Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Haikin Rachmat

Penderita Kusta Tidak Perlu Dikucilkan

Edisi 359 | 27 Jan 2003 | Cetak Artikel Ini

Selamat berjumpa kembali pemirsa Perspektif Baru, dipandu kali ini dengan saya, Faisol Riza. Pada kesempatan ini kita akan mewawancarai seorang yang cukup berperan dalam peringatan Hari Kusta Sedunia yang akan kita peringati pada akhir bulan Januari ini, beliau adalah Bapak dr. Haikin Rachmat, Direktur Pemberantas Penyakit Menular Langsung dari Departemen Kesehatan

Seperti yang kita ketahui Peringatan Hari Kusta Sedunia ini diperingati pada tiap hari Minggu terakhir bulan Januari. Kita masyarakat awam belum tahu mengapa harus ditetapkan pada akhir bulan Januari?

Hari Kusta Sedunia ditetapkan oleh seorang pendiri yayasan Kusta, Raole Fallereau, seorang wartawan berkebangsaan Perancis yang berjuang untuk menghilangkan stigma sosial di masyarakat dan mendapatkan kepedulian masyarakat terhadap Kusta. Untuk negara-negara di Afrika, ini peringati setiap hari Minggu terakhir bulan Desember. Namun untuk negara-negara di Asia, seperti yang tadi telah dikemukakan yaitu pada tiap hari Minggu terakhir dari bulan Januari. Ini maksudnya untuk mengenang jasa Presiden India waktu itu, Mahatma Gandhi. Beliau adalah orang yang sangat perhatian dan besar jasanya terhadap penderita atau penanggulangan Kusta, khususnya di kawasan Asia. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara di Asia tahun ini akan memperingatinya pada hari Minggu tanggal 26 Januari 2003 yang akan datang.

Pada peringatan tahun 2003 ini, Depkes mungkin punya tema dan juga tujuan khusus yang berkaitan dengan usaha pemberantasan penyakit Kusta, bisakah dijelaskan sedikit mengenai tema tersebut?

Jadi mengingat bahwa Kusta ini sebenarnya suatu penyakit masyarakat yang mudah sekali disembuhkan, maka masalah kemitraan dan komitmen semua pihak menjadi sangat penting dan sangat strategis. Oleh karena itu pada tahun ini kita mengambil tema "Kemitraan, Komitmen yang Kuat, Modal Eliminasi Kusta 2005". Karena kita bangsa Indonesia sudah sepakat dengan tingkat global bahwa kita akan bersama-sama mengeliminasi Kusta. Artinya Kusta sudah tidak menjadi masalah kesehatan lagi bagi masyarakat pada tahun 2005. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian dari berbagai pihak, berbagai stakeholder dalam pemberantasan Kusta. Agar supaya Kusta ini bisa disembuhkan, sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat lagi dan juga bagi mereka yang menderita penyakit Kusta ini dapat diperlakukan sama sehingga tidak mengalami stigmatisasi di kalangan masyarakat.

Memang banyak sekali di kampung, di pedalaman, yang merasa bahwa penyakit Kusta ini seolah-olah penyakit kutukan terutama di masa yang lalu. Kita masyarakat awam ini ingin mengetahui sebenarnya penyakit Kusta ini seperti apa, bagaimana cara menularnya, lalu bagaimana penyembuhannya? Bisa dijelaskan lebih lanjut?

Penyakit Kusta ini adalah suatu penyakit menular menahun yang disebabkan oleh satu kuman Kusta yang disebut Mycobacterium Leprae. Cara penularannya belum diketahui secara pasti tapi sebagian ahli berpendapat bahwa penularan Kusta itu melalui darah dan dengan adanya kontak kulit dengan kulit penderita yang berlangsung lama. Sebetulnya perjalanan penyakitnya itu sendiri cukup lama, karena itu disebut penyakit menahun. Semua orang bisa terkena penyakit ini, namun pada umumnya manusia kebal terhadap penyakit ini. Tetapi apabila sifat kekebalannya melemah maka seseorang akan mudah terkena penyakit ini. Jadi penyakit Kusta sangat berkaitan dengan proses kekebalan. Perlu dijelaskan juga bahwa penyakit ini banyak diderita di negara-negara berkembang pada penduduk miskin yang kehidupannya berhimpitan dengan sosial ekonomi yang lemah.

Adakah jenis yang khusus dari penyakit Kusta yang berbahaya ataupun yang tidak berbahaya?

