Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Beben S. Mulyana

Jazz adalah Musik Kehidupan

Edisi 735 | 26 Apr 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita dari dunia musik, dan dia akan memberitahu kita bahwa musik adalah kehidupan dan kehidupan adalah musik. Di awal wawancara alunan musik pembuka disajikan oleh Beben S. Mulyana.

Menurut Beben, sejak awal kelahirannya, jazz adalah manisfestasi sebuah sikap kebebasan karena orang kulit hitam di zamannya sama sekali tidak bebas untuk bergaul, bersosialisasi, tapi mereka hanya bisa bebas salah satunya ketika bermusik jazz. Improvisasi dari kebebasan dan dilakukan spontan adalah jazz.

Di Indonesia, ungkap Beben, jazz ada di kalangan tertentu dan biasanya berada di café atau di hotel. Sedangkan di kalangan menengah ke bawah cenderung tidak ada. Sepertinya jazz menjadi musik orang elit dan segala macam. Padahal kita lihat sejarah jazz dari orang kulit hitam bahkan bukan menengah ke bawah lagi tapi dari kalangan tertindas.

Melalui Komunitas Jazz Kemayoran (KJK), misi Beben sangat sederhana, melalui jazz, mengajak orang untuk bersilaturahmi, mengajak orang memahami jazz itu sendiri dengan memberikan edukasi ke semua orang mengenai jazz, musik dan sejarah dibelakangnya dan mensosialisasikan musik jazz karena jazz milik semua, semua status sosial, semua usia.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Beben S. Mulyana.

Wawancara Perspektif Baru pada edisi ini di awali dengan musik Jazz oleh Beben S. Mulyana dengan iringan petikan gitar. Beben membawakan lagu Night and Day dari Cole Porter.

Apa sebetulnya jazz itu?

Pada dasarnya ada dua bagian dari sebuah lagu jazz, yaitu yang kita sebut lagu jazz standard dan original scoring. Jadi pada dasarnya ketika musik jazz lahir, lagu-lagu yang asli jazz pada saat itu masih sedikit. Awal tahun 1900-1940-an musik jazz sudah lahir secara terminologi musik, tapi lagu asli jazz masih sedikit. Jadi akhirnya ada lagu-lagu yang dasarnya pop pada zaman itu dibawakan secara jazz.

Ya, seperti lagu Broadway yang dibawakan saat awal wawancara. Namun musik jazznya tumbuh di luar. Jadi idiom jazz membawakan lagu yang familiar. Apakah Glenn Miller dan Benny Goodman pada waktu itu begitu juga?

Memang lagu yang di awal saya bawakan tadi disebut lagu standard. Lagu yang umum dibawakan orang-orang jazz. Tapi ketika di zamannya, Duke Ellington membuat lagu Satin Doll dan lain-lain. Itu memang original scoring dibuat di zaman itu berupa swing. Swing adalah salah satu genre dari 12 genre lain yang kalau kita bahas dua hari dua malam tidak akan habis. 

Kembali ke pertanyaan mengenai apa itu jazz. Pertanyaan ini dalam sekali. Memang selalu pertanyaan yang simple tentang jazz adalah apa itu jazz. Pertanyaan ini jika dijawab dalam bentuk kuliah bisa mencapai 14 sks. Pada tahap awal, orang yang ingin tahu jazz, definisi jazz adalah bicara soal bagaimana berimprovisasi.

Ada yang lebih penting, karyanya secara nyata yaitu lagu yang dibawakannya dengan gaya jazz. Katanya, lagunya berasal dari luar jazz masih dari Amerika. Ok, sekarang saya mau Beben menjelaskan apakah jazz itu dari Amerika atau Indonesia, dan apa makna jazz yang kita resapi?

Kalau sejak awal kelahirannya, jazz adalah manisfestasi sebuah sikap kebebasan karena orang kulit hitam di zamannya sama sekali tidak bebas untuk bergaul, bersosialisasi, tapi mereka hanya bisa bebas salah satunya ketika bermusik jazz. Ketika bermain musik itu, kebebasannya diwujudkan dalam bentuk sebuah improvisasi dimana ketika mereka bermain tidak harus sama. Salah satu tokoh jazz Mel Davis mengatakan, "Kalau kamu naik panggung dan hanya melakukan hal yang sama maka itu bukan jazz." Meskipun kadang-kadang memang penonton tidak tahu apakah di panggung kita bermain musik jazz secara hafalan atau spontan. Intisari dari jazz yang harus dipahami adalah segala sesuatu yang kita lakukan di panggung adalah spontan. Improvisasi dari kebebasan dan dilakukan spontan adalah jazz.

