Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Immas Sunarya

TVRI dalam Peran Baru

Edisi 739 | 24 Mei 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Siaran televisi (TV) yang mencapai seluruh negara sejak 1962 dan pertama di Indonesia adalah TVRI. Saat ini Direktur Utama TVRI Immas Sunarya menjadi tamu di acara ini. Dia masuk TVRI pada 1982 dan berpendidikan S1 Komunikasi Universitas Padjajaran kemudian melanjutkan S2 di bidang marketing.

Immas Sunarya mengatakan TVRI ada pada porsi untuk penyeimbang komunikasi bagi masyarakat, khususnya melalui televisi. Itu karena saat ini TV sangat berdampak bagi masyarakat untuk mengubah perilaku dan juga pendapat, sehingga kadang-kadang masyarakat menjadi permisif terhadap sesuatu hal yang sangat melanggar nilai dan norma.

Menurut Immas pemerintah tidak ikut campur terhadap konten TVRI. Kita juga tidak boleh alergi terhadap pemerintah. Sekarang kita sudah menjadi negara demokrasi, pemerintah dipilih oleh lebih dari 60% rakyat Indonesia. Saya pikir itu legitimasi yang sangat kuat. Mereka juga harus mempunyai porsi untuk memberikan informasi, dan masyarakat juga mempunyai hak untuk mengetahui sampai seberapa jauh apa yang dilakukan pemerintah yang notebene sudah dipilih. Disamping tentu saja kami tetap memberikan kritik sosial yang membangun.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Immas Sunarya.

Immas sudah mulai bekerja di TVRI sejak awal karier. Mulai dari reporter, pewawancara, produser, hingga semua level. Karier seperti ini menyenangkan sehingga ketika menjadi direktur utama sudah mengetahui semuanya. Apa yang paling menyenangkan Anda diantara sekian tugas itu?


Tentu saja reporter. Sampai sekarang reporter adalah profesi saya yang tidak akan hilang. Dari profesi tersebutlah saya selalu mengamati apa yang terjadi dan harus disiarkan di TVRI karena kami harus melayani seluruh masyarakat Indonesia khususnya.

Saya mau kilas balik sedikit supaya pembicaraan ini ada dagingnya. Sewaktu menjadi reporter, apa berita yang paling Anda ingat dan kapan zaman itu?

Sejak 1982 saya sudah menjadi reporter yang meliput ke pedesaan maupun manca negara. Pada 1983 saya sudah ditugasi menjadi reporter istana. Pada saat itu sangat bergengsi jika kita bertugas di Istana Kepresidenan, sehingga saya banyak sekali mengikuti perjalanan kenegaraan. Hampir 30 negara saya ikut perjalanan kenegaraan untuk meliput. Ini sangat menyenangkan karena saya bisa mengabarkan kegiatan Kepala Negara di luar negeri ke seluruh tanah air. Pada waktu itu saya berkutat agar kita harus betul-betul bisa melakukan siaran langsung dari penjuru dunia manapun, tentunya dengan menyewa satelit. Banyak juga pengalaman – pengalaman dalam negeri sampai ke pedesaan, sehingga pengalaman liputan di pedesaan tersebut menjadi sebuah modal bagi saya pribadi khususnya dan sebuah kepuasan tersendiri. Ini menjadi bekal saya untuk mengelola TVRI yang begini luas.

Sejarah Indonesia bisa ditelusuri lewat sejarah TVRI baik dari teknologinya maupun komunikasi. Saya ingat sewaktu TVRI mulai siaran pada 1962 saat Asian Games ke-4, saat itu TVRI siaran dari pukul 16.00 hingga 21.00. Pada sore hari menyiarkan pertandingan olah raga dengan kamera seadanya. Pada malam hari musik seperti artis Ireng, Suzana, Diah Iskandar dan lain-lain. Sekarang tentu siarannya sudah lebih dari empat jam sehari di satu stasiun Jakarta dan sudah menjadi suatu jaringan stasiun TV (network). Berapa jumlah stasiun TVRI sekarang?