Penyakit ini terbagi dalam 2 tipe, yaitu satu Kusta Tipe Kering atau Paucibacillary (PB), yang kedua adalah tipe Multibacillary atau tipe basah. Yang sangat menular adalah tipe basah atau Multibacillary (MB) dan hampir sebagian besar penderita ini, tipe MB yang biasanya mudah menular pada orang lain. Yang menular itu adalah tipe MB yang belum mendapat pengobatan. Tapi jika sudah mendapat pengobatan dan sedang dalam pengobatan, maka dia tidak menular lagi. Saya kira itu yang perlu kita ketahui. Oleh karena itu kita perlu segera menemukan penyakit ini secara dini, kemudian melakukan pengobatan segera.

Seperti yang disebutkan tadi bahwa penyakit Kusta bukan sesuatu yang berbahaya dan menyebabkan kita harus takut, hanya kita harus tahu bagaimana cara mengobatinya. Kita ingin mendengar dari Pak Haikin, bagaimana mengobatinya?

Sebagaimana dikatakan tadi, yang paling utama adalah bagaimana kita bisa mengenali secara dini penyakit Kusta ini. Itu yang paling penting. Kenali penyakit Kusta ini lebih dini atau seawal mungkin. Kalau ada bercak-bercak seperti panu misalnya atau bercak di kulit yang mungkin masyarakat awam tidak tahu, segeralah periksa ke petugas kesehatan, apakah ada kaitannya dengan penyakit Kusta. Sebab begitu diketahui dini kemudian kita berikan pengobatan yang cepat dan tepat akan sembuh tanpa cacat, itu yang penting. Kusta ini tidak mematikan, yang matinya karena dia menyandang Kusta karena stigma, sosial atau karena cacat. Oleh karena itu sekali lagi sebelum saya jelaskan bagaimana cara pengobatannya, temukan dulu secara dini setiap penderita Kusta. Jangan takut dan malu datang ke Puskesmas. Di sana sudah tersedia tenaga-tenaga yang mampu melakukan deteksi, karena mudah sekali diagnosanya. Lalu kalau kita sudah tahu tipe Kusta PB atau MB, petugas Puskesmas akan menetapkan pengobatannya. Kalau tipe PB itu diobati 6 bulan saja cukup. Kalau MB diobati secara terus menerus teratur selama 12 bulan baru sembuh. Kalau ketika ditemukan belum ada cacat atau cacatnya ringan bisa sembuh tanpa cacat. Jangan dianggap ini penyakit kutukan, penyakit karena dosa dan sebagainya. Ini penyakit menular biasa yang bisa disembuhkan dan obatnya tersedia gratis di Puskesmas. Persediaan obatnya dibantu oleh WHO dengan beberapa donor agency melalui WHO ke Indonesia. Pengobatannya tadi selain ada yang 6 bulan, 12 bulan, ada juga yang untuk dewasa dan untuk anak. Jadi demikian yang ingin saya sampaikan. Nanti jika ingin diperiksa tinggal datang ke Puskesmas dan jelaskan apa saja yang dialami, kemudian nanti diperiksa kulitnya dan juga syarafnya. Dilihat mana yang ada kelainan kemudian diberi pengobatan. Kemudian jika ada reaksi-reaksi, datang saja ke Puskesmas dan akan diobati oleh petugas Puskesmas yang sudah dilatih.

Mengingat penyakit Kusta ini banyak disandang oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah khususnya masyarakat bawah, bagaimana pemerintah bisa cukup menyediakan tempat atau ruang bagi masyarakat bawah ini untuk berobat, misalnya soal biaya?

Jadi sekali lagi saya ingin kemukakan disini, penyakit Kusta sebagian besar diderita oleh orang miskin. Kalau saya katakan di berbagai negara, hampir semua negara yang angka Kusta-nya tinggi itu adalah negara berkembang seperti India, Nepal, Myanmar, Zimbabwe, kemudian Brazil. Indonesia sebenarnya sudah keluar dari negara yang prevalensinya lebih dari 1. Jadi sebenarnya Indonesia pada tahun 2000 sudah bukan negara yang prevalensi diatas 1/10.000 tapi itu secara nasional. Kalau dilihat di Kabupaten ada yang lebih tinggi dari 1/10.000. Umumnya saya katakan bahwa penyakit ini diderita orang miskin. Oleh karena itu dengan bantuan pemerintah, WHO dan juga donor agency menggratiskan pengobatan Kusta ini. Tidak ada biaya apapun untuk membeli obat karena obatnya disediakan gratis untuk 12 bulan yang tipe MB dan 6 bulan untuk tipe PB, baik untuk anak-anak dan dewasa gratis. Jadi silakan datang ke Puskesmas. Kalau dulu, sebelum ada kemajuan ilmu Iptek Kedokteran seperti sekarang yaitu adanya pengobatan MDT, penderita Kusta dirawat di rumah sakit khusus Kusta. Tapi sekarang tidak perlu lagi. Mereka tinggal datang ke Puskesmas kemudian mendapatkan pengobatan. Kemudian tiap bulan harus datang ke Puskesmas dan mereka akan mendapatkan obat untuk bulan berikutnya. Ada obat yang diminum di situ kemudian dilihat oleh dokternya atau petugasnya, bagaimana kemajuan bulan per bulan. Jadi sekali lagi pemerintah betul-betul bekerja sama dengan WHO dan donor agency yang lainnya yang concern tentang Kusta. Pengobatan Kusta tidak ada biaya apapun. Banyak kemudahan yang dapat mereka akses untuk mendapatkan pengobatan Kusta ini.

