Fatchiah E. Kertamuda
Mengendalikan Stres
Edisi 721 | 17 Jan 2010 | Cetak Artikel Ini
Salam Perspektif Baru,
Perspektif Baru edisi ini menghadirkan seorang Psikolog lulusan dari East Texas State University tahun 1995 yang juga dosen di Universitas Paramadina. Pada kesempatan ini, Ibu Fatchiah Ekowaty Kertamuda berbagi informasi mengenai pengelolaan stres untuk memperbaiki kepribadian kita.
Jika sahabat Perspektif Baru hidup di kota-kota besar, stres bukan sesuatu yang aneh. Itu merupakan hal yang biasa kita hadapi dengan segala macam seluk beluk keseharian kita. Bisa di rumah, kantor, di jalan atau bisa juga dalam hidup berkeluarga. Minggu-minggu terakhir ini kita dikejutkan dengan beberapa kejadian yang secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan dengan masalah stres. Banyak berita mengenai orang yang loncat dari ketinggian dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Yang menarik, fenomena ini justru terjadi di pusat-pusat keramaian misalnya mall atau pertokoan. Bagi sebagian orang kematian adalah hal biasa, tapi bagi sebagian lainnya kematian apalagi di tengah-tengah keramaian dengan sengaja tentu cukup mengejutkan.
Berikut wawancara Faisol Riza dengan Fatchiah Ekowaty Kertamuda.
Apa yang Anda catat dari kejadian upaya bunuh diri terakhir, dimana korban kebanyakan kaum muda dan mengakhiri hidupnya di tempat-tempat keramaian?
Sekarang ini banyak sekali kejadian yang mengejutkan kita semua, hal-hal di luar dugaan kita. Kenapa mereka mau melakukan bunuh diri di suatu tempat keramaian umum seperti mall? Padahal lazimnya upaya bunuh diri itu dilakukan di ruang privat seperti kamar dengan cara gantung diri misalnya. Penyebab ini tidak langsung terjadi pada diri seseorang yang melakukan itu, tapi ada hal yang melatarbelakangi dia. Ketika dia berkeinginan melakukan sesuatu pasti ada stimulus yang mendasari dia kenapa itu terjadi. Mungkin ada peristiwa dari rumah bisa yang menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. Pertama kita lihat bahwa ada hal yang sangat penting dari diri orang tersebut, ada tingkat stres di awal. Mungkin ada kekecewaan terhadap lingkungan di mana dia tinggal, kemudian perlakuan orang tua atau teman-temannya. Jika dilihat dari umur rata-rata masih remaja, masih produktif dan mereka sedang menyesuaikan diri, itu yang terpenting.
Jika berbicara stres mungkin kita juga stres, mengakhiri hidup mungkin bagi sebagian orang merupakan suatu pilihan, tapi mengapa memilih tempat keramaian?
Ada beberapa indikasi mengapa mereka melakukan itu. Pertama untuk menarik perhatian. Mungkin ada satu keyakinan dalam diri mereka, jika melakukan ini dia akan menjadi perhatian dan memang perhatian itu yang dia cari. Kedua, mereka beranggapan dalam keramaian orang tidak memperhatikan, sehingga muncul adrenalin untuk melompat dari ketinggian. Seperti kita tahu orang yang sedang stres memiliki adrenalin tinggi.
Mengapa kemudian bukan hanya satu orang saja yang melakukan? Suatu kejadian bunuh diri di tengah keramaian seperti mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Apa yang Anda tangkap dari fenomena ini?
Mungkin dalam satu bulan ini ada 3 - 4 kejadian. Kalau saya melihat mereka tidak berencana untuk melakukan hal yang sama dalam waktu yang hampir berbarengan. Mungkin pada saat itulah keinginannya dan memang ada faktor pemicu untuk melakukan hal yang sama. Ada modelling juga disana.
Sebenarnya bagaimana mulanya stres itu muncul di setiap orang?
Gejala stres itu sebenarnya sangat simpel. Keseharian kita mengalami itu. Gejala stres misalnya, banyak bisa kita lihat kalau siswa siswi atau mahasiwa sedang mau ujian. Pertama, mula-mula bisa dengan sakit perut/mulas atau berkeringat di tangan, kemudian jantung berdebar-debar, itu adalah tanda-tanda awal bahwa seorang itu sedang mengalami suatu tekanan. Tekanan itu belum tentu bisa membuat jatuh, tapi tekanan itu bisa memacu seseorang untuk mengendalikan dan mengontrol dirinya. Kalau terus menerus, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya bahwa stres juga bisa memicu suatu keberhasilan dan juga bisa menjadi suatu penyakit psychosomatic disorder.
