Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Asmiati Rasyid

ICT Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Edisi 745 | 04 Jul 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita akan bicara mengenai telekomunikasi dan peran pemerintah dalam mengembangkan pasarnya. Kami sangat beruntung menerima tamu yang sudah mempraktekkan ini, Asmiati Rasyid yang baru pulang dari Perancis setelah menyelesaikan Doktor dengan studi mengenai kerangka regulasi untuk mendorong industri Information, Communication, and Technology (ICT) sebagai mesin pertumbuhan di negara berkembang.

Menurut Asmiati, industri ICT bisa menjadi suatu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Itu karena kemampuan kreativitas dan inovasi anak-anak kita sudah terbukti dan tidak kalah pintar dengan orang-orang di Amerika, Eropa, maupun China. Cuma pemerintah belum mampu melihat itu. Padahal hanya dengan satu komputer dan kreativitasnya, mereka bisa menghasilkan produk-produk IT hebat yang bisa dijadikan uang.

Asmiati mengatakan guna mendorong industri ICT lebih besar maka harus ada langkah-langkah untuk memperbesarnya. Dari situ baru pemerintah harus melihat darimana untuk bisa mencapai investasinya. Karena itu perlu peran penting pemerintah untuk membuat suatu aturan investasi asing, dan mengatur kompetisinya agar industri ICT berkembang. Misalnya di China, semua operator yang mau investasi untuk jaringan, misalnya US$ 100 juta, maka 5% dari jumlah tersebut harus dialokasikan ke riset dan pengembangan (R&D) dan itu harus benar-benar di China dan masuk ke universitas-universitas mereka.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Asmiati Rasyid

Kita mulai dengan yang sederhana yaitu apa yang disebut dengan industri Information, Communication, and Technology (ICT) itu?

Secara prinsip, kalau kita berbicara ICT, industri telekomunikasinya sendiri biasanya untuk di negara-negara seperti kita intinya yaitu bisnis telekomunikasi plus industri-industri teknologi informasi (information technology-IT). Pemain di telekomunikasi adalah para operator telekomunikasi, vendor telekomunikasi dan provider konten yang sebenarnya termasuk di dalam industri ICT. Juga termasuk di dalam industri ICT yaitu industri IT di perbankan dan pemerintahan, yang sifatnya adalah aplikasi. Itu semua menyangkut perangkat-perangkat IT di dalamnya. Yang perlu dilihat secara jelas adalah industri ICT sebenarnya besar sekali elemennya. Jadi bukan hanya telekomunikasi dan IT tapi termasuk juga komputerisasi di dalamnya.

Sewaktu kita berbincang-bincang sebelum wawancara ini, Anda mengatakan ini industri yang harus dikembangkan. Saya jadi ingat bahwa barangkali 10 tahun lalu pemerintah melihat bahwa yang perlu dikembangkan adalah industri kapal terbang dan kita mengembangkan pabrik kapal terbang. Apakah maksud Anda adalah kita harus membuat pabrik teknologinya seperti pabrik alat komunikasi, communication tower dan sebagainya?

Berdasarkan studi banding yang saya lihat, kalau memang benar pemerintah kita mampu melihat peran industri ICT sebagai suatu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, maka seharusnya sudah lama kita melihat kemampuan itu. Itu karena sebenarnya industri ICT sangat bergantung kepada kemampuan intelektual bangsa kita. Anak-anak muda kita hebat-hebat semua. Kemampuan kreativitas dan inovasi mereka sudah terbukti. Anak-anak kita, bangsa kita tidak kalah pintar dengan orang-orang di Amerika, Eropa, maupun China. Cuma pemerintah belum mampu melihat itu. Padahal hanya dengan satu komputer dan kreativitasnya, mereka bisa menghasilkan produk-produk IT hebat yang bisa dijadikan uang.

Bagaimana kita menghindari jebakan ‘kapal terbang’ era Suharto, saat itu kita habiskan milyaran dolar untuk memproduksi kapal terbang, tapi sekarang menjadi industri panci? Apakah di dalam industri komunikasi juga ada bahaya demikian?

