Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

William Kwan HL

Mempopulerkan Kembali Batik Lasem

Edisi 734 | 19 Apr 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kalau kita bicara tentang batik maka ingatan kita tertuju pada batik Yogyakarta dan Solo. Padahal kita memiliki banyak sekali ragam batik di seluruh pelosok Indonesia. Inilah sebabnya mengapa kami undang William Kwan, pemrakarsa bangkitnya kembali batik Lasem di Indonesia. Selain giat melakukan program revitalisasi budaya batik Lasem di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dia juga menaruh perhatian pada batik-batik lain di seluruh pelosok Indonesia. William Kwan adalah Direktur Institut Pluralisme Indonesia (IPI) dan alumnus Universitas Kristen Satyawacana di Salatiga. Kemudian dia mengambil Economic Development di Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat.

Menurut William Kwan, di batik Lasem ada pengaruh interaksi lintas budaya. Terlihat dari multikultur desainnya. Batik Lasem merupakan perpaduan antara batik China dan Jawa. Dulu industri batik Lasem merupakan industri besar, tapi kemudian merosot sehingga dia berpikir, "Kok bisa ya, batik ini diterlantarkan." Hal itu yang kemudian mendorongnya untuk mengangkat kembali batik Lasem.

William Kwan mengatakan upaya yang dilakukannya sederhana yaitu dengan pemberdayaan para perempuan pembatik untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan pembatik di Lasem. Awalnya, seorang perempuan pembatik diberi motivasi dan ditingkatkan kemampuan teknis dan manajemen. Juga diajarkan bagaimana dinamika kelompok bahkan sampai mempelajari apa yang disebut dengan modal sosial untuk mengembangkan jaringan-jaringan. Dengan cara begitu akhirnya sekarang mereka pelan-pelan sudah dapat bergerak. Menurut dia, langkah tersebut bisa juga dipakai untuk merevitalisasi batik lainnya.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan William Kwan HL.

Apa yang membuat Anda tertarik menekuni batik?

Awalnya, saya tidak mengetahui batik. Suatu hari saya mendengar seorang teman bercerita tentang perjalanannya dari Cirebon, Jawa Barat menuju Tuban, Jawa Timur. Sewaktu bercerita tentang kota Lasem, dia menyebutkan tentang batik tiga negeri yang dipindah produksinya dari satu rumah ke rumah yang lain. Saya tidak tahu tentang batik. Saat pulang ke Jakarta, saya browse di internet untuk mengetahui batik, baik mengenai batik Indonesia, batik Lasem, maupun batik tiga negeri. Saya begitu terpesona dan terperanjat melihat fakta-fakta sosial, ekonomi dan budaya perbatikan. Lalu saya memutuskan kembali ke Lasem untuk melihat batik. Apalagi batik merupakan warisan nenek moyang kita yang begitu agung, dan sudah menghidupi jutaan orang di Indonesia.

Apakah Anda berasal dari Lasem?

Tidak sama sekali. Saya lahir di Pekalongan, Jawa Tengah. Keluarga saya berasal dari Batang, sampai sekarang tinggal di pegunungan Dieng Utara. Tidak ada hubungan dengan Lasem sama sekali.

Apa yang membuat Anda tertarik pada awalnya, selain mengenai motif dan sebagainya?

Pertama, kita lihat dari sisi pengaruh interaksi lintas budaya. Pengaruh multikultur desain dari Batik Lasem ini. Sewaktu pertama kali saya melihatnya, orang mengatakan ini adalah batik China. Saya tidak pernah percaya bahwa kita steril terhadap pengaruh dari berbagai budaya. Kemudian sewaktu saya ke Lasem, saya perhatikan di motif batiknya ada parang dan kawung. Jadi saya berpendapat batik Lasem merupakan perpaduan antara batik China dan Jawa. Setelah saya teliti lebih jauh, ternyata pengaruhnya sangat luas. Selain dari desain yang sangat menarik, menurut saya, di batik Lasem ada interaksi lintas kelompok budaya. Ini juga terkait pada awalnya pengusaha batik Lasem adalah 100% etnis Tionghoa.

Kapan awal etnis Tionghoa menjadi pengusaha batik di sana?

Sudah lama sekali. Saya duga sekitar abad ke-16 sudah ada yang mulai membuat batik di Lasem. Industrinya mulai berkembang dan mencapai produksi masal di abad ke-19. Kemudian mencapai masa keemasan pada 1900-1942 saat Jepang masuk Indonesia. Setelah itu industri batik tutup 100%. Tidak ada industri di sana.

Saya tertarik untuk melihat interaksi lintas budaya tadi. Sekarang sangat menarik kalau kita lihat bahwa pengusaha batik Lasem bukan 100% etnis Tionghoa dan tinggal di kota. Justru sekarang adalah orang dari etnis Jawa yang dulunya hanya 100% sebagai buruh. Sekarang mereka menjadi 2/3 pengusaha batik Lasem, dan tinggalnya di sekitar kota Lasem atau di daerah pedesaan.

