Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Sophia Latjuba

Aksi Masyarakat Melawan Ujian Nasional

Edisi 586 | 04 Jun 2007 | Cetak Artikel Ini

Hallo pembaca, saya Wimar Witoelar dengan satu surprise baik dari segi tamu maupun topik. Tamu kita sekarang Sophia Latjuba. Selain selebritis, beautiful woman, dan penuh talenta, sekarang dia juga memberikan kontribusi besar pada perkembangan kehidupan terutama anak-anak sekolah. Sophia dan kawan-kawan berhasil dalam melakukan tuntutan hukum melawan pemerintah dalam hal Ujian Nasional (UN).

Sophia Latjuba melakukan tuntutan hukum terhadap pelaksanaan UN terkait motivasinya agar orang menyadari pendidikan adalah hak kita. Jangan sampai itu dirampas. Kualitas pendidikan juga harus dipikirkan. Karena itu dia mengimbau agar masyarakat bertanya kiri dan kanan mengenai pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Ini berdasarkan prinsip yang dipegangnya bahwa pendidikan adalah akar suatu bangsa.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Sophia Latjuba.

Sophia Latjuba, tolong ceritakan apa yang berhasil Anda lakukan dalam tuntutan kepada pemerintah mengenai Ujian Nasional (UN) dan bagaimana selanjutnya?

Ini dimulai sejak satu tahun lalu, sewaktu banyak yang kecewa terhadap pengumuman hasil UN karena sebenarnya anak-anak itu bukan malas, bukan bodoh. Kami mulai duduk bersama. Waktu itu teman saya yang mempunyai sekolah memperkenalkan saya dengan para pakar pendidikan. Akhirnya saya terus berlanjut, sedangkan dia tidak. Kita mencoba melobi pemerintah dan DPR. Upaya melobi DPR sukses. Mereka sangat mendukung kami. Terus kami coba lobi ke kiri dan kanan tapi selalu seperti terhadang tembok. Akhirnya, kita pikir satu-satunya jalan harus lewat jalur hukum.

Apa yang dituntut dalam law suit itu dan apa keputusannya?


Keputusannya banyak. Yang paling penting keputusannya adalah menyatakan tergugat termasuk presiden kami, wakil presiden, menteri pendidikan, dan kepala Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP), telah lalai dalam memberikan pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia (HAM) terhadap warga negaranya. Juga memerintahkan kepada para tergugat untuk meningkatkan kualitas guru dan sarana-prasarana sebelum melaksanakan kebijakan UN.

Kami juga mengikuti itu di koran-koran dan memang hasil tersebut mengejutkan dalam arti menyenangkan bahwa warga negara bisa menyatakan sesuatu dan pemerintah mendengar. Ini tidak pernah terjadi sewaktu saya sekolah. Kalau dulu ini terjadi, saya tidak usah ujian dulu.

Sebenarnya kami menginginkan UN berhenti total, tapi kami tidak mendapatkan itu. Bagusnya, kami mendapatkan bahwa sebelum pemerintah melaksanakan UN ada beberapa standar yang harus dipenuhi terlebih dulu, seperti meningkatkan kualitas guru, sarana sekolah, akses informasi. Sampai sekarang, kalau kita melihat itu di seluruh Indonesia jelas-jelas belum terpenuhi. Kalau kami melihat anggaran yang seharusnya 20% untuk pendidikan saja itu belum terpenuhi, seperti beberapa minggu lalu dimuat di koran. Kalau tidak salah, anggarannya belum sampai 10%. Jadi kualitas pendidikan dulu ditingkatkan, baru bisa melaksanakan UN.

Banyak pembaca termasuk saya sejak dulu selalu menganggap UN yaitu ada orang sekolah lalu ujian. Malah dulu tidak dipikirkan bagus atau tidaknya. Pokoknya ikut saja karena zaman Soeharto tidak ada yang dipikirkan. Sekarang ada pemikiran baru dan langsung secara tajam Anda mengatakan UN sebaiknya tidak diadakan. Mengapa dan sebenarnya apa keburukan dari UN?