Bersyukur sekali kami mempunyai satuan armada yang sangat besar. Kita mempunyai 27 stasiun di ibukota provinsi. Jadi tinggal lima provinsi saja yang belum ada. Siaran dipancarluaskan oleh 376 satuan pemancar. Kami bersiaran sehari selama 21 jam untuk siaran nasional. Kemudian ditambah siaran lokal, sehingga TVRI siaran setiap hari selama 138 jam per hari.

Berapa jumlah pegawai TVRI seluruhnya sekarang?

Pegawai TVRI ada 5.813, sampai ke gunung-gunung.

Di mana stasiun yang besar selain Jakarta?

Kota-kota besar terutama di ibukota provinsi seperti Surabaya, Bandung, Denpasar, Yogyakarta.

Apakah siarannya relay dari pusat atau berapa persen yang merupakan konten lokal?

Mereka diwajibkan relay dari pagi sampai selesai siaran, tapi di tengah-tengah acara yaitu pukul 15.00 – 19.00 mereka menyiarkan konten lokal. Itulah yang kami relay secara keseluruhan. Kemudian ada beberapa stasiun yang tidak bisa dicover oleh lokal jadi mereka bisa bersiaran nasional. Jadi 27 stasiun di provinsi melakukan siaran lokal antara 4 – 5 jam siaran.

Lalu, bagaimana struktur acara TVRI saat ini?

TVRI siaran sejak pagi hari, pukul 04.30, mulai dengan program siraman rohani setiap harinya. Setelah itu kami menyiarkan berita satu jam. Kami sambung dengan acara pedesaan. Itu semua acara yang benar-benar kepublikan karena TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik. Pada malam hari ada berita pada pukul 19.00, yang direlay oleh stasiun daerah. Ada juga acara hiburan serta acara–acara dialog unggulan, dimana Pak Wimar sering menjadi narasumber TVRI seperti Bincang Malam, Minggu Malam bersama Slamet Rahardjo. Kemudian ada juga musik –musik yang memang milik Indonesia, seperti keroncong, musik Melayu, serta kesenian tradisional dari berbagai daerah yang merupakan produksi stasiun daerah dan TVRI. Kami menyiarkan itu secara terus menerus. Jadi konten kami lebih banyak konten kepublikan, kami mengangkat betul-betul kearifan lokal. Acara kami diukur oleh norma dan nilai jadi kami tidak ikut-ikutan untuk mendapatkan rating tinggi, tidak ikut-ikutan mengangkat masalah-masalah yang sensasional. Berita di TVRI juga betul-betul berita fakta yang murni sehingga masyarakat betul-betul mendapatkan siaran berita apa adanya. Termasuk untuk acara dialog, seperti Pak Wimar beberapa kali menjadi salah satu narasumber, kami tidak mengangkat yang kontraversial.

Itu karena saya senang diundang ke TVRI karena kalau tempat lain saya kurang sensasional barangkali. Namun untuk TVRI kita bisa bicara tenang-tenang. Apakah TVRI tergantung dari iklan atau anggaran pemerintah?

Saya senang sekali pertanyaan ini karena ini mengetuk stakeholders dan pemerintah. Sesuai undang-undang (UU), TVRI mendapatkan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kemudian kerjasama iuran masyarakat dan juga usaha-usaha lain yang sah. Memang TVRI tidak ditujukan untuk komersial (non profit). Sekitar 71% anggaran TVRI berasal dari APBN. Anggarannya sangat kekurangan, tapi bagi kami tidak serta merta meluluhkan untuk berjuang karena tugas kami memberikan layanan kepada masyarakat. Kami independen, netral, dan tidak komersial meskipun kami diperbolehkan untuk menerima iklan.

Sekarang pemasangan iklan di suatu acara rata-rata diukur berdasarkan hasil riset AGB Nielsen dimana acara yang sensasional menarik para agency. Acara-acara di TVRI mengandung nilai kepublikan, kurang laku untuk dijual. Kami banyak bekerjasama dengan beberapa kementerian untuk menyebarluaskan informasi. Kami memang bukan corong pemerintah tetapi kami media negara.

Soal corong pemerintah tadi tentu itu di zaman Orde Baru secara resmi TVRI dan RRI adalah bagian dari Departemen Penerangan bahkan satu direktorat. Kapan hal itu berubah?

