Nurlina N. Purbo
Memasyarakatkan Teknologi Informasi
Edisi 639 | 15 Jun 2008 | Cetak Artikel Ini
Berbicara tentang teknologi informasi umumnya bicara tentang hal yang ruwet-ruwet seperti soal komputer dan sebagainya. Namun di tangan narasumber kita Nurlina N. Purbo, hal tersebut menjadi hal yang sangat menyenangkan. Dalam hal ini yang paling penting dari Nurlina N. Purbo adalah justru gagasan atau ide untuk mensosialisasikan hal yang kita sebut ruwet dan sulit itu menjadi mudah untuk lingkungan seputarnya.
Nurlina N. Purbo besama sang suami Onno W. Purbo mengembangkan pelatihan komputer dan internet secara lebih fun untuk memasyarakatkan teknologi informasi (information technology - IT) ke masyarakat sekitar. Pelatihan diberikan kepada para remaja yang kemudian dibentuk Kelompok Remaja Melek IT (KeRMIT). Kini pelatihan mulai diberikan juga kepada kaum ibu.
Nurlina N. Purbo kini berupaya membentuk KeRMIT- KeRMIT di wilayah lain. Setiap anggota baru diharapkan dapat mengembangkan KeRMIT di wilayahnya. Jadi akan banyak kelompok-kelompok seperti ini.
Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Nurlina N. Purbo.
Saya sangat tertarik sekali dengan kegiatan Anda dan suami Onno W. Purbo di KeRMIT. Kalau berbicara KeRMIT biasanya orang ingat kepada "The Muppet Show" yaitu kodok hijau dan kawan-kawannya. Namun KeRMIT Anda ini lain karena merupakan singkatan dari Kelompok Remaja Melek IT (Information Technology). Bagaimana latar belakang munculnya KeRMIT ini?
Latar belakangnya karena di sekitar kita di daerah Cempaka Baru - dekat Cempaka Putih, Jakarta Pusat, banyak sekali remaja tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Sedangkan saya di rumah banyak komputer yang menganggur karena Bapak atau suami saya banyak sekali mendapat sumbangan komputer. Saya mengusulkan agar membuat pelatihan bagi anak-anak remaja di sini.
Apakah Anda memang memiliki latar belakang IT?
Kebetulan saya memang dari IT juga. Kemudian saya mengumpulkan remaja-remaja yang putus sekolah yang tidak bisa melanjutkan kuliah, termasuk yang jobless. Lalu, kita menanyakan kepada mereka, apakah mau atau tidak ikut pelatihan komputer atau bahasa kerennya IT. Mereka bertanya, "Apakah susah atau tidak ya?". Saya jawab, "Tidak, datang dan lihat dulu." Sewaktu mereka datang ada 40 orang remaja laki-laki dan perempuan. Kita latihan yang mudah dahulu dari mulai apa itu internet yang mereka juga memang belum mengetahuinya. Kemudian berlanjut dibuat rutin sebulan sekali. Dari mulai internet lalu merakit personal computer (PC).
Jadi tidak seperti yang di tempat kursus ya?
Tidak. Yang diajarkan bukan hanya software tapi hardware juga. Jadi kita memperkenalkan komputer kepada yang pemula sekali dari mulai jeroan-nya. Kita memberi tahu ini dibongkar dulu, sudah dibongkar lalu dipasang kembali, apakah bisa menyala atau tidak. Tapi kita tetap dampingi, kalau tidak menyala akan repot. Lalu bertahap ke pengetahuan lainnya. Pak Onno juga suka memberikan pelatihan ilmu-ilmu baru kepada mereka. Jadi mereka tidak terbatas hanya komputer dan internet saja. Akhirnya banyak ilmu-ilmu baru dari hasil temuan pak Onno yang kita berikan kepada mereka. Contohnya adalah yang lagi top sekali pada tahun ini dan banyak permintaannya yaitu "wajan bolik".
Apa itu wajan bolik?
Penerima sinyal untuk internet. Konsep RT/RW Net yang kita gunakan sebagai penerimanya adalah wajan bolik. Dari situ remaja-remaja jadi tahu bahwa barang-barang yang sepele ternyata bisa berguna teknologi dan itu murah. Dari situ ide-ide mereka timbul seperti mereka bisa membuat sambungan sesama mereka. Banyak juga yang minta tapi kita tidak berani menjualnya karena harga membuatnya murah terus kalau kita jual mahal juga tidak mungkin. Akhirnya kalau mereka mau membeli, kita tawarkan saja untuk mengajari cara membuatnya.
