Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Riyani T. Bondan

Mengenal Disleksia dan Mengatasinya

Edisi 758 | 03 Okt 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah Ibu Riyani T. Bondan yang saat ini bekerja di Bank Mandiri sebagai Executive Vice President, Coordinator Internal Audit. Di balik pekerjaan yang sangat penting bagi masyarakat ini, dia juga menjalankan pekerjaan yang sangat penting di bidang kesehatan dan pertumbuhan anak-anak yaitu memimpin Asosiasi Disleksia Indonesia.

Riyani menjelaskan disleksia merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar yang spesifik yaitu kesulitan dalam belajar membaca diantaranya mengenali huruf, mengeja dan merangkaikan huruf menjadi kata. Anak disleksia sering sangat tidak dikenali sehingga dianggap pemalas, pembangkang, bodoh, padahal sebetulnya bukan itu. Disleksia adalah gangguan neourologis yang sifatnya genetis. Jadi kondisi ini menetap. Disleksia tidak bisa diobati tetapi bisa diintervensi sehingga anak bisa mengatasi masalahnya.

Menurut Riyani, dalam menangani disleksia semua pihak harus terlibat supaya anak-anak kita melalui bakat dan prestasinya bisa tampil menjadi orang besar. Tidak hanya orang tuanya, tapi para ahli, dokter, psikolog, terapis, juga sekolah dan pemerintah. Sampai ke pemerintah karena anak disleksia memiliki masalah dengan membaca. Jadi kalau dia ulangan atau ujian dengan materi ujian sama dengan anak lain yang spasinya mepet, maka dia akan bingung. Dia tidak bisa membacanya. Paling tidak, cara menyajikan ujiannya harus ada penyesuaian.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Riyani T. Bondan.

Apa itu disleksia?

Disleksia merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar yang spesifik. Kesulitan belajar banyak, tetapi disleksia itu spesifik yaitu keluhan dalam belajar membaca diantaranya mengenali huruf, mengeja dan merangkaikan huruf menjadi kata.

Semua bertalian dengan medium tertulis. Jadi kalau dia belajar secara lisan tidak ada masalah, betulkah?

Betul, malah dia senang. Anak saya yang mengalami disleksia pernah bertanya, "Bunda senang ya karena melakukan tes fit and proper berupa wawancara, kalau saya tertulis." Jadi tes tertulis menjadi nightmare (mimpi buruk) bagi dia. Anak-anak disleksia memiliki IQ rata-rata atau di atas rata-rata. Kalau di bawah rata-rata bukan disleksia. Anak disleksia sering dianggap sama seperti yang lain, padahal sebetulnya mereka termasuk yang pintar, kalau kita benar menanganinya.

Apa yang menyebabkan disleksia?

Ini adalah gangguan neourologis yang sifatnya genetis. Jadi kondisi ini menetap. Disleksia tidak bisa diobati tetapi bisa diintervensi sehingga anak bisa mengatasi masalahnya. Contohnya, dia tidak bisa membaca lalu dibacakan, paling seperti itu. Bagi orang yang tidak paham dia bisa dikatakan pemalas, bodoh, keras kepala dan sebagainya. Jadi justru seringkali kita harus mengatasi masalah psikologisnya sebelum kita ke masalah disleksianya.

Ibu menjumpai pada anak yang seperti itu, apa ada pengalaman atau ciri bahwa dengan pengalaman itu dia bisa kuat?

Sebenarnya ada banyak contoh orang besar seperti Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura, kemudian Tom Cruise, aktor asal Amerika Serikat. Kini Tom Cruise bisa membaca skenario film yang sedemikian kompleks padahal tadinya dia tidak bisa membaca.

Tadi dikatakan tidak bisa disembuhkan, lalu bagaimana bentuk intervensinya?

Jadi, dia akan dilatih sehingga bisa mengenali huruf dengan benar.

Saya pernah mendengar metode bacanya beda seperti speed reading, membaca lima halaman dalam satu menit. Itu bukan membaca satu per satu huruf tetapi di-scan secara keseluruhan, benarkah?

