Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Prof. Dr. dr. Azrul Azwar

Susu Formula Tidak Akan Bisa Gantikan ASI

Edisi 386 | 04 Aug 2003 | Cetak Artikel Ini

Asalamu’alaikum Warrahmahtullahi Wabarakatuh, salam sejahtera buat pendengar sekalian. Setelah seminggu kita berpisah, kali ini kita bertemu kembali dalam Perspektif Baru. Perubahan, seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sisi yang satu adalah dampak negatif yang membuat beban hidup kita semakin berat. Sementara sisi yang lain adalah dampak positif yang memungkinkan hidup dan masa depan kita lebih cerah. Globalisasi ibaratnya membuat kita tinggal seperti di kampung kecil yang memungkinkan kita saling berkomunikasi setiap saat. Kesempatan bekerjasama untuk mengatasi persoalan yang timbul sehari-haripun semakin sering dilaksanakan. Salah satunya adalah promotion and support of breast feeding atau peningkatan pemberian air susu ibu yang tahun ini dicanangkan dengan tema pemberian ASI untuk keadilan dan perdamaian di era globalisasi. Ini merupakan gerakan bersama secara internasional dan nasional pada tanggal 1-7 Agustus untuk tahun ini. Kiranya perlu disadari bahwa salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk membuat dunia yang lebih baik adalah dengan memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Memberikan yang terbaik bagi anak adalah menanamkan rasa cinta, kasih sayang dan kedekatan yang semuanya itu dimulai dengan memberikan ASI ekslusif bagi bayi. Untuk membahasnya, kita akan berbincang dengan Bapak Prof. Dr. dr. Azrul Azwar. Beliau adalah Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan. Perspektif kali ini bersama sahabat anda Ruddy K Gobel.

Saat ini, pemberian ASI menjadi isu internasional bukan semata isu nasional, sehingga ada peringatan ASI sedunia. Faktor apa yang melatarbelakangi sehingga perhatian terhadap ASI ini sangat besar di era sekarang ini?

Banyak fakta yang menyebabkan kenapa ASI itu mendapat perhatian dunia. Salah satu alasan utama adalah karena ASI sangat bermanfaat untuk pertumbuhan bayi. Penelitian telah membuktikan kalau bayi nol sampai enam bulan diberikan hanya ASI saja pertumbuhannya jauh lebih baik dibanding bayi yang tidak mendapatkan ASI. Mengandung zat kekebalan dan apabila diberikan bayi akan mempunyai daya tahan terhadap penyakit yang cukup baik. Juga berbagai mineral dan vitamin yang dibutuhkan, zat makanan yang dibutuhkan oleh bayi . Maka penting sekali mengkampanyekannya tidak hanya tingkat nasional tapi juga pada tingkat internasional.

Untuk meningkatkan komitmen dunia diselenggarakan beberapa pertemuan. Pertemuan dunia di Italia yang melahirkan Deklarasi Innocenti pada tahun 1990. Konferensi tentang anak pada tahun 1990 yang juga membicarakan tentang kesehatan anak dan hubungan dengan ASI. Disepakati perlu setiap tahun mengkampanyekan pentingnya ASI. Karena itulah dunia sepakat pada setiap minggu pertama bulan Agustus dijadikan sebagai pekan ASI. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyadarkan kembali masyarakat betapa pentingnya ASI dan supaya ibu mau memberikan ASI kepada anak-anaknya .

Keuntungan apa saja bila memberikan ASI dibandingkan dengan susu formula. Adakah aspek lain yang didapatkan selain aspek kesehatan?

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, berbagai penelitian telah membuktikan pemberian ASI itu akan banyak sekali keuntungan yang diperoleh. Nilai gizi karena ASI itu mengandung semua nilai gizi yang dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung zat imunitas yang akan melindungi bayi dari penyakit dan pada waktu pemberian itu ada hubungan batin antara bayi dan ibunya. Tidak ada yang bisa menandingi kasih sayang. Dan ini berpengaruh terus dari bayi hingga dewasa.

