Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Mardigu Wowiek Prasantyo

Melatih Pengendalian Pikiran

Edisi 702 | 31 Aug 2009 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Seperti biasa saya terpaku pada TV setiap hari terutama setelah ada krisis teror. Saya melihat suatu suara segar yang melihat masalah teror ini dari sisi lain yaitu segi manusia pelakunya. Saya tertegun bahwa ada yang bisa dilakukan terhadap perilaku manusia di luar pendekatan-pendekatan yang sudah kita tahu yaitu masuk ke dalam alam pikirannya. Misalnya, orang yang memiliki pikiran seorang teroris dan sudah terprogram menjadi teroris bisa saja diprogram menjadi orang normal dalam keadaan tertentu. Nah, untuk itu kita mempunyai tamu yang sangat kompeten di bidang ini yaitu Mardigu Wowiek Prasantyo. Dia memiliki latar belakang psikologi bisnis dan berbagai aspek psikologi, kemudian di bidang mind center sejak 2004. Dia banyak diminta bantuannya oleh kepolisian dan negara dalam membantu masalah-masalah masyarakat dimana pikiran orang mempunyai peran.

Menurut Mardigu, hipnoterapi biasanya dipakai oleh perusahaan-perusahaan untuk mencuci otak seperti mengubah tabiat yang malas dan suka bad mood menjadi rajin. Jadi yang dicuci motivasinya. Namun itu berbahaya jika digunakan para perekrut teroris untuk tujuan melakukan kejahatan teroris.

Menurut Mardigu, perekrut teroris memiliki "Wow factor" yaitu seperti orang cinta pada pandangan pertama dan itu tidak bisa digambarkan. Para perekrut biasanya memiliki sesuatu yang lebih seperti charming dan pandai berbicara. Charming (red: daya tarik/pesona) menjadi entry point untuk perekrut, tapi diujung-ujungnya entah tiga atau dua jam atau sejam kemudian ia gampang mengeluarkan kata-kata kafir. Jadi ada kata-kata pengkafiran, ini kafir. Nah, itu sudah indikasi seorang perekrut teroris. Itu bedanya antara perekrut teroris dengan orang yang memang benar-benar charming dan pandai bicara.

Berikut ini wawancara Wimar Witoelar dengan Mardigu Wowiek Prasantyo.

Saya akan memulai dengan pertanyaan, bagaimana orang bisa sampai mau meledakkan diri sendiri? Apakah itu karena dedikasi yang luar biasa atau ada faktor lain?

Sebetulnya pertanyaannya adalah apakah dia dengan sadar atau sudah diprogram, atau jangan-jangan dia tidak mengerti apa yang harus dia lakukan. Ternyata jawabannya adalah 100% dia sadar, 100% itu pilihannya. Jadi tidak ada unsur-unsur yang diprogram, ia dengan sadar tetapi kenapa dia mau mengerjakannya, mau membunuh saudara sendiri. Ini yang akan kita bedah lebih dalam lagi. Pertama, pada orang yang disasar teroris ditanamkan sebuah ideologi dan ideologi ditanam paling mudah dengan entry point berupa agama/religi karena ajaran religi itu mutlak dipahami oleh masyarakat tertentu. Jadi religi adalah selalu entry pointnya.

Apakah memang tidak bisa diperdebatkan lagi?

Iya tidak bisa diperdebatkan lagi. Misalnya, suatu hari saya diminta bantuan oleh beberapa teman di kepolisian untuk membedah kembali pikirannya. Membedah itu adalah spesialis saya. Bedah ini bukan dalam artian harafiah membedah otak seperti fisiknya dibuka, tetapi saya melihat peta otaknya. Jadi, ada sebuah periode dalam hidupnya dan kita mundurkan dari titik ia sekarang sampai titik nol. Nah teknik inilah yang saya pergunakan untuk membedah dia, misalnya, dari periode umur 30 ke 29, 28, terus ke bawah.

Apakah itu melalui wawancara dengan yang bersangkutan?

Ya, menggunakan verbal dengan tanpa disadarinya. Namanya, teknik timeline. Saya memundurkan waktu dalam pikirannya, lalu di situ saya mendapatkan pesan-pesan seperti jam sekian hari ini ia ditaruh di sini. Cukup waktu dua jam saya sudah tahu bahwa ada kata-kata yang diulang yaitu, "Berperang melawan musuh Allah, masuk surga karena mati syahid." Kata-kata itu yang diulang-ulang. Nah otak manusia itu lucu sesuatu yang diulang akan menjadi kebiasaan.

