata-rata dimulai dengan kata "adalah". Contohnya, Jakarta adalah. Jadi selalu dimulai dengan pendefinisian suatu hal, itu adalah konsep. Sebenarnya, untuk dapat memberikan sesuatu dengan baik, orang harus terlebih dahulu mengerti konsepnya. Misalnya ingin mencari padanan suatu kata, kita harus terlebih dahulu mengetahui konsep atau makna sebenarnya.

Apakah ada kualifikasi atau persyaratan tertentu untuk menjadi seorang wikipediawan seperti Anda?

Tidak. Tahun 2006 saya mulai menulis untuk wikipedia bahasa Indonesia. Saat itu saya tidak pernah menilai kemampuan bahasa Indonesia saya. Saya menganggap itu adalah bahasa ibu saya, sehingga saya menilai mampu untuk berbahasa Indonesia yang baik. Kemudian baru ketahuan bahwa bahasa Indonesia formal saya sangat buruk. Dari situ terlihat bahwa tidak ada kriteria atau persyaratan untuk menulis di Wikipedia bahasa Indonesia. Persyaratan utamanya hanya satu yaitu niat.

Apakah itu artinya niat untuk terus belajar?

Ya, dan menyebarkan pengetahuan yang sudah dia dapat.

Saya melihat sebagai wikipediawan tidak terlalu jauh berbeda dengan pekerjaan seorang penerjemah. Apakah wikipediawan memang sama persis dengan seorang penerjemah, ataukah ada perbedaan yang cukup mendasar di antara keduanya?

Pekerjaan penerjemah yang saya lakukan lahir belakangan. Awalnya, saya tidak sama sekali berpikir akan menjadi seorang penerjemah. Namun karena terbiasa menerjemahkan artikel di Wikipedia dan juga kemudian bergabung dengan milis Penerjemah Bahtera pada 2007, saya akhirnya berpikir untuk sekalian bekerja sebagai penerjemah. Ini bisa sambil jalan, toh saya juga melakukan sesuatu yang memang saya cintai, kemudian pekerjaan saya sebagai penerjemah ini lahir. Kalau ditanya ada perbedaan atau tidak, ada cukup perbedaan.

Apa persisnya?

Wikipediawan lebih mengandalkan kemampuan menulis dan waktu menulis. Di sana ada suatu pekerjaan sintesis. Sedangkan penerjemah ada rujukan dalam bentuk, yang kami sebut, naskah sumber ke naskah tujuan. Wikipediawan lebih luwes dalam berkarya, kurang lebih sama seperti penulis.

Apa sebenarnya hal yang menarik dalam hobi yang sedang Anda geluti saat ini?

Menurut saya, kemampuan untuk menstrukturkan pemikiran. Kalau kita disuruh untuk mendeskripsikan sesuatu dalam satu paragraph, maka kita pasti mengalami kesulitan.

Bagaimana Anda melihat atau memotret orang Indonesia berbahasa Indonesia secara baku, benar dan sesuai dengan aturan-aturan kaedah yang ditetapkan?

Pertama, dalam berbahasa kita mempunyai beberapa bentuk. Ada ragam bahasa, itu bertingkat dimulai dari paling atas yang disebut dengan ragam baku yang digunakan di Undang Undang Dasar. Kemudian ada ragam formal, yang digunakan dalam rapat atau pertemuan resmi. Di bawahnya lagi terdapat ragam percakapan yang digunakan untuk mengobrol kecuali dalam forum resmi seperti rapat-rapat atau simposium. Lalu ada ragam intim yang kita gunakan untuk bicara dengan anak atau istri, hampir tidak ada aturan. Jadi ada tingkatan-tingkatannya.

Ketika kita berbicara di hadapan publik dalam konteks yang formal, pasti ada nilai-nilai yang perlu kita sampaikan kepada publik. Sejauh mana konsistensi kita untuk ketat pada aturan main itu?

Menurut saya, yang pertama orang Indonesia membutuhkan tokoh untuk dilihat sebagai contoh. Kita kurang mendapat tokoh dalam segi berbahasa.

Jadi budaya patron klan berpengaruh besar dalam penggunaan bahasa, betulkah?

