Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Armi Susandi

Perubahan Iklim Betul-Betul Isu Sentral

Edisi 636 | 26 Mei 2008 | Cetak Artikel Ini

Pembaca Perspektif Baru bertemu dengan saya Wimar Witoelar. Tamu kita pasti sudah banyak yang kenal yaitu DR. Armi Susandi, ahli climatology yang sekarang menjadi pengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Armi Susandi mengatakan potensi bencana sebagai dampak climate change (perubahan iklim) di Indonesia berbeda-berbeda di setiap daerah karena Indonesia adalah negara kepulauan. Misalnya, di Sumatera pada masa mendatang akan sering terjadi banjir dan longsor. Jawa Tengah dan Yogyakarta berpotensi akan sering terjadi puting beliung atau angin kencang.

Menurut Armi Susandi, upaya adaptasi dan mitigasi terhadap climate change harus dipahami oleh kepala daerah. Salah satunya adalah dengan cara membuat satuan tugas (Satgas) climate change, seperti yang dilakukan Nusa Tenggara Barat (NTB). Tugasnya antara lain memetakan wilayah yang rentan terhadap bencana dulu. Setelah itu baru mereka melakukan upaya pembangunan. Kalau kita sudah mengetahui daerah yang rentan bencana maka minimum bisa mengetahui langkah-langkah yang tepat, sehingga kita bisa mereduksi (mengurangi) dampak yang mungkin akan terjadi dari climate change.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Armi Susandi.

Sewaktu Anda studi lanjutan mengenai climate change dulu di Jerman, masalah ini sudah mulai muncul menjadi kesadaran orang. Tapi kebetulan dalam tahun-tahun terakhir ini hal itu betul-betul menguasai kesadaran secara global antara lain karena ada film dari Al Gore mengenai perubahan iklim berjudul "The Incovenient Truth" sehingga secara kilat dan jelas membawa masalah ini ke masyarakat. Izinkanlah saya untuk menobatkan Anda sebagai Al Gore Indonesia. Menurut Al Gore Indonesia, apa betul climate change yang di dalamnya termasuk pemanasan global (global warming) bisa dikatakan sebagai isu utama dalam masalah lingkungan?

Saat ini isu lingkungan tentang global warming memang menjadi isu utama yang dibicarakan semua orang. Jadi sejak awal Indonesia memang sangat terlambat menyikapinya, tetapi dengan adanya Conference of Parties (CoP) di Bali pada 3 - 15 Desember 2007 menyebabkan perubahan iklim menjadi isu sentral yang kemudian sampai ke pelosok-pelosok. Isu ini memang luar biasa sekali. Walaupun tidak semua orang membicarakannya, tapi setidaknya pemimipin daerah membicarakannya.

Ok, kalau sesuatu dibilang isu, artinya, itu akan menimbulkan bencana. Apa sebetulnya bencana yang akan terjadi kalau climate change dibiarkan?

Indonesia adalah negara kepulauan dengan geografisnya yang terdapat banyak laut sehingga potensi bencana juga berbeda-beda. Contoh, di daerah Sumatera pada masa mendatang akan sering terjadi banjir dan longsor. Jawa Tengah dan Yogyakarta berpotensi sering terjadi puting beliung atau angin kencang. Kemudian tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak akan subur nantinya. Wilayah kita di Kalimantan kemungkinan besar potensi kebakaran hutannya makin besar. Jadi berbeda-beda potensi bencananya di wilayah kita.

Apakah bencana yang digambarkan itu sudah mulai terjadi pada berbagai skala atau baru skenario masa depan?

Sudah terjadi. Misalnya, banjir atau longsor yang terjadi sekarang. Longsor utama berpotensi akan terjadi di daerah Sumatera pada masa mendatang karena Sumatera tidak pernah mengenal musim kemarau selalu hujan terus-menerus, sementara stuktur tanahnya tidak sebagus yang di Jawa. kemudian untuk daerah NTT, saya kaget sewaktu penelitian saya menunjukkan daerah yang basah dibandingkan daerah lainnya. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) juga mengatakan hal sama. BMG mengatakan anomali tertinggi curah hujan terdapat di NTT. Nah awal mulanya saat ini belum akan menjadi tanah yang tidak subur tapi berupa longsor-longsor terlebih dulu. Jadi melalui pelemahan tanah.

Kalau banjir yang terjadi seperti di Jakarta, apakah itu karena climate change juga?

