Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Veronica Colondam

“Kita Harus Menyelamatkan Mereka Yang Masih Bersih”

Edisi 426 | 10 Mei 2004 | Cetak Artikel Ini

Selamat berjumpa kembali pada prespektif baru. Saya Wimar Witoelar akan memandu anda berbincang dengan seorang aktivis yang sangat berpengaruh dibidangnya. Tamu ini aktif disebuah yayasan yang mengkhususkan dirinya pada pelaksanaan program pencegahan penyalahgunaan narkoba. Seperti anda ketahui, ditengah berbagai ancaman penyakit sosial seperti kecanduan alkohol, seks bebas, penyalahgunaan narkoba memiliki dampak yang cukup besar. Tidak hanya si pecandu saja yang menanggung resiko, tapi juga orang disekitarnya. Saat ini, penyalahgunaan narkoba terus meningkat dari hari ke hari. Makin banyak orang yang ditangkap karena menyalahgunakannya atau terlihat dari jumlah narkoba yang ditangkap makin besar. Karena itu, perbincangan kita dengan Veronica Colondam terasa sangat penting. Beliau adalah pendiri sekaligus juga aktivis Yayasan Cinta Anak Bangsa atau lebih sering dikenal dengan YCAB.

 

Sebagai perkenalan awal, Veronica adalah tamatan dari American University dalam bidang Mass Communication. Sekarang sedang melakukan studi kebijakan di bidang penangulangan penyebaran Narkoba. Mungkin ada yang perlu anda tambahkan untuk memulai perbincangan ini?

Terima kasih Pak Wimar juga teman-teman Prespektif Baru. Sekarang saya memang sedang menjalani pendidikan S2 dibidang Policy and Intervention untuk narkoba dan alkohol di university of London Imperial College.

 

Aktifitas  anda di YCAB menjadi perhatian publik.  Anda memimpin beberapa anak muda menjadi sukarelawan dalam pencegahan narkoba. Bagaimana tumbuhnya YCAB?

YCAB berdiri 13 Agustus 1999. Pada awalnya kita enam orang dan saat itu targetnya kota Jakarta saja. Tetapi setelah kita berkampanye tentang pencegahan primer di sekolah-sekolah, permintaan dari masyarakat ternyata tinggi. Karena kecintaan untuk melayani semua, dalam  lima tahun YCAB memiliki 60 pekerja. Saat ini, relawan yang tidak digaji mencapai seratus lima puluh orang.

 

Organisasi sosial dengan 60 karyawan terbilang besar. Apa saja yang dilakukan oleh organisasi anda secara rutin?

Aktifitas rutin YCAB adalah melakukan kampanye primer tentang penyalahangunaan  narkoba. Kampanye primer adalah sebuah kegiatan yang mentargetkan anak-anak yang justru belum menjadi pengguna narkoba. Kalau komposisi masyarakat dunia menurut Kofi Annan (Sekjen PBB-red),  empat persen mengunakan narkoba alias pencandu. Berarti 96 persen bukan pecandu. Disinilah kita menstrategikan kegiatan supaya yang 96 persen tidak mencoba narkoba dan siap ketika dihadapkan pada pilihan memakai narkoba atau tidak. Keadaan di Indonesia,  sebanyak 7 persen anak usia 12 tahun – 19 tahun mengaku pernah mencoba narkoba. Berarti 93 persen yang masih bersih dan mereka adalah anak-anak yang harus diselamatkan. Kepada merekalah pencegahan primer ditujukan.

 

Bagaimana caranya menyelamatkan 93 persen itu?

Kita memiliki dua program yakni school based dan community based. Kalau di sekolah targetnya sudah jelas yaitu pelajar. Anak-anak kelas empat SD sampai kelas satu SMA karena pada usia itu masa yang kritis. Yang berbasis masyarakat kita mentargetkan orang tua. Orang tua ini ada dua macam yaitu orang tua yang bekerja dan orang tua yang di rumah. Pendekatan bagi orang tua bekerja kita lakukan di tempat bekerja. Sementara bagi orang tua yang dirumah kita menjangkaunya melalui RT, RW dan perkumpulan-perkumpulan yang ada di lingkungan mereka.

 

Anda mengurus orang yang belum ketergantungan narkoba dan memperkuat mereka supaya tidak menjadi pecandu. Bagaimana anda mengajarkannya?

