Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ahmad Suwandi

Relawan untuk Kelestarian Alam

Edisi 641 | 30 Jun 2008 | Cetak Artikel Ini

Kalau berbicara masalah lingkungan, Jakarta termasuk yang penuh masalah. Kita akan berbincang mengenai masalah lingkungan di Jakarta dengan Ahmad Suwandi dari Jakarta Green Monster (JGM).

Ahmad Suwandi mengatakan salah satu aktifitas utama JGM adalah mengamati burung dan berusaha menjaga ekosistem burung. Ini karena burung itu sebenarnya menolong kita dari banyak hal, misalnya untuk penyebaran bibit-bibit tanaman. Tetapi burung-burung sekarang lebih sering makan sampah, jarang lagi makan buah-buahan bakau. Jadi penyebaran pohon bakau di Jakarta seakan-akan berhenti karena tidak ada penyebaran bibit-bibit baru dari kotoran burung-burung yang makan buah bakau. Akibatnya, jumlah bakau di Jakarta makin menipis sehingga ancaman rob (banjir akibat air laut pasang) makin terbuka luas.

Aktifitas lain dari JGM juga meliputi pendidikan lingkungan dan pendampingan masyarakat. Menurut Ahmad Suwandi, kini gerakan Green Monster telah berkembang luas. Teman-teman di Aceh membuat Aceh Green Monster di sana, dan kelompok sukarelawan masyarakat mahasiswa kehutanan dari Kalimantan membuat Borneo Green Monster. Kemudian pecinta alam di Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi membuat Kerinci Green Monster. Tahun ini semuanya akan berdiri serentak, dan pada tahun depan akan digelar Gathering Indonesia Green Monster.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Ahmad Suwandi.

Apa yang Anda lakukan bersama kawan-kawan dengan label Jakarta Green Monster (JGM) dan mengapa lahir lembaga ini?

JGM kini berusia dua tahun. Awalnya dulu hanya sekadar kelompok sukarelawan (volunteer) yang suka jalan-jalan di Jakarta sambil mengamati burung (bird watching). Jadi kita sering kali mengamati burung mulai dari Depok sampai Kepulauan Seribu.

Bagaimana dan apa yang diamati dari burung?

Mulai dari gaya hidupnya sampai keluarga burung. Kita melihat sarangnya sampai mendata burung-burung. Semuanya yang ada di Jakarta. Pada saat itu kami menemukan bahwa di pesisir Utara Jakarta ada hutan kecil cuma 25 hektar, tapi itu adalah sarang burung yang luar biasa kaya jumlahnya. Sensus kami terakhir di sana terdata ada lebih dari 100 jenis burung. Lima tahun yang lalu kawasan itu memang sudah dijadikan kawasan penting bagi burung menurut konferensi internasional pada tahun 2003. Jadi kami memutuskan untuk fokus di situ untuk ikut menjaga kelestarian hutan di situ dengan volunteer-volunteer yang tersebar di seluruh Jakarta.

Jadi JGM itu lebih menunjukkan kegiatan kawan-kawan yang berkaitan dengan aktivitas pengamatan burung?

Awalnya hanya pengamatan burung, tetapi kemudian dalam satu tahun terakhir kami fokus ke empat bidang. Itu karena keempatnya saling terkait dan begitu komplek. Pertama, riset yaitu teman-teman melakukan pengamatan burung termasuk analisa sosial dan sebagainya. Kedua, pendidikan lingkungan. Kami bekerjasama dengan hampir 200 sekolah yang ada di Jakarta. Tahun ini sudah ada 12 sekolah yang menyatakan kunjungan ke suaka margasatwa Muara Angke dan pengamatan burung sebagai bagian dari kurikulum lokal.

Tapi, apa sebetulnya kepentingan atau keingintahuan pertama kali ketika mengadakan pengamatan burung?

