Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA(K)
Cegah Kekurangan Gizi, Hindari Kelebihannya
Edisi 750 | 09 Aug 2010 | Cetak Artikel Ini
Salam Perspektif Baru,
Tujuan pembangunan di Indonesia seharusnya untuk manusianya dan yang paling penting adalah anak-anak, sebab mereka yang masih bisa diselamatkan untuk masa depan. Anak-anak kita selalu dihadapi masa pertumbuhan yang sulit dan panduannya tentu seharusnya datang dari orang tua selain dari sekolah, masyarakat dan publik. Tamu kita Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, adalah spesialis anak yang telah menjalani pengalaman klinis sejak 1984, mulai Puskemas daerah sampai dengan tingkat pusat dan juga internasional. Dia menempuh jalur akademik yang menyangkut anak-anak dan nutrisi bahkan genetika. Gelar Doktornya itu diperoleh dari pendidikan S3 di Utrecht, Belanda.
Menurut Damayanti, saat ini kita menghadapi double burden of malnutrition atau beban ganda masalah gizi. Di satu sisi, kita masih menghadapi anak yang kurang gizi. Di sisi lain, kita mulai menghadapi anak yang mengalami gizi lebih bahkan obesitas. Keduanya berdampak negatif bagi bangsa kita ke depan.
Damayanti mengatakan kita akan menghadapi kehilangan generasi akibat double burden of malnutrition. Pada tiga tahun pertama usia anak merupakan 95% pertumbuhan otak, sehingga intelektual dibina pada saat itu. Jadi kalau tidak meninggal, maka intelektual anak tersebut akan separuh, istilah dia. Terus kita punya satu lagi kelompok orang tua yang mampu sehingga bisa menyekolahkan anaknya hingga ke Harvard University atau universitas ternama lainnya. Namun dia mengalami obesitas sehingga saat balik ke Indonesia dan berusia 40 tahun mengalami stroke, serangan jantung. Jadi siapa yang memimpin negara kita nanti.
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Dr. dr. Damayanti Rusli
Ketika semasa kecil saya merasa beruntung bahwa saya bukan termasuk keluarga yang kelaparan. Jadi selalu cukup makanan, senang makan, dimanja, sehingga gemuk dan menjadi korban obesitas yang saat ini dengan susah payah harus diatasi, sulit dan bahkan mahal. Andaikata sekarang saya tidak beruntung memiliki tingkat penghasilan yang baik, barangkali sudah dari dulu saya terkena hipertensi, jantung, stroke dan sebagainya. Jadi ini semua bisa terhindar ketika saya kecil. Sebaliknya saya lihat banyak orang jauh lebih tidak beruntung dari saya yang mengalami malnutrisi. Barangkali bisa dijelaskan terlebih dahulu apa yang disebut double burden of malnutrition?
Persoalan nutrisi di Indonesia seperti di beberapa negara berkembang lainnya. Ada dua hal yang dihadapi oleh negara, yaitu anak-anak yang malnutrisi berupa under nutrition dan satu lagi anak-anak yang malnutrisi berupa over nutrition yaitu obesitas. Malnutrisi under nutrition sebagian besar memang karena tidak bisa makan akibat orang tuanya tidak berpenghasilan. Saya bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang merupakan rumah sakit pusat, rujukan dari seluruh Indonesia. Misalnya, ada anak gizi buruk kemudian kita terapi, kita beri makan yang benar di rumah sakit dengan menggunakan program untuk keluarga miskin dan sebagainya. Namun begitu pulang ke rumah dia akan menghadapi masalah sama. Misal, bapaknya hanya bekerja sebagai tukang sampah dan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan tukang sampah hanya Rp 20.000 dan dia memiliki tanggungan lima orang. Kondisi malnutrisi akan kembali terjadi lagi. Jadi tidak akan bisa diatasi oleh petugas kesehatan. Pemerintah perlu ikut turun tangan.
Sebagian lagi dari kita terdiri atas masyarakat yang sosial ekonominya menengah ke atas, sehingga dia bisa menolong dirinya sendirinya. Yang dituju adalah anak-anak yang chubby sehingga akan berakhir dengan anak yang gemuk. Itu akibat ketidaktahuan dari orang tua mengenai bagaimana memberikan makan yang benar kepada anaknya, jadi pengetahuannya tentang gizi kurang.
