Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

M. Kusnaeni

Untuk Meraih Prestasi, Harus Ada Api Di Dada Pemain

Edisi 461 | 10 Jan 2005 | Cetak Artikel Ini

Halo, selamat berjumpa kembali. Mudah-mudahan anda baik-baik saja. Saya Wimar Witoelar, kita bertemu kembali di acara kita Perspektif Baru. Saya sangat gembira karena wawancara hari ini menyangkut kegemaran saya. Yang saya maksud kegemaran saya adalah sepak bola. Dulu saya suka main, tapi saya rasa saya lebih berkembang sebagai penonton daripada pemain. Di usia saya sekarangpun, saya masih bisa melanjutkan pekerjaan saya menonton sepak bola. Kalau dulu waktu kecil, mengikuti pertandingan langsung sepak bola pilihannya terbatas, menonton langsung atau mendengar di radio. Kalau mendengar radio, kita sesungguhnya tidak tahu apa yang terjadi, kita percaya saja pada penyiar. Sekarang ada TV, jadi kita bisa melihat gerakannya, bisa mendengar komentatornya. Karena itu komentator bola menjadi berat tugasnya, sebab dia tidak bisa ngibul, dia tidak bisa bilang gol padahal tidak gol, atau offside padahal tidak offside. Jadi sangat jarang komentator sepak bola yang terpercaya dan berkualitas. Menurut saya, menurut banyak orang, salah satu yang paling handal adalah tamu kita, Mohammad Kusnaeni, biasa dipanggil Bung Kus

Pertanyaan pertama yang dari dulu ingin saya tanyakan kepada komentator sepak bola, bagaimana bisa hafal nama-nama pemain?

Kebetulan ini masalah latar belakang juga, karena saya menggemari sepak bola sama tuanya dengan usia saya. Kalau Kang Wimar menggemari sepak bola sejak kecil, saya pun demikian dan kebetulan saya juga tidak sekedar menggemari tapi juga intens. Sejak kecil saya punya hobi mengumpulkan foto-foto pemain yang saya dapat dari Koran, kemudian saya kliping, saya simpan dalam buku. Sampai hari inipun sebagian masih saya simpan klipingnya dan saya tidak pernah berhenti dengan kesukaan saya. Makanya boleh dibilang makanan sehari-hari saya selain nasi, ya sepak bola.

Saya sarankan kliping-kliping itu di-scan, dimasukkan ke CD, supaya tidak rusak, karena berharga. Baiklah, pemain-pemain itu anda kenal di masa kecil anda. Sepak bola sangat dinamis, mending kalau orang Indonesia, namanya paling Kusnaeni, Budi, Anto atau Abdullah. Demikian juga pemain Italia, kita sudah familiar seperti Betega, Del Piero, Mancini. Anda masih bisa ikuti siapa saja pemain Polandia, Ukraina, atau Yunani?

Saya juga beruntung karena saya bekerja di majalah sepak bola, Majalah Sportif. Jadi antara hobi dan kerja. Kadang-kadang saya samar, sebetulnya saya sedang mengerjakan pekerjaan saya atau hobi saya? Jadi praktis keberuntungan saya adalah saya bekerja di dunia yang merupakan hobi saya. Karena saya bekerja di dunia sepak bola, maka otomatis saya terus mengikuti perkembangannya. Setidaknya dalam sehari saya membuka internet yang berkaitan dengan sepak bola itu empat jam. Artinya kesempatan saya untuk mengenali nama-nama pemain, mengenali perkembangannya bahkan mengikuti dinamikanya sangat besar.

Pada saat suatu kesebelasan turun ke lapangan, banyak pemain yang sudah anda kenal namanya. Tapi pada waktu komentar berlangsung, apakah anda ada kertas referensi untuk mencocokkan nama dengan pemain? Masa anda ingat 22 pemain selama sekian ratus pertandingan?

