Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Rian Hamzah

Sanggar dan Perpustakaan untuk Anak Jalanan

Edisi 644 | 21 Jul 2008 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita Rian Hamzah, salah seorang pengamen yang aktif menulis puisi. Kita akan bincang-bincang seputar gagasannya membuat Sanggar Alam Kita dan perpustakaan keliling dengan sepeda.

Menurut Rian Hamzah, selain faktor ekonomi yang merupakan penyebab anak-anak ada di jalanan, sebetulnya persoalan mereka adalah kurang bisa membaca. Karena itu dia berusaha menolong mereka dengan perpustakaan keliling. Dia melihat situasi di jalanan dimana anak-anak lebih banyak hanya berkumpul, mengamen, dan hanya bisa menghitung uang. Agar anak-anak jalanan bisa membaca, dia membawa buku dengan bersepeda sebagai perpustakaan keliling agar bisa dibaca oleh mereka.

Selain itu, Rian Hamzah dan teman-teman membuat sanggar bernama "Sanggar Alam Kita’. Kalau sekarang disebutnya wadah pendidikan seni, alam dan lingkungan. Semua kawan-kawan yang terlibat adalah pengamen. Sanggar tersebut gratis. Tidak sama sekali ditarik biaya. Di sanggar tersebut, anak-anak dilatih agar lebih peka terhadap kesenian, seperti bisa bermain gitar dan membaca puisi. Kalau menyanyi harus bisa menyanyi yang sebenarnya.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Rian Hamzah.

Berapa lama Anda sudah terlibat di dunia mengamen?

Sudah lama. Fenomena di jalanan banyak ragam tingkah polahnya. Mudah-mudahan itu yang baik-baik saja. Kalaupun ada yang tidak baik maka sebut saja itu oknum. Kalau saya mengamen tidak seperti orang lain pada umumnya yang memakai gitar. Saya mengamen dengan membacakan karya-karya sastra seperti puisi, bahkan mendongeng.

Mengapa Anda memilih membacakan karya-karya sastra, apakah ini lebih karena kebanyakan orang memilih jalur lagu atau musik dalam mengamen?

Ya, bisa juga karena itu. Namun itu sebetulnya karena saya kurang lihai untuk menyanyi. Kalau masalah bermain gitar seperti mengetahui kunci-kuncinya mungkin bisa tapi tidak lihai. Jadi, saya berpikir mengapa tidak membacakan puisi-puisi, dongeng, atau sastra saja.

Saya tertarik dengan yang Anda katakan bahwa sebetulnya kehidupan jalanan sebagai fenomena tersendiri yang sering diberikan label negatif. Bagaimana pandangan Anda setelah terjun ke kehidupan jalanan dan melihat langsung secara kasat mata dan menekuni dunia itu?

Kalau orang mengatakan pekerjaan saya itu tidak layak atau tidak baik, saya hanya mendengarkan saja masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Saya bekerja mengamen ini dengan hati nurani yang tulus dan ikhlas. Ketika dulu waktu kecil saya membantu orang tua berdagang terus sekolah. Saya kalau tidak mengamen maka tidak sekolah.

Apa kira-kira yang melatarbelakangi atau alasan sebagian besar teman-teman Anda ketika terjun dalam dunia mengamen?

Kalau di kota besar mungkin karena keadaan atau juga karena sekolah. Dia tidak tamat sekolah menengah atas (SMA), atau hanya tamatan sekolah dasar (SD), atau mungkin sama sekali tidak sekolah.

Saya membaca di salah satu berita di media Ibukota bahwa Anda selain mengamen juga mempunyai pekerjaan sambilan yaitu mengayuh sepeda dengan perpustakaan keliling?

