Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Andre

Dari Sanggar Ke Sekolah Formal

Edisi 498 | 24 Sep 2005 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali kawan-kawan pengemar Perspektif Baru, saya Wimar Witoelar dan tamu kita sekarang orang yang unik sekali bernama Andre berusia 24. Walaupun berpenampilan sangat menyenangkan, bebas, popular, dan berseni, dia seorang guru musik ekstra kulikuler di sebuah sekolah dasar (SD) Pangudi Luhur di Jakarta Selatan. Dia bukan guru biasa karena hanya berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sekali-kali masih suka turun ke jalan untuk mengamen.

Menurut Andre, dirinya menjadi guru ekstra kulikuler bermula dari mengenal Sanggar Anak Akar (SAA) pada 1990-an dan mengikuti acaranya yaitu Campore (camping orang-orang kere). Saat akitivitas SAA meluas seperti membentuk teater, dia pun ikut belajar teater dan apa saja yang digelar SAA.

Andre mengenyam pendidikan hanya sampai SMP karena mengalami trauma terhadap sekolah formal sehingga malas meneruskannya dan lebih memilih tetap belajar di SAA. Selain itu, dia merasakan mendapatkan sesuatu yang lain di SAA yang tidak didapatkannya di sekolah. Di sanggar dia mendapatkan beragam ketrampilan seperti membuat sablon, kertas daur ulang, bermain biola, dan membuat aransemen musik. Sedangkan di sekolah dia hanya mendapatkan hafalan-hafalan saja. Andre mengatakan, manusia membutuhkan ketrampilan-ketrampilan seperti tadi dan bukan hanya hafalan-hafalan saja.

Dari mana Andre mempunyai hubungan dengan SD Pangudi Luhur?

Kebetulan salah satu orang tua murid di sana adalah sahabat Sanggar Anak Akar. Jadi kita dikenalkan dan memang banyak volunteer-volunteer (sukarelawan). Dalam arti, yang menjadi guru di sanggar itu kebanyakan guru-guru juga.

Di mana lokasi sanggarnya?

Di Kali Malang, Jakarta Timur. Nah dari situ aku diberi waktu satu minggu oleh sekolah untuk menemani murid-murid kelas dua SD membuat aransemen.

Kapan Anda mulai menamani mereka?

Itu belum lama pada pertengahan 2005. Sebelum menjadi guru ekstra kulikuler, kita melatih mereka dulu. Ya sudah, aku coba saja. Aku bersukur karena teman-teman kelas dua SD tersebut juga memang kompak dan sebenarnya anak-anak kecil ini punya bakat tapi kesempatan dan kebebasan yang kurang didapat.

Nah, akhirnya aku kasih kebebasan. Aku memakai metode memberikan mereka kebebasan untuk bermain musik. Mau main apa saja terserah dan nanti digabungkan ritmenya atau tempo yang mengatur musik. Akhirnya bisa dan kepala sekolah melihat hasil itu dalam waktu satu minggu.

Sanggar itu memiliki bermacam-macam kegitan, macam-macam bakat yang di salurkan. Apakah Andre memang khusus di bidang musik?

Kebetulan saya memang kuliah, bukan kuliah di luar tapi di sanggar, khusus musik sampai saat ini.

Tapi Andre memang suka menyanyi dalam kesehariannya?

Menyanyi juga tapi falsnya minta ampun,

Oh begitu. Jadi Andre bukan penyayi alam?

Bukan. Jadi sanggar yang memberikan ilmunya karena kebetulan dosen kita Arjuna Hutagalung. Aku banyak sekali mendapatkan sesuatu mulai dari ritme hingga membuat aransemen.

Saya mendapatkan informasi dari media bahwa Sanggar Anak Akar di bentuk pada 1994 dengan tujuh pendiri. Dan Andre mendapat kontak dengan Pangudi Luhur juga melalui orang yang dekat dengan sanggar. Lalu bagaimana kegiatan Anda di sanggar? Apakah setiap hari ada jadwalnya?

