Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Jose Rizal Manua

Teater tidak tergantung dukungan

Edisi 526 | 09 Apr 2006 | Cetak Artikel Ini

Pesan dari Faisol Riza, pemandu PB. Kalau Anda peminat karya sastra dan selalu mencari karya-karya sastra di masa lampau, tentu tidak gampang mencari buku itu di toko-toko buku yang ada sekarang. Anda harus mengetahui tempat yang menyediakan buku-buku semacam itu karena Anda bisa leluasa mencarinya dan barangkali menemukan apa yang Anda cari. Kalau Anda pernah ke Taman Ismail Marzuki (TIM), ada satu toko buku yang menyediakan banyak karya sastra atau informasi-informasi lain, buku-buku masa lalu, buku politik, buku filsafat, dan sebagainya yang tidak akan Anda temukan di toko-toko buku lainnya. Kali ini tamu dari Perspektif Baru adalah pemilik toko buku tapi Anda jangan kaget bahwa dia seorang penyair, pemain teater, penulis puisi, juga beberapa kali ikut dalam proses pembuatan film. Tamu kita adalah Jose Rizal Manua, seorang penyair dan pemain teater  yang selalu berada di TIM.
Menurut Jose Rizal Manua, sampai kini teater di Indonesia tidak mendapat perhatian yang memadai padahal memiliki prestasi yang begitu baik. Di mana-mana di luar negeri pertunjukkannya selalu mendapat pujian dan selalu mengagumkan negara-negara tempat pementasan.
Kendati demikian dia melihat pada masa depan, posisi teater Indonesia akan semakin kokoh. Kini mulai tumbuh kelompok-kelompok teater. Mereka bertolak dari yang ada, jadi tidak tergantung pada sponsor, tidak tergantung pada materi. Mereka melakukan eksplorasi sangat maksimal. Jadi kalau mereka tidak punya dana, mereka pakai hitam-hitam saja. Mereka main memakai celana pendek saja. Jadi ada upaya-upaya dengan kesadaran bahwa teater modern Indonesia berada di tengah kemisikinan. Jadi tidak boleh menyerah di tengah kemiskinan itu, dia harus tetap mengatasi semua itu melalui pertunjukan–pertunjukan yang minimalis, ekperimental.
Berikut wawancara dengan Jose Rizal Manua

Bung Jose, kami dengar Anda sedang mempersiapkan suatu pementasan teater anak yang kalau tidak salah pada pertengahan tahun ini akan dipentaskan di Jerman. Apakah Anda bisa menceritakan sedikit tentang persiapan itu?

Kami sudah melakukan persiapan sejak awal tahun ini. Kami berlatih empat kali dalam seminggu. Pertunjukkan ini untuk mengikuti festival teater anak-anak sedunia di Lingen, Jerman. Festival ini sudah berlangsung untuk kesembilan kalinya setiap empat tahun sekali. Jadi sudah 36 tahun tetapi Indonesia baru kali ini ikut. Dari Asia terpilih tiga negara yaitu Indonesia, India, dan Jepang. Ini merupakan suatu penghargaan yang baik untuk kita.

Tapi teater di Indonesia sendiri seperti di Jakarta bukan semakin surut tetapi belum juga maju seperti di negara-negara lain. Ini mungkin karena saya hanya menyaksikan monolog Butet atau karya-karya lama yang dipentaskan lagi. Sebenarnya ada apa dengan teater di Indonesia?

Sampai sekarang teater modern di Indonesia belum mempunyai infrastruktur. Jadi setiap grup teater harus merebut infrastruktur itu. Misalnya, teater koma melakukannya dengan mendekati penonton kemudian meminta alamat penonton dan memberi informasi kepada penonton-penontonnya yang lama dan kepada calon penontonnya yang baru. Jadi upaya-upaya seperti itu yang baru bisa dilakukan. Disamping itu pertunjukan-pertunjukan teater di Indonesia itu umumnya, misal Teater Koma atau Bengkel Teater Rendra atau Teater Mandiri Putu Wijaya, paling top hanya bisa bertahan pentas sekitar satu minggu sampai satu bulan. Ini tidak bisa menutup cost . Mereka harus latihan setiap hari selama empat sampai enam bulan sebelum pementasan. Jadi memang belum bisa menghidupi teater di Indonesia. Karena itu kita melihat grup teater timbul tenggelam.