Kepentingannya hobi saja, yaitu jalan-jalan karena untuk pengamatan burung bisa jalan-jalan ke mana saja. Kalau hanya jalan-jalan saja tapi tidak ada yang diamati maka garing juga. Jadi awalnya, pengamatan burung sebagai alasan untuk jalan-jalan dan makin lama menemukan banyak hal gaya hidup yang lucu. Contohnya, dulu sewaktu di sekolah dasar (SD), saya sering mendapat dongeng mengenai burung-burung yang membuat sarang dari ranting pohon dan sebagainya. Tetapi sekarang yang kita lihat di Jakarta adalah burung membuat sarang dari sedotan plastik dialasi dengan styrofoam dan sebagainya. Jadi gaya hidup burung sudah berubah.

Apakah itu karena terkait gaya hidup manusianya juga?

Ya, mengikuti gaya hidup masyarakat khususnya di Jakarta yang menjadikan sungai kita sebagai tempat pembuangan sampah. Contoh paling sederhana adalah burung-burung sekarang lebih sering makan sampah, sehingga mereka jarang lagi makan buah-buahan mangrove atau bakau. Jadi penyebaran mangrove di Jakarta seakan-akan berhenti karena tidak ada penyebaran bibit-bibit baru dari kotoran burung-burung yang makan buah bakau. Akibatnya, jumlah mangrove di Jakarta makin menipis sehingga ancaman rob (banjir akibat air laut pasang) makin terbuka luas.

Apakah hasil-hasil riset itu sudah disebarluaskan dan disampaikan kepada siapa saja?

Hasil riset yang kami lakukan itu lebih untuk pendidikan lingkungan bagi anak-anak sekolah maupun komunitas. Sebagai contoh, pada zaman dulu pendidikan mengenai lingkungan sering kali dengan orang mendatangi sekolah lalu bercerita tentang keindahan lingkungan dan sebagainya. Kalau sekarang kami lebih mengajak anak-anak sekolah untuk melihat kejadian sebenarnya. Contohnya, melihat burungnya, melihat burung makan sampah, dan seterusnya.

Siapa saja yang bergabung dengan JGM ini?

Dulu kebanyakan memang mahasiswa biologi, sekarang kecenderungannya sudah bergeser. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang kecewa dengan di Jakarta penuh mall sehingga tidak bisa mengajak anak-anaknya jalan-jalan kemudian bergabung bersama kami membuat tempat pendidikan lingkungan hidup di Muara Angke, Jakarta Utara. Juga banyak dari kelompok-kelompok profesional di Jakarta.

Bagaimana sistem keanggotaannya dan apakah harus menjadi anggota untuk ikut terlibat di kegiatan JGM?

Syaratnya cuma satu yaitu yang penting mau saja. Mereka bisa mendaftar di website kami www.jgm.or.id atau bisa datang ke aktifitas rutin kami. Setiap akhir pekan kami melakukan pengamatan dan pendidikan lingkungan ke pesisir Utara Jakarta. Kalau bertemu kami, mereka bisa mendaftar dan bergabung. Yang mendaftar lewat milis juga banyak.

Apa sebetulnya aktifitas JGM itu dan apa saja kira-kira hasilnya?

Ada beberapa yang cukup menarik hasil temuan teman-teman. Misalnya, kami bergerak di wilayah urban sehingga kami pernah membuat program bernama detektif lingkungan. Program ini sampai sekarang masih berjalan. Kami pernah menelusuri Kali Angke bersama anak-anak sekolah dari sekitar 14 sekolah. Kami menawarkan sekolah untuk ikut terlibat mau menjadi detektif lingkungan dengan penelusuran sungai. Akhirnya kami menemukan banyak kejadian menarik yang ditemukan anak-anak sekolah menengah atas (SMA) secara langsung. Misalnya, kasus kerang hijau di Jakarta yang dipanen kemudian dicuci dengan air limbah, diberi zat pewarna, dan zat pengawet.

Apakah itu hasil pengamatan mereka sendiri?