Kita harus melihat sebenarnya industri ICT secara garis besar terdiri dari industri hardware dan software. Dengan perkembangan teknologi sekarang maka yang berperan penting adalah pengembangan software. Jadi peran software itu sampai 70% bisa dalam bentuk jaringannya maupun aplikasi untuk pengembangan konten. Jadi akan berbeda sekali dengan industri pesawat tadi. Kalau software sangat tergantung otak.

Jadi tidak penting kita membuat handphone dan tower sendiri, betulkah?

Penting, ada bagian yang bisa kita ambil. Yang saya tekankan di sini bahwa infrastruktur teknologi kita tertinggal jauh, sehingga kita tidak akan bisa mengejar, bahkan pesimis untuk mengejar industri-industri yang sudah mapan, baik di Amerika, Eropa, maupun China. Artinya, kita tidak mungkin mengejar karena kita tidak memiliki penelitian dan pengembangan (research and development - R&D). Itu akan sulit sekali karena R&D untuk pengembangan teknologi membutuhkan investasi yang besar dan keseriusan waktu.

India sudah melihat terlebih dahulu. Dia mulai dari pengembangan software, sehingga sekarang dia melakukan semua outsourcing untuk pengembangan software. Misalnya, untuk pengembangan semua produk software ada di India.

Saya dengar Yahoo! dan Google untuk desainer dan programernya semua berasal dari India. Bahkan kalau kita telepon ke Citibank maka yang menjawab calling service adalah orang India.

Iya, dan sekarang Filipina juga sudah jauh lebih hebat dari kita. Jadi kalau saya lihat sekarang strategi India dan Filipina adalah mengambil software. Artinya, dia fokus di situ. Kalau China fokus di manufacturing.

Itu barangkali karena Filipina dan India pintar bahasa Inggris, sedangkan China tidak pintar. Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia juga banyak yang hebat bahasa Inggris. Kita saja yang tidak mampu melihat kemampuan kita.

Thank God, kita mempunyai orang yang ahli bahasa Inggris. Kemudian apa manfaat ICT bagi rakyat? Ini saya bertanya atas nama orang yang pro kerakyatan dan anti neolib. Ini kedengarannya neolib karena memakai investasi asing sedangkan rakyat perlu beras?

Manfaat ICT besar sekali. Saya sangat sensitif juga kalau sering mendengar suara dari Barat selalu menggaungkan ICT bahwa ini bermanfaat seperti untuk tele-education dan agriculture. Saya tidak menolak itu. Tapi, saya pikir untuk memberikan nilai tambah untuk bangsa kita, misalnya untuk petani, agar medapatkan manfaat ICT bukan sekadar seperti itu. Pemerintah harus melihat apakah petani kita nyambung atau tidak memakai ICT.

Apakah itu maksudnya di pedesaan atau kampung-kampung ada yang menggunakan teknologi komunikasi modern itu?

Pastinya. Minimal mereka membutuhkan telepon. Jangankan mereka, para tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk berkomunikasi saja minimal membutuhkan telepon. Jadi sekarang kebutuhan itu sangat mendasar. Pemerintah harus membantu mendorong agar masyarakat kita tersentuh dengan teknologi komunikasi itu.

Semakin masyarakat masuk dalam network informasi, maka di situlah industri mulai berguling. Yang saya tekankan di sini pemerintah tidak melihat hal itu. Kita jangan hanya sebagai pengguna, tapi berusaha agar industri ini tumbuh. Demand market yang besar itu harus bisa dilihat oleh pemerintah. Artinya perangkat-perangkat teknologi itu masuk ke negara kita seperti dari China dalam jumlah sangat besar baik dari infrastruktur maupun terminalnya. Kalau saya mengatakan perangkat handphone itu terminalnya, dan jangan kita menganggap itu kecil.

Bagaimana dari segi angka?

Berdasarkan data yang saya baca dari The Jakarta Post (16 Juni 2010), jumlah kebutuhan handphone di Indonesia adalah 34 juta. Dibandingkan dengan tahun 2005 sampai sekarang, maka dalam jangka lima tahun kebutuhan terhadap handphone telah mencapai lima kali lipat. Terbayangkan, bagaimana kebutuhan masyarakat kita akan teknologi itu. Memiliki suatu handphone merupakan kebahagiaan tersendiri.

Jadi itu bukan suatu kemewahan yang konsumtif, betulkah?

