Saiful Mujani
Mutu Polling Tergantung Pembuat bukan Pemesan
Edisi 692 | 22 Jun 2009 | Cetak Artikel Ini
Senang sekali saya, Wimar Witoelar bertemu dengan Anda. Sebagai orang yang sudah lama memperhatikan yang terjadi di Indonesia dan juga yang dikatakan orang lain mengenai perkembangan politik sosial, belakangan ini saya sangat tertegun dan kagum pada hasil yang dicapai oleh lembaga-lembaga polling atau survei. Makin lama kok kelihatan makin akurat. Jadi, tamu kita saat ini Saiful Mujani, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Menurut Saiful Mujani, sumber dana polling dan independensi dalam survei merupakan dua hal sangat penting. Sumber dana merupakan hal penting untuk dapat melakukan polling. Namun independensi hasil polling tidak berkaitan dengan uang. Itu berkaitan dengan profesionalisme, sejauh mana kita melakukan survei sesuai dengan prosedur dan kaidah-kaidah keilmuan.
Saiful Mujani mengatakan tidak mungkin dirinya mengorbankan lembaga surveinya dengan mengeluarkan hasil sesuai dengan pesanan dari yang memberi uang karena ini pekerjaan serius dirinya, bukan hobi dan iseng. Ini pekerjaan akademik dirinya dimana dia hidup dari situ. Jadi, tidak mungkin dirinya mengorbankan itu hanya untuk sesaat beberapa minggu. Karena itu sedapat mungkin semampu dirinya menjaga independensi dan kaidah-kaidah keilmuan yang dilakukan dalam survei itu. Uang bisa datang dari mana saja. Ibaratnya, dari iblis pun akan kami terima tapi untuk soal prosedur dan hasil dari survei adalah tanggung jawab dirinya sepenuhnya.
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Saiful Mujani.
Dunia demokrasi penuh dengan pertukaran pendapat dan setiap orang memberikan pendapatnya secara subjektif. Jadi sangat penting kita punya satu pegangan yang obyektif mengenai persepsi masyarakat. Saya sarankan polling-polling itu Anda ikuti, tidak perlu dipercaya tapi ikuti semua dan bandingkan hasilnya. Saya pribadi kagum terhadap hasil hitung cepat (quick count) yang sangat akurat oleh lembaga Anda sewaktu pemilihan legislatif. Tapi yang sekarang hangat dibicarakan masyarakat adalah hasil survei LSI yang menyatakan perkiraan suara bagi ketiga calon dimana salah satu calon memperoleh suara jauh lebih besar dari yang lainnya. Saya tidak sebut angka, takut salah. Namun ada lembaga survei lain yang memberikan hasil sangat beda. Barangkali Anda bisa cerita mengenai hal itu dulu?
Ya, betul. Ada dua lembaga survei yang menunjukkan hasil sangat berbeda tentang pilihan masyarakat terhadap calon-calon presiden dan wakil presiden. Lembaga saya berdasarkan survei terakhir di lapangan pada 25 sampai 30 Mei menunjukkan kecenderungan masyarakat memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono sangat tinggi, mencapai 70%. Pasangan lain, Megawati-Prabowo meraih 18%, sedangkan Jusuf Kalla (JK)-Wiranto 7%. Sisanya mengatakan belum tahu memilih siapa. Itu merupakan hasil dari satu sisi survei saya yang dilakukan pada akhir Mei. Di sisi lain, kurang lebih pada waktu yang hampir sama dalam pengumpulan datanya, sebuah lembaga survei lain mengatakan JK dengan SBY diperkirakan hanya memiliki selisih sekitar 4-5%, jadi tipis. Suara untuk SBY diperkirakan jauh di bawah 70%, hanya sekitar 30%. Itu artinya dilihat dari sisi kita sebagai orang yang melakukan polling (pollster), pasti salah satu dari dua lembaga itu ada yang salah.