Ini menunjukkan satu kelompok teater harus menyiapkan diri sendiri, harus mencari dana untuk promosi, kemudian mencari tempat sampai mereka harus menjaga penonton. Jadi satu teater harus bekerja untuk semua hal. Apakah institusi-institusi kebudayaan atau keseniaan yang ada di sini tidak berfungsi sehingga tidak bisa diharapkan membantu teater-teater ini?

Saya belum melihat bantuan-bantuan dari lembaga-lembaga yang ada. Foundation-foundation juga belum menampung teater-teater yang ingin mengekspresikan diri. Paling satu-dua teater yang bisa dibantu oleh foundation-foundation itu. Begitu juga sponsor belum tertarik pada teater. Kalau toh tertarik, mereka baru tertarik kepada satu-dua teater. Sementara teater Indonesia, paling tidak teaternya Putu Wijaya kemarin juara dunia di Kairo pada festival teater eksperimental sedunia. Jadi teater Putu merupakan teater terbaik di dunia sekarang ini. Nah ini tidak banyak orang tahu.

Apakah tidak diperhatikan juga?

Ya, tidak mendapat perhatian yang memadai dengan prestasi yang begitu baik. Di mana-mana di luar negeri pertunjukkannya selalu mendapat pujian dan selalu mengagumkan negara-negara tempat pementasan.

Padahal dalam bidang olahraga, Indonesia sangat memperhatikan bulu tangkis. Alangkah baiknya teater diperhatikan sebagaimana pemerintah memperhatikan bulu tangkis. Apakah ada kabar lain mengenai teater selain di Jakarta tadi?

Iya, misalnya tahun 2005, teater garasi dari Jogja diundang ke festival dunia di Jerman dan mendapat sambutan baik di sana. Jadi ini menunjukkan teater Indonesia sebenarnya mendapat tempat di kancah dunia. Tetapi sayangnya belum mendapat perhatian di dalam negeri baik dari lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta atau lembaga yang mempunyai dana yang bisa membantu dana teater. Misalnya, pada Agustus 2004 kami diundang ke festival teater anak-anak se-Asia Pasifik di Toyama, Jepang. Ketika panitia datang ke Indonesia, dia mencari salah satu grup karena panitia ingin ada salah satu grup teater Indonesia yang bisa ikut ke festival itu. Setelah melaui seleksi, akhirnya grup kami terpilih. Teater Tanah Air terpilih untuk ikut dan di sana kami bisa meraih The Best Performance dan membawa pulang 10 medali emas. Kemudian berbarengan dengan itu datang rombongan bulu tangkis Indonesia dari Yunani dengan satu medali emas, padahal yang berangkat begitu banyak sedangkan yang menang cuma satu. Tetapi untuk bulu tangkis mendapat sambutan presiden, gubernur, mendapat hadiah rumah, uang miliaran, dan diliput besar-besaran. Padahal dalam sejarahnya, bulutangkis kita selalu menang semua. Sekarang cuma satu yang menang dieluk-elukan begitu meriah. Sementara anak-anak yang membawa harum nama bangsa melalui budaya tidak mendapat perhatian. Kita ingin bertemu gubernur saja harus menunggu dua tahun.

Itu kondisi yang memprihatinkan, tapi Anda seorang pemain teater dan juga seorang yang bekerja untuk kesenian secara lebih luas. Kalau seorang menteri menjadi mantan menteri, pemain film menjadi mantan pemain film. Tapi hampir tidak ada mantan pemain teater atau mantan penyair karena hidupnya menunjukkan totalitas. Optimisme semacam apa yang masih Anda pegang sehingga yakin bahwa dunia teater, dunia kesenian akan terus hidup di Indonesia?

