Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Purnamadyawati

Fisioterapi Untuk Semua

Edisi 520 | 23 Feb 2006 | Cetak Artikel Ini

Jika kita merasa pegal, maka pilihannya adalah menunggu rasa pegal itu hilang atau melakukan sesuatu untuk menghilangkannya. Itu seperti kalau kita sakit, bisa diam-diam saja atau berusaha menyembuhkannya. Kita akan berbicara mengenai hal-hal semacam itu dengan Purnamadyawati.  Pengelola Perspektif Baru bersemangat menampilkan Purnamadyawati karena ingin orang lebih tahu mengenai apa yang dilakukan Ibu Purnamadyawati. Ia adalah seorang ahli fisioterapi, terlatih, sekolah secara profesional, dan bekerja di pusat fisioterapi suatu rumah sakit dimana saya kebetulan dirawat. Kalau saya tidak dirawat barangkali sudah tidak bisa jalan sekarang.

Menurut Purnamadyawati, pada dasarnya fisioterapi itu untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak serta fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, maupun dengan peralatan seperti electrotherapy dan mekanis. Di Indonesia, fisioterapi belum memasyarakat. Masyarakat berasumsi bahwa kalau fisioterapi pasti berhubungan dengan medis. Pasti kerjanya di rumah sakit. Padahal belum tentu. Fisioterapi itu bisa saja ada di pusat kebugaran dan sekarang memang sudah ada. Kendati demikian untuk dapat menjadi fisioterapis harus lulus pendidikan fisioterapi, mempunyai kewenangan, dan legalisasi atau punya izin praktek.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Purnamadyawati yang menjadi sekretaris umum pengurus Ikatan Fisioterapi Indonesia periode 2002-2004 dan sampai saat ini masih menjabat sebagai pimpinan redaksi Majalah Fisioterapi.

Dalam bahasa awam, apakah pelatihan fungsional dalam fisioterapi itu seperti exercise?

Tidak. Pelatihan fungsional itu tujuannya seperti sekarang ini, misalnya Pak Wimar dapat memegang microphone atau ketika seseorang dapat memegang cangkir untuk minum. Jika fungsional itu tidak bagus berarti memiliki keterbatasan, seperti tidak bisa menggenggam. Orang seperti inilah yang mengalami gangguan fungsi.

Apakah mengatasi gangguan itu memang bidang fisioterapi atau kerjasama dengan bidang kedokteran lain?

Tergantung. Jika menyangkut hubungan sistem integritas tubuh yang berhubungan dengan keterbatasan fungsi, kita dapat berinteraksi dengan tenaga kesehatan lain yaitu dokter spesialis, seperti dokter bedah atau dokter ahli syaraf. Itu yang menyangkut fungsi dan gerak. Fungsi dan gerak pasti berhubungan dengan fisioterapi karena manusia pada dasarnya membutuhkan gerak aktual, gerak potensial, dan gerak fungsional.

Apa itu gerak aktual, gerak potensial, dan gerak fungsional?

Kalau ada orang yang sedang mengalami gangguan, dia tidak bisa secara aktual mengangkat secara normal, padahal seharusnya bisa. Ini berarti dia mengalami gangguan dan keterbatasan (limitasi), padahal dia seharusnya mempunyai potensial gerak yang normal. Kita harus mempotensialkannya dari yang semula terbatas itu. Melalui pemeriksaan, kita pulihkan kembali secara maksimal potensial geraknya.

Masalah kesehatan ini memang lucu karena saya banyak mengamati dan mengalaminya. Ada orang yang merasa tidak perlu diperbaiki tapi ada orang yang barangkali sampai tidak tahu harus kemana. Kita susah mencari terapi atau jalan keluar yang pas dari suatu masalah. Jadi saya mau tanya kepada Ibu Purnamadyawati secara kasus. Misalnya, ada orang, tidak masalah berapa pun usianya, sekonyong-konyong merasa makin lama pinggangnya makin sakit. Dia susah berdiri, kalau tidur kadang-kadang sakit sehingga jalannya jadi terpengaruh. Orang yang mengalami itu ada yang istirahat, pergi ke dukun, atau ke tukang pijat. Menurut Anda, ke mana seharusnya orang itu berkonsultasi?

