Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Puji Hastuti

Prestasi Tuna Grahita

Edisi 717 | 21 Des 2009 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita sekarang dr. Pudji Hastuti, MSc. PH, yang menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Special Olympics Indonesia (SOIna) 2006 – 2010. Sebelumnya, pada 2001 dia menjabat sebagai Dirjen. Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial hingga masa pensiunnya pada Maret 2006. Dia juga aktif di Persatuan Wredatama Republik Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia, dan membantu Komisi Nasional Lanjut Usia.

Puji Hastuti mengatakan dalam upaya memberdayakan penyandang tuna grahita, negara kita telah memiliki undang-undang (UU) dan kebijakan pemerintah. Misalnya, UU No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, dan juga rancangan aksi nasional penyandang cacat 2009-2014. Namun di dalam pelaksanaannya masih jauh dari yang diharapkan, baik di dalam penganggaran, program maupun sarana dan prasarana yang tersedia untuk mereka.

Puji Hastuti ingin menggugah kepedulian semua pihak termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat agar kita secara bersama menangani penyandang tuna grahita bisa setara dengan mereka yang tidak tuna grahita karena selama ini prestasi mereka juga cukup membanggakan di dunia internasional. Dukungan dari pemerintah diharapkan dalam bentuk penganggaran, sarana, dan prasarana yang lebih optimal. Dari dunia usaha dalam bentuk alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk membantu memberdayakan atlet tuna grahita. Sedangkan dari masyarakat adalah bisa menerima keberadaan anak-anak tuna grahita setara dengan kelompok masyarakat lainnya.

Berikut ini wawancara Ansy Lema dengan Puji Hastuti.

Apa yang dimaksud dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) yang sekarang Anda pimpin?

Berbicara mengenai SOIna, saya akan mulai dengan penjelasan mengenai Special Olympics yaitu suatu gerakan global yang tujuannya memberdayakan penyandang tuna grahita agar mereka menjadi orang yang produktif, diterima, dan dihargai masyarakat sebagai warga yang setara melalui pembinaan olah raga. Special Olympics Internasional (SOI) pertama kali digagas oleh Eunice Kennedy Shriver pada 1968 dan sampai saat ini SOI sudah menyebar ke-170 negara dan menjaring lebih dari tiga juta atlet tuna grahita di seluruh dunia.

Sejak kapan Indonesia masuk SOI?

SOIna bergabung dalam SOI pada 9 Agustus 1989. Dibentuk pertama kali oleh Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) kemudian Indonesia bergabung ke dalam SOI, dan kita menjadi anggota ke-79 dari 170 negara anggota SOI.

Ada berapa banyak para penyandang tuna grahita yang ada di Indonesia dan kemudian masuk dalam SOIna?

Sesuai dengan estimasi organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) bahwa jumlah penyandang tuna grahita adalah 3% dari total jumlah penduduk sehingga diperkirakan di Indonesia ada lebih dari enam juta warga tuna grahita. Dari jumlah tersebut, 50% menjadi sasaran SOIna sehingga ada lebih dari tiga juta warga tuna grahita yang dapat menjadi sasaran SOIna untuk diberdayakan melalui pelatihan dan kompetisi olah raga.

Tadi Anda menyatakan pemberdayaan kaum tuna grahita melalui olah raga. Apa yang menjadi alasan memilih olah raga sebagai media pemberdayaan kaum tuna grahita?

Barangkali kita berangkat dari pengertian tuna grahita dulu. Tuna grahita adalah warga masyarakat yang mempunyai kemampuan intelektual (Intelectual Quotation/IQ) di bawah 70. Selain itu, mereka juga mempunyai kesulitan dalam berbicara, kelambanan dalam berfikir dan belajar. Jadi dengan mereka berolahraga akan mendapatkan suatu kondisi fisik yang sehat dan bugar kemudian disiplin, bisa mandiri, dan ada rasa percaya diri.

Tentu ada prestasi yang diukir atlet-atlet kita di dalam SOIna. Tolong Anda ceritakan sejauhmana pencapaiannya?