Ya, tentu saja tidak. Pada saat siaran berlangsung, saya berkewajiban untuk melakukan reportase. Saya selalu didukung oleh data-data yang sudah saya siapkan sejak awal. Barangkali perbedaan saya dengan banyak komentator lain, saya selalu merasa bahwa saya ini tidak pintar. Sehingga pada saat mau siaran, saya selalu menyiapkan diri dengan baik. Minimal empat jam sebelum siaran menyiapkan semuanya. Nama pemain, latar belakangnya, usianya, track record-nya seperti apa, sehingga ketika saya muncul di televisi, saya siap. Sementara banyak komentator yang memang pada dasarnya sudah jago, misalnya sebagai mantan pemain bola, sehingga mungkin mereka sudah punya kesiapan. Walau tidak melakukan persiapan, mereka sudah siap. Saya merasa tidak pintar dan tidak punya background (sebagai pemain), jadi saya mempersiapkan diri lebih baik dibanding mereka. Lebih seriuslah.

Itu profesionalisme saya kira, bukan hanya background. Anda memandang pekerjaan ini walaupun hobi, tapi sesuatu yang profesional. Apakah anda memberi komentar sama banyaknya antara pertandingan luar negeri dan pertandingan dalam negeri?

Ya, selama ini saya lebih banyak mendapat kesempatan untuk bicara sepak bola internasional melalui televisi. Tapi melalui forum di luar televisi, saya juga cukup banyak bicara mengenai sepak bola nasional.

Saya jadi ingin tanya, ada klub asing kelas Champion Cup yang anda hapal seluruh susunannya?

Cukup banyak, salah satunya Liverpool. Pemain Liverpool, penjaga gawangnya tentu saja Jerzy Dudek. Di belakang, punya empat pemain belakang, bek kanan ada Jamie Carragher, kalau tidak Jamie Carragher biasanya Steve Finnan. Kemudian dua di tengahnya, biasanya di sini ada Stephane Henchoz kemudian Sami Hyppia. Pada posisi bek kiri ditempati John Arne Riise, bisa menggunakan banyak pemain lain, tapi biasanya John Arne Riise. Di tengah Liverpool menggunakan empat pemain gelandang, meskipun tidak selalu gelandang sayap. Misalnya ada gelandang tengah yang dimainkan di kanan, tapi selalu menggunakan empat gelandang. Posisi itu biasa ditempati Steve Finnan, kalau tidak Steve Finnan dipasang Luis Garcia. Di tengah ada Dietmar Hamann, bisa dipasang Steven Gerrard atau Xabi Alonso. Di kiri ditempati Harry Kewel. Posisi depan atau posisi menyerang dipasang dua pemain penyerang, dua posisi itu bisa ditempati beberapa pemain. Tapi belakangan yang paling sering dipasang adalah Milan Baros. Sedangkan yang satu lagi bisa dipilih, misalnya Harry Kewel didorong ke depan. Tapi terakhir dia tidak pasang Kewell tapi pasang pemain muda Neil Mellor.

Saya ngangguk-ngangguk aja. Jadi sepak bola adalah kegemaran anda, kegemaran saya, tapi belum tentu kegemaran semua pembaca Perspektif Baru. Hal yang perlu saya tonjolkan adalah mengenai pekerjaan anda yang sangat menantang dan professional. Persiapannya saja tadi empat jam dan juga harus jujur, tidak bisa dipalsukan. Tidak bisa bilang pemain A mengirim bola ke B, padahal fakta di lapangan tidak. Kalau memberikan komentar itu tentu tidak melakukan keberpihakan, jadi anda harus mempertahankan netralitas. Liverpool tim anda, kalau Liverpool main lawan Everton, anda dukung siapa?

Liverpool, karena kebetulan saya lebih suka Liverpool daripada Everton. Yang lucu barangkali ini, background ceritanya, saya punya kecenderungan menyukai tim-tim yang merupakan tim sempalan dari tim utamanya. Jadi Liverpool itu sempalan dari Everton. Saya lebih suka Liverpool.

Maksud sempalan apa?

Sempalan itu adalah tim yang dibentuk kemudian.

Saya tidak tahu kalau Everton duluan, baru Liverpool.

Ya, di Milan contohnya. Ada AC Milan dan Inter Milan. Saya lebih suka Inter Milan daripada AC Milan. Karena Inter Milan itu sempalan dari AC Milan. Tidak tahu kenapa, mungkin karena saya termasuk kelompok yang lebih suka tim-tim yang berjuang untuk mencapai sesuatu daripada tim-tim yang sudah cenderung mapan.