Sejak Departemen Penerangan bubar sekitar tahun 1999, sejak itu TVRI terlepas. Dulu menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Departemen Penerangan. Kemudian pada tahun 2000 ada Peraturan Pemerintah (PP) No. 36 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan TVRI. Jadi status TVRI berubah dari UPT menjadi Perusahaan Jawatan. Menjadi sebuah Perusahaan Jawatan pada saat itu agak berat juga karena personil yang masih birokrasi, dan culture dari para pegawai. Belum juga jawatan ini sehat, sudah berubah lagi menjadi PT. Persero pada tahun 2002. Saat itu UU penyiaran sudah diluncurkan pada Desember, kami berubah lagi di bulan April. Pada saat itu belum sehat karena karena di tahun 2002 hutang kita masih tinggi dan tidak ada anggaran. Setelah Departemen Penerangan bubar, TVRI praktis tidak punya anggaran untuk operasional, kami hanya diberikan anggaran untuk gaji pegawai. Apalagi pada saat menjadi PT, muncul pandangan mengapa pemerintah harus memberikan anggaran operasional, kami harus berusaha sendiri. Pada saat itulah kami agak terpuruk. Tidak ada lagi maintenance, tidak ada lagi peralatan, sementara teknologi maju pesat. TVRI ketinggalan dalam hal teknologi sehingga pada saat itu persepsi TVRI tidak bagus di masyarakat. Sementara TV swasta hadir dengan peralatan yang sangat canggih. Pada tahun 2002 TVRI menjadi PT namun pada tahun 2005 sesuai UU penyiaran, TVRI menjadi lembaga penyiaran publik. Di sinilah setahap demi setahap kami mendapatkan anggaran walaupun belum optimal mendapatkannya.

Banyak yang menyambut TV swasta dengan baik karena membawa hiburan segar dan suara terutama opini yang bukan opini pemerintah. Namun setelah sudah eksis, orang lupa bahwa opini dari pemerintah juga perlu, jangan tidak ada sama sekali. Jadi bisa seperti yang kita lihat sekarang. Sewaktu TVRI berganti dari pemerintah menjadi suatu jawatan tentu kontennya mendadak hilang. Bagaimana transisinya?

Pada saat Departemen Penerangan bubar, TVRI menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan). Kami sebagai insan TVRI sudah punya self control yang sudah sangat melekat bahwa apa-apa yang disiarkan, pertama tentu adalah hal-hal yang menjaga NKRI. Itu sudah harga mati. Yang kedua adalah tentu saja siaran yang tetap bisa memberikan optimisme untuk membangun. Jadi kami kontrol sendiri untuk konten, untuk acara film ada Lembaga Sensor Film (LSF) yang mengontrol.

Untuk pembinaan teknis waktu itu kami di bawah Kementerian BUMN karena kami Perjan. Kalau untuk masalah konten, kami sebagai pengelola TVRI tidak pernah keluar dari jalur jurnalistik, baik jurnalistik yang membangun maupun damai. Karena kami sangat faham betul, di belakang lembaga kami masih ada nama RI yang berarti milik bangsa ini. Seluruh masyarakat Indonesia yang mempunyai KTP adalah juga memiliki TVRI. Itu yang kami jaga.

Masyarakat yang bayar pajak tentunya?

Tentunya, karena kami dibiayai oleh masyarakat.

Anda dengan karir yang begitu lengkap dari awal sampai sekarang di TVRI, apakah itu merefleksikan pegawai lain, ataukah sebagian besar memang dibesarkan di TVRI atau ada yang masuk di tengah-tengah karir?

Rata-rata yang sudah seumur saya dari awal di TVRI. Pemikiran-pemikiran kami rasa-rasanya sama bahwa TVRI harus tetap eksis, dan mengemban amanah untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Setelah kami menjadi LPP juga terbuka peluang kepada pegawai yang bukan berkarir di TVRI. Contohnya, di jajaran direksi terdiri dari pegawai TVRI, juga dari pegawai negeri di luar TVRI. Direktur Keuangan kami dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Bahkan ada yang sudah berkarir di TV swasta sekarang menjadi salah satu direktur yaitu direktur pengembangan usaha. TVRI sangat terbuka. Ada yang berkarir di lembaga elektronik sekarang menjadi direktur teknik. Pada dasarnya kami sangat terbuka.