Saya selalu menjelaskan kepada mahasiswa saya bahwa kita akan menghadapi kehilangan generasi karena masalah gizi ini. Pada tiga tahun pertama usia anak merupakan 95% masa pertumbuhan otak, sehingga intelektual dibina pada saat itu. Jadi kalau tidak meninggal maka intelektual anak tersebut akan separuh, istilah saya. Terus kita punya satu lagi kelompok orang tua yang mampu sehingga bisa menyekolahkan anaknya hingga ke Harvard University atau universitas ternama lainnya. Namun dia mengalami obesitas sehingga saat balik ke Indonesia dan berusia 40 tahun mengalami stroke, serangan jantung. Jadi siapa yang memimpin negara kita nanti.
Tadi dijelaskan bahwa anak yang malnutrisi dalam pengertian kurang gizi akan bertubuh kurus, tidak sehat dan mengalami penurunan kemampuan otak. Sedangkan anak yang kelebihan makanan akan mengalami kegemukan, sehingga mungkin nanti pada usia 40 -50-an dia akan terkena stroke atau serangan jantung. Pertanyaannya, apakah anak yang obesitas atau kelebihan nutrisi tidak apa-apa otaknya, atau dia tetap pintar?
Bisa (pintar), karena dia mengalami pertumbuhan otak yang baik dalam tiga tahun pertama. Tapi, nanti setelah mulai obesitas akan muncul komplikasi-komplikasi. Komplikasi itu muncul tidak nanti setelah tua, tapi bisa dari awal. Dari penelitian terbaru pada anak 5-9 tahun yang mengalami obesitas, kita melihat muncul gejala-gejala hipertensi dan kolestrol yang tinggi.
Sebagai panduan praktis untuk semua orang Indonesia, berapa kilo atau berat badan yang dikatakan super obesitas itu?
Kalau untuk orang dewasa kita ada patokan namanya indeks masa tubuh. Berat badan dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat, nanti ada suatu angka. Kalau orang dewasa untuk angka di Asia adalah lebih 25 kg dianggap obesitas, sedangkan 30 kg super obesitas. Kalau untuk Eropa, angka tersebut sudah obesitas. Untuk anak kita tidak bisa memakai patokan itu karena anak usia 4 tahun, 5 tahun dan 8 tahun berbeda. Dia dikatakan obesitas apabila di atas persentase 95 dari grafik indeks masa tubuh.
Berarti jika kurang 95 persen maka anak itu di bawah, betulkah?
Ya. Nanti anak yang super obesitas di atas 97 persen.
Di mana kami bisa mendapatkan grafik semacam itu atau dokter bisa memberikan satu sampel saja. Misalnya, saya waktu umur lima tahun memiliki berat 39 kg, apakah itu obesitas atau tidak?
Pertama, kita lihat dari tinggi tubuh. Kalau sekarang Anda terlihat tidak terlalu tinggi. Saya pikir waktu umur delapan tahun juga tidak terlalu tinggi. Jadi saya pikir 39 kg terlalu berat.
Dalam hal ini orang tua bisa mencari grafik tersebut di www.cdc.gov. Mereka mempunyai grafik di bagian National Center for Health Statistics (NCHS) untuk anak-anak Amerika. Karena itu multi ras jadi bisa dipakai. Kemudian ada satu lagi di website www.who.int yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss.
Apakah itu pun ada penyesuaian faktor etnis atau ras?
Tidak. Jadi justru penelitian World Health of Organization (WHO) yang terakhir dilakukan di lima benua menunjukkan ternyata tidak ada perbedaan ras. Dulu yang digembar-gemborkan selalu ras. Ternyata anak yang tumbuh dengan semua kondisi baik maka ia akan tumbuh sama.
Penyakit bersifat pluralistis dan tidak memandang ras atau agama. Bagaimana kalau jender?
Untuk jender biasanya anak perempuan. Hanya saja kalau anak perempuan ketika mulai remaja maka sudah mulai melihat body, imej dan sebagainya. Jadi bisa mengerem sendiri, sedangkan laki-laki ‘bodo amat’ (tidak perduli).
Apakah masalah urusan anak ini bisa ditangani oleh pemerintah, bukan sangat spesifik orang tua?
