Huzna Zahir
Pahami Konsekuensi Menabung di Bank
Edisi 630 | 14 Apr 2008 | Cetak Artikel Ini
Saya Jaleswari Pramodhawardani akan berbincang dengan tamu kita Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Zahir mengenai tabungan di bank yang menjadi minus. Selama ini saat menyimpan uang di bank, kita tidak pernah peduli, tidak pernah cek, tapi tabungan kita terus berkurang walaupun tidak melakukan pengambilan.
Huzna Zahir mengatakan masyarakat harus melihat biaya bank saat menabung di bank karena itu akan mempengaruhi nilai minimal uang tabungan kita agar tidak merugi. Jika uang tabungan kita di bawah nilai minimal, maka uang yang masuk dari bunga dan yang keluar akibat biaya lebih besar biayanya. Kadang-kadang kita tidak menyadari hal itu.
Menurut Huzna Zahir, bank-bank seharusnya terbuka terhadap informasi perkiraan nilai minimal uang tabungan atau minimal saldo agar tidak menjadi minus terpotong biaya administrasi bank. Untuk konsumen, hak informasi itu sangat penting. Di sisi lain, di pihak bank juga ada Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mengatakan soal transparansi informasi produk bank.
Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Huzna Zahir.
Penelitian teman-teman di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang tabungan di bank, menarik sekali. Terus terang saya sebagai orang awam seperti disadarkan karena kadang-kadang saya juga bertanya-tanya setiap mengambil uang di anjungan tunai mandiri (ATM) tiba-tiba tabungan saya berkurang, padahal saya merasa tidak pernah mengambil uang saat itu. Bagaimana hasil penelitian YLKI tentang tabungan di bank?
Penelitian tersebut berangkat dari adanya informasi dan juga pengalaman beberapa teman di YLKI. Ada beberapa orang di sekitar YLKI mengatakan, "Lho, ternyata saya punya uang tiga juta di tabungan minus lho." Kita melihat Rp 3 juta itu bukan nilai yang sedikit. Setelah pikir-pikir, kita melihat pasti ada unsur akibat selisih antara biaya bank dengan bunga bank yang tidak imbang. Jadi lebih besar biaya administrasi bank dibandingkan bunga yang kita terima.
Lalu kita berinisiatif melakukan survei terhadap bank-bank yang ada di Jakarta. Kita mengambil sampel 20 bank domestik karena saldo minimal di bank asing Rp 50 juta. Jadi tidak mungkin. Selain itu, kita juga melihat paling tidak konsumen YLKI rata-rata adalah mereka yang memiliki tidak banyak uang dan ingin menabung, tapi mereka tidak tahu apakah ada risiko atau tidak. Yang terbayangkan adalah ingat sewaktu kecil diajari menabung. Masukkan uang ke bank, kemudian lama-lama mendapat untung karena ada bunga, bunga, dan bunga. Itu adalah persepsi yang selama ini melekat di kalangan masyarakat umum dan bawah. Berangkat dari persepsi itu kita melakukan survei di 20 bank yang cukup besar. Kita berangkat dari nilai Rp 1 juta. Itu pun kita bertanya-tanya kiri dan kanan, apakah saya pantas atau tidak membuka tabungan kalau mempunyai uang Rp 1 juta.
Jadi kawan-kawan di sekitar YLKI menabung masing-masing Rp 1 juta di 20 bank.
Ya, atas nama perorangan. Kita melakukan survei dari Januari sampai Mei dengan membuka tabungan awal Rp 1 juta, kemudian setiap bulan kita print untuk melihat bagaimana perubahannya, berapa biaya bank dan berapa bunganya. Pada bulan ketiga kita tutup semua tabungan karena sebenarnya kita hanya ingin melihat perubahan tabungannya saja. Hasilnya menarik karena ternyata di semua bank tidak ada duit kita yang bertambah kalau hanya mempunyai tabungan Rp 1 juta. Kemudian kita simulasi, coba menghitung berapa sebetulnya uang tabungan yang harus dimiliki oleh seorang nasabah supaya nilai uangnya tidak berkurang. Saya pikir ini informasi mendasar yang seharusnya bisa disampaikan oleh customer service tetapi tidak pernah disampaikan kepada konsumen.
Jadi selama tiga bulan tidak ada transaksi, artinya uang diam pun ternyata berkurang juga.