Ya, betul. Saya melihat situasi di jalanan saat itu dimana anak-anak lebih banyak hanya berkumpul, mengamen, dan hanya bisa menghitung uang. Membaca pun sepertinya mereka kurang bisa. Supaya anak-anak itu bisa membaca, saya berpikir untuk membawa buku agar bisa dibaca oleh anak-anak. Akhirnya, waktu itu saya dan teman-teman membuat sanggar bernama Sanggar Alam Kita. Kalau sekarang disebutnya wadah pendidikan seni, alam dan lingkungan. Semua kawan-kawan yang terlibat adalah pengamen.

Saya membayangkan mereka adalah anak jalanan yang juga mempunyai pekerjaan sendiri. Apakah mereka mau diberikan semacam pelatihan dan sebagainya yang menyita waktu mereka dalam mencari uang?

Pertama kali sangat sulit mendekati anak-anak. Apalagi bila orang tuanya yang menyuruh mereka harus mengamen. Misalnya, "Lu ngamen deh, ngapain gitu-gitu saja". Akhirnya lama-kelamaan, saya dan teman-teman bisa juga. Sanggar yang kami dirikan juga sanggar di daerah yang rawan banjir dan setiap tahunnya banjir, yaitu di Kampung Melayu Kecil.

Di sana ada lahan kosong di pinggir kali. Lahan kosong itu sering kami pakai untuk latihan teater dan menyanyi. Terus di sana ada juga pojokan yang diapit rumah lalu dijadikan perpustakaan. Lahan tersebut milik orang lain. Di sana banyak juga anak-anak sehingga kita meminta izin orang tuanya. Anaknya berkumpul di sana kita memberikan pelajaran menyanyi, membaca, membaca puisi. Akhirnya, mereka mau.

Apa yang Anda lakukan melalui sepeda?

Kalau melalui sepeda, saya memodifikasi sepeda itu agar buku bisa ditumpuk-tumpuk di belakang jok. Ada dua tas tempat saya menumpukkan buku-buku.

Dari mana Anda mendapatkan buku-buku tersebut?

Pertama, saya mendapatkannya dari teman-teman sendiri. Mereka mengumpulkan buku-buku. Terus ada juga yang saya beli sendiri di tempat penjualan yang murah seperti di pinggir-pinggir jalan. Itu pun meminta izin dulu kepada istri.

Apakah dipungut biaya untuk membaca buku tersebut?

Gratis untuk dibaca.

Apakah ada kesulitan atau tidak ketika Anda membawa buku-buku ini untuk dibaca oleh kawan-kawan pengamen karena pasti mereka harus sigap sewaktu-waktu naik ke mobil untuk mengamen? Apa sempat waktu mereka untuk membaca, apa memang buku itu boleh dibawa pulang?

Memang sulit juga sih. Tapi di setiap halte mereka pasti mengantri dulu untuk masuk ke mobil, atau ada juga yang mengamen di mobil berhenti di perempatan lampu merah. Ketika lampu hijau menyala, mereka berhenti sebentar. Nah, saya sering nongkrong di tempat-tempat tadi seperti halte dan perempatan lampu merah.

Kalau Anda pribadi, apakah mengamennya di lampu merah atau ikut kendaraan?

Kalau saya ikut kendaraan. Sepeda ditinggal. Jadi semacam perpustakaan keliling yang menetap sebentar di halte kemudian balik lagi.

Apakah pernah mempunyai pengalaman menghadapi petugas penertiban?

Belum sih kalau untuk penertiban sepeda. Kalau sedang mengamen, saya pernah sekali digaruk oleh petugas ketentraman dan ketertiban (Trantib) sewaktu mengamen di bus, lalu saya dimasukkan ke panti.

Saat dimasukkan ke panti, apakah Anda diberikan penyuluhan?

Penyuluhan sih tidak terlalu juga. Intinya seperti di penjara. Tidak lama, paling lama 14 hari tetapi bila diurus cuma tiga hari. Maksudnya diurus, harus bayar ini dan itu. Istilahnya ditebus.

Apakah sistem "digaruk" tersebut membuat Anda dan kawan-kawan jera atau tidak?

