Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Daniel Dhakidae

Kebangkitan Nasional

Edisi 634 | 12 Mei 2008 | Cetak Artikel Ini

Pembicaraan kita kali ini dikhususkan untuk membahas "100 tahun Kebangkitan Nasional" dan kita mendapatkan narasumber yang sangat kompeten untuk membicarakan hal ini, yaitu Daniel Dhakidae.

Daniel Dhakidae berpandangan kebangsaan adalah satu proses. Jadi hampir tidak mungkin di tentukan dengan tegas mulai pada suatu tanggal. Itu sama sekali tidak masuk akal untuk satu proses perkembangan yang namanya perkembangan kebangsaan. Kebangsaan tidak pernah mampu dikatakan orang mulai pada 20 Mei 1908.

Menurut Daniel Dhakidae, walaupun itu tidak benar tapi tetap dirayakan, dalam hal ini yang penting adalah bagaimana memberikan makna pada Kebangkitan itu. Salah satu makna untuk kita sekarang ini yaitu kalau dulu ethno nationalism mampu menuju nationalism yang sesungguhnya, maka itu adalah sesuatu yang perlu direnungkan kita semua.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardhani dengan Daniel Dhakidae.

Anda, apa sebetulnya inti Kebangkitan Nasional itu?

Inti yang selalu digembor-gemborkan dan tidak digembor-gemborkan, misalnya, pembela utama Kebangkitan Nasional adalah Bung Karno. Kebangkitan dalam arti kesadaran terhadap satu wilayah bahwa mereka satu bangsa yang terdiri dari berbagai suku bangsa, dari kelompok-kelompok etnik. Kesadaran bahwa mereka bersatu melawan penjajah. Saya kira ini lebih inti dalam pengertian zaman kolonial, sewaktu Bung Karno dulu.

Jadi lebih kepada kebutuhan saat itu tapi kemudian didengung-dengungkan sebagai Kebangkitan Nasional. Betulkah begitu?

Tidak juga. Kalau kita mengatakan kebutuhan, sesudah kebutuhan itu habis maka kebutuhan itu hilang. Jadi untuk kesadaran bangsa tentu saja menjadi sesuatu yang jauh lebih substantif dari itu yaitu bahwa bangsa Indonesia ini terdiri dari begitu banyak suku bangsa dari Papua sampai Aceh adalah orang yang harus menjadi satu kelompok dalam satu kesatuan dan harus merdeka, independen.

Tapi, apa sebetulnya makna 20 Mei 1908 itu sendiri, ketika itu lahir, diperingati, dan segala macamnya?

Nah di sana baru letak persoalannya karena kebangsaan itu merupakan proses. Jadi hampir tidak mungkin ditentukan dengan tegas mulai pada suatu tanggal. Penetapan suatu tanggal untuk satu proses perkembangan yang namanya perkembangan kebangsaan sama sekali tidak masuk akal. Kebangsaan tidak pernah mampu dikatakan orang mulai pada 20 Mei 1908. Penentuan tanggal 20 Mei 1908 ini saya pikir adalah keputusan kemudian, yaitu mungkin keputusan presiden atau undang-undang (UU) yang saya lupa. Mungkin pada tahun 1950-an baru diputuskan bahwa tanggal itu adalah mulainya hari Kebangkitan Nasional. Tapi dari segi sosiologis, taruhlah politik atau sejarah sekalipun, hampir tidak mampu satu orang pun mengatakan bahwa ada satu tanggal tertentu yang Indonesia mulai bangkit. Pada dasarnya dari segi historis bisa nonsense sama sekali. Itu satu. Kedua, yang terjadi dengan tanggal 20 Mei itu selalu diperingati sesuatu yang berhubungan dengan mahasiswa-mahasiswa kedokteran yang mempunyai kesadaran bahwa Jawa tidak bisa begini terus, dalam arti tingkat kehidupan rendah, pendidikan rendah, kemakmuran rendah. Mereka memang menyadari soal itu.

Jadi, apakah itu lebih kepada Kebangkitan priyayi Jawa?