Sebenarnya bukan hanya dua survei itu yang saya perhatikan. Ada beberapa survei lagi tapi metodologinya agak beda-beda. Kesimpulannya adalah semuanya, kecuali satu lembaga yang tadi itu, menemukan pilihan masyarakat untuk sementara kepada SBY di atas 50%. Itu kesimpulan umumnya. Tapi kita juga perlu membuat disclaimer dan ini sangat penting, bahwa polling itu menggambarkan waktu saat kita melakukan survei. Jadi bukan memproyeksikan, bukan memprediksi apakah akan ada satu putaran atau dua putaran. Itu penting sekali. Kalaupun kita mau membuat itu maka syarat-syaratnya sangat susah untuk dipenuhi. Kita tidak bisa sekali survei kemudian memproyeksikan pada pemilihan presiden (Pilpres) 8 Juli 2009 yang bakal menang adalah pasangan ini. Itu terlalu gegabah dan tidak memenuhi kriteria survei yang baik.
Kalau tidak salah dengar, Anda juga melakukan tracking sesudahnya terhadap isu yang sama. Seberapa sering tracking itu dilakukan?
Sebenarnya kalau tracking untuk tiga pasangan ini belum dilakukan. Kita baru sekali survei. Kalau hanya calon presidennya saja, seperti Megawati, SBY dan JK, kita sudah melakukannya cukup lama hampir lima tahun sejak pemilihan umum (Pemilu) 2004 selesai. Saya punya survei reguler hampir setiap tiga bulan dengan pertanyaan yang sama diajukan, yaitu kalau Pilpres diadakan sekarang siapa yang akan Anda pilih dari nama-nama di bawah ini. Yang menarik adalah persaingan yang terlihat selalu antara Megawati dan SBY. Kalau Megawati naik, SBY turun, begitupula sebaliknya. Sedangkan JK cukup konsisten berada di bawah. Stabil tapi di bawah angka 3%. Kalau dalam survei saya saat ini JK mendapatkan 7% suara, maka itu sudah kemajuan dari awal hanya 3%.
Apakah dari akhir Mei sampai sekarang sudah ada update?
Pada akhir pekan ini kita mulai di lapangan lagi, yaitu pada 20-22 Juni 2009. Mudah-mudahan hasilnya sudah ada.
Anda melakukan survei ini untuk siapa, dibayar oleh siapa, dan untuk dipublikasikan oleh siapa?
Untuk survei terakhir adalah tim sukses SBY, dalam hal ini Fox Indonesia yang membayar kita sampai akhir Mei 2009. Sebelumnya dengan angka perolehan yang tidak banyak berbeda itu Fox Election Survey sampai pertengahan April bekerja sama dengan Ohio State University. Kita punya riset dan pertanyaan yang sama. Itu tidak terlalu berbeda. Kita harus terbuka tentang sumber keuangan supaya masyarakat bisa menafsirkan sendiri dengan informasi yang cukup.
Saya kira seperti polling di Amerika ada yang dibayar oleh Partai Demokrat, Partai Republik, atau CNN. Apakah memang harus ada yang bayar?