Sangat, menurut saya. Kita pasti mencontohnya. Misalnya, kita melihat, maaf, presiden kita mencampur kata bahasa Inggris banyak sekali. Kita berpikir bahwa highlight sah-sah saja untuk digunakan di forum formal. Padahal, mungkin sebenarnya tidak. Pejabat-pejabat publik kita pun sebenarnya juga tidak menerapkan kaidah berbahasa dengan baik juga. Saya tidak menyalahkan mereka, mungkin karena kita tidak menyadari bahwa hal itu diperlukan. Tertib berbahasa itu perlu. Kalau diperhatikan, kita juga tidak malu ketika di jalan raya melihat tulisan "dilarang" dengan kata "di" dan "larang" yang dipisah. Hal-hal kecil seperti itu belum tumbuh pada kita, yaitu budaya malu untuk tidak menggunakan kaedah bahasa yang benar.

Kesan saya, orang Indonesia enggan sekali untuk mencari padanan kata dari bahasa asing untuk diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kita ambil contoh, dalam istilah politik ada kata incumbent, padahal itu sebenarnya ada istilah sendiri dalam bahasa Indonesia. Juga ada kata whistle blower dalam istilah hukum. Apa sesungguhnya yang menjadi pangkal persoalan sehingga keengganan itu begitu luas di masyarakat kita?

Takut salah. Lalu, ketidaktahuan tentang alternatif kata yang kita miliki. Contoh paling gampang adalah coba kita hitung berapa rumah di Indonesia yang memiliki Kamus bahasa Inggris Indonesia? Berapa rumah yang mempunyai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)? Hampir semua rumah memiliki kamus bahasa Inggris - Indonesia. Padahal memilki KBBI bisa mendorong kemampuan orang untuk menguasai kosakata yang ada di bahasa Indonesia. Bahasa kita kaya dengan kata. Kita mempunyai 90.000 lebih kata yang ada di bahasa Indonesia. Berapa persen dari jumlah kata itu yang kita kuasai?

Fokus dari pembicaraan kita saat ini sebenarnya adalah media massa, baik cetak maupun elektronik atau lainnya. Seberapa jauh Anda melihat mereka sebenarnya memiliki kepedulian pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar?

Menurut saya, perkembangannya cukup bagus. Saat ini media massa mempunyai redaktur bahasa. Mereka juga sudah mempunyai milis untuk berdiskusi tentang masalah itu. Jadi media massa sudah mulai peduli untuk berbahasa Indonesia yang baik. Kemudian media elektronik juga perlu dilihat karena peran mereka sudah banyak saat ini. Misalnya, detik.com dan vivanews mulai dilihat orang sebagai sumber berita utama juga. Saya belum tahu apakah mereka sudah mulai atau belum menerapkan itu.

Masyarakat kita memasuki era internet, mereka menggunakan multimedia untuk berkomunikasi. Saya memperhatikan terkadang bahasa yang digunakan penuh singkatan seperti dalam komunikasi keseharian, dan banyak sekali yang menabrak aturan baku bahasa Indonesia. Apakah ini akan bisa menimbulkan kekhawatiran?

Seringkali yang dihadapi itu adalah ketakutan pada pembatasan karakter, bahasa Indonesia dianggap lebih panjang dari bahasa Inggris. Kalau tata bahasa, menurut saya, pembatasan karakter itu tidak terlalu masalah untuk kita. Kita bisa menghindari penggunaan kata "pada", "untuk". Partikel-partikel seperti itu bisa kita hilangkan tanpa mengurangi makna terlalu banyak. Penyingkatan umum juga bisa kita lakukan. Contohnya, kata "yang" menjadi "yg". Yang saya lihat agak sulit untuk ditangani ialah orang lebih memilih menggunakan bahasa Inggris karena kesulitan untuk menceritakan pemikiran dia dalam bahasa Indonesia. Itu sangat menyedihkan. Maksud saya, ini adalah bahasa kamu, mengapa kamu tidak mampu menceritakan dan mengekspresikan yang kamu rasakan dalam bahasamu sendiri? Hal itu harus dilatih. Mungkin memang karena pendidikan, ada beberapa orang yang memang lama di luar negeri sehingga terbiasa dengan bahasa asing. Misalnya, saya ingin mengatakan saya cinta kepadamu kepada istri saya. Masa saya sebut itu I love you? Boleh saja sih, tapi mengatakan saya sayang kamu lebih enak. Itu karena ketidakbiasaan saja.