Justru karena diam itu. Tapi walaupun kita menambahkan sekitar Rp 50 atau 100 ribu kalau tidak sampai dibatas nilai uang tertentu maka dapat dipastikan nilai tabungan akan berkurang. Itu karena perhitungan antara bunga dan biaya adminstrasi bank tidak imbang. Rata-rata bunga tabungan sekarang sekitar 2%, sedangkan kalau kita lihat biaya bank minimal Rp 5.000 sebulan dan kadang-kadang juga dibedakan antara biaya administrasi dan biaya ATM. Padahal otomatis setiap konsumen membuka tabungan harus termasuk biaya ATM. Pemisahan itu juga kadang-kadang tidak terlalu bermakna. Saya pikir biaya bank saat ini hampir rata-rata Rp 7.500 - 10.000. Saya pikir itu akan sangat menentukan berapa nilai yang harus kita miliki supaya uang tabungan kita tidak berkurang.
Apa saja potongan-potongan tersebut?
Sebenarnya hanya biaya administrasi, tapi biaya administrasinya besar. Misalnya, kita mempunyai uang Rp 1 atau 2 juta. Dengan bunga sekitar 2% berarti dalam sebulan kita mendapat paling banyak Rp 4.000. Sementara biaya bank Rp 7.500 atau 10.000 berarti kita sudah dirugikan sekitar Rp 3.000 – 5.000 bahkan 6.000 per bulan. Jadi antara uang yang masuk dari bunga dan yang keluar akibat biaya lebih besar biayanya. Kadang-kadang kita tidak menyadari hal itu. Yang saya sayangkan sebenarnya bukan persoalan itu, tapi informasinya.
Setelah ada hasil survei YLKI, bagaimana kira-kira tanggapan dari pihak bank? Menurut Anda, apa informasi yang seharusnya customer service dan pihak bank lainnya berikan kepada konsumen atau nasabahnya?
Dari pengalaman kita, sebetulnya teman-teman yang membuka tabungan juga melakukan survei itu. Jadi mereka memiliki daftar pertanyaan atau jawaban informasi yang diberikan oleh customer service. Rata-rata customer service memberikan informasi mengenai saldo minimal nasabah atau biaya setoran awal.
Terkadang jika ada bank yang menerapkan denda di bawah saldo tertentu, mereka mengatakan bahwa saldo di bawah Rp 500.000 akan dikenakan denda Rp 10.000 atau Rp. 5.000. Tapi informasi-informasi semacam itu tetap tidak ada artinya jika kita melihat bahwa pada kenyataanya konsumen yang tidak memiliki nilai tabungan minimal, maka tabungannya akan tetap minus.
Kembali lagi, informasi-informasi mengenai saldo minimal tersebut tidak bermakna. Misal, saldo minimal Rp 1.000.000 atau Rp 500.000 atau bahkan ada yang mengatakan Rp 200.000, itu tidak ada artinya karena walaupun kita memiliki saldo Rp 3 juta ternyata tabungan kita masih bisa berkurang. Nah, yang kita harapkan hal itu disampaikan kepada calon nasabah pada saat akan menabung dengan cara apapun. Yang penting proses penyampaian informasi itu seharusnya diadakan/diupayakan.
Yang menarik sebetulnya saat kita pancing tanya, "Mbak sebetulnya kita harus mempunyai saldo berapa sih agar tabungan kita tidak minus?" Tetapi tetap, mereka pasti akan mengatakan bahwa saldo minimal itu sekian. Nah, di situ kita harus bertanya satu atau dua kali sampai kemudian mereka menangkap apa yang kita maksud dan menghitungnya. Hal itu bukan satu hal yang ada di kepala mereka, yang mereka tahu peraturannya hanyalah saldo minimal sekian. Padahal dengan situasi bunga dan biaya yang diberlakukan di bank tersebut, kita mempunyai konsekuensi. Itulah yang tidak terpikirkan oleh mereka.
Jadi saldo minimal itu lebih untuk kepentingan bank dibandingkan untuk kepentingan nasabah.
Sebetulnya saldo minimal itu lebih seperti ini: jika saldo nasabah di bawah ketentuan yang ditetapkan bank maka nasabah tidak bisa melakukan transaksi.
Mengenai kartu ATM, apakah ada perbedaan biaya menggunakan kartu ATM dengan langsung mengajukan ke teller?
Menggunakan ATM rata-rata tidak ada biaya untuk penarikan langsung, kecuali transfer ke bank lain. Bahkan, ada bank yang sesama bankpun meniadakan biaya transfer. Namun mengambil uang langsung ke teller pun, beberapa bank memiliki ketentuan sendiri seperti ada yang menetapkan pengambilan di bawah Rp 5 juta akan dikenakan biaya. Hal ini secara tidak langsung mengatakan bahwa jika ingin mengambil uang di bawah Rp 5 juta, pergilah ke ATM. Tetapi ada persoalan lain, di ATM sekali penarikan tidak bisa banyak, misalnya kita membutuhkan Rp 5 juta maka kita harus melakukan lima kali penarikan masing-masing Rp 1 juta sampai lima kali, tetapi ketetapan bank akan hal tersebut berbeda. Ada bank yang menetapkan dibawah Rp 10 juta, jadi penarikan di bawah Rp 10 juta baru dikenakan biaya jika melakukan penarikan langsung ke teller. Nah, informasi-informasi seperti ini yang menurut saya penting menjadi perhatian konsumen. Jangan sampai sesudah di depan teller lalu dikenakan biaya Rp 5.000, akhirnya membuat kita jengkel.