Orang Indonesia melihat konsep sehat dan sakit itu berbeda karena paradigma dalam melihat sehat dan sakit itu berbeda. Mungkin pendidikan masyarakat kita belum seragam dalam memandang keadaan sehat dan sakit. Mereka kadang-kadang berasumsi macam-macam. Misalnya, sakit pinggang asumsinya bisa ke ginjal, bisa ke obat dan penyembuhan alternatif, atau mungkin "dikerjain" orang. Ada tiga hal yang mungkin bisa dilihat oleh masyarakat dalam sistem pengobatan, yaitu traditional medicine, medical medicine, dan religius medicine. Kadang-kadang medical medicine merupakan alternatif terakhir bagi masyarakat kita. Biasanya mereke lari dulu ke pengobatan tradisional.

Kalau masyarakat yang agak menengah terkadang memiliki tingkat kemampuan berbeda dalam melihat sehat-sakit. Mereka akan bisa menganalisa. Misalnya, Pak Wimar orang yang suka menggunakan internet, maka bisa mengetahui sakitnya dengan melihat keluhan yang ada kemudian mencarinya di website. Tapi kalau masyarakat bawah, mereka tidak tahu. Kadang-kadang mereka berasumsi, "Oh ini cuma keseleo biasa." Akhirnya mereka diurut, malah menimbulkan sakit yang lebih parah. Itu sangat sering terjadi.

Kalau orang terkena encok, pegal, terus diurut, apakah itu tindakan yang benar?

Tergantung. Kalau saya berpendapat, itu seharusnya tidak diurut. Dia seharusnya bed rest¸ jika mengalami injury pertama.

Jadi urut itu bukan satu-satunya solusi atau bukan solusi pertama?

Sebenarnya bukan solusi pertama. Tergantung seberapa jauh aktualitas nyerinya. Kalau sifatnya hanya pegal, istirahat saja. Pegal bisa terjadi karena ototnya terlalu lelah, kerja ototnya terlalu statik, atau mobilitasnya kurang.

Apakah fisioterapi ini suatu bidang kesehatan seperti kedokteran, dimana orang bisa datang langsung atau itu merupakan rujukan dari disiplin perawatan kesehatan yang lain?

Dalam fisioterapi ada dua asumsi yang bisa diberikan yaitu bisa melalui rujukan dan bisa juga tidak. Kalau langsung sifatnya promotif dan preventif. Tetapi kalau rujukan sifatnya kuratif dan rehabilitatif. Kalau promotif itu tujuannya jelas yaitu untuk mempromosikan dan preventif itu tujuannya mencegah supaya sakitnya tidak makin berkembang. Dalam terapi yang sifatnya preventif ini kita memberikan terapi kepada seseorang yang memiliki potensi mengalami gangguan gerak dan fungsi akibat pola gerak yang salah, akibat faktor kesehatan tertentu, atau gaya hidup. Fisioterapi jenis ini bisa saja dilakukan tanpa perlu ada rujukan. Karena itu fisioterapi tidak hanya berorientasi kepada rumah sakit. Cakupan pelayanan fisioterapi yang sifatnya preventif dan promotif bisa saja didapat di pusat kebugaran atau spa.

Jika orang datang langsung ke pusat kebugaran atau spa, apakah itu ada kegunaannya atau hanya membuang waktu saja? Ini bukan bermaksud untuk mejelekkan spa karena fungsi rekreasinya jelas ada kalau kita pergi ke sana, tetapi apakah secara terapi ada kegunaannya?

Ada. Kalau di spa itu memang ada layanan fisioterapinya. Di Indonesia, fisioterapi belum terlalu memasyarakat. Masyarakat berasumsi bahwa kalau fisioterapi pasti berhubungan dengan medis. Pasti kerjanya di rumah sakit. Padahal belum tentu. Fisioterapi itu bisa saja ada di pusat kebugaran dan sekarang sudah ada.

Apakah fisioterapi itu diawasi atau tidak?

Jelas. Karena bagaimanapun fisioterapis adalah seorang yang lulus pendidikan fisioterapi, mempunyai kewenangan, dan legalisasi. Dia harus punya izin praktek atau license.

Jadi Anda mempunyai license?

Oh ada. Kita memiliki tanggung jawab secara moral dan etika berdasarkan keilmuan kita sebagai fisioterapis. Memang ada beberapa kasus yang menjadikan kebingungan kepada masyarakat. Beberapa TV pernah mengekspos bahwa "X" itu fisioterapi tapi ternyata bukan. Sampai kita juga mengklarifikasi karena dia harus punya ijin.