Priyayi Jawa dalam pengertian bahwa kalau sekiranya politik etis sudah mulai pada tahun 1901 maka tahun 1908 itu sudah sewindu dalam politik etis. Sedangkan politik etis itu tidak lain daripada pembangunan versi Belanda. Saat politik etis sudah berjalan sewindu dan melihat nasib masyarakat Jawa masih begitu rendah, para mahasiswa kedokteran merasa memang ada sesuatu yang salah. Kesalahan itu adalah pendidikannya rendah, kemakmurannya rendah. Jadi dengan kesadaran itu mereka memang secara sengaja bercita-cita untuk mengumpulkan dana dan meningkatkan pendidikan para priyayi Jawa di sini. Dan itu terbatas pada Jawa, Madura pun baru satu tahun kemudian. Jadi kalau ada sesuatu yang sekiranya ada hubungannya dengan kebangsaan untuk tahun 1908 itu adalah kesadaran dalam arti itu adalah ethno nationalism untuk Jawa pada saat itu.

Anda tadi memaparkan dengan bagus sekali bagaimana sebetulnya pemaknaan tentang 20 Mei 1908. Apa sebetulnya yang kita bisa tarik dari 20 Mei 1908 dalam peristiwa hari ini?

Sesuatu yang ingin ditarik dari sana bahwa ethno nationalism itu mulai muncul. Setelah itu tak lama kemudian, pada tahun 1911 sudah masuk sedikit Islam. Dengan adanya sedikit Islam sudah mulai jauh lebih lebar. Dia tidak terikat hanya pada Jawa tetapi juga pada Islam, artinya cakupan masyarakatnya sudah jauh lebih luas. Karena itu selalu ada pertikaian para ahli sejarah mengenai kapan sebaiknya harus diperingati. Pada bangkitnya Syarikat Islam atau pada masa didirikannya Budi Utomo.

Menurut saya, kalau sekiranya memang kebangsaan sebagai suatu proses, yang paling betul dalam arti memang menyangkut proses yang sesungguh-sungguhnya, baru pada tahun 1920-an yaitu dengan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1918 kemudian masuk ke seluruh proses menuju didirikannya PNI oleh Soekarno. Itu pun kita sudah lihat beberapa lagi kemudian, misalnya, Tan Malaka sudah menulis pada tahun 1920-an atau 1925 dengan judul yang jelas, "Naar de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia Red).

Jadi kalau hari ini kita euphoria tentang Kebangkitan Nasional dan yang kita peringati sekarang itu sebagian besar dalam konteks yang Anda kritik tadi bahwa Kebangkitan Nasional pada saat kelahirannya 20 Mei itu sama sekali tidak berbicara itu.

Belum bicara tentang itu karena momen 20 Mei itu sifatnya lebih etnik, ethno nationalism. Itu hanya berlaku untuk kalangan Jawa, dan Madura saja baru pada tahun 1909 masuk dalam lingkaran pembicaraan di Budi Utomo.

Sering sejarawan mengatakan bahwa 20 Mei 1908 ini sebagai pintu masuk atau pembuka jalan akan pentingnya tugas-tugas kaum terpelajar atau golongan priyayi untuk tidak menyerahkan urusan tentang kemasyarakatan apalagi politik hanya kepada negara, dalam konteks itu negara kolonialis Hindia Belanda. Bagaimana pendapat Anda mengenai ini?

Kalau dilihat dari segi inisatif, menurut saya, memang itu suatu perkembangan yang bagus yaitu orang swasta para calon dokter Jawa, seperti dokter Wahidin dengan sekelompok teman mengambil suatu inisiatif untuk memakmurkan pribumi. Saya pikir itu suatu inisiatif yang luar bisa. Luas biasa dalam pengertian Belanda lebih berurusan dengan perdagangan, ekonomi dan macam-macam yang nanti akan dikirim ke kota Den Haag dan seterusnya. Tapi ini adalah kelompok orang sekolahan, kaum intelektual yang memang mulai berpikir tentang tentang priyayi, tentang kemakmuran di Jawa. Saya pikir di situ letak dari kesadaran yang tentu saja hebat.

Semangat tentang Kebangkitan Nasional setelah 100 tahun dari tahun 1908 sampai hari ini, apa yang bisa kita refleksikan? Apa yang bisa kita renungkan dan apa kritikan terhadap perjalanan selama 100 tahun jika semangat itu yang kita genggam hari ini?

