Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Bagus Takwin

Membantu Rakyat Berharap

Edisi 628 | 30 Mar 2008 | Cetak Artikel Ini

Selamat berjumpa kembali pembaca dengan saya, Faisol Riza. Bersama saya hadir Bagus Takwin, seorang dosen Fakultas Ilmu Psikologi Universitas Indonesia yang juga aktivis dan penulis. Pada edisi kali ini kami menghadirkan satu tema yang barangkali tidak jauh dengan kehidupan kita sehari-hari, membahas mengenai psikologi publik di tengah-tengah situasi kontemporer sekarang.

Bagus Takwin mengatakan fenomena sosial banyak orang mengambil jalan pintas menggambarkan bahwa yang mendominasi kita sekarang adalah ketakutan terhadap yang akan datang. Ketakutan pada masa depan yang tak teramalkan. Itu tidak selalu atau tidak didominasi oleh faktor ekonomi. Itu persoalan sosial, persoalan harapan.

Menurut Bagus Takwin, kalau di level individu bisa dibantu dengan tips atau cerita-cerita yang membuat mereka tidak takut atau bisa berharap. Tapi kalau di tingkat komunitas, yang bisa dilakukan adalah menumbuhkan kepercayaan dalam komunitas itu bahwa mereka bisa saling membantu, mengandalkan. Memang harus ada yang memprogram mungkin keberadaan rukun warga dan rukun tetangga (RW/RT) bisa dimanfaatkan. Di RT orang bisa saling membesarkan hati, menguatkan mental untuk menghadapi situasi yang tak menentu. Dalam hal ini media massa seperti televisi berperan besar juga dalam membuat harapan dan menghadirkan harapan di tengah kita.

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Bagus Takwin.

Beberapa waktu lalu ada pemberitaan mengenai anak yang dibunuh oleh bapaknya, kemudian bayi yang baru lahir ditemukan di tempat sampah ditinggal oleh ibunya. Begitu pula dengan kabar mengenai ibu dan anaknya yang meninggal karena bunuh diri atau juga karena mereka miskin dan sulit untuk mendapatkan makan. Mereka barangkali menjadi korban dari situasi ekonomi kita karena kenaikan harga barang dan juga ketidakmampuan mereka menghidupi keluarganya. Berita ini mungkin biasa saja tetapi mungkin menjadi tidak biasa kalau kita meneropong di belakang ini semua mengenai yang sebenarnya terjadi. Apa yang Anda lihat atau simpulkan dari gambaran fenomena sosial tadi tentang banyak orang memilih jalan pintas?

Dari keseluruhan yang tadi diceritakan, saya melihat hal-hal lain yang kira-kira mempunyai struktur yang sama di belakang itu. Yang mendominasi kita sekarang adalah ketakutan terhadap yang akan datang. Ketakutan pada masa depan yang tak teramalkan. Ketakutan pada hal-hal yang tiba-tiba terjadi, terhadap peristiwa-peristiwa yang tanpa preseden tanpa tanda-tanda. Saya kira fenomena tadi mengerikan seperti ibu membunuh anaknya atau bapak membunuh anaknya. Tetapi kalau dilihat sebenarnya seperti yang saya katakan tadi bahwa yang mendominasi adalah ketakutan, ada bayangan menakutkan tentang masa depan. Itu tidak hanya terjadi pada masyarakat kelas bawah. Saya kira, walaupun saya bukan ahli ekonomi, itu tidak selalu atau tidak didominasi oleh faktor ekonomi. Saya pikir itu persoalan sosial, persoalan harapan. Pada orang–orang yang cukup berada, di kelas menengah atas, ketakutan seperti itu juga ada. Tapi tindakan yang muncul dan yang ditampilkan berbeda. Ketakutan pada masa depan tersebut mungkin ditanggapi dengan menjadi semakin pelit, menjadi semakin suka menabung, sangat hitung-hitungan, dan sebagainya.

Kalau saya takut pada sesuatu pasti saya membayangkan sesuatu itu menyeramkan, membuat hati gelisah, warnanya hitam, matanya menakutkan. Bagaimana bayangan masyarakat mengenai ketakutan terhadap masa depan yang tidak jelas seperti Anda katakan tadi?