Jadi itu gadungan?

Ya, mengaku fisioterapi. Jadi bisa aja orang massage mengaku melakukan fisioterapi padahal belum tentu. Kadang memang seorang fisioterapis harus punya ijin praktek seperti dokter.

Pertanyaan dari orang awam seperti saya dan ini berdasarkan pengalaman sendiri. Saya beberapa kali fisioterapi sehingga mengenal Ibu Purnamadyawati. Pertama, kalau Anda ingat, leher saya sakit tidak bisa bergerak. Orang bilang salah tidur, disuruh pijat, tapi tidak hilang-hilang. Akhirnya saya pergi ke tempat Anda dan dalam beberapa minggu sembuh sampai sekarang. Saya terima kasih sekali. Saya heran karena orang mengatakan, "Ya sudah usia lanjut, terima aja". Sedih mendengarnya. Kedua, saya sakit pinggang sampai susah bangun. Bahkan setelah dirawat, tidak hilang, tapi terkontrol dan tidak menjadi masalah utama. Sekarang saya sedang dirawat karena jalan saya menjadi agak lucu akibat kakinya lemah. Tiga kasus ini, apakah itu merupakan kasus yang typical? Bagaimana biasanya kasus-kasus pasien-pasien fisioterapi Anda, apakah seperti kasus saya atau ada yang sangat beda?

Banyak kasusnya. Tidak hanya seperti yang dirasakan oleh Pak Wimar. Kita memiliki pasien dari Balita dan anak-anak. Sebenarnya gangguan fungsi dan gerak itu tidak selamanya berhubungan otot sendi, tapi juga bisa berhubungan dengan masalah pernapasan. Misalnya orang sakit asma, yang sesak, banyak penumpukan slime, gangguan yang sifatnya sudah melumpuhkan, yang tadinya tidak bisa apa-apa, kita harapkan dapat kembali normal.Kemudian kasus-kasus yang berhubungan dengan infertility (ketidaksuburan), genekolog.

Apa hubungan infertility dengan fisioterapi?

Karena daur kehidupan manusia. Pengertian fisioterapi itu tidak hanya menangani fungsi dan gerak tapi juga daur kehidupan. Pelayanan fisioterapi daur kehidupan dalam arti membantu orang yang mengalami hambatan karena belum mempunyai anak. Fisioterapi tidak hanya membatasi diri untuk memulihkan gerak, fungsi tubuh tetapi secara hidup kita dari masa janin sampai ajalnya melalui sistem kehidupan. Dalam bernafaspun kita memerlukan sistem. Apabila sistem itu terganggu maka tubuh kita juga akan terganggu. Karena itu jika bayi baru lahir ditepuk-tepuk agar nangis supaya respon oksigen dan paru-parunya mengembang dengan baik. Kalau dia bermasalah seperti banyak slime, maka dia perlu disedot atau dipanasi. Kalau yang berhubungan dengan infertility atau kasus wanita yang belum punya anak karena mengalami penyumbatan biasanya bersifat rujukan dari dokter ahli kebidanan.

Secara lebih luas, orang kalau tidak diajarkan apa pun, disuruh hidup secara wajar saja, apakah dia akan sakit atau sehat?

Tergantung pola dan gaya hidupnya karena sakit itu timbul dari pola dan gaya hidup sehari-harinya.

Bisa lebih spesifik, Apa itu gaya hidup?

Misalnya, dia biasa olahraga atau tidak. Mestinya olahraga tapi tidak olahraga. Olahraga itu penting bagi saya. Lalu pola makan dan kebiasaan bekerja.

Bagaimana dengan tidur?

Tidur yang cukup.

Apakah harus pada jam tertentu? Soalnya, saya suka susah tidur di malam hari tapi siang hari tidur. Apakah itu tidak apa-apa?

Tidak apa-apa. Itu habit. Yang perlu diperhatikan juga adalah kebiasaan berlama-lama di depan komputer, padahal harusnya dapat dilakukan aktifitas peregangan setelah beberapa lama (stretching).

Apakah kebiasaan berlama-lama di depan komputer itu kebiasaan yang jelek?