Apakah tidak ada halangan formal untuk memisahkan kepegawaian TVRI dari masyarakat?

Tidak ada. Kami juga sangat terbuka untuk presenter tamu, kami mengundang mahasiswa dan profesional lainnya yang kami anggap mampu untuk membawakan acara di TVRI. Kami ingin TVRI betul-betul milik masyarakat. Siapapun yang aware terhadap TVRI silakan datang dan bantu. Kami terbuka untuk dikritik sepedas apapun. Karena ini milik publik. Kami selaku jajaran manajemen harus berlapang dada karena memang banyak sekali kekurangan yang kami rasakan di TVRI, sedikit demi sedikit kami coba perbaiki.

Kalau dulu pak Wimar pulang ke Bandung, siaran TVRI masih ber"semut", sekarang tidak lagi karena TVRI sudah membangun transmisi di Bandung 20 KM yaitu di 27 UHF. Bahkan sekarang TVRI menjadi pioneer untuk siaran digital. Kalau konsorsium yang lain sudah off dengan digital, TVRI masih siaran.

Di beberapa kota besar juga kami sudah bersiaran UHF dengan transmisi yang sangat besar. Yogyakarta sudah siaran 30 KM, Semarang siaran 20 KM, Makassar sudah siaran 30 KM. Juga di Ternate, Papua, Bengkulu, dan lain-lain. Yang juga kami banggakan saat ini adalah saudara-saudara kita di perbatasan atau bagian terdepan negara ini sudah dapat menikmati layanan TVRI. Misalnya, di Nunukan kami sudah memperbaiki transmisi baru di 30 lokasi.

Perspektif Baru didengar dan dibaca di seluruh Nusantara. TVRI juga seluruh nusantara, tapi kekuatan Perspektif Baru itu 1/1.000 dari TVRI baik dari segi bandwidth, prasarana, tenaga kerja dan pengalaman. Jadi saya sangat tergiur melihat resource yang ada pada TVRI yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan balance pada dunia komunikasi dan informasi di Indonesia. Itu karena saat ini banyak ketidakpuasan publik pada stasiun televisi yang ada, sehingga ide lembaga penyiaran publik sangat didukung. Namun tidak banyak yang tahu apa yang menjadi inti dari suatu lembaga penyiaran publik. Kalau di luar negeri ada public television, national public radio, dan macam-macam yang rumusnya sudah jelas. Kalau di Indonesia ada lembaga penyiaran publik seperti TVRI, bagaimana kepublikannya bisa diperoleh?

TVRI berdiri berdasarkan UU No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran, dan derivatifnya yaitu PP No.11 dan 13 tahun 2005 bahwa TVRI didirikan sebagai televisi publik, sebuah keniscayaan di negara demokrasi. Berdasarkan UU kami harus tetap netral, independen, dan tidak komersial. Ini yang kami pegang. Kami juga punya tugas mulia yaitu memberikan kecerdasan, pencerahan terhadap masyarakat. Memberikan edukasi, mengawal kepentingan negara, menjaga persatuan dan kesatuan seluruh NKRI. Namun selain itu kami juga tetap harus memberikan kontrol sosial yang membangun.

Saya berterimakasih bahwa memang TVRI ada pada porsi untuk penyeimbang komunikasi bagi masyarakat, khususnya melalui televisi. Itu karena saat ini TV sangat berdampak bagi masyarakat untuk mengubah perilaku dan juga pendapat, sehingga kadang-kadang masyarakat menjadi permisif terhadap sesuatu hal yang sangat melanggar nilai dan norma.

TVRI dalam hal ini mengemban tugas, dan seluruh acara TVRI diukur oleh nilai dan norma, sehingga apapun yang kami siarkan kami cross check, apakah ini sudah sesuai dengan guidance yang kami harus patuhi.

Apakah cross check-nya dari diri sendiri?

Ya, pemerintah tidak ikut campur. Kita juga tidak boleh alergi terhadap pemerintah. Sekarang kita sudah menjadi negara demokrasi, pemerintah dipilih oleh lebih dari 60% rakyat Indonesia. Saya pikir itu legitimasi yang sangat kuat. Mereka juga harus mempunyai porsi untuk memberikan informasi, dan masyarakat juga mempunyai hak untuk mengetahui sampai seberapa jauh apa yang dilakukan pemerintah yang notabene sudah dipilih.