Setiap hari di sanggar ada kegiatan. Kalau dilihat dari struktur organisasi, sanggar memiliki pengurus harian. Pengurus harian itu ada tujuh orang dan salah satunya Ibe Karyanto. Selain pengurus harian ada juga yang namanya Dekan yaitu Dewan Koordinasi Anak. Beda dengan Dekan-Dekan di universitas. Dia yang mengoordinir atau membuat program untuk teman-teman usia SMP ke bawah.

Dekan menangani 200 anak jalanan dan kalau yang bukan anak jalanan apakah bisa masuk ke sanggar?

Kita sebenarnya lebih senang atau lebih enak disebut anak pinggiran. Kalau anak jalan pasti indentik dengan teman-teman yang ada di jalan. Tapi kalau anak pingiran maka orang kaya pun bisa merasa dipingirkan. Sebab, hak berbicara dan hak belajar itu bukan hak orang miskin saja. Karena itu kita lebih suka disebut anak-anak pingiran yang ada di sanggar.

Di dalam dekan itu sendiri dibagi lagi menjadi sembilan bidang seperti bidang rumah tangga, lingkungan hidup, audio visual, data dan penulisan, teater, musik, dan kesehatan.

Dari dan sampai umur berapa Andre aktif di sanggar?

Kalau aku dari usia 11 sudah mengenal sanggar, sudah mulai ikut teater. Tapi aku sempat vacuum (tidak aktif – red) juga dan mencoba bekerja di perkebunan bunga, terus juga sempat siaran-siaran di radio.

Pantesan suaranya Okay?

Kebetulan saja. Tapi ternyata yang ingin aku dapatkan bukan bekerja di bawah naungan orang dan bukan siaran. Ternyata ini loh di sanggar.

Yang menarik, Anda sekarang bekerja di SD Pangudi Luhur dan Anda mengatakan muak dengan sekolah formal. Tapi kalau saya lihat memang kepercayaaan kepada Andre di Pangudi Luhur tidak masuk dalam pendidikan formal. Lalu apa yang Anda lakukan sebagai guru di sana?

Pada setiap awal pertemuan dengan guru Pangudi Luhur atau pun Vincentius di Kramat, Jakarta, aku selalu menegaskan datang ke sana bukan sebagai seorang guru. Aku ke sana menjadi seorang teman untuk anak-anak belajar bersama. Kalau aku datang sebagai seorang guru maka salah sedikit gengsi dong. Tapi kalau menjadi teman, aku bisa mendapat koreksi dari anak-anak.

Tapi Kompas yang pernah mewawancarai Andre menyebut Anda guru atau memang disebut guru oleh sekolah?

Enggak sih. Sebenarnya tidak ada. Justru ketika aku membaca kompas disebut guru, ya ampun. Aku lebih senang menjadi teman.

Jadi mendampingi anak-anak. Tapi apakah itu ada jadwalnya?

Kalau di Pangudi Luhur setiap hari kamis pukul 13.30. Itu ada sekitar 30 anak dari berbagai kelas.

Apa yang diajarkan?

Aku lebih ke metode bermain dengan musik dulu. Pertama, aku mengenalkan ritme yang sebenarnya anak-anak melakukan itu setiap hari tapi tidak mengerti itu adalah ritme. Misalnya, tepuk tangan. Tepuk tangan satu kali sebenarnya ¼ tapi anak-anak tidak sadar itu. Kalau memainkan tepuk tangan dua kali sebenarnya 1/8.

Jadi Anda mengerti juga teori ¼ dan 1/8 itu?

Iya, awalnya ritme. Jadi anak–anak aku ajak tepuk tangan dan dibagi menjadi beberapa kelompok seperti ada kelompok yang ¼ dan ada 1/8. Saat melakukan beramai-ramai menjadi suatu musik yang enak dan anak sebenarnya lebih terbangun dengan metode ini dibandingkan teori musik saja. Jadi keseharian mereka dulu. Setelah itu baru target.