Sesuai dengan aturan-aturan, visi, dan misi SOI yaitu menjadikan warga tuna grahita sebagai manusia produktif, berguna, dan dapat diterima masyarakat melalui pembinaan olah raga. Jadi misi kita adalah melakukan pelatihan dan kompetisi olah raga sepanjang tahun yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bergembira, dapat memperlihatkan kemampuannya, menjalin persahabatan dengan teman-teman mereka sesama atlet dan pelatih. Selama ini prestasi yang diukir oleh SOIna di bidang olah raga sangat menggembirakan pada event internasional yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali pada Special Olympics World Summer Games maupun World Winter Games. Rata-rata kita akan membawa pulang kira-kira 50% medali emas dari jumlah atlet SOIna yang kita kirim. Terakhir kemarin sewaktu digelar di Shanghai, China pada Special World Summer Games 2007, dari 20 atlet yang kita kirim kita dapat meraih sembilan medali emas, sembilan perak, dan empat perunggu.

Apakah prestasi kita untuk di kawasan Asia termasuk Asia Tenggara cukup membanggakan dibandingkan negara lainnya?

Prestasi kita cukup baik. Menurut penilaian dari Asia Pacific, nomor satu adalah India karena jumlah atletnya banyak dan programnya besar dengan dukungan pemerintah yang juga besar. Jadi atlet mereka juga meraih prestasi yang lebih baik. Namun Indonesia sudah dinilai cukup baik juga. Kita sebagai nomor dua atau tiga dari negara-negara Asia Pacific dan selama ini program-program kita juga berjalan, baik di pusat maupun daerah.

Apa yang menjadi motivasi dasar dan inspirasi Anda sehingga memilih wilayah garapan ini?

Pertama, selama lebih dari 30 tahun pengabdian saya ada di Departemen Sosial. Saya memang banyak menangani kelompok masyarakat yang kurang beruntung, termarjinalkan, terpinggirkan, terabaikan, Contohnya, anak terlantar, lanjut usia dan penyandang cacat. Saya sudah terpanggil bahwa kita perlu menyuarakan aspirasi mereka. Setelah pensiun, saya diminta untuk menangani anak tuna grahita. Saya segera termotivasi untuk bisa membantu menyuarakan aspirasi mereka, menjadikan mereka manusia yang produktif, berguna, dihormati, dihargai, dan diterima masyarakat sebagai warga yang setara.

Hal itu yang saya belum lihat dari kelompok masyarakat secara umum, bahkan para orangtua mereka sendiri banyak yang masih menyembunyikan anak-anak tuna grahitanya karena dianggap aib, dosa besar, dan sebagainya. Padahal meskipun tuna grahita, mereka memiliki potensi yang kalau digali dengan betul dapat diperlihatkan dengan baik.

Kita berharap para penyandang tuna grahita bisa diterima sebagai warga negara yang juga diperlakukan setaraf terhadap akses pembangunan. Terkait hal tersebut, apa yang harus dilakukan?

Kita sudah memiliki undang-undang (UU) dan kebijakan pemerintah yaitu UU No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Juga ada peraturan pemerintah, keputusan menteri, dan juga rancangan aksi nasional penyandang cacat 2009-2014 yang sudah disepakati oleh masing-masing departemen yang mempunyai tugas dan tanggung jawab di bidang kecacatan. Tetapi di dalam pelaksanaannya masih jauh dari yang kita harapkan, baik di dalam penganggaran, program maupun sarana dan prasarana yang tersedia untuk mereka.

Tadi Anda mengatakan dari sisi kebijakan relatif memadai. Bagaimana dari sisi implementasi dan juga perlakuan masyarakat ataupun keberpihakan konkrit negara terhadap kaum tuna grahita?

Jadi memang betul, dari kebijakan sudah ada berbagai peraturan perundang-undangan bahkan sampai rancangan aksi nasional sudah disusun. Tetapi kenyataannya masih jauh dari yang diharapkan. Contoh, di dalam UU sebetulnya ada kuota tenaga kerja 1% bagi penyandang cacat, tidak hanya oleh swasta dan masyarakat tapi pemerintah juga harus seperti itu. Ini amanat UU sehingga dalam penerimaan pegawai negeri seharusnya ada jatah 1% untuk penyandang cacat.

Terkait dengan pemberdayaan para penyandang tuna grahita di daerah, bagaimana perhatian dan kepedulian dari pemerintah daerah?

