Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Fira Basuki

Menganyam Cerita Dalam Realita

Edisi 513 | 09 Jan 2006 | Cetak Artikel Ini

Halo pengunjung Perspektif Baru Online, Wimar Witoelar senang sekali bertemu dengan Anda. Seperti kata Larry King, I love this job. Sebab, melalui pekerjaan ini kita bertemu dengan beragam orang. Bukan hanya orang yang menyenangkan Anda sebagai pembaca, tapi menyenangkan saya juga sehingga wawancara yang sekarang ini menjadi hal sangat spesial.
Tamu kita bergantian dan tamu hari ini kami pilih untuk membuka hati dan mencerahkan perhatian kita kepada hal-hal yang paling penting di dunia yaitu kisah manusia itu sendiri. Kalau Anda senang membaca, saya anjurkan membaca novel karena novel bisa dibaca sambil tiduran, naik kereta api, atau naik pesawat.
Saya pribadi belum lama menikmati novel terutama novel Indonesia yang orang sebut masuk aliran sastra wangi. Saya tidak tahu mengapa karena saya bukan ahli sastra. Tapi yang jelas jenis tulisan ini sangat menyenangkan. Karena itu kita akan berbicara dengan penulis novel Fira Basuki.
Dalam wawancara ini Fira memberikan tip bagi masyarakat dalam menulis. Menurut dia, dalam menulis tidak usah dipikirkan hal macam-macam. Kalau mau menulis yah menulis saja, tidak usah berpikir apakah akan diterbitkan atau tidak, laku atau tidak. Fira pribadi mengalami banyak naskah yang ditolak. Selain itu, jangan meniru gaya penulisan orang lain yang sudah ada. Jadi temukan gaya penulisan sendiri.
Fira menilai saat ini penulis Indonesia belum mendapat apresiasi seperti di luar negeri. Kendati demikian dia menyatakan menulis bisa menghasilkan uang untuk hidup.


 

Terus terang saja saya bukan pembaca novel yang rajin kecuali dulu sewaktu masih anak-anak mungkin, karena lebih romantis dan lebih banyak waktu. Tapi belakangan ini karena satu dan lain hal, saya jadi suka membaca novel yang ditulis oleh orang-orang yang kebetulan saya kenal. Saya juga membaca novel Anda berjudul ‘Rojak’ dan mulai sejak itu ada obsesi ingin melihat novel itu menjadi film. Itu agar lebih hidup dan juga sedikit bisa menyimak karena novel tersebut bercerita dengan latar belakang kebudayaan seorang Indonesia di Singapura. Apa yang melandasi Fira untuk menulis novel ‘Rojak’ itu?  

Karena saya lama tinggal di Singapura, selama enam tahun. Sewaktu di Singapura, saya mengalami banyak hal. Misalnya, penyakit SARS yang merebak di Singapura, kasus pembantu rumah tangga Indonesia dipukuli, dan segala macamnya. Media massa di sana banyak yang berpihak pada satu pihak. Jadi mereka tidak bertanya ke banyak pihak. Saya yang berada dalam posisi netral melihat semua itu ada sebabnya. Mungkin si majikan menilai dirinya betul, sebaliknya pembantu menilai dirinya betul. Jadi saya berusaha menceritakan Singapura sebagai sosok orang yang netral supaya pembaca juga tahu. Saya tidak mau memihak pemerintah Singapura, tidak memihak Indonesia, dalam soal  sehari-hari juga yang remeh-temeh.

 

Remeh-temeh yang sehari-hari sebetulnya paling menarik. Makin besar peristiwanya sebetulnya makin tidak menarik secara pribadi. Tapi kalau soal remeh-temeh, kita bisa terkait di situ. Sebetulnya Fira tidak perlu juga menulis terlalu banyak background seperti sosiologi Singapura, sejarah Jawa, dan sebagainya. Itu memang membuat novel ini menjadi sangat kaya. Tapi apakah Anda perlu usaha yang besar untuk menggali riset mengenai  latar belakang itu?

Oh, saya senang itu karena seperti balajar juga. Saya dari dulu senang baca buku-buku budaya. Saya bangga menjadi orang Indonesia tapi saya juga ingin tahu budaya orang lain.  Misalnya, di Singapura banyak peranakan. Lalu bagaimana  kalau menjadi orang peranakan dan apa bedanya dengan orang Cina asli atau yang lain-lainnya. Mengapa  orang peranakan mengaggap mereka bukan Cina dan Malay. Mereka bangga sebagai peranakan. Kemudian saya cari tahu sampai menghubungi Asosiasi Peranakan. Saya sampai datang ke salah satu rumah pengurusnya. Bagi saya, itu proses belajar. Saya senang itu dan sepertinya tenggelam dalam suatu keasyikan. Dan saya pikir daripada orang-orang capai mencari info tentang peranakan di perpustakaan, paling tidak saya memberikan sesuatu di novel. Jadi orang baca santai tapi dapat sesuatu.