Sebetulnya ada istilah khusus untuk ketakutan semacam itu. Dalam psikologi kita membedakan antara kecemasan dan ketakutan. Kecemasan juga ketakutan tetapi ketakutan yang tidak jelas obyeknya. Jadi sebetulnya kalau kita bertanya secara rasional apa sebenarnya yang mereka takutkan dengan diminta menjelaskan secara rinci atau gambaran konkrit dari hal yang menakutkan di masa depan, mereka juga tidak bisa menjelaskannya. Itu karena mereka mengalami kecemasan, ketakutan akan sesuatu yang tidak jelas obyeknya. Nah itu yang saya lihat dari mereka. Jadi kalau dicek betul-betul, misalnya pada orang yang cukup berada-kelas menengah ke atas, mereka tetap ada ketakutan walaupun penghasilannya sudah Rp 50 juta per bulan dan barang-barang untuk kebutuhan sehari-hari sudah terpenuhi. Mereka takut nanti uangnya kurang, takut nanti anaknya tidak sekolah, takut, takut, takut. Mereka bisa memilih apapun obyeknya, tetapi ketika obyek itu sudah dibereskan tetap saja ketakutannya ada. Jadi kalau dilihat dari situ sebenarnya ketakukan itu bukan pada obyek tertentu, tapi pada sesuatu yang tidak jelas. Jadi kalau ditanya, "Gambaran seperti apa", kita lebih takut pada setan yang tak jelas bentuknya seperti film horor yang setannya belum muncul dari awal. Tapi kalau setannya sudah muncul, kita langsung antisipasi. Jadi kalau gambaran tadi sudah jelas, orang bisa antisipasi. Tapi ini gambarnya tidak jelas. Itu satu sisi. Sisi lain, tidak ada gambaran yang menggambarkan masa depan yang baik. Harapan itu seolah-olah jadi barang yang sangat langka, mahal sekali untuk dimiliki oleh orang-orang. Dan itu bukan cuma masalah uang. Berharap itu masalah psikologis. Jadi orang kaya pun susah berharap, apalagi orang miskin.

Tetapi kalau hari ini takut, besok takut, lusa takut. Lama-lama takutnya bertumpuk-tumpuk, tapi mungkin juga tidak takut lagi. Apakah seperti itu bisa juga terjadi di masyarakat?

Kalau ketakutan itu pada obyek yang jelas dan berturut-turut muncul ketakutan itu, maka orang bisa mempelajari obyek yang menakutkan itu lalu akhirnya menjadi jelas. Orang bisa tidak takut lagi. Tapi seperti saya katakan tadi ini ketakutan yang tidak jelas juga, tidak jelas obyeknya. Jadi orang tidak bisa kebal akan ketakutan itu.

Bagaimana cara mengatasi itu sementara waktu?

Nah itu persoalan kalau di level sosial. Kalau di level individual, dalam psikologi kita mengenal istilah ketidak sadaran. Kita bisa mengakses ke situ. Kita bisa mencoba membantu si individu mengingat hal-hal yang mungkin traumatis. Hal-hal yang sudah dia tekan, ketidaksadaran untuk dia sadari. Tapi kalau di level sosial itu agak susah. Saya melihat cara sementara untuk bisa mengatasi itu adalah dengan memberikan harapan. Harapan itu seperti sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa kita bisa mencapai sesuatu yang baik. Tidak perlu didasari oleh kondisi riil, tidak perlu didasari oleh sesuatu yang jelas modalnya, yang konkrit. Kita buat semacam aksioma untuk mengatakan bahwa di depan sana ada sesuatu yang baik yang akan kita capai. Saya kira untuk level sosial perlu adanya lembaga atau pemerintah atau negara untuk membantu rakyat berharap. Harapan itu tadi adalah pernyataan bahwa di depan sana ada sesuatu yang baik yang hendak kita capai, lepas dari apa modal kita sekarang.

