Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. Purnamawati, SpAK, MMPaed

Gunakan Obat Secara Bijak

Edisi 483 | 09 Jun 2005 | Cetak Artikel Ini

Bersama tamu Perspektif Baru kali ini, kita akan mendiskusikan suatu pandangan yang mungkin kurang lazim tapi sangat perlu, dalam cara kita memandang obat-obatan serta cara mencari jasa-jasa kedokteran. Yang jadi masalah saat ini dalam dunia kedokteran dan obat-obatan, walaupun semua tersedia dalam berbagai bentuk, tapi obat tidak selalu digunakan secara rasional. Jadi layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang cost Effective. Artinya, layanan yang mengedepankan unsur safety (keselamatan – red) bukan hanya semata keampuhannya saja. Selain itu, layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang profesional, etis, kompeten, transparan, dan dapat diukur.
Tamu kita kali ini adalah dr. Purnamawati, SpAK, MMPaed. Beliau adalah dokter spesialis anak, Master dalam Paediatrics. dr. Purnamawati sekarang aktif melakukan kegiatan advokasi mengenai penggunaan obat-obatan, mengelola mailing list kesehatan, dan membentuk suatu group yaitu “Group Sehat”. Beliau juga mendapat tugas kehormatan dari WHO (World Health Organization - red) di dalam bidang yang akan beliau ceritakan pada kita dalam wawancara ini bersama saya Wimar Witoelar.

Anda berkeyakinan bahwa obat dan dokter memang harus dipakai, namun menurut takaran semestinya. Pasien atau konsumen pengguna obat-obat dan jasa dokter, harus tahu secara rasional apa yang bisa diharapkan dari dunia kedokteran dan obat-obat. Apa betul begitu pendapat anda?
 
Betul sekali. Jadi layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang cost Effective. Artinya, layanan yang mengedepankan unsur safety (keselamatan – red) bukan hanya semata keampuhannya saja. Selain itu, layanan kesehatan yang terbaik adalah layanan kesehatan yang profesional, etis, kompeten, transparan, dan dapat diukur.
 
Ada 3 aktor utama yang berperan dalam dunia layanan kesehatan. Ada pemberi jasa layanan kesehatan, yaitu Dokter, Pharmacist, Paramedis. Aktor kedua unit layanan kesehatan, yaitu klinik, rumah sakit, dan sebagainya. Aktor ketiga adalah konsumen, pengguna jasa layanan kesehatan. Ketiga aktor utama ini harus bekerja sama, harus bermitra, serta harus menyadari hak dan kewajibannya masing-masing. Dalam setiap kesempatan, saya selalu mengatakan sebagai konsumen jasa layanan kesehatan jangan menyerahkan 100% masalah kesehatan kita di pundak tenaga medis. Sebab, bebannya terlalu berat. Kita sebagai konsumen harus punya tanggung jawab untuk memelihara kesehatan dan melakukan kegiatan mencegah. Itu jauh lebih baik.
 
Ketika kesehatan terganggu dan menyadari harus ke dokter, jangan terjemahkan kunjungan ke dokter itu sebagai upaya berobat. Secara umum, kalau kita ingin meminta obat, kita bisa minta kepada siapa saja. Misal, saya sakit kepala. Saya bisa mengatakan sama Pak Wimar, “Apakah Pak Wimar punya obat untuk sakit kepala saya?”
 
Iya betul. Bukankah biasanya kita juga bisa menanyakan ke teman atau toko obat?
 
Betul. Jadi, upaya ke dokter itu adalah upaya konsultasi. Menurut kamus, makna konsultasi medis adalah upaya perundingan antara pemberi dan penerima jasa layanan kesehatan untuk mencari penyebab gangguan kesehatan dan menentukan bersama-sama penanganannya. Jadi penanganan ini belum tentu harus diselesaikan dengan obat. Ketika memang memerlukan obat, hal utama yang perlu kita tanyakan adalah penyebab gangguan kesehatan tersebut. Sebab, pola pengobatan yang rasional itu harus berangkat dari masalah. Secara tidak langsung, saya ingin mengajak para konsumen jasa layanan kesehatan untuk berpikir lebih bijak, jangan bergopoh-gopoh, dan jangan terpaku pada gejala.
 