Hasil pengamatan dari teman-teman detektif lingkungan. Dulu saat dilaporkan melalui media massa sempat terjadi kontroversial soal kasus kerang. Kemudian ada juga hasil riset kami yang menunjukkan sampah di Jakarta kebanyakan dari sampah domestik. Karena itu kami mengarahkan salah satu format pekerjaan JGM adalah pendampingan masyarakat. Awalnya, kami di satu rukun tetangga (RT) di Jakarta Utara mendampingi masyarakat untuk membuat sampah komunal, yaitu satu kampung memiliki satu tempat pengolahan sampah yang bisa dijadikan kompos. Mereka mengumpulkan, mengolah, dan memilahnya sendiri. Yang tidak bisa diolah kemudian dijual ke pemulung. Untuk hasil riset tentang burung, kami menyebarluaskan dan menyampaikannya kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Akhirnya Pemprov DKI Jakarta setuju untuk memulai green coridor pada tahun ini.

Apa itu green coridor?

Green coridor itu sebenarnya wilayah edaran burung. Kemudian oleh Pemprov DKI Jakarta diterjemahkan sebagai bentuk kawasan ruang terbuka hijau terikat. Jadi burung dari Taman Suropati bisa pindah ke Taman Menteng, bisa pindah ke Taman Hutan kota Tebet, pindah ke Srengseng Sawah, dan ke sepanjang sungai Ciliwung. Semua itu dalam bentuk satu ikatan ruang terbuka hijau. Jadi manajemennya tidak terpisah-pisah tapi dalam satu payung besar. Ini salah satu hasilnya.

Bagaimana kondisi sebenarnya sebelum ada hasil publikasi Anda?

Hutan kota atau ruang terbuka hijau di Jakarta itu berdiri sendiri-sendiri. Misalnya, ada hutan kota yang ditanami dengan bentuk jenis keluarga tumbuhan kelapa, seperti kelapa sawit hias. Padahal satu pohon seperti itu menyerap air 60-80 liter per hari. Jenis tumbuhan semacam itu hanya untuk jenis burung tertentu saja. Sekarang kami mengembangkan jenis tumbuhan lebih luas dan telah disetujui oleh Dinas Pertanaman. Sekarang beberapa tempat diganti dengan pohon ketapang yang lebih menghasilkan ekosistem karena dihuni oleh semut dan serangga sehingga mendatangkan burung. Ini contoh-contoh riset dari volunteer JGM, sehingga sekarang hutan kota atau ruang terbuka hijau lebih tertata dan mempunyai satu jalur yang menarik. Hasilnya, orang Jakarta bisa mengetahui kualitas udara di sekitarnya karena makin jarang burung yang kita temui sebenarnya makin menurun juga kualitas udara yang kita hirup.

Bagaimana hasil dari adanya green coridor?

Ada satu yang menarik yaitu di wilayah antara Lenteng Agung dan Kalibata ada kali Ciliwung yang di kanan kirinya ada hutan. Dulu awalnya terpisah-pisah tapi sekarang dijahit menjadi satu rangkaian kawasan oleh dinas pertanian. Hasil riset kami terakhir menunjukkan burung-burung migran dari Selandia Baru menuju ke Siberia sering mampir ke wilayah itu.

Salah satu persoalan di Jakarta adalah sampah. Apakah ada atau tidak kaitannya dengan komunitas burung? Dan apa perubahan lingkungan yang ditunjukkan dari kehidupan komunitas burung ini?

Ada. Sebenarnya burung itu menolong kita dari banyak hal. Pertama, penyebaran bibit-bibit tanaman. Kedua, burung itu menunjukkan arah angin segar, arah udara yang kaya dengan oksigen. Jika kita membuat alur-alur wilayah sebaran burung makin merata di Jakarta maka wilayah udara yang bersih bagi warga Jakarta itu lebih merata juga. Itu yang paling penting.

Bagaimana mengenai sampah tadi?