Jadi lebih senang Jusuf Kalla atau SBY? Ha…ha..ha.. Tidak usah dijawab ya. Kalau begitu kita beda kubu, saya lebih senang Everton dari Liverpool dan jelas lebih senang AC Milan dari Inter. Tapi bukan karena sempalan, AC Milan saya senang karena ada Gullit, Rijkard, dan Van Basten. Pasti orang yang senang sepak bola, kalau dengar begini sudah tidak mau dengar apa-apa. Kalau anda lihat sekarang persaingan yang paling bagus dilihat di dunia, Eropa barangkali, persaingan antar tim mana yang paling keras?

Saya sekarang ini justru sangat intens mengikuti perkembangan Liga Inggris. Saya ingin melihat sejauh mana kekuatan mesin uang bisa membeli sebuah gelar "juara". Sekarang ini saya sangat terkagum-kagum bagaimana Chelsea membangun sebuah tim dengan investasi yang begitu besar. Ratusan juta pounds sudah dikeluarkan dan masih akan terus dibelanjakan lagi jumlah yang sangat besar untuk membeli pemain baru. Sejauhmana kekuatan mesin uang itu bisa mengumpulkan pemain terbaik, bisa membentuk sebuah tim dan mampu membeli gelar juara Liga Inggris. Hal yang selama ini sulit dilakukan oleh banyak tim lain. Dulu Leeds United pernah mencoba melakukan itu, tapi mereka gagal meraih gelar juara. Kemudian di Italia, kita sudah tahu bagaimana Parma pernah belanja pemain yang sangat luar biasa, juga gagal. Real Madrid saya kira jadi contoh kasus yang sangat menarik. Bagaimana sebuah tim dibangun dengan menggunakan pemain-pemain yang sedang berada dipuncak kemampuannya. Tapi sejauh ini saya tidak melihat bahwa mereka mampu membuat potensi yang besar menjadi sebuah kekuatan.

Dua tim yang menurut anda layak dianggap bersaing walaupun barangkali terlalu cepat bertemu di perempat final Champions Cup, tim mana?

Saya lihat tim yang paling kuat dari segi kemampuan bermain, dari segi konsistensi penampilan, Chelsea salah satunya. Satu lagi yang menurut saya punya kemampuan untuk menjadi tim besar meskipun kita masih harus melihatnya sampai akhir musim, yaitu Bercelona. Perbedaan Chelsea dengan Barcelona justru menjadi daya tariknya. Chelsea dibangun melalui kekuatan mesin uang yang luar biasa, sementara Barcelona dibangun dengan mengandalkan talenta individu dan kharisma pelatihnya. Dua hal yang sangat berbeda tapi justru akan sangat menarik kalau ditunggu sampai pertemuan mereka di perempat final Liga Champion. Kita tunggu kemampuan mereka ketika bertemu, kita lihat siapa diantara mereka yang lebih mempunyai kemampuan menjadi pemenang.

Saya pikir yang paling banyak uangnya adalah Manchester United. Tim lain yang kuat adalah Arsenal, tahun lalu jadi juara liga. Bagaimana perbandingan Manchester United, Arsenal, dan Chelsea tahun ini?

Kalau dari segi kekuatan finansial, secara formal, memang Manchester United (MU) lebih kaya daripada Chelsea. Tapi itu kan di pasar modal, sementara pemilik Chelsea Roman Abramovich, orang tidak masuk pasar modal di Inggris. Dan kekuatan mesin uangnya di Rusia sana jauh lebih besar daripada yang dimiliki oleh para pemegang saham MU. Karena itu, dari segi kemampuan modal Chelsea lebih kuat daripada MU. Tapi terlepas dari soal modal, kalau kita lihat perbandingan ketiga tim ini pada saat bermain, ada satu hal yang membedakan. MU, Arsenal dan Chelsea, ketiga-tiganya punya materi pemain yang seimbang. Ketiga-tiganya punya mental juara, karena kebetulan dihuni pemain-pemain yang kemampuannya merata. Tapi pemain MU dan pemain Arsenal, main di lapangan sekarang tidak lagi punya api di dadanya. Kalau menurut saya, apinya itu yang membuat Chelsea bisa main setiap saat. Tidak hanya sekedar ngotot tapi juga punya keinginan untuk harus menang. Dalam istilah sepak bola, saya menyebutnya "api di dada pemain". Kalau pemain punya api di dada, dia tidak akan sekedar main bagus, tapi juga keinginan untuk menang. Itu yang membedakan MU dulu dengan sekarang. Dulu, setiap kali main, tim lawan pasti takut karena mereka tahu bahwa pemain MU pasti akan mencoba mencapai kemenangan dengan cara apapun. Makanya sampai menit ke-90, orang tidak yakin bahwa mereka sudah menang atas MU. Dua menit terakhir di Liga Champion bisa membuat Bayern Munchen menangis. Itu yang membuat MU dulu sangat ditakuti. Sekarang api itu tidak ada lagi di dada pemain MU. Apinya mungkin sudah pindah sejak Beckham pergi, sejak Roy Keane menurun, dan lain sebagainya.

