Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dhanang Sasongko

Home Schooling

Edisi 570 | 12 Feb 2007 | Cetak Artikel Ini

Halo sahabat Perspektif Baru, saya Jaleswari Pramodhawardani akan berbincang mengenai satu kebutuhan pokok kita yaitu pendidikan dengan tamu kita Dhanang Sasongko. Dia adalah Sekretaris Jenderal Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena). Sekarang ini sedang trend pendidikan alternatif atau home schooling (HS). Kita bisa menyebutkan beberapa contoh dari kalangan selebriti seperti Nia Ramadhani, Kak Seto, Neno Warisman, dan beberapa nama lainnya yang memilih alternatif HS ini.

Dhanang berpendapat HS ada kelemahan dan keunggulannya. Kelemahannya antara lain tidak ada kompetisi atau persaingan. Tapi keunggulannya banyak, dan yang paling dominan adalah karena terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan fisika. Kita mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi peserta didik masing-masing. Mereka yang mengikuti HS nanti bisa mengikuti ujian kesetaraan sehingga lulus mempunyai ijazah dan itu diakui pemerintah.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Dhanang Sasongko.

Apa sebetulnya home schooling (HS) itu? Apakah itu maksudnya kita sekolah di rumah dengan mengundang guru ke rumah atau kita belajar bersama?

Kalau di Amerika Serikat (AS) dan di dunia, HS sudah lama berkembang. Di Indonesia mungkin ada yang namanya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). HS terdiri dari tiga jenis. Pertama, HS tunggal. Ini penggiatnya adalah satu keluarga. Kemudian HS majemuk terdiri dari dua keluarga, dan terakhir HS komunitas. Komunitas ini dibentuk dengan metode pembelajarannya secara tutorial. HS tunggal dilakukan di rumah. HS itu adalah bagaimana proses kegiatan belajar, di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa saja.

Bagaimana sistemnya? Maksudnya, jika saya sebagai orang tua ingin memasukkan anak ke HS, apakah saya harus berhubungan dengan Anda lalu apakah Anda mendesain kurikulum dan sistem sekolah sendiri atau kita dilibatkan?

Itu berarti masuk ke HS komunitas. HS Komunis adalah beberapa keluarga memberikan kepercayaannya untuk mendidik anak-anaknya ke dalam HS. Proses pembelajarannya melalui tutorial. Ini ada di salah satu metode HS Kak Seto.

Siapa tutornya?

Kita mempunyai tim yang namanya Badan Tutorial. Mereka terdiri dari lulusan berbagai jenis profesi pendidikan. Mereka melaksanakan, misalnya, pertemuan dua kali dalam satu minggu. Ada paket A setara dengan Sekolah Dasar (SD), paket B setara Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan paket C setara Sekolah Menengah Atas (SMA). Jadi kunjungannya adalah kunjungan ke komunitas. Bila keluarga atau peserta didik kekurangan informasi akademisnya maka mereka bisa memanggil gurunya ke suatu tempat. Jadi komunitas itu menyediakan suatu tempat. Misalnya, komunitas Berkemas yang dipimpin Ibu Yaya atau Mbak Neno Warisman itu tempatnya di Pejaten. Mereka berkumpul selama tiga jam. Hari Senin adalah untuk setara SMA, jadi anak kelas satu, dua, dan tiga belajar dalam satu ruangan.

Kalau di sekolah formal kita melihat kelas satu berada di dalam satu ruangan, kelas dua di ruang lain dengan materi pelajaran yang berbeda. Jadi bagaimana proses belajar HS jika semua digabung dalam satu kelas karena pada akhirnya mereka juga mengikuti ujian akhir?

Kita memberikan masing-masing peserta didik kebebasan dalam memilih pembelajaran tapi tidak terlepas dari kurikulum. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum 2004 yaitu kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum terbaru kurikulum 2006. Jadi tetap ada acuannya karena nanti di ujung dari proses pendidikan HS ada ujian kesetaraan. Kalau di pendidikan formal itu Ujian Nasional (UN), sedangkan di pendidikan non formal komunitas ini ada ujian kesetaraan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) atau komunitas yang sudah mendapatkan legalitas untuk bisa menyelenggarakan ujian tersendiri.

Dalam hal ini ada yang sudah bosan di kelas dua atau tidak nyaman di pendidikan formal, dia dapat pindah ke kelas tiga di HS. Itu tidak masalah karena berdasarkan prinsip Diknas untuk ini adalah multi entry and multi exit atau mudah untuk masuk dan mudah untuk keluar. Legalitasnya pun sudah dijamin oleh pemerintah. Dalam Undang-Undang (UU) No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD, SMP, maupun SMA.

Bagaimana metode pembelajaran untuk masing-masing HS yaitu tunggal, majemuk, dan komunitas?