Kebohongan kalau diulang terus pun bisa menjadi kebenaran, lalu diulang terus menjadi kebiasaan, kebiasaan diulang lagi menjadi karakter, karakter diulang lagi menjadi tabiatnya, kemudian menjadi believe system dia. Begitu sudah menjadi believe system (red: sistem yang diyakini) maka susah diubah. Ketika believe systemnya, misalnya, mati melawan musuh Tuhan bisa masuk surga maka sang perekrut tinggal mengaktifkan saja bahwa cara teror yang dilakukan ini merupakan upaya membela Tuhan. Cara menanamnya itu sebentar sekali, dalam waktu enam bulan juga bisa.

Proses yang kedengarannya kompleks itu bisa selesai dalam enam bulan. Betulkah sesederhana itu?

Sangat sederhana sekali. Misalnya, Mr. A anak buah Noordin yang menjadi perekrut. Cara mengambilnya adalah melalui orang terdekatnya sehingga sudah secure. Perekrut melihat calon korban sholatnya agak sedikit lama karena memakai zikir, berdoa, dan sebagainya. Nah di situ calon korban didekati oleh si perekrut dengan mengatakan tadi doanya apa, bagus banget. Oh rupanya dia ada sedikit masalah karena itu dia berdoa agak panjang. Lalu si calon korban bercerita kepada si perekrut sehingga timbullah sebuah teknik yang namanya asosiasi. Perekrut mengatakan kepada calon korban bahwa dia juga punya masalah seperti seperti yang dialaminya.Tehnik ini artinya menyamakan dirinya dengan orang tersebut. Kalau seseorang disamakan maka berarti di"tune", sehingga merasa sense of belonging-nya menjadi sama. Setelah sama lalu perekrut mengatakan, saya sewaktu ada masalah seperti Anda saya ketemu orang yang mencerahkan saya, apakah Anda ada waktu bertemu? Sewaktu dia dibawa bertemu orang itu, misal Mr. N, adalah orang yang memiliki daya tarik yang mempesona (charming) dan pandai berbicara. Orang itu memiliki "Wow Factor". Wow factor itu layaknya seperti orang cinta pada pandangan pertama dan itu tidak bisa digambarkan. Saya harus mundur sedikit. Otak manusia di usia 1-5 tahun disebut golden age karena kalau otak itu disebut hardware, maka pikiran adalah software. Software yang membuat pikiran kita jalan. Software di bawah usia lima tahun masih kosong. Jadi setiap nilai ajaran yang ditanamkan ke otak menjadi permanen di template otak. Kalau diajari kasar maka dia menjadi kasar. Kalau kita mau jadi happy parents di situlah periode kita menaruh data yang benar. Kalau kita taruh kata-kata yang tidak benar, misalnya, "dasar kamu nakal" maka otak anak akan menjadi template nakal. Kemudian saat sang anak berusia 18, sang orangtua datang ke saya bertanya, "kok anak saya nakal sekali." Saya mengatakan tidak ada anak yang salah, pasti database-nya yang salah. Hati-hati bagi orang tua yang punya anak di bawah usia lima tahun. Dari usia lima tahun sampai 15 tahun, pada otak manusia tumbuh reticular activated system, seperti membran fiber yang sangat kecil. Di situlah konsep benar-salah mulai ditaruh. Mulai terpisah antara conscious dan sub conscious. Dengan sadar dan bawah sadarnya.

Di dalam teknik "Wow Factor" tadi dimana usia mereka lebih dewasa sehingga rasanya template sudah tertutup, tapi dengan wow factor dapat menjadi terbuka. Begitu membran fiber otak terbuka, proses penanaman nilai/ajaran apapun akan menjadi permanen di dalam template bawah sadarnya. Jadi saat ketemu Mr. N yang memiliki wow factor maka akan terbuka sehingga dia langsung dimasukkan sebuah data.

Apakah Mr. N harus tahu orang-orang mana yang mempunyai potensial?