Istilah bijak ini menjadi kunci. Konsumen jasa layanan kesehatan mungkin belum tahu bagaimana yang disebut bijak itu. Tadi Dokter juga menggunakan istilah penggunaan obat-obatan yang rasional. Bagaimana contoh penggunaan obat tidak rasional itu?
 
Ada lima bentuk penggunaan obat tidak rasional. Pertama, polypharmacy, pemberian beberapa obat sekaligus pada saat bersamaan. Kedua, penggunaan antibiotika yang berlebihan. Ketiga, pemberian resep obat non generik yang tinggi. Keempat, pemberian obat injeksi yang sebetulnya tidak perlu dengan injeksi. Kelima, pemberian obat-obat yang sebetulnya tidak perlu seperti vitamin dan suplemen.
 
Kasus paling mencuat adalah polypharmacy dan antibiotika yang berlebihan. Misalnya, ketika anak deman, batuk, pilek, langsung diberi obat. Padahal itu semua gejala. Yang kita perlu lakukan adalah mencari tahu penyebabnya. Penyebabnya adalah infeksi virus dan itu tidak ada obatnya. Yang bisa memerangi virus tersebut hanya sistem imunitas (kekebalan – red) di tubuh kita. Jadi yang dibutuhkan anak adalah berikan waktu, kemudian observasi perilakunya, dan beri minum lebih banyak dari biasanya. Nah kebijakan-kebijakan seperti itu akan muncul setelah para orang tua atau konsumen kesehatan menyadari mereka harus menguasai pengetahuan dasar kesehatan.
 
Sebaiknya memang pasien atau konsumen layanan kesehatan mengerti dalam menghadapi obat-obatan dan dokter. Tapi sebagian besar orang memang merasa dirinya bodoh dan tidak mengerti apa-apa. Walaupun Almarhumah istri saya dokter tapi saya tidak merasa pandai dalam bidang kesehatan. Jadi jangan sampai pasien atau konsumen kesehatan memberikan dirinya kepada dokter atau memuja obat-obatan. Dokter, apa orang awam harus lakukan supaya tidak terlalu tergantung pada dokter dan obat-obatan?
 
Sebetulnya bukan masalah tergantung atau tidak. Seperti  saya katakan tadi, dalam layanan kesehatan itu sedikitnya ada tiga aktor. Kalau kita menginginkan layanan kesehatan profesional, layanan kesehatan yang terbaik, ketiga aktor tersebut harus rasional dan profesional.
 
Saya selalu katakan dalam setiap kesempatan kepada konsumen jasa layanan kesehatan, jangan perlakukan diri kalian sebagai pasien. Pasien itu konotasinya pasif, pasrah. Kita sebaiknya memposisikan diri sebagai klien, sebagai konsumen. Sebab, hubungannya akan lebih dinamis, ada saling bertukar informasi, ada kemitraan, dan ada proses pengambilan keputusan bersama-sama. Sebetulnya semua itu sudah dituangkan dalam hak dan kewajiban pasien, dokter, rumah sakit, dan bisa dipelajari. Kalau kita ingin menjadi mitra dokter yang baik, tentu saja masalah-masalah kesehatan dasar dan pengetahuan mengenai penyakit-penyakit ringan harian, sebaiknya sudah dikuasai oleh konsumen kesehatan. Jadi kita tahu persis bagaimana save care-nya di rumah karena tidak berarti kalau kita batuk, kita harus ke dokter. Anak deman dalam waktu 1-2 jam, kita harus segera ke dokter. Tapi kita harus punya kemampuan menganalisa mengapa anak demam, apa yang harus dilakukan, kapan saya harus ke dokter.
 
Dokter, saya sangat concerned dengan pernyataan Anda mengenai mengatasi penyakit-penyakit ringan. Menurut saya, itu penting sekali karena saya sebagai orang awam tidak tahu apa yang harus dilakukan kalau misalnya terkena bisul atau ada gatal di sela-sela kaki. Dimana sumber informasi terbaik bagi orang awam untuk mengumpulkan pengetahuan mengenai penyakit ringan harian?
 
