Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dr. Gentur Sudjatmiko SpBP

Bedah Plastik Membuka Kehidupan Baru

Edisi 472 | 28 Mar 2005 | Cetak Artikel Ini

Pembaca Perspektif Baru, selamat berjumpa kembali dengan saya Wimar Witoelar. Kalau kita berbicara tentang dunia kedokteran dan kesehatan, maka kita akan mengetahui bahwa ini adalah ilmu yang tidak akan pernah berhenti dan hanya dibatasi oleh kemampuan orang untuk mempertemukan ilmu tersebut dengan masalah yang diidentifikasikan, keinginan orang untuk mengatasinya dan pengertian mengenai bidang tersebut. Ada beberapa bidang kedokteran yang tidak begitu dipahami apa isinya misalnya bedah plastik, yang merupakan satu sub spesialisasi dari ilmu bedah. Untuk menjadi seorang ahli bedah plastik, harus melalui beberapa tahapan di diawalinya dari dokter umum, kemudian dokter bedah, tahap berikutnya dokter bedah plastik. Dari bedah plastik sendiri ada lagi beberapa sub spesialisasinya. Tamu kita pada edisi ini punya banyak pengalaman mengenai hal ini dan kebetulan saya juga berobat dengan beliau. Wawancara ini selalu mempunyai dimensi pribadi, karena itu saya bisa menghayati betul bahwa saya menemukan seseorang yang bisa mengindentifikasikan masalah kecil saya yang tadinya tidak berhasil ditemukan oleh sekian banyak dokter. Bukan mengurangi penghargaan terhadap mereka, tapi ingin menekankan bahwa dokter spesialislah yang bisa menemukan arti sebetulnya suatu penyakit dan terapi yang cocok. Tamu kita kali ini adalah Dr. Gentur Sudjatmiko, SpBP, Spesialis Ahli Bedah Plastik dan Ketua Bidang Studi Bedah Plastik di Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Dr. Gentur, apa yang sebenarnya anda kerjakan sekarang?

Yang saya kerjakan selama ini adalah berusaha meningkatkan apa yang ada pada pasien. Seperti misalnya orang yang mempunyai cacat, baik itu cacat lahir atau cacat yang baru didapat, saya berusaha merubah mereka supaya meningkat mendekati normal. Dulu, saya juga mengerjakan orang normal yang ditingkatkan menjadi lebih dari normal.

Maksudnya ditambah kecantikannya atau kerupawanannya?

Betul. Bedah plastik itu dua bagian, yang satu adalah bedah plastik rekonstruksi, yaitu merubah cacat supaya mendekati normal. Satu lagi bedah plastik estetika, dimana orangnya relatif normal, tidak punya keluhan akan sesuatu, tapi keluhannya di alam pikirannya saja. Saya lebih senang menggunakan kata estetika, sebab kalau kosmetika itu terdengar seperti sesuatu yang dipoles.

Keluhan di alam pikirannya itu seperti merasa kurang percaya diri, merasa kurang cakap? Apakah banyak orang seperti itu? Latar belakang atau tipologinya seperti apa?

Memang aspek estetika selalu lebih menarik untuk dibicarakan, karena keberadaannya tidak kelihatan. Sayang itu sudah saya tinggalkan kira-kira satu tahun yang lalu. Sebelum saya tinggalkan, 95% pasien saya untuk bedah plastik estetika. Jadi kebanyakan saya mengobati fisik untuk kepuasan mentalnya. Mungkin sering saya gambarkan seperti dandan atau berias dengan bedah plastik. Kalau berias dengan kosmetika, habis mandi hilang riasannya. Tetapi kalau berias dengan pembedahan, jahitan dan segala macam ilmu bedah, sifatnya last longer atau lebih tahan lama. Jadi memang tidak ada yang sempurna karena tidak ada yang bisa tetap sifatnya.

Memang betul bedah estetika itu lebih menarik karena barangkali menyangkut orang-orang yang terkenal, menyangkut teknik yang misterius karena wajah yang begini bisa jadi begitu dan sebagainya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah dokter meninggalkan bidang bedah estetika untuk bedah rekonstruksi. Mengapa? Apakah dokter merasa sudah cukup di bidang bedah estetika? Dan di bidang rekonstruksi, apa yang dokter konsentrasikan?