Kalau banjir di Jakarta itu faktor human. Perubahan tata guna lahan jauh lebih besar daripada pola perubahan curah hujan. Memang kita lihat ada perubahan pola curah hujan dari Selatan, yaitu Bogor ke Utara, tetapi faktor alam dan lingkungannya yang berubah lebih cepat jauh lebih dominan dibandingkan dengan perubahan iklim itu sendiri.

Saya pernah membaca laporan United Nation Development Program (UNDP), kalau terjadi climate change di Indonesia maka orang miskin yang paling terkena dampaknya. Padahal yang tinggal di pesisir laut sebetulnya ada juga orang kaya. Mengapa orang miskin dianggap sebagai korban utama?

Kemampuan adaptasi orang miskin terhadap perubahan iklim itu jauh dibandingkan orang kaya. Jika orang kaya mempunyai persoalan dengan daerahnya karena perubahan iklim maka dia pindah ke pegunungan, dia membuat rumah di sana. Namun kalau orang miskin seperti teman-teman kita di Penjaringan, mereka tidak ada pilihan lain karena aktifitas dan kehidupannya di sana. Jika ada rop (air laut pasang) atau hujan yang tinggi sehingga ada rop di sana, maka mereka tidak ada pilihan lain kecuali hidup mereka di sana. Mungkin mereka tadinya dalam satu tahun satu kali terkena rop, sekarang sudah mulai terkena tiga - empat kali dalam setahun.

Apakah betul iklim itu berpindah atau berubah? Bukankah iklim itu pola hujan, temperatur, seasons (musim), jadi apakah memang ada perubahan hal itu?

Ya, sebagai contoh di Jakarta. Sebenarnya dulu curah hujan Jakarta banyak jatuh di Selatan Jakarta, yaitu di daerah Bogor. Lama kelamaan, saat ini pola curah hujannya tidak terjadi di Bogor saja tetapi juga terjadi di Depok, dan masuk ke wilayah Selatan Jakarta. Jadi kalau dulu banjir itu adalah banjir kiriman, sekarang bukan banjir kiriman karena airnya jatuh di wilayah Jakarta. Ini membuat orang mengatakan banjir kiriman tidak ada tapi kok Jakarta tetap banjir. Ini karena memang pola curah hujannya pindah ke Jakarta. Berdasarkan proyeksi yang pernah kita buat, nanti curah hujannya akan berpindah bukan lagi di daerah Pondok Bambu tetapi pindah ke arah Bekasi. Secara fakta, itu sudah terjadi cuma nanti kecenderungannya makin lama makin besar terjadi. Jangka pendek, pola curah hujannya pindah ke Depok, tapi jangka panjang pindah ke arah Bekasi.

Mengapa climate change dianggap dihasilkan oleh global warming, atau pertanyaan mendasarnya apa penyebab global warming?

Itu karena konsumsi bahan bakar fosil atau pembalakan hutan yang menyebabkan ada banyak gas CO2 di atmosfir. Gas ini mempunyai sifat tidak bisa melewatkan kembali sinar matahari yang terpantulkan dari permukaan bumi. Radiasi ini panas, sifatnya infrared. Makin banyak panas ini di permukaan bumi maka akan mempengaruhi pola-pola cuaca, termasuk berpotensi meningkatkan pola cuaca ekstrim seperti badai yang ada di Burma. Jadi potensi-potensi badai itu sering terjadi. Badai terjadi karena ada perbedaan tekanan atau perbedaan temperatur.

Perubahan iklim, badai, dan segala macamnya tentu mencelakakan orang karena kita melihatnya dalam skala orang. Kalau melihat secara skala sejarah bumi, apakah iklim itu sesuatu yang boleh saja berubah setelah dua millenium atau 3.000 tahun? Apa ini suatu disaster (bencana) ekologi atau hanya bencana untuk orang-orang saja?

Kalau kita melihat dari sejarahnya, sudah ada kajian untuk satu wilayah tertentu. Kita melihat beberapa kali fenomena badai-badai itu terjadi. Kecenderungannya terjadi makin meningkat. Kita lihat lagi, mengapa meningkat? Potensi badai itu terjadi karena memang permukaan laut menjadi panas, kemudian tekanannya berubah atau berbeda sangat ekstrim. Inilah yang menyebabkan potensi badai. Potensi penyebab badai itu ada semua saat ini. Kemudian fakta menunjukkan pada lokasi yang sama badai yang terjadi lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Sebagai contoh, dulu badai di Indonesia hanya lewat sekali di Selatan dari Australia. Sekarang sudah dua kali lewat. Yang terakhir adalah nicklaus sudah lewat Indonesia. Memang hanya lewat saja tapi itu menyebabkan nelayan kita di Maluku lumayan pusing karena kapalnya terombang ambing.