Kalau saya melihat televisi (TV), sekalipun fakta-faktanya barangkali tidak sebanyak yang kita bayangkan, rasanya mempengaruhi betul hidup saya. Saat melihat orang yang dibunuh, orang bunuh diri hanya karena soal-soal yang remeh temeh begitu, kok kita seperti berada di ruang pengap tidak bisa keluar dan sepertinya putus asa. Nah, apa dampak terhadap psikologi dan kaitannya seperti yang tadi Anda katakan tentang pengharapan?

Saya kira media masa terutama TV yang mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang media lain karena bersifat audio visual dan ada teksnya juga. Jadi mempunyai peran besar menciptakan ketakutan dan juga kalau misalnya kita mau sepakat, mencari harapan. TV berperan besar juga dalam membuat harapan dan menghadirkan harapan di tengah kita. Kalau kita lihat sekarang banyak sekali tayangan-tayangan yang faktanya belum jelas tapi efeknya sangat terasa, seperti ibu membunuh anaknya, rampok beraksi dengan sangat ganas, narkoba dimana-mana, kecelakaan dimana-mana, bencana dimana-mana, banjir dimana-mana, semua kejadian buruk ditayangkan di TV. Saya kira semua kejadian buruk selalu mempunyai kesan yang lebih baik dari kejadian baik. Itu ibarat panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Hujan itu kejadian buruk. Kesan baik bisa hilang selama bertahun-tahun karena peristiwa buruk yang hanya beberapa hari. Nah, saya kira media seperti TV mempunyai peran yang sangat besar. Kalau memang kita mau menciptakan harapan, TV harus diajak kerja sama karena media tersebut sangat ampuh untuk membangun harapan di masyarakat Indonesia.

Harapan itu seperti kalau kita dalam gelap ada yang menyalakan korek api, itu rasanya seperti menjawab ketakutan di dalam hati. Bisa juga seperti orang yang tadinya tersesat di jalan dan bingung akhirnya mengetahui jalannya. Kendati demikian tidak gampang juga memberi harapan di negara ini. Upaya mencari jalan keluar sudah dilakukan juga oleh intelektual, tokoh masyarakat, tokoh politik, dan sebagainya, tapi harapan itu tetap tidak muncul-muncul. Apa kira-kira masalahnya?

Saya melihat problem itu terletak pada: Pertama, teladan bagi masyarakat terhadap orang-orang yang mempunyai harapan dan bisa mencapai harapannya. Kedua, kalau ada orang sukses maka orang kenalnya setelah sukses, tidak pernah diperlihatkan jatuh bangunnya, kerja kerasnya, susah payahnya. Kita hanya mengetahui ada orang-orang yang kaya seperti jet set, ada orang-orang yang sangat pintar, ada yang sangat berkuasa tapi bagaimana mereka mencapai itu sedikit sekali diberitakan. Mungkin ada beberapa media masa bagus yang menampilkan tokoh-tokoh bisa diteladani walaupun yang dikerjakannya kecil-kecil tapi penting buat kehidupan. Namun yang ditampilkan dan dimuat di media masa itu, saya kira masih sangat sedikit dan kurang untuk masyarakat Indonesia yang jumlahnya 250 juta jiwa.

Mungkin kita perlu membuat semacam riset mengenai pemberitaan di media selama satu bulan. Misalnya, berapa persen aspek harapannya, berapa persen aspek menampilkan hal-hal yang buruk dan membingungkan masyarakat. Ini untuk menjadi satu acuan bagi media untuk mungkin ambil peran. Kembali ke soal media, apakah memang tidak ada bimbingan paling tidak secara psikologis bahwa peran mereka itu besar terhadap masyarakat?

