Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Beoscope
Saksikan video Perspektif Baru di Beoscope

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Prof. Agus Syahrurachman

Flu Burung

Edisi 499 | 30 Sep 2005 | Cetak Artikel Ini

Kita bertemu dalam suasana prihatin menghadapi flu burung. Kita menemui ahli virologi dan mikrobiologi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Agus Syahrurrahman. Kami sampaikan hal-hal yang paling penting:

  • Menurut organisasi kesehatan sedunia (WHO) ancaman terbesar dunia saat ini adalah flu burung tersebut dibandingkan penyakit-penyakit lain.
  • Flu burung sudah sering muncul dalam berbagai bentuk. Flu Hongkong 1997 mengorbankan 1 juta orang dan 2 juta orang di tahun 1958 . Paling besar Spanish flu pada tahun 1918, dengan korban 100 juta orang dan menyebarkan penyakit pada sepertiga penduduk dunia.
  • Di Indonesia belum bisa dinyatakan mencapai tingkat pandemi tapi kita harus waspada.
  • Gejala mulai dengan demam. Suhu badan di atas 38 derajat, kemudian gejala flu seperti hidung mampet, sakit tengorokan, dan batuk. Jika betul flu burung, korban dengan cepat menderita sesak nafas (dalam waktu lima hari).
  • Virus itu harus masuk melalu jalan pernapasan, dari lendir atau kotoran burung yang terhirup oleh kita. Tidak akan masuk melalui daging ayam atau unggas yang sudah dimasak.
  • Kalau merasa gejala flu burung, kunjungi dokter yang akan memilah mana flu burung dan mana bukan. Kalau diperlukan, penderita akan dirujuk ke rumah sakit . Rujukan terakhir adalah RS Sulianti Sarosoatau RS Persahabatan.
  • Obat hanya tersedia di kedua RS diatas dalam jumlah yang sangat terbatas.
  • Vaksin untuk pencegahan belum ada di dunia saat ini.

Pak Agus, bagaimana kita mengetahui ada bahaya flu burung dan apa yang kita lakukan dalam situasi semacam ini?
 
Pertama, kita mengenal gejala flu burung dulu. Gejalanya mulai dengan demam.  Suhu badan di atas 38 derajat celcius kemudian ada semacam flu seperti hidung mampet, sakit tengorokan, dan batuk. Itu gejala paling awal dan bisa berubah dengan cepat menjadi lebih sesak.
Selanjutnya adalah yang punya resiko tinggi yaitu mereka yang punya kontak dengan unggas sakit karena virus flu burung. Virus itu dikeluarkan dari unggas melalui lendir dan kotorannya.
 
Apa yang harus dilakukan terhadap unggas yang sudah ketahun sakit flu burung?
 
Ungas yang sakit harus dibunuh dan tempat unggas dipelihara juga harus ditest infeksi.
 
Kembali mengenai gejalanya. Kalau ada orang yang mendapat gejala seperti dokter sebutkan tadi sampai kepada sesak napas, kapan orang harus mulai khawatir bahwa itu flu burung dan bukan flu biasa?
 
Ini kondisi yang sangat sukar, tidak hanya bagi orang awam tapi juga bagi para dokter untuk mengetahui tahap paling awal terkena virus flu burung karena gejalahnya sangat mirip. Yang menjadi salah satu petunjuk untuk kita curiga adalah ada kontak dengan unggas atau produk unggas yang sakit virus flu burung. Dan  barang kali perjalanan sakitnya kalau sangat cepat menjadi berat. Ini dua petunjuknya.
 
Kalau bicara soal cepat, berapa lama waktu yang dilalui dari gejala flu awal sampai kepada sesak nafas?
 
Sejak gejala awal sampai sesak nafas itu rata-rata lima hari.
 
Jadi kalau orang mempunyai gejala flu sampai dua minggu dan tidak meningkat  boleh tidak perlu terlalu khawatir?
 
Tidak perlu.
 
Kalau sudah ada gejala, apakah masih ada harapan sembuh dan apakah betul tidak ada obatnya?
 
Ada obatnya. saya kira saat ini Departemen Kesehatan sudah menyediakan walaupun memang masih terbatas hanya didistribusikan pada rumah sakit-sakit yang telah ditunjuk karena obat ini belum beredar bebas di Indonesia sampai hari ini.
 