Justru tidak jera. Itu bukan solusi. Kalau mau menertibkan kami, klub jalanan, buatlah kafe-kafe yang mengkhususkan pengamen jalanan agar pengamen tetap bisa bermain di kafe semacam itu.

 

 

Apakah Anda dan kawan-kawan merasa ada diskriminasi?

Sepertinya tidak ada.

Apakah ada atau tidak larangan masuk ke tempat tertentu, apakah Anda bisa masuk ke cafe dengan leluasa?

Bisa, kecuali kafe yang dilarang untuk pengamen atau bebas pengamen. Itu pasti tidak bisa.

Kembali ke Sanggar Alam Kita, apa saja kegiatannya?

Di Sanggar Alam Kita, kami melatih menyanyi, membaca, baca puisi, melukis, dan latihan teater.

Di mana saja Sanggar Alam Kita pernah melakukan pentas atau apa saja instasi yang telah mengundangnya?

Sanggar Alam Kita pernah diundang untuk Hari Anak Jakarta Membaca oleh Perpustakan Umum Daerah (Perpusda), di Kuningan, Jakarta Selatan. Kami mementaskan teater anak, membuat pameran tentang sanggar. Satu-satunya sanggar yang terlibat di situ adalah Sanggar Alam Kita.

Bayangan saya, kalau kita berbicara sanggar maka itu menyangkut lembaga. Apakah Anda juga seperti lembaga lain yang mencatatkan ke notaris atau instansi lainnya layaknya kita untuk mendirikan sebuah lembaga?

Sanggar Alam Kita tidak mendaftar ke notaris karena untuk ke notaris harus bayar mahal. Kami tidak mempunyai dana. Kami hanya mendaftarkan Sanggar Alam Kita ke Dinas Kebudayaan dan Permuseuman.

Apakah ditarik biaya atau tidak untuk mendaftar?

Ditarik biaya, cuma karena saya sampai meminta maaf dengan mengatakan kami tidak mempunyai uang, kami pengamen tapi ingin mendaftarkan di sini, sehingga tidak dikenakan biaya. Itu dulu sewaktu mau mengikuti festival teater se Jakarta Timur. Jadi harus ada terdaftar di dinas.

Apakah pernah berhasil meraih juara?

Pernah berhasil sekali. Juara tiga.

Apa pengalaman Anda yang paling berkesan?

Yang paling berkesan adalah anak-anaknya susah diatur. Tapi kalau sudah sedikit ngotot baru mereka nurut.

Saya pikir ini pengalaman yang luar biasa. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Anda harus mengamen tapi di sisi lain Anda juga punya niat mulia membuat perpustakaan keliling dengan sepeda. Bagaimana Anda mengurus sepeda Anda ini, apa pernah buku atau bahkan sepeda Anda hilang?

Kalau buku pernah hilang, tapi suka dikembalikan lagi. Anak-anak sering membaca buku yang bergambar. Pengalaman lain, sepeda saya hilang.

Apakah Anda mengetahui siapa yang mengambilnya, apakah petugas trantib?

Bukan, saya tidak tahu.

Buku-buku yang Anda miliki sangat terbatas. Seandainya ada pembaca yang berminat menyumbangkan, kemana buku tersebut harus dikirimkan?

Ke Sanggar Alam Kita di Jalan B No.14 RT.08/RW.09, Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Selama ini Anda bergaul dengan kawan-kawan pengamen. Apa sebenarnya inti usaha Anda dan kawan-kawan, apa yang menurut Sanggar Alam Kita perlu adanya campur tangan dari pemerintah, apa yang Anda inginkan?

Kami menginginkan sekolah gratis yang sebenar-benarnya untuk anak-anak. Pemerintah harus bisa memaksa atau mewajibkan anak-anak dan orang tuanya untuk sekolah. Jangan sampai anak-anak itu terlantar terus dijalanan.

Apakah persoalan utama kawan-kawan Anda adalah sekolah?

Ya, karena kecenderungan anak-anak di jalanan kurang bisa membaca.