Saya kira banyak dan itu juga tidak perlu diajarkan. Saya kira para pemilik media, para pekerja media sudah mengetahuinya. Biasanya kalau kita tanya, alasan-alasan yang mereka sampaikan adalah persoalan rating, persoalan bagaimana media juga perlu biaya untuk mempertahankan kelangsungan program-programnya. Mereka mengatakan ini tidak semua program, dan juga yang banyak sekali kita cukup dengar adalah, "Kita hanya membuat program yang disukai oleh banyak orang". Persoalannya, orang-orang dianggap suka pada hal-hal yang mengejutkan dan menakutkan atau hal-hal yang mistik. Di sisi lain menggambarkan keglamouran masyarakat di kelas tertentu. Saya kira itu yang dipilih menjadi program-program di televisi. Padahal kalau ditanya apakah ada riset yang sungguh-sungguh terhadap yang diminati oleh pemirsa kalau memang itu tergantung dari apa yang disukai, saya tidak pernah menemukan buku laporan hasil penelitian di media massa, di TV, dan dimana-mana tentang itu. Jadi, seleranya seperti apa sih? Kalaupun itu selera dari masyarakat, sebaiknya dicek lagi apakah selera itu benar-benar dipertimbangkan masyarakat atau karena kebiasaan atau itu yang diingat di masa lalu kebanyakan program-program seperti itu. Kalau ditanya bagaimana program yang sungguh-sungguh dianggap baik oleh masyarakat, itu lebih tidak ada lagi.

Anda tadi bicara mengenai teladan. Kita kembali ke soal itu, apa kriteria yang bisa dilihat masyarakat sebagai teladan karena kalau teladannya kecil dianggap tidak terlalu penting, tapi kalau teladan besar hampir tidak ada?

Di situ persoalannya. Kita terbiasa memikirkan hal-hal besar, membayangkan hal-hal besar. Sedangkan bagaimana bertindak untuk mencapainya sepertinya tidak terbiasa. Memang teladan kecil sering kali sesuatu yang dianggap tidak signifikan karena itu tidak lepas seperti dikatakan tadi bahwa kita terbiasa berpikir besar, berkhayal. Harapan itu berbeda dengan ketakutan atau kecemasan yang saya katakan tadi. Kecemasan itu semakin sering dihadapi akan semakin besar kecemasannya karena obyeknya tidak jelas, jadi tidak hilang-hilang bahkan bertambah. Tapi harapan, semakin kita berharap-berharap dan tak ada perwujudannya semakin pupus harapan itu. Ini perbedaan kecemasan dan harapan.

Untuk orang Indonesia, harapan-harapan yang sekali dua kali tidak terpenuhi saja sudah bisa membuat orang pupus. Ini harus lebih gencar. Teladan-teladan yang memberikan harapan, saya kira harus lebih besar lagi upaya kita untuk menampilkan teladan. Kriterianya bisa macam-macam, bisa orang sukses karena uangnya banyak, atau kekuasaan, atau hal-hal lain yang kita bisa buat. Misalnya, agar orang menjaga kelestarian daerah pinggir pantai tertentu, kita beri naratif yang bagus dan baik sehingga memberi kesan bahwa itu pekerjaan yang penting. Saya kira kriteria teladan ini tidak bisa dibakukan juga. Itu tergantung pemaknaan bagaimana kita memaknai orang yang dianggap teladan itu. Jadi media yang bisa menulis, yang bisa membuat programnya, mebuat kemasan yang menarik.

Memang bukan hal yang gampang menemukan harapan, tetapi rasanya perlu dan penting sekali kalau kita susah menemukan jalan keluar bagi masalah-masalah kita sendiri. Tapi mengatasi ketakutan itu rasanya sangat penting dalam hal kecil dan konkrit. Soal ekonomi adalah konkrit, kalau kita mau bicara ketakutan masa depan dalam hal ekonomi, mungkin kalau kita mau tarik panjang maka jawabannya adalah peran negara, fungsi pelayanan sosial. Tapi buat masyarakat hal itu jauh. Bagaimana kira-kira cara yang konkrit untuk mengatasi ketakutan itu sedikit saja?

