Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Helvy Tiana Rosa

Setiap Karya Sastra Harus Memberikan Pencerahan

Edisi 465 | 07 Feb 2005 | Cetak Artikel Ini

Para pembaca yang budiman, selamat bertemu kembali dengan Perspektif Baru, bersama saya Faisol Riza. Sastra. Kali ini kita akan berbincang mengenai sesuatu yang ada di sekitar kita, tapi rupanya juga tidak banyak kita sentuh yaitu Sastra. Sastra, terutama sastra Indonesia kita pelajari di sekolah-sekolah, tapi ketika kita berbicara terlihat bahwa kita tidak menguasai bahasa-bahasa sastra tersebut. Jika kita lihat dari sejarah, dulu percakapan biasanya diselingi dengan pantun seperti di daerah Sumatera. Sekarang makin lama makin berkurang. Jadi ada apa ini? Atau memang seharusnya kita menjalani hidup dengan cara yang berbeda dengan masa lalu. Tamu kita kali ini adalah Helvy Tiana Rosa, beliau adalah seorang penulis, sastrawan, seorang yang bekerja pada bidang kebudayaan di Dewan Kesenian Jakarta. Orang yang berprestasi di bidang sastra dan juga orang yang mulai berusaha menyatukan berbagai macam potensi dari anak-anak bangsa dalam sebuah forum bernama Forum Lingkar Pena. Dan kali ini kita akan berbicara mengenai proses kreatif, kehidupan sehari-hari dan bagaimana Helvy bergelut dengan kebudayaan.

Sebagai seorang yang menekuni sastra dengan prestasi anda raih sekarang ini, kelihatannya anda cukup cepat sampai ke posisi puncak. Sebenarnya bagaimana anda memulai proses kreatif selama ini?

Saya mulai menulis ketika saya belum resmi sekolah dan memasuki kelas 1 SD saya sudah terbiasa menulis puisi, kelas 3 SD tulisan saya sudah dimuat di majalah anak-anak dan sudah dimuat di Koran, dan ketika kelas 6 SD saya sudah menulis cerpen. Jadi saya bukan orang yang muncul mendadak kemudian terkenal, tetapi melalui proses yang buat saya sangat panjang.

Awalnya, menulis untuk membantu biaya pendidikan saya, karena saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana, sehingga dalam usia SD saya sudah berpikir untuk membantu orang tua saya untuk mencari uang. Dan waktu itu saya berpikir cara mencari uang yang cepat adalah menulis. Kemudian ketika remaja, saya lebih banyak menulis dengan memakai berbagai nama samaran. Pernah dalam satu majalah hampir semua isinya tulisan saya dengan memakai nama-nama teman sekelas saya untuk nama samaran. Kemudian ketika saya mulai mengenakan jilbab, saya mulai berpikir untuk banyak menulis yang bernafaskan religious tetapi tetap universal. Artinya, walaupun saya ingin menulis sastra yang bernuansa keagamaan tapi bisa dinikmati semua golongan.

Kelihatannya anda cukup membagi kehidupan ini antara keagamaan dan yang tidak. Bagaimana ciri sastra yang menurut anda keagamaan dan yang tidak?

Saya menghargai berbagai pendapat tentang sastra, banyak orang mengatakan bahwa sastra tidak boleh beragama dan saya hargai pendapat seperti itu. Tapi pendapat saya, sastra itu harus memberikan pencerahan kepada pembacanya.

Dalam agama saya, memberi pencerahan adalah bagian dari dakwah, dan dakwah bagian dari ibadah. Sehingga menurut saya paling tidak ketika saya menulis karya sastra, karya itu tidak boleh merusak siapa pun. Karya sastra yang baik adalah yang tidak lepas dari estetika. Walaupun dia bernuansa keagamaan, harus tetap berestetika, jadi harus dibedakan dengan khotbah. Karya sastra, cerpen atau novel sangat berbeda dengan khotbah, walaupun ada muatan-muatannya tapi harus dibalut dengan estetika yang baik.