Tentu saja dengan berbagai dimensi dalam pengertian seperti yang saya katakan tadi bahwa kebangsaan itu adalah suatu proses. Dia tidak mengenal tanggal. Berbicara tentang tanggal, itu sebetulnya lebih kepada urusan administratif dan birokratif. Itu bukan suatu urusan historical development atau historical process di dalam suatu perjalanan bangsa ini, tetapi untuk pentingnya merayakan. Walaupun saya katakan tadi tidak benar tetapi tetap dirayakan, itu sama saja seperti sejak Copernicus mengatakan bahwa bukan matahari yang berjalan mengelilingi bumi tapi bumi yang berputar mengelilingi matahari. Dalam arti, pernyataan matahari terbit itu salah, matahari terbenam juga salah, tapi semua orang tetap memakai itu walaupun kita tahu bahwa itu salah. Jadi kalau sekali diputuskan secara administratif mengenai mulai bangkitnya kebangsaan, saya pikir okay saja dalam pengertian marilah memberi makna terhadap hari birokratif itu. Sama seperti kita mengatakan matahari terbit dan matahari terbenam itu tidak betul, tapi memberi makna kepadanya yaitu ada 12 jam yang harus kita bekerja selama ada matahari. Itu lebih penting daripada pertanyaan apa benar terbit atau tidak.

Jadi yang penting bagaimana memberikan makna pada Kebangkitan itu. Salah satu makna untuk kita sekarang ini yaitu kalau dahulu ethno nationalism mampu menuju nationalism yang sesungguhnya, adalah sesuatu yang perlu direnungkan. Dalam arti, sesudah Budi Utomo kemudian bermunculan Jong Sumatera, Jong Ambon, Jong Java, dan seterusnya. Nah ini sebetulnya ethno nationalism yaitu nasionalisme yang bersifat etnis tetapi kemudian menjadi satu gumpalan besar yang misalnya di tangan Soekarno itu menjadi suatu yang selalu dikatakannya sebagai satu kesatuan revolusioner, yaitu Samen Bundeling. Dari revolusioner yang fragma yaitu penggumpalan dari kekuatan revolusioner di dalam kesadaran nationalism yang tujuannya memerdekakan Indonesia. Peringatan ini dan juga proses dari tahun 1908 karena dia berpuncak pada gerakan nationalism dan itu pun baru pada tahun 1925, 1926, dan 1927.

Anda tadi menjelaskan perkembangan tentang ethno nationalism yang bergerak dari satu titik menjadi nationalism. Namun kita melihat perkembangan seratus tahun ini justru yang terjadi adalah satu titik yang kemudian kembali lagi. Kita melihat menguatnya kembali Ethno nationalism di suku-suku atau daerah-daerah, terutama kalau kita merujuk pada kasus Aceh, Papua, dan sebagainya. Bagaimana Anda melihat ini semua?

Sekali lagi, ini juga dalam satu proses. Dengan proses pada tahun 1920-an dan puncaknya kira-kira pada tahun 1945 dengan proklamasi kemerdekaan, dan seterusnya untuk potong pendek saja. Sekarang masuk pada tahun 1965 dan seterusnya. Yang terjadi pada tahun 1965, dengan Orde Baru misalnya, Orde Baru mengambil posisi persis Belanda dalam pengertian kesatuan itu menjadi titik mati. Apapun yang menentang kesatuan langsung dilabrak, dibunuh, dimatikan, dan seterusnya. Karena itu memang terjadi satu kesatuan yang besar sebegitu rupa. Malah selama Orde Baru sering dikatakan oleh para ahli sejarah atau ahli politik bahwa itu semacam internal colonialism yang dijalankan oleh Orde Baru. Internal colonialism ini pada dasarnya mau menghancurkan, mau mematikan semangat lokal dalam segi kebudayaan, kesadaran etnik lokal. Karena itu saat Orde Baru hancur rasa Ethno nationalism lokal bermunculan, menguat, dan balik lagi persis seperti pada tahun-tahun mulai dari 1908 sampai tahun 1915 1920-an.

Saya pikir ini ironis sekali karena pada tahun 1908 penggagasnya adalah priyayi-priyayi Jawa, dan ternyata mereka juga yang "memecahkan" dan menyebabkan semakin kuatnya Ethno nationalism. Sekarang, apakah akan lain bila seandainya pada waktu itu yang bergabung atau pertamakali lahirnya Budi Utomo bukan priyayi-priyayi Jawa tetapi dia merangkul semua, maksud saya bukan hanya priyayi-priyayi Jawa?