Setelah anak-anak mengenal ritme, aku mencoba memberi pekerjaan rumah (PR) dan anak bebas membuat apa saja di rumah dalam delapan ketuk. Mereka membuatnya dan kebetulan waktu presentasi hasil PR disaksikan teman-teman dari Delta. Nah target terakhir saya mencoba memasukan syair-syair. Misal, aku membantu ibu dalam ritme tersebut. Setelah itu terserah masukan nada apa saja. Jadi awalnya tidak pakai nada hanya ritme dan syair.

Iya, soalnya orang mengatakan orang kulit hitam bisa bermain musik dengan bagus karena mempunyai ritme. Sebab, jalan saja mereka memakai ritme dan lama-lama musik rap tidak memakai melodi tetapi tetap enak. Katanya, ritme juga sebetulnya bukan hanya penting untuk musik. Bermain bola juga perlu ritme, bermain cinta juga perlu memakai ritme, jadi tidak bisa sembarangan. Nah bagaimana memasukan nadanya?

Setelah anak-anak dikasih ritme, aku kasih kebebasan lagi kepada anak-anak untuk memasukan kata apa saja sesuai ritme-ritme tadi. Setelah dimasukan kata-kata, juga terserah mereka mau masukan nada apa saja apakah do, sol, mi, atau lainnya terserah. Masukan dulu sedangkan bagus atau tidak urusan belakangan. Pokoknya ditulis saja dulu.

Apakah tulisannya 1, 2, 3 atau not balok?

Terserah anak-anak. Kalau anak-anak bisanya not angka maka pakai not angka.

Apakah Andre bisa not balok?

Aku kebetulan not balok dan not angka tahu lah. Setelah anak–anak atau teman-teman belajar memasukan nadanya maka kita cek bersama dalam pianika atau yang sederhana seperti recorder atau apa saja. Kalau nadanya gak fals, anak-anak tahu mana yang pantas atau tidak. Kemudian coba diubah. Setelah pantas, kita coba nyayikan bersama. Setidaknya setiap anak sudah membuat karya musik yang sederhana.

Dalam Anda mengajar anak-anak Pangudi Luhur, apakah sanggar ikut membantu Anda dalam program atau kurikulumnya atau Pangudi Luhur yang menentukan atau Anda masuk saja dengan bebas?

Itu sepenuhnya tanggung jawab saya. Pada awal kesepakatan aku menegaskan kepada kepala sekolah bahwa saya tidak mau diatur sama pihak sekolah walaupun saya bekerja untuk sekolah. Misalnya, saya harus mengajarkan ini-itu. Saya tidak mau. Saya lebih baik berteman dengan teman-teman yang ada di sanggar. Pihak sekolah menyetujui kesepakatan itu dan menyerahkan metode yang diajarkan kepada saya. Dan saya mengambil metode itu dari sanggar.

Sudah berapa lama Andre punya kelas ekstra kulikuler di Pangudi Luhur?

Kalau ekstra kulikulernya baru dua bulan.

Apakah sebelum itu suka mendampingi kelompok anak-anak di tempat lain juga?

Di sanggar.

Jadi Andre sudah senior di sanggar, sudah bukan murid tapi gurunya?

Bisa dikatakan senior atau apalah sebutannya. Yang penting di sanggar itu selain bidang-bidang tadi ada kelas-kelasnya. Kalau dalam musik, ada kelas biola, perkusi junior, musik and semble. Selain musik, ada handycraft (kerajinan tangan – red), patung, sablon. Kalau pendidikan umumnya ada sejarah, matematika, Bahasa Inggris, seni rupa. Tapi memang tidak setiap hari kita ada kelas-kelas seperti itu. Kebetulan saya di sanggar dipercaya juga menemani teman-teman yang ingin latihan biola untuk pemula dan musik.

Sebenarnya bagus sekali. Yang disebut kelas itu adalah sistem atau struktur kalau di pendidikan formal. Jadi sebenarnya kalau pendidikan formal dibilang memuakan bukan formalnya tapi cara melaksanakannya. Kalau isi sanggar seperti itu maka sanggar harus lebih banyak masuk ke sekolah formal. Lalu dengan sekarang ada kegiatan di sekolah formal, apakah kegiatan Andre di sanggar berkurang atau tidak?