Menurut saya bedah plastik estetika di Indonesia untuk saat ini, mestinya belum perlu dipikirkan. Yang dibutuhkan bangsa ini adalah rekonstruksi, untuk bangun dari permasalahan besar kita, untuk bisa survive (bertahan) di antara bangsa-bangsa yang lain. Sehari-hari kita lihat segala aspek terpuruk. Masa saya konsentrasi ke bidang ini? Seolah-olah saya tidak peduli pada sekian banyak orang yang kesusahan. Karena bedah estetika relatif dilakukan oleh orang yang tidak susah, orang yang sudah mapan, untuk kebutuhan yang sifatnya tertier. Sedangkan bedah rekonstruksi banyak kaitannya dengan kebutuhan layanan primer untuk survival bangsa kita.

Jadi dulu titik berat pekerjaan anda di bidang bedah plastik estetika, yang merupakan kebutuhan tingkat ketiga, tertier. Sekarang beralih kepada bedah plastik rekonstruksi, yang menurut Dr. Gentur adalah kebutuhan primer. Seperti apa kasus-kasus bedah plastik rekonstruksi itu?

Bedah plastik rekonstruksi itu luas jangkauannya. Pertama, yang banyak saya tangani adalah mereka yang lahir cacat. Mungkin sudah sering didengar istilah sumbing bibir, sumbing langit-langit. Penderita sumbing itu, kalau tidak ditolong kasihan melihatnya, orang tuanya juga sedih dan rata-rata mereka dari golongan yang kurang mampu. Kalau tidak ditolong, mereka jadi tidak bisa berbicara dengan baik, akibatnya setelah dewasa tidak bisa mandiri, sehingga menyusahkan orang lain. Cacat lahir seperti sumbing ini, harapan kedepannya sangat dramatis. Setelah dioperasi, sebagian besar dari mereka jadi lebih mandiri, bisa diajak bicara dan kalau bicara bisa dimengerti, tidak menakutkan orang yang melihatnya, sebagaimana kalau belum dioperasi. Itu tadi merupakan salah satu contoh cacat lahir. Cacat lahir yang lain adalah kelainan lubang saluran kencing pada anak laki-laki. Saluran kencing yang normalnya berada di depan menjadi berada di bawah.

Ada kasus seperti itu?

Cukup banyak. Kalau mereka buang air kecil, kaos kakinya bisa basah. Disitu problem, kalau mereka sekolah nanti buang air kecil, temen-temennya berdiri, mereka yang menderita kelainan itu mesti duduk.

Yang salah tempat itu lubangnya saja atau seluruh selang salurannya?

Lubang dan selangnya salah tempat. Kemudian pasien-pasien golongan ke-tiga adalah pasien akibat trauma kecelakaan, yang memiliki dua variasi besar. Yang pertama adalah kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan patah tulang muka. Kalau tulang-tulang di bawah tulang muka, di bawah leher, biasanya ditangani oleh ahli bedah ortophedic (tulang). Tapi kalau patahnya di bagian muka, ahli bedah plastik yang menangani karena berkaitan erat dengan penampilan orang tersebut. Tidak sekedar membetulkan yang patah, karena kalau membetulkan itu bekas sayatannya harus tersembunyi. Selain menyebabkan patah tulang, kecelakaan dapat juga mengakibatkan kerusakan jaringan lunak seperti urat, kulit, otot dan sebagainya. Kemudian variasi kecelakaan yang kedua adalah kecelakaan yang disebabkan karena terbakar. Itu juga kami tangani karena berkaitan erat dengan penampilan orang tersebut.

Jadi bedanya bedah estetika dengan rekonstruksi adalah dari segi pasiennya. Tadi dokter katakan yang estetika pasti orang yang sudah lolos dari kebutuhan primer. Di Indonesia banyak orang yang sangat tidak mampu, bagaimana mereka membiayai operasi bedah plastik yang sifatnya rekonstruksi, karena pasti peralatan yang dibutuhkan sangat canggih?

Ini memang menarik sekali. Untuk satu kali operasi sumbing, standar minimal biaya operasinya kira-kira Rp. 1.750.000,-. Buat mereka yang untuk hidup sehari-hari saja susah, rasanya tidak mungkin mampu membiayai. Mereka tidak bisa menabung, tidak tahu mesti pinjam kemana. Sampai dalam beberapa kasus, mereka biasanya menunggu sampai dewasa. Bulan lalu ketidakmampuan operasi sehingga penderita sumbing harus menunggu sampai dewasa menjadi topik untuk promosi menjadi seorang Doktor.