Tidak ada yang bisa menggantikan ASI karena terlindung dari kemungkinan infeksi. Hal ini tidak kita dapatkan dari susu formula. Karena bisa saja pada membuat susu sendok, gelas, airnya tidak bersih. Tapi ASI itu sangat bersih sehingga kemungkinan infeksi pada anak yang sering menyebabkan kematian bayi itu tidak akan terjadi. Disamping itu, sekalipun teknologi tinggi digunakan untuk menciptakan susu formula, kualitas dan kandungannya tidak bisa menandingi ASI. Jadi keuntungan ASI itu begitu besar oleh karena itulah ilmuwan, petugas kesehatan dunia sepakat bayi sampai dengan umur enam bulan harus mendapatkan ASI. Inilah yang dinamakan ASI eksklusif.

Pak Azrul, ASI mempunyai keungulan dan tentunya harus diberikan. Sejak kapan sebaiknya ASI itu diberikan? Dan bagaimana cara pemberian ASI agar optimal?

Bayi sejak lahir, sekurang-kurangnya 30 menit setelah melahirkan itu harus diberikan ASI. Banyak ibu menyangka susu pertamanya itu jelek, padahal justru colostrum - susu pertama itu banyak sekali manfaatnya. Tidak boleh dibuang. Berapa kali kita memberikan ASI tidak ada aturan yang baku. ASI diberikan di setiap anak membutuhkannya. Diberikan jadi berikan ASI selama bayi kita itu mau minum tidak ada batas. Diberikan sampai anak kenyang yang ditandai dengan tertidur. Kalau belum kenyang pasti menangis.

Cara pemberian ASI harus diketahui oleh ibu. Saat memberikannya, semua puting susu ibu harus masuk di dalam mulut bayi agar si bayi tidak menelan udara. Kemudian dagu bayi menekan payudara agar ASI lancar. Kemudian setelah kenyang si bayi didirikan. Kadang-kadang bayi minum udara, supaya udara keluar dada bayi di tepuk-tepuk dengan lembut.

Program pemberian ASI esklusif sedang digalakkan, ada hambatan dan ketakutan dari orang tua. Mereka tidak yakin dengan mengandalkan pemberian ASI kepada bayi selama enam bulan, ditakutkan pertumbuhan bayi tidak akan normal. Apakah ketakutan ini beralasan?

Memberikan ASI selama enam bulan kepada bayi tidaklah mengganggu pertumbuhan. Bahkan air putih pun tidak boleh diberikan. Maka pertumbuhannya akan lebih bagus. Anak tidak kegemukan – bayi yang diberikan susu formula berisiko kegemukan dan rentan kena penyakit –bayi juga tidak akan cepat jatuh sakit. Kandungan ASI sudah cukup untuk kebutuhan bayi selama enam bulan.

ASI telah diberikan Tuhan, maka kita juga harus memberikannya pada bayi. Tapi setelah enam bulan, kebutuhannya sudah tidak cukup hanya dengan ASI saja. ASI diteruskan tetapi mulai ditambah dengan makanan tambahan. Nah itu macam-macam bisa diberikan biskuit, buah, atau nasi tim.

Semakin banyak ibu yang bekerja dan waktu cutinya terbatas. Kemudian ada yang beranggapan semakin lama memberikan ASI maka "kecantikannya" berkurang. Kedua hal ini juga turut mempengaruhi pemberian ASI, bagaimana mengatasi persoalan ini?

Ibu bekerja, lama cutinya hanya tiga bulan dan kadang-kadang sudah diambil sebulan sebelum melahirkan. Setelah ibu kembali bekerja harus dipikirkan jalan keluar agar si bayi tetap dapat ASI. Misalnya menjemputnya secara rutin. Cara lain adalah memeras dan menyimpannya di kulkas. Kualitasnya sama baiknya dengan yang diminum langsung, asal tempat peyimpanan yang bersih. Jangan karena ada hambatan pemberian ASI dihentikan atau terkadang diberikan. Tindakan seperti ini bisa menurunkan rangsangan produksi ASI yang akhirnya bisa berhenti. Pemberian ASI dengan cara ini akan tetap menjaga produksi ASI tetap stabil dan menjamin anak mendapat ASI eksklusif. Faktor lainnya yang menghambat pemberian ASI ekslusif adalah tidak adanya lingkungan yang kondusif untuk memberikan ASI. Hambatan ini dihadapi oleh ibu-ibu yang berada di kota besar. Kurang etis bila memberikan ASI di depan umum. Mengatasi persoalan itu, alangkah baiknya kalau di gedung-gedung ada pojok ASI. Di gedung DEPKES kita menyediakan pokok ASI tersebut. Pemberian ASI itu harus didukung oleh masyarakat.

