Dewi Lestari
Tidak Suka Menulis Fiksi
Edisi 530 | 08 Mei 2006 | Cetak Artikel Ini
Ada juga novelis yang tidak suka menulis fiksi. Novel dengan latar belakang sains bisa dibilang tergolong sangat langka. Diantaranya ada Supernova, karya Dewi Lestari atau yang biasa dipanggil Dee. Karya-karyanya yang menurut kebanyakan orang relatif berat dengan menggunakan istilah-istilah sains ternyata mampu terjual sampai 200 ribu copy. Novel yang pertama terjual sekitar 100 ribu, yang kedua 60 ribu dan ketiga sekitar 40 ribu. Diakuinya novel yang pertama mendapat ekspose media yang sangat besar sehingga berdampak juga pada penjualan. Karya-karya Dee bisa dibilang tidak mudah dimengerti dan harus dibaca lebih dari satu kali dan kalau ceritanya panjang tidak bisa hanya sekali baca. Kenapa bisa terjual sampai 100 ribu ? Dee menyatakan bahwa dirinya juga tidak mengerti. ketika dirinya bertemu dengan pembaca bukunya bilang "Mba Dewi saya ngak ngerti bukunya, tapi saya suka". How do you interpret that? Wimar Witoelar akan berbincang-bincang dengan Dewi Lestari seorang penulis, penyanyi dan overall impressive woman.
Mungkin membaca buku Dee seperti mendengar musik Jazz, saya suka padahal tidak mengerti. Apakah betul begitu?
Mungkin dan banyak juga yang bilang bahwa buku saya harus dibaca dua atau tiga kali baru bisa mengerti. Jadi menurut saya mungkin karena rasa penasaran karena buku ini menyebar dari mulut ke mulut. Kedua, sebetulnya topik yang diangkat di Supernova bisa related ke banyak orang karena ada spiritualitas. Menurut saya spiritualitas adalah muara terakhir seorang manusia. Orang akhirnya akan berkumpul disana sekalipun saat ini kita mungkin lebih tertarik pada minat-minat duniawi.
Kalau saya lihat Dee jalan di luar, di jalan Fatmawati atau ditempat lain Dee itu sangat duniawi. Are you as profound in real life as you are in your book ?
I think I’am. Namun, sesuatu itu baru bisa terasa bila digali, ketika sudah diajak ngobrol baru ketahuan. Tapi saya memang bukan orang yang tertarik pada simbol-simbol supervisial. Tidak berarti orang yang berminat pada spiritualitas harus memakai Jubah, tapi tidak harus juga orang punya penampilan yang prototipe atau yang tipikal. Kita bisa tampil seperti apa saja. Saya suka sekali kalimat Al Pacino di film Devil’s Advocate. Di situ Al Pacino bilang bahwa "we have to come as a surprise" kita harus datang dengan sebuah kejutan. Justru kalau kita tampil terlalu tipikal akhirnya orang bisa dengan cepat mengkotak-kotakan kita. Kalau seperti inikan tidak ketahuan.
Kalau lihat Dee lewat seperti any young women you see everyday, professional, motivated, cerah dan tidak perlu memikirkan yang dalam-dalam. Tapi novelnya sangat dalam. Bahkan karyanya yang terakhir Filosopi Kopi ternyata lumayan berat. Not that I don’t like berat. Sama seperti saya suka musik klasik tapi tidak setiap saat. Anda sendiri kalau baca memang harus yang berat-berat ?
Terus terang Mas Wimar, saya ini penulis dan juga seorang pembaca yang memang mencari misi dan pengetahuan. Bacaan saya hampir semuanya non-fiksi, jadi saya membaca itu bukan karena ingin dihibur. Kebanyakan orang membaca fiksi karena ingin mencari hiburan tapi kalau saya ingin mencari pengetahuan. Misalnya saya sedang ingin tahu tentang global warming, saya bisa berbulan-bulan membaca buku tentang global warming setelah itu saya pindah ke topik lain. Jadi saya itu pembaca non-fiksi.
Berarti Dee itu orang yang sangat serius. Ada 2 jalur buat orang serius sebetulnya, jadi spiritual person dalam bentuk yang formal entah itu agama atau philosophy atau masuk jalur akademik jadi S-3/S-4. Bagaimana respon Dee terhadap komentar itu ?