Dalam berbahasa Indonesia, apakah para wikipediawan memiliki lembaga khusus yang menjadi rujukan?

Tidak ada lembaga khusus. Pada dasarnya wikipediawan adalah kumpulan dari sukarelawan, semacam komunitas. Mungkin kalau bisa kita bandingkan, sama dengan komunitas Kaskus.

Dalam komunitas ini apakah ada prasyarat seperti harus disertifikasi karena ini juga mempunyai implikasi kepada publik sebagai rujukan kepada masyarakat?

Kami menyadari itu. Pada awalnya Wikipedia dibuat dengan konsep terbuka, tidak membatasi hak-hak orang apapun. Yang harus kita perhatikan sebagai penyeimbang adalah masalah tadi, bagaimana caranya membebaskan isi Wikipedia agar dapat disunting oleh siapapun, tapi di sisi lain bisa mempertahankan keandalannya. Itu yang dipertanyakan orang. Sampai saat ini, kalangan akademis dikatakan rata-rata menolak rujukan yang diambil dari Wikipedia. Saya pikir, sah-sah saja mereka malakukan hal itu.

Siapakah yang paling berkontribusi terhadap perusakan bahasa Indonesia ini?

Tokoh publik Indonesia karena mereka yang paling disorot, dan paling dilihat perbuatannya. Jika mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia yang benar, maka otomatis orang berpikir bahwa itu boleh-boleh saja.

Artinya apa yang mereka lakukan selalu menjadi rujukan dan akhirnya ditiru oleh masyarakat, betulkah?

Betul. Saya lihat, paling tidak sekarang budaya kita seperti itu. Kalau kita ingin memperlakukan bahasa kita dengan lebih baik, tokoh-tokoh publik kita harus dipaksa untuk melakukan hal itu.

Apakah ada komunikasi khusus, katakanlah relasi, dari para wikipediawan dengan lembaga bahasa di Indonesia?

Kalau dalam bentuk formal jelas tidak karena Wikipedia bukan lembaga formal, tetapi merupakan suatu komunitas penulis dan itu secara informal.

Apa saja yang dikomunikasikan dalam bentuk informal tersebut?

Pertama, lebih banyak pada pencarian padanan misalnya masalah rujukan bahasa. Di Wikipedia kita punya warung kopi yaitu satu halaman khusus tempat orang bisa mendiskusikan masalah-masalah yang mereka temukan sewaktu menulis artikel. Misalnya, ada warung kopi bahasa sebagai tempat kita mendiskusikan masalah-masalah bahasa. Contohnya, bagaimana cara memadankan kata language families, apakah kita menyebutkan keluarga bahasa atau rumpun bahasa. Contoh-contoh konsensus seperti itu.

Berarti ada rasa bahasa, yaitu kita memiliki sensitifitas tertentu untuk melakukan hal itu. Misalnya, terkait penggunaan indera penglihatan, kita bisa memakai kata melihat, menatap, memandang, mencermati, melotot, melirik, mengedip. Bagaimana mengasah rasa bahasa seperti itu?

Harus sering dipergunakan. Pertama kita butuh tesaurus (kamus padanan kata-Red) untuk mencari padanan kata. Kita sering kali tidak sadar bahwa kosakata kita sebenarnya sangat kaya. Jadi, kita ingin memperkayanya atau tidak, itu permasalahannya. Dengan adanya tesaurus yang diterbitkan oleh Eko Endarmoko pada 2006 sebenarnya menjadi modal untuk memperkaya kosakata kita dan bisa menulis dengan lebih bervariasi.

Terkait dengan nuansa makna tadi, bagaimana sebenarnya kajian makna bahasa di Indonesia, apakah cukup berkembang atau statis?