Kembali ke pembiayaan, kebetulan saya berbahagia kalau bisa menolong orang yang membutuhkan. Maka yang bisa saya lakukan sekitar sepuluh tahun yang lalu, mengumpulkan beberapa teman kemudian membuat draft untuk membuat suatu yayasan khusus yang menolong penderita sumbing ini. Tapi sayangnya karena satu dan lain hal lalu bubar. Kemudian ketika negara kita resesi sekitar tahun 1997, waktu itu ada satu yayasan yang diketuai oleh mantan Presiden yang terdahulu yang kebetulan menyetujui dananya untuk kita pakai menolong masyarakat di daerah. Jadi tiap dua bulan sekali keliling Indonesia untuk menolong memberikan operasi sumbing secara gratis untuk mereka yang tidak mampu. Dalam satu hari kita bisa mengoperasi kira-kira antara 50-100 orang. Biasanya kita sampai 2-3 hari.

Berapa banyak dokter di Indonesia yang punya kemampuan bedah plastik rekonstruksi untuk mengatasi kasus-kasus sebanyak ini?

Di perhimpunan kami yang disebut dengan PERAPI (Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia) ada 54 orang. Tadinya 52 orang, ditambah tadi pagi (2 Maret 2005 - red) baru dilantik dua orang lagi dan itu untuk seluruh Indonesia. Seharusnya untuk 200 juta rakyat kita, hitung-hitungan di atas kertas kira-kira kita butuh 200-an dokter. Tapi itu agak sulit tercapai. Namun kita berkeras untuk sebisanya memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena dokter ahli bedah plastik ini belum ada di tiap propinsi, maka kita berkeliling. Dulu dua bulan sekali, sekarang sudah bisa satu bulan sekali kita keliling. Dan daerah yang belum terjangkau itu Irian.

Dr. Gentur, apakah ada usaha yang kuat untuk membentuk sumber dana bagi kegiatan ini? Apakah fund raising-nya sudah terorganisir dengan baik?

Selama 3-4 tahun ini saya sudah bekerja untuk itu. Namun masih dipercaya secara individu dan ini sebenarnya kurang baik. Saya bekerjasama dengan HOG (Harley Owner’s Group), orang-orang ekspatriat yang dermawan, yang terketuk hatinya ketika mereka melihat bagaimana saya beroperasi di lapangan. Setiap tahun mereka membuat suatu pertemuan dimana anggotanya diminta untuk membeli tiket. Saya tidak tahu persis berapa harganya, tapi saya dengar sekitar 400 US Dollar. Dalam sekali pertemuan, dana yang terkumpul dapat menolong kurang lebih 60 anak. Kemudian jumlahnya terus meningkat sampai sekarang ini bisa menolong kurang lebih 100 anak. Mereka percaya secara individu pada saya. Mereka orang bule yang suka naik Harley, kelihatannya seram tapi hatinya baik.

Kembali ke masalah peralihan Dr. Gentur dari Bedah plastik estetika ke bedah rekonstruksi. Kalau di negara lain atau di Indonesia sendiri, apakah ada orang yang melakukan kedua-duanya atau biasanya yang menanganinya berbeda?

Hampir semua dokter menangani dulu pasien-pasien rekonstruksi dan biasanya mereka bercita-cita untuk mampu dan mendapat kesempatan untuk berkiprah di bidang estetika. Dahulu saya juga demikian tapi belakangan saya beralih kembali ke bidang rekonstruksi. Kira-kira delapan bulan yang lalu, saya mendapat kabar melalui email dari teman, ada satu orang dokter dari Filipina melakukan hal yang sama dengan saya.

Jadi untuk menjadi ahli bedah estetika, dimulai dari ahli bedah rekonstruksi? Tapi dokter sebaliknya?

Jadi orang yang minta pertolongan bedah plastik tentu yang orang sakit, yang punya cacat dan ingin diperbaiki. Itu akan jelas kelihatan hasilnya. Tetapi kalau orang yang sehat kemudian ingin dilakukan sesuatu, jangan sampai jadi bermasalah. Sehingga betul-betul perlu diperhatikan kualifikasi, pengalaman dan keterampilan si dokter bedah plastik itu harus sesuai dengan learning curve-nya sehingga dia bisa mendapat kepercayaan dari masyarakat. Beberapa dokter inginnya bisa langsung menangani bedah estetika, tetapi tidak bisa. Ada perjalanan yang harus dilalui untuk menjadi dokter bedah estetika.