Setiap hari ada 6.000 ton sampah yang dibuang warga Jakarta ke sungai dan mengalir ke Teluk Jakarta. Makin banyak yang kita buang sebenarnya makin tinggi ancaman bagi diri kita sendiri. Misalnya ancaman dari gelombang pasang yang mengintai Jakarta karena minimnya pohon bakau. Penyebaran pohon bakau terbatas karena tidak bisa lagi dibantu oleh burung. Hal-hal seperti itu yang sangat berkaitan.

Apa hal yang paling sulit dilakukan untuk menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya penyelamatan burung dan segala macamnya?

Masalah lingkungan di Jakarta erat kaitannya dengan gaya hidup. Gaya hidup warga Jakarta itu instan dan saya instan juga, yaitu kebanyakan orang yang hidup di Jakarta tinggal di kos. Mereka datang ke Jakarta hanya mencari duit kemudian pulang ke kampungnya tanpa memperdulikan nasib Jakarta. Yang paling mendasar juga dari gaya hidup Jakarta adalah lebih banyak menggunakan hal-hal yang sifatnya sekali pakai daripada berdaya waktu lama. Contohnya, kami pernah mengadakan kampanye anti tas plastik di sebuah mall. Tapi ternyata mereka lebih suka yang praktis, yaitu datang ke mall yang penting membawa kartu kredit dan pulangnya membawa tentengan banyak, daripada ke mana-mana harus membawa tas yang lebih ramah lingkungan. Jadi ancaman Jakarta sesungguhnya berasal dari gaya hidup kita semua, seperti gaya hidup kita yang membuang sampah di belakang rumah. Ini erat kaitannya dengan revolusi tata kota Jakarta pada awal tahun 1900, yaitu rumah di Jakarta menghadap ke sungai. Kalau kita membuang sampah di sungai maka kita melihat halaman kita kotor. Namun kemudian setelah mulai ada pembangunan jalan dan sebagainya maka sungai menjadi halaman belakang kita sehingga membuang sampah tinggal dilempar ke belakang

Setelah lembaga yang Anda pimpin bersama kawan-kawan berjalan, apa kira-kira persoalan mendasar yang butuh perhatian dari pemerintah?

Perencanaan kota. Perencanaan kota kita selalu berubah tergantung siapa yang memegang kebijakannya pada saat itu. Sampai sekarang Pemprov DKI Jakarta belum memiliki perencanaan yang jelas tentang tata ruang dan peruntukkannya.

Berarti Anda dan kawan-kawan mungkin cemas juga dong seandainya nanti berganti kepala pemerintahan di DKI Jakarta, misalnya. Apakah program Green Coridor kemungkinan akan berubah juga?

Target kami adalah Green Coridor sudah menjadi semacam peraturan daerah (Perda) di DKI Jakarta pada akhir tahun ini. Saat ini belum. Jadi tantangan kita ada di bidang policy. Kalau pada akhir tahun ini dijadikan Perda maka itu akan memiliki dampak jangka panjang seperti pencapaian target ruang hijau terbuka. Ruang terbuka hijau Jakarta hingga tiga tahun mendatang ditargetkan berjumlah 13,94 hektar, semoga itu bisa tercapai. Terkait dengan perencanaan, ini tantangan kita semua. Kalau kita melihat ke belakang pada 10 tahun lalu luas hutan mangrove di Jakarta ada sekitar 1.300 hektar, tapi sekarang tidak lebih dari 25 hektar

Apa kira-kira yang menyebabkan hutan mangrove berkurang?

Satu, pembangungan seperti lapangan golf dan perumahan mewah. Tidak ada pembangunan yang berpihak pada masyarakat bawah di Pesisir Utara Jakarta. Nah kalau terus terjadi pada tahun-tahun mendatang maka bisa dipastikan kita akan kehilangan 40% wilayah Jakarta pada tahun 2020 karena efek dari pemanasan global. Karena itu salah satu upaya kami adalah meminimalisir kehilangan wilayah sebanyak itu. Yang dilakukan sekarang oleh kawan-kawan adalah menunjukkan di Pesisir Utara Jakarta kita masih mempunyai benteng terakhir pertahanan dari abrasi dan efek dari pemanasan global.

