Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Don Hasman

Menjelajah Sampai ke Ujung Dunia

Edisi 653 | 22 Sep 2008 | Cetak Artikel Ini

Pada kesempatan ini ada satu tamu istimewa, seorang yang saya kira agak unik dan tidak biasa ada diantara kita, Don Hasman yang biasa dipanggil penjelajah. Dia seorang penjelajah yang sudah begitu banyak "mengukur" panjang jalan, menelusuri gua-gua, mendaki gunung-gunung di Indonesia, Eropa, Australia dan berbagai ekspedisi lainnya. Saya kira tidak banyak orang yang mempunyai pengalaman demikian luas dan demikian besar dalam arti yang sebenarnya.

Don Hasman menjelajah untuk mencari sesuatu yang baru, mencari sesuatu untuk bisa disebarluaskan agar bisa mempunyai nilai manfaat. Bagi dia, itu untuk kepuasan diri karena sifat manusia selalu ingin tahu dan ingin tahu lagi. Melakukan penjelajahan tidak sulit asalkan mengetahui apa yang akan kita hadapi. Kalau kita bermain di alam, kita harus memahami dan mengetahui hukum alam dan tidak melanggarnya.

Menurut Don Hasman, biaya untuk menjelajah memang besar tapi kalau kita banyak berbuat baik dia percaya akan mendapatkan yang baik. Dia sering mengantar banyak teman, terutama orang asing. Jumlah orang yang telah diantarkannya melakukan perjalanan diperkirakan mencapai 500 orang, termasuk duta besar.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Don Hasman.

Saya termasuk orang yang suka berpetualang, menjelajah. Namun jika dibandingkan dengan Don Hasman, petualangan dia begitu jauh dan begitu lebar jurangnya. Don telah melakukan petualangan dari mendaki gunung di Eropa, menelusuri jejak di suku pedalaman kemudian bersepeda, mengendara mobil di Eropa, lalu juga menyelam. Bagi masyarakat Indonesia, aktivitas ini tidak terlalu umum, apa yang Anda cari sebenarnya?

Mencari sesuatu yang baru, juga mencari sesuatu untuk bisa disebarluaskan agar bisa mempunyai nilai manfaat. Bagi saya, ini untuk kepuasan diri karena sifat manusia selalu ingin tahu dan ingin tahu lagi.

Orang di Indonesia pada umumnya repot mencari makanan, pekerjaan, kekuasaan, kok Anda mencari yang lain yaitu kepuasan, sesuatu yang baru. Apa memang sejak kecil sudah seperti itu?

Ya betul, kira-kira pada saat usia 12-13 tahun saya sudah menjelajahi daerah sekitar Jakarta dan Jawa Barat.

Apa yang pertama kali Anda lakukan saat itu?

Saya bersepeda, berkeliling. Pada tahun 1953 saat berusia 13 tahun, saya dengan sepeda dayung (sepeda yang dikayuh) sudah pergi ke Puncak, Jawa Barat. Pada tahun 1955, saya bersepeda ke Bandung, Jawa Barat menyaksikan pembukaan Konferensi Asia – Afrika (KAA).

Luar biasa, saya kira tidak tertulis di sejarah bahwa ada satu pemuda dari Jakarta yang bersepeda ke Bandung untuk menyaksikan pembukaan KAA. Dari yang telah Anda lalui, apa pengalaman terbesar yang berpengaruh bagi diri sendiri, kemudian menimbulkan pemikiran bahwa penjelajahan ini harus terus dijalankan?

Perjalanan tahun lalu dari Perancis sampai ke ujung dunia. Dari salah satu kota di Perancis Selatan di sebelah Utara Pegunungan Pyrenia terus sampai ke kota Finistère. Finistère itu terjemahannya adalah daratan terakhir. Dan itu memang ujung dunia di abad pertengahan sebelum Columbus menemukan benua Amerika. Memang tempat itu yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat dunia terutama di jazirah Iberia dan juga Eropa sebagai tempat paling Barat. Jadi daratan terakhir sebelum memasuki wilayah samudera. Jadi saya sudah sampai di ujung Baratnya Eropa.

Bagi orang Indonesia yang hanya mempunyai dua musim, sering kali menemukan kesulitan dalam beradaptasi dengan cuaca. Bagaimana Anda beradaptasi dengan cuaca yang macam-macam itu pada waktu ekspedisi atau menjelajah?

Itu tidak sulit, asalkan kita tahu apa yang akan kita hadapi. Kalau kita bermain di alam, kita harus memahami dan mengetahui hukum alam dan tidak melanggarnya.

Apakah pernah sakit pada waktu ekspedisi?

Alhamdulillah tidak, segalanya baik saja. Saya belum pernah mengalami yang berat. Kalau batuk dan pilek itu umum.