Kalau kita berbicara tentang anak yang miskin maka yang penting orang tuanya dulu harus memiliki pekerjaan untuk memberikan makan anaknya. Tidak bisa kita dari kesehatan dengan masuk memberikan makanan untuk keluar dari masalah tapi kemudian balik lagi ke masalah semula. Namun kalau kita berhadapan dengan anak obesitas berarti berhadapan dengan orang tua yang mampu. Itu yang kita sadarkan, tidak perlu pemerintah. Pemerintah mungkin memfasilitasi karena pemerintah mungkin sudah sibuk mengurusi gizi yang kurang. Kita lah yang profesional dan masyarakat yang harus menjelaskan kepada masyarakat seperti melalui kampanye.
Apakah benar sarapan pagi harus banyak?
Sangat baik, karena makan yang sangat bagus adalah pada saat pagi. Dalam hal ini makan berarti perut kita yang mengatakan kenyang, tapi seringkali orang tua mengatakan "Kamu tidak boleh makan lagi." Akhirnya anak akan "mencuri" dengan makan sedikit-sedikit. Itu yang lebih berbahaya. Lebih baik makan satu kali tapi kenyang terus kita melakukan peraturan dengan makan lagi pada siang hari. Di antara waktu makan tersebut yang dia boleh makan adalah makanan yang berkalori rendah atau buah.
Katanya makan yang lebih bagus adalah makan yang sedikit-sedikit seperti orang Bali yang makan sedikit-sedikit tapi enam kali sehari. Jadi semua figurnya seperti penari-penari dan burung yang tidak gemuk. Apakah betul makan yang sedikit-sedikit itu lebih bagus daripada big meal tiga kali sehari?
Tidak. Jadi yang benar adalah kita yang mengatur semua. Saya percaya bahwa dunia ini teratur. Saya selalu mengajarkan kepada ibu-ibu bahwa orang sholat juga ada waktunya. Tidak sesuka-suka dia. Artinya, tubuh kita bekerja juga seperti itu. Kalau kita mengatur tubuh kita untuk makan pada pagi, siang dan malam artinya enzim dikerahkan pada saat itu. Jadi tidak sepanjang hari dia dipaksa bekerja. Sesuatu yang dipaksa bekerja terus akan rusak.
Jadi kalau kita mampu mendengarkan tubuh kita dengan baik maka ada sinyal-sinyal itu, betulkah?
Ada sinyal-sinyal.
Kalau kita diberikan sinyal oleh tubuh kita, lalu apa yang menyebabkan orang itu melawan kepentingan tubuhnya dengan katakanlah makan terlalu banyak. Mengapa manusia dengan kesempurnaan tubuhnya yang diberikan oleh Tuhan tidak mampu memelihara tubuhnya berdasarkan sinyalnya? Mengapa orang sudah makan masih mengambil makanan orang lain?
Saya selalu menggambarkan kalau kita puasa maka kita selalu menyiapkan makanan dengan membeli semua makanan. Tapi sebenarnya saat buka puasa hanya sedikit yang dimakan. Itu bisa terjadi kalau kita makan sewaktu-waktu. Tetapi kalau kita makannya tidak ada waktu, tidak ada ketentuannya, dan lupa maka dalam waktu sepuluh menit akan makan lagi, lima menit lagi makan lagi. Akhirnya menumpuk-menumpuk berkelebihan. Satu lagi, karena sibuk membuat kita menunda makan, sehingga tubuh kita berpikir pada saat itu tidak akan dapat makanan sehingga yang ada diambil. Jadi terbiasa seperti itu. Di saat dia makan yang benar, semua yang ada juga dimakan. Semua jadi bingung. Metabolismenya menjadi hilang sebab itu semua balik lagi ke aturan. Kalau sinyalnya teratur maka jadi cocok dengan tubuhnya. Kalau dia makan di luar waktunya, tubuh mulai bertanya, ada apa ini? Saya kenapa, kok makannya kurang?
Apakah stress mengakibatkan orang akan makan banyak atau sebaliknya?
Bisa dua-duanya. Tergantung dari orangnya. Jadi ada yang namanya fase psikologis menghilangkan stres dengan makan, seperti bayi selalu mencari air susu ibunya. Ada banyak bayi yang sebenarnya tidak lapar, dia cuma senang saja ‘ngempeng’ kepada ibunya dan akhirnya makin kurus.
