Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ade Purnama

Sahabat Museum

Edisi 543 | 07 Aug 2006 | Cetak Artikel Ini

Halo para pembaca kembali bertemu dengan Wimar Witoelar. Perspektif Baru kali ini akan sangat menyegarkan karena kita bicara mengenai suatu organisasi yang unik, yaitu Sahabat Museum. Kita akan berbicara dengan pendiri, manajer, dan pemiliknya sendiri yaitu Ade Purnama yang saya baca di koran merupakan lulusan sastra Belanda.

Ade Purnama lewat Sahabat Museum menggelar acara bertajuk Plesiran Tempo Doeloe. Acara ini terutama berkunjung ke museum-museum dan tempat bersejarah. Jika pergi ke daerah, selain ke tempat bersejarah juga melakukan wisata budaya. Menurut Ade, masyarakat mengikuti Sahabat Museum karena ingin mengenal Indonesia. Berdasarkan pengamatannya selama ini, pemerintah kita tidak serius untuk menggarap itu. Sedangkan kita mempunyai tempat bersejarah dan wisata yang sangat potensial dan sangat indah.

Bagaimana cara kerja Sahabat Museum yang Anda dirikan?

Pertama, saya perkenalkan diri saya dulu. Saya Ade Purnama yang merupakan pendiri, penggerak, penggagas, pokoknya semua di Sahabat Museum. Awalnya, dulu saya hobi mengenal sejarah kota Jakarta, mengenal riwayat tempo dulu. Setelah lulus dari sastra Belanda Universitas Indonesia (UI), saya pikir mengapa saya tidak mempergunakan ilmu yang sudah saya miliki. Saya sudah bisa membaca bahasa Belanda, bisa mengerti dokumen. Akhirnya saya manfaatkan ke bidang-bidang yang menyangkut dengan sejarah kota Jakarta.

Saya ingin tahu, bagaimana pemuda semacam Anda mempunyai minat terhadap museum? Dulu saya ke Museum harus dibawa ibu saya, bersama isteri saya. Tidak banyak orang yang pro aktif ke museum. Dari mana Anda mempunyai minat terhadap museum?

Dari diri sendiri. Dari kecil memang suka diajak sama orang tua keliling kota tua Jakarta. Kalau ke Bandung lewat kota tua Bandung, ke Padang lewat kota tua Padang. Nah, di situ saya jadi penasaran. Kok apa yang saya lihat itu tidak ada di pelajaran sekolah. Akhirnya saya lebih melakukan riset sendiri, baca koran, dan baca majalah. Setelah lulus kuliah sehingga sudah tidak ada beban untuk sekolah, saya jadi lebih bebas mencari data seperti ke perpustakaan nasional, arsip nasional, ataupun ke majalah-majalah tempo dulu, baik yang foto kopian maupun asli.

Apakah maksudnya ke arsip-arsip majalah?

Iya. Itu banyak sekali. Sayangnya anak-anak muda Jakarta hampir tidak ada yang mau meriset itu.

Apakah Anda melakukannya sendiri atau ada teman-teman yang berkeliling ke sana-sini mengurusinya?

Pada dasarnya sendiri. Ketika teman saya bisa membantu kapan saja maka mereka bisa membantu meriset juga, tapi lebih banyak saya sendiri.

Kapan ini mulai?

Mulai pada 31 Agustus 2002.

Saya mendengar mengenai ini dan bisa bertemu Anda karena selain membaca di koran, juga dari beberapa sahabat yang menjadi sahabat Anda melalui Sahabat Museum yang menjadi sahabat semuanya. Berapa jumlah orang yang sudah menjadi anggota?

Kalau anggota kita di mailing list sudah sekitar 2000-an.

Kalau mengenai kerjanya, saya pernah dengar ke Toraja. Apakah ada penekanan luar kota dan dalam kota?

Tidak, ini sesuai permintaan dari peserta. Selain polling, juga di setiap acara kita beri angket. Jadi kemana mereka ingin pergi. Apakah mau ke Pulau Seribu atau Bengkulu atau Tana Toraja.

Berapa orang yang ikut secara rata-rata?

Kalau ke luar kota rata-rata biasanya 80 orang sekali terbang. Kalau dalam kota biasanya 300-500 orang.

Apakah itu setiap minggu atau setiap bulan?