Anda kelihatannya menganut aliran bahwa sebuah karya harus memuat sesuatu yang ingin disampaikan, baik pesan moral ataukah sesuatu yang baik atau benar. Apa pendapat anda tentang karya-karya sastra yang menganut teori sastra mukhtahir, post-modernisme, dimana karya sastra dipandang sebagai karya terbuka, tidak selesai, multi interpretasi dan terus diperbarui maknanya oleh setiap pembacanya serta menolak "dominasi" kebenaran dan tujuan yang dimiliki sang pengarang?

Kebetulan saya mengambil S2 di Ilmu Sastra UI dan ini karena ketertarikan saya di bidang sastra. Insya Allah kalau dapat kesempatan untuk melanjutkan S3 saya juga akan mengambil bidang sastra ini. Sepanjang zaman memang karya sastra itu selalu bergerak, ada karya-karya yang sangat abadi sehingga ketika kita baca ulang dalam kurun waktu yang panjang, karya itu tetap memberi sesuatu yang baru. Katakanlah seorang pengarang, seorang sastrawan, tidak mungkin tidak menyampaikan apa-apa dalam karyanya.

Jadi saya percaya bahwa setiap karya seni, apa pun bentuknya, apalagi sastra, pasti penulisnya punya sesuatu yang ingin dia sampaikan. Saya tidak percaya ada orang yang mengatakan, "Saya menulis tapi saya tidak ingin menyampaikan apa-apa". Secara teori mungkin saja, ada teori nihilisme, tapi secara kenyataan menurut saya tidak mungkin.

Ketika anda mendapatkan ilham atau tema yang ingin ditulis, apa yang anda lakukan sebelum anda menulis ?

Kadang-kadang saya mendapatkan ide, dengan melihat wajah suami, lihat wajah anak, atau dalam bis, tiba-tiba dapat ide. Apa yang akan saya lakukan setelah mendapat ide, biasanya tergantung dari apa yang ingin saya tulis. Misalnya pada tahun 1990-an, saya sangat tertarik dengan kejadian-kejadian di Palestina, Bosnia, maka saya menulis cerpen dengan setting negara-negara tersebut. Kemudian di buku saya yang terbaru, ada antologi bersama, judulnya ‘Lelaki Semesta’, idenya karena saya tertarik dengan kasus Ba’asyir. Buat saya Ba’asyir adalah korban konspirasi dan saya tidak bisa melakukan apa-apa selain berdo’a semoga keadilan ditegakkan misalnya.

Mungkin sama dengan Seno (Red : Gumira Adjidarma), ketika Seno merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Indonesia terhadap Timor-Timur, maka dia membuat cerpen begitu banyak tentang Timor-Timur. Itu juga yang saya lakukan, karena saya tidak bisa melakukan apa-apa, maka saya membuat cerpen. Mungkin saat ini saya sedang membuat cerpen yang ada kaitannya dengan Munir. Begitu prosesnya, walaupun tidak semua cerpen saya kontekstual artinya sesuai dengan situasi terkini sebagaimana cerpen-cerpen koran pada umumnya. Tapi ketika sesuatu menyentuh nurani, saya merasa harus melakukan sesuatu, tapi tidak punya akses yang banyak. Maka yang bisa saya lakukan barangkali melawan dengan cerpen.

Siapa sebenarnya orang yang mempengaruhi anda dalam menulis sastra. Kalau dulu anda pernah menulis tentang persoalan anak-anak, apa yang membawa anda sekarang kepada pikiran-pikiran politik atau menulis sastra dengan nuansa politik?

Saya rasa secara khusus tidak ada, tapi saya sangat menghormati sastrawan-sastrawan Indonesia yang menurut saya, banyak yang layak mendapat nobel bahkan selain Pramoedya Ananta Toer. Saya suka Pramoedya, Muchtar Lubis, Taufik Ismail, Putu Wijaya dan saya menikmati karya-karya mereka sejak saya transisi dari masa SD ke SMP.

