Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Bambang Budi Utomo

Menghargai Cagar Budaya

Edisi 674 | 16 Feb 2009 | Cetak Artikel Ini

Tamu Perspektif Baru saat ini adalah Bambang Budi Utomo, seorang peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkelologi Nasional Depertemen Kebudayaan dan Pariwisata. Di Indonesia sangat jarang menemukan seorang ilmuwan yang intens mendedikasikan diri dalam penelitian khusus arkeologi, tapi dia justru mendedikasikan hidupnya di sana sejak tahun 1975 yaitu ketika masih mahasiswa.

Bambang Budi Utomo mengatakan persoalan bangsa kita yang paling serius tentang benda-benda cagar budaya adalah ketidakpedulian masyarakat. Dalam hal ini tidak bisa menyalahkan masyarakat. Kesalahan itu sebetulnya ada pada arkeolog sendiri. Itu karena arkeolog ketika melakukan penelitian di satu situs, biasanya meneliti untuk diri sendiri dan paling tidak institusi dari penelitian itu. Masyarakat di sekitarnya tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dari sini masyarakat menjadi penasaran mengenai apa yang digali oleh peneliti tadi dan menemukan temuan yang tidak ditemukan sang peneliti, misalnya arca emas dan lain-lain. Seharusnya peneliti menjelaskan kepada masyarakat maksud kedatangan ke lokasi tersebut dan tujuan penelitian ini. Jadi masyarakat akan lebih senang, dan kalau perlu dilibatkan dalam pekerjaan itu.

Menurut Bambang Budi Utomo, harus dibangun kepedulian masyarakat terhadap benda cagar budaya. Jika benda tersebut dalam bentuk bangunan, maka akan dapat mendatangkan wisatawan, jika dalam bentuk benda-benda kecil dapat digunakan untuk melihat jati diri kita bagaimana dulunya. Jadi ada kearifan lokal yang bisa kita teladani.

Berikut Wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Bambang Budi Utomo.

Apa yang membuat Anda tertarik menekuni arkeologi?

Kalau dulu sekadar menuruti keinginan orang tua bahwa anak harus sekolah. Lalu saya sekolah dan mengambil studi yang enak buat saya. Pada saat itu menurut saya adalah arkeologi, artinya tidak harus berpikir macam-macam. Kalau matematika saya sangat malas mempelajarinya, sehingga saya masuk arkeologi saja. Waktu itu saya diterima di dua universitas yaitu Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya tidak mau disibukkan dengan kos dan segala macamnya, maka memilih UI. Alhamdulillah, saya mendapat beasiswa di UI sampai selesai kuliah dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Sekarang Departemen Pendidikan Nasional). Saya lulus tahun 1981 dan langsung bekerja di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sampai sekarang sebagai peneliti.

Apa yang dilakukan seorang arkeolog?

Kami melakukan penelitian arkeologi dan hasil penelitian itu tidak bisa kita simpan sendiri. Kita harus memasyarakatkan hasil penelitian agar bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat. Misalnya kita melakukan penelitian arkeologi tentang saluran air, di dalam prasasti yang dikeluarkan Raja Adityawarman di Sumatera Barat menyebutkan pembangunan satu irigasi untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lain agar sawah-sawah bisa dialiri air. Saluran air itu yang dipakai oleh masyarakat dan bisa dimasyarakatkan sampai kini. Kemudian pada zaman Raja Purnawarman di Jawa Barat ada pembuatan saluran yang diberi nama Chandrabhaga untuk mengalirkan air dari satu tempat yang tergenang ke laut. Jadi itu termasuk kearifan masa lampau, dan bisa ditemukan di banyak tempat.

Belakangan ini muncul banyak berita menghebohkan mengenai perusakan situs di Trowulan, Jawa Timur. Apa sebenarnya yang terjadi di sana?

Sampai saat ini saya belum mengeluarkan pernyataan benar atau salah. Yang jelas secara arkeologis melakukan kesalahan yaitu tidak secara lengkap mendokumentasikan ketika penggali melakukan suatu penggalian.

Apakah penggalian itu resmi?

Resmi. Jadi yang dipermasalahkan hanya pendokumentasiannya dan tempat pembangunan museum. Kebetulan tempat yang dipilih mengandung kandungan arkeologis yang tinggi. Sebetulnya bisa memilih tempat di seberang jalan sekitar 25-50 meter dari tempat pembangunan sekarang. Di sana banyak tempat-tempat yang sudah rusak yang sudah digali penduduk secara habis-habisan sampai kedalaman dua meter dari permukaan tanah yang sekarang. Andaikata dibangun di tempat yang sudah rusak itu, mungkin tidak terlalu bermasalah. Hanya saja ini merupakan satu dilema. Pemerintah sebetulnya tidak berniat merusak, namun ingin memasyarakatkan hasil-hasil temuan arkeologi yang berkaitan dengan kejayaan Majapahit, sehingga masyarakat bisa melihat beginilah kejayaan Majapahit. Kesalahannya hanya pembangunan museumnya terletak di daerah yang kandungan arkeologisnya tinggi dan data arkeologisnya relatif masih bagus.