Sekarang UN hanya menilai tiga mata pelajaran, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Apakah fair anak yang sudah belajar selama tiga tahun hanya dinilai dalam dua jam. Kalau nilai siswa di bawah standar, misalnya di bawah 4 atau 5, maka dia tidak lulus.

Kalau dulu zaman saya ada delapan mata pelajaran yang diuji. Saya tidak mengatakan itu bagus. Kalau tidak ada UN, bagaimana penilaian terhadap siswa? Apakah dari sekolah saja?

Dari sekolah saja. Itu ada di peraturan pemerintah (PP) bahwa guru dan sekolah yang berhak menentukan apakah anak itu lulus atau tidak, bukan pemerintah. Sebenarnya dalam hal ini sudah banyak yang melanggar hukum. Kita mengajukan gugatan hukum bukan hanya karena hukum menyatakan demikian, tapi ini juga untuk kebaikan anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Mereka semua disamaratakan. Itu tidak boleh karena minat anak A dengan Z tidak bisa disamaratakan. Ada anak yang suka matematika, tapi ada anak yang tidak suka dan itu bukan berarti dia bodoh.

Kalau kelulusan siswa hanya dari sekolahnya, bukankah nanti ada sekolah yang hanya mencari duit maka dia meluluskan saja siswanya?

Ini seperti ayam atau telor dulu. Pemerintah harus mulai mempercayai guru. Berilah kualitas yang benar. Ini tergantung bagaimana kita memonitor kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Sebetulnya kami dari Education Forum menginginkan tidak ada UN, tapi ini membutuhkan waktu. Kita harus mempercayai sekolah. Sekolah jangan sampai dibayar sama anak supaya rapornya tidak merah. Jadi ketulusan dan kejujuran yang harus kita pupuk dari awal. Dengan UN terjadi kebocoran dimana-mana, hidup mati pendidikan anak tergantung sekali sama UN. Kalau dia tidak lulus maka dia bisa dimarahi orangtuanya. Banyak sekali anak-anak yang sudah mendapatkan beasiswa ke Jerman, Amerika, tapi karena mereka tidak lulus UN maka tidak bisa pergi. Jadi masa depan siswa sangat tergantung pada dua jam UN. Padahal bisa saja saat UN mereka sedang lelah sehingga kurang konsentrasi dan akhirnya tidak lulus. Jadi ini tidak fair. Karena itu terjadilah kecurangan-kecurangan.

Kelompok Anda, Education Forum, menginginkan tidak ada UN, tapi hasil gugatan hukum yang bisa dicapai yaitu boleh ada UN setelah syarat-syarat tadi dipenuhi. Itu seperti syarat Sangkuriang yang tidak mungkin dicapai. Kalau konsisten pada peraturan itu, maka mungkin saja tidak akan ada lagi UN karena mana mungkin terpenuhi 20% anggaran untuk pendidikan. Apakah Anda dan kawan-kawan memang sengaja menuntut dengan standar yang tidak mungkin terpenuhi itu?

Tidak, kita tulus. Saya kasihan kalau melihat kawan-kawan yang bergerak dalam Education Forum dan lain-lainnya. Mereka benar-benar jujur, mereka hanya guru seperti ada yang guru dari Bandung. Theyíre fighting, They wanna fight for their kids karena menurut mereka ini tidak masuk akal. Kasihan mereka karena mereka tidak digaji untuk perjuangan ini. Kemarin ada wartawan bertanya, "Oh jadi, Mbak Sophie ikut ini supaya anaknya tidak ikut UN". Saya jawab, "Iím Sorry. Kalau mau, saya kirim anak saya ke Amerika tidak usah ikut pendidikan di sini. I donít trust it anyway."

Saya sangat tertarik dan senang melihat orang-orang seperti Anda mempunyai keberpihakan. Siapa saja yang masuk dalam Education Forum?