Kalau pelatihan sepertinya ada jadwal khusus. Apakah ini juga dikemas dengan kurikulum?
Saat ini kita sudah berjalan satu tahun, memang itu masih otodidak. Dalam setahun itu yang rutin setiap bulan di minggu kedua. Semula tutornya masih Pak Onno sendiri. Namun setelah tiga bulan berjalan sepertinya tidak cukup kalau hanya sebulan sekali. Mereka mengatakan sudah lupa lagi. Akhirnya kita memberikan tempat dan sarana untuk mereka pakai latihan. Silakan datang lagi kalau belum bisa. Kali ini tutornya dari mereka untuk mereka.
Jadi sistemnya seperti pengetahuan yang bergulir, Pak Onno hanya sekali saja memberikan pelatihan kemudian share ke semua.
Ya, sekali dan kemudian saling share. Pelatihan itu sama sekali kita tidak pungut biaya.
Kalau melihat perkembangan pelatihan ini, apakah hal itu seperti yang Ibu harapkan sebelumnya?
Kalau dilihat dari perkembangannya sekarang memang iya karena dari orang yang tidak mengerti jadi mengerti. Dari orang yang sudah mengerti menjadi tambah mengerti. Dari yang pengangguran sekarang sudah bisa mendapatkan pekerjaan dari ilmu yang kita berikan. Berarti itu sudah seperti harapan kita. Tapi kita tidak pernah berhenti karena ilmu IT itu berkembang sangat pesat. Jadi mereka kita harapkan tetap belajar, dan tidak hanya tergantung kepada Pak Onno. Jadi kita juga mengundang teman-teman dari kelompok lain. Kalau mereka mau membantu kita dalam pelatihan maka kita undang juga. Akhirnya pelatihan yang hanya sebulan sekali itu sekarang menjadi dua minggu sekali.
Berapa kira-kira jumlah muridnya sekarang?
Pertama kali kita membuka pelatihan ada 40 orang, tapi yang rutin setiap latihan ada 25 orang. Sekarang sudah bertambah menjadi 70 orang dan kita sudah kehabisan tempat karena ruangan kita terbatas.
Apakah sudah ada yang bekerja dari alumnus selama setahun ini?
Ya, mereka sudah bekerja. Sekarang peserta inti saja hanya 10 orang karena pelatihannya hari Minggu. Kita info saja mereka pasti datang.
Bagaimana perbedaan antara pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh kelompok KeRMIT dengan kursus maupun sekolah IT atau sekolah komputer biasa?
Kalau di KeRMIT lebih fun. Setiap latihan kita banyak tertawa sehingga yang susah menjadi tidak susah. Kalau di tempat kursus, mereka mengajarkannya "one way" karena mereka ada target. Misalnya, berapa jam harus selesai, mereka harus apa saja. Sedangkan kita tidak, misalnya, pada saat tutor sedang memberikan pelatihan diselingi dengan canda. Kita tanya apakah sudah mengerti atau belum. Jika ada yang belum mengerti, maka kita mempersilakan yang sudah mengerti untuk berani maju. Jadi benar-benar interaktif.
Pelatihan ini lebih menuntut kreatifitas anak agar dimunculkan. Apakah untuk materinya kurang lebih sama dengan pelatihan lain?
Beda, karena saya justru mengetahuinya dari mereka sendiri. Yang diajarkan di sini tidak ada di sekolah dan di tempat kursus. Misalnya, membuat wajan bolik itu tidak ada di kuliah atau tempat kursus. Itu hasil temuan kita yang lebih ke masyarakat awam.
Selama perjalanan satu tahun ini apakah ada perbedaan antara mengajarkan masyarakat awam dengan orang yang memang sudah sejak awal mempunyai dasar pengetahuan tentang IT?
Yang paling susah itu menjaga mood orangnya. Itu karena mereka tidak seperti orang lain yang harus membayar, jadi mungkin targetnya lain. Kalau mereka pikir sudah tidak bisa di pelatihan ini, mereka berhenti. Tapi kalau dia membayar mungkin akan bertahan sampai detik terakhir. Jadi kesulitannya di situ. Namun saya juga tidak mau kalau mereka sudah membayar menjadikan saya terbebani, mereka sudah bayar tapi ternyata hasilnya tidak sesuai yang mereka harapkan.
Karya andalan adalah wajan bolik, apakah ada cerita khusus tentang ini terutama setelah Pak Onno ikut tampil di acara Republik Mimpi?
