Marina S. Kusumawardhani
Tujuh Minggu di India dan Thailand
Edisi 748 | 26 Jul 2010 | Cetak Artikel Ini
Salam Perspektif Baru,
Tamu kita seorang yang sangat positif dan cerah. Saya bertemu dia saat sedang mengambil bagasi, rebutan koper di bandar udara (bandara). Sebuah situasi yang tidak mengundang senyum tapi begitu melihat Marina senyum tenang, saya menjadi tersenyum. Dari pertemuan di baggage claim di bandara, saya berkenalan dengan Marina yang ternyata sedang menulis buku dan kini sudah diluncurkan. Bukunya mengenai sebuah perjalanan mencari makna hidup.
Marina telah pergi ke puluhan kota di dunia untuk bertualang dan mencari pengalaman spiritual. Dia berpandangan semua orang memiliki spiritual outlook. Contohnya mengenai keindahan. Semua orang tertarik pada keindahan, dan ketertarikan kepada keindahan sebetulnya menunjukkan semua orang juga memiliki spiritual in a sense.
Menurut Marina perjalanan mencari pengalaman spiritual bukan berarti berguru atau meditasi, tapi lebih kepada berbicara dengan orang-orang yang ditemui di sana. Berbicara dengan sopir taksi, sesama traveller untuk berbicara soal kebijaksanaan hidup. Jadi makna sebetulnya adalah tidak usah jalan ke mana-mana untuk mencari surga di bumi karena sebetulnya makna ada di kita sendiri.
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Marina S. Kusumawardhani.
Apa nama buku yang Anda tulis dan mengenai apa?
Judul bukunya "Jingga", mengenai "Perjalanan ke India dan Thailand Mencari Surga di Bumi". Sebenarnya dari judulnya dapat ditebak buku tersebut mengenai perjalanan, tapi mungkin genre-nya lebih ke perjalanan spiritual karena memang tujuannya ke India dan Thailand. Jadi lebih ke perjalanan mencari makna atau jati diri.
Ini menarik sekali karena buku travel selalu menarik. Saya mengatakan ini bukan barang baru karena sejak zaman Yunani yaitu Homer menulis Iliad and Odyssey yang menjadi film Helen of Troy, kemudian Alexander the Great. Untuk Marina travel digabung dengan mencari makna. Apakah memang sejak awal setiap travel mencari makna atau mulai dengan menjadi turis biasa?
Sepertinya berbeda-beda. Misalnya untuk ke India dan Thailand, jika kita bertemu dengan turis atau backpacker (seseorang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat hanya membawa tas punggung berisi pakaian dan perlengkapan lain secukupnya-red) dari Barat yang pergi ke India sebenarnya kebanyakan dari mereka sudah atau memang ingin mencari makna dari awalnya. Seperti kita sudah ketahui di novel Eat Pray Love oleh Elizabeth Gilbert, mereka pergi ke negeri-negeri di Timur memang untuk mencari makna.
Tapi kalau kasus saya pergi ke India lebih untuk ingin tahu saja di sana ada apa dan waktu itu saya berumur 19 tahun, sedangkan sekarang 26 tahun.
Anda seorang perempuan muda dan juga lulusan Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dimana saya kebetulan pernah mengajar. Kemudian Anda melanjutkan studi ke jenjang strata dua (S2) di Australia dan perjalanan Anda dilakukan di sela-sela waktu studi di ITB. Jadi ini sangat menarik. Semua orang ingin melakukan perjalanan tapi sangat sedikit yang bisa, kalau tidak diundang atau dibiayai. Bagaimana Anda bisa punya resources untuk bisa travel sejak di ITB?
Ya bisa dikatakan itu adalah sebuah perjuangan karena waktu itu saya traveling dengan biaya sendiri, tidak mau minta ke orang tua dan sebagainya. Mungkin perjuangan untuk perjalanan itu tes juga bagi kemandirian saya. Waktu itu sampai menabung sekitar dua tahun untuk pergi ke India. Jadi intinya menabung.
Kemana perjalanan pertama Anda ke luar negeri?
Ke luar negeri pertama adalah home staying di Inggris tapi kalau itu dari orang tua karena untuk pendidikan dan itu bukan traveling. Travel pertama yang memakai uang sendiri adalah ke India.
Apakah saat Anda travel atas prakarsa dan biaya sendiri, yaitu ke India dan Thailand sudah dengan suatu tujuan untuk mencari pengalaman spiritual, jadi sewaktu di rumah sudah punya spiritual outlook?
Saya pikir semua orang punya itu. Contohnya mengenai keindahan. Semua orang tertarik pada keindahan, dan ketertarikan kepada keindahan sebetulnya menunjukkan semua orang juga memiliki spiritual in a sense.
Kalau begitu sebetulnya tidak usah ke India, ke Ciwidey juga bisa?
Betul. Kenapa India? Di sana lebih kuat mengekspresikannya. Di buku saya, saya terinspirasi oleh band "Khula Shaker" yang terkenal dengan Govinda Jaya-Jaya. Mereka seperti band Inggris dulu, The Beatles.
Orang bisa baca secara tidak sengaja, begitu baca halaman pertama mengalir ke halaman berikutnya. Seperti sungai, kalau kita kecemplung akan terbawa arus terus. Saya bisa bicara begitu karena bagi saya menulis buku itu sulit. Ia bisa menulis satu buku. Ada tiga hal yang saya lihat pada Marina, yaitu travel, pengalaman spiritual, menulis. Tambah lagi teknik industri. Di mana Anda menemukan semua itu, dan bagaimana Anda mengalami proses hidup ini dengan luas?