Sebetulnya sekarang ini era yang sangat memudahkan untuk konsumen mendapatkan informasi kesehatan. Sekarang ini era informasi dimana kita dengan mudah bisa mengakses informasi tanpa keluar uang. Kalaupun harus keluar uang mungkin untuk biaya internet yang harganya mungkin jauh lebih rendah dari biaya berobat. Sekarang kantor-kantor sudah banyak mempunyai akses internet. Berdasarkan pengalaman mengasuh mailing list kesehatan, rata-rata anggota mailing list tersebut menggunakan fasilitas internet kantor mereka karena mayoritas tidak punya komputer di rumah. Pada saat makan siang, sebelum mulai kerja pagi, dan sebelum pulang biasanya mereka bisa menggunakan jasa internet kantornya. Karena itu, bagi para konsumen kesehatan yang bisa mengakses internet, akseslah situs-situs yang terpercaya seperti WHO, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia – red).
 
Bukankah sebagian besar situs itu menggunakan bahasa inggris?
 
Sayangnya memang sebagian besar berbahasa Inggris. Doakan saja, kami group sehat sebentar lagi akan meluncurkan satu website mengenai kesehatan yang dapat diakses dalam bahasa Indonesia.
 
Saya juga mendoakan agar masyarakat Indonesia tambah pintar bahasa Inggrisnya.
 
Iya. Anggap saja ini sebagai suatu “pemaksaan alamiah”. Untuk menguasai bahasa asing kan tidak ada jeleknya. Apalagi di situs-situs itu, panduan untuk konsumen memakai bahasa sangat awam dan mudah dicerna. Dan kalaupun tidak, kita bisa saling bertanya. Sekarang ini banyak sekali situs-situs yang bisa dibaca untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan.
 
Dokter melihat pengertian rasionalitas dalam penggunaan medical services ini akan berkembang. Apakah sudah banyak orang yang mengikuti pikiran-pikiran Dokter?
 
Berdasarkan pembagian tiga kelompok aktor tadi, saya berbicara tidak dalam posisi sebagai aktor unit layanan kesehatan dan pemberi jasa, tapi dari sisi konsumennya, masyarakatnya. Saya rasa generasi muda sekarang jauh lebih bijak, cerdas, dan kritis. Tinggal menanamkan keberanian saja bahwa mereka punya hak untuk bertanya. Tapi bertanyalah dengan sopan, dengan manis, dan bijak sehingga tidak ada pihak yang merasa seperti sedang “dipertanyakan”.
 
Dokter, apa obat yang perlu diwaspadai secara khusus oleh masyarakat?
 
Kita tidak bisa memberikan jawaban yang pasti mengenai itu. Sebab, ketika dipergunakan dengan benar sekalipun, setiap obat potensial menimbulkan efek samping. Tetapi dunia kedokteran bergerak dalam koridor risk and benefit. Misalnya, penderita TBC (Tuberculosis - red) harus diterapi dengan obat-obatan anti kuman TBC. Obat-obatannya keras tapi tetap harus dikonsumsi karena manfaatnya lebih besar daripada resiko atau efek samping obat tersebut terhadap fungsi hati.
 
Dalam proses penggunaan obat-obatan, harus dipergunakan dengan benar dan ada proses pemberian informasi. Jadi ketika pasien datang ke seorang tenaga medis, harus mendapat penjelasan mengenai penyakitnya dan  perlu obat atau tidak. Kalau perlu obat, bagaimana kerja obat itu dan efek samping yang mungkin timbul. Jadi pasien mengetahui obat ini harus dikonsumsi tapi ada kemungkinan efek samping.
 
Walaupun belum tentu muncul, tenaga medis harus menjelaskan efek samping itu ada dan menjelaskan juga gejala-gejala yang harus dicermati pasien. Risiko efek samping itu akan meningkat pada kasus polypharmacy, pemberian beberapa obat sekaligus pada saat yang bersamaan. Contoh paling gampang adalah pemberian puyer kepada anak. Ketika demam dan flu, saya mungkin minum parasetamol, minum air yang banyak, tidur, selimutan. Tapi ketika seorang bayi kena flu, kemudian diberi puyer yang isinya minimum terkandung empat macam obat antara lain antibiotika. Apakah itu rasional? Karena itu risiko efek samping akan meningkat pada polypharmacy. Risiko efek samping juga akan meningkat pada mereka yang sangat muda dan berusia lanjut. Pada bayi atau anak kecil, organ-organ untuk memetabolisme obat masih belum matang. Sedangkan pada orang tua kapasitasnya sudah menurun.
 