Biasanya rutin setiap bulan tapi terkadang sebulan bisa 2-3 kali.

Apa yang sudah dijadwalkan ke depan? Kemana?

Untuk jadwal ke depan, ada yang ke Kampung Betawi Setu Babakan, juga ada yang naik sepeda keliling Batavia di Jakarta-Kota.

Maksud Anda, itu yang untuk bulan ini. Apakah ada yang untuk bulan depan?

Sudah terjadwal sampai akhir 2006.

Apakah untuk menjadi anggota ada iurannya?

Tidak ada, kita buat santai saja. Jadi kalau mau pergi saja baru ada iurannya.

Iuran itu barangkali sesuai tempat tujuannya.

Bisa dibilang begitu

Ngomong-ngomong, apakah ada websitenya?

Websitenya belum, tapi ada mailing listnya.

Jadi bagaimana kalau orang mau tahu lebih lanjut? Apa alamat e-mailnya?

E-mail ke saya yaitu adep@cbn.net.id atau gabung di SahabatMuseum@yahoogroups.com

Sekarang, ambil satu kasus praktis saja. Apa nama acara yang di Jakarta itu?

Acaranya Plesiran Tempo Doeloe

Plesiran Tempo Doeloe. Ke mana saja itu?

Berbagai tempat bersejarah di Jakarta. Tidak sampai satu hari. Paling satu jam atau dua jam sudah cukup tapi padat.

Di mana kumpulnya?

Kumpulnya berpindah-pindah. Kalau yang keliling Batavia naik sepeda, kumpulnya di sekitar Jakarta-Kota dan rencananya di Museum Bank Mandiri.

Apakah itu dengan sendirinya harus membawa sepeda?

Kebetulan tidak. Jadi kita sewa sama ojek sepeda karena repot membawa sepeda ke sana.

Berapa biaya per orang kalau mau ikut acara ini?

Belum kita ketahui persis karena semuanya masih dipersiapkan. Termasuk nara sumbernya. Kita akan ajak seorang yang boleh dibilang sejarawan Belanda. Namanya Max De Bruijn, yaitu kurator lukisan Johannes Rach.

Acara di Jakarta tapi nara sumbernya orang Belanda. Apakah itu karena koneksi Anda sewaktu belajar sastra Belanda?

Tidak juga. Lebih ke pergaulan.

Kalau acara di Jakarta barangkali faktor biaya tidak menonjol, tapi katakanlah sewaktu ke Toraja. Teman saya Fira Basuki ke Toraja dan mengatakan bagus sekali. Berapa biaya per orangnya?

Biayanya Rp 2,8 juta. Itu untuk tiga malam empat hari dan sudah termasuk naik Garuda, menginap di hotel bintang empat, makan, semuanya. Jadi kalau pergi bersama kita, tinggal bawa badan saja.

Kalau pergi selama empat hari barangkali tidak setiap saat mengunjungi museum. Apa saja acara lainnya?

Banyak sekali seperti ke tempat kunjungan wisata di sana terutama wisata budaya.

Orang melihatnya asyik karena suasana yang saya tangkap asyik, enak, difoto, gambarnya masuk flickr segala macam. Apakah itu hanya untuk fun saja atau memang ada minat serius pada benda sejarah?

Saya pikir lebih tepatnya mereka ingin mengenal Indonesia. Contohnya Toraja. Mereka mau ke sana tapi bagaimana sih cara ke sana? Apakah aman atau tidak, kemudian bagaimana hotel-hotelnya? Selama ini yang saya amati, pemerintah kita tidak serius untuk menggarap itu. Sedangkan kita mempunyai tempat-tempat wisata yang sangat potensial dan sangat indah.

Ngomong-ngomong, Apakah Ade Purnama sendiri sudah banyak mengunjungi Indonesia di luar Sahabat Museum, sebelumnya, atau semua itu dalam pengalaman ini?

Berjalan secara seiring saja.

Tadi menyebut pemerintah. Apakah dari kalangan museum atau pemerintah memberi fasilitas, atau ada pengakuan, atau sangat bebas?

Selama ini independen saja. Mengenai pengakuan, barangkali lebih kepada pengakuan personal.

Apakah kalau ke museum bayar?

Tetap bayar dengan harga yang sesuai yang dicantumkan

Apakah tidak ada fasilitas dari dalam?