Tidak sama sekali. Misalnya, untuk Kamis saya mengajar biola dulu di Sanggar pukul 08.30 setelah itu saya berangkat ke Pangudi Luhur. Seusai di Pangudi Luhur, saya balik lagi ke sanggar beraktivitas seperti biasa lagi.

Kalau tadi mengajar musik, kita berbicara soal ritme dan memasukkan melodi. Kalau mengajar biola maka tentu ada soal teknis instrumentnya. Apakah Andre juga menguasai biola sebagai instrument?

Aku menguasai, tahulah sol mi sa si-nya atau nada biola itu. Sebenarnya segala sesuatu awalnya memang dari ritme. Kita mau baca partitur ke nada maka ada ritme di sana.

Saya tidak maju-maju karena tidak punya ritme. Kalau menyanyi harus karaoke, hanya mengikuti. Tapi di sanggar tersebut tentu ada ahli musiknya karena tidak bisa keluar dari langit begitu saja?

Dosen kita Arjuna Hutagalung. Dia lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tapi tidak mau mengajar di kampus-kampus. Dia lebih memilih teman-teman di sanggar.

Bagus juga sekali-sekali kita diperkenalkan dengan Arjuna Hutagalung. Apa rencana Anda ke depan dengan keterlibatan di Pangudi Luhur?

Pertama, saya ingin membuka pemikiran orang terhadap anak-anak pinggiran. Setelah saya datang ke sana orang tidak selalu berpikiran kalau yang pakai anting, tidak berpakaian rapi, atau anak-anak jalanan, tidak bisa melakukan apa-apa. Ternyata ada sisi baiknya.

Tapi apakah ada anak sanggar yang punya sisi jeleknya, misal, kalau di luar suka mengganggu orang?

Saya tidak menutup kemungkinan itu. Mungkin ada tapi selama ini di depan mata saya kalau sedang jalan bersama tidak ada.

Tapi Anda tidak menganjurkan?

Pasti, tidak menganjurkan.

Kalau penyanyi rap di Amerika malah suka menganjurkan bakar-bakar kota. Jadi Andre orang baik-baik?

Saya justru menganjurkan lebih baik bakar kayu bakar untuk masak bersama.

Bagus sekali. Tadi Anda mengatakan di Pangudi Luhur selama dua bulan, apakah itu maksudnya percobaan atau berapa lama Anda akan aktif di sana?

Aku tidak mengerti mengenai masalah waktu ini. Pihak sekolah mungkin melihat bukti atau karya yang akan ditampilkan dulu. Tapi aku pribadi mencoba untuk serius. Artinya saya ingin membuktikan juga bahwa anak-anak atau sanggar bisa.

Selain kegiatan ekstra kulikuler musik, apakah Anda juga terlibat di dalam kurikulum mata pelajaran musik atau kesenian di sekolah tersebut?

Tidak. Kecuali kalau gurunya menganjurkannya. Aku tidak mengerti.

Kalau kita melihat dalam kerangka membuat sekolah itu tidak memuakkan maka sebetulnya itu gabungan antara formal dan tidak formal. Nah sekarang aspek mendidiknya, apakah ada benang merahnya sehingga senang membina atau membantu anak-anak?

Aku mungkin termasuk orang yang beruntung. Walupun aku lahir dari orang yang katakanlah tidak mampu dan sekolah tidak bisa, saya merasa beruntung sekarang ini banyak sekali mendapatkan ilmu dari pengalaman menemani anak-anak di Bantar Gebang atau Cakung atau anak-anak jalanan. Dari situ muncul inilah arti kehidupan sebenarnya. Menemani dan mendampingi mereka karena mereka butuh seseorang.

Andre dari latar belakang kehidupan susah bisa tidak terbawa kegiatan tidak berguna tapi malah bisa produktif. Apa yang mempengaruhinya?

Itu karena aku selama ini merasa orang yang tidak beruntung tapi akhirnya aku bisa. Jadi wajar dong aku yang punya ilmu mengasih lagi ke yang lain.