Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Diena Haryana

Stop Bullying

Edisi 707 | 13 Okt 2009 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita kali ini adalah Diena Haryana. Anda bisa melihat fotonya di situs kami. Dari wajah dan suaranya melambangkan seseorang yang mempunyai rasa empati besar terhadap masyarakat, sehingga bisa melihat hal-hal yang luput dari perhatian banyak orang menyangkut persoalan sangat penting. Kali ini bukan masalah politik, ekonomi, bahkan bukan masalah Indonesia tapi masalah manusia yang cenderung untuk saling menyiksa. Ada suatu sindrom dalam masyarakat dimana yang kuat menyiksa yang lemah, istilahnya di Amerika adalah bully. Di balik semua kegiatan yang besar, politik ekonomi, berlangsung penderitaan dan pengalaman kecil yang dialami oleh individu segelintir. Kami ingin mengangkat ini karena di sekitar Anda pasti ada kejadian itu dan kami ingin memberitahukan bahwa masalah ini diperhatikan oleh ibu Diena Haryana. Ia sebagai pendidik dan sebagai seorang fasilitator dalam bisnis dynamics dan juga pengurus Yayasan SEJIWA.

Menurut Diena Heryana, sebenarnya bullying selain secara fisik dan mental, juga bisa secara verbal. Verbal maksudnya cacian dan sindiran-sindiran. Misalnya, kamu goblok, pendek, dan sebagainya. Nah, sebenarnya bullying itu dikatakan sebagai bullying kalau sudah ada perasaan tertekan, terancam, teraniaya.

Diena Heryana khawatir kalau sampai kita membiarkan bullying, maka yang akan terjadi adalah kekerasan dan tindak kekerasan tersebut terjadi di level yang lebih muda dan lebih muda lagi. Karena itu Diena dan lembaganya menyuarakan stop bullying.

Berikut ini wawancara Wimar Witoelar dengan Diena Haryana.

Saya minta Anda menjelaskan mengenai kekejaman yang berkaitan dengan masa orientasi studi (MOS)?

Terakhir kami menyampaikan konferensi pers di masyarakat karena melihat ada empat anak, tiga pelajar sekolah menengah atas (SMA) dan satu pelajar sekolah menengah pertama (SMP), meninggal dunia dalam kegiatan MOS pada tahun ini. Itu diberitakan media massa yang berbeda-beda. Jadi secara menyeluruh kami yakin media massa tidak melihat empat anak yang meninggal. Setelah kami lihat kembali data korban MOS maka angka pada tahun ini adalah yang paling tinggi untuk tingkat SMA dan SMP. Sebelumnya, pada 2005 ada satu anak SMA meninggal karena kegiatan pasukan pengibar bendera (Paskibra). Pada 2007, ada satu anak SMA meninggal saat MOS. Tiba-tiba pada 2009 ada empat pelajar meninggal. Biasanya kita mendengarkan banyaknya korban pada level pergurunan tinggi. Namun justru sekarang di level perguruan tinggi tidak ada, tapi muculnya pada level SMA dan SMP.

Apakah barangkali itu karena kurang mendapatkan publikasi?

Betul. Kami khawatir kalau sampai hal ini kita biarkan, maka yang akan terjadi adalah tindak kekerasan terjadi di level yang lebih muda dan lebih muda lagi. Jadi, itu Stop Bullying kami suarakan dan sebenarnya SEJIWA sudah menyuarakan mengenai kecenderungan tindak kekerasan yang terjadi di level anak-anak, baik karena orang-orang peer group mereka seperti kakak kelas maupun terjadi karena guru.

Bagaimana maksudnya terjadi karena guru?

Ada guru yang karena ingin "mendisiplinkan" anak-anak menggunakan cara-cara kekerasan. Misal, ada anak ketahuan merokok maka dibawa ke ruangan guru atau kepala sekolah. Lalu diminta merokok sebanyak 20 batang sampai anak itu muntah-muntah.

Jadi guru melakukan kekerasan atas nama kebaikan, betulkah?