Dari pemaparan Anda tadi sama saja kita membicarakan bahwa bank itu tidak berpihak ke rakyat kecil. Misalnya, saya memiliki seorang pembantu yang ingin menabung gajinya yang standar di bawah Rp 1 juta, maka mereka bukan mendapatkan seperti yang dibayangkan sejak awal bahwa menabung adalah suatu hal yang menguntungkan. Lalu, bagaimana solusinya bagi kita yang tidak tahu karena yang ada di kepala kita adalah menabung itu menguntungkan tetapi pada kenyataanya belum tentu?
Ini sebetulnya juga yang menjadi perhatian kita. Untuk itu hasil survei ini kita kembalikan ke bank dan kita juga menanyakan bagaimana kebijakan bank mengenai informasi saldo minimal yang harus dipelihara. Kemudian kita juga ke Bank Indonesia (BI). Namun jawaban mereka sangat-sangat standar bahwa hal itu tidak menjadi kewajiban mereka (pihak bank) untuk menyampaikan saldo minimal. Lalu, ada juga yang mengatakan bunga bank itu tidak tetap sehingga tidak bisa mengatakan angka perkiraan nilai minimal itu. Saya melihat itu hanya sebuah alasan. Naik turunnya bunga bank paling hanya nol koma sekian. Jadi angka perkiraan itu bukan suatu hal yang tidak mungkin. Setelah itu, kita mengundang dan melakukan diskusi kelompok terarah dengan bank-bank. Kita mengundang semua bank yang menjadi bagian survei kita yaitu sebanyak 20 bank, walaupun ada beberapa yang tidak datang. Di sana kita menyampaikan temuan kita untuk mendapatkan respon langsung dari mereka. Yang menarik, hal ini bukan menjadi satu hal yang penting bagi mereka bahkan ada kesan bank mempertanyakan apa sebetulnya yang menjadi urusan YLKI.
Pada saat kita menanyakan mengenai seberapa susah menginformasikan hal itu, mereka mengatakan bahwa yang mengetahui nilai minimal itu adalah karyawan di back office yang melakukan hitung-hitungan bunga. Jadi, karyawan di customer service tidak mengetahui hal itu. Saya pikir itu bukan sesuatu hal yang sulit untuk mengatakan perkiraan angka atau mengatakan bahwa biayanya sekian yang berarti ada konsekuensi, atau jika kita tidak memiliki saldo sampai sekian kemungkinan kita akan terpotong karena ada biaya administrasi bank yang besar.
Hal semacam itu menurut saya suatu yang penting. Untuk konsumen, hak informasi itu sangat penting. Bukan itu saja, di pihak bank sendiri juga ada Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mengatakan soal transparansi informasi produk bank.
Saya kok jadi agak prihatin dengan kondisi hasil survei kawan – kawan di YLKI. Jika bunga bank sekitar 2% dan kemudian tidak ada transaksi sama sekali yang dilakukan oleh penabung karena memang niatnya menabung, berapa jumlah nilai minimal uang tabungan supaya tetap untung?
Kita harus melihat biaya banknya karena itu akan mempengaruhi nilai minimal tabungan karena biaya setiap bank beda. Kalau biaya bank sekitar Rp 5.000 mungkin kita harus mempunyai sekitar Rp 3,5 juta. Namun untuk biaya bank yang lebih tinggi lagi, misalnya Rp 7.500, mungkin kita minimal harus memiliki tabungan sekitar Rp 4,5 juta.
Itu memang harus dihitung dan harapan saya sebenarnya itu bisa diinformasikan oleh bank kepada calon penabung. Jadi jangan konsumen yang diminta untuk menghitung untuk hal itu. Ini juga pesan saya untuk para pembaca, jika ingin membuka tabungan di suatu bank tertentu dan kita tidak mempunyai uang yang terlalu banyak maka tanyakan itu dengan jelas karena sering kali informasi yang diberikan oleh customer service hanya saldo minimal yang harus dimiliki oleh seorang nasabah. Seharusnya mereka bisa membantu untuk menginformasikan nilai tabungan minimal yang harus dimiliki nasabah agar tabungan mereka bisa menjadi positif/menguntungkan.