Awal berdiri Education Forum ketika Suparman, ketua Forum Guru Independen Indonesia (FGII), mengajak membentuk satu kelompok untuk membahas ide perjuangan tadi yang kemudian kita namakan Education Forum. Kita bertemu juga dengan pakar pendidikan karena mereka sudah sangat kecewa dengan UN.

Sebenarnya jasa Anda pada masyarakat bukan hanya pendidikan, tapi memberikan juga inspirasi bahwa warga can do something, tidak menerima saja. Biasanya kalau kita menuntut pemerintah pasti kalah, sekarang bisa menang. Itu suatu awal karena Anda jelas bukan orang yang 100% dedikasi pada pendidikan, bukan seorang aktivis, tapi seorang warga negara yang peduli. Yang menarik bagi saya adalah orang biasa, orang yang kelas menengah, bukan pejuang, dan juga bukan bandit, bisa berbuat sesuatu yang membuat perubahan. Apakah ini usaha Anda yang pertama langsung sukses begini sebagai aktifis masyarakat?

Tadinya kita sudah pesimis sekali. Ketika kemarin ada keputusan demikian, kita semua seperti tidak percaya. Ini semangat baru untuk maju lagi. Acara wawancara seperti ini penting sekali supaya masyarakat sadar ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang lebih baik. Ini sebenarnya klise, "Pendidikan adalah akar suatu bangsa"

Klise tapi karena benar maka benar sekali.

Benar. Sekarang 20% anggaran untuk pendidikan tidak bisa dipenuhi karena harus untuk anggaran Pertahanan, Ekonomi. Apa artinya pertahanan kalau pendidikan tidak ada. Kelihatan bagus di luar, tapi bobrok di dalam. Klise, but itís true. Anak-anak kita dengan adanya UN tambah lama tambah mundur. Ya, kita juga sekolah lama, kita juga survive dengan ujian-ujian ini. But look at us, where are we? Probably can not be compared dengan dunia luar.

Kalau kita melihat ke diri kita ada kemajuan, tapi kalau melihat ke dunia luar ada kemunduran dibandingkan dengan negara tetangga sekalipun. Apakah itu yang menginspirasi Anda dan apa yang Anda lakukan setelah ini?

Terus maju karena pemerintah naik banding. Jadi kita terus ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Komisi Nasional (Komnas) HAM dan saya pribadi membuat Home Schooling. Eva ikut home schooling karena ada kegiatan shooting, dan sebagainya.

Berapa umur Eva sekarang?

Dia kini berusia 14 tahun. Saya juga meneruskan kuliah dan kini di semester terakhir mengambil bidang pendidikan. Ini membuat saya banyak membaca. Dalam satu bulan saya harus membaca 6-7 buku mengenai pendidikan dan lainnya. Saya melihat home schooling saat ini adalah alternatif yang paling bagus untuk saya.

Menyimpang sedikit ke home schooling. Apakah home schooling merupakan sekolah khusus untuk orang tertentu (privileged) atau terbuka untuk segala macam orang?

Untuk biayanya, kalau kita membandingkan dengan sekolah nasional plus jauh sekali. Kalau home schooling kita belajar dua jam dalam sehari. Misalnya, belajar biologi selama dua jam sehari setelah itu kosong. You have to go to courses.

Kalau dalam home schooling, siapa yang menentukan kelulusannya karena ini sekolah juga bukan tapi negara yang menentukan kelulusan juga tidak mau?

Sekarang saya tidak peduli dengan itu. Yang penting pendidikan, anak mendapatkan ilmu pengetahuan. Kalau sekarang, cinta si anak terhadap belajar sudah dibunuh oleh sekolah-sekolah.

Apakah surat kertas bukti kelulusan tidak begitu penting?