Tidak jelek tapi kalau dalam kondisi yang terus menerus, tubuh akan mengalami kelelahan.

Jadi perlu sekali-sekali stretching. Bagaimana jika stretching-nya dengan mengomel?

Mengomel juga boleh Pak sekali-sekali untuk mengurangi stress. Itu perlu daripada menahan diri.

Di Rumah Sakit, Apakah Anda sering menghadapi orang yang penyakitnya sudah sangat parah seperti sehabis dioperasi yang didatangkan memakai brankar atau kursi roda? Orang yang sudah sakit begitu kok masih bisa ditarik-tarik, bagaimana caranya?

Dalam hal ini perlu juga memperhatikan pelayanan dalam melaksanakan fisioterapi. Tidak hanya alat, peningkatan berat saja, atau melatih fungsional atau manual, tapi perlu juga komunikasi, pendekatan dan personal approach. Mungkin saja kita menemukan orang yang agak psikosomatis dengan sakitnya karena rasa nyeri dia merupakan pengalaman sebelumnya. Kadang-kadang kita perlu sering berkomunikasi dengan mereka. Karena itu kita perlu mengenal karakter setiap pasien.

Saat pendidikan berarti Anda juga mempelajari tentang psikologi orang?

Jelas. Jadi kadang-kadang kita belajar mengalihkan positive mind untuk rasa nyeri supaya dia berani lagi.

Berarti saya juga suka dialihkan?

Ha.. ha.. ha.. yang kita alihkan adalah yang semula penakut. Fisioterapi itu memang agak kompleks karena menghadapi berbagai karakter dan individu yang berbeda.

Apakah fisioterapi ini ada bahayanya karena saya melihat alat-alatnya menakutkan. Ada besi, ada yang digantung-gantung, ada listrik, ada orang menarik-narik tulang kita. Apakah pernah ada kecelakaan dalam klinik fisioterapi?

Mungkin ada beberapa. Tapi Alhamdulillah di tempat saya tidak. Proses fisioterapi itu terdiri dari assessment atau pemeriksaan kemudian dilanjutkan dengan diagnosa fisioterapi. Bagaimanapun juga kita tetap harus melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Jika kita menemukan indikasi tidak boleh dilakukan fisioterapi terhadap seorang calon pasien, kita berhak menolak karena dapat membahayakan pasien. Kadang-kadang ini menjadi masalah juga diantara klinis. Kadang-kadang kita tetap menolak kalau memang itu membahayakan si pasien karena fisioterapi memiliki karakteristik seperti obat, ada yang tidak boleh ada yang kontra indikasi. Begitu juga peralatan fisioterapi. Tetapi orientasi fisioterapi banyak modelnya yang tidak hanya dengan alat, tapi bisa dengan latihan atau dengan manual. Hal itu tergantung dari problematik yang kita temukan.

Apakah ada fisioterapi yang bisa dilakukan sendiri atau yang bisa dilakukan di rumah?

Ya, terutama untuk fisioterapi sifatnya preventif. Jadi sifatnya untuk meminimalkan keterbatasan fungsi dan gerak. Kita mengharapkan kerjasama itu dari pasien. Bagaimanapun juga itu penting. Contohnya, Pak Wimar tidak pernah latihan lagi untuk pinggangnya, itu kita bisa controlling. Dari apa? Kita bisa lihat dari keluhan yang ada atau kekuatan ototnya.

Saya ini barangkali contoh yang jelek karena baru mengenal fisioterapi pada saat sudah punya penyakit. Mungkin setiap orang menginginkan justru jangan dihinggapi penyakit. Nah, Ibu Purnama ini selain ahli fisoterapi juga aktivis sosial dan aktif di Palang Merah Remaja, di lembaga perwakilan mahasiswa, dan lain-lain. Anda pasti punya kepedulian terhadap mahasiswa, misalnya sosialisasi. Kalau Anda punya waktu lima menit di depan teman-teman saya sekantor, apa advise Anda?

Stretching, karena saya lihat pola hidupnya AC. Olah raga. Tetap kontrol.

Apa olah raga yang praktis?

Di ruangan ini juga bisa dilakukan exercise yang sifatnya stretching, peregangan. Mereka harus banyak melakukan itu karena saya lihat banyak yang muda-muda dan kebanyakan kerja-kerjanya statik saya lihat. Jadi harus agak dinamis sedikit.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...