Wah, pertama saya ada masalah dengan namanya institusi dan saya benci sekali dengan rutinitas dari zaman saya sekolah. Saya mungkin satu-satunya anak sekolah yang memegang rekor telat 3 tahun. Jadi saya susah bangun pagi dan saya tidak terlalu tertarik pada jalur akademis yang institusional. Saya lebih senang baca buku, saya bisa start and stop any time I want dan menurut saya biaya sekolah itu mahal, lebih baik di konversikan jadi buku-buku dan menurut saya jadinya jauh lebih murah.
Jawab secara spontan saat ini Dee sedang baca buku apa ?
Saya lagi baca buku Fingerprints of the Gods dan The Coming Global Super Storm.
Apa itu buku Fingerprints of The Gods ?
Wah buku ini top banget Mas Wimar. Jadi buku ini mengguncang jagad arkeologi dunia karena ternyata dia menemukan jejak-jejak peradaban manusia yang betul-betul tidak sesuai dengan sejarah konvensional yang kita tahu. Jadi premis sederhananya adalah sudah pernah ada peradaban manusia yang bahkan lebih canggih daripada kita sekarang tapi mereka hilang hampir punah karena ada satu bencana besar yang sepertinya adalah banjir besarnya nabi Nuh.
Dee tidak membaca Harry Potter, Sophie Kinsela, majalah-majalah gosip atau fashion ?
Sekali-kali baca, karena saya kemarin juga lagi mencari buku The Beauty Bible. Memang mungkin minat saya luas dan memang ketika saya ingin mengetahui tentang satu topik, saya ingin mengetahuinya secara mendalam.
Apa memang ada penderitaan dalam hidup sampai jadi serius seperti ini ?
Tidak Mas Wimar, justru I celebrate life. Saya orang yang punya rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap hidup karena saya pengagum hidup. Untuk itu saya ingin tahu banyak dan ingin menggali sedalam-dalamnya.
Terus kalau menyanyi dan menciptakan lagu, in which you also have a very strong presence, apakah itu sejalan dengan kreativitas yang serius atau itu menjadi suatu penyeimbang jadi lebih ringan ?
Bisa jadi seperti itu penyeimbang. Jadi Kalau sudah jenuh di keyboard komputer saya pindah ke keyboard piano.
Dan dua-duanya fasih ya ?
Dibilang jago tidak, tapi setidaknya cukuplah untuk bisa menciptakan lagu. Saya juga main piano klasik .
Jadi pernah kursus belajar piano ?
Dulu pernah sampai grade 4.
Kalau dalam hal membaca, lebih suka baca buku atau dari internet. Tentu dua-duanya tapi berapa perbandingannya ?
Saya lebih suka buku, karena buku lebih portable bisa dibawa kemana-mana dan saya sedang dalam fase dimana saya sering diganggu oleh anak saya. Jadi ketika anak saya melihat saya hanya diam didepan komputer pasti saya diganggu oleh anak saya.
Berarti kalau saya perhatikan Dee punya daya konsentrasi yang tinggi. Menulis Supernova berapa lama konsentrasinya ?
Yang pertama 9 bulan termasuk riset. Yang kedua lebih lama satu setengah tahun dan yang ketiga 6 bulan lebih singkat karena risetnya sedikit. Memang berat Mas Wimar, kalau saya ibaratkan seorang penulis novel itu seperti pelari marathon, kalau penulis cerpen itu seperti sprinter. Tidak berarti kemudian yang marathon lebih jago, tapi memang itu seperti satu stamina bawaan menurut saya. Saya susah sekali menulis cerpen, saya suka iri melihat orang-orang bisa buat cerpen karena saya tipe orang yang senang panjang, saya susah sekali kalau menulis cerita pendek.
Waktu masih kecil sudah aktif menulis untuk sekolah atau majalah sekolah ?
Iya sudah dan memang tidak pernah terlalu terekspose karena waktu kecil saya lebih mengarah ke musik. Kalau musik saya terbawa oleh lingkungan dimana keluarga saya pencinta musik. Jadi yang namanya nyanyi vocal group atau panduan suara secara natural berjalan begitu saja dalam hidup saya. Sementara kalau menulis saya butuh usaha karena tidak ada orang yang acknowledge hal itu dalam diri saya. Waktu kecil saya hanya menulis untuk diri sendiri, tidak pernah saya kirim ke majalah karena saya selalu tidak patuh pada aturan.
Satu saat manuskrip itu bisa mahal sekali ?
Mudah-mudahan,
Musik ada acknowledge sedangkan menulis itu untuk kepuasan sendiri. Dengan sukses sebagai penulis dan sukses sebagai penyanyi, Anda merasa sebagai penulis atau seorang penyanyi ?