Sebagai konsumen, jadi kita harus bisa menyaring mana obat yang baik dan tidak, serta memasang sikap saat berobat. Tadi dokter juga cerita kalau sekarang juga aktif mengelola mailing list mengenai kesehatan di internet. Apa alamat e-mail kalau ada pembaca ingin bergabung di mailing list tersebut?
 
Alamat emailnya, sehat@yahoogroups.com
 
Siapa saja yang menjadi anggota mailing list tersebut? Apakah ibu-ibu, bapak-bapak, orang tua atau anak-anak?
 
Kebanyakan pasangan muda yang sudah memiliki anak. Tapi banyak juga yang belum memiliki anak, dan sebagian kecil ada juga yang belum menikah.
 
Tadi sebelum wawancara, dokter sempat cerita kalau punya semacam group yang melakukan aktivitas ceramah khusus selama 6-7 kali untuk membahas masalah kesehatan. Bagaimana awal terbentuk group tersebut?
 
Awalnya, saya mengajak pasien-pasien saya untuk mengajak teman, keluarga, saudara-saudaranya berkumpul untuk melakukan suatu pertemuan informal. Pertemuan itu untuk brainstorming berbagai masalah yang di satu sisi kerap melanda anak, di lain sisi potensial untuk ditangani secara tidak rasional. Misalnya, penelitian menunjukkan anak itu merupakan populasi yang justru paling sering diberi antibiotika. Kedua, tiga kondisi yang sering terjadi pada anak yaitu demam, diare, dan radang tenggorokan umumnya selalu diobati dengan antibiotika. Padahal ketiga kondisi itu untuk bayi dan anak terjadi karena infeksi virus.
 
Jadi kegiatan sharing informasi ini kita mulai dari kelompok kecil. Setelah kami punya mailing list , kami sebarkan melalui mailing list itu. Sekarang kami menggunakan paket ceramah dan sudah memasuki gelombang ketiga bahkan hampir memasuki gelombang keempat. Insya Allah kalau Tuhan berkenan, saya harap program ini bisa terus bergulir.
 
Dokter, kalau saya masuk ke milis sehat@yahoogroups.com kemudian bertanya, “Dokter, saya ada bisul. Apa yang harus saya lakukan?” Apakah pertanyaan seperti itu akan dijawab dan  bagaimana menjawabnya?
 
Tentu akan dijawab. Biasanya, yang pertama kali menjawab para anggota mailing list itu sendiri karena saya tekankan pada mereka bahwa untuk kondisi-kondisi yang ringan, mereka harus menguasai.
 
Jadi komunikasinya juga bersifat horisontal ya?
 
Iya betul. Kalau hanya seorang dokter yang bicara, dengan mudah orang akan berkata, “Ah itu kan teori, saya kan yang ngalamin”. Tapi ketika sesama pasien atau orang tua berkata, “Waktu anak saya demam, saya melakukan ini. Waktu saya kena bisul, saya melakukan ini.” Kemudian jawaban itu diperkuat oleh dokter maka nilainya akan lebih kuat. Di sisi lain, nilai tambahnya adalah si penjawab, sebelum menjawab akan terlebih dahulu browsing di internet informasi mengenai bisul. Misalnya, “Oh bisul itu istilahnya Boils dan begini lho pengobatannya”.
 
Tapi kalau ada yang jawabannya salah, akan dikoreksi?
 
Iya. Saya punya strategi dalam menangani mailing list ini. Pertama, untuk masalah-masalah emergency (penting – red), saya upayakan untuk segera dijawab. Misalnya, terkait dengan obat, gangguan kesehatan yang agak serius. Tetapi kalau tidak membutuhkan suatu jawaban yang cepat, saya menunggu jawaban dari para anggota mailing list dulu, kemudian saya kumpulkan jawabannya, dan saya jawab dalam bentuk bunga rampai.
 
Apakah banyak jenis penyakit yang dibahas? Apakah ada yang bicara mengenai low back pain misalnya?
 