Pernah bertemu orang Indonesia di ujung Barat atau dimana yang kira-kira tidak dibayangkan akan ada orang Indonesia?

Itu juga terjadi tahun lalu. Saya tidak menyangka. Ketika itu saya sudah selesai dari ujung Barat, kemudian saya balik lagi ke kota Santiago tempat akhir dari perziarahan yang sudah berlangsung selama 1.200 tahun. Sewaktu saya kembali lagi untuk mendapatkan angka satu tahun, saat itu sudah banyak peziarah yang melewati dan mendaftar. Saya bertemu satu orang dari Bali. Jalur ziarah itu jalur untuk orang Kristen dan Katolik, tapi ini aneh ada dua orang Indonesia yang berlainan agama, tidak beragama Kristen maupun Katolik. Yang satu Hindu dan saya Islam. Kami menjalani jalur ziarah itu. Sewaktu saya bertanya, "Kok mau-maunya kau menjalani jalur ini sebagai seorang Hindu?" Dia mengatakan, "Saya ingin melihat apa yang ada di luar agama saya." Dan kelihatannya itu juga yang terjadi pada diri saya. Saya ingin mengetahui bagaimana mereka melakukan perziarahan. Kalau saya pergi ke Mekkah, Arab Saudi untuk pergi haji dan segala macam kegiatan ibadahnya, itu sudah banyak tersebar. Namun jalur ziarah ini belum banyak dikenal orang Indonesia, dan itu sangat menarik untuk saya ketahui.

Apakah Anda pernah menemukan hal-hal mistik selama melakukan penjelajahan yang barangkali lain daripada di Indonesia?

Kalau di Indonesia hanya satu kali, sewaktu saya turun dari gunung Cikurai di Jawa Barat. Saya melihat sesuatu seperti orang membawa obor di perkebunan teh. Saat itu selepas Magrib, menjelang selesai pendakian. Obor itu hilang kemudian tiba-tiba terjadi kebakaran hutan yang besar sekali. Bukan hanya saya yang melihatnya, ada kawan bernama Yosi Katoppo juga menyaksikan itu. Kami khawatir akan dituduh sebagai orang yang membakarnya. Kami ingin coba memadamkannya. Tapi begitu tiba di tempat yang kami perkirakan lokasi terjadinya kebakaran, tidak ada bekas sama sekali.

Bagaimana kalau pengalaman mistik di luar negeri?

Kalau di luar negeri banyak yang namanya mukjizat. Perjalanan tahun lalu, saat menelusuri jalur ziarah Santiago De Compostela menemukan banyak hal yang agak istimewa. Saya biasanya tidak terlalu percaya takhyul, saya hanya percaya dengan akal dan nalar. Tapi ketika di sana saya pernah mengatakan kepada teman seperjalanan, "Wah, leher saya sakit, tadi malam saya tidak kebagian bantal." Teman saya menyarankan, "Ok, nanti malam kita cari tempat tidur yang ada bantalnya." Saat itu kami sedang istirahat di suatu pojokan tempat ladang pertanian gandum, duduk di batu besar. Lalu saya menengok ke belakang batu besar dan karena ada warna yang menarik perhatian maka saya mengambilnya tanpa beranjak dari tempat duduk. Ternyata ada plastik berwarna biru dan kalau ditiup menjadi bantal.

Jadi itu betul-betul pengalaman mukjizat?

Agak aneh, saya tidak begitu percaya itu. Yang lainnya, ada kebiasaan di ujung dunia kalau seseorang sudah menyelesaikan perjalanannya maka harus membakar barangnya. Entah sepatu, baju kotor, dan lain-lain dibakar sambil menyampaikan permohonan. Saya tidak mau melakukan itu, saya tidak percaya itu. Teman saya mengatakan, "Sudahlah, kita semua melakukan itu, kau bakarlah apa saja." Akhirnya pakaian dipakai saya bakar sambil menyampaikan permohonan. Saat itu keadaan ekonomi keluarga saya selama 4-5 tahun terakhir kurang baik, maka saya bicara dalam hati, "Kalau bisa akhirilah keadaan sulit keluarga kami supaya saya tidak mengalami kesulitan seperti 4-5 tahun terakhir itu." Sebelum saya sampai di rumah di Indonesia, transaksi bisnis saya yang mencapai 10 digit dan sudah tunggu-tunggu selama sembilan tahun berhasil selesai.

Untuk melakukan suatu perjalanan memerlukan biaya banyak dan besar. Saya kira bukan orang yang biasa yang dapat melakukannya. Darimana Anda mendapatkan biaya yang segitu besar?