Kita tahu bahwa peninggalan sejarah kita begitu kaya sebagaimana tercermin jika kita mengunjungi beberapa museum yang ada di Indonesia. Sayangnya, seperti kejadian di Museum Radya Pustaka Solo di Jawa Tengah, banyak arca palsu karena yang asli sudah dijual. Kalau melihat peta dalam skala nasional apakah pengrusakan semacam itu terjadi secara umum atau hanya di Jawa saja?

Bukan hanya di Jawa. Misalnya, di Kalimantan Barat sejak tahun 1940-an dan terakhir saya melihat pada tahun 1948 ada arca-arca Budha. Namun kini sudah lari ke Inggris dan sekarang disimpan menjadi koleksi The British Museum.

Apakah kita bisa menariknya kembali atau membelinya melalui jalur pemerintah ke pemerintah, misalnya?

Sangat sulit. Pada tahun 1949 ada terbitan Journal Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (JMBRAS) yang menyebutkan bahwa arca-arca itu dari Sambas, Kalimantan Barat. Kemudian pada tahun 2007, kalau tidak salah, ada arca-arca dari Sambas juga yang dilelang di balai lelang Christie Amsterdam. Jenis arcanya sama dari emas dan perak. Arca emas relatif banyak, sementara arca perak sangat jarang.

Apa alasan ketidaksanggupan kita untuk menarik kembali arca itu?

Karena aturan. Mereka menghendaki jika arca ini dikatakan dari Sambas maka di mana tepatnya dan siapa yang pertama pegang. Itu sangat sulit tentunya. Padahal jumlah arcanya ada sekitar 20 arca ukuran 8-10 centimeter. Itu sama jenisnya dengan arca yang ditemukan pada tahun 1940-an. Kasus lain adalah di Jakarta juga dulu ada museum Adam Malik yang memiliki koleksi arca, keramik, dan prasasti. Pada tahun 2005 atau 2006 museum itu ditutup. Namun sampai Sekarang kita tidak mengetahui bagaimana nasib benda-benda yang ada di museum itu. Saya 'tidak peduli' dengan yang lain seperti keramik yang biasanya adalah hadiah dari Tiongkok untuk pribadi Adam Malik. Yang saya sangat pedulikan adalah di museum itu ada Prasasti Raja Sankhara. Prasasti itu sebetulnya yang mengubah sejarah Indonesia.

Dari mana Prasasti Raja Sankhara itu?

Katanya dari Sragen, Jawa Tengah. Dulu prasasti itu disimpan di Museum Adam Malik. Kalau dulu sewaktu kita sekolah menganggap bahwa di Jawa Tengah ada dua dinasti yaitu dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan dinasti Syailendra yang beragama Budha. Namun hal tersebut kemudian direvisi karena terkait dari data yang ada di dua prasasti. Satu prasasti Sojomerto yang disimpan di lokasinya di Pekalongan menyebutkan tentang Dapunta Syailendra yang dianggap sebagai cikal bakalnya dinasti Syailendra. Berarti Dinasti Sailendra adalah orang dari Nusantara yang menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa seharí-harinya (bahasa prasasti). Kemudian ditemukan prasasti Raja Sankhara dimana dalam prasasti itu tersirat bahwa Raja Sankhara berpindah agama karena agama Siwa yang dianut adalah agama yang ditakuti banyak orang. Raja Sankhara pindah agama ke Budha karena di situ disebutkan agama yang welas asih. Jadi menurut saya prasasti itu sangat penting karena kalau prasasti itu sampai hilang maka kita tidak mempunyai bukti lagi. Paling hanya bisa melihat fotonya di buku Sejarah Nasional jilid 2.

Mengenai Museum Adam Malik, barang-barang yang ada di sana mungkin adalah hadiah yang diberikan kepada pribadi Pak Adam Malik. Apakah pihak keluarga tidak berniat menyerahkannya pada museum nasional?

Sebetulnya sudah diserahkan. Artinya, museum tersebut telah masuk dalam pengawasan Dinas Permuseuman Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI). Semua datanya ada di situ. Jadi sudah seharusnya inventaris Museum Adam Malik ada di Direktorat Permuseuman (bukan museum nasional), misalnya, benda apa saja dan nomor berapa saja yang disimpan di museum bersangkutan.

Siapa sebenarnya yang berwenang mempertanyakan dan berhak untuk mengambil barangnya jika sebuah museum tutup?

Ada di bawah Direktorat Permuseuman. Kalau memang museum sudah diserahkan pada pemerintah dengan nomor inventarisnya maka yang berwenang adalah Direktorat Permuseuman. Dari pengamatan saya, museum swasta di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. Misalnya, museum Rockefeller memiliki yayasan yang sepenuhnya bertugas untuk pemeliharaan museum dan memiliki dana abadi. Namun kalau di Indonesia, museum menjadi aset pribadi seseorang. Jika orang itu bangkrut dan tidak bisa memelihara lagi maka dijual saja. Jadi aturan mainnya tidak jelas. Seharusnya jika tidak mampu lagi memelihara maka museum itu dikuasai oleh negara.