Atas nama upaya pendisiplinan

Pendisiplinan tapi dengan kekerasan. Apa namanya kalau murid lawan murid?

Itu bullying. Saya rasa semua ini adalah tindakan ego. Tindakan yang agresif karena mereka tidak mampu mengendalikan emosi. Kalau kita mengatakan kedewasaan emosi maksudnya adalah seseorang yang mampu mengendalikan emosi. Jadi kami khawatir mereka, baik level guru maupun anak-anak, kecenderungan untuk mampu mengatasi emosi masih kurang. Jadi kedewasaan emosi menjadi masalah bagi kita semua.

Dulu saya pernah mengalami namun tidak sampai parah sekali. Jadi saya mengetahui bagaimana tekanan psikologisnya. Untuk orang yang belum pernah mengalami secara langsung, barangkali ada baiknya Anda menceritakan suatu kasus hingga satu derajat tertentu?

Sebenarnya bullying selain secara fisik dan mental, juga bisa secara verbal. Verbal maksudnya cacian dan sindiran-sindiran. Misalnya, kamu goblok, pendek, dan sebagainya. Nah, sebenarnya bullying itu dikatakan sebagai bullying kalau sudah ada perasaan tertekan, terancam, teraniaya.

 

Apakah kalau menyindir orang belum merasa terancam?

Tidak ada masalah. Itu tidak apa-apa. Itu disebut suatu pergaulan saja. Saya beri contoh ada seorang anak, Vivi Kusrini berumur 14 tahun dari SMP di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat meninggal karena dikata-katai oleh teman-temannya sebagai anak penjual bubur.

Kejam sekali tapi sebenarnya tidak masalah menjadi anak penjual bubur?

Sebetulnya tidak ada masalah, tapi ketika itu disampaikan dengan konteks yang melecehkan membuat dia merasa sangat tersudut dan teraniaya. Kebetulan ketika dia takut ke sekolah, di rumah juga tidak ada kenyamanan. Ketika dia tidak ingin masuk sekolah, ia dipaksa masuk sekolah karena orang tuanya tidak tahu persoalan anak yang dihadapi di sekolah tadi. Biasanya korban bullying tidak berani menyampaikan kekerasan yang dihadapinya kepada orang tua, karena adanya fear approach yang dilakukan para pelaku bully.

Apa yang ditakuti, apakah takut dikatakan cengeng?

Saya rasa takut kalau orang tua menyampaikan kepada pihak sekolah, sehingga nanti dia akan lebih dikerjai lagi. Jadi akhirnya dia tidak tahan dengan itu semua lalu dia bunuh diri. Ternyata korban bunuh diri yang kami amati dari 2005 hingga 2007 hampir mencapai 30 anak dari umur 9-15.

Jadi yang kita dengar secara mengenai satu orang bunuh diri tadi belum tentu karena putus cinta atau tidak bisa hidup. Itu mungkin karena tekanan, betulkah?

Betul sekali. Tekanan ini macam-macam bisa karena dianggap berbeda dari teman-temannya, atau ada guru yang merasa seolah-olah tidak bisa lagi mengatasi anak ini mungkin karena dianggap malas dan sebagainya, atau ada orang tua melakukan sesuatu yang menekan anak itu karena tidak sesuai dengan kehendak orang tua.

Anda mengangkat soal ini sangat bagus agar kita mengetahui persoalannya. Apa kira-kira yang harus dilakukan untuk mencegah atau mengatasinya?

Sebenarnya, ada undang-undang (UU) perlindungan anak. Sayangnya, kita dari pendidik dan pihak sekolah merasa belum cukup mendapatkan pencerahan mengenai UU ini. Padahal mereka perlu mengetahui, seperti bila guru melakukan A, B, C, D maka itu sudah termasuk yang kita sebutkan negative disciplining. Padahal mereka perlu pengetahuan mengenai positive disciplining. Positive disciplining adalah mendisiplinkan anak-anak dengan cara berinteraksi, dengan cara-cara suri tauladan, membuat anak itu sadar bukan tertekan dengan kesalahan-kesalahan yang dia buat. Jadi interaktif. Namun untuk pengetahuan mengenai bullying ada ilmunya juga. Sistem anti bullying sudah ada di negeri-negeri maju, sudah ada di sekolah-sekolah. Kami sudah coba menerapkannya.