Di lingkungan akademisi saya sempat melihat, seperti di Universitas Indonesia (UI) atau kampus-kampus lain yang memiliki fakultas sastra, ada kajian-kajian ilmiahnya. Masalahnya, begitu itu disebarkan ke masyarakat, tapi penyebarluasannya masih kurang. Contoh konkret adalah bahasa Inggris sudah memiliki tesaurus yang terbit sejak 1800-an. Jadi harus diakui bahasa Inggris memang lebih lama perkembangannya dibandingkan bahasa Indonesia. Di sana pembahasan tentang perluasan makna tadi dilakukan dengan cukup detil. Kita belum memiliki karya seperti itu, karya yang benar-benar membedakan makna kata seperti yang disebut tadi, yaitu melihat, melirik, mendelik, mengerling. Perbedaan nuansa makna tersebut harus didokumentasikan. Itu yang pelan-pelan perlu kita lakukan.

Saat ini ada beberapa portal ataupun situs besar, seperti Google, Facebook dan Yahoo. Kesan saya adalah Google lebih adaptif atau lebih ingin agar aplikasinya dilokalkan jika dibandingkan dengan Facebook atau Yahoo. Sementara hari ini saya melihat jumlah pengguna Facebook di Indonesia berada di belakang Amerika Serikat atau sebagai pengguna terbesar kedua. Bukankah ini juga bisa berkontribusi menjauhkan kita dalam istilah-istilah bahasa Indonesia?

Facebook ada versi bahasa Indonesia. Saya bahkan pakai. Sebenarnya salah satu pendorong meledaknya pengguna Facebook karena ada versi bahasa Indonesia. Selain Blackberry, bahasa Indonesia merupakan pendorong jumlah pengguna Facebook sangat meningkat di Indonesia. Saya setuju media internet, selain media cetak, sangat berperan dalam hal ini. Untungnya, penyedia situs dari luar negeri menyadari Indonesia adalah pasar yang potensial. Google, Yahoo, Facebook dan Twitter, mencoba menyediakan versi bahasa Indonesia untuk masing-masing aplikasi mereka.

Apakah kata-kata serapan Indonesia itu cukup kaya atau minim?

Saya harus mengakui memang minim. Di dunia penerjemahan, kita membedakan antara penerjemah, juru bahasa dan juru istilah. Dalam bahasa Inggris yaitu translator, interpreter dan terminologist. Proses untuk menciptakan istilah adalah suatu ilmu sendiri, tidak bisa dibebankan ke penerjemah. Itu karena penerjemah biasanya bekerja dengan naskah yang begitu banyak dan tenggat waktu yang ketat. Untuk suatu istilah teknis tertentu, orang harus menguasai konsepnya. Contohnya, bidang ilmu saya adalah manajemen risiko dan teknik kimia. Kalau saya disuruh mencari padanan kata yang ada di ilmu bidang politik, saya pasti kelimpungan.

Terkait hal itu, penerjemah pun sebenarnya harus memiliki spesialisasi dalam bidang-bidang tertentu karena bisa saja si A menjadi penerjemah yang baik dalam bidang politik, tetapi belum tentu dalam bidang teknik. Betulkah?

Betul. Pengguna jasa saat ini sudah mulai memedulikan hal itu. Kami punya milis penerjemah yang beranggotakan 2.800 orang, yaitu milis Bahtera. Kita sering dikirimkan e-mail mengenai lowongan pekerjaan penerjemah yang menyebutkan bahwa yang diinginkan adalah yang berpengalaman di suatu bidang tertentu.

Bagaimana cara agar kita lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga tidak terus menerus dikuasai oleh istilah-istilah asing?

Pertama dan utama, harus niat. Percuma jika kita merasa nyaman dengan penggunaan istilah-istilah asing itu. Saya tidak menyalahkan itu, tetapi untuk saya bahasa adalah cita diri bangsa. Itu bukti bahwa kita memiliki budaya sendiri. Kita tidak serta-merta menyerap semuanya dari luar. Sulit untuk melakukan justifikasi dalam hal itu karena itu adalah kebanggaan. Sesuatu yang jika orang mencoba untuk mencari uraian ilmiahnya tidak ketemu. Kedua, media massa menjadi tombak utama. Lalu, dukungan pemerintah. Pusat bahasa seharusnya lebih aktif untuk langsung menuju ke konstituen. Jangan hanya sibuk berkutat di lingkungan akademis saja. Mereka memang memiliki layanan telepon dimana orang bisa langsung menelepon ke sana, namun dengan sekarang jejaring sosial makin mengemuka, maka itu bisa dicoba untuk dimanfaatkan oleh mereka juga. Tentu itu akan lebih bagus lagi.