Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Iwan Piliang

Lindungi SDM Indonesia

Edisi 687 | 18 Mei 2009 | Cetak Artikel Ini

Seorang mahasiswa muda Indonesia bernama David Hartanto Widjaja berkuliah di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura meninggal dunia di kampusnya. Muncul berbagai macam spekulasi pemberitaan, antara lain ada yang menyebutkan almarhum adalah pelaku penusukan ke seorang profesor di kampus tersebut. Namun perkembangan pemberitaan dan spekulasi terus meluas sampai ada beberapa kesimpulan yang lain, dan ini memunculkan niat dan tekad dari keluarga almarhum untuk mengungkap secara jernih, jelas, tuntas kasus ini siapa yang sebenarnya bersalah dan apa yang sebenarnya terjadi. Bersama saya hadir Iwan Piliang yang sekarang ditunjuk sebagai Ketua Tim Verifikasi Kasus David Hartanto Widjaja.

Iwan Piliang mengatakan dirinya secara sukarela menjadi Tim Verifikasi kasus kematian David Hartanto Widjaja, yang masuk Tim Indonesia untuk Olimpiade Matematika di Meksiko 2005. Prinsipnya, setinggi apapun bangsa ini beradab bahkan mengatakan teknologinya mampu mencapai langit ke tujuh, tapi jika sesosok nyawa dibiarkan mati seperti itu dimana jiwa kita sebagai manusia.

Menurut Iwan Piliang, seharusnya sumber daya manusia (SDM) juga dinilai sebagai aset. Jadi jangan melihat SDA saja sebagai aset tapi SDM juga. Kita harus lebih menghargai sesuatu yang intangable yaitu sesuatu yang berkaitan dengan karya otak. Kalau kita commit bahwa sisi intangable lebih tinggi dari yang tangible, maka kita baru bisa menghargai anak-anak brilliant bahwa itu juga aset sama seperti aset berupa mining dan coal. Jadi kita harus mengubah paradigma bahwa SDM penting untuk kemajuan bangsa lebih-lebih SDM yang mumpuni harus dilindungi dan diselamatkan negara dengan didukung pembiayaanya, kemauannya untuk berbuat sesuatu.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Iwan Piliang.

Bagaimana perkembangan yang sudah dicapai dari tim verifikasi dalam kasus kematian David Hartanto Widjaja?

Saya pribadi melihat belum banyak kemajuan karena kita belum mendapatkan saksi kunci dari kematian David Hartanto Widjaja hingga hari ini setelah persidangan First Mention Coroner Court. Saya perlu memberi gambaran juga ke pembaca, di Singapura untuk kasus pembunuhan atau bunuh diri atau kecelakaan masuk ke pengadilan Coroner Court, yaitu pengadilan yang membatasi wewenang negara. Dalam hal ini wewenang untuk membuat Surat Penghentian Pemeriksaan Perkara (SP3). Kalau di sini hal itu ada di polisi dan kejaksaan, sedangkan di Singapura ada pengadilan khusus untuk itu. Keputusan SP3 atau tidak ada di Coroner Court. Pada 12 April 2009 sudah berlangsung first mention dimana lawyer, orang tua, atau next of keen, penyidik, hakim, penuntut hadir dan bicara. Pada 20 dan 26 Mei 2009 akan dilangsungkan Coroner Inquiry. Pengadilan itu di sebuah ruang di gedung yang bernama Subordinate Court di Singapura.

Apakah sejauh ini belum ada saksi kunci?

Nah, yang menarik ketika saya hadir di situ mendengar Hakim Pieter Yeo mengatakan mereka akan menghadirkan paling tidak 16 saksi, antara lain termasuk Profesor Chan Kap Luk. Berdasarkan keterangan resmi dari Nanyang Technological University (NTU), pada 2 Maret Profesor Chan Kap Luk dinyatakan ditusuk David, kemudian David melukai nadinya, dan lompat bunuh diri. Nah, Chan Kap Luk akan hadir pada 20 Mei sebagai salah satu saksi. Namun kami dari tim verifikasi melihat ada penggalan di tempat kejadian peristiwa (TKP) yang sengaja ditutupi. Pertama, di ruang Chan Kap Luk. Lalu di tangga darurat ketika David lari, dan di jembatan saat ia melompat yang menurut versi mereka ada banyak saksi di situ. Versi mereka mengatakan David melompat dari jembatan kaca yang ada di lantai empat gedung tersebut dan ada satu orang yang memvideokannya. Informasi terbaru yang kami peroleh rekamannya melalui handphone. Namun itu sebuah penggalan, dan penggalan di dua titik lainnya belum ketemu, sedang kami lengkapi saksi-saksi yang akan kita cari.