Kalau anda tanyakan pengaruh siapa, saya rasa tidak ada karena saya menulis sesuai dengan apa yang di nurani saya. Misalnya pada tahun 1998, saya menulis satu cerpen judulnya "Jaring-Jaring Merah". Itu sebenarnya cerpen pasca DOM. Saya mengalami teror yang cukup serius hanya gara-gara cerpen itu. Cerpen itu menjadi salah satu cerpen terbaik selama 10 tahun terakhir versi majalah sastra Harison. Tapi saya tidak kapok dan saya membuat lagi cerpen tahun 2000 yang ditulis dalam dua bahasa. berjudulnya "Lelaki Kabut dan Boneka". Cerpen itu bercerita tentang pemboman di Indonesia yang tidak terungkap siapa sebenarnya yang melakukan pemboman tersebut makanya saya menyebut si pelaku sebagai "Lelaki Kabut". Kita tahu dia ada tapi sampai saat ini tidak tersibak, dia selalu ada di balik kabut. Setelah cerpen itu dipublikasikan, saya sampai diundang ke Amerika hanya karena kumpulan-kumpulan cerpen ini. Kemudian masuk surat kepada saya dan juga sms seperti ini "Helvy, saya akan melakukan pemboman pada waktu dekat, dari lelaki kabut".

Maka jika ditanya apakah ada yang mempengaruhi, saya rasa tidak juga karena saya menulis apa yang ada di nurani saya. Tapi yang jelas saya membaca karya-karya Jehad Rajbi dari Palestina, dia lebih muda dari pada saya tapi karya-karyanya bagus. Saya sangat suka Hans Christian Andersen sejak saya kecil sampai sekarang. Kemudian saya juga suka Vaclac Havel, dia juga menulis naskah drama. Hendrick Ibsen dengan naskah-naskah dramanya. Kalau di Indonesia saya sangat suka dengan Putu Wijaya dengan "Teror"-nya. Tapi saya tidak tahu saya terpengaruh oleh siapa.

Darimana anda mengakses karya-karya seperti itu, yang mungkin buat anak-anak muda pada saat anda muda, barangkali bukan sesuatu yang menarik?

Saya sangat menghargai semua guru bahasa saya, karena mereka punya peran yang besar untuk menjadikan saya seperti sekarang ini. Bahkan saya masih ingat nama-nama mereka, Ibu Winarti, Ibu Suamah. Pada waktu SMP, ada Pak Muhidin, kemudian Pak Ismail Marhimin di UI. Mereka orang-orang yang sangat memperhatikan bakat saya dan membantu saya. Ketika SMP saya punya seorang guru yang selalu memberi saya buku-buku yang dibacanya. Sehingga walaupun saya tidak mampu membeli buku waktu itu, saya selalu berlama-lama di perpustakaan dan kemudian selalu meminjam dari guru bahasa. Kemudian mereka bilang, "Bisa tidak kamu menulis seperti ini, nilai mengarang kamu sangat bagus, bapak yakin suatu ketika kamu bisa menulis seperti ini."Jadi mereka memberikan semangat dan itu sebenarnya yang juga sekarang saya lakukan kepada teman-teman di Forum Lingkar Pena. Target Lingkar Pena adalah meluncurkan satu penulis baru setiap bulannya dari setiap daerah. Jadi harus muncul seorang penulis baru dari hasil workshop dan itu berhasil.

Kalau tadi saya singgung soal sastra politik. Sebenarnya ada persoalan yang terjadi di masa lalu, tentang pertikaian politik yang mempengaruhi dunia sastra. Itu sebenarnya agenda sendiri dari kalangan sastrawan. Sejauhmana anda melihat persoalan itu, terutama berkaitan dengan anda sendiri?

Di dalam sastra sendiri sekarang ini banyak kantong-kantong sastra. Kalau saya, ingin berteman dengan semuanya. Saya dan juga teman-teman Komite Dewan Kesenian Jakarta sepakat bahwa kita tidak ingin mewarisi dosa masa lalu dan tidak ingin mewarisi konflik masa lalu. Misalnya ada ketidakenakan antara Pramoedya dengan Taufik, dengan Muchtar Lubis. Kemudian dengan yang lain seperti Sitor Situmorang dengan Taufik dan sebagainya. Buat kami mereka itu adalah orang-orang hebat dan guru-guru kami, sehingga kami (Dewan Kesenian Jakarta) mengundang mereka semua juga. Artinya tiap orang bisa berkreasi di sini. Ketika Sitor Situmorang kemarin ulang tahun yang ke-80 kami juga memfasilitasi, kami mengundang Taufik untuk membaca puisi dalam acara yang lain. Jadi kami tidak ingin mewarisi konflik-konflik sastra antara manifesto kebudayaan, dengan Lekra dan sebagainya. Sekarang yang harus dibuka adalah lembaran baru.