Susahnya main jazz adalah sebelum kita berbicara tentang apa chordnya, ditangga nada apa, dan yang harus dipahami nantinya jazz adalah wujudnya seperti itu. Jadi wujudnya seperti ketika musik mulai bermain, kalau di jazz ada gantian berimprovisasi ketika lagu mulai seperti ‘Pianist improvise, pemain gitar improvise’. Nah pada saat kita mendapatkan bagian, kita diwajibkan melakukan suatu kebebasan tadi dan dilakukan spontan, seperti mengarang lagu spontan

Panjang lagunya tidak tentu jadinya, betulkah begitu?

Ya betul, kadang-kadang kalau lagi asik bisa saja terus. Misalnya, ada sebuah lagu John Coldtrane berjudul "impression" yang dimainkan dia selama tiga menit dan ada yang dimainkan selama 21 menit.

Kalau dijadikan produksi panggung atau recording maka susah juga merencanakannya?

Memang sulit. Jadi kadang-kadang memang rekamannya ada yang sudah dirancang, tapi di jazz yang seru justru rekaman-rekaman live-nya. Serunya lagi, dalam rekaman itu tiba-tiba penonton yang membawa saxophone ikut jump in (masuk) dan ikut terdengar dalam rekaman itu

Apakah tidak ada standar mutu misalnya improvisasinya malah menbuat lagunya menjadi hambar, apakah ekspresi lebih penting daripada mutu musikalnya?

Tetapi sebenarnya bisa dibohongi juga. Ketika seorang pemain ikut jump in session dengan teman-temannya atau dengan yang lebih tinggi atau sesama mereka, maka jika mereka melakukan suatu improvisasi begitu-begitu saja akan mundur sendiri. Jadi artinya ketika siap melakukan improvisasi, ada standard mutu tertentu yang sudah disiapkan sebenarnya

Terakhir saya ketemu Beben Jazz lima tahun lalu yang juga pertama kali kenal. Saat itu Anda sedang aktif sekali dan belum lama memulai komunitas Jazz Kemayoran, Apa yang terjadi dengan komunitas tersebut karena tampaknya sekarang Beben sudah ada di Serpong dan tempat-tempat lainnya?

Boleh dibilang kita sudah enam tahun dan itu adalah suatu misi yang sederhana. Pertama, lewat jazz kita bersilahturahmi. Kebetulan saya suka jazz, saya cinta jazz, dan melalui komunitas jazz kita dapat teman baru setiap hari, minggu dan bulan. Awalnya, banyak curhat-curhat teman SMA misalnya ketika mereka bicara soal jazz merasa dianggap tua, atau teman kantor kalau masang musik jazz diminta mematikan musik jazz karena dianggap tidak enak dan segala macamnya. Ketika saya membuat suatu komunitas, mereka ketemu teman-teman yang suka musik jazz. Jadi tujuan utamanya adalah untuk misi silahturahmi. Yang kedua, saya sadar kalau jazz itu ada yang langsung bisa diterima dan ada yang tidak. Mungkin swing dan brazilian suatu genre jazz yang ketika dengar bisa langsung enak tapi mungkin ada yang free improvisation: Avant-garde jazz, Bebop jazz (red: gaya bermusik jazz yang ditandai dengan tempo cepat, keahlian dan improvisasi instrumental berdasarkan kombinasi struktur harmonik dan melodi) dan lain-lainya mungkin orang harus paham dulu baru bisa menikmatinya. Ada juga misi edukasi di Komunitas Jazz Kemayoran (KJK). Dimana pun saya berada, saya akan selalu main sambil bicara jazz history karena musik jazz adalah sebuah musik yang alangkah lebih baiknya jika kita tahu sejarahnya.

Tapi sejarah musik jazz di Amerika, misalnya, sangat terkait pada perkembangan masyarakat di sana khususnya hubungan hitam dan putih, serta urbanisasi. Sejauh mana itu relevan terhadap jazz yang Anda fahami dan terapkan di sini?

