Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Nova Riyanti Yusuf

Pembuatan Skenario Film Modern

Edisi 598 | 27 Aug 2007 | Cetak Artikel Ini

Pada hari ini kita akan berbicara dengan Nova Riyanti Yusuf mengenai hal yang sangat spesifik, yaitu penulisan skenario film. Kita mengenal Nova Riyanti Yusuf dengan nama penanya Noriyu melalui acara ini dan di berbagai media. Dia dokter yang sedang mengambil spesialisasi psikiatri, novelis yang telah menghasilkan beberapa novel bermutu, konsultan, penceramah mengenai psikiater dan dosen di Universitas Paramadina.

Noriyu kini melakukan gaya baru dalam penulisan skenario di film ‘Merah itu Cinta’. Dia tidak menggunakan gaya bahasa standard, bukan gaya bahasa yang lazim. Ada berbagai macam reaksi dan yang paling membuat dirinya senang adalah, ada orang yang tidak respek terhadap film Indonesia tapi tiba-tiba mengatakan, "Eh, kok tiba-tiba bisa muncul ide kayak begitu sih?" Kini film tersebut dikirim mengikuti proses seleksi di Pusan Film Festival dan Tokyo Film Festival.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Nova Riyanti Yusuf.

Kita bicara dengan Noriyu sebagai penulis skenario film "Merah Itu Cinta". Film tersebut disutradarai Rako Prijanto dan dibintangi oleh Gary Iskak, Marsha Timothy, Yama Carlos dan Inong. Ini bukan wawancara komersil karena kami tidak dibayar. Saya melihat premier filmnya dan kaget bahwa suatu skenario dapat memberikan suatu suasana yang bagus pada film tersebut. Berapa lama Anda menulis skenario film tersebut karena saya mendengar proyek ini baru mulai Februari, dan Agustus sudah ada di layar lebar?

Penulisan skenarionya memang agak terburu-buru. Rapi Film meminta draft pertama sekitar dua minggu.

Apakah draft pertamanya itu dalam bentuk dialog atau outline deskripsi?

Draft pertama sudah termasuk semuanya, seperti jalinan cerita, alur, setting dan dialognya juga.

Berapa halaman draft pertama tersebut?

80 – 90 halaman.

Oke, tadi dikatakan pengerjaannya dalam dua minggu. Apakah tidak mengerjakan hal lain selama itu?

Waktu itu kebetulan lagi di bagian neurologi sehingga sempat bisa santai. Ini karena psikiatri menumpang stage di neurologi. Jadi itu bukan tugas utama.

Oh, jadi saat santai membuat suatu skenario. Mengapa disebut draft pertama dan apa bentuk setelah draft pertama itu?

Setelah draft pertama jadi, sutradara biasanya membaca dulu draft tersebut. Kemudian sutradara memberi masukan. Selain sutradara yaitu Rako, dari pihak Rapi films yang juga berperan menentukan adalah Sunil Samtani (produser). Sunil turut memberikan masukan.

Apakah dari setiap masukan itu selalu ada revisi pada skenario?

Ada revisi pada skenario. Tapi memang saat itu waktunya mepet sehingga belum ada feel. Maksudnya, sewaktu menulis draft pertama masih ada terasa ada jarak karena ide itu dibahas secara lisan dengan Rako, kemudian tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus dituliskan. Jadi masih ada jarak. Nah, ketika revisi itu baru mulai mengena feel-nya.

Jadi dari draft pertama sampai akhirnya menjadi film itu ada perkembangan.

Ada perkembangannya tapi tidak terlalu signifikan. Ini karena film cenderung untuk membuka sedikit demi sedikit, layar demi layar dan akhir dari ceritanya pelucutan karakter. Misalnya, Rako sang sutradara meminta, "Nova tolong yang ini jangan terlalu dibuka dulu atau yang ini dibuat begini dulu." Jadi ada tahap-tahapnya.

Saya akan membuka awal filmnya karena bagian itu sangat penting bagi saya, seorang awam tapi sangat senang menonton film. Yang berkesan dalam pembukaan film tersebut adalah pengambilan adegan yang sangat sehari-hari, tidak konvensional dan bukan klise, yaitu orang berdiri di bawah jembatan layang bagian dari Semanggi. Seorang cowok keren memakai mobil keren, tapi yang tidak klise adalah dia habis buang air kecil di situ. Siapa yang memiliki ide tersebut?

Saya tidak tahu ide siapa tapi memang kami berusaha menampilkan yang natural saja.