Tergantung. Saya melihat Bang Wimar benar dalam hal ini. Misalnya Blackberry, di Perancis yang memiliki Blackberry tidak terlalu banyak sampai sekarang. Sementara di Indonesia, kemana-mana kita melihat ada orang yang membawa Blackberry. Semua orang ingin memiliki itu. Ada teknologi baru, semua ingin mengganti dengan teknologi baru. Jadi gaya.

Berikutnya sangat menarik sebab saya baru membaca newsletter Yahoo. Katanya, pertumbuhan internet di Indonesia cepat sekali. Beberapa tahun lalu kita ada 1 - 3 juta pemakai internet, sekarang sudah mencapai 40 juta orang. Pemakaian social networking seperti facebook dari nomor tiga di dunia sekarang menjadi nomor dua. Koprol, social media lokal Indonesia, misalnya sudah dibeli Yahoo dan itu dianggap sebagai peristiwa teknologi terbesar tahun ini karena melambangkan revolusi internet di Asia. Terkait Anda telah melakukan studi perbandingan, bagaimana kedudukan Indonesia dibandingkan negara Asia lainnya?

Berdasarkan studi yang saya lakukan, sebenarnya sekarang Indonesia masih jauh tertinggal. Artinya, kita jangan cepat merasa puas bahwa kita sudah mencapai seperti saat ini, tapi lihat juga negara lain. Jadi perasaan cepat merasa puas itu yang saya kurang suka dengan bangsa kita. Misalnya, kita bandingkan India dengan kita. Pada 2007 - 2008 Industri ICT di India sudah bisa mencapai US$ 36 juta. Sedangkan kita cukup senang hanya mencapai US$ 5 juta. Menurut saya, "Loh kenapa kita hanya segini?" Seharusnya pemerintah mampu melihat potensi ini. Saya pernah mengusulkan ke pemerintah agar kita mengejar target lima tahun ke depan sehingga pendapatan dari ICT tiga kali lipat lebih besar. Misalnya, jika revenue dari industri harus sekian, maka kita harus menarik Foreign Direct Investment (FDI) sekian. Target-target itu seharusnya jangan dibuat kecil. Bagaimana industri ini bisa memberi benefit besar atau mendorong ekonomi bangsa kita. Kalau jumlah revenue pasarnya hanya seperti tadi, maka uang yang dihasilkan dari industri itu rendah.

Kalau sekarang revenue dari semua operator telekomunikasi sekitar Rp 70 juta triliun. Itu baru revenue dari operator, belum dari perangkat jualan handphone dan lainnya lagi. Tapi apakah cukup segitu, apakah kita happy segitu? Jadi untuk mendorong itu lebih besar lagi maka harus ada langkah-langkah untuk memperbesarnya. Jadi kemampuan sektor itu meningkatkan revenue dan menghasilkan uang harus lebih besar. Dari situ baru pemerintah harus melihat darimana untuk bisa mencapai investasinya. Nah kalau kita harus terpaku dari asing, maka bagaimana kebijakan investasi asing diatur sedemikian rupa. Selain itu, pemberdayaan sumber-sumber lokal kita baik manusia maupun produknya terutama untuk software memegang peranan penting. Jadi jangan semua dipegang asing. Karena itu perlu peran penting pemerintah untuk membuat suatu aturan investasi asing, dan mengatur kompetisi itu.

Kalau kita bicara pemerintah maka kita juga melihat bahwa di situlah kegunaan pemerintah untuk berperan terutama dalam mendorong masuk investasi yang bisa diperoleh barangkali dari pinjaman luar negeri atau FDI. Nah, Dua-duanya secara politis sangat sensitif. Apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi itu?

Saya ambil contoh China, sampai sekarang untuk membangun jaringan di China selalu vendor dari luar negeri yang datang. Itu sudah dilakukan dari 20 tahun yang lalu. Begitu mereka membuat peraturan, maka setiap orang yang mau mengembangkan jaringan di China diharuskan membangun industri di sana. Jadi dia tidak boleh hanya impor barang–barang, tapi harus membangun pabrik di sana. Itu kalau dari sisi vendor. Kemudian operator, kalau operator mau investasi untuk jaringan, misalnya US$ 100 juta, maka 5% dari jumlah tersebut harus dialokasikan ke riset dan pengembangan (R&D) dan itu harus benar-benar di China dan masuk ke universitas-universitas mereka.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...