Kita harus mengupayakannya terus-menerus. Saya kira pemerintah juga sebaiknya harus berkaca kepada negara-negara tetangga, misalnya Malaysia. Kita melihat Malaysia begitu maju karena pembangunan mereka tidak hanya fisik dan ekonomi tetapi juga batin, jiwa bangsa yang berwujud seni budaya itu didukung secara maksimal. Misalnya, mereka memberikan anugerah berupa Sasterawan Negara kepada seniman-seniman yang mempunyai prestasi istimewa. Sasterawan-Sasterawan Negara ini menjadi panutan bagi masyarakat, dia mengisi jiwa masyarakat. Saya pernah diundang oleh seorang Sasterawan Negara dari Malaysia. Saya diundang selama hampir sebulan dengan disuruh jalan-jalan di Malaysia dan dibebaskan biaya, pokoknya sesuka saya. Saya dikasih penginapan hotel, uang saku, dan semua biaya itu dari bunga tabungannya. Jadi bisa dibayangkan, saya diundang berdasarkan bunga tabungannya untuk jalan-jalan sesuka saya. Nah, pada waktu saya di sana ada bom di Bandar Udara (Bandara). Saya sedang bersama sasterawan tersebut yang bernama A. Samad Said. Tiba-tiba sasterawan tersebut mendapat telepon dan ternyata perdana menteri yang menelpon karena ingin berdiskusi tentang peristiwa bom tersebut. Ini menunjukkan perhatian luar biasa pemerintah bahwa pikiran-pikiran budayawan, pikiran-pikiran seniman itu diperlukan untuk mengatasi persoalan-persoalan bangsa.

Tetapi ada satu dunia lain yang barangkali Anda bisa cerita bahwa di sisi lain kondisinya begini. Misalnya, dalam beberapa bulan terakhir saya menyaksikan karya-karya sastera yang diterbitkan cukup banyak. Mungkin tidak satupun dari karya-karya sastera tersebut yang mendapat dukungan pemerintah. Ini menarik karena di tengah situasi seperti Mas Jose ceritakan tadi masih muncul terus-menerus upaya-upaya dari masyarakat, dari seniman, untuk mengekspresikan sikap dan cara mereka berkesenian. Nah kalo dilihat dari respon masyarakat, apa pendapat Mas Jose terhadap ini?

Bagi saya, itu Surprise karena karya sastra begitu banyak ditulis dan kualitasnya luar biasa. Disamping itu juga animo masyarakat. Mereka mulai banyak membaca. Ya sebetulnya ini harus dilakukan beberapa puluh tahun yang lalu dan pemerintah harus mendukungnya dengan misalnya buku murah. Sebetulnya minat masyarakat cukup tinggi tetapi daya belinya yang menjadi persoalan. Ini merupakan suatu ironi. Saya pernah waktu kecil ditanya oleh orang dewasa yaitu apa yang membedakan manusia dengan hewan? Saya tidak bisa menjawab. Dia menjawab bahwa buku yang membedakannya. Kalau manusia tidak membaca artinya dia mempunyai inisiatif menjadi hewan. Jadi masyarakat seharusnya diberi buku sebanyak-banyaknya, kemudian dijual dengan harga murah supaya terjangkau.

Jadi itulah yang menyebabkan kita dipandang oleh beberapa negara atau beberapa pengamat bahwa masih ada bagian kecil di Indonesia yang berperilaku seperti hewan, biadab. Ada kabar bahwa Anda juga terlibat dalam proses pembuatan film. Ini menarik karena orang film mempercayakan proses pembuatan film dengan salah satunya mendatangkan pemain-pemain teater untuk membantu mereka. Tetapi di lain pihak sebenarnya film berdiri berhadap-hadapan dengan produksi teater. Film meningkat teater menurun, minat masyarakat menjadi terpecah. Kolaborasi semacam apa yang sebenarnya terjadi?

Saya melihat kalau sinetron dibuat sangat memperhitungkan industri jadi kurang mempersiapkan aktor-aktornya. Pada film tidak, dibuat lebih serius. Aktor-aktornya dipersiapkan untuk memasuki karakter-karakter sesuai sebuah skenario. Untuk memasuki karakter-karakter itu, ada beberapa perusahaan film meminta saya untuk memberikan pelatihan-pelatihan supaya pemain bisa masuk ke dalam watak-watak yang diinginkan oleh skenario, seperti film Brownies, serial televisi Fairis, dan Jomblo yang sedang beredar. Saya yang memberikan pelatihan kepada para pemainnya untuk masuk ke dalam watak masing-masing. Kemudian yang terbaru adalah Lentera Merah yang sekarang sedang syuting.

Apakah ini semacam trend?

