Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Elly D. Lutan

Memahami Diri Melalui Tari

Edisi 675 | 23 Feb 2009 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita sangat menarik sekali, yaitu Elly D. Lutan, seorang pengrajin seni dan pensiunan pegawai negeri di Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Provinsi DKI Jakarta. Dia kini mengelola Deddy Lutan Dance Company.

Elly D. Lutan memilih menjadi koreografer yang selalu berbicara tentang perempuan. Ini berawal dari pribadinya selama ini yang agak tomboy dan kurang memahami bagaimana sebetulnya menjadi perempuan ideal. Ketika belajar memahami tentang Mahabarata, Ramayana, serta filosofi-filosofi tari, ia baru menyadari ternyata menjadi perempuan tidak mudah. Melalui kesenian rupanya ia lebih mudah untuk mencoba belajar menjadi ‘perempuan yang baik’. Dari situ ia terus-menerus dipicu untuk memperbaiki diri dengan mempelajari seperti apa sebetulnya perempuan itu. Dari pembelajaran tersebut ia berharap bisa menularkan kepada perempuan-perempuan lain terutama dirinya pribadi.

Aliran tari Elly adalah Jawa, tapi itu lebih kepada esensinya saja. Hal itu yang kemudian membuat Elly dengan Jawanya berjalan ke mana-mana. Jadi secara roh tari tetap Jawa kemudian dia masuk ke dalam wilayah lain seperti Aceh, Dayak, Sulawesi Selatan dengan tari Pakarena, kemudian mendekat kepada Asmat. Namun ia tetap orang Jawa. Ia mengatakan, untuk menjadi siapa kita tidak perlu meninggalkan diri kita siapa.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Elly D. Lutan.

Pementasan terbaru Deddy Lutan Dance Company adalah tentang Drupadi Mulat. Bagaimana asal muasalnya, dan saya melihat beberapa kali pementasannya bertema perempuan?

Drupadi Mulat sebetulnya sudah cukup lama menjadi obsesi saya sejak dua tahun terakhir. Hanya baru terwujud ketika pada Juli 2008, dua hari menjelang saya pensiun sebagai pegawai negeri di Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Saya 35 tahun menjadi pegawai negeri tapi sering membolos karena panggilan sebagai pengrajin seni. Di pementasan Drupadi yang ingin saya ungkap adalah tentang keperempuanan. Selama ini memang tema yang selalu saya angkat adalah perempuan. Misalnya di pementasan Kunti, saya lebih kepada seperti apa untuk menjadi Anda. Kemudian di pementasan Tjut Nyak lebih kepada ketika perempuan itu menjadi abdi masyarakat, lebih kepada tema patriotik. Di pementasan Gendari, saya berbicara mengenai ketika seorang ibu adalah bejana, rahim itu adalah bejana di mana pertama kali kita menggodok sebuah hasil produk. Ketika bejana itu dilumuri dendam maka yang terlahir adalah hasil yang bermasalah seperti Kurawa. Itu bukan salah Gendari. Di sini saya hanya bertanya, salahkah ketika seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk putranya. Persoalannya adalah karena dendam tadi.

Berikutnya, saya mencari sosok mengenai ketika perempuan itu sebagai seorang istri, seorang sosok yang mempunyai kedudukan di masyarakat. Saya bingung untuk memilih antara Drupadi atau Banowati. Menurut saya, Banowati sangat perempuan. Dia adalah orang yang sangat mendambakan cinta sejati. Setiap perempuan selalu menginginkan cinta itu hanya untuk dia. Dalam perjalanan, ternyata Drupadi jauh lebih menarik, bukan berarti Banowati tidak menarik. Saya melihat di sini ada satu pengabdian yang berbeda dimana Drupadi adalah istri seorang raja, tapi dia tetap seorang perempuan. Dalam pemahaman waktu itu sebetulnya dia dimenangkan oleh Arjuna, tapi akhirnya harus menikah dengan Yudhistira. Itu satu masalah. Masalah lainnya, perempuan khususnya di Indonesia ketika menikah, dia bukan hanya menjadi istri dari sang suami. Tapi adalah bagian dari keluarga suami. Ada salah satu pemahaman bahwa Drupadi hidup secara poliandri. Poliandri di sini dengan pemahaman bahwa dia bukan hanya istri dari Yudhistira tapi juga mengawini keluarga dari Yudhistira dalam tatanan Jawa. Dia juga harus meladeni adik ipar, mertua, dan sebagainya.