Ya, begitu Mr. N datang, ia sudah tahu calon korban potensial yang akan dituju. Begitu ia bicara satu-dua kalimat, si korban langsung ternganga, lalu Mr. N menanamkan data tersebut. Begitu proses penanaman data selesai dilakukan maka pada pikiran si korban sudah tertanam sebuah kebenaran baru. Apapun yang dibicarakan Mr. N kepada korban akan menjadi nilai permanen bagi si korban. Itu yang kita coba hindari. Pada orang yang mempunyai kebiasaan latah gampang sekali celah dalam otaknya terbuka. Jadi yang diincar di kejahatan hipnotis adalah orang yang latah, ditarik, tutup mata, lalu tidur, kemudian diambil semua uang dan barangnya. Inilah yang dipakai oleh para perekrut dan itu ada standar operasi prosedurnya (SOP).

Seberapa peka terhadap usia, stadium itu bisa terjadi pada umur berapa saja?

Usia 5-15 tahun yang paling mudah. Sedangkan usia 15-25 tahun itu pembentukan character building.

Kembali pada pembinaan teroris, berapa usia saat mereka direkrut?

15-25 tahun karena berbeda misinya. Kalau kita bicara Noordin, dia selalu ingin proses yang cepat. Itu berbeda dengan cara perekrutan Al-Qaeda yang biasanya memulai proses perekrutan sejak anak bayi sehingga jalannya panjang. Noordin mencari korban yang sudah setengah jadi. Di Pesantren Ngruki (maaf saya sebut nama salah satu pesantren) ini kurikulumnya sudah 90% dibutuhkan oleh Noordin, sudah cocok template-nya. Ia tidak usah repor-repot lagi, tinggal ia tambah 10% sudah belok nilainya. Akhirnya ia mencari yang sudah jadi seperti tadi.

Walaupun Ngruki tidak mengajarkan terorisme ya?

Tidak. Bisa juga Noordin atau si perekrut mencari cara yang lebih cepat yaitu calon korban yang sejak kecil, dari muda sudah mengatakan ingin mati syahid. Misalnya, pelaku bom Kuningan ada yang bernama Asmar Latin Sani. Dari kecil ia sudah menuliskan di buku hariannya, "Saya ingin mati syahid." Begitu ketemu langsung diarahkan sehingga tidak lama mengebom Kuningan. Jadi orang yang seperti ini yang dicari, karena karakter orang seperti itu memudahkan dan mempercepat proses pembentukan pikiran menjadi sesuai yang diinginkan si perekrut. Kalau harus memelihara dan membina akan dibutuhkan waktu lama sekali.

Jadi master mind-nya tidak akan berpikir untuk melakukan sendiri aksi bom bunuh diri tersebut (suicide bomber)?

Tidak, karena tugas seorang master mind adalah recruiter (merekrut orang).

Mengapa tidak ada approach (pendekatan) kepada tempat belajar untuk meninjau kembali kurikulumnya, jika sudah diketahui kurikulum yang diajarkan tersebut membahayakan anak didiknya?

Menurut data, saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sudah melakukan reframing terhadap kurikulum mereka. Tapi kurikulum ini benda mati karena selama yang membawakannya keras tetap saja dia bisa membelokkan lagi.

Ok, itu sedang diusahakan, tapi mungkin selain kurikulum ada faktor lain yang kondusif bagi kekerasan sehingga begitu mendasarnya terpatri dalam keyakinan (believe) itu. Apakah itu masalahnya?

Ya, karena bentuk ajaran sang perekrut sangat Qur’ani sekali versi mereka. Ada kata-kata seseorang dianggap mulia, kalau dia sudah melakukan ammanu, ajahru, jahadu. Kalau dalam terjemahan bebasnya artinya beriman, berhijrah atau pindah dari orang dulu menjadi orang yang baru, dan berjihad. Itu derajatnya dianggap tinggi, dan kurikulum inilah membuat kata-kata jihad itu ditempel.

Kemudian ada satu hal dari yang Anda bahas tadi saya tidak mengerti, mengapa jihad sekarang begitu diarahkan secara khusus kepada Amerika padahal kesatu, pemerintah Amerika sudah ganti, kedua, semua orang setuju dengan politik Obama, dan ketiga, musuh Islam sebenarnya ada dimana-mana. Mengapa hanya difokuskan pada satu negara, dan mengapa itu dipercaya bukan hanya oleh teroris tapi orang yang moderat pun agak terpengaruh pada hal ini?