Ini memang di luar kemampuan saya. Saya sudah merancang perjalanan ini dan riset selama 10 tahun. Ada 11 buku yang saya baca. Saya coba mengumpulkan biaya dan segala macamnya, tapi kebutuhan untuk sehari-hari tetap saja mengalir. Yang ditabung keluar lagi. Tapi itulah, kalau kita banyak berbuat baik saya percaya akan mendapatkan yang baik. Saya sering mengantar banyak teman, terutama orang asing. Kalau berjalan sama saya, syarat yang paling utama adalah saya tidak mau terima uang. Saya akan mengantar dengan baik, tulus dan ikhlas. Kalau orang itu mengatakan kami bisa bayar, maka saya mengatakan, "Kalau kau bisa bayar, saya akan antar kau ke biro perjalanan manapun terserahlah sesuai yang kau inginkan. Kalau sama saya, saya bisa melakukan lebih baik dari yang biro perjalanan lakukan. Tanpa dibayar." Jumlah orang yang telah saya antarkan melakukan perjalanan, kurang lebih 500 orang termasuk duta besar.

Apa kompensasinya?

Tidak ada kompensasinya. Paling yang bisa saya harapkan adalah saya bisa memberikan yang terbaik.

Barangkali berharap, oh kalau saya ke sana saya bisa menginap di tempat dia?

Nah, kalau itu tidak ikhlas. Kita kalau mau membantu seseorang bantulah sewajarnya dengan ikhlas, tanpa berharap ini-itu. Kalau berharap lalu tidak kesampaian, kita akan kecewa sendiri.

Jadi kalau menanam yang baik, hasilnya akan baik?

Ya.

Ada satu daerah yang tidak terlalu familiar di masyarakat kita pada umumnya, kecuali hal-hal yang sudah kita dengar sebagai pengetahuan umum yaitu Afrika. Kalau boleh saya tahu, kemana saja Anda menjelajahi Afrika?

Tujuan utama saya ke Afrika itu untuk mendaki gunung Kilimanjaro di Tanzania. Gunung itu puncak tertinggi di benua Afrika, hampir 6.000 M. Namun jalur untuk mencapai gunung itu harus melewati Nairobi, Kenya. Dari situ saya diantar dengan mobil kedutaan besar ke Tanzania.

Alam Afrika sering dikatakan sebagai salah satu alam "terkejam" di dunia karena padang pasirnya, cuaca yang demikian terik dan panas. Sering juga kita mendengar bahwa masyarakat di sana sering mendapatkan masalah kesehatan karena alamnya kejam. Apakah tidak ada masalah selama perjalanan itu?

Tempat yang saya lalui itu sangat aman dan tidak ada masalah apa-apa, baik yang datang dari luar maupun yang ada di wilayah itu, aman sekali.

Salah satu karunia Tuhan adalah mata, jadi saya kira mata Don Hasman salah satu mata yang istimewa. Salah satu yang paling penting adalah pengalamannya dalam memotret dan menjumpai suku-suku pedalaman di Indonesia. Memotret barangkali pengetahuan umum yang sekarang sering kita temui, tapi mendapatkan obyek memotret tentu bukan sesuatu yang begitu saja kita pelajari. Bagaimana pengalaman Anda dengan menjelajah tapi juga memotret obyek-obyek di suku pedalaman, terutama menghasilkan satu karya yang tidak gampang?

Memang untuk mendapatkan obyek-obyek yang menarik itu sangat sulit, terutama bagi seorang fotografer. Mereka biasanya selalu ingin mendapatkan obyek yang lain daripada yang lain dan juga yang belum pernah dihasilkan.

Apa contoh foto yang pernah diambil ketika mengunjungi suku Asmat?

Saat itu saya dikirim oleh Yayasan Asmat sebagai satu diantara 13 orang fotografer untuk membuat buku tentang Asmat. Saya menggarap foto itu selama lima minggu, menghasilkan 200 roll foto lebih.

Berapa dari 200 roll itu yang menarik, boleh dianggap masuk kualifikasi bagus menurut Anda?

Ada kira-kira sekitar 100 foto yang bisa dikatakan cukup baik karena untuk pemotretan di Asmat termasuk yang disebut Ethno photography. Jadi kita harus bisa mengambil seluruh daur hidup, seluruh siklus hidup manusia yang ada di situ. Dan saya berhasil mendapatkannya.

Apa yang paling menarik dari suku Asmat terutama dari kacamata seorang fotografer?