Nah, dari pembukaan yang absurd dan lucu itu kemudian menjadi sangat romantis sebab setelah buang air kecil dia membersihkan tangannya sebentar memakai sabun. Kemudian dia telepon memakai handphone. Gambar beralih ke seorang gadis cantik sedang belanja di pasar swalayan. Terus terang saja, siapa yang memiliki ide itu, apakah dari Rako atau Noriyu?

Sebenarnya, awalnya tidak seperti itu. Dari diskusi bersama Rako, dia mengatakan, "Kita harus menampilkan romantisisme antara mereka berdua, tapi dengan cara yang paling alami, yang tidak dibuat-buat." Jadi sangat romantis, sehabis buang air kecil menelpon cewek yang ada di pasar swalayan.

Jadi prosesnya sangat interaktif ya antara Noriyu sebagai penulis skenario dan Rako sebagai sutradara?

Iya, tapi untuk proses menulisnya benar-benar membutuhkan waktu sendiri, tidak diganggu sama siapa pun termasuk Rako.

Oh ya, ini original screen play. Jadi ini tidak dari buku. Darimana sumber ceritanya?

Dari dialog di suatu café di Pondok Indah Mall (PIM) 2. Sebenarnya kita sedang membahas skenario yang lain, film mengenai psikologi tapi kemudian berkembang membahas proyek yang kedua ini. Justru yang jadi duluan adalah proyek kedua, bukan yang pertama.

Film ini menampilkan seorang pemuda tampan dan seorang perempuan cantik, tapi dalam pemeranannya mereka tidak menampilkan kecantikan dan kekerenannya. Malah menampilkan sensitivitasnya sebagai manusia. Berarti itu aktor dan aktris yang baik. Apakah mereka berpengalaman, apakah mereka telah membaca skenarionya terlebih dahulu?

Iya, waktu itu memang ada casting. Saat itu banyak nama-nama yang sudah lebih dulu berkecimpung di film atau nama-nama yang lebih populer. Namun Rako sangat pemilih, sampai terkadang bentrok juga sama Rapi Films. Marsha mengatakan sewaktu dirinya membaca skenario ada bagian terakhir sampai membuatnya menangis. Dia mungkin sewaktu casting benar-benar menghayati perannya.

Apakah dia artis berpengalaman?

Sebelumnya, Marsha sudah turut dalam dua film, yaitu Ekspedisi Mahadewa dan Coklat Strawberry. Namun menurut pengakuannya, ini pertama kali dia mendapatkan peran yang menantang.

Ini berat sekali dan penonton yang tidak begitu senang film barangkali tidak akan menggunakan ini untuk hiburan karena filmnya sangat realistis. Misalnya dalam pemilihan tempat tinggal, itu satu kontras juga yang saya lihat. Mereka cantik dan pergi ke pasar swalayan yang bagus tapi sewaktu pulang naik motor dan rumahnya sederhana ada majalah Cosmopolitan di mejanya. Siapa yang menemukan detail tersebut?

Sebenarnya ada detail-detail yang kita tidak bisa menjelaskannya dan hanya bisa dimunculkan di film. Jadi sewaktu saya menulis di skenario, misalnya, kamar mandi memakai shower tapi kalau rumah model seperti itu memakai gayung.

Dalam film ini, cowok yang dalam adegan pembukaan membuang air kecil di bawah jalan layang adalah pacar Raisha, yang diperankan Marsha. Si cowok kemudian meninggal dan Raisha tertarik pada laki-laki baru. Pacarnya yang pertama memberikan pengaruh yang modern karena pekerjaannya sebagai fotografer National Geographic. Saya senang sekali detail itu karena tidak sembarang fotografer dan majalah yang dipilih juga bagus. Nah mengenai fotografer, perusahaan tempat bekerjanya dan sebagainya, darimana Anda mendapatkan detail tersebut?

Sebenarnya waktu itu memang terobsesi dengan National Geographic saja.

Oh, jadi itu ide Anda.

Iya, pemilihan profesi itu karena awalnya saya suka.

Apakah pernah dalam penulisan ada perbedaan prinsip antara yang ingin Noriyu tulis dengan kemampuan aktor dan kepentingan produser untuk komersial?

Hanya ada beberapa scene saja yang menghilang, yaitu detail kecil yang tidak terlalu krusial. Jadi memang kebanyakan pihak produser yang memutuskannya dan aku menyetujuinya.

Apakah selama syuting itu Noriyu ikut juga?