Menurut Anda, apa yang aneh?

Yang aneh adalah kebetulan ada foto-foto yang beredar di internet dan itu dipotret oleh wartawan The Strait Times dan dimuat di blog The Strait Times menunjukkan di lantai ruang Chan Kap Luk sudah bersimbah darah, di tangga juga begitu. Mungkin itu juga akal-akalan The Strait Times untuk bicara ke publik karena pers di sana seperti kita di zaman Orde Baru bahkan lebih parah.

Apakah itu artinya kejadian sebenarnya sudah berlangsung?

Sudah berlangsung sebelum David ada di tangga. Yang menarik juga hasil otopsi menunjukkan lengan kanan bagian luar David bolong tembus ke bagian dalam. Saya membaca otopsinya dan otopsi itu dilakukan badan independen walaupun diragukan juga. Menurut keterangan pengacara yang ditunjuk keluarga, otopsi itu dilakukan seorang profesor bernama Gilbert Lau, yang cukup kredibel seperti Muniem Idris di sini.

Bagaimana kesimpulan sementara tim verifikasi, apakah kira-kira David ini pelaku atau korban?

Ketika kami kembali dari Singapura yang pertama, saya mengatakan 99% David dibunuh. Tapi ketika kami dua kali ke Singapura, saya mengatakan David dibunuh. Saya tidak memakai presentase lagi. Artinya, ditambah dengan keyakinan bahwa ada luka bagian luar, tusukan bagian luar kanan, dan luka dua baris atas bahu bagian luar. Jadi kelihatan dia mempertahankan diri dengan tangan. Kemudian dari 36 luka, sebanyak 14 luka akibat benda tajam, sisanya lebam. Bagian leher yang ditutupi plester merupakan luka dalam juga. Saya tidak menyebut itu cekikan karena hasil otopsi juga tidak mengatakan itu bekas cekikan, tapi luka dalam, memar begitu.

Apakah tidak ada semacam gambaran bahwa ini terjadi perkelahian?

Dari hasil otopsi yang kami baca, David mempertahankan diri bukan sebaliknya, dan dia juga bukan kidal. Kalau seumpama kamera rekaman di tangga mengatakan dia melukai nadinya, sedangkan dia tidak kidal. Nadinya yang luka ada di sebelah kanan dan itu bolong, tembus dari bagian luar. Itu berarti dia menahan tangkisan, itu jelas.

Kalau melihat proses pengadilan yang sekarang berlangsung dan situasi di Singapura baik politik maupun dorongan dari masyarakat, apakah Anda optimis ini bisa terbuka?

Kalau pada jam dan hari ini ketika wawancara berlangsung digelar sidang Coroner Inquiry, kita kalah 100% karena kita tidak mempunyai saksi signifikan di dua ruang tadi yang disebut disaksikan saksi mata. Nah, saya sebetulnya berharap negara terlibat. Dalam hal ini interpol, jadi intelijen kita Indonesia ikut terlibat begitu. Namun mereka terhambat oleh batasan-batasan hubungan kenegaraan. Sementara kami yang punya kesempatan dan bisa lintas menerobos jalur resmi tidak mempunyai kekuatan energi untuk menambah SDM, biaya, dan segala macamnya.

Apakah interpol sebenarnya memiliki keinginan untuk terlibat?

Mereka memiliki keinginan terlibat. Terakhir mereka mengirim tiga orang ke sana sesuai dengan keterangan Polri dimana orang tua hadir dan saya juga hadir waktu itu. Namun hambatan birokrasi membuat mereka tidak bisa menusuk ke jantung yang kita butuhkan.

Sejauh ini belum terungkap motif dari kasus ini karena saya kira setiap kejadian pasti ada motifnya. Apa kesimpulan sementara tim verifikasi untuk motifnya?