HS ini metode pembelajarannya tematik dan konseptual serta aplikatif. Misalnya untuk tingkatan SD, dalam mempelajari alat transportasi maka mereka bisa pergi langsung naik alat transportasi. Misalnya, naik metro mini. Di metro mini ada sopir, kondektur, dan kita harus membayar. Jadi di HS kesempatan untuk mengenal langsung alat transportasi cukup besar. Lalu mereka turun dan naik busway dengan harus beli tiket dulu, antri. Kemarin saya mengajak mereka dari Grogol ke stasiun kereta api Kota untuk mengetahui bagaimana naik kereta dan kondisinya seperti nanti kereta itu penuh. Itu terekam sekali di otak anak-anak. Setelah itu, besoknya kita memberikan paparan mengenai alat transportasi. Kita coba tes ke anak-anak dan mereka bisa menulis mengenai alat transportasi berlembar-lembar.

Jadi itu mungkin keunggulan HS.

Ya, karena proses belajarnya tematik dan aplikatif. Contoh lain, kita ajak mereka untuk belajar menanam. Kita ajak ke ahlinya seperti ke Ciawi sekalian outbond. Mereka belajar cara menanam. Besoknya kita coba evaluasi dan mereka begitu antusias sehingga bisa menulis berlembar-lembar. Jadi benar-benar aplikatif. Kalau HS tunggal atau sendiri, orang tua bisa mengajarkan dari dia bangun tidur dan kapan dia mau belajar. Jadi belajar bukan sebagai kewajiban tapi kebutuhan bagi anak-anak. Jadi kalau saya sehari-hari mungkin melihat proses pembelajaran yang seperti di rumah Kak Seto. Anak beliau ada empat. Nah, yang tiga mengikuti HS dan yang satu pendidikan formal.

Jadi dalam hal ini orang tua terjun langsung?

Iya, terjun langsung. Kalau misalnya kekurangan informasi mengenai akademis, mereka bisa panggil tutor. Mereka mau tahu tentang bahasa Inggris maka mereka bisa ambil kursus. Jadi waktunya bisa lebih banyak, dan belajar sangat menyenangkan buat mereka karena memang didasari oleh kebutuhan.

Kalau melihat dari jenisnya, apakah HS komunitas memiliki kelebihan atau keunggulan dari yang lain?

Ini harus dilihat dari kondisi orang tuanya. Kalau kedua orang tua bekerja, tapi menginginkan anaknya untuk HS mungkin lebih tepat ke HS komunitas. Sedangkan untuk HS tunggal agak susah karena orangtua harus full. Jadi untuk komunitas itu sifatnya tutorial, dan hadir di kegiatan komunitas.

Pendidikan bukan hanya soal kita menambah pengetahuan atau ilmu di segala macam bidang, namun ada hal yang perlu juga seperti interaksi dengan kawan-kawan lainnya. Bagaimana sosialisasi pada murid HS?

Saya melihat sosialisasi anak-anak HS begitu terjaga. Kita mengajak mereka ke pasar. Kita perkenalkan juga kepada anak-anak pasar. Kita tanya, "Apakah kamu bersekolah atau tidak? Apa kegiatan kamu?". Lalu kita bawa juga mereka ke alam terbuka dan ke rumah singgah. Kalau lingkungan untuk pendidikan formal mungkin ada keterbatasannya. Temannya hanya itu-itu saja. Besok ketemu si A dan besoknya ketemu si A lagi karena satu lingkup sekolah. Sosialisasi di HS juga cukup efektif karena mereka bisa lebih banyak waktunya untuk berhubungan lewat internet. Mereka bisa lebih banyak ada kesempatan untuk pergi ke luar. Jadi mengenai sosialisasi tidak ada masalah. Yang paling penting juga adalah kita memberikan kemandirian, yaitu dalam belajar dan mengambil keputusan. Kita juga memberikan wawasan mengenai kewirausahaan. Jadi sejak dini mereka sudah dilatih untuk bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain.

Bagaimana kegiatan Anda dan teman-teman di Asah Pena selama ini seperti sejak kapan dan bagaimana keterlibatannya dalam proses HS ini?

Asah Pena baru saja menandatangani MoU dengan pemerintah sekitar 10 Januari 2007. Asah Pena adalah singkatan dari asosiasi sekolah rumah dan pendidikan alternatif. Ini merupakan suatu wadah home schooler (peserta didik Red) baik tunggal, majemuk, ataupun komunitas. Asah Pena dibentuk atas keinginan masyarakat dan didukung oleh Depertemen Pendidikan Nasional. Kelihatannya cukup efektif karena selama ini pendidikan alternatif selalu dicitrakan dengan pendidikan yang kurang berkualitas. Dengan adanya Asah Pena maka bisa mendata secara administratif seberapa banyak sekolah alternatif, HS, dan sebagainya.