Ada. Biasanya mengenai skoliosis, HNP (Herniasis Nucleus Pulposus).
 
Bagaimana kalau obesitas?
 
Ada. Justru di mailing list ini saya sangat concern dengan obesitas. Dan saya selalu menekankan mulailah sedini mungkin dan mulailah dengan seluruh anggota keluarga untuk menghindari obesitas. Sebab, tadinya ada konsep kalau anak yang sehat itu harus gemuk.
 
Bahkan ada orang yang sedih karena anaknya kurus. Padahal tidak perlu sedih ya karena ada hal-hal yang merupakan mitos dan itu perlu diklarifikasi.
 
Ya betul.
 
Dokter, obat-obat seperti vitamin, suplemen, apakah memang diperlukan atau ada penjelasan lain?
 
Bulan Januari lalu, saya mengikuti workshop WHO di India mengenai bagaimana mempromosikan pola pengobatan rasional kepada komunitas. Setiap negara berkembang memberikan presentasi dan WHO regional juga memberikan presentasinya. Saya memperoleh banyak pelajaran. Misalnya, di Swedia  tidak ada apotik swasta, tidak ada farmasi swasta, semua diatur pemerintah. Di Australia, harga obat diatur pemerintah. Jadi mau beli parasetamol di Melbourne, di Sidney, di Brisbane harganya sama. Kalau di negara kita, harga di tiap wilayah bisa beda-beda.
 
Di kebanyakan negara, obat diatur dalam satu kelompok yang namanya daftar obat essential. Daftar obat essential disusun berdasarkan prioritas penyakit. Nah menyimak daftar obat tersebut, tidak ada yang namanya vitamin dan suplemen. Salah satu contoh lagi menarik buat saya adalah Bangladesh. Di sana, dokter tidak bisa memberikan obat diluar daftar obat essential. Jadi kalau kasih resep Amoxicillin ya Amoxicillin yang ada di daftar obat essential l itu.
 
Kedua, di Banglades untuk vitamin dan suplemen dilarang oleh pemerintah. Mengapa demikian? Karena dari sisi kedokteran, kalau kita buka text book atau penelitian-penelitian, dikemukan bahwa vitamin itu suatu substansi yang dibutuhkan dalam jumlah sangat kecil dan dapat terpenuhi dari pola makan sehat. Umumnya suplementasi vitamin dari luar tidak dibutuhkan. Kecuali kita sangat tua atau menderita penyakit-penyakit bawaan tertentu yang sangat jarang atau menderita penyakit yang tidak bisa mengabsorbsi (menyerap) makanan dengan benar. Tapi bukan berarti anak diare atau anak kurus dibilang mengalami gangguan pecernaan. Di negara kita masih banyak sekali salah kaprah seperti itu. Misalnya, ada penyakit namanya cystic fibrosis yang merupakan gangguan pankreas. Pankreas itu adalah pabrik yang memproduksi enzim pencernaan. Tapi kalau anak kena cystic fibrosis, gejalanya banyak sekali dan hebat sekali. Nah kasus yang seperti itu mungkin perlu suplementasi vitamin. Contoh lain misalnya ketika kita dalam diet khusus. Misalnya ada orang yang benar-benar vegetarian ketat, mungkin perlu suplementasi zat besi.
 
Apa kegiatan dokter sehari-hari?
 
Pertama, sebagai istri, ibu rumah tangga. Kedua melakukan kegiatan-kegiatan yang fokus pada pola pengobatan yang rasional. Ketiga, melakukan kegiatan sosial melalui grup sehat, seperti mengelola mailing list, melakukan ceramah, dan mudah-mudahan rencana membuat website mengenai kesehatan bisa segera terwujud. Sekarang ini saya mulai belajar untuk menjadi Pharmacist (apoteker, ahli obat). Kalau di negara maju, misalnya di Inggris, ada anak terkena demam, batuk, pilek, tidak perlu ke dokter anak. Susternya akan bilang, “Kamu tidak perlu ke dokter anak, kamu ke Pharmacist saja. Konsultasi.” Sebab, salah satu fungsi Pharmacist di era ini adalah memberikan advokasi.             
 
 

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...