Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Nia Dinata

Film adalah Ekspresi Pribadi Saya

Edisi 535 | 12 Jun 2006 | Cetak Artikel Ini

Saya Wimar Witoelar punya surprise besar untuk Anda hari ini yaitu tamu kita Nia Dinata, seorang pembuat film, sutradara, dan selebriti juga. Jadi bukan hanya di belakang kamera tapi sangat di depan kamera.

Kalau kita membicarakan film barangkali yang paling menyolok dari Nia adalah dia bagian dari orang-orang yang membawa Indonesia ke forum Internasional. Kalaupun belum melalui studio secara commercial tapi melalui festival film. Dia memenangi award di Seoul, mendapat mention di New York Times, dan ada di INDV. Nia ada di semua movie database. Ini mungkin juga karena Nia bersekolah di luar negeri. Wawancara ini berlangsung di studio kami yang kecil. Saya sangat senang kalau para pembaca bisa melihat studio kami karena ada jendela untuk orang bisa menyaksikan wawancara ini secara langsung. Kali ini jumlah penontonnya mencatat rekor. Saya tidak mengatakan berapa jumlahnya supaya dikira ribuan. Pokoknya rekor.

Nia Dinata menuturkan, semua film yang telah dibuatnya bersifat personal, ada kaitan dengan dirinya. Dalam membuat film dia selalu melakukan riset dan treatment visual. Selain itu, setiap film diperlakukan seperti sang anak. Jadi tidak ada anak emas. Ke depan, dia bercita-cita membuat film musikal dan dokumenter.

Mengapa Nia Dinata sebagai film maker kok menjadi selebriti juga?

Wah, saya langsung mengerenyutkan dahi ketika disebut selebriti.

Mengapa Anda tidak merasa sebagai selebriti?

Saya tidak merasa sama sekali karena tidak pernah di depan layar. Saya di depan layar kalau sedang interview promosi film saja.

Saya kira ukuran selebriti adalah kalau tanya kiri-kanan banyak orang yang lebih tahu Nia Dinata daripada filmnya. Filmnya memang penting. Anda bersama rekan-rekan membuka suatu zaman baru lewat film-film yang menggelegar seperti Ca Bau Kan dan Arisan. Kedua film itu penting tapi temanya beda. Nah, Nia mungkin bisa menjelaskan apakah memang mencari arti penting di dalam filmnya atau mencari sesuatu yang visual? Apa yang Nia tuju di dua film itu?

Kalau melihat dari dua film tersebut sebenarnya sama saja. Tapi di film Berbagi Suami, saya mencari arti penting buat diri saya dulu.

Jadi personal, betulkah?

Iya personal, semua film-film saya personal. Bahkan pada film Janji Joni dimana saya menjadi producer tidak menjadi sutradaranya, itu juga personal, punya kaitan personal saya terhadap karakter Joni ataupun ceritanya.

Ya, saya senang sekali Janji Joni karena berbeda dengan film Nia lainnya, tapi apakah selera Anda di situ?

Ya, karena memperlihatkan sesuatu yang memang belum pernah dibahas sebelumnya di layar lebar atau dikehidupan sehari-hari. Misalnya, Ca Bau Kan. Kita sering membicarakan perbedaan etnis. Saya sendiri menikah dengan orang dari etnis Tionghoa. Juga banyak sekali perbedaan-perbedaan di keluarga saya seperti agamanya lain dan segala macam yang kalau dilihat dari tata cara kehidupan Indonesia itu agak tabu. Sebenarnya kalau kita lihat lebih dalam lagi, kalau kita fokus pakai kaca pembesar, orang Indonesia sebenarnya sudah mulai menerima perbedaan-perbedaan itu, tapi mengapa kalau dilihat secara global atau dari kulitnya saja sepertinya Indonesia masih sangat konservatif. Padahal kalau lihat lebih dalam lagi banyak sekali masyarakat yang sudah sangat terbuka atau open dan menerima perbedaan-perbedaan itu.

Jadi sebenarnya Ca Bau Kan juga membicarakan mengenai perbedaan dan bagaimana kita bisa falling in love dengan orang yang beda total dari diri kita dan tidak selalu harus dari yang sama. Begitu juga dengan Arisan dan Janji Joni. Di situ juga ada sifat cinta dari strata yang berbeda. Demikian juga Berbagi Suami. Jadi sebenarnya itu hal yang penting buat diri saya secara personal, saya ingin menyampaikannya dengan cara membuat film.