Kadang fasilitas umum saja. Jadi yang biasa berlaku di museum atau di tempat-tempat sejarah itu.

Sejak dari 2002 sampai sekarang ini, apakah tempat yang dikunjungi sudah berulang atau masih belum habis?

Kita berusaha untuk tidak mengulang karena panitianya ingin ke sana ke mari. Bahkan kita sudah merencanakan ke Manado, Ternate, Banda Naera, terus Papua.

Selain Anda, berapa orang panitianya?

Kalau dalam kota ada 20-30 orang, tapi kalau ke luar kota cukup lima orang.

Jadi panitianya dibentuk setiap ada outing atau jalan-jalan. Jadi sehari-hari tidak ada orang berkantor?

Tidak ada. Itu semua mobile dan di dunia maya semua.

Di mana kantor Anda?

Kantor saya di laptop dan di handphone

Maaf kalau saya bertanya secara pribadi. Berapa usia Anda sekarang?

Usia saya sekarang 29 tahun.

Apakah sudah berkeluarga?

Belum

Secara realistis Anda harus hidup. Anda mengurus Sahabat Museum banyak waktu tersita. Kok bisa hidup, bisa punya celana, pakaian. Dari mana biaya hidupnya?

Biaya hidup itu sebenarnya berputar saja dari acara saya karena saya membuat acara terus menerus ada. Harus ada tiap bulan dan harus kreatif. Saya juga ada bidang-bidang lain, seperti saya juga mencetak kaos.

Ini yang menarik, apakah Anda melakukan usaha-usaha semuanya itu sendiri?

Sendiri. Saya promosi sendiri, saya mengiklankan sendiri.

Ke depannya, bagaimana Anda melihat diri sendiri? Saya jadi tertarik dengan profil Ade Purnama karena di Indonesia jarang orang yang bergerak atas dasar keyakinan dan mempertaruhkan hidupnya.

Ini pilihan.

Ke depannya, where do you see your self?

Saya melihatnya dengan saya bergerak secara rutin dan konsisten. Saya pikir akan membuahkan hasil yang memuaskan karena awalnya pun saya juga bergerak atas dasar percaya diri. Saya punya ability, saya punya kekuatan, dan terutama kemauan, bukan finansial.

Apakah Anda bukan anak orang kaya?

Bukan anak orang kaya, tapi akan menjadi orang kaya.

Di luar tour-tour itu, apakah tidak ada kegiatan yang lain?

Untuk acara resmi kita Plesiran Tempo Doeloe, tapi untuk acara yang tidak resmi untuk kumpul-kumpulnya yaitu Pintong artinya Pindah Tongkrongan.

Apakah itu seperti kopi darat?

Betul. Jadi acaranya tidak harus berhubungan dengan sejarah, jadi kita bisa nonton hemat (Nomat), seperti acara kemarin nonton Piala Dunia atau mau menikmati dunia gemerlap (Dugem).

Berapa rata-rata kelompok usianya?

Mayoritas berusia 25 sampai 40. Pesertanya juga banyak yang anak baru gede (ABG), bocah-bocah, terus juga ada yang pensiunan. Oma-oma juga banyak.

Misalnya, ada satu tour ke Lombok dan saya kebetulan mendengar acara itu dan saya bukan anggota. Bagaimana cara saya menjadi anggota supaya bisa ikut ke Lombok?

Kita tidak ada keanggotaan. Anggota kita lebih berupa member milis saja. Go show saja. Konfirmasi melalui e-mail saya terus nanti kita selesaikan masalah administrasinya.

Apakah tidak ada seleksi untuk siapa saja yang pergi?

Tidak. Pokoknya siapa yang suka sejarah, suka jalan, dan percaya saja.

Tadi disebut ada acara Pindah Tongkrongan. Apakah itu membuat anggotanya saling mengenal? Apakah ada orang yang sudah lama, sering ikut, atau yang sekali muncul?

Banyak. Awalnya banyak yang suka bingung seperti, "Bagaimana nih Mas Adep, saya belum kenal siapa-siapa." Saya mengatakan ikut saja dulu. Ternyata mereka membuat satu gang. Bahkan yang menjadi teman seumur hidup juga ada dua kejadian. Mereka bertemu di acara saya dan akhirnya menikah. Alhamdulillah.

Tempat mana di luar kota yang belum dikunjungi?