Kalau di luar negeri, sebetulnya ini merupakan hal yang biasa, bahkan sebelum syuting mereka melakukan workshop yang panjang sehingga ketika di lapangan paling tidak seorang aktor tidak menghafal naskah. Jangan sampai di lapangan orang masih sibuk menghafal kemudian tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Jadi sebenarnya proses pembuatan film, bagian utama dari itu adalah keterlibatan dari seorang pemain dalam membentuk karakter dan itu adalah teater.

Ada juga beberapa film yang lain, ada film baru yang akan diproduksi cuma izinnya belum keluar. Judulnya Karmapala tentang bom Bali. Saya juga diminta untuk menjadi pelatih pemain-pemainnya.

Apakah itu semacam konsultan?

Tidak,hanya memberikan latihan. Mendekatkan aktor ke karakter supaya masuk ke karakter.

Kalau Anda perhatikan ke depan, sejauh mana kolaborasi ini bisa berkembang karena saya belum melihat satu film dengan content teater atau betul-betul mendekati sekali karakter dari kesenian teater?

Begini, akting di dalam film berbeda dengan akting di teater. Saya tidak menggunakan akting di teater untuk melatih mereka. Saya bertolak dari skenario untuk kebutuhan film yang sangat alami, sangat realistis, dan di sana dituntut untuk itu. Kalau di teater lebih stylish karena jarak antara penonton kadang-kadang sangat jauh dibanding dengan pandangan kamera. Kamera bisa close-up bisa segala macam jadi dituntut kewajaran.

Jadi kalau teater membutuhkan tenaga lebih ekstra, sementara film tidak. Bagaimana pandangan Anda ke depan mengenai kolaborasi ini?

Untuk ke depan, saya kira pelatihan-pelatihan seperti ini akan makin banyak karena saya melihat mulai banyak perusahaan-perusahaan film yang memerlukan itu. Ternyata banyak manfaatnya sehingga pemain bisa lebih dalam menghayati tokoh-tokoh yang harus dia ekpresikan atau mainkan.

Ini jadi sekaligus juga harapan bahwa di kemudian hari atau beberapa tahun ke depan film-film Indonesia juga akan sangat kuat dari segi pewatakan atau karakter pemain. Jadi diharapkan juga bisa berbicara di tingkat internasional dan bukan hanya teater Anda.

Ya, mudah-mudahan.

Apakah Anda berminat menjadi sutradara film sehingga bisa membuat film yang barangkali jauh lebih bagus?

Insya Allah.

Saat ini berbagai macam peristiwa terjadi seperti di politik, ekonomi, kemudian longsor diekspresikan juga melalui berbagai macam cara, antara lain dibangun solidaritas diantara kelompok-kelompok masyarakat. Tercatat ada perasaan pesimis di kemudian hari selain optimisme yang terus disebarluaskan pemerintah. Bagaimana dunia teater, dunia kesenian secara keseluruhan memandang tahun 2006 atau tahun 2007? Bagaimana dunia teater dan dunia kesenian akan berkembang dengan kondisi yang terus menerus terjadi? Apa harapan Anda?

Kalau saya melihat ke depan, posisi teater Indonesia akan semakin kokoh. Sekarang ini sebetulnya banyak tumbuh grup-grup bagus seperti di Padang, Palu, Makasar, Bandung, dan Jember. Di kota-kota kecil sekarang juga tumbuh grup-grup teater. Mereka bertolak dari yang ada, jadi tidak tergantung pada sponsor, tidak tergantung pada materi. Mereka melakukan eksplorasi sangat maksimal. Jadi kalau mereka tidak punya dana, mereka pakai hitam-hitam saja. Mereka main memakai celana pendek saja dan tidak memakai baju, misalnya. Jadi ada upaya-upaya dengan kesadaran bahwa teater modern Indonesia berada di tengah kemisikinan. Jadi tidak boleh menyerah di tengah kemiskinan itu, dia harus tetap mengatasi semua itu melalui pertunjukan–pertunjukan yang minimalis, ekperimental. Selain itu banyak sekali funding-funding mulai tertarik untuk membantu teater Indonesia, misalnya tahun 2007 saya sudah mendapatkan dari Korea. Undangan dari manca negara juga semakin banyak, dan mudah-mudahan mereka bisa memfasilitasi, tidak hanya akomodasi tetapi juga transportasi.