Selain pengaruh desain dan multikultur, terus terang saya juga shock sekali ketika membaca berita di suatu harian ibukota pada 2004 bahwa dulu industri batik Lasem merupakan industri besar. Pada Februari 2004, saya lihat di sana banyak sekali pengangguran. Tenaga pembatik sudah merosot. Para pembatik tinggal di rumah yang terbuat dari bambu, lantainya masih tanah, kadang-kadang susah mendapatkan air. Penghasilan tambahannya dari batik. Kemudian saya berpikir, "Kok bisa ya, batik ini diterlantarkan." Saat itu, sebelum saya mengenal pemerintah maupun pengusaha batik Lasem, dan lain-lain.

Apakah Anda menemui buruh-buruh batik?

Waktu itu saya melihat toko, mungkin orang berpikir saya adalah pembeli. Di sana saya melihat banyak sekali yang menganggur. Menurut statistik, saat itu Rembang merupakan kabupaten nomor dua yang tertinggal. Saya berpikir, "Apa betul sebuah produk ekonomi yang berbasis budaya tradisional kalau pasarnya turun tidak bisa dibangkitkan kembali?" Saya sangat tidak percaya. Kemudian saya melihat permasalahannya adalah kalau di daerah yang jauh dari pusat ekonomi seperti Rembang, dimana jauh dari kota Semarang dan Surabaya, ditambah cukup terisolasi kalau dari sisi jarak maka pada umumnya investor tidak mau datang ke sana. Itu terkait infrastruktur yang masih belum lengkap. Tidak ada alasan untuk membantu memulihkan ekonomi kreatif berbasis budaya tradisional.

Apakah Anda melakukan penelitian sebelum terjun ke dalamnya?

Oh, tidak sama sekali. Saya terjun hanya berdasarkan intuisi saja. Saya datang kepada teman saya dan bercerita tapi teman saya tertawa dan berkata, "Kalau kamu mau membantu orang susah di sini ada banyak, seperti tukang bakso yang produknya masih jelas ada permintaannya. Kalau batik, siapa yang mau bantu karena sudah mati suri. Itu akan menghabiskan tenaga saja." Saya memang tahu tidak akan mudah, namun saya yakin sepenuhnya pasti saya bisa. Kalau permasalahannya adalah kita tidak mengenal budayanya, maka kita bisa melakukan pendidikan budaya. Kita bisa melakukan penelitian, kita bisa ungkap sejarah batik itu kembali. Lalu kita bisa mengajarkan kepada generasi muda untuk mengenal batik. Setelah mereka mengenal budaya batik, tentu mereka akan menghargainya. Kalau mereka membeli batik, maka mereka tidak hanya mengetahui apa itu batik namun mereka akan mengetahui maknanya.

Dari sisi ekonomi, teori ekonomi zaman dulu mengatakan, "Supply create its own demand." Kalau kita memproduksi apa saja maka pasti ditangkap oleh masyarakat. Yang menentukan itu adalah produsen. Kalau sekarang tidak, supply following demand. Jadi, demand yang penting. Kita jangan berpatokan pada demand yang turun, tapi bagaimana agar demand bisa kita angkat. Itu banyak sekali caranya. Kita bisa menggunakan keyakinan, inovasi dan kreatifitas kita untuk membangkitkan permintaan masyarakat terhadap batik.

Apa saja yang Anda lakukan setelah itu?

Saya bertanya pada beberapa orang-orang di sana, apakah mereka masih tertarik membangkitkan batik Lasem? Mereka berpendapat, "Sudah lah cukup sampai generasi kami, ini sudah cukup. Anak-anak mereka bersekolah di kota besar dan tidak ingin kembali ke sini.

Kami juga bertanya kepada orang-orang Lasem yang tinggal di Jakarta, mereka pun sudah mengatakan tidak ingin kembali ke desanya. Tahu-tahu di sana perputaran pengusaha batik Lasem membentuk sebuah cluster. Waktu itu kira-kira ada 14 pengusaha yang berasal dari etnis Tionghoa dan empat orang dari Jawa. Dengan difasilitasi pemerintah Rembang, Jawa Tengah, kita sangat berharap mereka bisa membangkitkan industri batik di sana. Memang mereka sangat berjuang keras. Saya angkat topi untuk itu. Namun masih ada satu pertanyaan kecil yang masih mengganjal di hati adalah masalah kelangsungan budaya dan ekonomi batik Lasem. Batik tersebut sangat tergantung pada tangan-tangan kecil yang membuatnya.

Apakah Anda melihat ternyata buruh adalah aktor utama yang perlu dibangkitkan kembali, apalagi saat melihat sekitar tahun 1970 ada sekitar ratusan pengusaha batik di sana, sedangkan saat ini hanya belasan pengusaha?

Biasanya pemberdayaan sebuah industri kebudayaan itu bersifat topdown. Kita perlu mem-balance dengan yang bottom up. Pemberdayaan itu memang harus dilakukan dari bawah. Kalau kesejahteraan para perempuan pembatik di pedesaan tertinggal, tidak meningkat maka anak-anak mereka juga tidak akan mau meneruskannya. Itu salah satu kunci untuk memulai darimana. Kita tidak bisa hanya berharap tetesan rezeki turun dari atas. Mereka harus meningkatkan kemampuan secara teknis maupun manajemen. Kalau perlu menjadi pengusaha lalu bisa melakukan artikulasi sosial. Untuk itu mereka harus melakukan pengorganisasian diri, belajar, dan sebagainya.