Di Indonesia, tidak tahu kenapa, khususnya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, saya menemukan jazz ada di kalangan tertentu. Kalau jazz itu adanya di café atau di hotel. Sedangkan di kalangan menengah ke bawah cenderung tidak ada. Sepertinya jazz menjadi musik orang elit dan segala macam. Padahal kita lihat sejarah jazz dari orang kulit hitam bahkan bukan menengah ke bawah lagi tapi dari kalangan tertindas. Kenyataan itu yang saya coba angkat sejak awal, jadi KJK punya misi tambahan, yaitu misi ketiga adalah jazz milik semua. Semua status sosial, semua usia.

Jazz juga bukan milik orang Amerika juga, betulkah?

Bukan milik orang Amerika juga. Makanya saya mulai dari Kemayoran, Kemayoran dengan Kali Sunter-nya dan yang masih banyak rumah dempet-dempet. Jadi, sangat tidak Amerika, dan makanya saya mulai dari teras rumah sampai Teraskota sekarang. Cerita mengenai teraskota suatu komunitas baru di BSD, gedungnya bagus. Jadi Teraskota itu lompatan dari Kemayoran. Artinya, waktu itu yang sangat aktif di Jakarta adalah komunitas Jazz BSD, akhirnya ada yang mengakan, "Ben, gue bikin juga nih komunitas jazz di BSD." Akhirnya mereka buatlah Jajan Jazz yang akhirnya jadi Teraskota tadi.

Kapan orang yang tinggal di BSD bisa ke teraskota?

Ya, setiap Jumat malam

Dimana lagi kalau orang mau ketemu Beben secara langsung?

Saya masih mengajar juga di rumah, di kemayoran yang Jl. Kampung Irian 1 No.31 di Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Kemudian setiap Selasa juga saya ada main di mall Ciputra jam 12 siang sampai jam 3 di depan toko buku Gunung Agung. Nah disitu serunya adalah saya tidak cuma main, Jam 12 sampai jam 1 saya putar film jazz. Jam 1 sampai jam 3 saya main sambil cerita sejarah Jazz

Asik juga pintong (red: pindah tongkrongan) ke sana

Kemudian jumát di Epicentrum walk saya juga main, dan selalu ciri khas Beben jazz adalah main sambil cerita sejarah Jazz

Asik, kita nonton tidak usah sambil cerita ya, kita nonton sambil mendengarkan. Siapa orang-orang yang Anda ajari itu, apakah hanya mahasiswa yang kuliah musik, orang tua?

Saya punya murid dari kelas 2 SD sampai dengan usia 62 tahun. Kembali lagi jazz adalah milik semua kalangan dan segala usia. Belajar chord "miring" [kord-kord yang susah] penting, belajar tangga nada penting, tapi jangan lupa jazz adalah sebuah sikap sebenarnya.

Orang-orang yang ikut belajar dengan Beben itu memang belajar gitar atau hanya belajar teori?

Saya ada misi, saya sebutnya kursus plus. Kalau kursus ditempat biasa hanya setengah jam, kalau saya mengajarkan kursus dengan materi kuliah. Ada 5 unsur yang saya ajarkan: melodi, harmoni, ritmik, ear-training dan sejarah. Katakanlah dengan biaya kursus mendapatkan materi kuliah.

Pendidikan formil beben bukan disitu ya, seorang pemain jazz ini lahir sudah "membawa" gitar dari kecil atau memang pernah mengerjakan hal yang biasa-biasa?

Memang, gitar sudah menemani saya disetiap apapun yang saya lakukan. Ketika saya dari mulai SMP berprofesi pemain badminton. Serius dulu, Juara junior Asia di tahun 1983 di India, tahun 1984 juara Asian pelajar. Gitar selalu menemani saya saat saya istirahat latihan. Setelah masa badminton selesai, saya mendalami dunia IT. Kalau kenal teman-teman kantor saya, saya adalah karyawan yang suka bawa gitar, dimanapun saya membawanya.

Pengalaman orang tidak ada yang sia-sia ya, ngomong soal itu, apa kira-kira dalam 5 tahun kedepan yang ingin Anda capai?

Sekarang ini saya banyak mendalami producer music. KJK baru saja mengeluarkan sebuah kompilasi. CD kompilasi jazz kemayoran chapter one, berisi 10 track isinya original scoring dari anggota komunitas.

Kalau kita lihat 6 tahun lalu, saya melihat mereka rekaman dan akhirnya CD itu ada di toko-toko musik, keharuan dan kebanggaan luar biasa. Bagus atau jeleknya relatif, tapi itu isinya 10 grup band, karangan mereka sendiri, dijual di toko musik.

Beben menciptakan musik juga?

Ya saya juga mencipta.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...