Berapa banyak peserta didik home schooling saat ini di Jakarta?

Banyak. Home schooler yang terdata di Jakarta ada 600-an. Dan untuk HS komunitas ada 8 - 10 komunitas.

Apa kira-kira yang harus dilakukan bila ingin menyekolahkan anaknya melalui pendidikan alternatif atau HS karena informasinya sangat terbatas?

Jika ingin mendapatkan informasi mengenai HS bisa melalui Asah Pena di nomor telepon 0817-831813 atau perwakilan Asah Pena di telepon (021) 8195601. Biayanya berbeda-beda seperti ada uang pangkal, iuran tahunan, dan iuran bulanan. Metoda pengajarannya dengan tutorial. Misalnya, uang pangkal untuk HS Kak Seto Rp 1,5 juta dan iuran tahunan Rp 2 juta untuk tahun ini. Untuk iuran bulanan berjenjang seperti untuk SMA Rp 450 ribu. Mereka mendapat modul dan modul pembelajaran untuk orang tua

Apakah belajarnya setiap hari?

Belajarnya satu minggu dua kali sebanyak tiga jam untuk masing-masing pertemuan. Kita mengarahkan supaya mereka nanti banyak belajar di rumah dan di lingkungan yang mereka mau belajar. Kalau mau menyelenggarakan HS tunggal, mereka bisa konsultasi ke Asah Pena dan mungkin rekan atau kerabatnya yang sudah menjalankan HS. Kita bisa mengambil metode bermacam-macam. Kalau kita mau kurikulum nasional maka materi pembelajarannya bisa didapat di toko buku dan sebagainya. Kalau mau mencoba kurikulumnya Neno Warisman maka bisa berhubungan dengan Mbak Neno. Nanti kurikulumnya bisa diberikan. Ada juga metodenya Kak Seto atau Berkemas. Ada 8 sampai 10 komunitas dan mereka sangat terbuka untuk memberikan informasi mengenai kurikulum.

Bagaimana dengan sertifikat atau ijazah kelulusan untuk HS karena biasanya kita mau tidak mau harus memiliki itu untuk mendapatkan akreditasi dan segala macamnya. Apakah legalitas itu sudah ada dari Diknas?

Diknas sangat memperhatikan sekali pendidikan alternatif. Kini sudah ada Direktorat Pendidikan Kesetaraan. Itu adalah pecahan dari Sub Direktorat Pendidikan Masyarakat untuk merespons HS, banyaknya Proses Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dan banyaknya kekecewaan terhadap Ujian Nasional (UN). Orang tidak perlu khawatir untuk mendapatkan ijazah kesetaraan. Di SD ada ijazah kesetaraan untuk tingkat SD. Orang bisa ikut ujian kesetaraan dan jika lulus akan mendapatkan ijazah Kesetaraan SD, lalu SMP dan SMA juga ada. Ini bisa diterima oleh berbagai sekolah dan universitas. Jadi sudah dilegalitas oleh pemerintah.

Dalam hal ini memang ada kelemahannya di HS, yaitu tidak ada kompetisi atau bersaing. Tapi keunggulannya yang paling dominan adalah dengan terbatasnya jumlah peserta didik maka tutor bisa langsung fokus pada potensi masing-masing anak peserta didik. Di HS ada yang ingin jadi penyanyi, maka dia merasa tidak perlu untuk belajar kimia dan fisika. Kita mengarahkan sesuai dengan bakat dan potensi peserta didik masing-masing.

Ujian kesetaraan itu nanti ada yang namanya percepatan yang mungkin kualitasnya masih di bawah Ujian Nasional, tapi mereka bisa dipermudah dengan program percepatan. Misalnya, untuk menghadapi ujian biasanya kita intensif untuk tutorial terus selama dua bulan.

Sejak kapan HS ada di Indonesia dan apakah ada kisah sukses orang-orang yang ikut HS karena di masyarakat dia mendapatkan sertifikasi hampir sama dengan orang-orang yang sekolah formal?

Mungkin kita bisa melihat pada Ki Hajar Dewantoro. Jika saya melihat dari sejarah Ki Hajar Dewantor, tidak ada anak-anaknya mengikuti sekolah Belanda. Mereka HS. Lalu Ketua BEM UI sekarang dia ikut HS juga. Kalau di luar negeri yaitu Bill Gates dan Thomas Alfa Edison. Kalau saya membaca sejarahnya, mereka tidak belajar di sekolah formal. Malah mereka banyak sekali melakukan eksperimen di rumahnya. Ini untuk memperkuat supaya kita tidak khawatir. HS sama dengan sekolah formal pada umumnya.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...