Kita melakukan beberapa jenis pendekatan seperti pendekatan ilmu pengetahuan. Kita memberi informasi tentang bahaya narkoba. Informasi mengenai bagaimana narkoba bisa mempengaruhi cara berpikir, kesehatan, sosial dan lain-lain. Kedua, pendekatan yang lebih berat pada sisi life skill. Saat kita bicara bahaya narkoba, dari hasil survei tahun 2003, 84 persen masyarakat Jakarta sudah mengetahui bahaya dan konsekuensi penyalahgunaan narkoba. Faktanya, masih ada juga yang menggunakannya. Maka kita beralih pada skill base karena kunci sebenarnya terletak pada keterampilan hidup seperti mengambil keputusan dan keberanian menolak. Kita juga bicara tentang positive life style yaitu bagaimana memanfaatkan waktu luang secara positif. Karena berdasarkan survei kita tahun 2002, anak-anak yang tidak memanfaatkan waktu luang dengan positif paling beresiko menyalahgunakan narkoba. Saya rasa pendekatannya melalui informasi, skill base, dan penanggulangan dini yaitu disaat mulai coba-coba, kita kembalikan mereka kearah yang benar. Karena dari survei tadi, dari tujuh persen anak usia 12 tahun – 19 tahun yang pernah mencoba narkoba, satu dari empat menjadi pecandu.

 

Darimana anda tahu mengenai pencegahan penyalahgunaan narkoba?

Ini memang proses, sekitar 18 bulan sebelum Yayasan Cinta Anak Bangsa berdiri, saya sudah melakukan studi banding di beberapa negara Asia Pasific. Saya mempelajari apa pencegahan primer. Pada saat YCAB berdiri sampai sekarang, kita terus melakukan pencarian data karena di Indonesia data susah banget dicari. Tapi kita harus bekerja, itu prinsipnya. Lalu kita mencari profil, siapa sebenarnya target kita agar didapatkan informasi yang relevan. Sehingga pendekatan dan program pencegahan yang kita bawa bisa diterima dan efektif.

 

Dalam melakukan pekerjaan ini, apakah ada bantuan dari lembaga lain?

Kalau dari pihak Indonesia kami didukung oleh Departemen yang berwenang dalam bidang ini seperti Departemen Pendidikan, Badan Narkotika Nasioanal (BNN), juga Departemen Kesehatan. Dukungan yang kita dapatkan lebih banyak berupa bantuan non material daripada bantuan material. Apa yang kami lakukan memang kegiatan yang agak langka di Indonesia. Tidak banyak yang mau berbicara tentang pencegahan primer, lebih banyak rehabilitasi. Karena rehabilitasi bisa mendatangkan pemasukan. Sementara kalau pencegahan primer lebih banyak “buang uang” daripada dapat uang. Kegiatan yang kita lakukan semuanya gratis.

 

Kalau anda tidak banyak mendapat bantuan materil, lalu apakah anda membiayai sendiri?

Pendiri YCAB punya komitmen untuk membiayai operasional tiap bulannya. Pada saat kita membuat program-program besar kita bekerjasama dengan pihak swasta. Dengan endorsement dari pemerintah, kita bekerja dengan pihak ketiga. Saya rasa tidak adil bila tugas untuk menjangkau seluruh Indonesia dibebankan kepada YCAB. Pelajar-pelajar itu anak keluarga Indonesia. Saya mengajak organisasi yang ada dan pemerintah untuk sama–sama bermitra. Saya tidak memungkiri bahwa YCAB pernah mendapat bantuan material tapi lebih cendrung pada program tertentu saja. Bersama lembaga internasional seperti UNODC (United Nations Office Of Drug Control And Crime Prevention-red) kita melaksanakan proyek percontohan pencegahan penyalahgunaan narkoba bagi pramuka. Program ini berlangsung selama enam bulan dan sekarang UNICEF membantu kita membuat program serupa empat kota lainnya. Kita juga berbagi biaya dengan lembaga donor dan lembaga lainnya seperti JP Morgan dan Martha Tilaar.

 

Kota mana saja itu?

Program yang kita sebut Youth Against The Drug (YADA) ini kita laksanakan di Bandung, Surabaya, Makasar, dan Denpasar. Saat ini program tersebut sedang berjalan dan sedang dilatih relawan-relawan untuk menjalankan kegiatan seperti di Jakarta. Jadi semacam membuat perwakilan YCAB. Program YADA ini sudah pernah dibawa ke 25 kota di Indonesia.

 

Staff anda dan relawan tersebut dimana saja?

Dari 60 orang staf, 40 orang berada di JABOTABEK. 20 orang tersebar di 5 kota. Tiap kota ada satu staf karena harus koordinasi dengan staf lapangan UNICEF.

 

Ketika anda melakukan kampanye, apakah ada yang kesal karena menganggap dirinya tidak akan menjadi pecandu?

Dalam lima tahun ini kita mempelajari program yang kita laksanakan. Karena ada kelompok tertentu di masyarakat yang tidak perlu dikasih tahu tentang bahaya narkoba. Tantangan kita kedepan, misalnya ketika melakukan kampanye di sekolah, terlebih dahulu kita pisahkan mereka yang berisiko kena dan yang tidak. Karena yang tidak berisiko tidak perlu diberitahu. Dengan demikian kerja kita lebih efektif.