Anda tidak yakin bahwa itu akan ada pengaruh di kalangan sastrawan mukhtahir sekarang ini?

Saya rasa ada pengaruh. Ada yang mungkin merasa bahwa karya-karyanya adalah karya-karya kiri, karya-karya kanan. Tapi buat saya kalau kita ingin mencerahkan bangsa ini, kita tidak usah terlalu terkotak-kotak seperti itu. Yang penting kita berkarya sebaik-baiknya, mencerahkan diri kita dengan karya itu dan mencerahkan orang lain dengan karya kita, walaupun hanya setitik, dan menutup lembaran kelam. Kalau memang itu lembaran kelam, kenapa kita tidak membuka lembaran baru yang lebih bercahaya.

Anda dikenal juga sebagai ibu seorang penyair yang paling muda barangkali di Indonesia dan diakui juga di kalangan penyair. Sebenarnya bagaimana komunikasi anda di dalam keluarga sehingga sastra menjadi bagian dari kehidupan keluarga anda?

Saya yakin bahwa sastra mempunyai peranan yang penting dalam memperhalus budi pekerti suatu masyarakat. Suami saya itu dulu mengambil Jurusan Ekonomi tapi dia sejak SMP dia sudah membaca karya-karya Budi Darma, Danarto, sehingga pendekatan kami kepada anak juga hampir sama. Bahwa sastra juga penting, matematika juga penting.

Saya punya kebiasaan ketika anak saya kecil, sejak dia bisa berbicara saya merekam semua celotehnya dan sampai suatu hari sekitar umur 2,5 tahun, dia berkata "Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga". Pada saat itu saya langsung berpikir, ini sangat filosofis. Saya saja tidak pernah menemukan kata-kata seperti itu "Mencintai bunda seperti mencintai surga". Maka sejak itu saya mulai memantau perkembangan bahasanya dan ternyata cara dia berbicara sedikit berbeda dalam mengungkapkan perasaannya kepada saya. Dan saya berkata kepadanya ketika umurnya 4 tahun, "Nak, insya Allah umur 5 tahun, kamu sudah bisa menulis puisi-puisi kamu di komputer", karena dia sudah berinteraksi dengan komputer sejak usia 3 tahun dan setelah usia 5 tahun dia mulai menulis puisi-puisinya di komputer. Kemudian umur 8 tahun dia sudah punya buku pertama, kemudian buku kedua. Sudah dua bukunya yang terbit, insya Allah bulan Januari akan terbit buku yang ketiga.

Bagaimana anda terus menjaga semangat untuk menulis dengan tema, karya dan pikiran-pikiran baru, sehingga mungkin anda juga tidak ingin digolongkan orang yang berkarya secara monoton?

Mungkin saya banyak belajar juga dari anak saya, bahwa sebuah karya itu akan lahir dari empati kita terhadap sesuatu yang bisa menyentuh nurani kita. Saya banyak belajar dari Faiz anak saya, dia punya empati yang sangat tinggi dan itu membuat dia berkesinambungan, terus berkarya. Ketika melihat sesuatu, ketika merasakan sesuatu dia berkarya. Begitu juga ketika kita mau membuka hati dan kemudian berinteraksi, bukan hanya dengan jasa tapi juga dengan ruhiyah, dengan empati yang tinggi, itu juga akan mengasah nurani kita untuk melahirkan karya-karya.

Bersamaan dengan anda juga ada sastrawan-sastrawan perempuan sebutlah Nukila Amal, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari dan lain sebagainya. Mereka juga menulis dengan tema yang berbeda, cara yang berbeda, dengan penyampaian yang berbeda. Bagaimana interaksi diantara anda dengan kalangan sastrawan-sastrawan ini dan tentu saja dengan banyak sastrawan selain yang di Dewan Kesenian Jakarta?