Pertanyan yang sulit dijawab. Saya perlu memberi garis latar bahwa saya bukan investigator. Itu penting karena saat ini seakan-akan tersosialisasi saya adalah investigator. Saya hanya seorang blogger yang concern peduli terhadap masalah ini. Saya menulis masalah-masalah yang tidak banyak ditulis oleh media mainstream. Kematian-kematian lain juga saya tulis. Nah, pada kasus ini tugas saya memverifikasi secara jurnalistik. Saya menggunakan kaedah dari buku yang ditulis Bill Kovach tentang sembilan elemen jurnalisme. Kata Kovach, esensi jurnalisme adalah verifikasi bahan yang tertulis. Dari bahan yang tertulis didapat keterangan bahwa David melakukan riset menggunakan open source yang namanya Computer Vision (CV). Menurut Doktor Ary Setijadi dari Institut Teknologi Bandung Bandung (ITB), ada dua muara untuk riset tersebut, yaitu untuk entertainment dan militer. Anda kalau ke ITB ada Digital Scene Mapping Area Correlation (DSMAC) yang baru dibuat ITB. DSMAC itu untuk misil bisa tepat sasaran. Software DSMAC dibuat dari program open CV. Aplikasi itu pertama kali dikembangkan Intel Corporation. Tahun 1994 mereka merilis yang masih pro priatery, lalu mereka menjadikan open tahun 1998 dan versi terbarunya keluar pada 2001. Kemampuannya untuk mengkompres data sangat tinggi.

Apa yang berkecamuk di kepala Anda sejauh ini dengan motif tadi?

Jadi kembali saya tegaskan kalau motif itu sangat sulit. Namun kita taat kaedah pada yang namanya bahan tertulis yang kita dapat. Riset David itu kira-kira kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah bagaimana mengakuisisi data dari multi kamera, istilah dia bisa dilihat multiview, untuk bagaimana kemampuan tiga dimensi display dan dipakai untuk kepentingan surveillance, pengintaian. Nah judulnya saja sudah seperti itu. Menurut Ary Setijadi, Doktor di bidang itu yang belajar di Linch, Austria dan baru membuka jurusan yang sama dua tahun lalu di ITB, ada dua muara untuk judul penelitian tersebut yaitu entertainment dan militer. Saya tidak mengatakan langsung ke militer, tapi kita bisa meraba ke mana arah barang ini. Apalagi President NTU Su Guaning pernah menjadi Chairman dari Defense Security Technology Agen (DSTA). Sedangkan Chan Kap Luk, Ketua Jurusan yang dilaporkan dilukai David di ruangannya, menempuh studi yang sama mengenai Open CV. Su Guaning belajar Open CV di Kanada, sedangkan Chan Kap Luk belajarnya di Inggris.

Apakah itu artinya ada benang merahnya?

Benang merahnya lebih menguat lagi saat memperhatikan peristiwa empat hari setelah David meninggal ada seorang project officer bernama Zhou Zheng masuk bekerja hari pertama sebagai project officer dimana laboratoriumnya juga sama dengan David di Open CV. Pada hari pertama bekerja biasanya dia mengambil kartu digital, yang harus diendorse oleh tiga profesor. Nah pada jam-jam pagi itu dimana saat David meninggal, kita memperkirakan Zhou Zheng ada di ruang Chan Kap Luk. Ternyata Zhou meninggal empat hari kemudian. Kata polisi, dia gantung diri tapi fakta mengatakan ada foto dia sudah di lantai dan hanya tali yang ada di atas.

Apa yang Anda ceritakan terakhir ini mengingatkan saya pada bacaan novel tentang kriminalitas dan saya kira kasus ini menjadi semakin kompleks. Tapi saya ingin kembali ke soal lain. Apa yang membuat Anda tertarik untuk terlibat di tim verifikasi karena Anda tidak mempunyai hubungan langsung dengan keluarga ini?