Sebetulnya bukan andalan, tapi karena di luar tidak ada maka itu menjadi tren sekali. Jadi sewaktu mereka diberi pelatihan wajan bolik, kita benar-benar mengambil contohnya dari barang-barang bekas. Wajan boliknya benar-benar wajan yang bekas, kita sampai mencari wajan yang tidak terpakai lagi ke tukang-tukang loak. Kemudian mereka berlatih agar bisa mengubah wajan menjadi antena. Setelah jadi mereka melakukan test dengan membawa laptop untuk mengetahui suatu jalan dapat sinyal atau tidak, ternyata dapat. Bagi mereka, itu surprise sekali. Jadi sebenarnya tujuannya itu ke RT/RW Net supaya dapat membangun jaringan internet murah.
Apakah itu berarti mereka semua sudah melek komputer di lingkungan Anda?
Mereka sudah. Kalau dibilang mereka tidak kenal, sekarang mereka sudah banyak main ke warung internet (Warnet) untuk chatting, dan sebagainya. Mereka berusaha, ternyata dengan wajan bolik bisa menarik akses internet ke rumah.
Ini lebih sekadar hobi, atau memang keinginan untuk mensosialisasikan IT terkait ada kesenjangan di masyarakat awam tentang pengetahuan IT, karena Anda tadi mengatakan tidak memungut biaya tapi lebih kepada share pengetahuan?
Target saya adalah ingin semua orang bisa memanfaatkan IT. Sayang, kalau kita mempunyai fasilitas tapi tidak digunakan, sedangkan di sekeliling kita yang bisa komputer juga masih kurang. Pelatihan ini tidak terbatas hanya di lingkungan saya saja sebenarnya, siapa saja yang mau gabung, yang tidak bisa, dan tidak punya, silakan datang.
Apa yang berbeda di lingkungan Anda ketika setahun ini berjalan?
Sekarang mereka terutama sudah merasakan manfaat bisa memakai internet, jadi ketergantungannya sudah lumayan tinggi. Mereka akan berusaha mencari internet murah, dengan begitu mereka disuruh coba membuatnya juga.
Apa saja pengalaman unik seputar pelatihan ini dalam perjalanan setahun, misalnya, dengan warga tentang proses mensosialisasikannya?
Kemarin ada ibu mengatakan, "Aduh anak saya kok rezekinya ada di sana ya." Selama setahun ini tidak pernah main ke rumah kami untuk ikut pelatihan tidak mendapat pekerjaan, sekarang sejak ikut pelatihan di rumah kami menjadi dapat pekerjaan. Saya pikir mungkin karena dia rajin membuka internet sehingga mengetahui ada lowongan kerja.
Apa harapan Anda kedepannya, apakah ini akan menjadi semacam pelatihan seperti ini terus ataukah akan dibentuk yang lain?
Kalau saya mengatakan mempunyai target terlalu tinggi. Saya tidak mengetahui apakah ini tinggi atau tidak, target saya adalah ada KeRMIT- KeRMIT lain di wilayah lain. Kini setiap anggota baru kita harapkan dapat mengembangkan KeRMIT di wilayahnya. Jadi akan banyak kelompok-kelompok seperti ini. Sampai hari ini yang bersedia membuka itu banyak. Cuma mereka tergantung fasilitas dan sarana. Kalau kita dari tim KeRMIT utama yang di rumah saya mungkin nantinya hanya akan datang sebagai tutor. Sedangkan untuk sarana-prasarana, mereka yang akan persiapkan. Harapan saya seperti itu.
Siapa yang menjadi tutor di KeRMIT selain Pak Onno? Apakah yang dulunya murid sekarang sudah ada yang menjadi tutor?
Saya, dan sekarang dari peserta yang sudah bisa mengajar ada empat orang di samping saya. Jadi kita sudah ada enam untuk tutor.
Apakah Anda melihat pelatihan ini sangat berpotensi berkembang ke depannya?
Jelas, ini akan menjadi suatu tren ke depannya. Saya berharap bakal tumbuh Onno-Onno baru karena sekarang dengan adanya KeRMIT maka wawasan remaja mengenai IT sudah bertambah. Jadi saya sudah lepas mereka dan sekarang saya lari ke perempuan, latihan untuk para ibu. Itu karena tampaknya perempuan dan IT masih sangat jauh di sini. Selama ini peserta pelatihan juga lebih banyak laki-laki. Usaha pelatihan ke perempuan dan para ibu sudah dimulai.
Bagaimana cara Anda menggandeng ibu-ibu atau para perempuan ini?
Ibu-ibu itu ternyata mempunyai harapan ingin belajar IT karena sebenarnya mereka ingin juga membantu anak-anaknya belajar IT. Awalnya, setelah saya tanya apa yang mereka mau pelajari dari IT, mereka mengatakan mau belajar komputer. Jadi saya perkenalkan komputer. Ternyata mereka merasa tidak susah, sehingga lama-lama mereka makin giat.