Uang berpengaruh terhadap sepak bola, karena bisa membeli suatu prestasi. Lepas dari komentar itu, maaf saja saya sudah agak kapok lihat Indonesia/PSSI. Bukan tidak senang, tapi justru menjadi sangat sedih kalau kalah. Biasanya yang terjadi, PSSI main cantik tapi tidak bikin gol. Namun dalam Tiger Cup ini, sudah mainnya bagus, golnya banyak pula. Apa yang membedakan tim Indonesia sekarang dari yang dulu. Apakah pemainnya secara individu, pelatihnya, uang atau apa?

Kalau kita lihat kemampuan pemain generasi sekarang dengan generasi katakanlah 10-20 tahun yang lalu, kemampuan individu mereka lebih tinggi. Mereka beruntung karena pada jaman sekarang ini bisa belajar banyak. Tayangan TV luar bisa banyaknya, mereka tiap minggu bisa melihat bagaimana kombinasi atau umpan yang bagus seperti apa. Atau penyelesaian akhir yang bagus itu seperti ini, misalnya. Mereka bisa mempraktekkannya di lapangan, mungkin secara tidak sadar, mungkin sadar juga, saya tidak tahu persis. Tapi mereka punya kemampuan untuk memperbaiki diri jauh lebih besar daripada pemain pada masa sebelumnya. Dan terbukti di lapangan, secara teknik individu mereka bagus. Yang membuat mereka sekarang ini lebih menonjol permainannya dibanding generasi 10-20 tahun yang lalu. Indonesia terakhir main bagus tahun 1986, jamannya Aliandu membawa PSSI ke juara Sub Group III B. Itu terakhir kali saya lihat Indonesia main bagus. Sesudah itu tim nasional kita cenderung menurun-menurun, baru sekarang kita bisa lihat mereka main bagus.

Aliandu sebagai pemain?

Sebagai pelatih. Masih jamannya Warta Kusuma, Marzuki Nyakmad. Itu terakhir kali mereka main bagus sebagai tim. Sesudah itu Indonesia tidak pernah mampu bermain sebagai tim yang bagus. Baru sekarang ini Indonesia tampil dengan sebuah tim yang bermain bagus. Terlepas dari soal kelebihan individu tadi, saya melihat dua hal menarik, pemain Indonesia main di tim nasional berbeda dengan main di klub. Itu yang selalu terjadi. Kedua, pemain Indonesia ini…

Berbedanya itu lebih bagus atau lebih buruk?

Tidak pernah pemain Indonesia main di klub kemampuannya sama dengan di tim nasional. Itu terjadi karena banyak faktor. Saya lihat faktornya terutama karena pelatih. Peter Withe menangani tim nasional punya kemampuan untuk membawa pemain, menggali kemampuan pemain yang ada di tingkat klub itu muncul di tim nasional. Itu kemampuan yang tidak pernah dimunculkan oleh pelatih-pelatih sebelumnya. Peter Withe punya kemampuan itu dan itu sudah dia tunjukkan waktu (menangani) Thailand. Ketika menangani timnas Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama.

Menurut anda salah satu faktor kekuatan tim nasional Indonesia berprestasi gemilang di Tiger Cup adalah pelatih yang mampu mengangkat kemampuan pemain, juga kualitas individu masing-masing pemain. Siapa yang menonjol? Kalau dengar komentator itu disebut Boas. Siapa lagi? Terus bagaimana bandingannya dengan pemain besar masa lalu?