Bagi orang yang tinggal di pedesaan maupun di kota kecil atau di kota besar tentu tekanannya berbeda-beda. Kita yang ada di kota besar, bagaimana bisa mengatasi tekanan agar kita tidak destruktif?
Saya kutip sedikit seorang psikolog John F. Schumaker dalam bukunya yang berjudul The Age of Insanity: Modernity And Mental Health. Bahwa katanya gangguan kesehatan jiwa itu dari individu dan masyarakat yang hidup di tempat-tempat yang mengalami modernisasi. Mereka tidak sanggup hidup lebih lama di tempatnya sendiri. Kita lihat bahwa ada satu perubahan. Kenapa di kota besar cenderung tingkat stresnya lebih tinggi? Karena di sana ada banyak modernisasi yang terjadi, perubahan-perubahan, baik perilaku orang-orang di sekitarnya dan terkadang manusia tidak sanggup mengatasi apa yang terjadi dalam perubahan di lingkungan yang banyak perubahan. Lingkungan modernisasi tidak harus terjadi di kota metropolitan, tapi mungkin ada satu kecamatan atau padatnya penduduk bisa menimbulkan stres yang luar biasa. Banyak orang-orang yang tinggal di tempat-tempat yang padat penduduknya tidak bisa menyesuaikan dengan tempat tinggalnya sendiri.
Apa yang mula-mula harus dilakukan oleh seseorang yang merasa tekanan akan datang atau ada tekanan datang begitu kuat agar seseorang bisa mengelola stres itu?
Bagus kalau seseorang menyadari dia dalam keadaan tertekan, itu sangat positif. Berarti dia tahu apa yang harus dia harus lakukan. Contohnya ketika seseorang akan menghadapi ujian, dia tahu ujian itu adalah satu hal yang membuat tertekan/pressure. Tapi karena dia sudah mempersiapkan dirinya, dia sudah belajar, dia sudah tahu materi yang akan dia hadapi maka stres tetap ada, hanya tingkatnya lebih rendah. Tingkat stres menjadi tinggi kalau dia tidak belajar atau tidak ada pengetahuan yang dia pelajari. Oleh karena itu, caranya dia harus bisa me-manage dirinya sendiri dengan menyadari bahwa dia dalam keadaan stres.
Jika stresnya berat, kemudian kita merasa tidak sanggup mengatasinya. Apa yang bisa kita lakukan agar kembali tidak destruktif, tidak merugikan kita sendiri apalagi orang lain.
Kalau stres yang dialami tingkat tinggi, maka stres tersebut akan berpengaruh kepada jantungnya, aliran darahnya. Orang stres sama dengan orang marah. Marah itu adalah pelampiasan stresnya. Kalau dia marah, otomatis ada pembuluh darah naik.
Jadi bagus orang marah untuk stres?
Marah bisa berguna ketika orang bisa mengatasinya dengan cara-cara yang dewasa, tidak memukul. Dengan ungkapan verbal yang kasar atau dengan fisik itu akan berpengaruh kepada cara dia mengelola stres dan marahnya itu. Bagaimana kita mengatasi cara mengelola stres itu perlu diperhatikan bahwa pertama dia menyadari bahwa dia dalam keadaaan tertekan. Kedua, dia harus mengantisipasi segala situasinya. Ketiga, dia harus mengontrol tingkat stres itu seberapa tinggi dan rendah, hanya orang yang bersangkutan yang bisa mengatur sedangkan orang lain tidak bisa melihat itu.
Munculnya stres dalam keseharian kita, kadang-kadang tidak disebabkan oleh masalah ekonomi tadi, tapi masalah yang muncul di masyarakat. Kadang sangat sepele dan sederhana, misalnya ejekan. Tapi di lain pihak, ejekan hanya pelampiasan juga. Buat masyarakat yang disorganize (tidak teratur) seperti di Jakarta, menghindari hal-hal semacam itu yang barangkali sepele, bagaimana caranya?