Di Amerika banyak sekali kurikulum yang disediakan oleh beberapa home schooling yang sudah terakreditasi. Jadi dengan diploma tersebut Anda dapat melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi mana pun yang Anda inginkan. Tanpa diplomat terakreditasi home schooling pun, sekarang ratusan perguruan tinggi di Amerika yang menerima anak-anak home schooling. Ini karena mereka menerimanya dari sistem penilaian. Mereka juga mempunyai tes sendiri untuk ini. Saya sedang memperjuangkan supaya standar itu juga disamaratakan di Indonesia.

Apakah masyarakat siap atau tidak untuk sekolah tanpa target ijazah?

Kalau mau ijazah bisa ada ijazahnya. Kalau mau kurikulum tradisional yang dikerjakan di rumah bisa. Kalau tidak, tidak apa-apa. Jadi terserah orang tua dan si anak. Apakah Anda ingin masuk perguruan tinggi? Apakah Anda ingin menjadi Doktor? Apakah Anda ingin menjadi artis? Kami akan bekerja berdasarkan keinginan itu selama 6 tahun di sekolah menengah.

Bagaimana hubungan Sophia Latjuba dengan dunia artis sekarang ini?

Bye bye dulu. Ini karena sudah bisa dikatakan orang mengenal kita, jadi apalagi yang saya mau cari.

Sebetulnya yang Anda punya akses ke hati masyarakat.

Saya tidak bisa look down ke show business dan juga dunia sinetron karena tanpa itu saya tidak akan duduk di sini. Banyak yang bisa saya kerjakan untuk bangsa ini. Hanya saja untuk main sinetron belum ada waktu, masih ada yang lebih penting

Bagaimana dengan Eva?

Kalau Eva lain lagi. Dia justru yang getol sekali karena bakatnya luar biasa. Itu bukan karena saya orang tuanya. Saya melihat bakatnya luar biasa. Akting dia lebih bagus daripada saya. Dia menyanyi juga lebih bagus.

Apakah dia home schooling karena kegiatan itu?

Itu karena dia memang mau masuk performing art setamat high school. Saya mengatakan, "Sayang, you are wasting your money in college. Terjun dulu, see how it is." Kalau misalnya tidak suka tidak usah. Jadi enaknya dengan home schooling, dia bisa mendapatkan pengalaman bekerja dan akademisnya juga tidak dilupakan.

Apa statement yang ingin disampaikan?

Orang agar menyadari pendidikan adalah hak kita. Jangan sampai itu dirampas. Kualitas pendidikan juga harus dipikirkan. Marilah tanya kiri dan kanan, apa pendidikan yang terbaik untuk anak kita.

Apa Education Forum melakukan mobilisasi untuk menghadapi langkah pemerintah naik banding?

Kita sedang menuju ke situ. Kita ada waktu dua minggu. Kita akan bertemu DPR. Sebenarnya DPR sudah mendukung kami. Kami ingin melobi terus. Kemarin kami ke Komnas HAM.

Apakah mereka mendukung?

Ya, mereka mendukung. Kesannya, pemerintah seakan-akan melawan anak-anak yang tidak lulus. Anak yang tidak lulus adalah bodoh dan malas, menurut mereka. Padahal ini hanya suatu situasi yang mereka tidak bisa hindari. Saya ingin mengklarifikasi bahwa mereka yang tidak lulus UN bukan anak-anak yang bodoh dan malas. Mereka datang ke rumah saya setiap minggu. Mereka adalah anak-anak yang pintar. Dan yang memperjuangkan ini bukan hanya mereka yang tidak lulus, tapi pelajar yang lulus UN pun ikut memperjuangkan kawan-kawannya, masa depan mereka sendiri. Tolong jangan sampai mengatakan pemerintah melawan anak-anak bodoh yang malas. Ini adalah civil action, bukan siswa yang malas dan bodoh.

Siapa saja yang ada di Education Forum? Apa jenis organisasi ini?

Banyak sekali termasuk ada pakar pendidikan. Siapapun yang ingin bergabung silakan. Kita menerima siapa saja. Kita terbuka untuk siapa saja yang tidak pro terhadap UN dan memperjuangkan anak sekolah.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...