Jadi sebetulnya persoalan mereka, selain faktor ekonomi yang merupakan penyebab mereka di jalanan, adalah ketidakmampuan untuk membaca dan Anda berusaha menolong mereka dengan mengupayakan adanya perpustakaan keliling?

Ya betul.

Apakah selama ini Anda pernah menadapatkan bantuan finansial atau anggaran dari luar komunitas Anda?

Dari luar ada juga. Pernah ada salah satu instansi polisi lalu lintas menyumbang buku lumayan banyak

Mengapa mereka tertarik?

Ada seorang ibu bertemu saya di jalanan, saya lupa namanya. Ibu itu bertanya, "Kamu membina anak-anak ini?" Saya mengatakan "Iya dan saya mempunyai sanggar". Kemudian kami diundang ke kepolisian dan besoknya dikirimi buku kurang lebih tiga kardus.

Apakah Sanggar Alam Kita yang Anda kelola bersama teman-teman menarik biaya?

Gratis. Tidak sama sekali kami tarik biaya.

Apa tujuan Anda memberikan pelatihan kepada anak-anak?

Agar anak-anak lebih peka terhadap kesenian, seperti bisa bermain gitar dan membaca puisi. Kalau menyanyi harus bisa menyanyi yang sebenarnya. Kami juga berlatih pasti untuk ada pentas suatu saat nanti. Saya juga berpikir kita kumpul begini suatu hari nanti pemerintah atau siapa saja yang peduli akan tahu tentang kita. Misalnya, kita diminta harus menyanyi maka kita sudah bisa. Kalau diminta pentas musikalisasi puisi maka kita sudah harus bisa. Contohnya, dalam waktu dekat ini kami direkrut untuk pembuatan film dari Departemen Sosial (Depsos) tentang persahabatan orang kaya dan orang miskin, judulnya "Bulan Tersenyum Lagi".

Bagaimana proses pemilihannya kok tiba-tiba Sanggar Alam Kita dipilih untuk ikut terlibat dalam film tersebut?

Proses terpilihnya karena mereka membaca di salah satu koran kemudian mereka menghubungi saya.

Film itu dalam rangka Hari Anak Nasional 23 Juli, diputar di seluruh TV. Banyak anak-anak dilibatkan. Di situ, saya juga mengurusi anak-anak bagaimana berakting. Saya juga main, tapi maaf kepada anak-anak, saya berperan menjadi seorang penjahat.

Biasanya kalau dalam teater itu harus membaca naskah, sedangkan tadi Anda mengatakan sebagian besar dari mereka tidak bisa membaca, bagaimana Anda menolong kawan-kawan ini?

Saya dan teman-teman memilih anak yang bisa membaca dulu. Jadi ada proses seleksi. Yang bisa membaca tentunya mendapat peran yang ada dialog. Yang tidak bisa membaca mendapat peran pengemis, pengamen, dan lain-lain.

Apa rencana Anda ke depan?

Ingin mempunyai rumah singgah seperti sanggar-sanggar lainnya. Itu karena semua pengurus di sanggar saya adalah pengamen. Kami juga ingin mempunyai alat-alat band yang lumayan lengkap, mempunyai buku dan perpustakaan yang setiap tahun tidak habis terkena banjir sehingga harus beli lagi.

Apakah Anda pernah meminta bantuan semacam itu ke pemerintah?

Kemarin, saya mencoba meminta bantuan sepeda pintar ke menteri olahraga. Saya memberikan proposal kepada Pak Budi dan hanya dicatat saja. Terlepas saya tidak tahu apakah proposalnya bagus atau tidak, tapi itu belum ada tanggapan.

Apa kegiatan internal kelompok Sanggar Alam Kita yang sekarang sedang digiatkan?

Sekarang sedang digiatkan penulisan buku, swadaya kami. Untuk membuat buku itu, kita akan cari penerbit yang termurah. Untuk mencetak satu buku itu seharga Rp 6000. Jadi kita harus mempunyai uang Rp 7.000 yang seribunya untuk biaya lain-lain.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...