Tadi disebutkan juga bahwa penyandang Kusta juga mengalami stigmatisasi seperti di masa yang lalu. Tentu ini persoalan sosial. Bagaimana Departemen Kesehatan menyatakan sikap pada masyarakat terutama jika menemukan ada anggota masyarakat yang mempunyai penyakit Kusta?

Sudah bertahun-tahun masalah stigma ini terjadi di masyarakat dan memang kita maklumi karena pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini masih beraneka ragam tidak sama. Karena itu melalui kesempatan ini saya ingin menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit menular. Penyebabnya adalah kuman atau Mycobacterium Leprae. Sama seperti penyakit lain seperti TBC dan lainnya, ia bisa disembuhkan, bukan kutukan, bukan penyakit keturunan dan jangan kucilkan mereka dalam masyarakat, malah dorong mereka untuk datang berobat. Sebab jika mereka dikucilkan, mereka akan bersembunyi, mereka tidak mau berobat ke Rumah Sakit atau Puskesmas karena malu atau takut karena berbagai faktor sosial lainnya. Justru ini merugikan jika mereka bersembunyi. Proses penularan akan berjalan terus, sehingga tidak akan tercapai tujuan kita mengeliminasi Kusta. Oleh karena itu kepada berbagai pihak, kita melakukan berbagai advokasi sosialisasi untuk menjelaskan lebih rinci dan lebih jelas lagi tentang Kusta dan bagaimana dari segi medis dan segi lainnya. Berbagai strategi yang kita lakukan ada yang disebut LEC (Leprosy Elimination Campaign) yaitu kampanye untuk eleminasi Kusta. Jadi dalam kampanye itu kita jelaskan diantaranya bagaimana supaya stigma jangan sampai terjadi atau sangat dikurangi sehingga masyarakat bisa datang dengan sendirinya ke Puskesmas. Apakah dia Kusta atau bukan itu bukan masalah yang jelas dia sudah sadar, datang ke Puskesmas kalau ada bercak putih seperti panu atau bercak merah timbul tiba-tiba atau tambah lama tambah banyak, dan ada rasa kulit yang tidak berasa. Sehingga dapat diketahui apakah itu Kusta atau bukan. Saya juga mengharap kepada masyarakat yang lain yang membaca ini agar dapat menyampaikan kepada masyarakat yang lain untuk tahu bagaimana Kusta ini harus kita hadapi dan obati bersama sehingga pada saatnya kita bisa bebas dari penyakit ini.

Kusta sebenarnya bukan penyakit berbahaya, lalu bagaimana sebenarnya penyebaran dari penyakit Kusta di Indonesia dan bagaimana usaha Depkes melawan dan memberantas penyakit Kusta semacam ini?

Memang betul penyakit ini tidak sama di setiap propinsi maupun kabupaten kota, ada yang rendah sekali kejadiannya dan ada yang tinggi. Dari 30 propinsi ada 12 propinsi yang sampai saat ini prevalensinya 1/10.000, dan sebagian besar itu berada di kawasan Timur Indonesia. Di kawasan Barat hanya beberapa propinsi saja, dari 30 ini ada 2 yang menyumbangkan angka Kusta yang banyak walaupun angka prevalensinya rendah. Mudah-mudahan dengan kebersamaan, komitmen dan kemitraan yang kuat ini kita bisa sama-sama menanggulangi penyakit Kusta ini. Sehingga yang 12 propinsi ini nanti akan juga mengikuti mengeleminasikan. Mudah-mudahan tahun ini untuk tingkat propinsi dan untuk seluruh kabupaten bisa dicapai tahun 2005.