Benar, seperti halnya pelukis terkenal Van Gogh. Kalau dikenali bakatnya, dia akan menjadi anak-anak yang berprestasi. Contohnya, anak saya kalau bermain sepak bola di sekolah dasar (SD) biasa selalu menjadi pemain cadangan, tetapi sekarang dia senang sekali main bola.

Kapan disleksia bisa ketahuan?

Sebetulnya anak-anak disleksia ini sudah kelihatan dari kecil. Misalnya, bentuk benda yang kanan dan kiri terbalik, padahal dia seharusnya sudah tahu di usianya tersebut. Kemudian dia sering jatuh. Dia tidak paham tentang konsep waktu. Jadi, waktunya sudah mepet pun tidak bisa diburu-buru. Bagi dia, 20 menit dengan dua menit itu sama. Misalnya, saat ulangan dikatakan waktu pengerjaan tinggal 20 menit lagi maka dia langsung meletakan pensilnya. Anak saya dari TK sudah terlihat hal tersebut. Kita mencari ahlinya. Awalnya, kita ke psikolog tetapi yang dikatakan hanya ada masalah sensor integrasi. Sayangnya, ahli kita di bidang ini sangat terbatas. Anak saya ditangani oleh ahlinya yang benar baru saat kelas IV SD. Jadi masa emasnya dari TK sampai kelas IV SD tidak bisa dimanfaatkan. Bahkan anak saya sudah terkena pada kepercayaan dirinya.

Bagaimana penanganannya kalau sudah kena kepada kepercayaan diri?

Sewaktu pertama kali saya konsultasi dengan kepala sekolah. Kepala sekolah memiliki simpati tetapi tidak memiliki keahlian. Kemudian guru sekolahnya juga memiliki simpati tetapi tidak memiliki keahlian. Untung akhirnya saya mendapatkan informasi agar anak saya periksa ke Dokter Purboyo. Dia spesialis anak dengan sub spesialisnya neurolog dan pertumbuhan anak. Yang saya suka dari Dr. Purboyo adalah dia bekerja secara tim. Jadi saat melakukan evaluasi terhadap anak saya, dia mengajak psikolog dan terapisnya. Kalau orang Indonesia biasanya dari dokter yang satu ke dokter yang lain hanya direferensi, kita diinformasikan dan orang awam disuruh mencari sendiri. Saya sampai pindah ke Bandung karena dokter tersebut hanya tugas di Santosa Hospital, Bandung, Jawa Barat. Akhirnya, Dr. Purboyo mengatakan kalau saya harus mencari sekolah khusus, dan Dr. Purboyo datang berkunjung ke sekolah tersebut.

Bayangkan ada dokter yang meluangkan waktunya untuk mengecek sekolah yang tepat untuk anak saya dan dia membawa juga dokter lain dan psikolognya. Akhirnya, saya mendapatkan SD Pantara di Jakarta untuk sekolah anak saya. Sekolah ini dikelola oleh sebuah yayasan yang diketuai Ibu Umar Wirahadikusumah.

Saya kira kita patut memberikan penghargaan kepada yang berhak mendapatkannya seperti Dr. Purboyo dan rekan-rekan karena sangat sedikit orang yang mengetahui orang yang telah bekerja baik. Sebaliknya, kalau ada orang yang tidak bekerja dengan baik maka langsung ketahuan. Jadi, sampai berapa lama anak ibu berada dalam observasi?

Sampai sekarang masih. Kalau dulu seminggu dua kali. Kalau sekarang dengan bersekolah di Jakarta, maka hanya setiap Sabtu pagi berangkat ke Bandung untuk terapi.

Apa bentuk terapi yang dilakukan?

Ada dua hal. Pertama, kemampuan membaca dan menulis. Kedua, tingkah laku anak tersebut. Anak disleksia termasuk anak yang sulit memahami orang lain. Jadi dia kalau diajak berbicara tidak paham. Jadi kalau mereka menjadi suami istri maka bisa bertengkar terus.

Jadi itu bukan egosentris atau lainnya tetapi memang karena kesulitan?