Kalau di level individu bisa dibantu dengan tips atau cerita-cerita yang membuat mereka tidak takut atau bisa berharap. Tapi kalau di tingkat komunitas, dalam arti kelompok tapi bukan kelompok tapi bukan di bawah negara, saya kira yang bisa kita lakukan adalah membuat sebuah kepercayaan dalam komunitas-komunitas itu bahwa kelompok-kelompok ini bisa saling membantu, mengandalkan. Memang harus ada yang memprogram mungkin keberadaan rukun warga dan rukun tetangga (RW/RT) bisa dimanfaatkan. Di RT orang bisa saling membesarkan hati, menguatkan mental untuk menghadapi situasi yang tak menentu, dan bisa mengatakan pada yang lain bahwa kalau ada apa-apa, kita tetap bersama, saling membantu. Hal itu memang masih abstrak. Saya kira kalau untuk konkritnya kita mesti menyediakan program yang konkrit juga. Mungkin gaya ibu-ibu PKK zaman dulu tetapi dengan konten yang berbeda bisa dimanfaatkan. Ada Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) atau lainnya yang dikembangkan di tempat-tempat komunitas itu, tapi bukan sesuatu yang dipaksakan dari atas. Kalaupun ada orang atau program yang membantu mereka, itu sifatnya partisipatif.

Apakah ada kaitannya atau tidak upaya mengatasi ketakutan itu dengan kemampuan seseorang berpikir dan bernalar, maksudnya semakin besar emosi, maka akan menutup kemampuan nalar tersebut?

Pikiran memang bisa tertutupi oleh emosi. Semakin besar emosi atau ketakutan itu, kita akan sulit untuk berpikir secara jernih terhadap kondisi yang sedang kita hadapi. Tetapi di sisi lain, emosi-emosi itu hanya bisa dihadapi dengan pikiran. Emosi tidak bisa mengubah dirinya sendiri. Tetapi pikiran bisa mengubah dirinya sendiri dan juga emosi. Cuma persoalannya, itu tadi. Kalau emosi terlalu besar, maka pikiran akan ke-block. Kalau ada kondisi seperti itu, orang yang pikirannya sudah blocking karena emosi yang menakutkan, dia harus lompat. Solusinya adalah dengan membuat sebuah pernyataan untuk diri sendiri seperti aksioma dalam matematika, "Saya bisa melampaui ini, saya mau melakukan sesuatu yang berharga buat saya." Hal itu hanya bisa dilakukan oleh pikiran. Dan pikiran itu yang bisa membuat hidup yang kosong dari harapan menjadi isi. Kekosongan itu diisi dengan pikiran.

Kalau saya melihat pemberitaan mengenai film "Ayat-Ayat Cinta" (AAC) ditonton lebih dari tiga juta orang, maka itu menggambarkan bahwa orang-orang tersebut haus untuk diberikan sesuatu. Seandainya kekosongan, ketakutan, kecemasan itu yang muncul di masyarakat tiba-tiba diberi suatu harapan seperti film AAC, maka orang akan menjadi puas bahkan sampai nonton berkali-kali. Mungkinkah media semacam itu dengan format, gambar, cerita dan lainnya yang berbeda bisa membuat kita lebih optimis?

Mungkin ketakutan-ketakutan itu dipengaruhi oleh media, tetapi harapan seseorang itu tidak dapat langsung dibangun oleh media. Saya tekankan bahwa orang itu sendiri, pikirannya yang bisa menghilangkan ketakutannya, yang bisa menghasilkan harapan dari dirinya. Misalnya AAC, sangat menyenangkan di bioskop tapi setelah itu apa? Jika orang tersebut tidak bisa membuat aksioma, saya kira film-film semacam itu jejaknya akan cepat hilang. Itu semacam memberi atmosfir untuk orang berharap, tetapi harapan dan kekuatan itu harus keluar dari orang itu sendiri.

Mengenai pertanyaan tentang pikiran tadi, sebenarnya pikiran itu harus subjektif, harus logis, gampangnya, prosedur untuk bisa mencapai hal-hal baru pada setiap orang dengan caranya. Jadi kita tidak bisa menstandarisasi.

Tapi, bukan gambaran-gambaran itu yang akan menjadi tujuan orang untuk melihatnya. Gambaran itu hanya semacam contoh-contoh, teladan-teladan. Masa depan atau gambaran yang mau dicapai oleh orang itu adalah gambaran yang telah dia buat. Sudah banyak contoh teladan, tetapi yang kamu punya apa? Jadi gunakan pikiranmu untuk membuat gambar yang pas buat dirimu sendiri.