Saya rasa saya menjalin hubungan dengan mereka semua cukup baik, minimal dengan saling mengirim SMS. Kalau ada yang akan meluncurkan buku maka saya datang, begitu juga sebaliknya walaupun ada kendala jarak dan sebagainya. Jadi tidak pernah ada permasalahan bagi kami walaupun aliran-alirannya berbeda, saya rasa tidak ada masalah. Yang jelas kita harus terus menulis dan memberikan yang terbaik. Saya rasa hubungan kami baik-baik saja, saya menghargai mereka dan mereka juga menghargai saya.

Maksud saya adalah forum-forum interaksi di luar Dewan Kesenian Jakarta. Kalau yang kita dengar ada Forum Lingkar Pena, sejauhmana anda berintraksi dengan forum itu?

Kalau Forum Lingkar Pena lebih banyak kegiatannya untuk mereka-mereka yang awalnya belum bisa menulis, kita coba supaya mereka jadi bisa menulis, dan bagi yang sudah bisa menulis kita coba mereka agar mahir menulis. Beberapa kali juga kami mengundang dari kalangan teman-teman sastrawan untuk mengisi acara di Forum Lingkar Pena. Tapi dari intensitas pertemuan yang paling tinggi di kantong-kantong sastra, sehingga masing-masing kalau mengadakan kegiatan selalu ada undangan dan disitulah bisa hadir.

Kemarin juga belum lama ini Dewan Kesenian Jakarta mengadakan temu sastra Jakarta dan kemudian mengadakan pameran kantong-kantong sastra yang diikuti oleh dari teman-teman dari Komunitas Sastra Indonesia, CWI (Creative Write Institute), Utan Kayu, Forum Lingkar Pena dan lain-lain. Jadi saya rasa kita selalu ketemu di persimpangan sastra, di jalan-jalan sastra kami selalu bertemu.

Saya tidak seberuntung anda, sekalipun saya juga belajar menulis tapi semua itu masih jauh dari harapan saya. Kepada orang-orang muda misalnya seperti saya, yang menulis tidak karuan, kemudian mungkin teman-teman lain-lain yang barangkali mau belajar menulis tapi tidak berani, mungkin juga ada yang menulis tapi tidak yakin bahwa itu baik, apa pesan anda?

Menurut saya kalau kita ingin menjadi penulis bagi yang belum jadi penulis, tentu saja diantaranya harus banyak membaca. Kalau berdasarkan pengalaman saya, sejak kecil biasa menulis catatan harian, apalagi sekarang ada semacam block di internet yang bisa mencatatkan catatan harian secara online, sepertinya menarik. Baru-baru ini ada seorang dari Irak yang menerbitkan bukunya karena dia menulis catatan hariannya secara on line tentang kejadian di Irak. Kemudian juga alangkah sangat membantu kalau kita punya komunitas karena komunitas itu akan men-support kita dengan bedah karya dan sebagainya. Jadi saran saya, terus berkarya karena menulis itu sama dengan berlatih kungfu. Sekarang juga kami di Forum Lingkar Pena sedang bertahap mendirikan rumah-rumah cahaya, inginnya bisa ada di seluruh Indonesia. Rumah cahaya itu rumah baca dan menghasilkan karya, jadi di sana bukan sekedar taman bacaan tapi bagaimana adik-adik yang datang ke sana, kalangan umum maupun anak-anak dan remaja bisa diajarkan menulis secara gratis terutama untuk kaum dhuafa. Tidak mudah untuk mendapatkan dana pendirian Rumah Cahaya sehingga kami kadang-kadang untuk bisa mendirikan atau men-support rumah cahaya sampai berjualan baju bekas.

Tapi kami senang karena sekarang ini di Jabotabek saja sudah ada tiga Rumah Cahaya dan di seluruh Indonesia paling tidak minimal di setiap sekretariat wilayah ada Rumah Cahaya. Saat ini sudah ada 30 FLP wilayah di seluruh Indonesia ditambah cabang-cabang lain di luar negeri dan kalau misalnya ada pendengar yang ingin menyumbangkan buku-buku bisa bawa langsung ke Rumah Cahaya.

Kalau untuk sekretariat pusat FLP dan di Rumah Cahaya itu ada di Jl. Keadilan Raya no 13 Depok Timur. Silahkan berkunjung, Rumah Cahaya-nya cukup artistik dan di situ banyak anak-anak yang mampu maupun tidak mampu membaca dan berlatih untuk bisa menulis.