Ada juga hambatan datang dari si ibu sendiri. Mereka berpikir bahwa memberikan ASI maka kecantikan akan berkurang. Cara berpikir seperti itu tidak benar, karena tidak ada hubungan penurunan kecantikan dengan aktifitas memberikan ASI. Kesalahpahaman ini perlu diluruskan. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan pemberian ASI eksklusif di Indonesia itu cukup rendah.

Dari data-data yang ada di lapangan, apakah pemberian ASI di Indonesia pemberian ASI sudah baik?

Meskipun berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah seperti penyuluhan di puskesmas dan rumah sakit, kita harus mengakui pencapaian ASI eksklusif Indonesia masih rendah. Dari data kita miliki, hanya 52 % ibu memberikan pelayanan pemberian ASI eksklusif, itupun masih empat bulan. Kita dulu menganut bahwa pemberian ASI esklusif itu empat bulan, baru sekarang ditingkatkan menjadi enam bulan. Kalau empat bulan yang tercapai masih 52 %, maka kalau ditingkatkan menjadi enam bulan maka pemberian ASI eksklusif di Indonesia akan semakin kecil. Padahal target kita sekurang-kurangnya 80 % ibu-ibu kita memberikan ASI secara terus-menerus kepada bayinya.

Keadaannya memang masih belum memuaskan, terutama pengetahuan ibu-ibu yang masih rendah. Takut jelek padahal justru cantik kalau memberikan ASI kepada bayinya, takut nanti apabila buah dadanya tidak baik lagi bentuknya. Kedua karena godaan dari susu formula yang saat ini mengganggu sekali. Perusahaan susu formula dalam mengiklankan produknya tidak boleh bertentangan dengan etik. Saya dengar, ada yang mendatangi rumah bersalin pulang-pulang si ibu bawa susu formula. Tindakan itu sangat tidak etis, sebaiknya para dokter dan bidan melarangnya.

Banyak hambatan, tapi mudah-mudahan dengan pekan ASI yang kita peringati tiap tahun pada bulan Agustus target ini mudah-mudahan bisa kita capai. Sehingga dengan demikian kehendak kita untuk meningkatkan kesehatan bayi-bayi kita dapat kita capai dengan memuaskan.

Pada tahun ini tema Pekan ASI adalah "ASI untuk keadilan dan perdamaian di era globalisasi," ternyata anak itu memegang peranan penting dalam mewujudkan dunia yang adil dan damai di kemudian hari. Maksud dari tema ini apa?

Salah satu hak bayi adalah mendapat ASI, maka kewajiban kita semua untuk memberikannya. Bagaimana kita berbicara keadilan kalau hak anak yang utama saja tidak terpenuhi. Nah, kalau ini bisa kita lakukan bayi akan berkembang menjadi anak yang sehat, generasi yang sehat. Generasi sehat itu tidak hanya fisik tapi juga intelektual dan emosional. Orang yang sehat secara intelektual dan emosional bisa mengendalikan emosi, mencari solusi atas persoalan yang dihadapinya. Akan terwujud kehidupan yang aman dan tenteram tidak hanya untuk diri sendiri tapi untuk lingkungan secara keseluruhan. Tema ini betul-betul sangat sesuai dengan situasi dan kondisi dunia akhir-akhir ini yang tidak aman dan juga untuk Indonesia. Mudah-mudahan ini bisa menyadarkan kita semua, sehingga kita menghentikan pertikaian demi anak dan bayi kita pada saat ini dan demi bangsa untuk masa depan.