Setelah kita mendapatkan informasi itu, saya yakin seperti yang Anda katakan juga kita lagi-lagi akan sampai pada nilai uang yang agak tinggi. Padahal kadang-kadang rakyat di desa hanya perlu tempat menabung secara rutin mungkin Rp 500.000 per bulan. Apakah itu artinya tabungan dia akan terus minus sebelum mencapai minimal tertentu?
Posisi seperti itu memang demikian adanya. Kita juga pernah mendapat pertanyaan seperti itu saat mengobrol dengan sopir taksi. Tapi kenyataannya memang demikian. Kalau kita belum sampai nilai tertentu, itu bisa berkurang tergantung dari berapa biaya bank dan saldo kita yang ada di sana. Saya pikir itu satu kenyataan yang menyakitkan juga bagi kita yang mempunyai uang sedikit. Mungkin ada beberapa catatan juga, kita pernah melihat ada beberapa bank syariah yang biasanya mempunyai ketentuan yang berbeda. Beberapa bank itu membuat kebijakan sehingga kita mempunyai potensi untuk tidak negatif karena mereka akan menganggap impas antara biaya dan nilai bagi hasil. Jadi memang kebijakannya beda. Kalau bank umum rata-rata juga mempunyai biaya. Sedangkan di bank syariah dari hasil yang kita survei memang mereka tidak menerapkannya, sebagian mungkin. Ada juga yang nilai nominalnya jelas, tapi untuk rata-rata yang nilainya kecil mereka mengimpaskan antara biaya dan bagi hasil. Tapi mau tidak mau konsumen harus tetap diberikan informasi, kalau itu tidak otomatis diberikan maka sebaiknya bertanya.
Menurut Anda, apakah bank syariah merupakan alternatif ketika bank umum tidak memberikan kebutuhan orang di desa atau rakyat kecil?
Dari survei yang kita lakukan tahun lalu menggambarkan demikian. Jadi dari satu sisi bank syariah terlihat lebih baik, tapi yang pastinya mereka tidak mempunyai kebijakan untuk tidak merugikan konsumen. Di sisi lain, kita pikir ini juga satu hal yang cukup menggelitik adalah karena konsep bagi hasil maka mereka harus memutarkan uang itu. Sementara bank-bank lain banyak yang malas, sehingga menitipkan saja di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Jadi tidak mau repot. Kita bisa melihat itu kalau mau kritis.
Implikasi dari mempergunakan teknologi adalah kita harus membayar. Apakah hasil survei YLKI menawarkan alternatif lain seperti transparansi terhadap konsumen, selain itu ada lagi atau tidak yang mau didorongkan oleh kawan-kawan YLKI?
Yang ingin diperjelas itu sebenarnya kebijakan bank itu sendiri atau kebijakan BI sebagai bank sentral. Apakah memang bank ini ditujukan bagi mereka yang mempunyai dana cukup besar dan tidak ditujukan bagi mereka yang mempunyai dana sedikit. Kalau memang itu sasarannya, jelas-jelas saja sampaikan.
Dalam kaitan ini, BI di satu sisi mempunyai edukasi perbankan "Ayo ke bank", jika posisinya seperti saat ini maka sasarannya berarti masyarakat yang mempunyai syarat-syarat tertentu dan duit tertentu. Di sini YLKI juga tidak bisa memberikan alternatif yang lebih spesifik untuk kemana harus menyimpan uang kalau mempunyai Rp 1 sampai 2 juta. Mungkin saya belum bisa memberikan hal yang spesifik untuk saran pada masyarakat, tapi yang pasti ini satu hal yang sudah saya sampaikan dan menjadi perhatian. Kita mungkin berharap bank-bank juga mempunyai kebijakan lain atau mempunyai jenis tabungan tertentu yang memang diperuntukkan bagi mereka yang tidak mempunyai dana besar.
Orang-orang yang tidak mempunyai dana besar itu jangan-jangan beban buat bank karena biaya operasional mereka praktis sama. Mereka juga mempunyai alasan mengapa biaya administrasi selalu meningkat dan meningkat karena membayar teknologi tadi dan itu akan menguntungkan bagi mereka yang mempunyai dana besar yang benar-benar memanfaatkan teknologi itu untuk berbagai transaksi. Sementara bagi mereka yang mempunyai dana terbatas mungkin lebih baik berhati-hati dan tanyakanlah sejelas-jelasnya. Saya melihat peraturan perbankan mengenai transparansi informasi produk bank juga jelas mengatakan bahwa harus menyampaikan manfaat dan risiko. Saya melihat ini sebagai risiko. Kalau kita tidak memiliki nilai sekian maka mempunyai risiko tabungan kita menjadi negatif, demikian yang harus disampaikan. Jadi jangan menyampaikan manfaatnya saja.