Biasanya kalau remaja berkaitan dengan ejekan dan isolasi. Apalagi remaja dalam tahapan perkembangan mencari identitas dirinya. Dia lebih comfort ke teman-temannya, dibandingkan nasehat dari orangtua. Kalau dia tidak diterima oleh teman-temannya, akan muncul tingkat stresnya. Dia akan melihat ke dirinya, apa salah saya. Sehingga dia akan selalu berpikir negatif. Itu akan menunjukkan setiap langkah dia berada dalam tekanan terus. Oleh karena itu, kita kembali pada tugas orangtua, pendidik atau guru itu sangat penting untuk menekan tingkat stres remaja sehingga bisa membantu mereka, karena mereka masih dalam proses pencarian jati diri. Kepada siapa mereka mencari kalau tidak ke tempat orang yang memang sebagai panutan mereka.
Orang tua melihat gejala anak kalau tumbuh, kemudian mulai menyadari masalah-masalah itu mulai menekan kehidupannya. Kalau dulu di kampung, biasanya anak yang beranjak dewasa sering bertingkah. Barangkali orang tua tidak suka padahal itu bagian dari mengatasi stres atau sedang stres. Bagi orang tua, apa yang sebaiknya dilakukan terhadap anak yang demikian?
Ini penting bagi orang tua karena kita adalah orang tua, saya adalah orang tua. Budaya kita cenderung menempatkan orang tua pada posisi yang "selalu" benar. Sedangkan ilmu pengetahuan sekarang sudah berkembang pesat, di daerah-daerah sudah masuk teknologi. Orang tua juga tidak secara total melepas mereka, tapi tetap memantau mereka dalam jangkauan. Tidak berpandangan bahwa mereka sebagai orang tua bukan lagi sosok yang selalu benar, tapi sebagai sosok yang ingin berbagi, sharing dengan anak. Memahami bahwa anak juga mempunyai wawasan yang luas karena dia punya pergaulan dan punya wawasan teknologi dan mungkin orang tua juga harus mau belajar dari anak. Budaya tersebut akan berat diubah apalagi di daerah-daerah tertentu, di mana orang tua harus selalu dipatuhi. Budaya tersebut akan berpengaruh pada proses komunikasi antara orang tua dan anak.
Bagi orang yang tidak menyadari bahwa stres sedang mengganggu pikiran dan perasaan dia, bagaimana agar orang tersebut dapat segera menyadari dirinya dalam kondisi stres?
Sedikit berbahaya untuk orang yang tidak menyadari kalau dia sedang mengalami stres. Perlu bantuan orang lain untuk melihat gejalanya. Kalau anak ada 2 tipe yaitu, introvert (tertutup) dan ekstrovert (terbuka). Untuk anak ekstrovert dia lebih mudah mengungkapkan perasaannya saat sedang marah sedih atau punya masalah. Bagi introvert jika mempunyai masalah dia akan diam, tidak punya masalah dia juga diam. Jadi tipe introvert ini agak berbahaya dan harus segera ditangani. Kalau di sekolah bisa lewat guru atau bisa juga konseling. Untuk di sekolah, guru harus melihat perubahan dan prestasinya. Orang tua agar lebih peka untuk melihat perubahan perilaku anaknya, dan untuk anak-anak seperti ini sebaiknya menemui ahlinya seperti psikiater.
Sejauh ini di kota besar seperti Jakarta, apa pencetus terbesar yang membuat orang stres dengan tingkat stres yang destruktif?
Kalau tingkat remaja, tingkat stresnya dari pertemanan. Banyak remaja yang bunuh diri juga karena pertemanan dan lingkungan sekitarnya seperti rumah, masyarakat dan sekolah. Banyak orang yang sedang mengalami tekanan hidup contohnya orang-orang yang sedang dalam proses pengadilan tetapi mereka menghadapinya dengan tenang padahal mungkin ancamannya, contohnya, hukuman mati.
Banyak orang yang sedang mengalami tekanan hidup, katakan orang yang sedang mengalami proses peradilan. Apakah mereka termasuk orang yang berhasil mengatasi stres?