Secara umum, sebetulnya perhatian pemerintah baik di pusat maupun di daerah sudah agak lebih baik dari tahun sebelumnya. Namun itu masih jauh dari yang kita harapkan. Apalagi dengan era otonomi daerah, beberapa pemerintah daerah sama sekali tidak ada perhatian terhadap penyandang cacat. Mereka lebih memprioritaskan pendidikan dan ekonomi, jadi masih jauh dari kita. Apalagi untuk warga tuna grahita yang tidak bisa menyuarakan aspirasi mereka sendiri, sehingga harus dibantu oleh orang yang tidak tuna grahita.

Apa saja program kerja SOIna?

Kalau melihat visi dan misinya, program utama kita adalah olah raga berupa pelatihan dan kompetisi olah raga sepanjang tahun. Artinya sepanjang tahun adalah kita melakukan pelatihan secara rutin, minimal seminggu sekali ada pelatihan dan kompetisi secara berjenjang dari daerah sampai ke pusat hingga tingkat internasional.

Selain itu, kita juga ada program pendukung yang mendukung program olah raga. Salah satunya, healthy athletes atau pemeriksaan kesehatan atlet. Seperti kita ketahui, anak-anak tuna grahita lebih rentan terkena berbagai penyakit, jadi perlu diadakan pemeriksaan kesehatan sebelum pertandingan. Yang kedua, kita ada program Athlete Leadership Programme (ALP’s) yaitu program memberdayakan mereka di luar olah seperti menjadi asisten pelatih, pengurus organisasi, dan sebagainya. Yang ketiga adalah special olympics get into it yang terkait dengan unified sport. Dalam hal ini kita memotivasi anak-anak non tuna grahita untuk mau berbagi dengan teman-temannya. Itu bisa melalui penyuluhan, pertandingan bersama, latihan bersama, dan lain-lain.

Apa saja kesulitan yang ditemui saat melakukan latihan-latihan?

Karena ini lembaga nirlaba maka peran dan dukungan banyak pihak tentu sangat penting karena salah satu prinsip dasar organisasi Special Olympics adalah kerelawanan (volunteerism). Hambatan kita ini adalah bagaimana bisa memotivasi masyarakat untuk mau membawa anaknya. Kedua, meningkatkan anggaran. Lalu, menyediakan sarana dan prasarana olah raga karena baik di pusat maupun daerah masih sangat kurang. Hambatan lainnya adalah sulitnya mencari pelatih yang mau melatih anak tuna grahita seperti yang saya sebutkan tadi, perlu adanya pelatih plus.

Apa kualifikasi diharapkan untuk bisa menjadi pelatih tuna grahita?

Pelatih untuk atlet SOIna sangat penting karena merupakan salah satu dari empat pilar pendukung. Kualifikasi yang dibutuhkan tentu beda dengan pelatih pada umumnya. Disamping harus menguasai tehnik olah raga dan aturannya, mereka juga harus mengetahui aturan-aturan Special Olympics yang khusus (Special Olympics Rules). Yang paling penting adalah mereka harus mengerti psikologi setiap anak atau atlet binaannya.

Sejauh ini apakah sulit atau mudah mencari pelatih dengan kualifikasi tersebut?

Cukup sulit, tetapi dengan upaya yang terus menerus melalui sosialisasi dan motivasi, kita berharap mendapatkan pelatih yang qualified. Karena itu kami berharap dapat mengadakan kesepakatan semacam memorandum of understanding (MoU) dengan fakultas-fakultas keolahragaan di seluruh Indonesia. Misalnya, ada mahasiswa yang praktek kerja lapangan (PKL) menjadi pelatih di SOIna.

Dalam hal ini yang penting juga adalah memberikan kesempatan pada setiap atlet seperti tercermin dari janji atlet yaitu, "Let me win, but if I can not win, let me be brave in the attempt." Jadi yang penting bagi atlet SOIna bukan kalah atau menang dalam bertanding, tapi bagaimana kita memberikan kesempatan yang sama kepada semua atlet untuk berani mencoba bertanding, dalam rangka menumbuhkan rasa percaya diri, persahabatan, menjalin kebersamaan dengan sesama atlet maupun pelatih.