Kira-kira setahun yang lalu sebelum saya berhenti dari bedah estetika, saya mendapatkan sentilan-sentilan di dalam batin saya yang mengatakan ada sesuatu yang mesti dipikirkan kembali. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Saya pikir kehidupan saya jadi melenceng, jadi lebih ke duniawi karena segalanya bisa saya dapatkan.

Seperti masuk dalam kehidupan dunia gemerlap atau istilah dugem?

Ya paling tidak saya harus mengerti pola berpikir seperti itu, sehingga saya bisa berkomunikasi dengan pasien saya. Itu cukup mempengaruhi kehidupan saya. Sedangkan batin saya sejak kecil itu inginnya menolong orang yang butuh, yang susah. Saya merasa bahagia kalau saya bisa menolong orang yang butuh dan susah.

Seorang dokter bedah jelas ahli dalam medical science (Ilmu Kedokteran), bedah, keterampilan alat. Sedangkan estetika adalah soal lain sama sekali karena orangnya harus tahu kalau wanita yang cantik itu seperti apa, yang rupawan itu seperti apa. Apakah ada pendidikan khusus estetika untuk dokter bedah plastik? Karena pasti hasil operasinya bagus, tapi bagaimana jika hasilnya bukan seperti yang dikehendaki?

Untuk menjadi seorang ahli bedah plastik itu harus diseleksi dulu. Mereka harus punya sense of art, senang dan mampu untuk ke arah seni. Ada kecenderungan ahli bedah plastik estetika dipandang sebelah mata oleh rekan-rekan ahli bidang yang lain. Apa sebenarnya, orang sehat diobati, dioperasi dengan mengunakan kaedah-kaedah kedokteran, padahal kedokteran itu untuk mengobati orang sakit. Sebagian dari mereka justru berpikir, keluarkan saja ahli bedah plastik estetika ini dari kedokteran. Tapi ada pendapat lain bahwa ini masih ada kaitannya dengan kriteria sehat menurut WHO yaitu pertama sehat fisik, kedua sehat rohani, ketiga sehat psikososial yaitu bisa bergaul dengan percaya diri di masyarakat.

Jadi untuk seorang penyanyi, tentu jika ada kelainan atau kekurangan sedikit saja, sudah sangat berarti buat penampilannya di muka publik. Berbeda dengan mereka yang bekerja di belakang meja, ahli komputer misalnya, mereka tidak butuh itu. Aslinya bedah plastik estetika ini untuk orang-orang yang kurang percaya diri tapi kemudian berkembang menjadi suatu trend. Rasanya sebagian besar pasien-pasien yang datang ke saya, mungkin hanya karena ingin ikut-ikutan saja, sebagaimana yang terjadi di bidang atau profesi lain. Di Indonesia ini kebanyakan bangsa kita belum dewasa untuk menginvestasikan uangnya. Jadi saya pikir, sudahlah saya tinggalkan saja bidang ini.

Ini memang menimbulkan banyak pertanyaan. Kalau kita pikirkan baik-baik, orang yang sakit ingin disembuhkan, yang sembuh juga merasa harus ditingkatkan karena mereka kurang percaya diri. Biasanya orang seperti saya cukup percaya diri di radio, tapi kalau ketemu orang rasanya kurang percaya diri. Mungkin kalau muka saya lebih bagus bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat. Kalau dokter lihat muka saya, tahu tidak apa yang harus diperbaiki?

Wah kalau melihat Pak Wimar, rasanya dokternya mesti sekolah lagi. Karena saya yakin dengan ilmu yang saya punyai, tidak ada yang perlu diperbaiki dari Pak Wimar, karena sudah percaya diri.

Sekarang pintar-pintarnya dokter itu untuk memilah mana yang betul-betul perlu, mana yang tidak. Tetapi di Indonesia ini masalahnya semua senangnya yang trendy. Seperti satu orang pakai velg racing, semua pakai. Atau satu orang mendirikan pasar swalayan, semua ikut-ikutan. Padahal banyak pedagang pasar tradisional yang terganggu. Belum lagi kalau kita bicara dari segi agama. Setelah saya pelajari, pada hasil akhirnya menurut saya tidak menghasilkan sesuatu yang baik. Itu yang saya ketahui.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...