Sekarang ini menurut saya tim nasional ini sudah agak lengkap. Bedanya dengan masa-masa sebelumnya barangkali kita tidak pernah punya tim yang lengkap kemampuannya. Di tim sekarang ini, saya melihat agak lengkap. Di belakang ada penjaga gawang yang dengan standar Indonesia sudah bisa dibilang sangat bagus saat ini, Hendro Kartiko. Lebih beruntung lagi kerena di depannya ada pemain belakang yang bagus. Saya melihat bahwa di belakang, Indonesia beruntung punya pemain seperti Charis Yulianto yang punya skill bagus, tapi tidak punya kecenderungan untuk menguasai tim dari belakang. Karena menurut banyak pemain, salah satu kelemahan bek-bek sebelumnya seperti Sugiantoro atau Nur Alim, kecenderungan menguasai tim dari belakang dan cenderung tidak mampu bekerjasama dengan baik dengan pemain-pemain yang lain. Charis Yulianto, mendedikasikan kemampuannya, permainannya di lapangan untuk tim. Itu yang membuat lini belakang lebih solid dibanding sebelumnya. Kemudian di tengah saya melihat Indonesia juga beruntung saat ini punya pemain yang mempunyai kepemimpinan seperti Ponaryo Astaman. Menurut saya, dia salah satu gelandang yang terbaik dalam lima enam tahun belakangan ini. Di depan saya melihat kuncinya itu bukan Boas Salossa, saya melihat kemampuannya ada di Ilham. Pemain seperti Boas memang bagus, tapi sesungguhnya pemain seperti Boas hanya akan efektif apabila di depannya ada juga penyerang yang bagus. Seandainya di sana tidak ada Ilham, mungkin kemampuan Boas ini akan tersia-sia. Saya masih ingat dulu Indonesia pernah punya gelandang kiri yang sangat bagus, Moah Mariam. Dia mainnya juga kurang lebih sama seperti Boas sekarang, tapi pada saat itu kita juga tidak punya penyerang yang bagus. Kemampuan Moah Mariam jadi sia-sia, artinya tidak pernah prestasinya sebagus yang dicapai sekarang ini.

Bung Kus, waktu saya menonton Indonesia-Vietnam, saya pikir kita akan kalah atau seri dengan bermain bagus. Dari mata awam, seakan-akan permainan tengah dikuasai Vietnam. Dari segi angka-angka, kita punya penyerang yang tajam dan kita punya kiper yang bagus, tapi sepertinya kita kalah di lapangan tengah. Kesan itu betul atau salah?

Benar, bahkan jujur sebetulnya bukan hanya di lapangan tengah, secara keseluruhan Vietnam bermain lebih bagus daripada Indonesia. Kita bisa memenangkan pertandingan menurut saya karena Indonesia punya beberapa pemain yang skill-nya sangat bagus yang pada saat tertentu bisa sangat diharapkan. Sebuah tim yang bagus memang biasanya harus punya pemain, yang bukan satu sebetulnya, tapi lebih dari satu minimal di tiap sektor. Di tengah, di depan, di belakang, yang secara individu punya kemampuan memenangkan pertandingan. Tidak semua tim memilikinya. Seperti halnya pada masa Liverpool era 1990-an di tangan Gerard Houllier, secara tim mereka tidak pernah punya kemampuan yang luar biasa. Tapi mereka punya satu pemain yang bisa mematikan pertandingan dengan kemampuan individunya yaitu Michael Owen. Itu yang membuat Liverpool pada tahun 2001 sempat meraih treble (yakni juara Piala Liga, Piala FA, Piala UEFA-red) padahal secara keseluruhan tim itu tidak istimewa. Mereka punya Michael Owen yang secara individu bisa membuat timnya menang dengan kemampuannya yang baik dalam penyelesaian akhir, dengan penetrasinya yang luar biasa. Setiap tim butuh pemain seperti itu, apakah dia striker, gelandang yang mempunyai kemampuan passing luar biasa, atau pemain belakang. Cuma punya pemain depan yang luar biasa lebih menguntungkan daripada dua pemain lainnya, pemain gelandang atau pemain belakang.

Bung Kus, kalau dibuat perbandingan, bagaimana hasinya kalau Hendro Kartiko dibandingkan dengan Yuro Hardianto, Roni Pasla, Saelan yang sudah menjadi legenda persepakbolaan kita? Apakah Hendro akan besar sepanjang masa atau hanya besar dalam lima tahun ini? Bagaimana perbandingan Roni Suryantoro dengan Iswadi sebagai pemain belakang, Ronny Pattinasarany atau Marzuki Nyakmad? Terus bagaimana di posisi penyerang tengah dan depan dibandingkan dengan Aliandu atau Sutjipto? Ada dimana kira-kira level tim nasional kita sekarang?