Karena tidak paham. Contohnya, anak saya mengatakan, "Bunda aku minta dibelikan Blackberry." Lalu saya jawab, "Blackberry itu hanya untuk orang yang sudah berpenghasilan sendiri karena mahal." Namun akhirnya saya mengalah asalkan nilai rapor dia bagus. Kemudian dia setuju. "Kalau kamu nilainya bagus maka Bunda belikan Blackberry. Sudah selesai ya?" Tapi jawab dia, "Belum." Ternyata perjanjian tersebut harus kita buat secara tertulis. Padahal waktu itu dia belum bisa membaca, tapi dia perlu ‘kontrak’ rupanya.

Apakah itu karena dia tidak yakin?

Itu karena dia ingin ada kesepakatan secara visualisasi. Akhirnya, tiba-tiba dia menggambar Blackberry lalu dimasukkan ke dompet saya supaya tidak lupa. Jadi yang diterapi bukan hanya belajar mengeja, menulis lagi, tapi juga termasuk contact to other person dan teamwork.

Apakah sudah ada feedback dari pergaulan dia yang menunjukkan itu menimbulkan persoalan? Apakah kondisinya diketahui oleh teman-temannya?

Dia tentunya dikucilkan dari teman-teman. Misalnya, saat tim band bermain musik, anak saya selalu dimasukkan di bangku cadangan terus, tidak pernah ke luar bangku cadangan. Tetapi sekarang sejak di SD Pantara serta ditangani Dr. Purboyo, anak saya sering diajak ke acara-acara termasuk sewaktu Ibu Umar Wirahadikusuma berulang tahun di gedung Manggala Wanabhakti. Mereka sangat bangga sekali bisa tampil dan bernyanyi di gedung yang megah, belum lagi di hotel-hotel dan mal-mal.

Apakah dia memang senang musik?

Sebetulnya itu salah satu cara untuk melihat apa bakatnya dan di mana kekuatannya. Jadi memang kita harus mencari kekuatan dia. Saat ini yang menjadi passion kami dari asosiasi adalah ternyata ahlinya tidak banyak. Jadi saya ingin memiliki database di seluruh Indonesia mengenai ada di mana saja ahli untuk menangani disleksia. Kami memiliki website www.asosiasi-disleksiaindonesia.org yang memuatnya.

Saya melihat kerja Anda sangat passionate, sangat keras, tapi terus terang saja hal itu baru akan efektif apabila masyarakat secara luas ikut menanganinya. Saya kira maksud Anda tersebut menimbulkan "virus" keprihatinan. Apakah organisasi lain atau pemerintah sudah ada perhatian khusus? Sejauh mana perhatian Menteri Pendidikan Nasional, yang tentu bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan pertumbuhan anak bersama Menteri Kesehatan serta Bappenas, terhadap disleksia ini?

Dalam penanganan disleksia memang semua pihak harus terlibat supaya anak-anak kita melalui bakat dan prestasinya bisa tampil menjadi orang besar. Tidak hanya orang tuanya, tapi para ahli, dokter, psikolog, terapis, juga sekolah dan pemerintah. Sampai ke pemerintah karena anak disleksia memiliki masalah dengan membaca. Jadi kalau dia ulangan atau ujian dengan materi ujian yang sama dengan anak lain, misalnya yang spasinya mepet, maka dia akan bingung, karena dia tidak bisa membacanya. Paling tidak cara menyajikan ujiannya harus ada penyesuaian.

Kedua, masalah pemberian waktu. Ini bukan masalah anak itu tidak bisa, tetapi dia perlu waktu yang pas. Jadi waktu ujian untuk anak disleksia tidak bisa disamakan dengan anak yang normal. Padahal konsep pendidikan kita sekarang adalah inklusif. Jadi anak-anak yang berkebutuhan khusus baik yang spesifik maupun yang tidak spesifik dimasukkan ke sekolah yang biasa.

Apakah dia tidak dikucilkan?