Apakah maksudnya obat itu untuk orang yang sudah terjangkit? Dan apakah obat itu vaksin?
 
Iya, untuk orang yang sudah terjangkit dan bukan vaksin. Kalau vaksin untuk pencegahan dan di dunia saat ini belum ada vaksinnya. 
 
Saya kira itu sangat penting karena saya pernah dengar berita agar cepat-cepat  vaksinasi. Dan itu mungkin maksudnya untuk unggas?
 
Vaksin untuk flu burung yang tersedia sekarang adalah untuk ungas. Tidak boleh untuk manusia karena syarat-syarat keamanannya belum memenuhi syarat untuk manusia. Vaksin virus influenza yang sekarang beredar untuk manusia adalah untuk subtipe yang lain. Subtipe untuk virus influenza itu banyak sekali dan flu burung ini salah satu bentuk subtipenya.
 
Apakah virus flu burung sekarang beda dengan yang terjadi di Hongkong pada 1997-1998?
 
Subtipe sama H5N1. Virus ini cepat sekali berubah. Jadi kalau dikatakan sama indentik 100%  tidak tapi dalam satu subtipe yang sama.
 
Pak Agus, kalau kita merasa dalam kehidupan sehari-hari jarang ada di dekat ungas atau burung, juga tidak pernah ke pasar dan ke kebun binatang, apakah masih ada kemungkinan terjangkit penyakit itu dan melalui media apa?
 
Tadi, saya sampaikan bahwa virus flu yang menyerang unggas akan dikeluarkan oleh unggas ke lingkungan melalui lendirnya dan kotorannya. Di dalam kotoran ungas, virus itu bertahan kira-kira satu bulan dan di dalam air kira-kira hampir sama yaitu 22 hari sampai satu bulan juga. Jadi dalam hal ini tergantung pada bagaimana penanganan dari kotoran unggas itu seperti apakah masuk ke dalam air atau dijadikan pupuk dan kemudian pupuk disebarkan ke wilayah lain sementara virusnya masih bertahan selama satu bulan. Jadi tidak menutup kemungkinan melalui pupuk kandang kalau memang pupuk itu berasal dari ungas yang terinfeksi.
 
Jika burung yang sakit itu sudah membuang kotoran dan kemudian diolah menjadi pupuk, lalu apakah penyebaran dari pupuk itu harus kontak langsung atau bisa lewat lalat atau bagaimana sampai menjadi bahaya bagi  manusia?
 
Untuk bisa menimbulkan sakit maka virus itu harus masuk melalu jalan pernapasan atau terhirup. Artinya, dari lendir atau kotoran burung  itu kemudian terhirup oleh kita. Jalan lainnya adalah perilaku tidak sehat, seperti sehabis memegang pupuk tanpa sarung tangan dan barangkali secara tidak sengaja hidungnya gatal dan mencoba membersihkannya.
 
Jadi lewat hidung. Kalau bicara bahaya typhus maka kita tidak boleh memegang barang berpenyakit terus dimakan. Sedangkan untuk flu burung bukan masalah di makan tapi dihirup?
 
Iya, terhirup secara tidak sengaja. Kalau bicara pupuk tadi, pada saat mengaduk pupuk otomatis parikel-partikel yang sangat kecil itu akan berterbangan.
 
Kalau begitu untuk daerah rawan virus flu burung, apakah ada gunanya orang memakai penutup hidung atau masker?
Dalam panduan yang dikeluarkan Departemen Pertanian, para pekerja peternakan yang  unggasnya ada yang sakit maka selama bekerja diwajibkan memakai penutup hidung atau masker.
 
Siapakah orang yang paling rawan terkena flu burung, apakah benar anak kecil?
 
Pertanyaan ini sangat sukar dijawab dan sampai saat ini saya kira belum ada jawaban mengapa flu burung yang sekarang lebih banyak menyerang anak-anak. Itu sesuatu yang sedang dipelajari.
 
Berbicara mengenai penanganan, kalau kita melihat sekonyong-konyong tetangga kita 10 sampai 15 ayamnya pada mati, lalu sajauhmana kita harus melaporkan itu dan apakah itu harus menjadi kekhawatiran yang langsung?
 