Kalau dari perspektif saya, tentu kedua-duanya. Itu memang sudah merupakan satu paket yang inherent dalam diri seorang Dewi Lestari. Tapi ketika dibalikan ke masyarakat terus terang memang karena produktifitas saya pun secara realistis lebih banyak dibuku, akhirnya orang sekarang lebih melihat saya sebagai seorang penulis.
Pernah kita berbincang-bincang waktu terakhir ketemu bahwa produktifitas Anda di bidang menyanyi tidak terlalu tinggi hanya sekitar 5 lagu dalam setahun. How can you explain that? Apakah lebih membutuhkan inspirasi dalam menulis lagu atau mungkin standardnya tinggi sehingga lagunya Dee seserius buku-bukunya ?
Kalau musik tidak dilihat dari kadar serius atau tidak. Tapi kalau saya menulis lagu memang lebih seperti petapa yang menunggu wangsit. Jadi saya harus menunggu disambar petir inspirasi dan menurut saya lebih susah menulis lagu karena di satu sisi ada aspek melodi lalu aspek lirik. Dan dalam lagu you have to say everything right in just five minutes tapi kalau didalam buku kita bisa balik kembali dan kalau tidak puas bisa kita ganti lalu kemudian kita juga punya lapangan bermain sampai beratus-ratus halaman. Jadi kebebasannya jauh lebih liar di buku sementara di lagu ada hal-hal tertentu yang harus saya ikuti.
Tapi Dewi tidak punya blog atau menulis di blog ?
Akan menulis di blog.
Memang akan ada satu unsur yang akan sangat disambut hangat oleh masyarakat yaitu interaksi dengan Anda. Sekarang orang yang bisa berinteraksi adalah orang beruntung seperti saya ini bisa bertemu dengan Dee. Pernah dipikirkan tidak menulis di blog dengan menulis di buku, ada perbedaan prinsipnya ?
Kalau menurut saya tidak, karena pada akhirnya ketika saya menulis untuk sebuah majalah itu sama beratnya dengan saya menulis sebuah buku. Makanya saya pilih-pilih sekali dengan tawaran untuk menjadi kolumnis tetap. Hal itu juga menjadi sebuah beban karena saya penulis yang lama. Jadi saya satu hari itu baru menghasilkan 2 halaman.
Kenapa? Apakah Anda punya standard of excellent yang tinggi atau memang tidak keluar ?
Barang kali karena standard itu. Saya ingin setiap kata dalam paragraph itu memiliki makna. Sebagai contoh, saya bisa berpikir sampai 5 menit untuk memilih antara kata "jika" dan "bila" .
Untuk menulis buku itu awalnya bagaimana? Membuat corat-coret tulisan dulu dikertas atau langsung di komputer ?
Tentu saja setiap penulis berbeda-beda. Kalau saya corat-coretnya langsung dikepala kemudian pindah ke komputer dan saya akan ingat didalam otak saya.
Jadi banyak ngelamun kalau dijalan ya ?
Makanya saya menggunakan supir. Saya bisa nyetir tapi saya tidak suka karena saya merasa rugi kehilangan waktu saya ngelamun.
Sambil ngelamun tidak langsung menulis di PDA atau di laptop ?
Biasanya saya ingat saja, karena saya percaya setiap ide itu juga berlaku yang namanya prinsip survival of the fittest. Jadi kalau misalkan ide itu bagus dan kuat dia akan ada terus menempel di otak saya.
Apakah Anda dalam satu proyek buku itu akan eksklusif atau bisa menulis sekaligus ?
Eksklusif dan itu susahnya, jadi saya susah juga bekerja dengan proyek pararel karena saya lebih suka misalnya fokus ke Supernova Partikel karena untuk Partikel ini bukan hanya menulisnya saja tapi referensi yang saya baca saat itu harus punya rujukan ke sana. Karena kalau sudah dijalani itu so much to do and so little time, akhirnya saya kalau punya waktu lebih akan saya gunakan untuk memilih buku-buku yang ada hubungannya dengan apa yang saya kerjakan supaya saya mendapatkan bahan lebih banyak lagi.
Sekarang Dee sedang menulis apa ?
Sekarang saya sedang menulis Supernova yang Partikel, tapi saya juga punya satu proyek kalau misalnya bisa pararel ini menjadi sukses besar setidaknya bagi diri saya pribadi. Saya sedang membuat double proyek buku dan musik. Jadi ini sebuah cermin dimana lagu-lagunya sudah ada yang merupakan kumpulan lagu yang pernah saya ciptakan tapi belum di release lalu saya buat cerminannya dalam sebuah cerita untuk setiap lagu tersebut.