Kapan waktu pelatihan untuk Ibu-ibu ini?
Kalau untuk KeRMIT dari pukul 10 sampai 12, setelah itu untuk ibu-ibu.
Apakah ada perbedaan minat materi belajar antara murid-murid dari kalangan perempuan atau ibu-ibu dengan yang laki-laki?
Iya, kalau saya lihat untuk yang lebih teknikal rata-rata laki-laki, sedangkan perempuan tidak. Belajar mengenai hardware lebih banyak laki-laki. Sedangkan untuk software, misalnya membuat blog, lebih banyak perempuan. Kalau untuk ibu-ibu, sekarang masih belajar internet dan membuat surat elektronik (e-mail). Para ibu menggunakan untuk mencari resep masakan dan model bordir.
Di mana saja daerah yang sudah mendapat pelatihan IT ini?
Di daerah Cempaka Baru sebelum Cempaka Mas, Jakarta Pusat.
Setelah Anda mengerjakan pelatihan ini, apakah ada dampak lain seperti ada orang luar yang kemudian mencoba membantu menyebarluaskan hal–hal yang telah Anda lakukan bersama Pak Onno ini?
Harapannya sih seperti itu, ada orang luar yang mau membantu kita untuk menyebarkan-luaskan kelompok ini juga. Selama ini kita sudah ada pemberitaan dari koran-koran, sedangkan yang belum dari donor.
Apa yang paling dibutuhkan oleh KeRMIT dari donor?
Sebenarnya yang paling dibutuhkan itu fasilitas karena untuk pelatihan itu memerlukan komputer. Kalau materi gampang, sedangkan kalau alat-alatnya mahal. Untuk uji coba perakitan PC tentu saat bongkar pasang pasti ada yang rusak, dan itu cukup lumayan.
Saya kagum dalam arti Anda sebetulnya mengambil alih tugas pemerintah untuk mensosialisasikan atau menyebarkan informasi pengetahuan tentang IT. Menurut Anda, apa sih yang harus dikerjakan pemerintah lebih jauh dalam melihat persoalan ini?
Saya ingin pemerintah paling tidak dari level yang terdekat dengan kita yaitu RT/RW membantu kita. Remaja kita sekarang butuh pelatihan IT dan perhatian. Zaman saya dulu ada Karang Taruna, jadi paling tidak dari level Karang Taruna sudah diberikan pelatihan semacam itu sehingga nanti bisa jadi levelnya bertingkat-bertingkat sampai wilayah DKI. Sekarang ini masih ruang lingkup RW sehingga masih kecil. Jadi harapan saya sudah ada turun tangan seperti itu.
Apakah RT/RW di lingkungan kita memang tidak menaruh perhatian?
Kayaknya masih adem ayem saja di lingkungan kita. Apa mereka tidak mau atau bagaimana, saya tidak mengerti juga.
Bagaimana di lingkungan Anda sendiri, apakah tidak mendapat kesulitan yang berarti?
Kalau dibilang tidak ada kesulitan, ada kesulitan karena Pemda kita tidak mau melihat itu. Jadi kita masih berjuang sendiri. Kita benar-benar swadaya, semua dari kita.
Oh jadi semuanya dari swadaya. Apakah ada atau tidak semacam iuran bersama?
Tidak ada.
Kalau ada komunitas yang ingin membentuk KeRMIT, apa kira-kira yang menjadi modal utama untuk mensosialisasikan gagasan ini?
Niat adalah paling utama buat saya. Kalau kita mau membuat pelatihan tapi mereka ogah-ogahan maka tidak akan jadi. Karena setiap pelatihan itu, seperti sudah saya katakan di awal, paling susah menjaga mood mereka. Mengumpulkan orang belajar belum tentu gampang juga. Kalaupun sudah dapat orang ternyata niatnya hanya separuh, akhirnya mereka kabur lagi.
Satu yang tertinggal, apa sebetulnya yang membuat Anda kemudian terbersit untuk menciptakan pelatihan ini?
Kesenjangan. Bagi saya, perbedaaan antara yang mempunyai dan tidak mempunyai keterampilan IT jauh sekali saat ini. Mungkin yang bisa mengenal komputer, IT secara keseluruhan adalah orang-orang yang punya. Sekarang yang tidak bisa sekolah dan orang yang tidak punya, bagaimana bisa mengoperasikan komputer. Saya memberikan kesempatan mereka untuk itu.