Saya berbicara sebagai ilmuan saja bukan birokrat, kalau kita mengamati di wilayah kita ada sejumlah unggas yang mengalami kematian, saya kira itu sudah selayaknya dilaporkan kepada Dinas Pertanian setempat secepatnya. Ada dua manfaat dari melaporkan itu. Pertama, pelaporan cepat akan membuat Dinas Peternakan atau Pertanian  secepatnya mengakolarisir sehingga barangkali peternak yang lain tidak dirugikan dengan penyebaran penyakit itu. Kedua, seandainya itu betul flu burung maka resiko kepada manusia akan menjadi lebih kecil.
 
Tadi saya lupa untuk menyusul jawaban Bapak waktu dikatakan ada obat untuk orang yang terkena virus flu burung. Apakah bisa diperjelas sampai mana kemungkinan penyembuhanya atau barangkali jika lebih awal diketahui lebih besar peluangnya?
 
Mengenai obatnya, pertama ada yang disebut oseltamivir. Obat ini punya manfaat besar kalau diberikan dalam 48 jam pertama sejak timbulnya gejala. Kalau diberikan setelah itu manfaatnya menjadi kecil, dan makin lama makin tidak bermanfaat. Selain oseltamivir juga ada amantadine dan rimantadine. Kalau untuk flu burung di Hong Kong obat amantadine dan rimantadine ini tidak mempan tapi hasil kajian untuk flu burung di Indonesia masih mungkin untuk dipakai.
 
Bagaimana kemungkinan sembuhnya? Apakah orang yang terkena flu burung itu sudah dikhawatirkan akan meninggal atau lebih besar kemungkinanya sembuhnya?
 
Sudah tentu setiap virus akan menginfeksi seseorang dan menimbulkan tiga kategori. Pertama, tidak sakit karena memang daya tahan baik atau kekebalannya baik. Kedua sakitnya lebih ringan. Ketiga, yang lebih berat. Kami bisa mempunyai data walau masih  terbatas, pada kasus-kasus yang sampai di rumah sakit menunjukkan angka kematiaannya 50 sampai 60%. Kalau obatnya diberikan dalam 48 jam pertama ada harapan yang besar untuk sembuh.
 
Jadi 48 jam sejak timbul gejala. Tapi deteksi gejala pada orang awam belum tentu sama. Nah itu susahnya. Jadi kembali ke gejalanya dan ini paling penting. Karena itu maaf jika berulang-ulang karena ini harus jelas. Gejala awalnya memang tidak banyak beda dengan gejala flu dan kalau dalam 5 hari sesak maka flu burung. Bagaimana nasehat Pak dokter kalau orang punya gejala flu di zaman sekarang?  
 
Yang pertama sudah tentu adalah mendatangi dokter dimana pun berada karena mereka akan memilah-milah mana yang ke arah flu burung dan mana yang tidak. Seandainya diperlukan akan dirujuk ke rumah sakit dan rujukan rujukan yang terakhir adalah ke Rumah Sakit (RS) Sulianti Saroso. Itu rujukan tertinggi. Di Jakarta ada dua rujukan tertinggi yaitu  RS Sulianti Saroso dan RS Persahabatan. Sedangkan di Malaysia sudah di tunjuk 44 Rumah Sakit.
 
Maaf, ini mungkin pertanyaan yang kurang enak. Apakah pada umumnya dokter  bisa memilah antara flu burung dan bukan flu burung. Pertanyaan ini susah dijawab tapi begitulah pertanyaan orang?
 
Memang saya juga tidak bisa memastikan jawaban ini. Yang bisa saya jawab adalah Departemen Kesehatan sudah membuat buku panduan dan itu sudah disebarkan kepada rumah Sakit-rumah sakit serta pada Puskesmas.
 
Barangkali kami harus tanya ke Depkes apakah buku panduan tersebut juga disediakan untuk umum atau mungkin Pak Agus mengetahuinya?
 
Kalau untuk masyarakat umum tidak tapi buku panduan penanganan itu memang disebarkan ke rumah sakit dan Puskesmas. Masalahnya adalah apakah buku panduan itu dibaca atau tidak.
 
Iya betul dan apakah itu juga mudah diakses atau tidak. Itulah maksud acara ini. Kami membantu mempertemukan informasi dengan pihak yang membutuhkannya. Nah sekarang dalam lingkup luas karena menurut WHO mengatakan ini adalah pandemi dan ancaman kesehatan terbesar. Bagaimana urgensinya menurut Pak Agus?     
 