Keempat film Nia mengenai cinta. Cinta antara etnis dalam Ca Bau Khan, cinta antara status sosial dan cinta sama pekerjaan dalam Janji Joni, dan dalam film Arisan cinta sesama gender. Kalau Berbagi Suami itu poligami. Apakah kehidupan paling bagus dilihat dari perspektif cinta?

Sebenarnya cinta itu memang bagian dari kehidupan. Jadi mungkin film-film saya banyak membicarakan mengenai slice of life. Film Ca Bau Kan itu termasuk epik dan period. Dan banyak yang kita tidak tahu tentang seluruh culture cinta waktu itu. Waktu itu kita masih tidak sadar bahwa ternyata zaman dulu demikian, atau musik-musik yang berasal dari culture Cina berpengaruh sekali ke musik-musik Indonesia sampai sekarang. Jadi banyak aspeknya. Kalau dilihat memang itu itís about life in general, tapi kita ambil potongannya, slice of lifenya. Arisan pun begitu. Ada slice of life yang memang orang bersahabat, tapi kita tidak tahu siapa sebenarnya sahabat kita sendiri sampai tidak tahu preference sexual-nya yang sebenarnya ternyata memang mencintai sesama jenis. Berbagi suami pun begitu, just a slice of life. Dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak melihat kasus poligami.

Sebelum penjelasan tadi sepertinya keempat film Anda beda sekali dari segi period. Arisan mengambil periode zaman sekarang, Ca Bau Kan zaman dulu, Janji Joni lucu, Berbagi Suami, walaupun saya belum lihat itu, adalah masalah. Katanya, itu kebetulan diangkat karena wakil presiden saat itu menganut poligami. Jadi ada relevansi sosialnya. Apakah Anda di masing-masing issue itu mempunyai sikap, misalkan pro-poligami, atau ada sikap sendiri?

Tentu saja. Kalau sebagai personality memang manusia ada sikapnya terhadap issue itu. Tapi sebenarnya saya berusaha agar film saya tidak menjadi film propaganda. Kalau menjadi film propaganda takut penonton tidak bisa menikmatinya. Bagaimana pun juga film is entertainment dan art juga.

Itu juga karena Anda bukan Michael Moore.

Ya bukan, kalau seperti itu lebih baik saya membuat dokumenter sekalian karena termasuk cita-cita saya juga untuk membuat dokumenter yang benar-benar bisa hard-hitting. Tapi kalau all fiction dan narrative, kita harus lebih objektif dan kalau bisa harus mengambil suatu genre tertentu dimana kita harus setia sama genre tersebut. Jadi kalau Ca Bau Kan adalah etnik, saya setia sama gender etniknya. Kalau Arisan adalah urban comedy maka saya setia sama urban comedy-nya. Kalau Janji Joni lebih seperti adventure dan juga urban. Kalau Berbagi Suami adalah lebih ke black dan ada satirnya tapi lebih dark, maka saya setia terhadap itu.. Jadi kalau saya membuat film maka sebisa mungkin saya setia. Saya memang jarang sekali men-touch isu-isu yang melodrama.

Saya mau bicara Ca Bau Kan sedikit karena film itu sangat berkesan bagi saya dan disitu juga Nia mendapatkan The Best Promising Directorís Award dalam festival di Seoul. Saya melihat di dalam film itu banyak orang yang saya tidak duga bisa memainkan peran-peran period dari segi aksen, perilaku, dandanan, dan juga mereka pun jadi bermutu. Padahal kalau dilihat dalam habitat masing-masing banyak yang public figure personality kelihatannya tidak begitu dalam, tapi di film itu bisa keluar acting abilitynya. Bagaimana Anda memilih pemain untuk film tersebut?

Saya melakukan casting audisinya sangat panjang dengan disuruh datang berkali-kali walaupun mereka sudah nama-nama besar seperti Ferry Salim ataupun Lola Amalia untuk bisa terpilih main dalam film Ca Bau Kan.

Mengenai Lola Amalia, Apakah dia memang sudah mempunyai nama besar sebelum film itu?