Sebelum menjawab, saya merinding karena saya ibarat singa yang luka. Saya sakit hati. Sebelum wawanncara ini saya mengatakan ke teman-teman di sini bahwa di Pamulang ada seorang wanita diperkosa dan koma lima hari, tidak bisa dibawa ke rumah sakit, dirawat oleh warga biasa di pos ronda dan mati begitu saja. Dimana peran negara? Mungkin Anda masih ingat. Saya pribadi menulis sebagai blogger, dan saya mengatakan kepada diri saya, setinggi apapun bangsa ini beradab bahkan mengatakan teknologinya mampu mencapai langit ke tujuh, tapi jika sesosok nyawa dibiarkan mati seperti itu dimana jiwa kita sebagai manusia. Kematian-kematian yang lain saya lihat begitu. Jadi ketika kasus ini saya lihat di televisi, kebetulan saya menonton Channel News Asia, saya langsung punya feeling ada sesuatu yang tidak benar. Saya membuka blog The Strait Time ada foto-fotonya, kemudian ada Christovita Wiloto yang tinggal di Singapura tapi memiliki bisnis di sini meng-upload beberapa foto di facebook. Wah kecurigaan saya makin jadi. Kemudian saya menemui keluarga ini. Tadi saya katakan kalau media tidak penting hal-hal deskriptif, tapi bagi saya sangat penting. Saya ketemu dengan orang tuanya. Saya datang ke rumahnya, ibunya menghidangkan apel yang sudah dipotong empat. Kalimatnya begini, "Kami tidak punya apa-apa Mas Iwan. Saya juga baru mengupas apel hari ini, makanlah. Anak kami dari kecil tidak pernah pegang pisau. Bahkan mengupas buah juga tidak, kalau pun makan buah lebih memilih jus. Sekarang dikabarkan anak kami menusuk profesornya. Saya nggak berani masak, saya belum masak sampai hari." Dari pembicaraan itu berarti ada sesuatu lagi yang saya temukan. Sejak dia kecil tidak pegang pisau. Ini dilupakan media dalam melihat sesuatu. Dari situ saya teruskan berupa dukungan publik melalui blog untuk membantu saya. Saya katakan, "Saya akan verifikasi terus hal ini." Sampai hari ini sudah 11 sketsa saya tulis di blog. Rata-rata di atas 1.000 kata bahkan untuk kasus David ini rata-rata 1.500 kata lebih.

Anda memang tidak punya kewenangan lebih jauh selain sebagai citizen reporter, tetapi tentu saja ini ada lika-likunya, banyak suka dukanya. Bagian mana yang menurut Anda menarik sebagai seorang yang memotivasi diri sendiri seperti pergi ke sana dengan segala macam keterbatasan tapi di sisi lain juga punya ruang yang kalau petugas resmi barangkali justru lebih terbatas?

Jadi untungnya saya, kalau masuk ke kampus walau umur sudah 45 masih bisa bergaya mahasiswa. Jadi bisa merasakan ke TKP sampai lima kali. Bahkan sudah mencoba melompat ke kaca itu. Pintu ke ruang Chan Kap Luk memakai digital security, nah saya nongkrong di dekatnya. Ketika ada profesor yang keluar dari ruangannya saya tahan pintunya. Nah langsung saya menyelinap. Oh, benar ini ruangannya. Malah saya sampai tahu ada satu profesor di sebelahnya persis bernama Profesor Chang Chong Hwa, tapi tidak satu bagian studi dengan Chan Kap Luk. Kita akan meminta dia menjadi saksi juga. Saya pernah bertanya ke satu mahasiswa dan jawabannya menarik. "Riset David itu level Phd loh, kenapa dia harus mati." Nah hal demikian tidak mungkin dilakukan oleh lembaga formal, bahkan intelijen kita sekalipun.

Apakah sejauh ini Anda tidak ketahuan?

Mereka mungkin tahu. Mungkin sudah dianggap kasus kecelakaan, ibarat sebuah busur sudah kadung lepas begitu. Kali kedua saya ke Singapura, saya diinterogasi di Bandara Changi. Setiap pulang yang saya merasa ngeritakut. Saya selalu melihat ke belakang karena saya selalu pulang malam. Saya tinggal di hotel backpacker, 12 orang sekamar demi penghematan karena harganya Sin $ 25 per malam. Nah, demi hemat juga di sana saya naik mass rapid transportation (MRT), naik bus, jarang sekali naik taksi.

Apakah selama ini Anda seorang diri?

Saya sendiri tapi Alhamdullilah beberapa alumni NTU ada yang peduli sehingga mereka membantu saya dengan info bahkan membantu kekurangan dana.

Bagaimana respons mahasiswa Indonesia khususnya yang di sana?

Situasi mahasiswa Indonesia di sana terintimidasi dan mereka mengakui itu karena harus meng-endorsedukung seluruh rilis NTU. Nah satu dua diketuk pintunya, ada juga yang mau bicara. Bahkan di sketsa yang saya tulis di blog ada dialog saya dengan Hardian yang dipanggil Acong. Di situ akhirnya ketahuan dia berbohong. Saat berdialog dengan saya, semula dia mengatakan bertemu orang Iran yang menyaksikan dan sempat mengatakan David berbicara, "should I jump?" Nah saya ditanya apakah orang Iran tersebut cewek atau cowok, dia tidak bisa menjawab. Kemudian pertama dia mengatakan bertemu orang Iran itu lalu mengatakan tidak. Jadi saya kayak penyidik di lapangan, pinjam ruang Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). KBRI saja tidak melakukan itu. Saya melakukan itu, lebih kepada verifikasi.