Kalau dari segi teknik individu, saya sangat percaya pemain dari generasi sekarang ini punya kemampuan lebih baik dari generasi sebelumnya. Itu tadi saya katakan bahwa mereka punya kesempatan belajar lebih banyak, punya rujukan yang lebih banyak. Bedanya, pemain dari generasi sekarang ini tidak memiliki keistimewaan yang menonjol dibanding generasi sebelumnya. Kalau kita lihat di depan, Ilham itu kelebihannnya apa? Saya cuma melihat bahwa kelebihan dia sebagai striker secara keseluruhan, ngotot, finishing-nya bagus, nalurinya bagus. Tapi keistimewaanya apa? Orang tidak pernah tahu. Tapi kalau kita menyebut nama Yacob Sihasale, oh..heading-nya luar biasa. Kalau kita menyebut nama Risdianto, oh..tipu-tipunya luar biasa. Sama seperti sekarang Boas, apanya yang luar biasa? Skill-nya luar biasa, tapi kita masih harus melihat dalam rentang waktu misalnya lima tahun apakah itu bisa bertahan. Tapi Andi Lala, seumur hidup akan dikenal orang dengan larinya yang luar biasa, karena penetrasinya dari sayap kiri yang tidak terbendung. Sama saya kira di sektor yang lain juga. Pemain kita saat ini rata-rata tidak mempunyai keistimewaan yang membuat dia memiliki identifikasi "product" yang jelas. Pemain pada masa lalu walaupun tekniknya tidak seistimewa pemain sekarang, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri. Jacob dengan heading-nya, Risdianto dengan trik-triknya di kotak pinalti, Iswadi dengan kemampuan passing yang luar biasa, Oyong Liza dengan tackling-nya yang sangat keras.

Apakah anda sefasih ini dalam bidang ilmiah anda? Gelar sarjana dari ITB itu bidang apa?

Kimia, tapi saya kira saya sudah sangat lama melupakan mata kuliah yang pernah saya ambil itu.

Saya baca katanya pernah kerja di pabrik kondom, begitu?

Ha.. ha… ha…(tertawa).

Itu puncak karirnya ya? Ha.. ha..ha.. (tertawa), anda tidak menyesal meninggalkan teknik ke-ITB-an anda?

Dalam hidup ini saya punya prinsip, mengalir itu selalu lebih baik daripada kita memaksakan diri untuk mencapai sesuatu.

Bung Kus, waktu di ITB aktif sepak bola tidak di kampus?

Tidak begitu. Ha.. ha.. ha.. (tertawa).

Sekarang kalau begitu, kalau mau bikin acara besar Sepak Bola Award, menurut anda siapa tiga pemain terbesar sepanjang masa? Tanpa kualifikasi, pokoknya pemain terbesar ketiga dan jurinya adalah Bung Kus.

Kalau ukuran-ukuran yang dipakai tidak seperti itu, tentu subjektifitas saya yang sangat besar. Saya tidak pernah secara langsung melihat pemain-pemain dari generasi 1950-an yang menurut banyak orang kemampuannya sangat luar biasa. Tapi saya tidak sempat melihat, oleh karena itu dengan segala maaf, saya tidak bisa menyebut sebagian besar nama itu. Tapi saya melihat bahwa kalau ukuran itu bebas, tidak berdasarkan posisi, tidak berdasarkan prestasi, saya melihat salah satu pemain yang luar biasa pada masa itu adalah Sutjipto Soentoro. Saya harus menempatkan dia minimal di urutan ketiga. Shooting-nya luar biasa, kontrol bolanya, penyelesaian akhirnya dan menurut saya lebih dari itu. Dia seorang pemain yang bisa membuat timnya bermain untuk dirinya atau bermain untuk timnya. Dia bisa melakukan itu karena dia seorang pemain yang punya kemampuan mempengaruhi orang lain. Itu sudah ditunjukkannya sekalipun ia pensiun. Dia yang bisa mengumpulkan semua mantan pemain nasional kalau mau ada reuni, mau ada pertemuan.

Kepemimpinannya?