Sebelum film itu mungkin memang belum, tapi Ferry sudah main sinetron. Bayarannya sepertinya sudah wow dan sudah berada di level tertentu, tapi itu semua di televisi (TV). Ferry sepertinya ingin mencari sesuatu yang lain. Beberapa aktor yang ada sekarang tidak cukup puas walaupun kerjanya sudah menghasilkan certain amount of comfort, Mereka ingin sesuatu yang lebih. Itu seperti ada needs dari masing-masing aktor. Ferry sepertinya sedang stagnant dalam hidupnya. Kendati demikian harus melewati casting yang cukup banyak dan setelah itu mengobrolnya juga banyak sampai saya yakin sekali bahwa dia pasti mau.

Kalau saya melihat film-film Hollywood, orang kalau diberi peran apalagi perannya dianggap lebih tinggi dari kemampuannya maka scriptnya dibawa pulang, dibaca, briefing. Apakah Nia begitu juga?

Ya, kita reading rehearsal-nya 3 bulan. Saat membahas karakter tokoh Tan Peng Liang, Ferry dan saya banyak berdiskusi dengan Remy Silado. Jadi prosesnya tidak sekadar terima script hari ini lalu shooting minggu depan. Tapi benar-benar menerima scriptnya tiga bulan sebelumnya dan kita bahas seperti apa yang enak dan tidak enak. Saya juga mendengarkan feedback dari mereka agar pengucapannya menjadi lebih enak, termasuk bagaimana gaya dan blockingnya pun dipikirkan.

Apakah ada orang tenar yang di reject dalam proses itu?

Banyak

Jadi bukan asal terkenal, lalu datang, dan pasti dikasih peran.

Itu kayaknya susah. Kalau memang kebetulan yang lolos ternyata nama besar, itu itís a bonus for me.

Orang yang semula saya lihat sebagai selebriti bisa menjadi serious actor. Apa yang bisa menggali itu, ataukah orang itu memang sebetulnya bermutu hanya saja tidak ada kesempatan? Hanung Bramantyo pernah mengatakan susah mencari aktor laki-laki sedangkan mencari aktor perempuan lebih gampang, Apakah itu betul atau tidak kalau menurut Nia?

Menurut saya, itu tidak 100% benar. Lebih gampang mencari aktor perempuan karena mungkin hanya untuk pointing to a woman yang benar-benar outstanding in a room saja. Kalau ke mall, dengan kita melihat kanan kiri sudah dapat. Dari 100 pengunjung mall mungkin ada 80 yang cantik. Maksudnya, itu sangat-sangat gampang karena perempuan itu lebih outstanding, apalagi sekarang fashion mereka sudah sangat conscious sekali. Tapi kalau laki-laki mungkin kita ke mall agak jarang yang outstanding. Sebenarnya kita harus melihat tidak hanya dari fisik karena kalau untuk acting dan casting saya tidak terlalu melihat ke fisik saja. Jadi kalau mau pinpoint untuk woman actress lebih gampang, tapi ketika di-casting dalamnya kosong juga banyak. Mungkin saat castingnya yang datang lebih banyak, tapi mencari yang berisi juga susah.

Ada satu adegan di Ca Bau Kan yang saya sangat single out dan saya ingin tanya itu disengaja atau tidak yaitu sewaktu opening scene adalah Tan Peng Liang yang masuk, sangat dramatis sekali, dan kehadiran dia sangat tepat, cool, misterius, dan sebagainya. Apakah memang dengan kesadaran atau memang Ferry-nya jago?

Saya setiap membuat adegan ada treatmentnya sendiri yang merupakan proses. Kita menulis script, kemudian saat scriptnya sudah jadi lalu saya memakai topi sebagai penulis skenario. Tapi ketika script-nya sudah jadi dan sudah menjadi sutradara maka mengganti topi langsung memakai topi sutradara. Begitu memakai topi sutradara, script yang semula sudah kita tulis itu bisa kita obrak-abrik lagi karena di situ kita mulai melihatnya secara visual treatment, seperti bagaimana lightingnya dan warna, kostumnya. Jadi sampai sedetail itu treatment-nya. Novelnya terus terang sangat memberikan inspirasi buat saya. Jadi saat adegan Tan Peng Liang yang pertama kali muncul, di situ juga saya benar-benar inspired sekali by the book. Saya sudah membuat treatmentnya khusus treatment visual. Jadi misalnya dia benar-benar harus dengan jas putih kemudian yang lain warna-warni.