Bagaimana kira-kira elemen dalam sistem anti bullying itu?

Seluruh pihak sekolah mengetahui ilmu bullying, yaitu pengidentifikasian apakah suatu tindakan disebut bullying atau tidak. Kegiatan-kegiatan yang dianggap rawan terhadap terjadinya bullying lebih baik ditiadakan. Kemudian itu diganti dengan hal-hal yang sifatnya membentuk kerjasama tim di antara anak-anak, misalnya kesenian, band, poster, majalah dinding, olahraga, dan sebagainya. Semua kegiatan itu untuk antar kelas. Menurut saya, ini jauh lebih penting dan guru-guru perlu terlibat di dalam kegiatan-kegiatan itu.

Apa itu bisa ditangani juga oleh pihak pemerintah, misalnya Departemen Pendidikan? Apakah format pendidikan yang sekarang perlu ditinjau lebih luas?

Ketika kami memulai usaha memberikan pemahaman tentang bullying di masyarakat banyak orang yang tidak tahu. Alhamdulilah, sekarang pelan-pelan banyak orang di pemerintahan yang betul-betul berusaha.

Sejauh ini saya melihat approach pemerintah di bidang pendidikan adalah menyampaikan warisan ilmu atau mempersiapkan orang untuk lapangan kerja. Sedangkan mengenai pematangan emosional sedikit.

Saya ingin ilmu tentang bullying menjadi salah satu subyek di sekolah-sekolah. Misalnya, apa itu bullying? Kami menerjemahkan kata bullying saja tidak bisa karena begitu banyak sekali yang terkandung di sana.

Itu pertanyaan saya. Mengapa seakan-akan di Indonesia ini tidak ada pengakuan terhadap adanya bullying? Mengapa tidak ada istilahnya?

Saya rasa kesadaran saja yang belum cukup ada di masyarakat kita. Padahal ilmu ini sudah ada di negara-negara maju karena memang banyak anak-anak yang tertekan dan depresi bahkan bunuh diri sekitar tahun 1970-an. Jadi kita ketinggalan lebih 30 tahun dibandingkan di Inggris, misalnya.

Saya kira mudah terkejar kalau saja program pendidikan pemerintah tidak terpaku pada model yang konvensional, tetapi menggunakan pemikiran seperti Anda, menggunakan paradigma yang baru. Saya kira kita harus merombak program pendidikan pemerintah?

Yang menyenangkan sebenarnya ketika anak-anak tahu bahwa ini bullying, mereka menjaga diri untuk tidak melakukannya. Hal sama juga dengan guru-guru ketika mereka sadar jika itu ada ilmunya.

Setahu saya kasus bullying agak meningkat seperti tadi Anda sempat mengatakan pada 20 tahun terakhir. Mengapa demikian?

Sebenarnya kita melihat memori kita terhadap yang kita lihat, kita dengar dan kita alami. Ternyata ketika anak-anak ini melihat segala macam dari televisi, film, kejadian-kejadian yang mereka alami seperti dicerca, dianiaya oleh teman-temannya atau siapapun sehingga mereka merasa teraniaya, maka memori ini kuat sekali di alam bawah sadar mereka. Nah saya anggap memori ini sebagai input. Outputnya biasanya kejadian yaitu input +1 karena ada imagination dan creativity yang mereka kembangkan untuk mengeluarkan kemarahan dan kekecewaan terhadap yang sudah terjadi pada kehidupan mereka.