Kalau saya melihat di New York, Amerika Serikat, orangnya gemuk-gemuk karena semua makan makanan cepat saji. Apakah masalah obesitas di Indonesia sudah sangat urgent, atau biarkan saja toh mereka orang kaya? Apakah sebagai suatu kampanye untuk malnutrisi kepada masyarakat masalah over weight sama seriusnya dengan under weight?
Dari penelitian Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru tahun 2007 dimana Balita yang gizi kurang dan gizi buruk ada sekitar 12% di seluruh Indonesia. Sedangkan anak yang gizinya lebih ada sekitar 13%. Jadi itu perbandingannya untuk di seluruh Indonesia. Saya melakukan penelitian di kota besar Jakarta mengenai anak yang gizi lebih. Dalam hal ini gizi lebih ada dua, yaitu overweight dan obesitas. Kalau obesitas itu sudah sakit. Obesitas ada sekitar 13%, sedangkan overweight ada 60%. Artinya, di kota-kota besar seperti Jakarta menunjukkan dari setiap tiga anak ada dua yang mengalami gizi lebih yaitu satu overweight dan satu obesitas. Itu perbandingannya.
Apakah penelitian di Jakarta tersebut lepas dari strata sosial?
Ya. Kalau melihat penelitian saya juga pada tahun 2007 menunjukkan anak umur 10 - 15 tahun di seluruh DKI ada 15% mengalami obesitas.
Dalam penelitian atau pembicaraan Anda dengan masyarakat, apakah masih luas pengertian seperti saya sewaktu kecil bahwa anak semakin gemuk semakin bagus, lucu, dan didaftarkan mengikuti baby contest? Apakah orang yang mengikuti faham itu masih banyak?
Masih sampai sekarang. Justru itu yang menjadi kampanye kita sekarang bahwa anak gemuk belum tentu sehat. Saya bicara dengan ibu-ibu dengan memberikan contoh. Misalnya, usia 10 bulan memiliki berat 10 kg dan ada yang berusia dua tahun memiliki berat 20 kg karena salah makan dan mereka sudah menderita kolestrol tinggi. Juga mungkin saja kalau dia memiliki penyakit keturunan. Kita mempunyai pasien usia 8 tahun sudah stroke. Jadi ini adalah perhatian kita untuk mengatakan kepada ibu-ibu jangan lagi menginginkan anaknya gemuk. Kebanyakan ibu-ibu yang datang kepada saya adalah mereka ingin anaknya gemuk. Katanya, supaya bisa dicubit.
Bagi masyarakat awam yang tidak memiliki akses internet apa ukuran yang harus dipakai untuk menggemukkan anaknya? Apa batas yang dianggap berbahaya?
Jadi yang paling mudah agar ibu-ibu mendeteksi anaknya adalah dengan pergi ke pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang sekarang direvitalisasi dan banyak yang bagus. Di Posyandu ada Kartu Menuju Sehat (KMS), dimana di situ ada grafik berat badan. Jadi ibu-ibu diajarkan setiap bulan pada tanggal lahir anaknya untuk memplot berat badan saat ini berapa. Kalau tidak punya timbangan bisa ke Posyandu.
Misalnya, kalau berat badannya tidak sama di garis naik ke atas maka dia harus pergi ke petugas kesehatan, dan menanyakan mengapa anak saya naik. Demikian juga kalau menurun. Sekarang yang sering diajarkan kalau berat badannya turun atau tidak naik karena yang ditakutkan hanya kalau mengalami under nutrition. Tapi lupa bahwa over nutirition juga sama bahayanya. Jadi yang mudah adalah setiap ibu memiliki KMS untuk anaknya. Kalau memiliki timbangan di rumah bisa melakukannya sendiri. Kalau tidak memiliki timbangan maka pergi ke Posyandu untuk dilihat karena dengan sejak dini kita tahu maka itu tidak akan terjadi, dan cepat ke petugas kesehatan. Jadi tinggal diubah saja.
Apakah ada korelasi antara ekonomi orang tua dengan malnutrition?
Jelas ada. Dalam penelitian di Jakarta yang sudah dijelaskan tadi ternyata risiko anak menjadi gemuk karena orang tuanya kaya, sekolah di sekolah swasta, ayahnya berpenghasilan tinggi. Jadi anak yang high education malah anaknya gemuk.