Apakah itu seperti The Great Gatsby?

Ya, kalau kata orang-orang di kantor saya sangat detail karena saya jika ada satu art yang saya tidak suka saja, saya bisa diam shooting. Diam dulu, berhenti dulu, saya tidak suka yang itu dan ini harus diganti.

Pada beberapa suasana di Ca Bau Kan, saya merasa ada suasana Gone With the Wind. Apakah itu mungkin karena si Tan Peng Liang seperti Rhett Butler atau mungkin itu karena epik?

Itu film favorit saya sejak kecil.

Ok, jadi beberapa suasana film itu memang masuk ke Ca Bau Kan

Ya, itu memang film favorit saya sejak kecil dan sewaktu kita bincang-bincang sama Ferry mengenai siapa kira-kira siapa reproduce dia? Katanya, "Coba deh loe lihat Rhett Butler, lihat juga The Great Gatsby."

Apakah membuat Ca Bau Kan lebih susah dibandingkan Arisan mengingat Arisan tidak ada masalah kostum period dan sebagainya?

Ya memang, hanya saja setiap film itu I treat my films like my children, seperti baby. Jadi tidak ada anak mas. Saya sudah punya anak dua, jadi saya lihat si abang dan si adik semuanya punya keunikan dan punya kekurangannya. Sama seperti Ca Bau Kan, saya tahu dimana kelemahannya karena adapting a script is not easy. Ternyata pekerjaan tersulit dari penulis skenario adalah karena bukunya sudah ada.

Tapi rata-rata orang suka kecewa.

Ya, betul. I wish I should have done this I should have done that. Kalau Ca Bau Kan pasti begitu, tapi semua proses yang ada di Ca Bau Kan itu benar-benar menambah kekayaan diri saya. Kalau saya tidak membuat film itu, saya mungkin tidak akan pernah keliling Indonesia sampai pelosok-pelosok Medan, Lasem sampai ke ujung-ujung daerah untuk research dan merasa bangga menjadi orang Indonesia. Itu bukan karena Ca Bau Kan nya, tapi karena yang kita lihat ketika kita sedang research. Hanya mungkin I didnít pay a lot of attention ke scriptnya waktu itu. Jadi saya sudah mengandalkan bukunya dan saya menganggap adaptasinya gampang ternyata susah sekali.

Kalau di Arisan saya mungkin tidak sampai keliling-keliling, tapi exploring kejujuran sebenarnya dari diri saya sendiri untuk mengupas kehidupan sebenarnya, kehidupan teman-teman saya juga, kehidupan saya juga. Itu benar-benar menjadi proses yang cukup panjang. Kalau Ca Bau Kan mungkin dari eksternal, saya mendapatkan sesuatu untuk internal saya. Tapi kalau Arisan, dari internal mau saya keluarkan. Jadi saya berani atau tidak mengeluarkan itu dengan semua segala macamnya. Itu hampir sama dengan Berbagi Suami.

Apakah Anda sebenarnya mempunyai interest khusus dalam kehidupan orang gay?

Sangat karena sebenarnya a lot of my closest friends itu sebenarnya gay

Sorry saya belokkan sedikit, karena tadi Nia bicara menyadur buku itu susah, thatís one field which you did not menyadur, menulis sendiri Berbagi Suami?

Arisan juga tidak

Arisan barangkali waktu itu tidak saya perhatikan, tapi mengapa dalam film Berbagi Suami sampai menulis sendiri, tidak menunggu atau mencari buku mengenai poligami yang sebetulnya banyak?

There are so many things in me yang sebenarnya dari dulu saya sudah ingin menulis skenario tentang itu karena saya sudah familiar dengan topik itu dari yang saya lihat sejak remaja terus di lingkungan saya sendiri. Tapi apa yang saya lihat itu kayaknya tabu, orang-orang tidak pernah membicarakan kecuali saya melihat a lot of women in my family cry because of the husband. Saya suka memperhatikan dan suka menguping, kalo orang Belanda dulu suka mengatakan, "kleine kopjes grote oren". Semua oom saya, kakek, atau nini-nini saya suka mengatakan seperti itu karena saya tukang menguping. Tapi memory itu tertanam di dalam visual saya karena mungkin saya orangnya visual. Ketika saya sudah mulai besar saya mempunyai lingkungan sendiri di luar keluarga saya. Saya melihat ternyata itu kok tidak tabu dan ada orang yang senang-senang saja.

saya penasaran mengenai poligami, apakah memang itu ada hal-hal yang bisa membuat itu diterima oleh Nia?