Hanya awalnya. Sebelum mereka mulai syuting, saya memberi pengarahan karakter istilahnya character enhancement.

Dalam syuting tentu tidak secara berurutan. Apakah itu membuat kesulitan untuk Noriyu dalam memindah-mindahkan adegan?

Tidak, mungkin yang ribet itu aktornya, pemerannya. Ini karena story-nya sudah jadi. Karena itu saya memberikan character enhancement untuk memberikan suatu kesatuan karakter kepada penonton. Jadi tidak hanya di scene ini ketawa dan di scene berikutnya menangis.

Saya ingat waktu itu Noriyu mengatakan harus menggunakan latar belakang pengetahuan psikiatri untuk mendefinisikan karakter orang supaya bisa konsisten.

Iya, jadi memang harus ada konsistensi di situ.

Yang saya ingin tahu tentang menulis skenario adalah apakah yang pemeran ucapkan mirip dengan yang Noriyu tulis atau mereka berimprovisasi?

Ada juga yang improvisasi tapi lebih banyak yang sama persis.

Jadi gaya bahasa yang ada di film tersebut kontribusi Noriyu juga?

Iya. Saat konferensi pers ada wartawan yang bertanya, "Kok bahasanya bukan bahasa yang lazim?" Saya menjawab, "Tidak masalah, seperti dalam film Romeo and Juliette yang versi Leonardo DiCaprio dan Claire Danes. Film itu memakai setting kontemporer tapi dialognya masih memakai gaya bahasa Shakespeare."

Bagi saya itu menyenangkan karena bukan dialog standard sinema Indonesia, tapi itu dialog yang comfortable. Apa perbedaan kesulitan menulis novel dan skenario?

Kalau menulis novel bebas-bebas saja, sedangkan kalau menulis skenario harus memikirkan sesuatu itu harus visible atau memungkinkan tidak untuk pengambilan gambar.

Jadi artistik Noriyu kurang bisa keluar, kurang bebas kalau dalam penulisan skenario?

Iya, kurang bebas tapi konfliknya bisa keluar semua seperti dalam film Merah itu Cinta. Film ini merupakan love story tapi love story hanya pemicu di film Merah Itu Cinta kemudian terjadi konflik, jadi bukan kisah cinta yang langsung. Film ini lebih banyak diarahkan oleh ego (ego driven, red). Eksplorasi konfliknya asyik sekali kalau di penulisan skenario, apalagi bisa tervisualisasikan.

Berdasarkan pantauan Anda dalam beberapa pekan ini, apakah ini juga asyik untuk penonton film?

Ada berbagai macam reaksi. Sebenarnya yang paling membuat saya senang adalah, ada orang yang saya rasa pasti tidak respek terhadap film Indonesia tapi tiba-tiba mengatakan, "Eh, kok tiba-tiba bisa muncul ide kayak begitu sih?"

Menurut saya film ini bagus. Do you feel that you achieve something?

Ya, I am proud that I achieve something, tapi masih banyak lagi sih yang bisa kita kontribusikan.

Apakah Noriyu akan membuat ini sebagai bagian penting dari karier Anda?

Yes, definitely. Apalagi kemarin Rapi Films sudah sempat mengirim film ini untuk proses seleksi di Pusan Film Festival dan Tokyo Film Festival. Lolos atau tidak lolos seleksi, saya bangga karena artinya produser sudah menganggap film ini layak untuk dikirim ke luar negeri mengikuti proses seleksi..

Apakah Noriyu juga mendapatkan inspirasi kalau melihat film Indonesia lainnya?

Kalau saya terinspirasinya malah saat menonton film India tapi bukan film India yang Bollywood, tapi yang seperti film Black yang main Amithab Bachan. Di film itu akting Amithab kayak Al Pacino.

Film Indonesia yang banyak muncul cuma menstimulasi saja. Oke, film Indonesia sedang naik daun, tapi penonton harus dijaga, entah itu dengan eksplorasi tema atau lainnya. Kalau Rako menganggap film ini adalah eksperimen. Melalui film Merah Itu Cinta, kita harus menjaga kualitas dan memperluas pilihan buat penonton Indonesia. Kalau yang banyak menginspirasi sih lebih film luar negeri.

Apakah Anda tidak ingin menjadi pemain di film itu?

Enggak. Saya pernah ikut main tapi cuma menjadi cameo saja di film Lola Amaria berjudul Betina. Di film itu saya tidak berdialog jadi tidak ada masalah. Saya menjadi penulis karena tidak bisa akting.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...