Di sini TVRI mengambil peran untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa pemerintah yang dipilihnya sudah melakukan apa dan bagaimana, termasuk apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah harus kami sosialisasikan kepada masyarakat. Disamping tentu saja kami tetap memberikan kritik sosial yang membangun.

Orang terbiasa mengalami pemerintahan yang kurang baik, maka orang sangat cepat memasang "tameng" terhadap pemerintah. Namun sekarang barangkali bahaya terhadap kebebasan publik bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari kekuatan uang, politik, bisnis yang besar. Apakah TVRI pernah terpengaruh oleh dominasi politik uang dalam media?

Kami sama sekali tidak, walaupun kami faham betul bahwa seluruh kalender event yang terjadi di Indonesia bahkan dunia sekarang sudah masuk ke dalam bisnis. TVRI mengalami keterbatasan anggaran dan juga peralatan yang harus dienskripsi karena selain diterima oleh negara ASEAN, juga di negara ASEAN plus seperti Australia bagian Utara, Papua Nugini, Macau, Hongkong. Jadi untuk masalah pembelian hak siar sangat berpengaruh kepada pertelevisian di dunia ini. TVRI termasuk yang agak sulit masuk dalam calendar of event, seperti Thomas Cup dan Uber Cup. Sebenarnya TVRI sudah membeli sharing kepada Trans 7 yang sudah memiliki hak siar. Namun karena sekarang di dunia sudah diatur dengan segala sesuatu bisnis bahwa siaran-siaran yang sudah dibeli hak siarnya tidak boleh menjadi spilled over ke negara lain.

Jadi pada saat TVRI baru siaran dua partai saja, tapi karena TVRI diterima jernih di Singapura dan Malaysia maka akhirnya diberhentikan. Ini merupakan kesulitan bagi kami, sebuah lembaga negara yang harus melayani masyarakat. Kalau harus di-enskripsi maka kami harus membeli peralatan yang jauh lebih mahal daripada hak siar. Kita sampai ke pedesaan, perbatasan dan negara lain, sehingga kami terpaksa tidak bisa menyiarkannya. Padahal olah raga seperti bulutangkis adalah olahraga kebanggaan Indonesia, yang akan menimbulkan rasa nasionalisme. Kami sulit menerobosnya. Setelah staf kami bicara di forum internasional, ini sekarang sudah menjadi bisnis, ini sudah menjadi handicap buat kami.

Menimbulkan pertanyaan, kalau ada situasi dimana TVRI harus dibantu demi kepentingan publik untuk melawan kepentingan bisnis, siapa yang memperjuangkannya karena tidak ada Departemen Penerangan, dan di pemerintah tidak ada yang ditugaskan untuk menjaga integritas TVRI? Siapa yang membela kepentingan publik yang tertanam di TVRI?

Saya pikir melalui forum-forum seperti ini kami akan terus berjuang bahwa TVRI harus eksis dengan tugas yang mulia ini. Tapi dalam hal ini pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga memberikan bantuan.

Apa hubungannya antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan TVRI?

Menurut PP No.13 Pasal 41, kami ada dua status kepegawaian yaitu pegawai negeri sipil (PNS) dan non PNS. Setelah Departemen Penerangan bubar, PNS menjadi pegawai kantor Kementerian Kominfo yang dipekerjakan di TVRI tetapi tidak mempengaruhi konten.

Apakah misi Kementerian Kominfo beda dengan misi Departemen Penerangan?

Sangat beda. Selama ini Kominfo tidak ikut campur masalah konten. Mereka membantu seperti pembangunan 30 transmisi (infrastruktur) dengan bantuan soft loan dari pemerintah Spanyol. Itu karena TVRI tidak diperkenankan menerima bantuan dari luar negeri secara langsung, jadi harus G to G (government to government). Kami juga terus menerus meminta kepada Kementerian Keuangan untuk mendapatkan alokasi APBN, bekerjasama dengan Pemerintah Daerah/Provinsi untuk mendapatkan alokasi APBD karena sesuai UU diperbolehkan juga.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...