Yang belum dan sangat ingin sejauh ini yang diminta oleh peserta adalah Banda Neira. Di sana masih banyak benteng dan cerita mengenai sejarah Vereniging Oost Indische Compagnie (VOC) seperti ketika J.P. Coen menyerang Jayakarta dan mendirikan Batavia.

Kalau mau ke satu tempat, apakah Anda menggunakan chanel-chanel yang dalam atau mencari relasi-relasi?

Saya mencari dulu karena saya tergabung di Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia. Itu chanelnya seluruh Nusantara. Jadi ada yang dari Badan Warisan Sumatera, Jogja, Ambon, Bandung.

Bung Ade, apakah ada dokumentasinya?

Dokumentasi banyak. Foto terus juga handicam.

Ini kedengarannya sesuatu yang asyik. Ada fokus pada museum tapi Anda tidak terlalu terpaku dan Anda bisa saja bergaul dengan santai, sangat modern, dan mudah majunya. Karena itu saya ingin merekomendasi buat para pembaca untuk klik di www.perspektifbaru.com sehingga bisa bertanya dan minta jadwal Sahabat Museum ke depan. Setahu Anda, apakah ada organisasi sejenis ini yang barangkali lebih formal atau lebih resmi yang berkunjung ke museum?

Setahu saya tidak ada. Karena itu saya membentuk ini.

Apakah ada afiliasi pemerintah? Setahu saya museum-museum yang besar di luar negeri selalu mempunyai fans club. Di sini saya rasa tidak malah dari luar. Kembali ke museum, katakanlah di Jakarta, apakah kemungkinan bisa habis kunjungan museum di Jakarta kalau didatangi setiap bulan? Anda mengatakan tidak mau berulang, bagaimana bisa tidak berulang?

Dari data yang saya dapatkan, di Jakarta ada 60 museum. Mungkin seumur hidup habisnya.

Dulu pernah ke pasar ikan? Itu acara Sahabat Museum. Sejak kapan di Pasar Ikan?

Pasar Ikan itu acara yang ke dua. Jadi kemarin kita ke Kebun Raya Bogor hari Minggu tanggal 16 Juli kemarin itu acara yang 32.

Bahaya ke Kebun Raya Bogor, orang yang ke sana kalau pacaran jadi putus.

Peserta single semua.

Apa yang dikunjungi kalau ke Bandunga?

Bandung banyak sekali. Pertama Gedung Merdeka, Hotel Savoy Homann, Boscha tempat peneropong bintang.

Di kota-kota lain, apakah ada rekan-rekan atau associate atau organisasi semacam itu?

Di luar kota Jakarta ada. Tapi saya perhatikan, gerakannya tidak segesit Jakarta karena mereka juga kepentok oleh birokrasi yang ada di sana. Kalau saya hanya di dunia maya. Saya mau buat iklan berbahasa Tempo Doeloe juga asyik-asyik saja.

Apakah ini tidak ada perizinannya atau sejenisnya?

Kita tetap mengajukan ke kepolisian, izin keramaian saja. Tidak ada izin-izin khusus karena pada dasarnya kita turis domestik.

Anda barangkali statusnya seperti travel biro.

Ya seperti itu. Tapi bedanya kita bergerak semau kita.

Tapi travel biro saja punya staff, punya pengetik, punya pencatat uang. Apakah Anda tidak mempunyai itu semua?

Itu semuanya saya lakukan sendiri.

Hebat sekali. Kalau melihat dari keanggotaannya sekarang, apakah semuanya orang Indonesia sampai sekarang?

Iya, mayoritas. Ada beberapa orang bule tapi yang bergerak orang Indonesia karena mereka juga selama ini sepertinya sudah menantikan kegiatan jalan-jalan mengenal Indonesia dengan aman dan nyaman. Kalau kita perhatikan seperti berkunjung ke Borobudur, banyak yang dagang dengan pemaksaan. Itu yang kita temui perilaku-perilaku masyarakat di sekitar tempat wisata. Jadi dengan Sahabat Museum, dengan berbondong-bondong dan saling kenal, dan orang-orangnya juga pada bersenang-senang.

Kalau Anda lihat dari orang yang ikut karena bukan anggota tapi peserta selama sekian tahun, berapa lama yang sudah ikut?

Ada yang dari awal.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...