Jadi poliandri dibaca dengan sesuatu yang berbeda, yaitu mengawini bukan secara fisik orang per orang tapi mengawini sebuah keluarga?

Ya, mungkin juga poliandri di sini berdasarkan pemahaman mengenai Drupadi memiliki keinginan kalau kelak bersuami ingin yang mempunyai lima sifat, dimana hal itu tercermin di Pandawa. Jujur saja mungkin setiap perempuan akan selalu ingin mempunyai kelima kesempurnaan sifat dari suami seperti Pandawa. Yudhistira terkenal sebagai lelaki yang bijaksana. Bima adalah lelaki yang jujur dan berani. Arjuna memiliki sifat ketampanan yang ‘melelehkan’ hati setiap perempuan. Nakula-Sadewa memiliki sifat pengabdian.

Dari sana saya melihat satu hal yang bisa kita ambil adalah bagaimana Drupadi bisa menerima ketika harus menikah dengan Yudhistira yang dianggap bijak, tapi kemudian membuat dia harus menanggung malu ketika peristiwa kekalahan judi sang suami. Dia juga melakoni dengan ketabahan luar biasa ketika dibuang selama 12 tahun. Ini mungkin cermin untuk para istri di zaman sekarang, yang kerap baru ada masalah sedikit saja sudah terjadi perceraian dan sebetulnya hal itu masih bisa disikapi dengan bijak.

Anda memilih tokoh-tokoh pewayangan perempuan. Padahal kalau kita melihat ke dunia wayang yang menjadi dalang atau sentranya adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya sampiran belaka. Mengapa memilih tokoh perempuan untuk ditampilkan dalam pementasan Anda?

Saya memilih menjadi koreografer yang selalu berbicara tentang perempuan mungkin berawal dari pribadi saya selama ini yang agak tomboy dan kurang memahami bagaimana sebetulnya menjadi perempuan ideal. Ketika belajar memahami tentang Mahabarata, Ramayana, serta filosofi-filosofi tari, saya baru menyadari ternyata menjadi perempuan tidak mudah. Nah karena saya mengalami kesulitan mempelajari bagaimana menjadi perempuan yang baik, kemudian saya mencoba mempelajarinya secara hati. Artinya dalam pemahaman, ketika berkesenian rupanya saya lebih mudah untuk mencoba belajar menjadi ’perempuan yang baik’. Dari situ saya terus-menerus dipicu untuk memperbaiki diri dengan mempelajari seperti apa sebetulnya perempuan itu.

Di sisi lain, hal itu juga karena guru saya Rujito. Dia mengatakan, "Kalau kamu ingin menjadi koreografer maka cobalah dari yang terdekat dengan diri kamu sendiri. Setelah itu apa yang ingin kamu ungkap paling sederhana." Jadi saya tidak bercerita karena kalau bercerita banyak orang yang pandai bercerita tapi saya mencoba berangkat dari yang terdekat yaitu perempuan. Memahami diri sendiri jauh lebih sulit daripada memahami diri orang lain. Dari situ saya mencoba berbicara tentang seorang perempuan dengan harapan dari belajar ini saya bisa menularkan kepada perempuan-perempuan lain terutama diri saya pribadi memperbaiki keperempuanan saya.

Ini justru sangat menarik apalagi dikaitkan dengan penjelasan Anda terdahulu tentang bagaimana kompleksitas dari persoalan-persoalan perempuan, posisi perempuan di keluarga dan masyarakat. Kalau terkait jenis tari, mengapa Anda lebih memilih kepada tari Jawa?

Tidak, memang mayor tari saya Jawa tapi itu lebih kepada esensinya saja. Hal itu yang kemudian membuat Elly dengan Jawanya berjalan kemana-mana. Misalnya, ketika pementasan Cut Nyak Dhien, saya tidak memakai Cut Nyak Dhien tapi Cut Nyak karena saya secara roh tetap Jawa kemudian saya masuk ke dalam wilayah Aceh. Saya juga bisa masuk ke dalam wilayah Dayak, Sulawesi Selatan dengan tari Pakarena, kemudian mendekat kepada Asmat. Namun saya tetap orang Jawa. Jadi sebetulnya untuk menjadi siapa kita tidak perlu meninggalkan diri kita siapa.

Ketika mendekat ke Aceh, Dayak dan segala macamnya tadi, apakah sebetulnya ada atau tidak perbedaaan sebagai perempuan Jawa kemudian menjadi perempuan Aceh, perempuan Asmat, dan perempuan Dayak?