Dari usaha yang sudah dilakukan oleh Depkes dan WHO misalnya terutama di Indonesia, persoalan-persoalan apa yang biasanya muncul dan menghambat usaha pemberantasan penyakit Kusta ini?

Yang pertama, untuk Indonesia yang perlu kita sadari bersama bahwa komitmen itu yang penting. Kesepakatan bahwa penyakit ini adalah penyakit yang merupakan problema masyarakat artinya masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditangani secara serius. Ini harus merupakan komitmen semua pihak terutama Pemerintah Daerah, Kabupaten Kota dan para Gubernur supaya merasa atau mempunyai komitmen yang kuat. Ini di beberapa tempat masih lemah. Yang kedua di dalam operasional ada daerah-daerah yang menghadapi masalah atau kendala geografis. Beberapa propinsi yang pulau-pulaunya terpencil, ternyata sesudah didatangi kerjasama Depkes dengan Angkatan Laut, jadi ada daerah-daerah khusus yang kita lakukan untuk eleminasi Kusta. Pulau terpencil tadi itu sulit dijangkau oleh petugas kesehatan, maka perlu upaya-upaya khusus untuk melakukan eleminasi seperti kerjasama yang sudah dijalin dengan Angkatan Laut: mengunjungi daerah, melakukan pemeriksaan, dan melakukan pengobatan. Masih banyak kita temukan pulau-pulau kecil atau daerah yang sulit dijangkau yang memerlukan penanganan khusus. Kemudian hambatan yang lain, hambatan pengetahuan masyarakat, kesadaran masyarakat itu juga masih perlu ditingkatkan. Hambatan lainnya dari petugas kesehatan, memang walaupun ini sudah dilaksanakan cukup lama, karena berbagai mobilitas tenaga. Tenaga yang khusus menangani Kusta masih ada di beberapa tempat yang masih mengalami kekurangan. Karena itu pelatihan-pelatihan, supervisi dari tenaga ahli perlu ditingkatkan. Kalau masalah obat ada jaminan dari WHO kalau obat akan terus diberikan secara gratis. Bahkan setelah 2005 mereka masih akan memberikan bantuan. Yang menguntungkan di sini juga kita kerjasama dengan para ahli kulit kelamin. Karena ada dokter ahli kulit kelamin yang berkaitan erat dengan pemberantasan ini mau bekerjasama dengan cukup baik. Kemudian juga dengan dokter ahli yang punya minat khusus dalam rehabilitasi cacat Kusta, karena cacat ini bisa direhabilitasi, dan bisa diperbaiki. Karena ini juga, berangsur-angsur menjadi lebih baik lagi kerjasamanya.

Yang terakhir, agar masyarakat juga tahu keseriusan pemerintah memberantas penyakit Kusta ini, bisa digambarkan upaya yang telah dilakukan pemerintah khususnya dalam memberantas penyakit Kusta?

Usaha-usahanya pertama, menggalang komitmen yang kuat khususnya di 12 propinsi. Yang kedua mengupayakan setiap Puskemas mampu melakukan deteksi indikasi dini dan melakukan pengobatan secara bertahap. Meningkatkan kerjasama yang erat dengan berbagai pihak, juga meningkatkan upaya penelitian bagaimana kita melakukan pencegahan lebih awal.

Mungkin ada himbauan dari Pak Haikin untuk masyarakat terutama dalam Peringatan Hari Kusta Sedunia?

Saya ingin menghimbau pertama bahwa penyakit kusta ini adalah penyakit menular biasa yang bisa disembuhkan dan penularannya sangat sulit dan lama. Sebagian besar manusia umumnya kebal terhadap Kusta, maka kami mohon penderita Kusta tidak perlu dikucilkan dan tidak perlu ditakuti. Yang kedua jangan diisolasi. Perlakukan penderita Kusta sama dengan anggota masyarakat lainnya, kemudian segera berobat ke puskesmas untuk mengetahui apakah itu Kusta atau bukan sedini mungkin, kemudian diobati dan yakinlah akan sembuh tanpa cacat. Kemuadian yang terakhir pengobatan Kusta ini obatnya cukup di Puskesmas dan obatnya gratis.

Kirim Komentar Anda

Nama:

Email: (tidak akan ditampilkan)

Pesan:

Agar kami pasti hanya menerima komentar anda (dan bukan spam), mohon ketik karakter ini dalam kotak dibawahnya:
Security Image
Ketik:

Catatan: Komentar kami periksa sebelum ditampilkan. Komentar yang tidak pantas, berisi iklan, atau keluar topik, bisa ditolak.

Klik satu kali saja dan tunggu...