Dulu mungkin pada zaman kita, Genk "NERO" seperti Anda lihat di Pati, Jawa Tengah tidak terjadi perilaku anak-anak perempuan mengedor-gedorkan kepalanya. Namun sekarang itu terjadi kurang lebih tiga tahun lalu. Di jalan, ada beberapa anak melakukannya dan itu perempuan semua. Perempuan dengan perempuan. Istilahnya membuat elite group untuk inisiasi masuk ke dalam kelompok mereka. Ini yang saya khawatirkan ke depan yaitu kekerasan akan makin parah kemudian aksi kekerasan ini juga dilakukan oleh pelaku yang levelnya usianya semakin muda. Saya melihat saat ini keluhuran-keluhuran nilai berkurang. Keluhuran itu adalah menghargai orang lain, toleransi dengan perbedaan, kasih sayang, kepedulian, tanggung jawab terhadap lingkungan. Saya pikir itu semua kini menjadi jauh dari anak-anak.

Saya ingin tanya sedikit latar belakang Anda karena barangkali penting untuk menghayati where are you coming from. Setahu saya dari bacaan, Anda adalah seorang pendidik dengan pengalaman internasional, konsultan dalam bisnis dynamics, kemudian dengan Yayasan SEJIWA melakukan seperangkat kegiatan. Yang saya ingin tahu adalah darimana sebetulnya motivasi dan pengetahuan Anda terhadap anti kekerasan?

Saya sebetulnya untuk anti kekerasan ini seperti dikarbit karena mencari pengetahuan di mana-mana. Pendidikan strata satu (S1) saya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta di bagian pendidikan khusus bahasa Inggris. Jadi, saya mengajar di departemen bahasa Inggris. Untuk itu ada Cross Culture Understanding subjek-subjek. Saya selama kurang lebih delapan tahun mengajar di IKIP. Kemudian saya berangkat ke Inggris karena mendapatkan beasiswa dari The British Council. Di sana saya mengambil bidang pendidikan lagi. Kemudian saya membuka bisnis dynamics. Itu merupakan pelatihan-pelatihan yang kami berikan pada bidang korporasi. Yang menarik di korporasi adalah ternyata masalah yang timbul di korporasi banyak ditimbulkan oleh dua macam orang. Pertama, pemimpin agresif yang meng-create anak buahnya yang pasif. Satu lagi, pemimpin yang pasif, tidak berani bersuara dan menyampaikan decision akhirnya dikendalikan anak buahnya yang vokal. Nah dua-duanya meng-create problem. Saya punya hipotesa yang harus saya test. Jangan-jangan ini karena bullying juga.

Jadi, ada orang pelaku bullying dan yang menjadi korban bullying

Justru karena itulah saya masuk di dalam dunia anak-anak. Sebetulnya salah satunya adalah karena faktor yang saya lihat di korporasi tadi. Tapi juga sebenarnya ada sebuah pencerahan yang saya dapatkan kenapa saya harus langsung masuk ke bidang pendidikan yang khususnya mengurus masalah bullying ini. Pada suatu hari saya tiba-tiba mendapat insight untuk menyentuh para guru.

Pekerjaan Anda sebagian besar advokasi, atau problem solving, atau hal-hal yang lain khususnya dalam anti-violence.

Kami pada child’s prevention, juga termasuk promoting, creating the awareness. Dengan membuat buku bersama dengan yayasan SEJIWA, sudah dijual di Gramedia berjudul "Bullying".

Kami juga meng-create lagu dengan SERIUS band. Waktu itu dengan Candil (nama penyanyi SERIUS band membuat lagu berjudul "BULLYING". Jadi kami mengupayakan untuk bekerja di bidang promosi, pencegahan dan perlindungan. Kami perlu banyak bekerja keras, justru itu kami perlu sekali bekerja sama dengan banyak lembaga, individu terutama pemerintah.

Yang menarik, headlines media massa beberapa waktu lalu adalah kekejaman MOS pada tingkat sesudah SMA. Apakah itu beda lagi atau ada hubungannya?

Saya yakin pada level di atas SMA, tapi kami belum mendengar terlalu banyak. Saat ini kami tidak terlalu fokus di sana karena yang lebih banyak kita berikan bantuan pada level remaja.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...