Jadi sewaktu berjihad, ia sudah memahami jihad sebagai sebuah benda yang sudah dipahami karena masuk ke dalam believe system dia. Biasanya yang paling gampang ia bawa adalah pada akhir zaman ada Nubuah. Katanya, Nabi Muhammad pernah mengatakan pada akhir zaman ada musuh Islam yang bernama Dajal. Ciri-cirinya Dajal itu bermata satu. Lalu ia keluarkan uang satu dollar ada simbol piramida dan mata satu. Inilah Dajal di akhir zaman. Sebenarnya hal itu tidak ada hubungannya. Tapi perekrut harus menimbulkan ’yes’ faktor di dalam pikiran seseorang. Nah, itu teknik biasa di dalam kita merayu seseorang. Perekrut harus mendapatkan 10 ’yes’ dari si korban, maka pada perintah ke 11 akan membuat si korban menurut. Ia harus dapat data yes, yes, yes tadi. Misalnya di dollar, dia akan mengatakan, "Itu lihat kejahatan Amerika, dia membunuh, menyiksa. Lihat Islam sudah dizhalimi." Jadi dapat yes, yes, yes sehingga melawan Amerika adalah berjihad. Lalu pemerintah yang didukung Amerika dan mendukung Amerika juga musuh Tuhan. Jadi korban pada akhir proses sudah menemukan pemahaman baru, yang bahkan sudah berbeda dari karakter aslinya dan itulah yang harus kita hindari.

Apakah kalau Anda bicara dengan satu audience yang Islami tidak dibantah, kalau saya tidak bisa membantah itu karena bukan ahli Islam. Tapi orang Islam mengatakan mana ada kita menyamakan Amerika dengan Dajal?

Itu di pemahaman umum, sedangkan ini di pemahaman perang. Jadi dakwah pun tidak pakai tumpah darah. Mungkin dari 5.000 alumni Afganistan yang masuk Jamaah Islamiyah (JI) cuma 400 orang, dan mereka itu yang suka berjihad lewat darah. Sedangkan yang lainnya berjihad lewat perbuatan. Nah, mereka inilah yang menganggap, dulu dicontohkan perang, perang, perang, ada sebuah kebanggaan. Tetapi dalam sisi psikologi drivenya dia adalah semuanya marah dan dendam. Dia ingin orang lain marah dan dendam juga seperti dia. Itulah sebenarnya musuh yang harus kita perangi.

Di televisi (TV) Anda mengatakan mindset semacam ini sebenarnya bisa diubah. Nah, bagaimana penciptaan kondisi untuk bisa mengubahnya, artinya orang sudah marah dengan Amerika kok bisa dibuat tidak marah lagi?

Periodenya adalah di dalam cuci otak itu, proses yang dilakukan bukan menghilangkan data tapi membelokkan fakta. Saya tidak bisa mengubah semangat jihadnya, marahnya. Nah, nomor satu yang saya ubah adalah medan tempurnya. Bangsa Indonesia saudaramu sendiri, kalau mau perang di sana. Kita salurkan itu sebagai tindakan pertama, atau kalau mau di Indonesia maka kumpulkan kekuatan dan dana untuk ke sana. Jadi saudara kita jangan diganggu, tanah air kita jangan diganggu. Itu yang saya lakukan saat ini.

Apakah ada hasilnya? Kalau sudah ada hasilnya, apakah sudah ada pembuktiannya secara parsial?

Kalau yang di dalam penjara ada lima orang, tetapi mantan teman-teman eks Afganistan mungkin ada 30 orang yang saya pegang langsung. Inilah yang sebenarnya bisa menyebarkan lagi untuk meng-counter teman-temannya.

Apakah prosesnya bertahun-tahun?

Ya, mereka membuat yang sekarang juga bertahun-tahun.

Jadi kalau ada orang yang ditangani maka harus dikerjakan bertahun-tahun dan belum tentu berhasil. Apakah efektif cara ini?