Menurut saya, kalau mau menulis, kita harus tahu temanya dulu. Apa yang ingin benar-benar disampaikan. Dengan tema perjalanan spiritual itu juga sebetulnya itu sesuatu yang normal saja.
Apakah perjalanan spiritual itu artinya di sana berguru atau meditasi?
Lebih berbicara dengan orang-orang yang ditemui di sana. Berbicara dengan sopir taksi, sesama traveller. Kita berbicara soal kebijaksanaan hidup.
Saya dengar dari teman saya yang ke India. Dia datang ke satu tempat bersama beratus orang lainnya. Di sana ada orang berjenggot memberikan ceramah, hipnotis, dan lain-lain. Apakah yang Anda lakukan tidak seperti itu?
Oh tidak, tidak. Saya sempat bertemu dengan His Holiness Dalai Lama dalam konteks bukan untuk berguru, tapi hanya untuk mengobrol dan berfoto saja. Saya adalah seorang mahasiswi teknik industri, dan sewaktu buku itu ditulis saya berusia 19 tahun. Saya nobody untuk hal spiritualitas.
Apakah Anda pernah berdakwah di Bandung?
Tidak pernah. Seperti tadi saya katakan, pertanyaan mendasar adalah seperti apa sebetulnya makna ada di sini. Dalam hal ini saya yakin bukan hanya masuk ke industri saja untuk bisa menghasilkan uang, dan sebagainya. Itu juga soal perpisahan, konflik antar golongan, agama, ras. Jadi itu alasan yang mendasari saya dalam buku ini.
Apakah Marina sudah mendapatkan komentar dari orang-orang sebagai umpan balik sejak buku ini diluncurkan?
Paling negatif adalah ini buku perjalanan karena setengah bukunya berisi perjalanan yang lebih ke perjalanan batin. Itu juga sebetulnya maksud buku ini. Selain mencari surga di bumi, maksud buku ini adalah bagaimana kita mengunjungi itu sekarang di manapun juga. Tadinya mereka membayangkan di buku ini ada pemandangan-pemandangan yang indah tapi kok lebih kepada buku filsafat. Makna sebetulnya adalah tidak usah jalan ke mana-mana untuk mencari surga di bumi.
Apa tidak merasa bahaya travel sendirian di India? Apa tidak menimbulkan persoalan untuk wanita yang halus seperti Anda dan bisa menarik perhatian macam-macam orang untuk travel sendirian?
Awalnya ada rasa nervous dan takut. Kota pertama yang dikunjungi adalah Delhi, Kashmir, lalu Ladakh yaitu tempat pengungsian orang Tibet termasuk Dalai Lama. Di sana sempat ada kerusuhan juga.
Bagaimana Marina memilih tempat yang relatif susah dan tidak mudah transportasinya?
Itu kebetulan sekali. Saya bertemu dengan sopir taksi, dia mau mempertemukan saya dengan teman dia, lalu dia mau pulang kampung naik mobil sedan. Jadi ikut saja saat ditawarkannya.
Anda punya banyak akal. Apakah dia orang Kashmir?
Ya, dia orang Kashmir bekerja di Delhi. India memiliki alam yang bagus sekali. Namun ada beberapa kota yang seperti di film Slumdog Millionare dan itu memang benar.
Kalau Marina punya grant untuk travel dua minggu untuk kemana saja, apakah memilih pergi ke Thailand, India atau negara lain?
Back to India. Tertarik sih melihat negara lain, tapi India is the best untuk backpacking.
Apa yang memudahkan backpacking?
Sebetulnya kalau saya pergi ke India merasa seperti ke negara lain, beda sekali. Sebelum buku ini saya pernah ke Eropa selama enam bulan hanya dengan US$ 1.000. Saya ke Eropa dengan backpacking juga. Dari ke 45 kota di Eropa, bagi saya tetap India is the best untuk backpacking.
Apakah buku keliling Eropa hanya dengan 1000 dolar masih ada di toko buku?
Masih Ada.
Marina melakukan apa yang saya ingin lakukan, follow your heart tidak melihat resources. Apakah Anda tidak home sick ?
Di India selama tujuh minggu dan Thailand tujuh minggu, tidak ada handphone, blackberry, dan lain-lain hanya internet saja.
Patut di contoh, tidak merasa harus connected. Apakah mudah di India mencari internet?
Tidak mudah. Internetnya juga waktu itu masih lambat sekali, tidak secanggih seperti sekarang.
Bagaimana dengan kesehatan, apa yang harus diwaspadai kalau mau travel sendirian?
Tergantung negaranya. Kalau mau ke India, banyak sekali orang yang ke sana dan mengalami diare. Terjadi juga pada saya. Saya diare hanya karena minum air putih dari restoran. Di India harus higienis, jangan minum air di restoran. Kalau di Eropa minum air dari kran saja aman.
Berapa Anda membawa uang ke India?
Sewaktu ke India saya hanya membawa uang US$ 300, dan hanya menghabiskan US$ 200-an untuk seluruh perjalanan. Itu karena biaya hidup di sana murah. Jumlah biaya tersebut sudah termasuk tinggal di hotel dan makan juga. Contohnya, sewaktu naik bis dari Kashmir ke Ladakh hanya menghabiskan Rp 60.000 kalau nilai uangnya kita konversikan. Memang surga di bumi di sana. Jadi itulah backpacker, the power of kepepet (terdesak-red).