Sebenarnya konsepnya baik, tetapi masalahnya infrastrukturnya tidak tersedia. Pertama, gurunya tidak paham dan fasilitasnya juga tidak ada. Ada anak-anak yang pada waktu tertentu harus dikeluarkan dari kelas agar dia mendapatkan porsi yang pas untuk dia. Kedua, guru-gurunya sendiri sekarang untuk satu kelas sudah memiliki 40 siswa, lalu bagaimana dia bisa memberi perhatian khusus jika ditambah dengan anak yang perlu perhatian. Jadi menurut saya ini akhirnya tidak ke mana-mana karena guru-gurunya mengajar untuk yang mainstreamnya kedodoran, untuk yang inklusifnya berantakan. Kami sebenarnya dari asosiasi sempat diundang oleh UNESCO yang berpusat di Perancis. Waktu itu mereka mengadakan Forum Disleksia yang pertama. Kita dibantu oleh Prof. Arief Rahman Hakim yang menjadi Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO. Jadi kita pergi ke Perancis dan akhirnya di sana kita bisa mendapatkan materi online untuk guru-guru belajar. Sekarang kami perlu dana untuk menterjemahkannya agar guru-guru di daerah-daerah yang belum ada internetnya bisa kita sajikan dalam bentuk bacaan. Ini semua benar-benar perlu dukungan semua pihak.

Asosiasi Disleksia Indonesia didirikan sejak 2009. Kapan Anda mulai menjadi Ketua Umum?

Sejak pertama kali didirikan pada Desember 2009, saya didaulat oleh teman-teman untuk menjadi Ketua Umum.

Saya rasa masyarakat banyak yang ingin membantu juga. Apa kira-kira yang bisa diberikan kepada masyarakat untuk membantu usaha ini?

Yang jelas kami berharap di masing-masing daerah membangun komunitas disleksia untuk menumbuhkan kesadaran terhadap yang kita bangun. Misalnya, saya berharap dalam waktu dekat kita bisa membuat seminar edukasi untuk dokter, perawat, dan psikolog sehingga kita memiliki komunitas yang memang mempunyai atensi.

Apakah itu maksudnya dokter, psikolog sekalipun masih perlu upgrade pengetahuannya mengenai disleksia?

Sangat perlu karena sebagai contoh saya pribadi tidak punya informasi apakah ada dokter di Jakarta yang mendalami tentang disleksia sehingga akhirnya saya harus pergi ke Bandung, Jawa Barat. Saya ingin layanan disleksia seperti yang di Bandung juga dimiliki kota-kota lain karena mereka memiliki assessment, intervensi dini, dan sekolah yang terintegrasi di dalam jaringan Dr. Purboyo.

Sekadar ingin tahu karena ini dikatakan genetik atau turunan. Apakah disleksia pernah ada di kalangan anggota keluarga Anda sebelumnya?

Setelah saya melihat tampaknya memang ada. Contohnya, anak adik ipar saya baru bisa berkata-kata bahkan bicara di usia tiga tahun.

Jadi itu menjadi suatu peringatan bagi ibu-ibu muda atau yang belum menikah atau belum punya suami agar mengetahui latar belakang keluarganya. Jadi saat nanti punya anak bisa mendeteksi disleksia lebih dini. Apakah rekan Anda di asosiasi datang dari kalangan tertentu seperti urban, rural, status sosial tinggi-rendah?

Lengkap semua ada. Bahkan ada yang dari Kalimantan. Saya bersyukur media seperti Perspektif Baru bisa menjangkau mereka. Jadi saat mereka masuk ke situs kami maka kami bisa memberikan informasi tentang apa yang terjadi. Yang menjadi persoalan adalah mereka harus pergi ke Bandung, Jawa Barat untuk terapi. Kalau semua orang ke Dr. Purboyo tentu tidak mungkin. Jadi kita sangat berharap di setiap daerah ada komunitas para ahli mulai guru, kepala sekolah, termasuk yayasan yang memiliki sekolah. Yayasan yang memiliki sekolah bisa menjadi salah satu persoalan kalau dia mencegah murid-murid berkebutuhan khusus untuk diterima di sekolahnya. Belum lagi Dinas Pendidikan daerah yang juga harus punya program-program jelas untuk anak disleksia. Mungkin untuk anak yang memiliki masalah fisik bisa kita kenali dari awal dan kita dapat mengarahkannya. Namun anak disleksia sangat tidak dikenali, dia hanya dianggap pemalas, pembangkang, bodoh, padahal sebetulnya bukan itu. Dia hanya bingung sendiri dengan dirinya.