Para fotografer yang dikirim hanya melaksanakan yang diperintahkan, yang diinginkan oleh yang mengirimnya. Kalau saya mencari sisi lain yang mungkin tidak dilakukan oleh yang lain. Saya menggarap lokasi dimana Rockefeller yaitu seorang antropolog, anak pengusaha minyak, jutawan dari Amerika Serikat (AS) dibunuh. Saya ingin mengetahuinya, mungkin itulah kelebihan dari yang saya miliki. Saya banyak membaca sehingga mengetahui peristiwa itu, tetapi saya ingin tahu lebih dalam karena yang saya baca itu informasi dari tangan kedua, ketiga bahkan 20. Saya ingin tahu dari tangan pertama, dan saya mencari orang yang mengantarkan Rockefeller. Kalau dia ke Papua tidak mungkin jalan sendiri. Saya bertemu dua orang, dan akhirnya bisa saya wawancarai. Selama tiga minggu saya kuras habis, sepanjang jalan ada kesempatan, sepanjang malam ada kesempatan sebelum tidur. Saya wawancarai terus. Dia tidak mengetahui kalau saya wawancarai. Hasil wawancara itu sudah jadi buku.

Sebagai informasi, Michael Clark Rockefeller seorang anak jutawan AS yang terbunuh atau dibunuh di Papua kira-kira pada tahun 1961 dan sampai sekarang menjadi sesuatu yang dianggap penting dalam hubungan Papua dan AS. Kalau saya tidak salah dengar, Michael itu dibunuh oleh suku di Papua. Apakah benar dibunuh atau ada hal lain yang terjadi?

Kalau peristiwanya tidak ada yang tahu, hanya satu orang temannya yang terakhir berada di atas perahu, dimana mesinnya mati sehingga perahunya terombang ambing. Orang terakhir itu adalah René S. Wassing (Antropolog dari Belanda) kini sudah kembali ke negaranya dan tinggal di Rotterdam. Dia orang yang meneliti kelompok orang di pedalaman. Dia melihat Rockefeller karena harus ada yang mencari bantuan. Dua hari sebelumnya sudah ada bantuan dikirim yaitu dua orang dari suku Asmat dengan berenang, tapi belum bisa juga dibantu. Terpaksa dia harus terjun sendiri karena melihat ada asap di daratan, padahal itu masih berjarak kira-kira dua kilometer (KM) dari daratan. Sebenarnya itu bukan daratan karena itu rawa. Michael Rockefeller pernah ke situ. Kemudian ia berenang dengan tanki bensin motornya yang berwarna putih. Berenang sejauh 1 KM dan berjalan 1 KM juga, kemudian dia mendarat.

Nah pada saat penjelajahan bersama tim fotografer itu, apakah Anda sempat bertemu dengan orang yang membunuhnya, atau orang yang ada di sekitar lokasi dimana peristiwa itu terjadi?

Saya ketemu orang-orang yang masih hidup di tempat dimana ia diperkirakan ditangkap kemudian dibunuh. Kalau kita datang ke Asmat, terutama ke kelompok orang di desa Ocenep dan Pirien. Dua kampung itu paling trauma akibat dari kasus Rockefeller dimana salah satu warganya mungkin menangkapnya dan membunuhnya. Akhirnya, masyarakat kedua desa tersebut dalam waktu beberapa hari kemudian hilang antara 300 - 350 orang karena pasukan berseragam, maaf saya tidak bisa sebutkan namanya, masuk ke desa tersebut. Hanya mereka yang sedang tidak ada di desa, sedang mencari sagu, itulah yang selamat. Mereka yang ada sekarang adalah keturunan yang selamat. Karena itu jangan pernah menyebut nama Rockefeller atau Rockefell, raut muka mereka pasti langsung berubah karena mengenang peristiwa yang mengerikan itu.

Kalau melihat peta atau jalur yang selama ini sudah dilakukan, ada atau tidak daerah atau negara yang sampai sekarang belum dijajaki?

Ada, masih banyak.

Apa daerah yang masih ingin dijajaki dan menjadi obsesi Anda ke depan?

Saya akan coba menjajaki jalur Sutera. Sebelumnya saya akan mencari informasi dahulu. Untuk tahun depan kemungkinan saya akan ada di sekitar Mongolia. Kalau di peta, dari Rusia tinggal turun ke bawah, yaitu ada Kirgistan, Turkmenistan, Armenia dan segala macam. Saya akan mencari informasi dahulu. Saya tahu itu hampir mustahil, namun bagi saya tidak ada yang mustahil, tidak ada yang tidak mungkin.

Salah satu daerah yang dianggap memiliki sejarah paling tua di dunia, yaitu daerah di Amerika Latin sekitar Machu Pichu, Peru. Apakah ada obsesi untuk menjajaki daerah tersebut?

Saya merencanakan untuk menjelajahi daerah itu. Mungkin dua atau tiga tahun lagi saya akan melakukan penjelajahan itu kalau masih diberikan umur.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...