Kita tidak punya mesin cetak uang. Kita melihat ada kontroversi tentang pengungkapan sumber dana saya yang terakhir. Ketika saya menyebutkan yang membiayai ini adalah tim sukses SBY-Boediono, mungkin ini sesuatu yang baru. Saya merasa cukup dikritisi tapi saya senang karena ada kesempatan menjelaskan dan saya merasa telah memulai tradisi baru keterbukaan di dalam riset kita. Itu supaya orang bisa melihat dan menilai dari berbagai sisi kemungkinan obyektif atau tidak obyektif. Kalau percaya pada hasil survei yang saya lakukan silakan, kalau tidak percaya silakan. Sumber dana dan independensi kita dalam survei itu sangat penting. Satu hal bahwa sumber dana itu penting adalah pasti. Hal lain yang berkaitan dengan independensi itu tidak berkaitan dengan uang. Itu berkaitan dengan profesionalisme, sejauh mana kita melakukan survei itu sesuai dengan prosedur dan kaidah-kaidah keilmuan kita. Tidak mungkin saya mengorbankan lembaga saya, dengan mengeluarkan hasil sesuai dengan pesanan dari yang memberi uang karena ini pekerjaan serius saya. This is my life, bukan hobi dan iseng. Ini pekerjaan akademik saya, saya hidup dari situ, tidak mungkin saya mengorbankan itu hanya untuk sesaat beberapa minggu. Karena itu sedapat mungkin semampu saya menjaga independensi dan kaidah-kaidah keilmuan yang dilakukan dalam survei itu. Uang bisa datang dari mana saja, namun untuk soal prosedur dan hasil dari survei adalah tanggung jawab saya sepenuhnya.
Polling ini menarik bagi saya karena hasilnya sangat diikuti tapi industrinya juga sangat berkembang. Apakah kematangannya sudah tercapai karena kalau menurut saya ketepatan dalam hitung cepat menunjukkan sudah matang, apakah ada yang akan Anda kembangkan?
Mudah-mudahan berkembang. Pertama, secara umum dilihat dari perkembangan ilmu sosial dan dari politik kita memang ini tradisi baru. Di zaman Orde Baru tidak mungkin kita menanyakan masyarakat tentang preferensi politik, bunuh diri itu namanya. Saya memulai ini dari Pemilu 1999. Awalnya yang relatif cukup rutin adalah LSI. Dari waktu Pemilu 2004 dan juga sewaktu Tsunami Aceh. Pengguna jasa kita dari domestik dan internasional. Saya melihat ada perkembangan dan ada beberapa yang muncul. Kini kita memiliki asosiasi profesi survei. Totalnya yang menjadi anggota ada sekitar 26. Yang saya sangat tahu persis kualitas dan kemampuan kerjanya ada lima yang bisa saya rekomendasikan.
Apa saja lima lembaga itu?
LP3ES, Pusat Kajian Politik (Puskapol) Jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), CIRUS Survei Group, CSIS, dan REFORM Institute. Itu yang saya tahu kinerja dan hasil kerjanya. Sejauh ini menurut penilaian saya memenuhi kriteria yang seharusnya dilakukan oleh pollster.
Saat ini ada enam orang yang sportif sekali masuk ke gelanggang Pilpres. Mereka tidak marah Wketika ditanya wartawan, dipolling, dan bahkan ketika ada yang mendemo kemarin.. Saya bertanya kepada Anda sebagai political scientist selain pollster, mengapa orang-orang itu langsung sepakat untuk bekerja secara demokratis, sehingga kini tinggal sedikit orang yang bekerja di luar jalur demokrasi karena orang yang paling tidak terlalu demokratis masih mau menjadi cawapres begitu. Apa gejala ini?
Saya kira keenam orang tadi yang maju ke arena kontestasi itu dari orang yang jumlahnya sangat sedikit. Bagaimanapun mereka adalah elit diantara yang tidak. Dilihat dari resource yang mereka miliki, mungkin terkait political effecacy, yaitu merasa dirinya penting dan bisa memimpin. Dalam hal ini sedikit jumlah orang yang seperti itu. Nah dengan adanya demokrasi justru itu merupakan satu arena yang memberikan peluang sebaik-baiknya untuk orang-orang seperti ini. Karena itu saya kira orang seperti Prabowo, Wiranto memiliki political effecacy yang sangat kuat, di satu sisi juga punya keyakinan.
Apa itu political effecacy?