Sejak 2003 saya sudah sampaikan dan memang WHO sekarang sudah mengeluarkan semacam peringatan yang sangat keras bahwa sudah pasti pandemi ini akan terjadi. Ini peringatan WHO. Tapi saya sudah mengingatkan sejak 2003, sejak pertama kali ada flu burung di Indonesia.

Hanya perlu diingat, pandemi terjadi kalau virus itu sudah berubah sehingga perubahan itu memungkinkan terjadinya penularan antarmanusia.  Dan kita tahu virus flu burung cenderung cepat berubah. Kita sekarang tinggal menungu waktu apakah mampu berubah sehingga bisa menyebar diantara manusia. Saat ini belum. Justru itu tugas kita sekarang adalah mencoba melokalisir atau membasmi virus yang ada di sumbernya yaitu di ungas. Itu titik sentralnya.
 
Ini penting juga mengenai penularan antarmanusia. Jadi kalau seseorang terinfeksi flu burung karena ada kontak dengan kotoran atau lendir unggas di suatu tempat terus pulang ke rumah maka jelas dia kena flu burung. Tapi belum tentu orang serumahnya akan tertular dari orang itu?
 
Sepanjang virusnya belum berubah seperti sekarang maka tidak akan tertular. Masalahnya adalah kita tidak tahu virus itu sudah berubah atau belum. Kita tidak tahu sebelum itu dibuktikan. Jadi sudah selayaknya mereka yang sakitpun kalau di rumah sakit diissolasi. Itu untuk mencegah.
 
Apakah isolasinya itu sampai sembuh atau setelah orang itu masih perlu diisolasi?
 
Kalau sudah sembuh tidak perlu. Itu tidak perlu dikucilkan sama sekali karena tidak akan menularkan sama sekali. Untuk anak-anak biasanya akan dirawat selama 21 hari. Kalau untuk dewasa begitu sembuh maka sudah otomatis tidak menular lagi.
 
Apakah dia menjadi immune begitu ?
 
Iya menjadi kebal .
 
Ok, sekarang dari semua persepsi di masyarakat, apa yang menurut Pak Agus paling perlu diperhatikan?
 
Yang pertama adalah saya sepakat bahwa memakan daging ayam itu aman, memakan telor ayam adalah aman.
 
Boleh saya potong karena banyak sekali pertanyaan mengenai tadi. Katanya, ayam itu aman selama dimasak di suhu 80 derajat C. Tapi awam tidak tahu berapa derajat suhu saat memasak. Jadi apakah itu masakan normal atau lainnya? 
 
Izinkan saya melanjutkan dulu. Bahan yang bisa membawa bahan virus adalah kulit teloranya bukan dalam telornya karena kulitnya kita pegang.  Nah itu yang kita tanganni yang menempel pada tangan. Kedua, ada pada kotoran ayam dan itu bisa ada di bulu-bulunya. Paling riskan adalah pada saat memotong ayam dan mencabuti bulu ayam. Jadi yang paling rawan adalah saat pengolahan pertama. Itu yang harus hati-hati. Selanjutnya dagingnya. Sebetulnya di daging jumlah virusnya sudah sedikit. Kalau kita panaskan sampai air mendidih maka itu hampir 100 oC, sedangkan kalau ditutup rapat bisa 100 oC. Nah kalau kita mencelupkan tangan ke air dan tidak bisa lama-lam karena sudah kepanasan, maka itu kira-kira sudah mencapai 60 – 80 oC.  Kalau 60 oC maka virus akan mati dalam setengah jam. Kalau 80 oC hanya beberapa menit saja.
 
Kalau telor, virusnya ada di kulitnya bukan di dalamnya. Jadi tidak soal mau direbus berapa menit maka sama saja?
 
Iya, yang paling penting adalah pada saat dari pasar dan kalau kita curiga maka telor itu mungkin bisa di cuci dulu direndam dalam air sabun selama 15 menit atau dimasukan dalam air 60 oC selama setengah jam atau dalam air  80 oC hanya beberapa menit , setelah itu diangkat kemudian didinginkan kembali kemudian di simpan itu sudah jelas aman.
 
Kalau orang makan telor mentah atau setangah matang tidak relevan dengan terkena flu burung karena kulitnya yang menjadi masalah?
 
Iya, kulitnya yang menjadi masalah. Bukan di dalam telornya.
 
 

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...