Apa saja yang dibutuhkan SOIna untuk mendukung dan meningkatkan agenda pemberdayaan para penyandang tuna grahita?

Dukungan dari berbagai pihak sangat penting, termasuk dari pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Saat ini sudah cukup banyak peraturan, perundangan dan kebijakan lainnya untuk anak penyandang cacat, tapi belum tercermin secara optimal di dalam sarana dan prasarana maupun penganggaran yang ada untuk penyandang cacat, khususnya untuk para tuna grahita dan khususnya lagi di bidang olah raga.

Kemudian dukungan dari masyarakat, termasuk dunia usaha. Misalnya, mereka bisa mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk membantu memberdayakan atlet tuna grahita supaya mereka bisa berlatih dengan baik dan bertanding dengan baik sehingga bisa menjadi atlet yang produktif. Satu lagi, dari masyarakat secara umum adalah bagaimana bisa menerima keberadaan anak-anak tuna grahita ini setara dengan kelompok masyarakat lainnya.

Para atlet penyandang tuna grahita sesungguhnya bisa disebut sebagai pahlawan bangsa karena mereka juga mengharumkan nama bangsa. Jadi ke depan perlu ada program khusus yang digagas dan dapat diimplementasikan, betulkah?

Memang kami dari pengurus sangat menyadari upaya sosialisasi sangat penting. Lagi-lagi karena keterbatasan dana membuat kami tidak bisa melakukan upaya sosialisasi secara teratur, berkesinambungan agar penyandang tuna grahita bisa diterima oleh seluruh masyarakat.

Bukankah instansi pemerintah di pusat maupun daerah sudah mengalokasikan dan memasukkan penyandang tuna grahita menjadi hal yang harus diperhatikan?

Di dalam UU begitu dan di dalam kebijakan departemen terkait juga ada. Kembali lagi, tidak semua pemerintah daerah mempunyai komitmen sama sehingga prioritas pembangunannya juga beda. Dana anggaran untuk penyandang cacat biasanya nomor satu dari bawah barangkali, disamping kemiskinan. Prioritas mereka lebih kepada pembangunan ekonomi, infrastruktur dan pendidikan, sehingga penyandang tuna grahita agak terabaikan di daerah terutama untuk anggaran, sarana olah raga dan pelatihan yang rutin.

Padahal membangun itu tidak hanya membangun fisik tapi juga membangun manusianya?

Ya, betul. Jadi semestinya berjalan seiringan antara pembangunan ekonomi dan sosial. Paradigmanya sudah ada, namun masih sebatas wacana. Bahkan mungkin banyak anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak mengetahui apa itu tuna grahita, apa program SOIna, bagaimana prestasinya sehingga itu tidak tercermin dalam pengalokasian anggaran.

Seandainya Anda bertemu dengan para pengambil kebijakan dan juga para pemilik perusahaan, apa yang ingin Anda katakan?

Saya ingin menggugah kepedulian mereka, bagaimana kita mengatasi atau menangani penyandang tuna grahita setara dengan mereka yang tidak tuna grahita. Itu karena prestasi mereka juga cukup membanggakan di dunia internasional selama ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga sudah pernah menerima kontingen kita sewaktu kembali dari Shanghai, dan presiden berkenan memberikan penghargaan dan tali kasih kepada para atlet yang meraih prestasi baik medali emas, perak dan perunggu.

Kalau di dunia olahraga yang lazim biasanya ada bonus atau reward kepada mereka yang berprestasi. Bagaimana untuk di olahraga tuna grahita ini?

Tidak ada. Menurut peraturan SOI, atlet kita tidak boleh menerima bonus, pelatih kita tidak bisa menerima bayaran. Ini yang kemudian masih kurang dipahami orang tua mereka sehingga selalu mengatakan seperti ini, "Kenapa sih, anak saya menang kok tidak dapat bonus seperti atlet bukan tuna grahita?" Mereka tidak mengetahui bahwa aturannya memang tidak membolehkan hal itu. Kalau pemerintah mau memberikan penghargaan atau tali kasih, kami welcome karena ini penting untuk mereka melanjutkan sekolah, membuka usaha, membantu orangtua. Namun itu dalam bentuk penghargaan tali kasih setelah mereka berprestasi bukan sebelum mereka berangkat.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...