Kalau sejarah yang sangat sulit terutama kalau kita melihat proses bahwa ketika Budi Utomo didirikan, saya pikir dalam hati semua orang itu menganggap bahwa kolonialisme itu adalah takdir dari Allah SWT. Karena itu kolonialisme itu harus diterima sebagai hukum alam. Budi Utomo ini sadar akan peningkatan mutu kehidupan dalam konteks pemerintahan kolonial Belanda, tidak ada pikiran bahwa untuk memerdekakan Indonesia, sama sekali tidak ada. Tidak ada kaitannya bahkan mereka tidak bermimpi Indonesia ini merdeka, Indonesia tidak akan makmur di dalam konteks pemerintahan kolonial Belanda. Nah, apa yang terjadi dengan masa sekarang ini, Ethno nationalism itu muncul yaitu kalau dulu yang namanya Ethno nationalism menuju nationalism yang revolusioner kalau mau pakai istilah Soekarno sekarang malah tidak. Mengapa? Karena reaksi terhadap Orde Baru semacam internal colonialism itu sangat keras. Karena itu Ethno nationalism sekarang ini malah lebih memecahkan daripada menyatukan.

Saya pikir ini bukan soal salah atau benar, tapi violence. Yang dikerjakan ke kelompok etnik tertentu ibaratnya menjadi dasar yang tidak bisa ditolelir. Misalnya violence terhadap Aceh, dengan bom dan macam-macam. Itu mengerikan sehingga tumbuh Ethno nationalism di Aceh yang sampai mau melepaskan diri dari Indonesia. Violence terhadap Papua sampai mereka mengatakan, "Untuk apa bersatu?" saya pikir di sinilah inti daripada bahwa ada semacam suatu keadilan karena tanpa justice, no nationalism. Tidak ada keadilan, tidak mungkin ada nasionalisme karena tidak ada faktor pengikatnya kalau keadilan ekonomi tidak ada, keadilan politik tidak ada, keadilan sosial tidak ada. Karena itu merayakan 100 tahun Budi Utomo atau dengan istilah resminya seratus tahun Kebangkitan Nasional hanya bermakna kalau keadilan itu adalah bagian dari nasionalisme. Artinya adanya keadilan, baik di sektor ekonomi, sosial, dan politik.

Ya, tapi celakanya persoalan yang Anda sampaikan ini memang terlalu sering dikatakan tetapi tidak pernah mendapatkan realisasi. Saya mendengar Anda juga terlibat untuk peringatan tentang 100 tahun Kebangkitan Nasional dengan menerbitkan sebuah buku tentang hal itu. Apa kira-kira yang digagas buku itu, paling tidak yang membedakan buku ini dengan buku-buku ?

Bedanya, buku ini walaupun diterbitkan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) tetapi itu sebetulnya berawal dari inisiatif swasta, isinya adalah dari kaum intelektual bebas.

Ada perbedaannya?

Kalau sekiranya itu buku birokratik dia akan memiliki cara penglihatan yang berbeda. Tetapi karena ini buku dari kaum intelektual independen, sedikit lain di sana. Yang lain adalah di sana diusahakan semacam re-inventing Indonesian nationalism, yaitu kalau nasionalisme artinya begini maka akan seperti apa ke depannya. Misalnya, dalam urusan ekonomi di dalam buku itu ada salah satu tulisan Dede Chatib Basri yang mengatakan Indonesia selain menjadi unit ekonomi Asia Tenggara, harus berpikir menjadi unit ekonomi di Asia Timur karena di sanalah sebetulnya ekonomi Indonesia itu harus masuk agar tidak disingkirkan.

Ide ini menjadi sangat menarik juga karena timbulnya nationalism of Asia yang dipropagandakan Jepang pada tahun 1940-an yaitu bahwa Asia untuk Asia, Asia Raya, dan seterusnya. Tentu saja pandangan itu sangat rasis. Negara Barat tidak suka dengar itu tetapi yang ada di sana bahwa harus ada semacam kedaulatan ekonomi atau independensi dari segi ekonomi yang Indonesia pun harus masuk ke sana yaitu di dalam wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, dan Indonesia sendiri.

 

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...