Apakah susah atau tidak untuk mengubah gaya hidup kita untuk mendapatkan sebuah lingkungan yang hijau seperti tidak selalu memakai kantong plastik dan segala macamnya yang mempunyai implikasi kepada ekosistem burung dan lainnya?

Susah sekali. Saya pribadi merasakan memang gaya hidup kita sangat nyaman kalau semua serba instan meskipun efek atau ancamannya di belakang lebih banyak lagi. Satu hal yang terlihat menarik adalah ketika kami membuka peluang bagi masyarakat untuk menjadi volunteer. Kurang dari satu tahun sudah ada ratusan volunteer mendaftarkan diri. Kalau kita sedang kopi darat gaya hidupnya mereka sudah membawa kantong minum sendiri-sendiri dan membawa makanan sendiri-sendiri untuk saling bertukar. Ini satu contoh trend di Jakarta yang bisa dijadikan senjata pendidikan lingkungan juga bahwa berbuat ramah pada lingkungan itu tidak sulit dan semua orang bisa melakukannya.

Selain pengamatan burung tadi, apa sebetulnya aktifitas lain JGM yang berkaitan dengan lingkungan atau lebih fokus ke mana?

Kita ada pendidikan lingkungan dan pendampingan masyarakat. Pendidikan lingkungan itu wujudnya setiap Sabtu - Minggu kami memandu anak-anak sekolah dan komunitas jalan-jalan ke Pesisir Utara Jakarta untuk pengamatan burung. Komunitas yang dimaksud adalah di luar anggota dari seluruh warga Jakarta. Bahkan beberapa kali juga sudah ada yang dari luar Jakarta seperti masuk ke wilayah Depok, Bekasi, dan sekitarnya. Sedangkan untuk pendampingan masyarakat, kami fokus pada pendampingan masyarakat di pesisir sungai, kanan kiri sungai yang mengolah sampahnya sendiri.

Apakah Anda memang memfokuskan pada masyarakat di pesisir sungai?

Awalnya seperti itu, tapi kemungkinan tahun depan kami harus berfikir dari hulu sampai ke hilir harus menjadi gerakan bersama.

Bagaimana minat masyarakat tentang lingkungan ini?

Luar biasa, apalagi undang-undang (UU) tentang pengelolaan sampah yang baru disahkan dua bulan lalu memperbolehkan dan mewajibkan pemerintah daerah memfasilitasi pengelolaan sampah oleh masyarakat. Ini loncatan yang luar biasa.

Apa bentuk dari pendidikan lingkungan?

Nama acaranya "fun bird watching". Ini untuk pendidikan keragaman hayati melihat jenis-jenis burung dan sebagainya. Yang kedua detektif lingkungan, lebih berbau agak sedikit riset. Kami melakukan bio indikator dengan melihat hewan yang ada di sungai, Kalau ada suatu hewan jenis tertentu maka kita akan mengetahui kualitas airnya. Jadi mengajak masyarakat untuk membuktikan langsung. Terjun ke sungai berjalan-jalan dengan anak-anak langsung di lokasi yang bermasalah.

Dari mana dana untuk semua kegiatan ini?

50% dari donasi dan 50% dari volunteer. Jadi sudah keluar keringat, juga harus keluar duit. Kami memakai subsidi silang. Misalnya, ada rombongan yang hendak dipandu untuk pengamatan burung sampai ke Kepulauan Seribu. Mereka satu orang membayar Rp 250-300 ribu, sedangkan untuk anak sekolah Rp 25.000 per orang. Itu karena sisanya disubsidi dari kelompok yang membayar lebih.

Apakah ada kelompok seperti ini di daerah?