Tidak. Mungkin karena perempuannya. Perempuan di mana saja sama, universal tapi identitas ketika itu adalah saya orang Jawa, pendekatan saya dengan roh jawa. Jadi seperti pepatah Minang, "Di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung." Nah, itu yang saya bawa sehingga tidak ada masalah. Saya bisa lebih lebur dan tidak menjadi, "Nih loh gua orang Jawa." Namun saya dengan kejawaan saya bisa lebih mendekat secara natural. Jadi mereka bisa menerima saya sebagai orang Jawa, tapi saya bisa menjadi orang Dayak, orang Aceh dan lainnya.

Anda mengatakan basis tari Anda adalah Jawa. Bagaimana sebetulnya filosofi tarian Jawa itu sendiri terkait dengan gerakan yang lembut identik dengan kelembutan, kehalusan?

Saya tidak terlalu berani berbicara filosofi karena ada yang lebih kompeten. Saya lebih kepada bagaimana memahami untuk menjadi penari Jawa yaitu orang harus memiliki pengendalian emosi. Jadi lebih kepada memahami harus seperti apa menjadi orang Jawa itu. Misalnya, mengendalikan emosi agar tidak keluar langsung namun lebih dalam bentuk tersirat, tidak tersurat. Tari Jawa itu lebih tersirat dari dalam kemudian terungkap ke luar lewat tubuh, lewat ekspresi jiwa.Contoh, kalau saya mau bicara A kemudian keluar A, tetapi orang dibawa ke dalam dulu baru kemudian berbicara A. Jadi ke dalam rasa yang lebih dipentingkan. Itu mungkin berbeda ketika saya menari Betawi, misalnya, berkaca ya berkaca tapi dalam tari Jawa lebih kepada energinya. Jadi lebih kepada yang saya rasakan kemudian energi itu kita alirkan ke tubuh, kemudian terungkap lewat bahasa gerak. Mungkin kalau menari lainnya lebih tersurat. Sedangkan kalau di Jawa, orang harus ikut masuk dulu maka baru bisa merasakannya.

Apakah hal itu lebih sulit atau tidak dibandingkan tari-tari yang lebih ekpresif?

Menurut saya mungkin tidak. Sebetulnya, apa sih motivasi kita menonton tari? Kalau motivasinya, "Gua mau nonton" maka sulit. Ketika melihat tari Jawa, Minang, Aceh, atau apa pun, maka kita jangan tendensius dulu, tapi kita harus masuk melebur sinergi dulu dengan yang kita tonton. Kemudian pikiran kita akan membawa yang terjadi dengan tubuh, perasaan pada saat menonton. Nah baru kita membuka pikiran kita.

Anda hampir menguasai seluruh tarian Indonesia. Artinya, Anda bukan hanya ahli di bidang tarian Jawa tapi juga trampil di bidang tari lainnya. Apa yang Anda dapatkan dari tari-tari di Nusantara?

Semakin saya mengenal, justru saya merasa semakin kecil dibandingkan dengan pendahulu saya. Ketika mereka berusia muda dalam kondisi negeri yang juga masih muda dan dalam media yang tidak seperti sekarang sehingga mudah belajar, mereka mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Mengapa tari menjadi pilihan hidup Anda?

Sebetulnya tadinya bukan pilihan hidup saya, agak sedikit dipaksa. Ketika umur empat tahun, saya dipaksa menonton wayang kulit, saya dipaksa harus belajar menari.

Apakah orang tua Anda juga penari?

Dulu Bapak saya tentara. Pilihan hidup saya sebetulnya dulu ingin menjadi tentara. Tapi karena ternyata kaki saya X, saya tidak diterima. Sejak umur empat tahun saya ikut Bude dan Pakde (kakak Ibu) yang notabene mereka pecinta wayang. Sejak umur empat tahun saya harus belajar menari, saya harus semalam suntuk menonton wayang kulit. Dari situ saya merasa menari kok membuat saya sehat. Ketika saya sakit panas kemudian menari, saya menjadi sembuh. Kalau saya tidak menari rasanya belum bernafas. Itu sejak kelas satu sekolah dasar (SD). Saat kelas enam mau masuk kelas satu sekolah menengah pertama (SMP), saya sudah harus menjadi asisten mengajar tari di Jember, Jawa Timur. Pada waktu itu saya tidak boleh belajar tari Gandrung, karena sensual. Jadi saya harus belajar Jawa. Saya harus menjadi orang Jawa yang santun, yang kromo inggil. Saya tidak boleh ngoko (acuh, tidak sopan), misalnya. Itu dilema karena dipaksa untuk menjadi orang Solo atau Yogya, sementara saya orang Jawa Timur di lingkungan Madura dan Banyuwangi.