 

Ada kesimpulan formal atau informal mana yang beresiko dan mana yang tidak berisiko? Baik itu secara etnis maupun sosial ekonomi?

Dari hasil penelitian tahun 2002 ada yang kita sebut faktor resiko terhadap seorang anak. Pertama, Anak-anak yang memanfaatkan waktu luangnya dengan nongkrong di mall, café lebih berisiko menjadi pecandu. Kedua, anak yang kualitas hubungan dengan orang tua biasa-biasa saja. Tidak ada hubungan canda tawa atau berinteraksi yang hangat, waktu interaksi yang sangat rendah, jarang makan bareng. Terus yang prestasinya biasa-biasa, tidak ada keinginan untuk menjadi yang terbaik. Kemudian yang memiliki teman lebih tua dari usianya, punya teman yang pemakai, maupun yang merokok. Mereka yang berada menjalani atau berada dalam lingkungan seperti ini yang sangat beresiko menjadi pecandu.

 

Adakah hubungan antara merokok dan narkoba?

Kita memang mau tahu profil pecandu itu seperti apa. Kita dapati bahwa 100 persen pecandu adalah perokok, tapi jangan dibalik. Memang kita melihat bahwa mereka mulai merokok pada usia 10 tahun - 11 tahun. Usia ini masa yang sangat kritis karena fase mencari identitas. Biasanya, saat mereka mencoba dengan rokok maka akan berlanjut memakai zat-zat aditif. Karena setelah merokok akan lebih gampang mengganja. Karena ganja diisap juga. Kemudian dia akan berpindah ke zat yang lebih kuat seperti ekstasi. Jadi sudah seperti karier yang terus berlanjut. Hubungan antara rokok dan narkoba seperti pintu masuk.

 

Anda pernah mendapat Vienna Award dari PBB. Kira-kira apa yang anda lakukan lima tahun mendatang?

Ketika mendapat penghargaan dari PBB, saya merasa seperti ikan dalam akuarium. Merasa lebih diperhatikan saja. Umumnya orang ingin bertanya apa dasar seseorang diberi penghargaan. Karena baru sekitar dua tahun sejak YCAB berdiri saya mendapat penghargaan. Saya sendiri tidak tahu karena dinominasikan oleh kantor PPB di Bangkok. Prosesnya bagi saya ajaib karena bisa mendapat penghargaan ini. Mereka mengatakan bahwa program-progam kita diangap ideal, unik, dan inovatif.

 

Apa motivasi anda mengerjakan ini?

Saya melakukannya karena saya punya anak. Rasanya klise, tapi saya ingin membuat lingkungan yang baik bagi mereka untuk tumbuh.

 

Sikap anda sepertinya tidak hanya berhenti pada masalah ini saja. Apakah anda punya pandangan terhadap moralitas publik dan akan mengaktifkan diri pada kegiatan kemasyarakatan yang lebih luas?

Saya percaya bahwa kita bisa membuat sesuatu yang unik ketika fokus pada satu masalah. Fokus utama saya adalah masalah narkoba. Saya melihat kedepan perlu gerakan yang lebih kuat untuk menyadarkan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang lebih kuat dalam masalah ini. Karena tidak dapat diatasi tanpa adanya sebuah kebijakan. Sebagai contoh, waktu WHO melakukan penelitian, dibandingkan tahun 90-an dengan tahun 2000, perokok di Indonesia meningkat dua kalinya menjadi 2,75 persen. Dari 1,1 miliar perokok di dunia, 6,6 persen berada di Indonesia. Pertanyaannya, apa yang dilakukan pemerintah? Tidak ada. Cukai rokok tidak dinaikkan, yang dinaikkan hal-hal yang tidak sigifikan untuk menurunkan perokok di Indonesia. Hal seperti ini bisa terjadi dengan zat-zat adiktif di Indonesia karena saat ini Indonesia merupakan produser ekstasi terbesar di dunia.

 

Indonesia memang tidak memiliki arah kebijakan yang tetap. Berarti suatu saat anda harus aktif di politik juga kalau begitu?

Saya tahu betapa kompleksnya ketika masuk ke dunia politik. Politik itu ruwet dan harus berkompromi. Bagaimanapun, pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba harus didukung oleh kebijakan. Sebenarnya masalah ini harus masuk ke dalam kurikulum sekolah. Di beberapa ASEAN sudah memasukkan masalah pencegahan ini ke dalam kurikulum. Beberapa tahun lalu saya bicara dengan Pak Menteri pendidikan, kelihatannya belum ada kebijakan kearah sana.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...