Ada banyak. Teman-teman kami yang pindah ke Aceh kemudian membuat Aceh Green Monster di sana, dan kelompok volunteer masyarakat mahasiswa kehutanan dari Kalimantan membuat Borneo Green Monster. Kemudian pecinta alam di Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi membuat Kerinci Green Monster di sana. Tahun ini semuanya akan berdiri serentak, dan pada tahun depan kita akan menggelar Gathering Indonesia Green Monster.

Cerita tadi menunjukkan bahwa untuk menggerakkan masyarakat peduli lingkungan tidak sulit. Lalu, apa sebenarnya kesulitan agar masyarakat peduli lingkungannya?

Justru Pemerintahnya. Jaminan pemerintah terhadap akomodasi suara-suara publik Kemudian juga kebijakan yang berpihak pada kepentingan jangka panjang masih rendah, baik di Jakarta maupun daerah lainnya. Misalnya, UU tata ruang kota di Indonesia mewajibkan setidaknya 30% wilayah adalah ruang terbuka hijau. Tetapi saya yakin ruang terbuka hijau di Jakarta sampai sekarang masih kurang dari 10%. Kebanyakan masih berupa mall, dan lain-lain.

Apa kira-kira rencana aktifitas berikutnya dari Anda dan kawan-kawan untuk menjadikan Jakarta lebih hijau?

Satu cita-cita kami tahun ini yang menjadi target kami bersama adalah membuat Jakarta Green Coridor menjadi Perda, dan menjadikan antara satu ruang terbuka hijau dengan ruang terbuka hijau lainnya di Jakarta terkait satu sama lain secara ekosistem maupun nilai fungsi.

Apakah selama ini ada resistensi dari pemerintah soal Jakarta Green Coridor?

Luar biasa dukungannya sejak pemilihan gubernur yang baru. Ia sudah menyatakan mendukung bahkan beberapa dinas, misalnya, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) kemudian Dinas Kehutanan dan Dinas Pertamanan DKI Jakarta sudah mau ikut serta. Misalnya, kita ada detektif lingkungan, mereka juga ikut serta ke dalam kegiatan. Saat kita melakukan pengamatan burung, staf Dinas Kehutanan juga diwajibkan ikut. Jadi relatif tidak ada penolakan, kecuali justru dari pemimpin lokal. Misalnya, dari hasil riset kami menunjukkan di Jakarta Selatan ada 34 illegal dumping untuk sampah yang direstui oleh Pemda setempat. Namun setelah kami laporkan sampai sekarang belum ada tindakan apapun juga.

Apa maksudnya illegal dumping?

Jadi di sepanjang sungai Ciliwung antara Lenteng Agung dan Kalibata ada 34 titik pembuangan sampah yang direstui oleh Pemprov DKI Jakarta Selatan. Berton-ton sampah didorong oleh truk berplat merah dari Dinas Kebersihan masuk ke sungai Ciliwung yang airnya bermuara di Jakarta Utara. Padahal sampah di Jakarta Utara paling sedikit tapi wilayahnya paling kotor karena semua sampah melalui 13 sungai masuk Jakarta Utara.

Apa yang berubah setelah dua tahun Anda di JGM?

Sekarang di suaka margasatwa Muara Angke sudah disetujui menjadi pusat pendidikan lingkungan hidup. Jadi sudah dibangun jembatan-jembatan yang relatif lebih bagus, kemudian ada tempat pengamatan burung. Itu dibangun oleh walikota, pemerintah pusat, Departemen Kehutanan, Pemprov, BPLHD. Jadi ini hasil kerja bareng. Semangat kami semangat kolaboratif. Jadi kalau dulu gerakan lingkungan selalu menyalahkan, "Siapa nih yang bersalah", namun gaya kami sekarang, "Siapa lagi yang bisa kita ajak untuk jalan bareng?" Kita fokus ke situ saja dulu karena itu juga sudah sangat berat.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...