Sekarang kembali ke dua istilah tadi, adaptasi dan mitigasi. Untuk adaptasi, kalau orang sudah mengetahui iklim berubah maka dia menyesuaikan diri dengan iklim tersebut. Pilihan lain yang disebut mitigasi. Apa itu mitigasi?

Mitigasi ada dua cara. Pertama, mengurangi bahan bakar fosil. Jadi kita memakai gas atau elpiji atau energi angin atau energi gelombang, dan sebagainya. Jadi sumber penyebab perubahan iklimnya yang kita kurangi. Kedua, kita mengurangi CO2 atau gas rumah kaca dengan cara menanam pohon sehingga menyerap CO2 lebih banyak. Pohon itu menyerap CO2 hanya pada saat tumbuh. Jadi kita tanamlah pohon-pohon baru sehingga kemampuan menyerap CO2 makin kencang. Kita pelihara pohon sampai umur 70 tahun atau berapa tahun, setelah itu baru kita potong tapi jangan dibakar.

Daun-daunan pohon itu menyerap CO2 dan mengeluarkan oksigen. Kalau industri mengambil oksigen dan mengeluarkannya menjadi CO2. Apakah gangguan keseimbangan itu terutama dari sistem industri yang mengeksplotasi oksigen masih bisa tertolong karena investasi industri sudah ratusan tahun? Apakah secara realistis masih bisa dikoreksi jalannya industrialisasi?

Bisa, tapi memang lambat sekali, cost-nya tinggi sekali. Cara mengoreksinya, kita mengganti bahan bakar dengan yang lebih rendah emisi. Teknologi diarahkan ke sana. Kita lihat semangat Eropa untuk menggurangi penggunaan bahan bakar fosil sebesar 20% dari saat ini. Semangat 20% itu luar biasa sekali. Mereka pada tahun 2012, sedangkan kita pada tahun 2025 baru mencapai pengurangan 10%. Jadi fungsi riset dan pengembangan teknologi penting. Untuk Indonesia, saya menyarankan kita tidak hanya mengandalkan pada riset luar negeri. Ini karena mereka tidak akan pernah ada transfer teknologi. Yang memikirkan tentang teknologi "low wind speed turbine" itu hanya kita, tidak mungkin negara seperti Jerman atau Denmark

Apakah itu maksudnya riset untuk turbin angin rendah hanya dilakukan di Indonesia?

Artinya, mereka tidak akan mengembangkan teknologi yang cocok untuk Indonesia. Hanya kita yang harus mengembangkannya. Seharusnya kita sudah berfikir, mereka akan memberikan teknologi yang sesuai dengan negara mereka sendiri, tidak untuk negara kita.

Apa sebetulnya poin besar CoP dalam Kyoto Round di konferensi global yang kedengarannya seru seakan-akan ada perbedaan pihak padahal sama-sama tidak mau terjadi bencana ekologi, dimana perselisihannya?

Salah satu poinnya dimana negara-negara index satu harus mengurangi emisi 25 - 40%. Kalau itu terjadi maka implikasinya luar biasa besar. Keharusan mengurangi emisi itu sangat jauh lebih besar, dan itu pasti berpengaruh ke ekonomi.

Apakah akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang melambat?

Ya, begitu karena mereka harus mengganti bahan bakar yang rendah emisi dan itu mahal.

Sebetulnya kalau dilihat dalam neraca keseluruhan, mereka yang merusak seharusnya mereka yang memperbaiki. Tapi sekarang perbaikan dilakukan secara bersama padahal sewaktu pengrusakan kita tidak mengetahui apa-apa karena masih negara jajahan.

Saya setuju itu. Karena itu slogannya, "Siapa yang berbuat, dia harus pertanggungjawabkan".

Sejauh mana sekarang kesadaran negara-negara maju dalam hal Climate Change? Itu saya tanya tampaknya rezim-rezim yang ada saat ini sedikit bergeser ke arah yang lebih bertanggung jawab. Misalnya, Australia masuk ke rezim yang ekologinya lebih baik. Kemudian Amerika juga, siapapun yang terpilih pasti akan lebih baik dari pemerintahan Bush.