Apakah KBRI membantu Anda?

Membantu menyediakan tempat. KBRI selama ini memfasilitasi keluarga, sebetulnya tidak lebih dari itu.

Apa yang ingin Anda sampaikan terutama pada masyarakat Indonesia dan juga mahasiswa Indonesia yang ada di Singapura terutama dalam kasus ini?

Kepada teman-teman mahasiswa Indonesia di NTU yang ada sekitar 600 orang, saya ingin mengetuk pintu hatinya. Kalau memang mengetahui sesuatu maka bicara apa adanya karena KBRI di Singapura juga mengatakan menjamin keamanan kalau kalian mau bersuara. Jadi jangan takut menyampaikan sebuah kebenaran. Ini harapan saya kepada teman-teman di sana. Kedua, mungkin ke pemerintah. Sekarang kita bukan hanya kebudayaan saja yang mundur tapi peradaban sudah di telapak kaki. Saya mengatakan demikan karena sisi – sisi yang intangible asset itu terus kita rendahkan seperti sesuatu yang berkaitan hati dan karya otak tidak diberi nilai. Kita memberi nilai pada sesuatu yang fisik, kita memberi nilai pada sebuah brand seperti pada sebuah jaguar dan range rover. Akibat terimplementasi pada hal-hal demikian sehingga siapa yang mau peduli pada seorang Devi yang diperkosa sampai koma lima hari dan dibiarkan begitu saja. Pada kasus David lebih gila lagi. Dia pernah membawa nama baik bangsa ikut sebagai Tim Indonesia untuk Olimpiade Matematika di Meksiko 2005. Namun kemudian diambil Singapura dengan diberikan beasiswa karena kecemerlangan otaknya, lalu ia membuahi sebuah riset yang kemungkinan menghasilkan sesuatu. Kita juga diam ketika David yang pintar tapi kemudian disosialisasikan oleh kampusnya sebagai seorang yang brutal karena sisi intangible itu tidak pernah kita anggap aset.

Apakah pemerintah seharusnya berbuat lebih jauh dari sekadar mengirimkan anggota tim?

Saya rasa demikian bahkan saya selalu mengetuk pintu hati presidenPresiden kita. Junior saya di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dulu Ali Said diculik anaknya, tapi kemudian presiden Presiden memakai kelembagaan presiden berbicara untuk penculikan tersebut. Mengapa sekarang diam, apa karena sibuk Pemilu, Pilpres, dan lain-lain? Betapa naifnya, triliunan rupiah kita kucurkan ke Pemilu, tapi begitu bicara sisi intangible tidak diperhatikan. Lihat, saya sesak napas untuk berangkat ke Singapura. Untung ada pembaca saya yang membantu dan saya harus berhemat dan lain-lain. Jadi saya mengatakan ini sebuah perbuatan yang tidak ada arti apa-apa tapi lebih kepada keterlukaan hati. Kita merasa sakit sebagai bangsa.

Dalam gambaran Anda banyak sekali kasus-kasus baik pemerintah maupun masyarakat yang barangkali tidak menganggap itu masalah serius. Saya kira masyarakat juga perlu disampaikan bahwa ini tanggung jawab bersama. Apakah barangkali kita perlu lembaga-lembaga atau badan-badan yang secara khusus yang dibentuk masyarakat?

Kita ini belakangan kebanyakan badan-badan ad hoc. Saya rasa bukan perkara badan atau lembaga yang dibentuk masyarakat, tapi lebih kepada cara pandang, cara pikir terhadap sesuatu masalah yang sudah salah. Saatnya barangkali kita kembalikan lagi ke yang benar. Kalau kita jor-joran untuk sisi non intangible atau kita mendewakannya terus maka saya anggap kita kiamat. Kalau kita commit bahwa sisi intangable lebih tinggi dari yang tangible, maka kita baru bisa menghargai anak-anak brilliant bahwa itu juga aset sama seperti aset berupa mining dan coal.

Sekarang kita coba kembali ke kasus ini. Selain saksi kunci yang bisa bicara untuk membuka kasus ini, apakah ada atau tidak orang lain yang barangkali bisa menguaknya?