 

Yang jelas saya dapat sesuatu dan pembaca saya anjurkan juga membacanya. Saya bukan promosi buku karena bisa saja tidak usah membelinya tapi dengan cara meminjam buku itu.  Dalam Anda menulis novel itu, apakah riset dilakukan sebelum atau sambil menulis? Apakah plotnya dulu atau ceritanya dulu, atau Anda memikirkan untuk menulis sesuatu tentang Singapura? Bagaimana prosesnya secara kronologi?

Mungkin orang banyak yang tidak percaya, saya terkadang mendalami sesuatu karena suka dan belum tentu jadi novel. Jadi sewaktu saya tertarik pada  orang peranakan itu belum terpikirkan untuk membuat sebuah novel sama seperti saya tertarik juga budaya-budaya lainnya. Saya tertarik sama budaya Mesir dan Rusia. Saya tergila-gila sampai melakukan riset hingga sekarang tapi belum tahu itu akan menjadi novel atau tidak. Waktu itu saya sedang makan rojak (bahasa Indonesianya rujak) di Singapura. Di sana ada rmacam-macam rujak seperti model Melayu dan India. Waktu itu saya makan rujak model India dan teman saya orang Singapora China menyeletuk bahwa rujak ini seperti orang Singapura yang beragam. Kemudian dia mengatakan mengapa kamu tidak membuat novel Rojak saja karena lucu juga kalau judulnya Rojak kemudian tentang Singapura terus ceritanya macam-macam. Jadi saya harus berterima kasih sama teman saya. Saat itu saya cuma ketawa saja tidak kepikiran. Tapi setelah sudah agak lama saya baru tahu kok banyak sekali bahan terkumpul, dan sewaktu saya makan rujak lagi terus terpikir bahwa ini bisa menjadi novel.

 

Dari segi plotnya yang biografikal, apakah ada hubungannya dengan pengalaman Fira pribadi atau kawan?

Semua novel-novel saya memang seakan-akan terjadi. Memang tidak saya pungkiri ada yang secuil kejadian dari saya pribadi, teman-teman saya, ada yang saya tangkap dari sekeliling, ada juga dari imajinasi dan mimpi. Semua itu dalam proses kreatif  tercampur. Dan yang tahu mana pengalaman saya dan teman saya, itu hanya saya. Jadi nikmati saja novelnya.

 

Ok, so much for ‘Rojak’. Sebetulnya dalam wawancara sangat singkat ini kita ingin tahu bagaimana menulisnya? Setiap orang mungkin bertanya,  bagaimana memulai untuk pertama kali menulis?

Menulis itu tidak usah dipikirkan. Banyak penulis pemula bertanya kepada saya, bagaimana kalau novel saya tidak laku? Bagaimana nanti kalau tidak diterima? Sebelum menulis sudah banyak pikiran bagaimananya. Jadi bisa stres. Kalau mau menulis yah menulis saja tidak usaha berpikir seperti apakah laku atau tidak. Dan jangan meniru gaya penulisan orang lain yang sudah ada seperti Ayu Utami, Dewi Lestari, atau Fira Basuki. Jadi temukan gaya penulisan sendiri, be your self.

 

Menurut saya sebagai orang awam, dan tentu saja ini dengan hormat kepada penulis lain, gaya Fira Basuki berbeda. Penulis lain sangat ekspresif. Sedangkan Anda lebih tenang, lebih bisa dicerna oleh umum, dan bahkan menghibur. Novel Anda sudah menjadi pembicaraan untuk dibuat film. Mengapa bisa begitu sedangkan Anda juga ekspresif? Apakah secara sadar Anda memilih untuk memperlebar basis novel?

Iya, sebenarnya saya selalu berpikir mengapa sewaktu kecil kalau membaca novel selalu menginginkan novel itu tidak hanya menghibur tapi mendapatkan sesuatu. Jadi sebagai seorang penulis, saya ingin berbuat yang sama untuk buku-buku yang telah memberi manfaat pada saya. Saya tidak ingin membuat dahi orang berkerut terus pusing, malah stress ketika membacanya, atau malah tidak mengerti sama sekali apa yang dibacanya sehingga harus sampai berulang kali. Jadi saya ingin novel ini dibaca saja, kalau tidak mendapatkan sesuatu, paling tidak menghibur.