Ketika duduk di sekolah teknik mesin (STM), saya ingin menjadi tentara. Saya masuk STM untuk tidak menari. Kemudian ikut Bapak dan Ibu ke Jakarta masuk sekolah di Sekolah Tinggi Teknik Nasional (STTN) yang bersebelahan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM). Di situ saya ketemu dengan tokoh tari Sardono W. Kusuma, Sentot, dan Karyono. Akhirnya kuliah saya berantakan, saya menjadi penari dosen-dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Suatu ketika, saya menjadi penari menggantikan sosok lain di acara Gubernur DKI, waktu itu Ali Sadikin. Hal itu yang kemudian membuat saya menjadi pegawai Dinas Kebudayaan. Saya tidak tahu mengapa menjadi seperti ini perjalanan hidup saya. Dengan menari saya mengenal tokoh dan menjadi pegawai tanpa melamar. Lalu saya menikah dengan Deddy Lutan secara tidak sengaja karena tidak pacaran. Dia tanya, "Kamu ngapain menjadi penata tari yang hanya meladeni biro jasa." Saya berpikirnya, "Gila ini, lulusan IKJ dibandingkan dengan saya yang otodidak". Dan merasa ditantang. Akhirnya mulai 1997 saya membuat karya yang bisa disebut karya serius.

 

 

 

Apa karya pertama kali?

Kunti Pinilih. Itu karya panjang dan hasil pemikiran. Sejak Taman Mini Indonesia Indah dibuka, saya menjadi penata tari pesanan untuk Istana Negara dan pementasan ke luar negeri, yang menjadi kebanggaan para penari.

Apakah hal itu menjadi seperti di Teater Koma yang enerjik dan menarik sekali?

Beda. Di situ saya diberi kebebasan oleh Nano Riantiarno (pemimpin Teater Koma) untuk menginterpretasikan karya beliau dalam konteks saya sebagai penata tari Jawa. Bergaul dengan mereka yang bukan penari, hasilnya seperti itu. Saya berupaya beradaptasi dengan mereka yang bukan penari, dan bukan juga penari Jawa.

Saya tertarik dengan kalimat Anda tentang sensualitas perempuan. Bagaimana sensualitas perempuan Jawa yang tampil dengan kemben dan gerakan yang halus, apakah itu sensual juga?

Ya, tapi tidak semata itu ditunjukkan. Tersirat. Kalau kita melihat di Jaipongan, misalnya, gerakannya sendiri sudah sensual. Sedangkan jika saya melihat penari Gandrung, mereka tidak menari dengan heboh, hanya dengan sedikit jemari yang kelitik-kelitik. Bandingkan dengan ngegeol tari di Banyuwangi yang sekarang, saya melihat mereka ngegeol sampai kayak mau patah. Jadi sudah sedikit bergeser pemahamannya. Ketika saya melihat Mbah Suanah, Mbah Hawiyah menggerakkan tubuh tanpa tujuan sensual, tapi itu sudah sensual. Kalau sekarang justru cenderung bagaimana bergerak ngegeol tubuh supaya lebih menarik daripada orang lain. Dulu di awalnya tidak seperti itu.

Jadi ada proses metamorfosis menuju ke sana. Apakah dulu pada awalnya tidak seperti itu?

Tidak, saya melihat Ronggeng Gunung juga tidak berusaha seperti itu. Jadi mungkin bukan kesalahan koreografer, tapi sebetulnya ada dialog yang tidak sampai. Itu menjadi salah satu dosa saya mengingat dulu guru saya juga tidak gamblang ketika memberikan materi. Kita memahaminya dengan analisa seperti ini, tapi ketika sekarang ada teori, ada media visual justru menangkapnya menjadi seperti itu. Mengelitik saya, merasa berdosa. Tapi buat saya menari adalah ibadah.

Bagaimana cara menghubungi Anda bagi pembaca yang ingin belajar menari?

Elly D. Lutan nomor telepon seluler 0811 861 412 dengan harapan jangan merasa terlambat untuk belajar menari. Kita latihan secara reguler seminggu dua kali. Setiap Senin pada jam pulang kantor sampai sebetahnya penari, kemudian Sabtu pagi pukul 07.30 dengan harapan udara pagi membuat kita lebih jernih. Tempat latihan di Deddy Lutan Dance Company, Jl. Taman Margasatwa Raya No.41 Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.