Kalau saya tetap anti

Apakah kalau yang tabu itu diskusinya?

Iya diskusinya. Misalnya, ketika saya mulai mempunyai kantor sendiri tiba-tiba ada supir saya memperkenalkan istrinya dan kemudian minggu depan saat sedang shooting supir saya memperkanlkan lagi istrinya yang mukanya beda. Dengan bangganya supir saya juga cerita ke semua orang kantor mengenai poligaminya. Dengan begitu saya menilai bahwa bagi supir saya itu bukan sesuatu yang diumpet-umpetin and then I see another perspective of the subject. Akhirnya dari situ saya melihat kelakuan orang itu bermacam-macam. Baru kemudian saya terpanggil untuk melakukan research dan sambil research saya mulai memasukkan adegan-adegan yang saya tulis, saya susun treatment, atau sinopsis yang lama-lama jadi skenario. Jadi semua itu based on what I see.

Apa kira-kira proyek ke depan?

Saya lagi mau research tentang women trafficking, as in prostitution. Seperti wanita dari Taiwan dibawa ke Indonesia atau yang dari Indonesia dibawa ke Hong Kong atau ke Jepang. Ini karena ada teman baik saya yang juga pemain di Berbagi Suami yaitu Nungki Kusumastuti menceritakan pengalaman pribadinya ketika pulang dari Hong Kong. Kejadian itu membuat saya langsung sadar bahwa itu tidak benar kalau seperti itu. Jadi baru mau research tapi saya tidak tahu dari perspective atau angle mana yang saya mau ambil, tapi yang penting research dulu untuk memperkaya wawasan terhadap topik itu dulu.

Kecuali Janji Joni, apakah Anda tidak pernah membuat film yang feel-good movie?

Arisan itu feel-good movie

Apakah Anda tidak ingin membuat film musikal?

Saya ingin sekali dan itu juga cita-cita saya untuk membuat film musikal karena I love musicals tapi memang tidak gampang, musical itu susah. Yah, nanti lah. Dokumenter juga saya mau buat. Jadi banyak maunya.

Apa film yang sedang Anda senang tonton?

Saya menonton film apa saja kecuali film horor yang menakutkan sekali

Tapi tidak anti-film Hollywood?

Tidak, I love Hollywood movies karena I grew up with Hollywood movies karena kebetulan orang tua juga suka nonton. Zaman dulu tahun 1970 - 80an pasti filmnya Hollywood.

Selain Gone with the Wind, Apa saja film favorit Anda?

Film favorit selain Gone with the Wind yang sampai sekarang saya masih suka adalah film sewaktu saya sekolah yaitu Raise the Red Lantern, filmnya Jang Ji Mao sutradara RRC.

Apakah itu termasuk film offbeat, film seni?

Iya, story tellingnya sangat bagus. Raise the Red Lantern itu yang pertama kali itís about poligami. Pertama kali saya nonton film yang benar-benar di luar Hollywood. Ketika sedang sekolah di Amerika, film itu baru keluar dan saya langsung menjerit gila, "Siapa nih sutradaranya?" langsung saya mencari film-film dia yang sebelum itu. Film Raise the Red Lantern itu kayaknya filmnya Jang Ji Mao yang ketiga atau keempat. Satu lagi film favorit saya mungkin kalau yang lebih ke sini adalah Lost in Translation

Itu film favorit saya. Tapi Bill Murray memainkan seperti itu di Broken Flower.

Saya sudah melihat Broken Flowers juga. Broken Flowers mungkin untuk orang-orang seumur om atau orang tua saya, sangat bisa related karena they have been through so much in life, terus mau cari apa lagi. Tapi kalau Lost in Translation antara jeda usia yang seperti itu kemudian dengan platonic relations maka semua tidak bisa terekspresi.

Apakah Itu platonic atau tidak sebenarnya?

Menurut saya, itu sebenarnya tidak tapi they tried to make it as platonic