Seseorang yang sudah divonis dalam pengadilan, sebetulnya dia sudah melalui fase, sehingga ia merasa dirinya sudah siap menerima segala situasi. Kita tidak tahu kebenarannya itu benar atau tidak, atau ia tidak bersalah, itu melalui tahapan proses. Mungkin ketika ia dianggap tersangka, itu stresnya di awal. Sehingga ketika mengikuti pengadilan, ia mulai bisa menyesuaikan dirinya sehingga divonis apapun dia sudah siap, karena sudah ada proses di sana. Tapi kalau tiba-tiba langsung dihukum mati tanpa ada proses, itu yang membuat dia akan kaget dan bahkan bisa mati di tempat.
Pengelolaan stres atau pengalihan dilakukan agar stres tidak jadi beban hidup seseorang. Apa yang harus dilakukan orang untuk mengalihkan stresnya menjadi hal yang positif?
Kalau dia sudah menyadari, dia bisa mengontrol lalu ia bisa menentukan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Bagi yang belum bisa mengatasinya itu memang banyak solusinya, misalnya bertemu dengan ahlinya untuk membantu mengatasi tingkat stresnya. Karena kalau itu tidak diatasi akan menjadi depresi. Depresi akan membuat orang menjadi schizoprenia atau kekacauan jiwa, dan mengalami banyak tekanan. Akan berpengaruh kepada kejiwaan dia. Ini penting sekali. Oleh karena itu supaya sehat mental dan jiwa, perlu ada layanan konseling di sekolah-sekolah, di biro-biro tertentu. Saya lihat juga di daerah-daerah sudah banyak sekarang ini. Itu penting saat ini. Seperti, bulan depan saya akan keluarkan buku tentang konseling pernikahan untuk keluarga Indonesia. Itu juga akan membantu bagaimana mengatasi problem-problem di dalam keluarga. Karena awal mula stres bisa muncul dari keluarga juga. Perlu ada layanan profesional yang bisa dikembangkan dan disosialisasikan. Sekarang di Indonesia sepertinya peran profesional dalam campur tangan urusan keluarga masih dianggap tabu, urusan keluarga jangan diceritakan kepada orang lain.
Konseling tidak hanya diberikan untuk keluarga, namun juga di dalam hubungan suami-istri, remaja, dan banyak ragamnya.
Saya bisa membayangkan, mungkin Pak Presiden itu stres sekali, menghadapi kasus-kasus, seperti Century, segala macam. Jadi mestinya kita tidak protes bila beliau main musik, bernyanyi, atau lainnya karena mungkin itu upaya bentuk pengalihan stres?
Ya, itu adalah untuk fun. Memanfaatkan waktu luang untuk refresh. Seperti pergi ke gunung, ke laut, ada oksigen masuk lagi ke kita yang selama ini sudah terhambat di pembuluh darah. Masuknya oksigen akan memacu darah dan membuat badan kita fresh kembali. Begitu pula pemimpin-pemimpin mungkin dia sudah ke gunung, ke laut dan sebagainya tapi tekanan di dalamnya masih belum teratasi, dia masih stres. Mungkin ia butuh seseorang.
Intinya refresh atau menyegarkan kembali kondisi tubuh, pikiran dengan lingkungan baru. Dengan kondisi seperti Jakarta ini yang paling sederhana, murah untuk mengelola dan mengupayakan proses penyegaran diri itu dengan cara seperti apa?
Saya juga pernah melakukan pelatihan untuk mengatasi stress management. Relaksasi yang sangat simpel itu bisa dilakukan di tempat duduk, di meja kerja, di kursi. Hanya dalam waktu 10 menit dan kita bisa melakukan itu.
Dan stres hilang?
Mungkin tidak hilang, tapi berkurang, dalam arti kita bisa fresh lagi. Kalau hilang berarti kita tidak hidup. Stres itu akan selalu ada dalam kehidupan manusia.
Stres yang bisa positif seperti apa?
Ketika ingin berkarya, misalnya Anda sebagai seorang Project Manager. Diberikan tugas oleh atasan untuk melakukan suatu proyek yang cukup besar buat Anda, penting, dengan adanya tekanan bahwa Anda harus melakukan yang terbaik. Maka stres itu dibutuhkan untuk mengantisipasi apa yang akan dilakukan, kemudian kalau gagal bagaimana, kalau berhasil bagaimana. Jika langkah antisipasi itu dimiliki, maka seorang akan mampu mengelola stresnya di manapun dia.
Jadi stres tidak hanya negatif, justru kalau kita bisa kuasai bisa menjadi positif?
Ya betul sekali.