Artinya, dia mempunyai keyakinan tentang dirinya bahwa dirinya mampu memimpin, dirinya sangat penting untuk bangsa ini. Orang-orang semacam ini sangat dibutuhkan secara sosiologis. Masalahnya kalau orang tidak percaya diri, susah juga mencarinya kalau semuanya begitu. Dengan adanya demokrasi maka demokrasi menjadi arena yang bisa mengakomodasi orang semacam ini. Coba kita bayangkan bagaimana jadinya jika orang yang punya effecacy yang sangat kuat, sementara arenanya tidak memungkinkan. Misalnya, di zaman Orde Baru tidak mungkin orang-orang seperti ini muncul ke permukaan. Karena itu demokrasilah yang sebenarnya membuat orang-orang yang mempunyai political effecacy itu kemudian muncul ke permukaan dan mau bersaing, dan mudah-mudahan siap untuk kalah juga.
Seperti di film-film, preman-preman yang dulu berantem di jalan sekarang mau masuk klub tinju dan bertinju secara profesional sehingga pukul-pukulan diatas ring. Apakah Anda pernah membuat polling mengenai seberapa permanennya kesediaan orang untuk ikut mekanisme demokrasi, katakanlah, jika orang-orang yang preman tadi kalah bakal ribut lagi atau tidak?
Jumlah orang-orang yang semacam istilah Anda tadi sedikit. Dalam demokrasi biasanya orang yang sedikit walaupun dia tidak bersedia menerima kekalahan tidak mungkin melawan puluhan juta orang. Nah, di situlah demokrasi. Yang terpenting dalam menyikapi menang dan kalah di demokrasi adalah selain aktornya sendiri, apakah sikap masyarakat kondusif atau tidak untuk mendukung.
Jangan mau menerima orang yang tidak sportif. Apakah kira-kiranya seperti itu?
Persis, dasarnya seperti itu. Saya punya polling cukup rutin mengenai seberapa yakin bahwa cara-cara demokratis adalah sistem yang terbaik untuk bangsa kita. Hasilnya menunjukkan keyakinan besar.
Kalau begitu cepat dong keyakinan itu tumbuh, betulkah?
Ya, cukup cepat. Saya punya perbandingan studi di dunia karena kebetulan saya anggota para ahli untuk studi demokrasi di dunia. Negara kita termasuk memiliki masyarakat yang sangat bagus dalam menyikapi demokrasi di Asia. Misalnya, orang yang percaya bahwa demokrasi adalah sistem terbaik walaupun itu bukan yang sempurna. The Lesser Evil sistem politik itu adalah demokrasi 80%, yang dalam tracking saya berkisar antara 70-80%. Itu artinya kita cukup bagus memiliki keyakinan terhadap demokrasi. Memang ketika ditanya seberapa puas atau seberapa tidak puas Anda dengan pelaksanaan demokrasi negara kita, ada yang menjawab tidak puas tapi itu soal lain lagi.
Ini ada satu pertanyaan langsung kepada Anda sebagai pollster, apakah Anda tidak mendapat tekanan dari orang-orang yang kira-kiranya bakal kalah sehingga diminta untuk sedikit mengakomodasi citra atau keinginan mereka? Apakah Anda pernah diuber-uber, diancam, atau akan disuap?
Kalau mengancam tidak, tapi mendapat persuasi sangat sering. Saya hanya tertawa saja melihat itu. Sekarang bentuk tekanannya lain, ketika saya merilis hasil data, mereka cukup menyerang saya di media bahwa saya melakukan mobilisasi dan saya sudah partisan. Tuduhannya seperti itu. Padahal saya hanya memberikan informasi semacam itu. Namun saya juga harus memahami posisi mereka, biasanya yang menyerang saya adalah tim sukses. Saya sebut saja secara eksplisit tim JK-Wiranto. Ketika tim sukses melihat dalam polling saya menunjukkan JK-Wiranto hanya memperoleh 7%, mereka marah sama saya. Namun saya harus mengerti kemarahan mereka karena hasil polling merupakan salah satu bentuk evaluasi terhadap kinerja tim sukses.