 

Tadi Fira mengatakan kalau menulis jangan takut tidak diterbitkan atau  jangan takut gagal. Dalam pengalaman Fira pribadi, apakah banyak tulisan Fira yang tidak jadi diselesaikan, tidak jadi diterbitkan?

Banyak sekali sampai sekarang pun seperti itu. Jadi walaupun saya sudah ada 12 buku, tapi sampai sekarang pun kadang-kadang cerpen dan novel saya ada yang ditolak.

 

Saya belum membaca novel Fira Basuki yang lain, baru saya scan, maksudnya membaca secara cepat. Apakah ‘Rojak’ itu representatif terhadap novel-novel lain?

Tidak. Berbeda-beda karakternya. Saya punya novel trilogi berjudul “Jendela-Jendela, Pintu, Atap”. Kalau dibaca satu saja, misalkan Jendela-Jendela, orang suka bertanya apa sih novel ini. Tapi kalau sudah baca tiga-tiganya mereka ada yang puas. Kemudian ada yang mengatakan,”Aduh buat lagi dong.” Jadi trilogi itu memang satu kesatuan.

 

Apa sudah ada novel yang menjadi film?

Belum ada tapi sudah ada yang dibeli. Itu mungkin karena kendala biaya. Novel-novel saya sangat rich in culture and location.

 

Apa maksudnya dibeli?

Dibeli haknya seperti novel “Jendela-Jendela” sudah dibeli sebuah PH (Production House – red). Mereka mungkin sedang bingung bagaimana menerjemahkannya dalam sebuah film.

 

Apakah itu dibeli putus dan nanti mereka akan mengadaptasikan sendiri ke dalam film? Apa tidak takut?

Kemarin sudah takut tapi sudah dilepas jadi saya tidak bisa apa-apa lagi. Tapi untuk yang selanjutnya saya ingin dapat royalti. Saya juga sudah belajar.

 

Bagaimana dari segi artistiknya?

Ok, saya juga pernah mengadaptasi film menjadi novel. ‘Brownies’ itu film dulu,  baru menjadi buku. Itu contoh bekerja sama dan saling menghormati sesama seniman. Ini karya seni dan saya menganggap buku adalah karya seni seperti lukisan. Jadi bagaimana bisa mengapresiasi karena medianya beda jadi jangan dibandingkan. Itu adalah dua hal yang berbeda. Jangan pernah membandingkan buku dengan film. Buku yah bukunya, film yah film. Ada orang yang suka filmnya, ada orang suka bukunya. Jadi sendiri-sendiri.

 

Lukisan ada yang dipesan dan ada yang kemauan sendiri atau iseng. Apakah buku-buku Anda juga seperti itu? Maksudnya, kalau Brownies dibuat atas permintaan yang punya film, sedangkan Rojak muncul sendiri, apakah ada perbedaan komitmen dalam penulisan?

Beda dan ada suka dukanya. Misalnya, hal yang enak kalau adaptasi sebuah film adalah saya pribadi tidak usah memikirkan plot dan segala macamnya sudah ada. Enaknya juga kalau filmnya sukses dan novelnya bisa ikut terbawa sukses juga. Tidak enaknya kalau dibanding-bandingkan. Tidak enaknya juga tidak bisa sepuas-puasnya. Misalnya saya sudah berbicara sama orang film atau yang membuat aslinya sejauhmana saya bisa mengubah. Mereka mengatakan boleh menambahkan tokoh baru tapi tokoh lama harus tetap ada dan nama-namanya tidak boleh diubah. Saya harus komitmen dan mengikuti itu sehingga ego dalam menulis harus saya tekan. Itu yang namanya saya menghormati mereka.

 

Apakah menulis novel itu termasuk time consuming?

No, kalau dipikir seperti itu bagaimana dengan makan dan minum. Itu juga time consuming tapi we have to do it. Dan menulis buat saya, I have to do it  because itu sudah bagian hidup saya.

 

Apakah benar I have to do it?

I have to do it because saya tidak bisa hidup tanpa menulis dalam arti sebenarnya dan kiasan.

 

Saya sering menulis sesuatu dalam bentuk yang disembunyikan atau disimpan di file, tapi anda menulis untuk publik. Apakah memang ada satu compulsion begitu?

Ok, banyak juga yang harus tidak ke publik. Saya mengatakan tadi dalam arti sebenarnya dan kiasan. Dalam arti sebenarnya saya hidup dari menulis. Terus terang saya bekerja sebagai wartawan itu juga menulis.