Leadership-nya luar biasa. Om Tjipto saya biasa panggil beliau. Saya harus menempatkan beliau minimal di posisi ketiga. Kemudian satu lagi nama yang harus saya pilih pada posisi berikutnya, barangkali Kang Hery Kiswanto. Bukan karena saya kebetulan sama-sama berasal dari kultur yang sama, tapi Kang Hery ini menurut saya salah satu pemain yang meskipun prestasinya tidak menonjol, tapi salah satu pemain yang pada generasinya itu memiliki kemampuan diatas pemain yang lain. Sebagai gelandang bertahan bagus dan libero yang bagus. Lebih dari itu, Kang Hery menurut saya pemain yang diakui atau tidak, selalu dibutuhkan timnya. Hendak pensiunpun masih diberatkan oleh PSSI maupun oleh banyak pemain, "Nanti saja pensiunnya, main dulu". Pemain seperti itu menurut saya yang luar biasa. Pemain yang kehendak pribadinya selalu dihalangi oleh kebutuhan masyarakat atau kebutuhan timnya. Kang Hery harus saya tempatkan di posisi kedua sesudah Om Tjipto. Satu lagi nama yang menurut saya, ini sekali lagi sangat subjektif, adalah Robby Darwis. Sulit sekali bagi orang lain untuk memahami bagaimana Robby Darwis itu penting. Tapi menurut saya tidak banyak pemain dari generasinya, kebetulan Robby Darwis ini lebih dekat masanya dengan saya. Tidak banyak pemain pada masanya yang kontribusinya untuk tim sendiri maupun tim nasional sebesar dia. Robby Darwis bermain untuk tim nasional lebih dari sepuluh tahun. Robby Darwis bermain untuk Persib juga lebih dari 12 tahun dan sepanjang masa itu dia sangat konsisten mainnya. Sepanjang masa itu, tim nasional mendapatkan medali emas di Sea Games. Persib sebagai tim yang sangat tidak dijagokan menjadi juara Liga Indonesia. Dia salah satu pemain yang kemampuannya diakui oleh negara-negara ASEAN. Akhirnya dia dibeli oleh salah satu klub Malaysia, walaupun cuma satu kali main. Menurut saya, Robby Darwis dengan segala kelemahannya adalah salah satu pemain terbaik yang dimiliki Indonesia dengan ukuran-ukuran yang saya bilang tadi. Saya menyukai Robby Darwis karena salah satu kelebihan dia adalah sebagai pemain dia sangat profesional. Cara dia mensikapi masalah di lapangan, cara dia menempatkan diri dalam pergaulan, cara dia menempatkan diri sebagai bagian dari tim, sangat luar biasa menurut saya. Bukan Adjat Sudrajat, tapi Robby Darwis menurut saya.

Saya ingin nebeng di sini memberikan komentar mengenai Sutjipto Soentoro almarhum yang saya kenal baik. Kami sama-sama satu generasi di SMP. Jadi kalau ada pertandingan segi lima sekolah katolik di Jakarta, sekolah saya itu main lawan dia. Untuk berada dalam satu lapanganpun rasanya sangat bangga. Dia itu di SMP Matraman, saya di Gunung Sahari dan kalau lawan dia, kita main, semua sudah minggir. Saya ingat tim saya itu kalah 9-0 dan sembilan gol itu dicetak oleh Sutjipto. Padahal posisinya libero, pemain belakang dan pemain lain sepertinya tidak ada yang bergerak. Padahal SMP tidak bodoh-bodoh amat. Sama juga seperti kejuaraan Junior di Malaysia, menang 9-1. Jadi dia pemain besar dan anda benar yang dua juga besar, tapi kita punya banyak bintang sekarang di Tiger Cup. Terakhir, bagaimana kans kita di Tiger Cup?

Tim ini salah satu problemnya adalah konsistensi bermainnya yang saya ragukan. Tapi dengan harapan mereka masih bisa bermain sebagus ini, kans Indonesia untuk juara masih sangat besar. Karena lawan yang paling ditakuti Indonesia, Thailand itu sudah tersingkir. Saya melihat bahwa tersingkirnya Thailand ini semacam blessing buat Indonesia. Artinya rintangan yang terbesar secara psikologis, masalahnya melawan Thailand ini psikologis saja. Kita selalu merasa kalau lawan Thailand itu sudah kalah duluan, padahal kemampuan kita kadang-kadang tidak kalah di lapangan.