Hari ini kebetulan saya buru-buru kemari karena kami akan berangkat ke Singapore, berdua bersama Rudy Zukri Alamsyah yang merupakan satu-satunya orang Indonesia ahli digital forensic. Nah, hard disk laptop David berkapasitas 250 gyga, dia memakai IBM thinkpad 60 dan cukup highend untuk ukuran orang yang memakai notebook. Laptop itu diambil polisi tanpa memakai serah terima dengan orang tua. Padahal serah terima perlu juga untuk melengkapi yang namanya hasing data yaitu apa saja isinya. Kalau digital signature di hasing data itu 32 byte maka kita mengubah koma di dalam ketikan word saja bisa bergerak angkanya. Itu pun tidak diserahkan oleh polisi Singapura. Yang menarik ketika kami ke Jurong West Police Office, hanya orang tua yang boleh masuk. Polisinya mengatatakan, "Kami salah satu polisi yang terbaik di dunia, pasti bekerja sebagaimana adanya." Sayang saya tidak bisa ikut ke dalam. Kalau saya ada di dalam maka saya akan mengatakan, "Anda mengaku salah satu yang terbaik di dunia tapi begitu serah terima mengambil barang bukti saja tidak serah terima ke keluarga." Hari ini saya membawa orang yang mau bekerja probono. Kita minta ke polisi resmi besok untuk clonning data hard disk itu, kita juga bisa digital forensic sendiri dan kita sudah koordinasi dengan digital forensic di Amerika dan Inggris. Mereka memakai hukum Inggris maka seharusnya kita bisa mendapatkan itu. Kemarin keluarga David mengatakan baru hari Minggu sebelum Pengadilan Koroner pada 20 Mei nanti akan dikembalikan. Kalau Minggu baru janji tapi Senin sudah mau sidang maka bagaimana kita mau riset secara independen?t..

Apakah saksi kunci barangkali bisa membuka itu lebih jelas juga?

Ada sembilan mungkin akan saya temui dalam keberangkatan ketiga ke Singapura ini.

Saat ini ada banyak mahasiswa Indonesia di tempat-tempat lain bukan hanya di Singapura tapi dalam kasus David terlihat sekali minimnya perlindungan terhadap mereka. Bagaimana kira – kira sebenarnya prasarana atau sarana yang harus bisa disediakan pemerintah untuk perlindungan terhadap mereka untuk masa depan?

Agak berat juga menjawabnya. Kembali ke kalimat saya tadi, seharusnya SDM juga aset. Kita jangan melihat SDA saja sebagai aset tapi SDM juga. Negara-negara kecil seperti Singapora Singapura andalannya SDM. Dengan adanya anggaran pendidikan 20 persen lalu ada Bantuan Langsung Tunai (BLT), saya rasa orang-orang pintar yang mau berbuat harus difasilitasi. ITB tidak kalah dengan NTU. Saya sudah menjelajah ke 200 hektar luas Kampus NTU dan memang bangunannya bagus-bagus, tapi ITB dari segi know how tidak kalah. Yang kita kalah adalah sustainability dari riset. Siapa yang membiayai untuk bisa berbuat? Kita tidak ada duit. Saya punya ide, punya konsep, dan kebetulan juga pernah di industri kreatif tapi mati di tengah jalan. Kita tidak memiliki venture capital real. Jadi sebelum sampai ke hasil akhir keburu mampus begitusudah berakhir. Di NTU tidak terjadi hal itu. Anda mau berbuat, ada saja dananya, bahkan lembaga riset LIEN dari China merupakan yang terbesar di situ. Jadi di jembatan David jatuh kalau terus akan ke technopark maka di situ banyak perusahaan – perusahaan bahkan badan swasta asing ikut dalam mendukung NTU melakukan riset-riset. Jadi praktis kalau kita mau berbuat, mau riset, mau berkembang maka duit bukan masalah, tapi di sini itu masalah. Nah, sampai kapan negara mau terus membuang aset-aset hebat ini menjadi braindrain ke luar negeri?

Apa semestinya yang mungkin bisa dilakukan dalam kasus ini dan untuk perlindungan ke depannya?

Mengubah paradigma bahwa SDM penting untuk kemajuan bangsa lebih-lebih SDM yang mumpuni harus diselamatkan negara dengan didukung pembiayaanya, kemauannya untuk berbuat sesuatu. Banyak kok anak Indonesia yang hebat-hebat.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...