 

Anda punya pekerjaan dari pukul 9 sampai 5 sebagai Chief Editor majalah Spice. Itu jelas menimbulkan stress karena ada deadline dan segala macamnya. That’s your job, tapi kok ada waktu untuk menulis. Itu sebetulnya yang membuat saya heran.

Itu juga saya suka heran. Orang lain kalau stress tidak berhubungan dengan pekerjaannya lagi, tapi saya justru kalau sampai di rumah menulis lagi. Jadi saya juga sedang mencoba memahami diri sendiri apakah saya memang kecanduan menulis seperti tuduhan banyak orang atau memang saya tidak bisa hidup tanpa menulis. Tapi saya dari kecil memang suka menulis sehingga hidup saya, waktu saya dalam hidup lebih banyak untuk menulis.

 

Apakah bakat menulis itu terpaut atau tidak dengan pekerjaan menjadi Chief Editor dan penulis majalah?

Beda. Sebagai pemimpin redaksi, saya tidak bisa sepenuhnya merasa menjadi seniman. Dalam arti, kalau saya dari penulis novel,  dalam arti saya bukan mengecilkan seniman karena saya juga merasa seniman, tidak ada waktu mengikat. Terserah saja mau menulis pagi, siang, sore, atau malam. Kemudian kapan selesainya dan mau menulis apa saja terserah. Kalau pemimpin redaksi, saya harus bekerja dengan waktu yang tepat, saya harus disiplin, dan saya tidak harus bekerja sendiri di suatu ruangan kecil atau sendiri di tempat yang sepi, saya harus manage orang.

 

Kita belajar banyak dari Fira mengenai menulis. Lalu bagaimana kegiatan Fira di luar kedua kegiatan tadi yaitu di majalah dan sebagai novelis, apakah benar juga punya kegiatan memberitahu orang cara menulis? 

Oh iya, dan saya tidak dibayar untuk itu. For your information, saya datang ke sekolah-sekolah. Kini sudah puluhan sekolah dikunjungi yaitu  SMP, SMA, dan Universitas untuk memberi semangat mereka menulis dan membaca. Menurut penelitian di Amerika dan ini saya dapat dari mengikuti seminar atau semacam work shop di Singapura tapi tingkat dunia,  orang yang membaca dan menulis itu awet muda dan mereka tidak pikun.

 

Mengenai buku tadi, berapa jumlah buku Fira yang sudah diterbitkan?

13 termasuk diantaranya kumpulan sama beberapa penulis lain.

 

Apa proyek penulisan yang sedang digarap?

Selalu menulis. Sekarang sedang membuat novel Astra Astria terus melanjutkan serial Miss B. Ini beda dengan Rojak. Kalau Miss B yang keempat ini berjudul “Jangan Mati”. Kemudian sedang belajar menulis script film.

 

Tadi Anda mengatakan hidup dari menulis. Apakah di Indonesia menulis bisa menghasilkan uang untuk hidup?

Bisa, tapi tidak sampai bisa membeli rumah mewah.

 

Jadi kalau orang punya komitmen dalam menulis, sebetulnya bisa saja hidup dari menulis?        

Bisa cuma memang belum mendapat apresiasi seperti di luar negeri. Dan dalam forum ini saya juga sangat menyayangkan penerbit-penerbit Indonesia menerjemahkan banyak pengarang luar negeri termasuk dari Cina, Taiwan, Korea, dan negara-negara tetangga seperti Singapura. Sementara penulis-penulis lokal seperti saya sewaktu mau menerjemahkan “Jendela-Jendela” ke bahasa Inggris susah sekali untuk menerbitkannya sehingga kini sudah hampir dua tahun. Bahkan penerbit saya sendiri mengatakan tidak bisa dipasarkan.

 

Dari segi penerbit, apa betul novel-novel Indonesia sangat kurang laku?
 
Iya karena belum dicoba dan hanya segelintir seperti buku Pramudya Ananta Toer dan Ayu Utami yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Tapi pemasarannya mentok juga. Tapi kalau kita tidak mencoba ramai-ramai melakukannya bagaimana bisa mendapatkan impact.

 

Harus ada promosi. Kalau Fira sebagai seniman, apakah keberatan atau tidak mempromosikan buku secara komersial yang barangkali tidak terlalu aritistik. Misalnya, dengan launching yang ramai seperti diskusi di TV, mensindikasikan cuplikannya, dan sebagainya?

Sekarang saya sudah menerima itu. Awalnya, terus terang saya tidak terlalu suka diekspos. Tapi saya tahu, saya juga membawa kepentingan penerbit. Jadi  berarti saya egois dong kalau hanya mau menulis buku saja dan terserah mau laku atau tidak.

 

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...