Karena saya sendiri bukan dari sebuah institusi. Kalau kita lakukan secara holistik yaitu mulai dari militer, sistem, dan kemasyarakatan maka ini akan cepat. Yang saya khawatir adalah bukan cara humanis seperti saya lakukan tetapi malah cara kasar yang akan dikerjakan masyarakat. Contohnya, pada 1990-an terutama 1990 sampai 1994 di Kolombia ada seseorang bernama Pablo Escobar yang merupakan Raja Narkoba (drug lord). Dia memegang sekitar 80% kartel kokain. Dengan kekayaan itu membuat dia berada di atas hukum karena semua masyarakat dihidupi oleh dia. Polisi tidak bisa menyentuhnya, tentara tidak bisa, pemerintah tidak bisa karena ia dilindungi oleh masyarakat. Seperti halnya teroris sekarang. Ia dilindungi entah itu sadar atau tidak sadar. Dilindungi karena sifat permisif bangsa kita. Dilindungi karena SOP nomor satu dari handbook of Al Qaeda adalah bersikap santun, tertib, iman. Dimana–mana kalau kita ketemu dengan orang yang santun dan tertib iman maka kita anggap dia orang yang baik.

Saya sering dengar bahwa para perekrut tersebut adalah orang yang charming dan baik. Bagaimana cara membedakan recruiter dengan orang yang betul – betul baik dan charming?

Jadi benar-benar baik dan charming memang betul karena itulah entry point untuk recruiter, tapi di ujung-ujungnya entah tiga atau dua jam atau sejam kemudian ia gampang mengeluarkan kata-kata kafir. Jadi ada kata-kata pengkafiran, ini kafir. Nah, itu sudah indikasi.

Jadi orang yang memakai slogan tadi berbahaya walaupun dia bertingkah laku sangat baik, sopan dan menarik. Tentu slogannya kafir, bukan yang neolib. Lalu, apakah ilmu Anda bisa diterapkan secara massal dan komunal bukan hanya one on one?

Satu persatu atau langsung secara massal dapat dilakukan. Contohnya, sebuah stasiun TV pada 2005 penjualan iklannya turun kemudian dua pimpinannya memanggil saya. Saya cuci otak 70 orang marketingnya sehingga tahun depan iklannya bergerak naik 70% dari sales, ada buktinya. Sejak saat itu saya dipakai oleh perusahaan-perusahaan untuk mencuci otak yaitu mengubah tabiat yang malas dan suka bad mood. Jadi kita cuci motivasinya bahkan kita taruh data baru. Ada sebuah industri otomotif mau meminta cuci motivasi untuk 30 orang selama tiga bulan. Misalnya, kalau ia tidak ketemu klien satu atau prospek satu maka tidak bisa tidur pada malamnya. Itu saya lakukan selama tiga bulan. Tapi tiga bulan kemudian data itu kita cancel, jadi saya bisa lakukan itu dan sudah saya lakukan.

Itulah yang membuat saya jadi kagum sekali bahwa teknik yang bisa dipakai untuk situasi biasa di pasar, ternyata bisa juga dipakai untuk hal yang begitu mencekam dan membunuh seperti yang dilakukan para teroris. Jadi itu bukan alam yang terlalu beda dalam penanganannya. Apakah yang Anda lakukan sekarang, dimana semua negara ada dan bukan hanya di sini, secara represif mempersulit pekerjaan Anda atau melancarkannya?

Saya pernah mencoba mengkampanyekan ini pada 1999, saya menyembuhkan orang yang pakai ganja. Saya langsung kasih rokok, "Ini rasanya ganja", ia langsung percaya kalau itu rasanya ganja. Dia masih fly tapi saya ganti pakai rokok. Dia minta ecstasy lalu saya ganti permen tiktak, dan sebagainya. Ia dapat efek fly, tapi kalau dicek urinenya dia sehat. Pasien saya tersebut setelah tiga kali datang sembuh. Itu pada 1999-2000 dan waktu itu belum ada Badan Nasional Narkotika (BNN). Saat itu pistol sudah berkali-kali datang ke muka kita, "Lu tutup praktek ini kalau tidak mati." Bandar-bandar Narkoba mengancam saya.

Tapi waktu itu saya tetap saja melanjutkan praktek ini karena hal tersebut merupakan bentuk dari kontribusi sosial saya. Lalu, apa yang terjadi? Saat itu ada satu terapis saya yang menjadi korban, ditembak di tempat. Jadi saya tutup saja organisasi itu.