Sebenarnya kesadaran lingkungan sangat tinggi di negara maju karena mereka sudah lebih dulu mengetahui dampak-dampaknya. Contoh sewaktu kejadian 2002-2003, heat wave mematikan sekitar 23.000 orang.

Pembaca, pada 2003 di Eropa - barangkali di tempat lain juga dimana Armi Susandi lebih mengetahuinya - terjadi gelombang panas di Perancis yang menyebabkan 13.000 orang meninggal. Saat itu musim panas dan mereka juga tidak ngapa-ngapain hanya kepanasan saja. Saat itu memang panas dan di Indonesia juga tidak biasa panasnya sehingga pada sakit semua. Apa penyebab gejala itu?

Itu terjadi karena ada panas yang terkungkung oleh CO2 sehingga cuaca sangat panas.

Apakah Itu sudah akibat global warming?

Betul. jadi panas terkungkung tidak bisa pergi kemana-mana. Dia mencari daerah tekanan rendah yang ada di sekitar sub tropis dan salah satunya adalah di daerah Eropa itu, yaitu Perancis dan Spanyol. Saya masih ingat karena waktu itu saya ada di Spanyol.

Jadi negara industri kalau terkena perubahan iklim sangat terpengaruh. Apakah karena itu mereka lebih sadar?

Mereka sangat sadar sekali. Sewaktu saya di Amerika, mereka membuat tim dan memetakan rumah yang ada orang tua, penempatan ambulan, pendobrak pintu, dan segala macamnya. Jadi, secara tingkat kesadaran, mereka sangat tinggi tapi secara politik belum tentu.

Saat krisisnya lewat mereka lupa lagi. Tapi sekarang jelas ada kesadaran yang meningkat, ada banyak kampanye, dan banyak pembicaraan. Mana yang lebih cepat antara usaha penanggulangannya dan perparahan masalahnya?

Kalau kita lihat dari penyebabnya, tidak pernah turun malah meningkat terus. Padahal life time CO2 itu 200 tahun. Artinya, kata-kata stop global warming itu mungkin untuk semangat ok tapi tempatnya religius. Makin lama makin tambah parah akhirnya kita secara personal (pribadi) harus memisahkan diri, dan secara teknologi harus cepat mencari teknologi yang bisa mengurangi CO2. Saat ini memang sudah ada tapi masih mahal.

Saya sangat terkesan melihat laporan dimana Greenland yang biasanya semua tertutup es gletser sekarang sudah cair, terus ada tanaman. Apakah itu bisa ditafsirkan global warming bisa diatasi dengan migrasi membentuk habitat baru, orang dari daerah kepanasan pindah ke daerah yang tidak terlalu panas?

Jadi migrasi itu sebetulnya justru terjadi ke arah utara karena daerahnya makin hangat. Persoalannya adalah kalau migrasinya hanya satu orang ok, tapi kalau jutaan orang tidak memungkinkan. Artinya, memang harus dicari upaya mengurangi penyebabnya.

Sekarang untuk di Indonesia, apakah kampanye global warming diresapi, dihayati oleh masyarakat atau itu kegiatan yang lebih banyak merupakan suatu simbolik saja?

Saya sadar upaya implementasi global warming itu harus dipahami oleh kepala daerah. Memang sudah cukup banyak dokumentasi ataupun aturan-aturan dibuat oleh pusat tetapi ketertarikan tidak ada, saya bilang nol. Coba mana daerah-daerah yang sudah melakukan upaya adaptasi dan mitigasi paling satu atau dua daerah saja. Misalnya, Nusa Tenggara Barat (NTB) bagus sekali sampai gubernurnya membuat semacam satuan tugas (Satgas) climate change.

Apa kerja Satgas climate change itu?

Pertama, mereka memetakan wilayah yang rentan terhadap bencana dulu. Saya kira itu sudah betul, tepat sekali. Setelah itu baru mereka melakukan upaya pembangunan. Kalau pembangunan tanpa peta yang bisa memposisikan ke depannya dimana daerah banjir, kering, dan sebagainya, saya kira itu akan seperti yang dilakukan sekarang ini yaitu kita menghadapi apa yang tidak kita ketahui. Kalau kita sudah mengetahui maka minimum bisa mengetahui langkah-langkah yang tepat, sehingga kita bisa mereduksi dampak yang mungkin akan terjadi.