Jadi mereka mengumpulkan buruh-buruh tersebut untuk kemudian "mengajari" soal desain, manajemen, dan lain-lain. Betulkah begitu?

Ya, pendekatan kami sangat sederhana. Kami hanya mulai dengan seorang perempuan pembatik karena kita percaya semua orang mempunyai kemampuan. Jadi seorang perempuan pembatik ini kita motivasi beberapa kali. Dengan takut dan ragu, akhirnya mereka mulai mau belajar. Sekarang sudah berkembang menjadi kira-kira 12 orang. Itu batas kekuatan dia. Kita mulai dari pewarnaan alam, menguatkan etos kerja mereka, desain, dan manajemen keuangan yang sederhana. Kita juga mengajarkan bagaimana dinamika kelompok bahkan sampai mempelajari apa yang disebut dengan modal sosial untuk mengembangkan jaringan-jaringan. Agar para perempuan pembatik yang juga ibu rumah tangga tersebut tidak akan dipandang sebelah mata, kita juga mobilisasi kekuatan kolektif mereka. Dengan cara begitu akhirnya sekarang mereka pelan-pelan sudah dapat bergerak.

Apakah mereka ada organisasinya kini?

Mereka membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Srikandi Jeruk. Jeruk diambil dari nama Desa Jeruk di Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Apakah sekarang usaha batik Lasem mulai hidup lagi?

Ya, kalau dari sisi pembatik maka ada kemajuan di Lasem, Terus terang, itu bukan hanya karena jasa saya. Kami hanya sedikit menyentuh para pekerja batik tersebut. Sekarang tidak ada yang menganggur. Dulu yang menganggur kira-kira 80%, tapi sekarang bekerja semua.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengubahnya?

Tidak lama. Pada 2006 kami membuat pilot project dan sekarang pada 2010 awal sudah berjalan. Jadi kira-kira tiga tahunan.

Jadi, sebetulnya kalau pemerintah mau merevitalisasi batik maka bisa. Betulkah begitu?

Ya, tentu. Yang kita lakukan adalah kita tidak bisa mengubah segala hal. Yang bisa kita lakukan adalah mencoba memberikan inspirasi kepada pihak lain, sehingga dengan sumber daya dan spirit mereka, mereka bisa melakukan yang terbaik. Semua ini kita gabungkan menjadi satu kekuatan bersama.

Apakah upaya ini pernah dibicarakan melalui diskusi dengan pemerintah?

Sebetulnya kami cukup sering berkoordinasi dengan mereka. Namun tetap ada hal-hal yang harus lebih intensif dengan para pekerja. Dengan pemerintah mungkin mengkoordinasi dalam hal program untuk motivasi mereka yang di desa. Kunci dasarnya adalah kemandirian dari mulai tingkat individu pembatik, keluarga, tetangga, barulah kita berharap bantuan apapun.

Apakah Anda juga membantu proses pemasarannya?

Untuk batik ini kuncinya juga pemasaran. Kita membawa batik mereka yang sangat sederhana ke Jakarta, mengetuk hati para relawan.

Apa keunggulan batik Lasem daripada batik lain, misalnya, Yogya dan Solo?

Kalau kita mau bicara jujur, semua sama unggulnya. Batik Lasem terkenal karena warna merahnya yang khas. Warna merah darah ayam. Dulu sebelum ada pewarna kimia, pewarna alam dari Lasem yang paling terkenal. Dulu, untuk menghasilkan warna merah menggunakan kulit mengkudu atau pace dicampur dengan kayu-kayuan. Sekarang tidak lagi serumit itu. Pakai kimia sintetis cepat sekali.

Apakah Anda memiliki tujuan lain setelah batik Lasem, apakah Anda ingin meneliti atau masuk ke batik lainnya lagi?

Saat ini kami ingin mencoba menambah jumlah daerah untuk menjadi bahan studi, mulai dari daerah Pantai Utara di Jawa maupun daerah-daerah lain di luar Jawa. Kekuatan kami sangat terbatas, kami akan memilih dua atau tiga daerah untuk tambahan. Kami akan mendukung semua pihak di Indonesia untuk pemberdayaan batik dimanapun mereka berada.

Apa tantangan paling besar yang Anda hadapi dalam upaya itu?

Tantangan yang paling besar adalah bagaimana menumbuhkan keyakinan, baik dari dalam diri pembatik sendiri termasuk dalam diri saya. Segala sesuatu yang kita lakukan harus baik untuk semua pihak. Kalau baik untuk kita sendiri, pasti kita akan mudah kecewa. Kalau untuk semua pihak, kita bisa melakukannya dengan tenang, nyaman dan konsisten. Itu yang utama saya lakukan untuk menumbuhkan keyakinan mereka.