Mengapa pemilik museum-museum swasta ketika bangkrut tidak ada upaya untuk menyerahkan benda-benda bersejarah ke Direktorat Permuseuman? Di mana sebetulnya letak permasalahannya, apakah karena pengawasannya kurang kuat atau belum ada peraturan menyebutkan hal itu?

Saya kira peraturannya sudah ada, hanya pengawasannya yang kurang seperti mengaudit ke museum tentang koleksi benda-benda bersejarah. Sebenarnya harus ada data dari museum swasta yang disimpan di Direktorat Permuseuman, dan data itu harus lengkap dengan nomor inventaris dan deskripsi benda bersejarah tersebut.

Apakah ada pernyataan kalau bangkrut diserahkan ke Permuseuman?

Seharusnya ada. Namun tidak ada usulan pernyataan seperti itu. Yang jelas, di dalam Undang Undang (UU) No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya menyatakan semua benda-benda cagar budaya harus diserahkan atau diketahui oleh negara. Jadi manakala berpindah tangan maka hal itu harus dilaporkan kepada Direktorat Purbakala.

Apakah museum-museum swasta banyak sekali di Indonesia?

Banyak. Kita juga bisa membuat museum swasta. Katakanlah, Hasjim Djojohadikusumo mau membuat museum. Kalau dia mau membeli benda cagar budaya, entah barang itu dari siapa, tapi kemudian dia melapor pembelian tersebut dengan memperlihatkan benda, foto, dan deskripsi ke Direktorat Sejarah dan Purbakala untuk dicatat maka hal itu tidak masalah. Justru menjadi bermasalah ketika hal itu tidak dilaporkan dan terlanjur ditangkap. Meskipun dia tidak salah. Ini menyangkut kurang kontrol terhadap museum-museum pribadi atau museum-museum yang diketahui oleh negara. Namun untuk apakah benda itu masih ada atau masih asli adalah tugasnya peneliti.

Apa persoalan bangsa kita yang paling serius tentang benda-benda cagar budaya ini?

Ketidakpedulian masyarakat.

Apakah hal itu karena kurang sosialisasi kepada masyarakat?

Saya tidak bisa menyalahkan masyarakat. Kesalahan itu sebetulnya ada pada arkeolog sendiri. Itu karena arkeolog ketika melakukan penelitian pada suatu situs, biasanya meneliti untuk diri sendiri dan paling tidak institusi dari penelitian itu. Hasil-hasil penelitian itu yang tahu hanya arkeolog dan institusi arkeologi sendiri. Masyarakat di sekitarnya tidak tahu. Gali lubang kemudian ditutup lagi, lalu ditinggal pergi. Orang tidak mengetahui apa yang mereka perbuat. Dari sini masyarakat menjadi penasaran terhadap penggalian yang dilakukan oleh sang peneliti tadi dan melakukan penggalian mereka sendiri. Kemudian ketemulah apa yang tidak peneliti ketemu, misalnya arca emas dan lain-lain. Seharusnya si peneliti menjelaskan kepada masyarakat maksud kedatangan ke lokasi tersebut dan tujuan membuat penelitian ini ke depannya. Jadi masyarakat akan lebih senang dan kalau perlu dilibatkan dalam pekerjaan itu.

Dari sudut pemerintah, apa kira-kira yang masih perlu dilakukan untuk melestarikan cagar budaya?

Sebetulnya yang perlu dilakukan adalah tindakan hukum yang pas.

Apakah menurut Anda sekarang belum pas?

Tidak ada sanksinya.

Apakah ada atau tidak kasus yang berkaitan dengan hukum pencurian atau kasus yang besar tentang pencurian terhadap benda-benda cagar budaya yang tidak mendapatkan sanksi apapun?

Banyak. Baru-baru ini dilakukan di Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Masyarakat ramai-ramai menggali sawah di lokasi tersebut untuk mencari barang-barang emas tapi pemerintah tidak berbuat apa-apa dan hanya melarang saja sehingga pada malam hari mereka berbuat lagi. Tidak ada sanksi hukum. Sekarang sanksi hukum hanya kepada orang yang betul-betul mempunyai banyak uang. Apakah ada masyarakat yang dituntut atau diberi sanksi hukum? Padahal kasus yang banyak terjadi di situ, di belakang dari itu tidak terjangkau.

Apa imbauan Anda untuk masyarakat agar ikut melestarikan benda-benda cagar budaya ini?

Kalau bentuk bangunan dapat mendatangkan wisatawan, maka kalau dalam bentuk benda-benda kecil bisa melihat jati diri kita bagaimana dulunya. Jadi ada kearifan lokal yang bisa kita teladani.